• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Obyek Penelitian

1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Hutan Nagari di Jorong Simancuang berjarak sekitar 200 meter dari pemukiman penduduk dengan kemiringan sekitar 80%. Hutan ini disebut masyarakat sebagai Hutan Bukit Karang Hitam. Sebelum ditetapkan sebagai hutan nagari/desa melalui skema PHBM, Hutan Bukit Karang Hitam sudah dijaga oleh masyarakat sekitar dengan ditetapkan sebagai hutan larangan. Hutan ini berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang berguna sebagai sumber air yang berasal dari Batang Simancuang (anak sungai diatas bukit) . Airnya dimanfaatkan oleh masyarakat untuk Mandi, Cuci dan Kakus (MCK). Selain itu, hutan ini juga berfungsi sebagai sumber kayu bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari baik itu sebagai bahan bangunan maupun kayu bakar. Didalam hutan terdapat kayu yang diameternya lebih dari satu meter diantaranya kayu Medang, Meranti, Banio, Kuranji, Pauh-Pauh dan Banyu.58

Selain sebagai tempat menjaga keanekaragaman flora, hutan ini juga merupakan tempat perlintasan binatang-binantang liar seperti harimau, kijang dan berbagai jenis burung.59 Dengan sekian banyak fungsi yang dimilikinya, tentu dibutuhkan suatu pengelolaan yang baik agar hutan nagari di Jorong Simancuang

58 Wawancara dengan Bapak Edison Kepala LPHN Jorong Simancuang, tanggal 11 April 2016 59 Ibid.

42

tetap terjaga dengan baik sehingga dapat menjalankan peran dan fungsinya secara maksimal.

Dalam hal pengelolaan, didalam Skema Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat pada Hutan Nagari di Jorong Simancuang sendiri diserahkan pengelolaannya kepada masyarakat Jorong Simancuang. Ini karena lokasi Jorong Simancuang yang dikelilingi oleh lengkungan daerah Hutan Bukit Karang Hitam sebagai objek pengelolaan Hutan dalam Skema PHBM. Dengan kondisi ini akan lebih efektif jika pengelolaan dilakukan oleh masyarakat Jorong Simancuang yang sering beraktifitas dikawasan hutan ini.60

Secara Administratif Jorong ini terdapat dalam wilayah Nagari Alam Pauah Duo Kecamatan Pauah Duo Kabupaten Solok Selatan. Jorong Simancuang mempunyai 3 dusun yakni Simancung Atas, Simancug Tengah dan Simancung Bawah. Sumber mata pencarian paling dominan penduduk jorong ini adalah dibidang pertanian, baik itu sawah maupun ladang. Sebagian penduduk menggantungkan hidup dibidang pertanian, hanya sedikit yang berprofesi sebagai pedagang, Kebanyakan mereka berdagang hanya sebagai perkerjaan sampingan.61

Pembukaan sawah di Jorong Simancuang dimulai pada tahun 1992. Kegiatan penanaman padi dilakukan menggunakan benih unggul dan lokal dengan periode 2 kali panen dalam setahun. Untuk kegiatan pertanian, sumber airnya sangat tergantung sekali pada hutan nagari di Jorong Simancuang yaitu berasal dari sungai sungai kecil yang mengalir dari atas bukit. Dalam hal kegiatan perladangan, mereka mengisinya dengan tanaman kopi dan kulit manis yang

60 Wawancara dengan Edison, tanggal 11 April 2016

43

bercampur dengan tanaman sela yaitu tanaman gardangmunggu.62 Dari Kondisi ini dapat disimpulkan bahwa masyarakat Jorong Simancuang sangat menggantung hidupnya akan keberadaan Hutan Bukit Karang Hitam. Karena itu Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat ini menjadi salah satu jalan pembuka bagi masyarakat untuk mendapatkan akses yang legal dalam memanfaatkan hutan secara baik dan bijaksana.

2. Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN)

Lembaga Pengelola Hutan Nagari adalah suatu lembaga yang dibentuk oleh nagari dalam rangka mengelola hutan nagari melalui skema Pengelolaan Hutan Berbasis Masyaraka (PHBM). Struktur kepengurusan Lembaga Pengelola Hutan Nagari Jorong Simancuang, berdasarkan Surat Keputusan Wali Nagari Alam Pauah Duo, Nomor 140/ 08/ SK/ WN-APD/VII-2011 tentang Pengurusan Lembaga Hutan Nagari Jorong Simancuang yaitu:

Ketua : Edison

Wakil Ketua : Yasman

Sekretaris : Pendra Efendi

Bendahara : Zulkartini

Seksi Bidang- Bidang :

44

a. Seksi Pengamanan Kawasan

Korrdinator : Nofiardi Anggota: 1. Budi Harianto 2. Ion Maryono 3. M. Putra Doni 4. Susdal Efendi 5. Penwandi 6. Lamsuwi

b. Seksi Pemanfaatan Jasa Lingkungan Koordinator : Marza Arisman

Anggota: 1. Zulfiardi 2. Abdul Karim 3. Syafridal 4. Zulkarnaini 5. Maisdawati,

c. Seksi Pemanfaatn Ekonomi hasil hutan bukan kayu : Koordinator: Fidmenrio,

Anggota:

45

2. Pepra Manidas 3. Rabiul Awal 4. Haryulis 5. Velicia Putri

d. Seksi Perencanaan dan Pengembangan Potensi Kawasan Koordinator :Yandrisyah Anggota: 1. Syamsurizal 2. Masrizal 3. Syafrizal 4. Ali Akbar 5. Tasril

e. Seksi Hubungan Kemasyarakatan: Koordinator : Erizal Efendi

anggota:

1. Nofri 2. Nofrizal 3. Wasrigusniati 4. Adrizal

Masing masing bidang dalam struktur kepengurusan ini bekerja sesuai bidang masing masing yang berpedoman pada rencana kerja yang dibentuk diawal tahun.

46 B. Perencanaan Penggunaan Hutan Nagari Dalam Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) Pada Hutan Nagari di Jorong Simancuang.

Sebelum dapat merencanakan pengelolaan di Hutan Nagari di Jorong Simancuang, masyarakat Jorong Simancuang terlebih dahulu harus mengajukan permohonan penetapan areal kerja hutan nagari melalui bupati/wali kota. Ini sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam Pasal (6) Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 89 Tahun 2014 tentang Hutan Desa yang menyatakan bahwa Penetapan Areal Kerja hutan desa dilakukan oleh Menteri berdasarkan usulan bupati/walikota. Dalam pengajuan permohonan dilakukan dengan melampirkan berkas berkas sesuai dengan ketentuan pasal 7 ayat (3) Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 89 Tahun 2014 tentang Hutan Desa yang menyatakan bahwa: Permohonan sebagaimana disebut pada ayat (2), diajukan oleh kepala desa untuk lembaga desa yang bersangkutan kepada Bupati/Walikota dengan tembusan kepada Direktur Jendral dengan melampirkan:

a. Sketsa lokasi areal yang dimohon; dan

b. Lembaga desa yang dibentuk oleh Kepala desa c. Rencana kegiatan dan bidang usaha desa.

Dalam hal penetapan areal kerja Hutan Nagari dilakukan oleh Menteri Kehutanan berdasarkan usulan Bupati yang dilampiri dengan Peta Calon Lokasi Hutan Nagari dengan skala Peta paling kecil 1 : 50.000 dan melampirkan kondisi

47

kawasan Hutan antara lain fungsi Hutan, topografi dan potensi.63 Setelah adanya pengajuan permohonan ini, maka Penetapan areal kerja dilakukan oleh Menteri Kehutanan paling lama 90 hari sejak permohonan diterima. Ini sesuai dengan pasal 9 ayat (5) Peraturan Menteri Kehutanan No 89 Tahun 2014 tentang Hutan Desa yang menyatakan bahwa Penetapan areal kerja Hutan Desa oleh Menteri paling lama 90 (sembilan puluh) hari kerja terhitung dari diterimanya permohonan usulan dari Bupati/Walikota.

