• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Praktek Pelanggaran HAM di Indonesia

Dalam dokumen Kata Pengantar 1 KAJIAN EVALUASI NHRI (Halaman 44-48)

2.5 Tinjauan Empiris

2.5.1 Gambaran Praktek Pelanggaran HAM di Indonesia

Pelanggaran HAM pada Pasal 1 Ayat (6) UU 39/1999 tentang HAM didefinisikan sebagai perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak sengaja, atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang ini, dan tidak mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. Berdasarkan data yang dihimpun Komnas HAM, bahwa pihak yang paling sering diadukan menjadi aktor pelaku pelanggaran HAM adalah oknum Kepolisian, berturut-turut kemudian adalah korporasi, oknum Pemerintah daerah, oknum dari lembaga peradilan dan oknum dari Pemerintah pusat.146

Pelanggaran HAM pada awalnya disandarkan bagi mereka yang memiliki wewenang sebagai aparat Pemerintahan atau yang memiliki kekuatan secara hukum, tetapi pada perkembangannya bukan berarti pelanggaran HAM berkembang pada aktor yang negara (state actor). Beberapa bentuk pelanggaran HAM yang dilakukan aktor non-negara adalah seperti; 147

a) Pembunuhan penduduk sipil oleh tentara pemberontak,

b) Pengusiran komunis yang dilakukan oleh perusahaan trans-nasional, c) Serangan bersenjata oleh salah satu pihak melawan pihak lain,

d) Serangan fisik mendadak oleh pengawal pribadi melawan pihak demonstran,

146 Lihat Laporan Tahunan Komnas HAM 2014 yang mencatat pihak yang diadukan diduga melakukan pelanggaran HAM selama kurun waktu tiga tahun terakhir (2012-2014).

147 M .M . Billah, Tipologi dan Praktek Pelanggaran HAM di Indonesia, M akalah disampaikan pada Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII di BPHN-Depkumham: Denpasar, Juli 2003. Hal. 9

44 |KAJIAN EVALUASI NHRI e) Merancang upah bagi pekerja secara lebih rendah daripada yang dinyatakan

dalam undang-undang,

f) Kebijakan diskriminasi dalam hal rekrutmen dan pengangkatan pekerja, dan g) Melakukan pembuangan zat pencemar pada aliran sungai.

Apabila dilakukan pemetaan mengenai pelanggaran HAM yang terjadi, maka dapat dilakukan pemetaan dari sisi; jenis pelaku (aktor negara dan non-negara) dan korban dan jenis peristiwa (pelanggaran HAM, pelanggaran HAM bukan berat, dan pelanggaran HAM berat dan kejahatan perang) dan tindakan.148 Berikut pemetaan pelanggaran HAM beserta contoh pelanggaran HAM dari masing-masing kategori yang ada:149

1. Pelaku dan Korban:

- Aktor negara

Contoh Act of Commission seperti Pembunuhan diluar hukum terhadap tertuduh anggota PKI yang dilakukan aparat negara (Peristiwa 1965), Penembakan misterius (Petrus), Peristiwa pembunuhan massal pengunjuk rasa di Tanjung Priok, Korban sipil di Aceh saat diberlakukannya daerah operasi militer (DOM), Penculikan/ penghilangan paksa aktivis reformasi 1998.

Contoh Act of Ommission seperti; Kegagalan polisi melakukan pengamanan atas tindakan penyerangan kelompok tidak dikenal kepada kantor KontraS, Kegagalan polisi melakukan pencegahan terjadinya pembunuhan terhadap tertuduh ―dukun santet‖, Kegagalan polisi unutk memaksa perusahaan membayar upah sesuai ketentuan upah minimum yang berlaku di satu kota, Kegagalan Pemerintah memenuhi sistem perawatan kesehatan dasar bagi pengungsi di berbagai peristiwa, Kegagalan Pemerintah mengimplementasikan sistem pendidikan gratis.

- Aktor non-negara,

Contoh: Pembunuhan warga sipil oleh tentara GAM (bukan tentara negara), Pembunuhan terhadap etnis madura di Kalimantan Barat, Serangan dan pengerusakan satu pihak pada kantor sekretariat PDI-P di Jl. Diponegoro.

2. Peristiwa dan Tindakan - Peristiwa, dengan contoh:

 Pelanggaran HAM Bukan Berat (atau kejahatan biasa/ pidana); biasa dilakukan pelaku kejahatan oleh anggota masyarakat maupun aparat yang melanggar hak non-derogable dan hak derogable, contohnya seperti: pelanggaran atas hak berpendapat dimuka umum (pembubaran aksi unjuk rasa), pelanggaran atas hak reproduksi (dilarang cuti haid), pelanggaran atas hak anak (perdagangan anak).

 Pelanggaran HAM yang Berat; Contoh: Genosida, Kejahatan terhadap kemanusiaan seperti kasus trisakti dan semanggi serta kasus Timor Loro Sae.

 Kejahatan Perang; contoh: Kejahatan yang melanggar Konvensi Jenewa 12 Agustus 1949, dalam hal ini contohnya dapat diambil pada saat terjadinya DOM di Aceh.

- Tindakan dengan contoh:

 Satu Tindakan contohnya; Peledakan kantor Dubes Australia, Pembunuhan Marsinah, Pengeboman gereja.

