45
HASIL & PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Obyek Penelitian 4.1.1 Profil Yayasan Buddha Tzu Chi
Yayasan Buddha Tzu Chi adalah Lembaga sosial yang lintas agama, suku, ras, dan etnis. Arti nama dari yayasan ini “Tzu” yaitu “Memberikan Kebahagiaan” dan “Chi” yaitu “Menghilangkan Penderitaan”. Sehingga makna dari arti nama yayasan Buddha Tzu chi adalah memberikan kebahagiaan dan menghilangkan penderitaan.
Yayasan Buddha Tzu Chi pertama kali didirikan oleh seorang bhikhuni yang bernama Master Cheng Yen pada tahun 1966. Dengan pusatnya di Hualien, Taiwan. Dengan berprinsip kemandirian, Tzu Chi telah berdiri di 67 negara dan di Indonesia sendiri, Yayasan Buddha Tzu Chi mulai menapakkan jejaknya sejak tahun 1993 dan diresmikan pada tanggal 23 September 1994. Yayasan Kemanusiaan Tzu Chi terdiri dari relawan dengan latar belakang yang berbeda – beda dengan melintasi perbedaan agama, ras, Bangsa, dan golongan untuk bersama – sama menebar cinta kasih di seluruh dunia.
4.1.2 Visi & Misi Tzu Chi
Misi Tzu Chi adalah memberikan bantuan materi seraya menumbuhkan cinta kasih dan rasa kemanusiaan dalam diri pemberi dan penerima bantuan. Master Cheng Yen meyakini bahwa kurangnya cinta kasih terhadap sesama merupakan akar dari berbagai masalah di dunia maka :
“Untuk menyelamatkan dunia, kita harus memulainya dengan mengubah hati manusia”
Tzu Chi bercita – cita untuk menjernihkan hati manusia dengan mewujudkan masyarakat yang aman dan tenteram sehingga dunia terbebas dari bencana. Cita – cita inilah yang berusaha dicapai dengan melaksanakan delapan misi Tzu Chi yaitu :
1. Misi Amal
Langkah pertama Tzu Chi Indonesia diawali melalui misi amal. Secara umum ada empat hal yang ditangani yaitu bantuan bencana, pasien dengan penangganan khusus, anak asuh, dan bantuan hidup jangka panjang.
Sejak berdiri, Tzu Chi Indonesia telah memberikan bantuan pada korban meletusnya Gunung Merapi di akhir tahun 1994, gempa bumi di Gunung Kerinci, bencana kekeringan, banjir, tanah longsor, tsunami dan secara rutin melakukan kunjungan kasih ke panti jompo dan panti kusta.
Saat banjir besar melanda Jakarta di Tahun 2002, nama Kali Angke mencuat karena banyak nya warga disana yang menjadi korban maka Tzu Chi mulai memberi bantuan dimana Master Cheng Yen sangat menaruh perhatian besar kepada penduduk Kali Angke sehingga mendorong Tzu Chi Indonesia untuk melakukan lima P (pembersihan sampah, penyedotan air, penyemprotan obat antihama, pengobatan amal dan pembangunan perumahan).
Setahun kemudian, Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng bagi penduduk bantaran Kali Angke, selesai dibangun dimana perumahan ini berkonsep rumah susun yang terdiri dari 1.100 unit rumah. Kehidupan penduduk Bantaran Kali Angke pun berubah, dari yang tidak memperhatikan kebersihan, pendidikan, dan ketertiban kini mulai memperhatikan kebersihan, pendidikan, dan ketertiban dimana pada tahun ini, Tzu Chi Taiwan juga mengirimkan 50.000 ton beras cinta kasih untuk Indonesia.
Pada tahun 2004, Tzu Chi mulai membangun perumahan cinta kasih di Muara Angke, Jakarta dimana perumahan ini berjumlah 600 unit yang diperuntukkan bagi para nelayan yang tinggal di bantaran Kali Adem, bagian hilir Kali Angke.
Tzu Chi Indonesia juga turut aktif membantu para korban saat bom meledak di Kedutaan Besar Australia di tahun 2004, bom di Bali tahun 2005, serta bencana kebakaran di berbagai tempat di Jakarta.
Di penghujung tahun 2004, untuk meringankan penderitaan ratusan ribu korban tsunami Aceh dan sebagian Sumatera Utara, Tzu Chi menetapkan tiga tahap rehabilitasi yaitu menenteramkan raga, menenteramkan jiwa, dan memulihkan kehidupan dengan membangun tiga perumahan cinta kasih di Panteriek (Banda Aceh), Neuheun (Aceh Besar) dan Meulaboh (Aceh Barat).
Demikian pula saat terjadi gempa di Yogyakarta pada bulan Mei 2006, relawan Tzu Chi segera memberikan bantuan bahan makanan dan pengobatan kepada korban di daerah Bantul. Hal yang sama dilakukan oleh Tzu Chi Indonesia ketika bencana melanda Padang, Pangandaran, Karang Anyar, Bengkulu, dan tempat – tempat lainnya.
2. Misi Kesehatan
Salah satu akar yang menyebabkan kemiskinan bagi banyak orang adalah penyakit yang tidak ditangani dengan baik karena itulah misi kesehatan dijalankan dengan membantu orang – orang yang tidak mampu melalui baksos kesehatan massal maupun kepada pasien khusus tertentu.
Misi kesehatan di Indonesia dimulai dari Tangerang, Banten pada tahun 1995. Saat itu, di Desa Kiara Payung dan Gaga ditemukan sejumlah penderita Tuberkulosis (TBC). Tzu Chi bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Tangerang menjalankan program pemberantasan TBC disana.
Baksos kesehatan skala besar maupun skala kecil Tzu Chi Indonesia diperbantukan oleh tim dokter dan relawan yang tergabung dalam Asosiasi paramedis bernama Tzu Chi International Medical Association (TIMA) yang didirikan di Indonesia pada tanggal 10 November 2002.
Melalui TIMA, relawan medis diajak untuk melihat pasien sebagai manusia seutuhnya, bukan sebagai objek karena kesembuhan pasien tidak hanya pada penyakit namun juga pemberian perhatian pada jiwanya dimana para dokter dan staff medis yang tergabung dalam TIMA dari berbagai daerah di seluruh Indonesia dalam dua tahun sekali mengadakan pertemuan untuk melatih diri dalam mempelajari semangat humanis para relawan medis.
3. Misi Pendidikan
Misi pendidikan Tzu Chi adalah pendidikan membentuk manusia seutuhnya yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan dan keterampilan namun juga budi pekerti dan nilai – nilai kemanusiaan. Pola pendidikan ini dikembangkan untuk membimbing anak – anak dididik sebagai cikal bakal masa depan bangsa di masa mendatang yang handal.
Di Institusi pendidikan Tzu Chi, para guru dan murid belajar bersama – sama. Selain mendalami ilmu pengetahuan, mereka belajar mengembangkan cinta kasih dan kebajikan dalam hidup sehari – hari sehingga Tzu Chi Indonesia memiliki tempat penyemaian cinta kasih yang berlokasi di perumahan cinta kasih Cengkareng.
Sekolah ini memiliki jenjang pendidikan dari kelompok bermain (KB), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sekolah cinta kasih Tzu Chi tidak hanya dari warga perumahan cinta kasih Tzu Chi namun juga dari masyarakat umum.