Terkait pengajuan, apabila dilakukan saat sekarang maka telah terjadi perubahan terhadap kewenangan pengelolaan hutan. Kewenangan pengelolaan hutan lindung maupun produksi sudah menjadi kewenagan pemerintah provinsi, sehingga pengajuannya langsung ke gubernur tanpa melalui bupati. Ini sesuai dengan Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang menyatakan bahwa Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan bidang kehutanan, kelautan, serta energi dan sumber daya mineral dibagi antara Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi. Pembagian ini merupakan pembagian urusan konkuren yang masuk pada kategori urusan pilihan. Adapun mengenai urusan konkuren dijelaskan pada pasal 9 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa Urusan pemerintahan konkuren sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Urusan Pemerintahan yang dibagi antara Pemerintah Pusat dan Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota. Ketentuan mengenai urusan pengelolaan hutan ini

63 Laporan PKL Joni Putra Proses Pembangunan Hutan Nagari Jorong Simancuang Nagari Alam Pauh Duo Kecamatan Pauh Duo Kabupaten Solok Selatan. Fakultas Kehutanan Universitas Muhammadyah Sumatera Barat, 2015, hlm.6

48

dijelaskan dalam pembagian urusan pemerintah dibidang kehutanan yang terdapat dalam lampiran Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Pada lampiran tersebut menjelaskan kewenangan pengelolaan hutan berada pada provinsi.

Berdasarkan penetapan areal kerja hutan desa oleh Menterti, Gubernur kemudian menerbitkan Hak Pengelolaan Hutan Desa/Nagari. Hak Pengelolaan Hutan Nagari diberikan dalam bentuk Surat Keputusan Pemberian Hak Pengelolaan Hutan Nagari dengan memuat Luas Hutan Nagari berdasarkan luasan yang dimohon, wilayah administrasi Hutan Nagari, fungsi hutan, Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN), jenis kegiatan pemanfaatan kawasan, hak dan kewajiban serta jangka waktu hak pengelolaan hutan nagari, yang mana dalam hal ini hak pengelolaan diberikan selama 35 (tiga puluh lima) tahun dan dapat diperpanjang.64 Mengenai jangka waktu ini diatur dalam Pasal 16 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 89 Tahun 2014 tentang Hutan Desa yang menyatakan bahwa HPHD sebagaimana dimaksud pada Pasal 14 ayat (1) dapat diberikan paling lama 35 (tiga puluh lima) tahun dan dapat diperpanjang setelah dilakukan evaluasi.

Selanjutnya dengan difasilitasi oleh pemerintah dan KKI Warsi, dibentuklah Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) Jorong Simancuang Nagari Alam Pauh Duo Kabupaten Solok Selatan. LPHN kemudian menyusun rencana kelola yang mendeskripsikan potensi dan langkah-langkah pengelolaan

64 Wawancara dengan bapak Kusworo SP,Msi, Kasi Rehabilitasi Hutan dan Lahan Dinas Kehutan Provinsi, tanggal 17 Mei 2016.

49

hutan yang harus dijalankan. Rencana kelola ini disusun secara dinamis dengan memperhatikan kepentingan sosial, ekonomi dan ekologis secara komprehensif dan holistik. Rencana ini menjadi cikal bakal dan jaminan bahwa pengelolaan hutan yang dilakukan LPHN akan sesuai dengan karakter sosial ekonomi masyarakat serta mempertimbangkan secara matang karakter ekosistem hutan.

Rencana ini dinamakan Rencana Kerja Hutan Nagari (RKHN) yang dimaksudkan sebagai rencana pengelolaan areal kerja hutan desa/nagari yang menjamin kelestarian fungsinya secara ekonomi, ekologi dan sosial serta menjabarkan rencana kerja dalam 35 (tiga puluh lima) tahun pengelolaan hutan nagari. Dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 89 Tahun 2014 tentang Hutan Desa, rencana kerja 35 (tiga puluh lima) tahun ini disebut Rencana Kerja Hak Pengelolaan Hutan Desa (RKHPHD).