148 Ibid.

149 Ibid.

45 |KAJIAN EVALUASI NHRI

 Peristiwa Banyak Tindakan contohnya;Serangkaian tindakan yang berkaitan saat terjadi penyiksaan pengurus BEM di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh yang dilanjutkan dengan pengerusakan, penangkapan dan pemenjaraan.

 Tindakan Serentak contohnya; Kasus pembunuhan tujuh orang penjaga tambak di Aceh, Kasus pemukulan dan penendangan para demonstran.

 Tindakan Kombinasi contoh: Penangkapan dan pemeriksaan berbagai aktivis HAM di Banda Aceh.

Dapat dikatakan bahwa aneka pelanggaran HAM di Indonesia cukup lengkap dan telah terjadi di masa lalu. Menurut catatan statistik yang dihimpun Komnas HAM mengenai angka pelanggaran HAM terakhir yang terjadi di Indonesia, menunjukkan:150

Grafik 1. Jumlah Berkas Pengaduan ke Komnas HAM Tahun 2010 s.d 2014

Grafik 2. Klasifikasi Korban Berdasarkan Data Laporan Pengaduan Komnas HAM 2014

Grafik 3. Persentase Pelanggaran HAM yang Diadukan ke Komnas HAM Berdasarkan Klasifiaksi Tema Hak Tahun 2014

150 Laporan Tahunan Komnas HAM 2014. Hal. 23-25.

0 10000

2010 2011 2012 2013 2014

6437 6358 6284 5919 7285

Berkas Pengaduan

51%

9%

27%

11%

1% 1%

Klasifikasi Korban Pelanggaran HAM dari 7.130 Berkas Pengaduan

Individu Orang Seorang Individu Rentan Kelompok Masyarakat Kelompok Rentan Organisasi

0%

10%

20%

30%

40%

50%

3% 1% 0% 9%

41% 41%

0% 0% 1% 2% 2%

Klasifikasi Pelanggaran HAM yang Diadukan Berdasarkan Tema Hak Tahun 2014

46 |KAJIAN EVALUASI NHRI Grafik 4. Data Pihak yang Diadukan ke Komnas HAM dari Tahun 2012 s.d. 2014

Sedangkan pelanggaran HAM berat masa lalu yang masih belum selesai proses penyelesaiannya berdasarkan UU 26/2000 tentang Pengadilan HAM masih ada tujuh (7) berkas penyelidikan Komnas HAM, yang saat ini berkas tujuh kasus pelanggaran HAM berat masa lalu tersebut masih di Jaksa Agung untuk menunggu tindak lanjut. Sedangkan pada saat ini, Komnas HAM masih menjalankan proses penyelidikan terhadap lima pelanggaran HAM berat yang terjadi di Aceh yang terjadi pad kurun waktu 1998-2003 saat diberlakukannya Daerah Operasi Militer (DOM). Pada tahun 2014 sendiri terdapat beberapa kasus pelanggaran HAM yang terjadi dan cukup menyita perhatian publik, kasus -kasus tersebut adalah:151

1. Pengungkapan Kasus Munir;

2. Kasus Kekerasan di Papua;

3. Penanganan Kasus Poso;

4. Penanganan Kasus Buruh Migran;

5. Polemik Pidana Mati;

6. Peningkatan Pengaduan Masyarakat Terkait Kasus HAM;

7. Jaminan Kebebasan Beragama dan Berkeyaninan;

8. Sengketa Agraria;

9. Tindakan Penggusuran;

10. Perlindungan Hak-Hak Buruh;

11. Kebakaran Hutan;

12. Persoalan Lapindo;

13. Persoalan Pengelolaan Pendidikan;

14. Pendistribusian Bantuan Beasiswa untuk Warga Miskin.

151 Laporan Tahunan Komnas HAM 2014. Hal 31.

Pemerintah

Pusat Lembaga

Peradilan Pemerintah

Daerah Korporasi

Kepolisian 483 488 542 499 484 641 569 542 771 1126 958 1127 1938 1845 2483 2012 2013 2014

47 |KAJIAN EVALUASI NHRI Gambar 3. Peta Pelanggaran HAM Masa Lalu

Melihat gambaran praktek pelanggaran HAM di Indonesia yang masih cukup besar tersebut, indikasi bahwa sistem hukum untuk menegakkan norma HAM masih belum berfungsi dengan baik. Terutama dari sisi aparatur penegak hukum yang justru menjadi pihak pelaku pelanggaran HAM. Upaya serius masih terus ditingkatkan guna mengurangi tingkat pelanggaran HAM, untuk itu semua pihak yang memiliki peranan bagi upaya penghormatan, perlindungan dan pemenuhan HAM harus terus didorong bekerja lebih keras. Selain itu, semua pihak pun harus memiliki semangat yang sama dan saling bekerja bersama-sama agar tanggung jawab negara untuk menghormati, melindungi dan memenuhi HAM setiap warga negara dapat diwujudkan dengan nyata dan memiliki dampak yang baik bagi upaya perlindungan dan pemajuan HAM di Indonesia.

2.5.2 Pemangku Kepentingan yang Berperan dalam Rangka Penegakkan dan

Dalam dokumen Kata Pengantar 1 KAJIAN EVALUASI NHRI (Halaman 44-48)