Pendidikan di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi juga ditopang oleh pilar nonformal yaitu pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang berisi berbagai latihan keterampilan seperti menjahit, salon, tataboga, komputer, dan keaksaraaan fungsional dimana titik berat pendidikan sekolah cinta kasih adalah budi pekerti seperti rajin, berbakti, bersyukur, tata krama, cinta kasih, puas hati, toleransi, dan jujur.
Para siswa belajar bahwa memiliki sikap bakti kepada orangtua, rajin, jujur, dan peduli pada oranglain serta lingkungan adalah sama penting dengan menguasai pelajaran akademik dengan baik melalui sarana dan prasarana yang memadai untuk belajar sehingga Tzu Chi juga turut merehabilitasi bangunan sekolah yang rusak dan membangun yang baru.
Hingga tahun 2008, Tzu Chi telah membantu pembangunan dua puluh gedung sekolah yaitu Sekolah Dasar korban gempa di Bengkulu, Sekolah Dasar Tanjung Anom Tangerang, SDN 060966, 967, 968 Medan, Pesantren Nurul Iman Parung, Sekolah Panteriek (Aceh), Sekolah terpadu SD sampai dengan SMA di Bantul (Yogyakarta), SDN Cikadu (Bandung), SDN Mesjid Priyayi Serang (Banten) sehingga impian masa depan yang indah bukan hanya milik anak dan keluarga berkecukupan namun anak – anak yang tidak mampu pun memiliki impian yang sama maka dengan ini Tzu Chi Indonesia mewujudkan mimpi mereka melalui program anak asuh dalam memberikan bantuan biaya pendidikan, seragam sekolah dan sepatu, relawan Tzu Chi secara berkala mengunjungi anak – anak seraya memberikan pelajaran membaca dan berhitung, bahasa Inggris maupun etika.
4. Misi Budaya Kemanusiaan
Misi ke 4 Tzu Chi yaitu budaya kemanusiaan yang bertujuan untuk membangun sebuah dunia yang lebih baik. Misi ini diwujudkan dengan menebarkan benih – benih cinta kasih ke seluruh dunia karena hanya dengan cinta kasihlah yang dapat menyucikan hati manusia.
Ada tiga prinsip dasar budaya kemanusiaan yang dikembangkan Tzu Chi yaitu: a. Bersyukur (Gan En)
Ada satu kebiasaan yang tidak lazim di Tzu Chi yaitu setelah kita memberi, justru kitalah yang harus berterima kasih. Dengan memberi berarti kita mendapat kesempatan untuk berbuat kebajikan serta ucapan terima kasih juga merupakan pengingat bagi kita bahwa kita harus bersyukur atas semua berkah dan keadaan baik yang kita nikmati. Kita juga harus bersyukur karena tidak semua orang memiliki kesempatan untuk berbuat baik sehingga ketika memiliki kesempatan itu, kita harus berterima kasih kepada penerima bantuan.
b. Menghormati (Zhun Zhong)
Dalam memberikan bantuan, Tzu Chi memberikan apa yang paling dibutuhkan dan selalu memberikan yang terbaik. Master Cheng Yen selalu mengingatkan bahwa barang yang diberikan kepada penerima bantuan haruslah jenis bantuan kita sendiri yang menginginkannya. Misalnya, bantuan rumah haruslah rumah yang kita juga mau untuk menempatinya.
c. Kasih Sayang (Ai)
Kasih sayang tidak bisa dilihat ataupun diukur namun hanya bisa dirasakan. Kasih sayang juga tidak didapat dengan memohon pada orang lain melainkan diperoleh dari sumbangsih yang diberikan. Kasih sayang tidak akan pernah habis meski terus diberikan kepada orang lain, justru sebaliknya akan semakin besar dan kasih sayang yang kita terima dari orang lain pun juga semakin besar.
Dewasa ini, tak ada cara lain yang lebih efektif untuk merekam jejak Tzu Chi dengan menebarkan cinta kasih selain menggunakan media massa. Kemampuannya untuk menjangkau berbagai lapisan masyarakat adalah alasan utamanya, karena itu apabila dikelola dengan benar sesuai fungsinya maka media
massa akan menjadi alat yang paling efektif dalam menyebarkan kebenaran, kebajikan, dan cinta kasih dari setiap manusia. Adapun media yang dimiliki oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia sebagai media cinta kasih adalah :
a. Majalah Bulanan
Majalah bulanan Tzu Chi pertama kali terbit di Taiwan pada bulan juli 1967 dan bertujuan untuk memberitakan kebaikan umat manusia. Di luar Taiwan, majalah Tzu Chi diterbitkan di Amerika Serikat, Kanada, Australia, Brazil, Hongkong, Afrika Selatan, Singapura, Filipina, Jepang, Malaysia, Argentina, dan Indonesia.
Di Indonesia, tabloid dua bulanan “Dunia Tzu Chi”, yang terbit sejak mei 2000. Mulai tahun 2005, tabloid berubah bentuk menjadi majalah empat bulanan “Dunia Tzu Chi” ditambah penerbitan buletin bulanan Tzu Chi untuk mendukung berbagai kegiatan, kadang juga diterbitkan poster dan brosur sebagai materi pendukung serta menerbitkan buku – buku terjemahan. Melalui media ini, para pembaca dapat mengetahui kegiatan Tzu Chi serta memahami pesan – pesan cinta kasih yang disebarkannya.
Tahun 2005, dua orang jurnalis Tzu Chi Indonesia masuk nominasi kategori “Berita Internasional” dari The Foundation Of Excellent Journalism Award 2005 (FEJA) Taiwan berkat artikel tentang bencana tsunami yang melanda Aceh dan dimuat di majalah Tzu Chi Monthly Taiwan.
b. Jing Si Books & Cafe
Jika ingin mengenal filosofi Tzu Chi lebih jauh dengan lebih nyaman dan menyenangkan, jangan lupakan Jing Si Books & Cafe. Di sana tersedia koleksi buku dan majalah terbitan Tzu Chi. Sesuai dengan arti katanya, Jing Si yang berarti griya perenungan dimaksudkan agar toko buku ini dapat berfungsi sebagai tempat pengisian dan perkembangan rohani bagi seluruh insan Tzu Chi.
Di Indonesia, toko buku ini terletak di jalan pluit permai raya no. 20, Jakarta Utara dimana Indonesia adalah negara ketiga di luar Taiwan yang membangun Jing Si Books & Cafe setelah Malaysia dan Singapura.
Manusia zaman ini adalah manusia yang dituntut serba cepat, terlebih dalam hal informasi. Manusia membutuhkan informasi yang serba cepat dan dapat diakses kapan saja dan dimana saja. Itu terjawab dengan keberadaan internet, maka Tzu Chi pun berkepentingan untuk menyampaikan semua informasi terbaru kepada semua orang secepat dan semudah mungkin diakses, karenanya Tzu Chi juga memiliki jaringan di dunia maya dengan meluncurkan website www. tzuchi.com yang berbahasa Inggris yang memilki link ke website - website tzu chi lainnya ke dalam berbagai bahasa.
Tzu Chi Indonesia juga memiliki website tersendiri yang diluncurkan sejak April 2005. Semua informasi tersebut dapat diakses melalui website www. tzuchi.or.id.
d. Membawa kebaikan dalam masyarakat melalui DAAI TV
Jika ingin mengetahui gambaran tentang suatu masyarakat di suatu zaman, maka lihatlah media massa di zaman itu. Selain untuk menebarkan cinta kasih, Tzu Chi juga ingin mengabadikan sejarah yang dimilikinya dan menjadi saksi kejadian di suatu zaman. Karenanya, pada awal tahun 1998, stasiun televisi DAAI TV milik Tzu Chi mulai mengudara di Taiwan.