Tujuan Rencana Kerja Hutan Nagari (RKHN) Jorong Simancuang Nagari Alam Pauh Duo adalah sebagai berikut :65

1. Mendeskripsikan kondisi umum wilayah Hutan Nagari Jorong Simancuang Nagari Alam Pauh Duo,

2. Menjabarkan rencana kelola kawasan hutan nagari, 3. Menjabarkankan rencana kelola usaha hutan nagari,

4. Menjabarkan rencana kelola kelembagaan hutan nagari, dan 5. Menjabarkan rencana kelola sumber daya manusia.

Ruang lingkup rencana ini adalah pada wilayah administrasi Jorong Simancuang, utamanya pada areal kerja hutan desa/nagari yang telah ditetapkan, dengan kandungan isi buku rencana meliputi rencana kelola sosial, ekonomi dan

50

ekologis secara komprehensif serta menjabarkan dukungan teknis dan anggaran dalam mewujudkan pengelolaan hutan yang lestari.66

Dalam Pasal 19 ayat (2) Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 89 Tahun 2014 menyatakan bahwa RKHPHD meliputi :

a. Kelola kawasan perlindungan; b. Kelola kawasan pemanfaatan;

c. Kelola kelembagaan dan sumberdaya manusia; dan d. Kelola usaha

Aturan ini yang menjadi substansi dalam pembuatan Rencana Kerja Hutan Nagari Jorong Simancuang yang memuat hal hal sebagai berikut:

1. Penataan Areal Kerja yang terdiri atas kegiatan: a. Tata Batas Areal Kerja

Kegiatan ini dalam bentuk menentukan batas-batas areal kerja sesuai Penetapan areal kerja yang ditetapkan. Areal kerja ini terdiri atas batas alam seperti sungai, hutan negara dan batas buatan dalam bentuk zona zona yang telah ditentukan sesuai fungsinya. b. Pemasangan Tanda Batas Areal Kerja

Merupakan tindak lanjut dari penetapan areal kerja dengan cara menentukan batas konkret areal kerja pada lokasi pengelolaan.

66 Ibid.

51

2. Potensi Areal Kerja yang terdiri atas:

a. Potensi Hasil Hutan Bukan Kayu (rotan, Madu, Getah, Buah,

Jamur, Sarang Walet, Tanaman Obat, Tanaman Hias, Satwa Liar, Hijauan Makanan Ternak).

b. Potensi Jasa Lingkungan (Air, Wisata, Perlindungan Biodiversitas dan Perdagangan Karbon).

c. Potensi Tanaman Pertanian dan Perkebunan. 3. Rencana Kelola Hutan Nagari yang terdiri atas

a. Pengembangan Usaha Hasil Hutan Bukan Kayu

Rencana ini ditujukan dalam rangka pengolahan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) untuk kegiatan usaha sehingga dapat menopang perekonomian masyarakat. Rencana pengembangan kegiatan usaha ini terdiri atas: rencana pengembangan usaha rotan/manau dan rencana pengembangan usaha getah karet.

b. Pengembangan Usaha Jasa Lingkungan

Rencana ini dalam rangka memanfaatkan jasa lingkungan yang tersedia di Hutan Nagari Jorong Simancuang sehingga pemanfaatan hutan ini tidak hanya sebatas hasil hutan bukan kayun saja. Pengembangan usaha jasa lingkungan ini terdiri atas: rencana pengembangan usaha wisata, rencana pengembangan usaha perdagangan Karbon.

52

Perencanaan dibidang agroforestry menjadi salah satu solusi dalam rangka mengatur pola kegiatan masyarakat didalam hutan lindung. Sistim yang biasa disebut tumpang saji ini memadukan tanaman pertanian dengan tanaman hutan. Sehingga masyarakat dapat berkegiatan dan mendapat hasil dari hutan sekaligus dapat berperan dalam pelestarian hutan.

