• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Proses Komunikasi Interpersonal Antara Relawan dan Calon Relawan

Dalam dokumen BAB 4 HASIL & PEMBAHASAN (Halaman 56-61)

3. Jumlah Relawan

4.4 Analisis Hasil Pengamatan

4.4.1 Gambaran Proses Komunikasi Interpersonal Antara Relawan dan Calon Relawan

4.4.1.1 Keterbukaan

Salah satu prinsip atau nilai di Tzu Chi sendiri khususnya bagi relawan, dihimbau agar relawan mampu memberikan perhatian kepada calon relawan dan mengajak calon relawan agar mereka bisa sampai pada tahap relawan. Dengan tujuan, semakin banyak orang yang peduli dengan sesama tentu masyarakat semakin harmonis, aman, dan tenteram. Sehingga apa yang menjadi tujuan Tzu Chi dapat tercapai. Selain itu juga, relawan dihimbau membagikan manfaat apa yang didapat selama menjadi bagian Tzu Chi kepada relawan lainnya terutama calon relawan, agar manfaat yang didapatkan dapat juga dirasakan oleh orang banyak.

Dalam membangun hubungan antara relawan dan calon relawan perlu adanya keterbukaan diantara keduanya. Mayoritas yang memberikan dorongan atau stimuli agar salah satunya mau membuka diri adalah dari diri relawan. Hal ini dikarenakan calon relawan masih baru di lingkungan relawan sehingga masih canggung untuk membuka diri mereka atau memulai komunikasi terlebih dahulu. Keterbukaan tidak hanya dari komunikasi dengan kata-kata saja yang disampaikan oleh relawan, pertama yang dilakukan adalah seperti memberikan senyum kemudian baru relawan mencoba berkomunikasi dengan calon relawan. Umumnya yang dibicarakan jika hubungan baru dibangun adalah pembicaraan yang berkenaan dengan pengenalan seperti nama dan alamat. Disini relawan memberikan dorongan kepada calon relawan untuk membuka diri dengan demikian maka calon relawan menanyakan kembali setelah relawan menyampaikan pesan. Ketika pembicaraan terus berlanjut dan

mendalam, keduanya membicarakan tentang pengalaman terutama yang berkaitan dengan Tzu Chi seperti relawan sharing tentang pengalamannya dan apa saja yang didapat selama menjadi relawan. Kemudian dari sini calon relawan terdorong untuk menanyakan ataupun juga sharing tentang pengalamannya setelah mengikuti kegiatan ataupun tentang sharing kehidupannya sehingga terjadi komunikasi yang interaktif dan keterbukaan dari keduanya dapat terjadi.

Komunikasi interaktif dan keterbukaan diantara keduanya dalam menanggapi maupun memberikan informasi terutama dari sisi relawan sesuai dengan perasaan mereka dan pengalaman mereka. Karena di Tzu Chi sendiri menanamkan sila agar setiap relawan jujur dalam setiap perkataan maupun perbuatan mereka, demikian pula jika berkomunikasi dengan calon relawan.

4.4.1.2 Empati

Dari keterbukaan diantara keduanya yang membagikan tanggapan dan informasi yang didapat, juga menimbulkan rasa empati dari keduanya setelah mendengar dari apa yang mereka saling bagikan.

Relawan yang membagikan pengalamannya selama menjadi relawan dari manfaat yang didapatkan seperti perubahan di dalam diri mereka setelah menjadi relawan Tzu Chi. Relawan mengaku merasakan perasaan bersyukur karena bisa menjadi relawan dan menolong banyak orang yang juga memberikan kebahagiaan tersendiri bagi diri relawan. Yang paling penting adalah orang disekitar relawan seperti keluarga relawan juga merasakan perubahan dari diri relawan yang kepribadiannya menjadi lebih baik dan perhatian karena di Tzu Chi sebenarnya tidak hanya menolong orang lain tetapi juga sebagai tempat melatih diri untuk menjadi pribadi yang positif. Hal inilah yang menarik perhatian dari calon relawan setelah mendengar sharing dari relawan, calon relawanpun setelah mendengar dapat ikut merasakan dengan memberikan tanggapan atau umpan balik yang seirama sesuai dengan apa yang dibagikan/sharing dari relawan. Misalkan sharing yang disampaikan adalah perasaan yang bersyukur dan bahagia, maka calon relawan akan ikut merasakan senang pula. Namun dalam hal memahami posisi relawan, calon relawan masih belum memahami betul karena mereka belum sampai pada tahap relawan yang lebih banyak mengambil dan mendalami pembelajaran baik dari ajaran

pendiri yayasan yaitu Master Cheng Yen maupun pembelajaran dari seringnya kegiatan yang diikuti.