Bahkan, sejak oktober 1999, stasiun televisi ini telah menggunakan sistem penyiaran satelit sehingga siarannya dapat diterima di seluruh dunia. Selain program berita, DAAITV juga memproduksi drama berdasarkan kisah nyata, film kartun, acara dialog, program anak – anak, program kesehatan, dan program – program lain yang mengandung nilai kebajikan.
Berkat konsistensi nya pada visi dan misinya pada desember 2001, DAAITV memperoleh penghargaan dari Direktorat Penerangan Taiwan sebagai saluran televisi satelit terbaik. DAAITV kini telah melebarkan sayapnya ke Indonesia dimana pada bulan mei 2007 DAAITV Indonesia mulai mengudara pada channel 59 UHF untuk wilayah Jakarta dan 51 UHF untuk wilayah Medan.
e. Isyarat Tangan
Suatu ketika, Master Cheng Yen mengunjungi sebuah keluarga yang anaknya menderita tuna rungu, beliau merasa sangat tersentuh dengan
kondisi anak yang tidak dapat mendengar dan berbicara tersebut. Padahal beliau sangat ingin berkomunikasi dengannya maka satu – satu nya cara adalah dengan untuk menggunakan bahasa isyarat namun beliau tidak bahasa isyarat.
Sejak itu, Master Cheng Yen selalu menghimbau kepada para muridnya untuk belajar bahasa isyarat tangan yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi sekaligus menyelami dunia para penderita tuna rungu sehingga bahasa isyarat tangan merupakan bahasa yang bersifat universal.
f. Pelatihan Relawan
Bagi relawan baru, pelatihan dilakukan untuk memperkenalkan prinsip – prinsip dasar kemanusiaan seperti bersyukur (Gan En), Menghormati (Zhun Zhong), dan kasih (Ai) sedangkan bagi relawan lama, pelatihan ditujukan agar mereka lebih mendalami nilai – nilai cinta kasih yang dimiliki Tzu Chi dan menerapkannya selama menjalankan kegiatan Tzu Chi.
Selain menggunakan media massa, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia juga menggunakan media komunikasi antarpribadi sebagai media cinta kasih dalam menyebarluaskan berbagai kegiatan kemanusiaan termasuk kampanye pelestarian lingkungan antara lain adalah dengan menggunakan bahasa isyarat tangan yang dipergunakan untuk berkomunikasi dan menyelami dunia penderita tuna rungu dengan perpaduan antara syair – syair lagu dengan kesatuan gerakan yang dibawakan dengan sepenuh hati dalam menciptakan suasana yang indah dan syahdu.
5. Misi Pelestarian Lingkungan
Sejak 1990, Tzu Chi mulai menggalakkan program pelestarian lingkungan yang dimulai dari program daur ulang yang inovatif dari Taiwan ke seluruh dunia dengan mengumpulkan dan menyortir barang – barang yang bisa didaur ulang di posko daur ulang yang didirikan oleh Tzu Chi di lingkungan perumahan cinta kasih.
Siklus mengubah sampah menjadi emas dan emas menjadi cinta kasih pun terus berkembang luas. Di Indonesia, program daur ulang dimulai sejak 1 Januari 2004 di
sebuah gudang khusus seluas 500 m2 di Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng yang dibangun untuk menampung sampah daur ulang berupa kertas, plastik, alat rumah tangga, aluminium hingga meja dan kursi bekas dikumpulkan oleh para relawan.
Setiap hari, mobil daur ulang Tzu Chi berkeliling ke rumah para relawan untuk mengambilnya. Sejumlah komplek perumahan maupun restoran, pabrik garmen, percetakan, penerbitan, bank, hingga pusat perbelanjaan di Jakarta menjadi pelanggan penyumbang sampah daur ulang.
Warga penghuni Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi pun dilibatkan dalam program daur ulang ini dimana mereka diwajibkan untuk memilah jenis sampah menjadi dua bagian yaitu sampah basah (Organik) atau sampah umum yang dapat dibagi menjadi sisa makanan, sterofoam, tissue, bungkus mie instant maupun bungkus permen dan sampah kering (An – Organik) seperti sampah kertas yang dibagi menjadi kertas bekas, kardus bekas, buku atau majalah dan komik, sampah plastik atau beling yang dibagi menjadi kaleng, tutup botol, mainan plastik, botol minuman, botol shampoo, botol beling, serta kresek.
Sampah – sampah yang bisa didaur ulang diletakkan dalam wadah tersendiri untuk memudahkan proses pengumpulan sehingga warga Perumahan Cinta Kasih sudah terbiasa untuk memilah sampah, mana yang masih biasa berguna dan mana yang memang harus dibuang.
Bahkan setiap hari selasa dan jumat, para guru serta siswa – siswi Sekolah Cinta Kasih diwajibkan membawa kertas koran, botol plastik, kertas kardus, dan sejenisnya untuk dikumpulkan di sekolah. Selain mengajarkan untuk mencintai bumi, kegiatan ini telah menanamkan benih cinta kasih di hati anak – anak dengan mengajak mereka berpartisipasi secara tak langsung dalam menggalang dunia kemanusiaan.
Hasil penjualan sampah daur ulang dipergunakan kembali untuk melancarkan program – program Tzu Chi dalam menebarkan cinta kasih.
6. Donor Sumsum tulang
Bulan November 1997 dengan dibangunnya Laboratorium Penelitian Gen Imunitas telah meningkatkan standar pengujian antigen sel darah putih dan telah mendapatkan pengakuan Internasional. Bank darah Tzu Chi yang diresmikan pada
tahun 1999 telah berhasil meningkatkan rasio keberhasilan hingga di atas 85 % dalam mencocokkan darah bagi penderita kelainan darah.
Pada tanggal 30 April 2002, Pusat Donor Sumsum Tulang Tzu Chi berubah nama menjadi Pusat Penelitian Sel Sumsum Tulang Tzu Chi dimana pada kemudian hari Tzu Chi akan terus meningkatkan fungsi bank data sumsum tulang dan mengembangkan penelitian sel, pengobatan gen dan teknologi lainnya. Sasaran pengobatannya dari penderita kelainan darah meluas hingga penderita parkinson dan pikun karena penuaan.
Pada tanggal 13 Agustus 2003, untuk pertama kalinya melaksanakan kegiatan donor sel darah di luar silsilah kaum kerabat di Taiwan dengan menggunakan peralatan pemisah komposisi darah yang dapat menguraikan pembentukan sel darah pendonor secara akurat, sehubungan mekanismenya tidak beda dengan proses donor sumsum tulang maka dikemudian hari akan dijadikan sebagai kegiatan penyumbangan rutin bersama dengan donor sumsum tulang.