5. Rencana Pembangunan Sarana dan Prasarana meliputi:

a. Pembangunan Kantor dan Instalasinya b. Pengadaan Peralatan Kelola Hutan c. Pembangunan Jalur-Jalur Pengamanan d. Pembangunan Pos Pengamanan e. Pembangunan ASDG

f. Pembangunan Areal Model Agroforestry g. Pembanguan Areal Model Perdagangan Karbon 6. Rencana Pengembangan Kegiatan Ekonomi Lainnya meliputi:

a. Pembentukan Koperasi b. Penguatan Kelompok Tani c. Pembuatan Persemaian d. Penghijauan Lingkungan e. Pembangunan PLTMH f. Pembangunan Dam Penahan

g. Pembangunan Jalan Utama

7. Rencana Pengembangan Kebijakan terdiri atas:

a. Penyusunan Perna Tentang Pengelolaan Hutan Nagari b. Penyusunan SOP Kegiatan Kelola Hutan Nagari c. Penyusunan Perna tentang Badan Usaha Milik Nagari 8. Rencana Penyuluhan/Sosialisasi

53

terdiri atas:

a. Sosialisasi Rencana Hutan Nagari b. Sosialisasi Perna tentang Hutan Nagari c. Sosialisasi Kebijakan tentang Hutan Nagari d. Penyuluhan tentang pelestarian hutan

e. Penyuluhan tentang Pengembangan Ekonomi f. Penyuluhan Penguatan Kelembagaan

9. Rencana Pendidikan dan Pelatihan terdiri atas:

a. Diklat Manajemen Organisasi b. Diklat Perencanaan Hutan c. Diklat Pemanfaatan HHBK d. Diklat Pemanfaatan Jasling e. Diklat Perencanaan RHL f. Diklat Budidaya Hutan g. Diklat Perlindungan Hutan h. Diklat Pemasaran

i. Diklat Pengembangan Usaha Kecil j. Diklat Koperasi

k. Diklat Inventarisasi Hutan l. Diklat Perpetaan

10. Rencana Penelitian dan Pengembangan terdiri atas:

a. Litbang Agroforestry b. Litbang HHBK c. Litbang Jasling

d. Litbang Pengembangan Ekonomi

e. Litbang Pemasaran

Setelah Rencana Kerja Hutan Nagari Jorong Simancuang ini selesai dibuat, dan diajukan bersama persyaratan PHBM lainnya, Maka SK Kementrian Kehutanan diturunkan tentang pencadangan areal seluas 650Ha sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.49/Menhut-II/2008 tentang Hutan Desa sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor

54

P.53/Menhut-II/2011 untuk kegiatan Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat dengan skema hutan nagari dengan status hutan lindung. Surat Ketetapan ini menandakan bahwa masyarakat Jorong Simancuang telah dapat mengelola hutan mereka melalui Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) sebagai pemegang hak pengelolaan hutan nagari (HPHN)

Dalam rangka merealisasikan rencana kerja 35 (tiga puluh lima) tahun sebagai rencana jangka panjang, LPHN juga menyusun rencana kerja jangka pendek dengan jangka waktu satu tahun diawal periode kepengurusan. Rencana Kerja ini yang akan dijadikan patokan dalam berkegiatan selama 1 (satu) tahun dalam rangka menyukseskan poin poin yang terdapat dalam rencana kerja 35 tahun. Maksud dari rencana kerja tahunan ini adalah :67

1. Mengetahui tahapan-tahapan dalam Pengelolaan Hutan Nagari.

2. Memberdayakan masyarakat melalui pelibatan secara aktif dalam penataan dan pengelolaan hutan nagari Simancuang.

3. Membangun kesadaran masyarakat Nagari mengenai pentingnya konservasi sumberdaya genetik tanaman hutan untuk kelangsungan hidup manusia.

4. Menyelesaikan tugas LPHN sebagai Pemegang Hak Pengelolaan Hutan Nagari.

Berikut ini rencana kerja tahunan yang disusun pada tahun 2015: 1. Penataan Batas Areal Kerja Hutan Nagari

Kegiatan penataan batas dimaksudkan untuk menentukan areal kerja dari lembaga pengeloa hutan nagari. Kegitan ini direncanakan pada bulan

67 Rencana Tahunan Hutan Nagari (RTHN) Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) Simancuang Kabupaten Solok Selatan tahun 2015.