Sebaliknya relawan juga dapat ikut merasakan apa yang dirasakan calon relawan dengan sharing yang diberikan calon relawan setelah mengikuti kegiatan. Banyak calon relawan yang tersentuh setelah dapat membantu penerima bantuan hingga menangis. Tentu relawan dapat merasakan dan juga bisa memahami posisi calon relawan karena relawan lebih sering dan lebih lama dalam mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan.

4.4.1.3Perilaku Positif

Sebuah hubungan melalui komunikasi interpersonal antara relawan dan calon relawan akan menciptakan suatu hasil yang baik jika diantara relawan dan calon relawan diawalnya memiliki pandangan ataupun perhatian yang positif pula.

Pandangan relawan kepada calon relawan yang mengikuti kegiatan sosial seperti kegiatan Tzu Chi karena mereka tulus ingin menolong, bersungguh hati, dan peduli terhadap sesama. Hal ini dapat dilihat dari sikap mereka yang juga tidak hanya berpartisipasi dalam bentuk dukungan materi saja tetapi dalam bentuk tenaga. Misalnya untuk ikut berpartisipasi dalam suatu kegiatan, calon relawan yang ikut serta rela untuk bangun pagi di hari libur yang biasanya diadakan kegiatan sosial Tzu Chi. Tujuannya agar calon relawan dapat mengikuti briefing yang diberikan arahan nantinya saat di lapangan mereka mengetahui apa yang dapat mereka lakukan. Dari sini, relawan sudah memberikan perhatian positif dan membentuk pandangan yang positif terhadap calon relawan.

Calon relawanpun demikian memandang relawan. Terutama saat ini di Jakarta sendiri sudah ada DAAI TV yang sering menayangkan kehidupan relawan Tzu Chi dan Tzu Chi. Hal ini membentuk pandangan yang positif terhadap relawan dimata calon relawan. Namun ada beberapa calon relawan yang masih ingin membuktikkan kebenaran yang ditayangkan di televisi dengan apa yang ada di tayangan DAAI tersebut. Relawan kadang mendapatkan beberapa pertanyaan ataupun pernyataan mengenai Tzu Chi yang masih ada beberapa pandangan negatif. Misalnya relawan pernah menemukan tanggapan calon relawan melihat Tzu Chi Centre yang

bangunannya dapat dikatakan sangat besar dan calon relawan menyatakan “bangunan sebesar ini untuk yayasan sosial apakah tidak terlalu mewah, lebih baik jika uangnya untuk diamalkan.” Tanggapan seperti ini kadang ditemukan namun relawan dalam menanggapinya dengan memberikan jawaban bahwa ada tujuan tersendiri mengapa bangunan Tzu Chi dibangun sangat besar. Tujuannya agar nantinya semakin kedepan relawan semakin banyak dan bangunan tersebut yang juga merupakan rumah semua relawan mampu menampung jumlah relawan yang semakin banyak.

Pandangan dari relawan maupun dari calon relawan dikomunikasikan baik positif dan negatif. Relawan mengkomunikasikan dengan menyampaikan pujian dan terima kasih. Sama halnya dengan calon relawan yang juga melakukan hal yang demikian. Dan calon relawan mengkomunikasikan pandangannya calon relawan jika ada dorongan dari salah satu pihak ataupun berdasarkan kedekatan diantara keduanya.

4.4.1.4Perilaku Suportif

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman di lapangan, relawan dalam berkomunikasi dengan calon relawan lebih menonjol dibandingkan calon relawan. Hal ini dikarenakan relawan yang banyak membagikan pengalamannya selama di Tzu Chi dan juga menginformasikan tentang Tzu Chi, pendiri, nilai, dan kegiatan-kegiatan Tzu Chi. Sehingga hal ini dapat sebagai cara relawan memberikan stimulus untuk meminta informasi kepada calon relawan. Melalui informasi dan pengalaman yang diberikanlah, juga sekaligus memberikan calon relawan dukungan agar mereka terdorong melakukan kegiatan hingga sampai pada tahap menjadi relawan.