7. Relawan Komunitas
Pada tanggal 21 september maka relawan komunitas yang merupakan insan Tzu Chi dari 4 cabang beserta kantor penghubung di seluruh Taiwan segera memobilisasi sejumlah keadaan untuk mengembangkan kemampuannya dalam membantu sesama hingga sebelum jam 2.30 waktu setempat, insan Tzu Chi sudah bermunculan di Graha Dongxing, Songshan, XinZhuang serta dengan segera memberi bantuan bencana di lokasi yang kena dampak musibah maka pada jam 3.00 terbentuk Posko Bantuan Bencana di Cabang Taichung. Jam 5.30 pagi, insan Tzu Chi bersama dengan penghuni perumahan setempat sudah mulai menyediakan semua ini berdasarkan pada persahabatan dan rasa sepenanggungan yang dibangun dan terbina selama ini atas kerja sama sehari – hari yang erat dan tanpa putus antara insan Tzu Chi dan komunitas setempat sehingga begitu mengalami bencana yang mendadak, maka dalam waktu singkat dapat terorganisir dan terbentuk maupun terwujudnya efisiensi yang tertinggi dalam pengembangan pertolongan secara merata.
Ketika virus SARS mewabah, insan Tzu Chi di dalam maupun luar negeri berbondong – bondong terjun ke perumahan, instansi dan sekolah untuk melancarkan gerakan kepedulian atas menebarkan cinta kasih ke dunia dengan
harapan agar semua orang memanjatkan doa dengan niat hati yang bajik, penuh kasih sayang dan ketulusan untuk memohon agar dunia damai serta bebas dari bencana. Dari kemampuan seluruh insan Tzu Chi dalam membantu sesama maka relawan komunitas telah mendapatkan verifikasi Internasional.
8. Bantuan Internasional
Sejak pertama kali, Yayasan Tzu Chi memberikan pertolongan ke Banglades saat negara tersebut sedang dilanda banjir besar pada tahun 1991, Tzu Chi telah memulai langkah pertamanya pada jalur bantuan bencana berskala Internasional.
Hingga kini jangkauan negara – negara atau daerah yang menerima penyaluran bantuan telah meluas di seluruh pelosok dunia yang meliputi Mongolia, Nepal, Muangthai, Kamboja, Afghanistan, Korea Utara, Chechnya, Azerbaijan, Kosovo, Turki, Ethiophia, Rwanda, Ivory Coast, Papua Nugini, Kolombia, Peru, Dominika, Honduras, dan Irak. Masing - masing Yayasan Tzu Chi di luar negeri bersama insan Tzu Chi pusat juga berpartisipasi dan bersumbangsih bersama – sama dengan antusias.
Semakin menegangnya peperangan Amerika – Irak mengakibatkan pengungsi negara ketiga yang semula tinggal sementara di Irak, kini berduyun – duyun melarikan diri ke perbatasan Yordania untuk menghindari peperangan. Selama bulan April, relawan Tzu Chi berulang kali melangkahkan kaki menempuh gurun pasir gersang sejauh 300 km menuju ke tempat penampungan pengungsi untuk memberi perhatian dan penghiburan kepada pengungsi serta membagikan bahan makanan, air mineral, gula, teh, obat – obatan, dan peralatan tulis kepada para pengungsi.
Dua minggu setelah peperangan Amerika – Irak secara resmi dinyatakan berakhir pada tanggal 1 Mei 2003, relawan Tzu Chi membawa 30 ton bantuan kemanusiaan Tzu Chi bersama dengan konvoi kendaraan Hashemite yang merupakan Badan Amal terbesar di Yordania, datang ke Rumah Sakit Fallujah yang berjarak 50 km dari Baghdad untuk membagikan beras. Disamping itu disumbangkan bahan makanan juga kepada 337 keluarga yang mencakup 8.000 lebih pengungsi Palestina di Baghdad yang merupakan bantuan kemanusiaan non pemerintah gelombang pertama yang datang dari Taiwan.
Bulan Januari 2001, El Salvador di Amerika Tengah diguncang gempa bumi berskala besar, Insan Tzu Chi di Amerika bertanggung jawab untuk mengadakan penggalangan dana dan mengoordinasi pendistribusian logistik sebanyak 6 kali, bakti pengobatan sosial sebanyak 5 kali dan rehabilitasi.
Perumahan Cinta Kasih Tahap 1 di kota Sacacoyo yang dapat menampung 340 keluarga telah selesai dibangun pada tahun 2002 yang merupakan sarana kediaman yang serba lengkap yang dilengkapi fasilitas – fasilitas seperti pusat komunitas, Poliklinik, Sekolah, Perpustakaan, Lapangan Sepak Bola dn Proyek Penghijauan Komunitas.
Perumahan Cinta Kasih Tahap II yang dapat menampung 835 keluarga diresmikan di kota Chanmicho diresmikan pada tanggal 31 Oktober 2003 dimana pada saat yang sama, Yayasan Tzu Chi mengadakan bakti pengobatan dan pendistribusian logistik.
Presiden El Salvador menyempatkan diri hadir di tempat untuk menyampaikan rasa terima kasih atas ketulusan cinta kasih universal dari Tzu Chi dengan menamakan Perumahan Cinta Kasih yang didirikan Tzu Chi sebagai wujud keteladanan bantuan Internasional yang terbaik terhadap El Salvador.
Pada hari yang sama, tokoh pemuka agama seluruh Negeri, Kardinal El Salvador datang ke Perumahan Cinta Kasih dengan menyelenggarakan misa massal yang dihadiri puluhan ribu pengunjung dari orang yang berbeda warna kulit, agama, bahasa namun mereka menyaksikan pancaran sinar cinta kasih umat manusia secara bersama.
4.1.3 Logo Tzu Chi
Gambar 4.1 Logo Tzu Chi
Bentuk utama logo Tzu Chi berupa bunga dan buah teratai ( ), yang melambangkan bahwa dapat menjadikan dunia lebih baik dengan menanam benih kebajikan. Hanya dengan benih ini bunga dapat mekar dan menghasilkan buah. Sebuah dunia yang lebih baik dapat diciptakan dengan kebajikan dan pikiran yang murni.
Perahu melambangkan Tzu Chi mengemudikan sebuah perahu cinta kasih untuk menyelamatkan semua makhluk hidup dari penderitaan.
Delapan kelopak melambangkan Delapan Ruas Jalan Mulia yang menjadi panduan bagi anggota Tzu Chi dalam melangkah. Delapan Ruas Jalan Mulia tersebut meliputi:
a. Pandangan Benar b. Pikiran Benar c. Ucapan Benar d. Perbuatan Benar
e. Mata Pencaharian Benar f. Usaha Benar
g. Perhatian Benar h. Konsentrasi Benar.
4.1.4 Sejarah dan Pendiri Tzu Chi
Gambar 4.2 Pendiri Tzu Chi
Pendiri Tzu Chi, Master Cheng Yen dilahirkan pada tanggal 14 Mei 1937 di Chingsui, Taiwan bagian tengah. Wafatnya sang ayah di tahun 1960 menjadikan beliau memahami bahwa hidup ini hanyalah sementara dan selalu berubah. Sejak saat itu beliau mulai mempelajari agama Buddha secara lebih serius sebelum akhirnya menjalani hidup sebagai bhiksuni pada tahun 1964.
Suatu hari di tahun 1966, Master Cheng Yen bersama beberapa pengikutnya datang ke suatu balai pengobatan di Fenglin untuk mengunjungi salah seorang umat yang menjalani operasi akibat pendarahan lambung. Ketika keluar dari kamar pasien, beliau melihat bercak darah di atas lantai tetapi tidak tampak adanya pasien. Dari informasi yang didapat diketahui bahwa darah tersebut milik seorang wanita penduduk asli asal Gunung Fengbin yang mengalami keguguran. Karena tidak mampu membayar NT$ 8.000 (sekitar Rp 2,4 juta), wanita tersebut tidak bisa berobat dan terpaksa harus dibawa pulang.