55

Maret sampai dengan bulan Mei tahun 2015 dengan melibatkan kerjasama berbagai pihak yakni : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Solok Selatan, Dinas Kehutan Provinsi, Warsi dan Kehati.

2. Pengawasan Hutan

Dilakukan dalam bentuk patroli rutin satu bulan sekali oleh anggota LPHN dan patroli gabungan yang dilakukan bersama Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Solok Selatan, Dinas Kehutan Provinsi. Kegiatan ini dilaksanakan selama satu tahun periode kepengurusan yaitu dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember.

3. Pengembangan Produk Kerajinan HHBK

Dalam perencanaan engembangan produk kerjainan HHBK dilakukan dalam beberapa bentuk kegiatan yaitu:

a. Survey potensi bahan baku rotan, manau b. Identifikasi pengrajin

c. Akses Pasar

Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan bulan Agustus tahun 2015 dengan melibatkan kerjasama berbagai pihak yakni : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Solok Selatan, Dinas Kehutan Provinsi, Warsi dan Pundi Sumatera.

4. Rehabilitasi Hutan dan Lahan melalui pengkayaan ladang masyarakat Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk:

a. Survey dan pemetaan lading

56

Kegiatan ini dilakukan antara bulan Mei sampai bulan Desember dengan menunggu bantuan bibit baik itu dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Solok Selatan, Dinas Kehutan Provinsi, ataupun LSM terkait.

5. Peningkatan kapasitas sumberdaya manuasia

Dilakukan melaui pelatihan pelatihan melalui kerjasama dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Solok Selatan, Dinas Kehutan Provinsi, ataupun LSM terkait. Adapun pelatihan yang direncanakan yaitu:

a. Pelatihan Anyaman dengan HHBK b. Pelatihan Pemadaman Kebakaran Hutan

Kegiatan pelatihan ini direncanakan dilaksanakan antara bulan januari sampai dengan bulan Desember sebanyak 2 kali pelatihan.

6. Pengembangan Usaha Jasa Lingkungan :

Kegiatan ini dilakukan dengan pendampingan dan bantuan dari Dinas Kehutanan Diskoperindag Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan. Dinas Lingkungan Hidup dengan jenis kegiatan sebaga berikut:

a. Perdagangan Beras b. PLTMH

c. Irigasi Sawah

d. Pembuatan Papan Informasi e. Pengembangan Ternak f. Jalan Usaha Tani

57

Untuk waktu pelaksanaanya, kegiatan perdagangan dilakukan pada bulan Februari dan kegiatan PLTMH dilaksanakan pada bulan April. Sedangkan kegiatan lain dilaksanakan antara bulan Oktober sampai Bulan Desember.

7. Pengembangan Kelembagaan Dilakukan melalui kegiatan:

a. Penyusunan Standar Operasional LPHN b. Fasilitas Pertemuan LPHN

Kegiata ini dilakukan dalam bentuk diskusi yang di fasilitasi dan didampingi oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Solok Selatan, Dinas Kehutan Provinsi dan Warsi. Pendampingan dan fasilitasi ini sesuai dengan ketentuan pasal 40 ayat (1) Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 89 Tahun 2014 tentang Hutan Desa yang menjelaskan bahwa Lembaga Desa sebagai pemegang HPHD berhak atas:

a. Mengelola Areal Kerja Hutan Desa sesuai Rencana Kerja b. Mendapatkan Pendampingan

c. Mendapatkan fasilitasi dalam pengelolaan areal kerja.

Waktu pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan sepanjang tahun periode kepengurusan.

Dari semua tahapan tahapan mekanisme perencanaan yang telah diuraikan, dalam proses perencanaan hutan, harus diketahui secara jelas mengenai status dari hutan yang akan direncanakan melalui skema Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat. Terdapat perbedaan antara Hutan Desa sebagai Hutan Negara dan

58

Hutan Adat. Perbedaan ini harus diketahui agar tahapan tahapan perencaan baik itu pra perencanaan maupun pasca perencanaan dapat berjalan secara efektif lancar dan sesuai aturan yang berlaku.

