2.5 Tinjauan Empiris
2.5.2 Pemangku Kepentingan yang Berperan dalam Rangka Penegakkan dan
Uraian pada bagian ini menyajikan tentang Kementerian/Lembaga (unsur Pemerintah) yang memiliki peran penting baik langsung maupun tidak langsung dalam upaya penegakan dan pemajuan HAM selain NHRI. Para pemangku kepentingan yang terkait di bidang HAM dapat ditentukan berdasarkan hukum yang berlaku dan dapat pula ditentukan berdasarkan pada pengalaman yang berjalan. Dalam kaitannya mengawal tegaknya norma hukum HAM, kenyataan di lapangan tidak hanya NHRI saja yang bekerja, tetapi ada banyak instansi Pemerintahan dan pihak masyarakat yang terlibat di dalamnya. Namun pada bagian ini hanya mengulas beberapa kementerian lembaga yang memiliki peranan cukup besar bagi upaya penghormatan, perlindungan dan pemenuhan HAM yang bekerja bersama NHRI sebagai pemegang mandat utama untuk fungsi penegakkan dan pemajuan HAM di Indonesia:
1. Kementerian Hukum dan HAM
Kementerian Hukum dan HAM (Kemkumham) merupakan kementerian lembaga yang memiliki peran besar dalam upaya penghormatan, perlindungan dan pemajuan HAM.
48 |KAJIAN EVALUASI NHRI Sebagai instansi Pemerintah yang berwenang dalam bidang hukum dan HAM, Kemkumham menjalankan peran penting sebagai perwakilan negara untuk hadir dalam mengelola urusan hukum dan HAM sebagaimana tertuang didalam misi Kemkumham untuk mewujudkan penghormatan, pemenuhan dan perlindungan HAM. Salah satu misi tersebut terejawantahkan dengan adanya Direktorat Jendral Hak Asasi Manusia (Ditjen HAM).
Ditjen HAM memiliki visi untuk ―Masyarakat Memperoleh Kepastian Hukum‖ dan menjalankan misi untuk ―Melindungi Hak Asasi Manusia‖, dengan tujuan dibidang HAM untuk menjalankan fungsi untuk memberdayakan masyarakat untuk sadar hukum dan HAM. Sasaran kerja di bidang HAM yang akan dicapai pada periode 2015-2019 ini adalah seluruh masyarakat, terutama kelompok rentan dan minoritas memperoleh perlindungan dan pemenuhan atas hak asasinya.
Kemkumham selain memiliki Ditjen HAM, terdapat pula unit kerja lain yang bekerja dan berperan dalam isu HAM, yaitu Badan Penelitian dan Pengembangan Hak Asasi Manusia (Balitbangham). Visi yang akan dicapai Balitbangham adalah ―masyarakat memperoleh kepastian hukum‖, sedangkan misi khusus HAM yang akan dikerjakan adalah ―mewujudkan penghormatan, perlindungan dan pemenuhan HAM‖. Untuk mencapai hal tersebut, Balitbangham mengemban fungsi untuk; 1) Menyusunan kebijakan teknis, rencana dan program penelitian dan pengembangan dibidang HAM, 2) Melaksanaan penelitian dan pengembangan dibidang HAM, 3) Memantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan penelitian dan pengembangan dibidang HAM, dan 4) Melaksanakan administrasi Badan Penelitian dan Pengembangan Hak Asasi Manusia.
Balitbangham melakukan berbagai upaya yang penting untuk lebih meningkatkan hubungan antara HAM, Pemerintahan, demokrasi, desentralisasi, reformasi hukum, dan pembangunan. Selain itu mengarusutamakan nilai-nilai HAM ke dalam seluruh Kementerian yang terkait dan institusi-institusi yang menangani HAM, tetapi menjadi prioritas penting untuk masa kini dan masa depan. Pendekatannya bersifat lintas sektoral, antar dan multidisiplin yang meliputi bidang hak-hak sipil dan politik, hak-hak ekonomi, sosial dan budaya, sama seperti hak-hak untuk pembangunan.