Mendengar hal ini, perasaan Master Cheng Yen sangat terguncang. Seketika itu beliau memutuskan hendak berusaha mengumpulkan dana amal untuk menolong orang dan menyumbangkan semua kemampuan yang ada pada dirinya untuk menolong orang yang menderita sakit dan kemiskinan di Taiwan bagian timur.
Karena ada jalinan jodoh, di saat itu kebetulan sekali tiga orang suster Katolik dari Sekolah Menengah Hualien datang berkunjung untuk menemui Master Cheng Yen. Suster bertanya, "Agama Katolik kami telah membangun rumah sakit, mendirikan sekolah, dan mengelola panti jompo untuk membagi kasih sayang kepada semua umat manusia, walaupun Buddha juga menyebut menolong dunia dengan welas asih, tetapi mohon tanya, agama Buddha mempersembahkan apa untuk masyarakat?" Kata-kata ini sangat menyentuh hati Master Cheng Yen. Sebenarnya waktu itu umat Buddha juga menjalankan kebajikan dan beramal, namun tanpa mementingkan namanya. Dari situ membuktikan bahwa semua umat Buddha memiliki rasa cinta kasih yang dalam, hanya saja terpencar dan kurang koordinasi serta kurang terkelola. Master Cheng Yen bertekad untuk menghimpun potensi ini dengan diawali dari mengulurkan tangan mendahulukan bantuan kemanusiaan.
Kegiatan kemanusiaan Tzu Chi untuk kaum fakir miskin diawali dari 6 ibu rumah tangga yang setiap hari, masing-masing individu, merajut sepasang sepatu
bayi. Di samping itu, setiap anggota diberi sebuah celengan bambu oleh Master Cheng Yen, agar para ibu rumah tangga setiap pagi sebelum pergi berbelanja ke pasar, menghemat dan menabung 50 sen ke dalam celengan bambu. Dari 30 anggota bisa terkumpul 450 dolar setiap bulan, ditambah hasil pembuatan sepatu bayi 720 dolar, maka setiap bulan bisa terkumpul sebanyak 1.170 dolar sebagai dana bantuan untuk kaum fakir miskin. Kabar ini dengan cepat tersebar luas ke berbagai tempat di Hualien, dan orang yang ingin turut bergabung semakin banyak.
Akhirnya Badan Bhakti Amal Tzu Chi dibentuk pada 14 Mei 1966 yang selanjutnya Badan Amal ini menjadi Yayasan Kemanusiaan Tzu Chi dimana Tzu Chi terdiri dari relawan dengan latar belakang yang berbeda – beda dengan melintasi perbedaan agama, ras, Bangsa, dan golongan untuk bersama – sama menebar cinta kasih di seluruh dunia, kini Tzu Chi telah memiliki cabang di 45 Negara dan 5 Benua.
Benih Tzu Chi masuk ke Indonesia pada tahun 1993, ketika Liang Cheung yang merupakan seorang relawan Tzu Chi Taiwan datang ke Indonesia untuk mendampingi semuanya. Disini, Ia berkenalan dengan sesama istri dari pengusaha Taiwan. Liang Cheung kemudian mengajak mereka berpartisipasi menjadi donatur Tzu Chi.
Lama – kelamaan, setelah mengamati penderitaan masyarakat di sekitarnya, para ibu rumah tangga ini berpikir :
“Mengapa kita tidak melakukan kegiatan sosial ini disini, di Indonesia?”
Pertengahan tahun 1993, para ibu ini berkunjung ke Hualien, Taiwan untuk menemui Master Cheng Yen. Disana mereka memohon restu untuk mendirikan Tzu Chi di Indonesia. Saat itu, Master Cheng Yen berpesan :
“Bagi yang mencari nafkah di Negeri Orang, harus memanfaatkan potensi setempat dan berkontribusi bagi penduduk setempat.”
Demikianlah para istri ekspatriat Taiwan ini membuka lahan cinta kasih di Indonesia dimana tanggal 28 September 1994 adalah hari lahir Tzu Chi Indonesia, hingga kini meski berlabel Yayasan Buddha namun para donatur dan relawan Tzu
Chi berasal dari berbagai agama. Begitu pun dalam setiap kegiatannya, tidak pernah memandang suku, agama, dan golongan.
Sejak belum diresmikan, relawan Tzu Chi sudah mulai bersumbangsih pada masyarakat di sekitar mereka. April 1994, Tzu Chi Indonesia mulai mengunjungi panti jompo secara rutin. Juli 1994, Tzu Chi mulai memberikan bantuan berupa lampu petromaks pada korban bencana tsunami di Jawa Timur. Bulan Desember 1994 saat Gunung Merapi di Jawa Tengah meletus, Tzu Chi memberikan bantuan selimut, tikar, susu, makanan kaleng, sepatu dan pakaian.
Dalam dua tahun perjalanannya, bantuan semakin bervariatif mulai dari pemberian beasiswa pada siswa SDN Jembatan Baru, bantuan kepada pasien penangganan khusus hingga program pemberantasan TBC di Tangerang. Sejak tahun 2000, perkembangan Tzu Chi Indonesia semakin nyata. Jumlah pasien penangganan khusus dan anak asuh semakin bertambah, frekuensi baksos kesehatan di berbagai kota semakin tinggi, pemasangan kaki palsu, perbaikan rumah dan bantuan bencana semakin serius dilakukan. Dengan demikian Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia memiliki beberapa kantor penghubung di Indonesia.
4.1.5 Struktur Organisasi
Gambar 4.3 Struktur Organisasi Tzu Chi Indonesia He Qi Barat
Ketua He Qi Barat
Wakil Ketua Sekretariat
Ketua Hu Ai
Wakil Ketua Hu Ai
Ketua Xie Li
Wakil Ketua Xie Li Pelestarian Lingkungan Bakti Amal Pendidikan Pengobatan Pengembangan Budaya Humanis Kebaktian Kegiatan 3 in 1 Konsumsi Logistik Bahasa Isyarat Tangan Penyambutan dan Penjemputan Pelayanan Sound System Tanggap Darurat
4.1.6 Relawan
1. Jenis Relawan
Di dalam Yayasan Buddha Tzu Chi untuk menjadi relawan resmi harus memenuhi persyaratan yaitu mengikuti lima kali kegiatan, satu kali sosialisasi, dan satu kali training. Terdapat 4 jenis relawan yang terdapat di seluruh Indonesia maupun di wilayah Jakarta Barat/He Qi Barat dapat terlihat perbedaannya dari seragam yang mereka gunakan. Diantaranya:
a. Tzu Ching (Perkumpulan Muda-mudi Mahasiswa Tzu Chi Indonesia)
Gambar 4.4 Tzu Ching (Muda Mudi Tzu Chi Indonesia)
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Tzu Ching ( ) merupakan perkumpulan generasi muda Tzu Chi. Tzu Ching adalah gabungan sekelompok mahasiswa/i yang datang dari berbagai perguruan tinggi yang mempunyai niat sebagai insan Tzu Ching. Untuk persyaratan menjadi Tzu Ching diantaranya yaitu berusia 18-25 tahun, status mahasiswa, dan belum menikah.