Hutan Desa merupakan hutan yang berstatus sebagai hutan negara yang dikelola dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan desa. Sejalan dengan pengertian hutan desa yang terdapat dalam pasal 1 angka 7 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 89 Tahun 2014 tentang Hutan Desa menyatakan hutan desa adalah hutan negara yang belum dibebani izin/hak, yang dikelola oleh desa dan dimanfaatkan untuk kesejateraan desa. Dengan Status sebagai Hutan Negara sudah dapat disimpulkan bahwasanya hutan ini berada pada wilayah yang tidak dibebani hak atas tanah.

Berbeda dengan Hutan Adat, untuk wilayahnya sendiri berada pada wilayah kesatuan Masyarakat Hukum Adat. Secara sederhana, Masyarakat Hukum Adat diartikan sebagai sekelompok orang yang berbentuk paguyuban secara turun temurun tinggal disuatu wilayah tertentu karena didasari oleh kesamaan ikatan pada asal usul leluhur, hubungan yang kuat dengan tanah, wilayah, sumber daya alam, serta memiliki tanah hukum adat diwilayah adatnya, termasuk memiliki pranata pemerintahan adat.68 Keberadaan Masyarakat Hukum Adat yang berada dalam kawasan hutan akan selalu berkaitan dengan pemanfaatan hutan. Pemanfaatan Hutan Adat oleh masyarakat hutan adat tentu

59

disesuaikan dengan fungsinya. Artinya pemanfaatan hutan adat dapat dilakukan sepanjang tidak mengganggu fungsinya.69

Awalnya, hutan adat merupakan bagian dari hutan negara. Namun setelah adanya Putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara No 35/PUU-X/2012 mengenai kosntitusionalitas keberadaan hutan adat sebagai bagian hutan negara, mahkamah konstitusi melalui putusan itu mengeluarkan hutan adat dari hutan negara. Tetapi tidak menjadikan hutan adat sebagai kategori khusus yang berbeda dengan hutan hak, melainkan memasukkan keberadaan hutan adat sebagai salah satu jenis dalam hutan hak.70 Mahkamah Konstitusi dalam putusannya menyatakan bahwa pemegang hak atas tanah juga pemegang hak atas hutan. Dengan demikian, keberadaan tanah ulayat harus didahului dengan adanya tanah ulayat dari masyarakat hukum adat, karena hutan adat berada di atas wialyah hak ulayat.71

Untuk Hutan Nagari di Jorong Simancuang, merupakan hutan yang berada pada wilayah Hak Ulayat Nagari Alam Pauah Duo. Pasal 16 Huruf d Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 2 Tahun 2007 Tentang Pokok Pokok Pemerintahan Nagari menjelaskan bahwa Tanah, hutan, sungai, kolam dan /atau laut yang menjadi ulayat nagari . Ulayat nagari sendiri dijelaskan dalam pasal 1 huruf 16 Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 2 Tahun 2007 Tentang Pokok Pokok Pemerintahan Nagari bahwa Ulayat Nagari adalah harta benda dan kekayaan nagari diluar ulayat kaum dan suku yang dimanfaatkan untuk

69 Ibid., hlm,232.

70 Yance Arizona, op.cit. hlm 296. 71 Ibid., hlm.297.

60

kepentingan anak nagari. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Hutan Nagari di Jorong Simancuang merupakan hutan adat yang merupakan ulayat nagari sehingga bukan merupakan bagian dari hutan negara.

Terjadi suatu permasalahan terkait status hutan yang terdapat dalam penetapan areal kerja hutan nagari di Jorong Simancuang. Dalam penetapan tersebut dalam Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: SK. 573/Menhut-II/2011 menyamakan hutan nagari sebagai hutan desa. Antara hutan nagari dan hutan desa sangat jelas perbedaannya. Akibat penetapan tersebut, menjadikan hutan nagari sebagai hutan negara sehingga negara diartikan disini tidak mengakui hak masyarakat hukum adat akan wilayah hutan yang telah