2. Kementerian Luar Negeri
Menurut Undang-Undang (UU) Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri, salah satu tugas Kementerian Luar Negeri (Kemlu) yang erat kaitannya dengan isu HAM adalah mengelola urusan pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional, terutama mengenai ketentuan-ketentuan yang bersifat pokok, yang pengaturannya secara lebih rinci, termasuk kriteria perjanjian internasional yang pengesahannya memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
Sasaran kerja yang berkaitan dengan isu HAM adalah ―Meningkatkan peran aktif indonesia untuk mewujudkan perdamaian dan keamanan internasional, pemajuan dan perlindungan HAM, serta meningkatkan pembangunan ekonomi, sosial budaya, keuangan, lingkungan hidup, perdagangan, perindustrian, investasi, dan perlindungan hak kekayaan intelektual melalui penguatan kerja sama multilateral‖. Peran aktif yang dijalankan Kemlu terkait dengan pemajuan dan perlindungan HAM adalah dengan menjalankan peran diplomasi pada setiap kesempatan yang ada pada forum sidang PBB, terutama dalam pembahasan mengenai instrumen perjanjian internasional tentang HAM. Untuk melaksanakan pencapaian sasaran tersebut, pada struktur organisasi
49 |KAJIAN EVALUASI NHRI Kemlu terdapat Direktorat Jendral Multilateral (Ditjen Multilateral) yang didalamnya terdapat Direktorat Hak Asasi Manusia dan Kemanusiaan.
Direktorat ini mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Direktorat Jenderal Multilateral di bidang hak-hak sipil dan politik, ekonomi, sosial budaya dan hak pembangunan kelompok rentan serta kemanusiaan. Untuk melaksanakan tugas yang dimaksud di atas, Direktorat Hak Asasi Manusia dan Kemanusiaan menyelenggarakan fungsi; 1) Penyiapan perumusan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang multilateral mengenai hak-hak sipil dan politik, ekonomi, sosial budaya, dan hak pembangunan kelompok rentan serta kemanusiaan; 2) Koordinasi dan pelaksanaan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang multilateral mengenai hak-hak sipil dan politik, ekonomi, sosial budaya, dan hak pembangunan kelompok rentan serta kemanusiaan; 3) Perundingan dalam kerangka kerjasama hak-hak sipil dan politik, ekonomi, sosial budaya, dan hak pembangunan kelompok rentan serta kemanusiaan. Substansi hukum HAM yang berlaku di dalam negeri merupakan hasil ratifikasi perjanjian internasional yang telah dikelola oleh direktorat ini, sehingga pihak Kemlu merupakan garda paling depan dalam perkembangan isu HAM internasional untuk dapat diimplementasikan di dalam negeri.
3. Kementerian Koordiantor POLHUKAM
Visi Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Kemananan adalah ”Terwujudnya koordinasi bidang politik, hukum dan keamanan yang efektif untuk mencapai Indonesia yang demokratis, adil, aman dan damai”, sedangkan misi yang terkait dengan isu HAM menag tidak ada yang spesifik, karena sudah termasuk dalam isu hukum. Isu HAM yang ditangani Kempolhukam masuk dalam tataran sasaran stategis, yang mana porsi peran Kemenpolhukam adalah untuk sinkronisasi dan koordinasi implementasi kebijakan bagi kementerian lembaga terkait di bidang hukum dan HAM.
Berkaitan dengan sasaran strategis tersebut, kementerian ini pada masa Pemerintahan Presiden Joko Widodo, dipercaya sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pelaksanaan Perpres Nomor 75 Tahun 2015 tentang Rencana Aksi Nasional HAM Tahun 2015-2019. Sebagai pelaksana dari pelaksanaan fungsi kerja tersebut, dalam struktur organisasi Kempolhukam terdapat Deputi 3 untuk mengkoordinasikan bidang hukum dan HAM. Lebih lanjut, di dalam struktur Deputi 3 bidang Hukum dan HAM ini terdapat unit kerja Asisten Deputi Koordinasi Pemajuan dan Perlindungan HAM. Dapat dikatakan bahwa Kemkopolhukam memiliki peran yang cukup strategis meski tidak secara langsung bersentuhan dengan isu perlindungan dan pemajuan HAM. Namun peran tersebut cukup menentukan arah kebijakan dan membantu mensinergiskan antarlembaga Pemerintahan yang terlibat dan berperan dalam penanganan masalah hukum dan HAM.