Saat ini Tzu Ching Indonesia yang terdapat di kota Jakarta terbagi atas beberapa grup universitas diantaranya:
- Universitas Bina Nusantara. - Universitas Tarumanegara. - Universitas Trisakti. - Universitas Bunda Mulia.
Tidak hanya di Jakarta namun juga di luar kota sudah memiliki Tzu Ching diantaranya Bandung, Pekanbaru, Medan, Makasar, Surabaya, Batam, Singkawang, dan Tangerang. Namun untuk di luar kota, tidak ada pembagian grup khusus universitas. Semua universitas dalam satu kota, dipegang atau dikoordinator oleh satu Tzu Ching.
b. Relawan Abu Putih
Gambar 4.5 Relawan Abu Putih
Sumber: Data dari Yayasan
Bagi calon relawan yang berusia diatas 25 tahun dan memiliki status sudah berkerja yang ingin bergabung sebagai relawan tentu awalnya akan ditahap relawan Abu Putih terlebih dahulu.
c. Relawan Biru Putih
Gambar 4.6 Relawan Biru Putih
Sumber: Data dari Yayasan
Pada tahap relawan biru putih, relawan baik Tzu Ching/muda mudi maupun relawan abu putih harus minimal menjadi anggota relawan minimal sudah
mengikuti empat kali training. Selain itu, adapun persyaratan lainnya seperti menggalang donatur rutin minimal 20 orang donatur.
Pada tahapan relawan biru putih ini, relawan mengemban tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan sebelumnya.
d. Komite
Gambar 4.7 Komite
Sumber: Data dari Yayasan
Relawan yang sudah mencapai tahap ini adalah relawan yang tentunya sudah lama menjadi anggota relawan Tzu Chi dan harus memenuhi beberapa syarat diantaranya:
- Mengikuti training relawan biru putih dalam kurun waktu 2 tahun. - Memiliki jumlah donatur tetap/rutin sebanyak 60 donatur.
- Mengikuti pelatihan 4 in 1 di Taiwan. - Direkomendasikan oleh He Qi.
2. Kegiatan Relawan
Kegiatan yang dilakukan relawan Tzu Chi dibagi menjadi tiga yaitu kegiatan rutin/mingguan, bulanan, dan kegiatan besar.
Kegiatan besar selalu diikuti oleh semua He Qi baik Barat, Selatan, Utara, Pusat, dan Timur. diantaranya:
1. Memperingati 3 hari besar dalam satu waktu sekaligus yaitu memperingati hari ibu, hari Tzu Chi, dan Hari waisak yang biasa jatuh pada bulan Mei. 2. Pemberkahan akhir tahun yang jatuh pada bulan Januari.
3. Hari Pelestarian Lingkungan sedunia yang jatuh pada bulan Mei.
Sedangkan kegiatan bulanan diadakan 1 kali dalam sebulan yang selalu jatuh di hari sabtu dan minggu namun tidak tentu berlangsung di minggu ke berapa. Diantaranya:
1. Donor darah
2. Kunjungan Panti Jompo 3. Kunjungan Panti Asuhan
Kegiatan bulanan selain dilakukan sebanyak 1 kali di tiap bulan, juga dilaksanakannya kegiatan yang dilakukan 1 kali di tiap 3 bulannya atau 4 bulannya, diantaranya:
1. Sosialisasi yang diadakan 3 bulan 1 kali. 2. Training yang diadakan 3 bulan 1 kali.
3. Pembagian sembako yang diadakan 4 atau 6 bulan 1 kali.
Untuk Kegiatan yang dilakukan rutin setiap minggunya khususnya di Jakarta wilayah Barat/He Qi Barat diantaranya:
1. Setiap Senin- Jumat a. Pemerhati Pendidikan
Waktu : 07.00 WIB - Selesai Tempat : Sekolah Cinta Kasih b. Pelestarian Lingkungan
Waktu :08.30 – Selesai
Tempat :Depo Daur Ulang He Qi Barat, Komp. Kosambi Baru, 2. Setiap Selasa
a. Isyarat Tangan Relawan
Waktu : 19.00 - 21.00 WIB
Tempat :Aula Lt.2 Gedung B Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi 3. Setiap Rabu
a. Isyarat Tangan Relawan Waktu : 10.30 - 12.30
b. Kerajinan Tangan
Waktu :13.00 - 15.00 WIB
Tempat :Depo Daur Ulang He Qi Barat, Komp. Kosambi Baru c. Isyarat Tangan Relawan
Waktu :19.00 - 21.00 WIB
Tempat :Jl. Pesanggrahan No. 35 Kebon Jeruk d. Bedah Buku
( Setiap Rabu Minggu ke 2 ) Waktu : 18.30 - 21.00
Tempat :Perumahan Taman Surya e. Bedah Buku
Waktu : 18.30 – 21.00 WIB Tempat :Jl.Taman S.Parman D/70 f. Bedah Buku
Waktu :18.30 – 21.00
Tempat :Perumahan Daan Mogot Baru 4. Setiap Kamis
a. Isyarat Tangan Relawan
Waktu :19.00 - 21.00 WIB
Tempat :Taman Ratu Blok WW No. 8E b. Isyarat Tangan Relawan
Waktu :19.00 - 21.00
Tempat :Sanggar Citra Rukan Golden Passage Citra 2 Ext Blok BE 1B No.7- 8 Lt.3
5. Jumat
a. Bedah Buku
(Setiap Jumat Minggu ke 2 & ke 4) Waktu : 18.30 – 20.30 WIB
Tempat :Depo Daur Ulang Duri Kosambi 6. Setiap Sabtu
a. Survey Kasus
Tempat :Kantor He Qi Barat
7. Minggu
a. Bedah Buku
(Setiap hari Minggu, Minggu ke 2 ) Waktu : 09.00 – 10.30 WIB
Tempat :Aula Lt.5 Sekolah Cinta Kasih
3. Jumlah Relawan
Jumlah Relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di Wilayah Jakarta Barat/He Qi Barat Tahun 2013
Tabel 4.1 Jumlah Relawan Tzu Chi He Qi Barat Tahun 2013
Relawan Abu Putih Relawan Biru Putih Calon Komite Pria Calon Komite Wanita Komite Pria Komite Wanita Rong Dong Tzu Ching Jumlah 207 237 28 47 11 31 19 18 Total 598
4.2 Gambaran Umum Informan dan Key informan 4.2.1 Informan
Informan dalam penelitian ini yaitu 3 orang calon relawan yang sudah pernah mengikuti minimal 6 kali kegiatan dan 1 kali sosialisasi.
4.2.1.1Informan 1
Gambar 4.8 Informan 1
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Wilsen saat ini berusia 19 tahun dan sekarang ia adalah mahasiswa universitas Bina Nusantara semester dua jurusan Tehnik Informatika. Wilsen mengenal Tzu Chi sejak tahun 2012. Pertama kali mengikuti kegiatan Tzu Chi di daerahnya yaitu di Jambi saat duduk di bangku SMA. Kemudian Wilsen melanjutkan pendidikannya di Universitas Bina Nusantara dan juga tetap mengikuti kegiatan Tzu Chi di Jakarta.