Calon relawan dalam meminta informasi masih cenderung kurang aktif pada awalanya. Jadi disini relawan yang memperhatikan dan memberikan informasi melalui kegiatan-kegiatan apa saja yang akan dilakukan. Namun dengan inisiatif dari relawan untuk memberi informasi maka calon relawan terdorong juga meminta informasi yang mereka butuhkan. Selain itu, relawan memperhatikan calon relawan tersebut lebih sering menghadiri jenis kegiatan yang mana. Misalnya jika calon relawan yang diajak ternyata lebih antusias dan sering hadir dikegiatan kunjungan kasih maka selanjutnya relawan akan terus menginfokan dan mengajak calon relawan tersebut untuk ikut bahkan melibatkannya secara lebih mendalam sebagai

salah satu panitia acara yang diminatinya. Dengan demikian calon relawan akan merasa dihargai keberadaannya dan juga menjadi aktif mengikuti kegiatan. Dengan sikap dari calon relawan yang antusias dan mau terlibat lebih mendalam dalam kegiatan, secara tidak langsung calon relawan berarti telah memberikan dukungannya kepada relawan. Dimana ada kepuasan tersendiri yang dirasakan relawan apabila melihat calon relawan yang diajak dapat terus ikut berkegiatan dan bisa sampai pada tahap yang lebih lanjut yaitu menjadi relawan.

4.4.1.5Kesamaan

Relawan dan calon relawan mayoritas yang ditemui memiliki suatu maksud atau niat yang sama masuk kedalam lingkungan yayasan sosial seperti Tzu Chi dimana niat dan maksud mereka adalah untuk membantu yang membutuhkan. Hal ini menunjukkan rasa kepedulian atau jiwa sosial yang dimiliki mereka cukup tinggi. Sehingga dengan adanya kesamaan tujuan mereka ini, lebih mudah bagi keduanya dalam menyesuaikan diri antara yang satu dengan yang lainnya.

Relawan dalam upaya menyesuaikan diri melihat karakteristik dari calon relawan misalnya calon relawan adalah orang yang lebih tua, tentu berbeda gaya berbicara jika menghadapi calon relawan yang lebih tua dengan calon relawan yang seumuran atau yang lebih muda. namun tetap pada budaya kemanusiaan yang biasanya sudah diterapkan. Misalnya menemukan calon relawan yang gaya bicaranya cenderung bersuara keras atau kasar, disini relawan tetap menjaga bicaranya tetap halus dan sopan. Bahkan relawan jika menemukan calon relawan yang cara berpenampilan hingga sampai pada bertingkah laku yang tidak sesuai, relawan langsung menegur atau dapat dikatakan relawan yang meminta kepada calon relawan untuk dapat menyesuaikan diri dengan relawan dan lingkungan di Tzu Chi.

Dalam lingkungan Tzu Chi sering ditemukan calon relawan yang bukan beragama Buddha tetapi mereka membantu proses bahkan sampai pada mengikuti seperti kebiasaan umat Buddha dalam melakukan kebaktian. Misalnya jika di Tzu Chi sedang memperingati hari besar, seringkali calon relawan yang bukan Buddhist ikut membantu dibagian pelayanan ataupun mereka ikut berpartisipasi didalam

barisan waisak untuk mengikuti prosesi acara seperti prosesi pemandian rupang Buddha. Bagi calon relawan, mereka melakukan ini bukan berarti melanggar aturan dari agama mereka masing-masing tetapi di Tzu Chi sendiri ini bukanlah suatu yang dikhususkan hanya untuk umat Buddha saja tetapi untuk semua umat manusia yang berasal dari agama manapun karena tujuannya adalah baik yaitu mendoakan semua mahluk dan agar dunia terbebas dari bencana dan hidup bahagia. Maka dari pandangan dan upaya calon relawan seperti inilah, sudah menunjukkan bahwa mereka dapat menyesuaikan diri baik terhadap relawan dan juga lingkungan di Tzu Chi.

Dengan sikap dari relawan maupun calon relawan yang demikian berpengaruh juga terhadap situasi komunikasi yang diciptakan. Situasi komunikasi yang dirasakan tentu berjalan dengan nyaman karena dari keduanya ada usaha untuk menyesuaikan diri mereka terutama dari calon relawan. Situasi komunikasi seperti kaku karena adanya pembatasan diri terhadap relawan atau lingkungan terutama hingga emosi/marah, perdebatan, dan penggunaan kata-kata yang tidak sepantasnya tidak ditemukan dalam situasi komunikasi antara relawan dan calon relawan selama ini. Walau berkomunikasi dengan bahasa yang sopan sesuai dengan kemanusiaan Tzu Chi, bukan berarti situasi komunikasi menjadi kaku. Situasi komunikasi tetap berjalan akrab dan santai namun tetap pada koridornya untuk tidak sampai pada lewat batasnya.

Dalam dokumen BAB 4 HASIL & PEMBAHASAN (Halaman 56-61)

Dokumen terkait