4. Mahkamah Konstitusi
Perkembangan pengaturan HAM di Indonesia telah dipengaruhi oleh perubahan politik setelah kejatuhan Presiden Soeharto tahun 1998. Sidang Istimewa MPR bulan November 1998, misalnya, menghasilkan Ketetapan No. XVII/MPR/1998 tentang HAM dan disusul dengan penerbitan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM.
Ketentuan lebih ekstensif tentang HAM dicantumkan pula dalam Perubahan Ketiga Undang-undang Dasar 1945 (tahun 2000), meskipun terdapat kemiripan rumusan antara hasil amandemen Konstitusi dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 dan
50 |KAJIAN EVALUASI NHRI Ketetapan No. XVII/MPR/1998.
Menurut Pasal 28I ayat (4) Undang-Undang Dasar 1945, negara berkewajiban untuk melindungi, memajukan, menegakkan dan memenuhi HAM (rumusan yang dalam instrumen interasional dirumuskan sebagai kewajiban to protect, to promote, to implement or enforce and to fulfill human rights). Bagaimana HAM ditegakkan di hadapan ancaman-ancaman kekuasaan yang tak perlu dan berlebihan, apa lagi yang bersalah-guna (corrupt)? Dalam kaitan ini penting pula untuk memeriksa mekanisme penyampaian keluhan public (public complaints procedure), peradilan administrasi/ tata-usaha negara, peradilan di bawah Mahkamah Agung (MA), peradilan HAM, komisi kebenaran dan rekonsiliasi (KKR), maupun pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945 oleh Mahkamah Konstitusi (MK).
Pada dasarnya, secara strict wewenang Mahkamah Konstitusi menguji undang-undang terhadap konstitusi merupakan uji konstitusionalitas sehingga dikenal sebagai constitutional review. Dalam pelaksanaannya di Indonesia, dan berbagai negara, uji konstitusionalitas itu disandarkan kepada suatu alas hak (legal standing) bahwa undang-undang yang diuji telah merugikan hak dan/atau wewenang konstitusional pemohon constitutional review. Rumusan ini perlu sedikit dijelaskan. Pertama, dirumuskan sebagai ―hak dan atau wewenang‖. Wewenang konstitusional lebih terkait dengan kewenangan lembaga negara yang berhak pula untuk memohon constitutional review terhadap undang-undang dalam hal suatu undang-undang dinilai bertentangan dengan konstitusi (dalam hal ini menyangkut kewenangan lembaga negara pemohon pengujian). Kedua, hak konstitusional lebih dekat dengan jaminan perlindungan HAM bagi warga negara.
5. Komisi III DPR-RI (Bidang Hukum, HAM dan Keamanan)
Sebagai pemegang cabang kekuasaan negara bidang legislasi, DPR tentu memiliki peran yang sangat penting dalam mengawal upaya pencapaian kewajiban negara untuk menghormati, melindungi dan memenuhi HAM. Komisi III DPR dalam hal ini sebagai unit yang menangani legislasi nasional dibidang hukum, HAM dan keamanan mengambil peran yang sangat strategis, mengingat tahap awal dalam upaya perlindungan dan pemajuan HAM adalah dengan memastikan seluruh substansi undang-undang yang dihasilkan parlemen memiliki perspektif terhadap penghormatan HAM. Sebagaimana yang ditentukan dalam kovenan hak internasional memberi anjuran pada pembenahan aspek legislasi bagi upaya implementasi norma HAM internasional di tataran dalam negeri.
DPR selain sebagai pembuat undang-undang, memiliki wewenang lain yang strategis adalah sebagai pemegang hak penentu anggaran bagi setiap kementerian lembaga, tentu turut memberi pengaruh besar terhadap dukungan kerja-kerja yang memiliki mandat untuk perlindungan dan pemajuan HAM. Komisi II DPR jika memiliki perspektif HAM yang cukup baik tentu akan mampu memberikan anggaran yang cukup proporsional bagi kebutuhan pelaksanaan fungsi kerja yang diemban oleh NHRI.
2.5.3 Sinergitas Antarlembaga NHRI dan Kerjasama dengan Lembaga Lain yang