Wilsen pernah mengikuti kegiatan Tzu Chi di Jakarta wilayah Barat sebanyak 6 kali dan sosialisasi satu kali. Kegiatan yang pernah diikuti diantaranya:
- Donor darah sebanyak 1 kali
- Kunjungan panti jompo sebanyak 1 kali - Kunjungan panti asuhan sebanyak 2 kali - Pembagian sembako 1 kali
4.2.1.2Informan 2
Gambar 4.9 Informan 2
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Dicky Harlim saat ini berusia 24 tahun dan dia seorang wiraswasta di tempat daerah asalnya yaitu Jambi. Di Jakarta Dicky tinggal di Resindence Central Park Tower Amandine. Untuk sementara, ia akan menetap di Jakarta selama 6 bulan karena keperluan melakukan survei untuk kepentingan usaha di daerahnya.
Awalnya dicky mengetahui adanya kegiatan sosial dari ajakan langsung oleh salah satu seorang relawan Tzu Chi pada bulan oktober 2013, Dicky pernah mengikuti kegiatan sebanyak 9 kali dan sosialisasi sebanyak satu kali. Kegiatan yang pernah diikuti diantaranya:
- Kunjungan panti jompo sebanyak 2 kali - Kunjungan panti asuhan sebanyak 1 kali - Donor darah 2 kali
- Pembagian sembako 1 kali
- Baksos korban bencana banjir jakarta 1 kali
- Survey pembagian kupon beras daerah cengkareng sebanyak1 kali - Gathering antara relawan dan calon relawan sebanyak 1 kali - Penggalangan dana untuk korban filipina sebanyak 1 kali
4.2.1.3Informan 3
Gambar 4.10 Informan 3
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Desi bekerja sebagai salah satu staff administrasi di perusahaan asing. Dan pada tahun ini ia berumur 23 tahun. Sebelumnya ia pernah melakukan studi di negeri Cina untuk mendalami bahasa mandarin. Setelah menyelesaikan studinya, ia kembali lagi ke Jakarta untuk bekerja dan sekarang bertempat tinggal di apartemen Grand Topic.
Desi sudah mengenal Tzu chi dan mulai ikut kegiatan sudah hampir satu tahun lamanya. Awalnya ia mengetahui yayasan Tzu Chi dari salah satu temannya yang juga seorang relawan di Tzu Chi. selain sosialisasi, kegiatan yang pernah diikuti, diantaranya:
- Kunjungan panti jompo sebanyak 4 kali - Kunjungan panti asuhan sebanyak 3 kali - Donor darah sebanyak 2 kali
- Survey pembagian kupon beras sebanyak 1 kali
4.2.2 Key Informan
4.2.2.1 Key Informan 1
Gambar 4.11 Key Informan 1
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Suriadi saat ini berusia 31 tahun dan sudah berumah tangga. Asal beliau yaitu dari Bukit Tinggi namun sekarang sudah menetap di Jakarta yang beralamatkan di Jalan Sunter Karya Blok B1 19. Suriadi selain bekerja sebagai wiraswasta juga bekerja sebagai Public Relations dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Suriadi menjadi relawan Tzu Chi Sejak 9 tahun yang lalu tepatnya tahun 2005. Dan saat itu juga Suriadi bekerja sebagai Public Relations Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Beliau juga sudah sampai pada tahap komite. Kegiatan yang paling sering diikuti Suriadi adalah kegiatan sosialisasi dan Training. Sehingga beliau kerap kali bertemu dan berinteraksi dengan relawan maupun calon relawan. Beliau dikenal sebagai sosok yang mudah akrab dengan orang yang baru dikenalnya karena pembawaanya yang ramah.
4.2.2.2 Key Informan 2
Gambar 4.12 Key Informan 2
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Moni Alwi saat ini bekerja sebagai Wiraswasta dan sudah berumah tangga. Tahun ini Moni berusia 40 Tahun. Tempat tinggal beralamatkan di Jl. Utama Sakti 8. Moni mengenal dan bergabung dengan Tzu Chi sejak tahun 2008 dan sudah 6 tahun lamanya menjadi bagian dari relawan Tzu Chi. Moni saat ini diberi kepercayaan dan tanggung jawab sebagai sekretariat di He Qi Barat dan sudah berlangsung selama 3 tahun. Moni juga sudah menjadi relawan pada tahap komite. Sosok Moni yang cakap dalam berkomunikasi, sering membuat Moni menjadi pembicara saat acara-acara Tzu Chi seperti kegiatan training selai itu juga seringkali mengkoordinir acara-acara.
4.2.2.3 Key Informan 3
Gambar 4.13 Key Informan 3
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Irawati Muljadi lahir di kota Medan pada 10 November 1968 yang berarti usianya saat ini 48 tahun. Namun sekarang, ia sudah menetap di Citra Garden 1 1 Blok F-1 No.2 Jakarta. Ira bergabung menjadi relawan Tzu Chi sejak tahun 2003 dan sudah 11 tahun lamanya. Sekarang beliau sudah sampai pada tahap relawan komite. Juga diberi kepercayaan dan tanggung jawab sebagai ketua Hu Ai pada Yayasan Buddha Tzu Chi di Wilayah Jakarta Barat.
4.3 Analisis Hasil Wawancara
Pada penelitian ini yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif yang menurut Moleong, Penelitian kualitatif deskriptif berarti mendeskripsikan suatu peristiwa yang di amati dengan kata-kata untuk memperkuat hasil penelitiannya dari data yang diperoleh peneliti dan menelaah dan menguraikan setiap jawaban pertanyaan dan hasil yang di dapat. Hasil penelitian didapat berdasarkan peristiwa yang diamati berdasarkan teknik pengamatan berperan serta dan nantinya dapat diperkuat dengan hasil dari teknik wawancara dengan informan dan key informan. Dan untuk yang pertama, yang disajikan adalah hasil wawancara.
4.3.1 Gambaran Proses Komunikasi Interpersonal Antara Relawan dan Calon Relawan
Dalam tahap ini akan menjabarkan hasil dari wawancara mendalam dengan informan dan juga key informan. Dengan penjelasan secara deskriptif hasil penelitian dijabarkan. Analisis yang dilakukan terhadap proses komunikasi interersonal antara relawan dan calon relawan berdasarkan aspek keterbukaan, perilaku positif, empati, perilaku suportif, dan kesamaan beserta hambatan-hambatan yang ditemukan saat berkomunikasi interpersonal antara relawan dan calon relawan pada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di Jakarta Barat.
4.3.1.1 Keterbukaan
Pada dasarnya komunikasi terutama dalam komunikasi interpersonal yang melibatkan dua orang selalu diawali dengan adanya suatu usaha untuk mendekatkan diri terlebih dahulu hingga sampai pada tahap lebih lanjut yaitu mengintimkan diri diantara masing-masing pihak yang terlibat dalam aktivitas komunikasi interpersonal agar terjadinya komunikasi yang efektif.
Jawaban yang didapatkan mengenai aspek keterbukaan mengenai apa yang dibicarakan dari key informan pertama yaitu seperti yang diungkap oleh Suriadi,
“Biasanya diawal pasti pengenalan terlebih dahulu seperti menanyakan tentang hobinya apa, kegiatan sehari-hari yang
biasa dilakukan apa. Setelah kita mengetahui hobi dan keseharian mereka apa-apa saja barulah kita perkenalkan produk kita seperti sosialisasi tentang Tzu Chi. Kemudian juga menyesuaikan kira-kira kegiatan apa yang di Tzu Chi dari sekian banyak kegiatan seperti pelestarian lingkungan, kegiatan amal, dan sebagainya. Selanjutnya dapat kita sesuaikan dengan keinginan calon relawan.”
Selanjutnya jawaban dari Suriadi mengenai kualitas kedua dalam keterbukaan yaitu kejujuran,
“Pasti saya sampaikan dengan jujur. Apalagi saya sebagai relawan tidak boleh bohong sesuai dengan sila Tzu Chi.”
Dalam upaya mendekatkan diri antara relawan dan calon relawan perlu adanya keterbukaan agar dapat sampai pada tahap yang lebih intim. Seperti mengenai yang dibicarakan antara relawan dan calon relawan. Dalam hal ini, Suriadi selalu mulai dengan tahap perkenalan terlebih dahulu setelah itu relawan baru memperkenalkan dan mensosialisasikan mengenai Tzu Chi. Dari tahap perkenalan barulah relawan tahu dan dapat memberitahu kepada calon relawan dari sekian banyak kegiatan yang dilakukan Tzu Chi mana yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan dari calon relawan. Agar menambah rasa nyaman diantara kedua pihak yang terlibat dalam berkomunikasi perlu adanya sikap jujur atau kesesuaian antara apa yang disampaikan dengan apa yang dirasakan. Bagi relawan, kejujuran dalam berkomunikasi dengan calon relawan sangat penting apalagi menyangkut informasi mengenai yayasan dan statusnya sebagai relawan.
Sama halnya dengan Key Informan kedua yaitu Moni mengenai apa yang dibicarakan saat berkomunikasi interpersonal dengan calon relawan. Moni menjawab,
“Supaya lebih akrab, biasanya ngomongin tentang seperti pekerjaan, tempat tinggal, asal dari mana. Kalau misalnya ada yang sama lebih bagus lagi. Shi Gu juga yang berinisiatif menceritakan tentang diri Shi Gu dulu dan menanyakan kepada calon relawan.”
Selanjutnya jawaban untuk kualitas kedua kejujuran dalam keterbukaan. Jawaban Moni,
“Ya sesuai dalam menyampaikan informasi dan sesuai dengan perasaan.”
Moni yang menggunakan keterbukaan untuk mendekatkan diri melalui pembicaraan yang dibicarakan antara relawan dan calon relawan mengenai hal yang umum terlebih dahulu. Dengan adanya kesamaan maka akan lebih mudah akrab dan mendekatkan diri dengan calon relawan. Selain itu relawan juga lebih aktif berbicara kepada calon relawan dengan berinisiatif menanyakan dan memberi informasi mengenai diri sendiri. Dalam menanggapi dan memberikan informasi, Ibu Moni sama dengan relawan lainnya yaitu jujur dan sesuai dengan perasaan.
Irawati yang merupakan Key Informan ketiga menjawab mengenai apa yang dibicarakan saat berkomunikasi interpersonal dengan calon relawan sebagai berikut,
“Sharing tentang Tzu Chi sudah pasti dibicarakan tapi masih yang ringan-ringan tidak terlalu berat kalau calon relawan yang belum begitu tau tentang Tzu Chi. Kalau yang sudah mengenal Tzu Chi bisa membicarakan yang lebih mendalam. Kalau yang sifatnya pribadi seperti pengenalan tetapi yang umum-umum dulu tidak sampai menanyakan pekerjaan ya kalau masi baru kenal. Justru pengenalan ini selalu Shi Gu lakukan diawal sebelum membicarakan tentang Tzu Chi. biasanya juga sering ketemu calon relawan kalau sudah akrab, mereka sering curhat juga mengenai masalah-masalah pribadi mereka seperti masalah keluarga.”
Selanjutnya jawaban untuk kualitas kedua yaitu kejujuran dalam keterbukaan. Irawati menyampaikan,
“Shi Gu menanggapinya dengan mendengarkan dan juga memberikan perhatian ya. Itu penting untuk calon relawan. dan kalau memberikan tanggapan apalagi menyampaikan informasi pasti sesuai dengan kata hati Shi Gu dan juga kenyataan.”
Dari jawaban tersebut, Ira juga sama dengan key informan lainnya memiliki keterbukaan dengan calon relawan. Dalam pembicaraan yang dibicarakan antara relawan dan calon relawan mulanya mengenai hal yang ringan-ringan terlebih dahulu
seperti mengenalkan diri kemudian sharing mengenai Tzu Chi sedikit dan tidak mendalam. Sedangkan apabila calon relawan yang backgroundnya sudah mengenal Tzu Chi bisa berbicara mengenai Tzu Chi lebih mendalam. Jika komunikasi yang dilakukan sudah mendalam relawan selalu berupaya jujur dalam menanggapinya. Disamping dalam hal menanggapi, relawan juga jujur menyampaikan semua informasi karena semuanya berdasarkan dengan apa yang menjadi kata hati dan kenyataan yang dialami. Disamping jujur, memberikan perhatian kepada calon relawan seperti juga sangat penting untuk dilakukan.
Tidak hanya kutipan dari sisi relawan saja dipaparkan, di sini peneliti juga memaparkan kutipan-kutipan berdasarkan jawaban calon relawan. Untuk jawaban Informan pertama mengenai apa yang dibicarakan saat berkomunikasi dengan relawan. Wilsen menjawab,
“Lebih membicarakan tentang Tzu Chi karena sudah kenal Tzu Chi baru coba ikut kegiatan. Jadi sering bicara tentang apa keunikannya dibanding dengan yang lain, master cheng yen, kegiatannya, dan masih banyak lagi. Juga Ada ngomongin soal pribadi juga tapi masih yang umum. Untuk deskripsinya dengan tanya ke relawan misal “mengapa Tzu Chi bisa berorganisasi dengan sangat baik?” atau “mengapa relawan baik dalam memberi perhatian kepada kami terutama penerima bantuan?”.”
Untuk jawaban dari kualitas kedua yaitu kejujuran dalam keterbukaan. Berikut yang disampaikan Wilsen,
“Aku jujur sesuai dengan yang dialami. Merasa senang dan enak juga disini. Kagum dengan Master Cheng Yen dan menjadi ikut termotivasi karena kata perenungan dari master juga.”
Dari kutipan di atas, Wilsen lebih mengungkapkan rasa ingin tahunya kepada relawan setelah berkomunikasi dengan relawan mengenai Tzu Chi. Yang dibicarakan seperti mengenai keunikan Tzu Chi, pendiri Tzu Chi, dan kegiatan sosial yang dilakukan Tzu Chi. Calon relawan mengakui rasa nyaman dan senang di lingkungan Tzu Chi kepada relawan dengan secara tidak langsung melalui pernyataan positif dalam bentuk pertanyaan yang telah diberikan. Calon relawan juga dapat merasakan makna yang sangat dalam bahkan ikut termotivasi jika sudah
membicarakan tentang pendiri yayasan Buddha Tzu Chi yaitu Master Cheng Yen dan karya beliau melalui kata perenungan. Melalui pernyataannya calon relawan jujur dan sesuai dengan pengalaman yang dirasakannya dan juga berusaha membuka diri dengan menceritakan sedikit mengenai diri mereka dan yang masih bersifat umum.
Informan kedua yaitu Dicky menanggapi mengenai apa yang dibicarakan dengan relawan. Berikut jawaban yang disampaikan Dicky,
“Cerita dari masing-masing kegiatan yang pernah diikuti. Contohnya dari relawan sering tanya kegiatan yang pernah diikuti kemudian kesannya bagaimana. Terus macam-macam kegiatan yang sering ada dan kegiatan selanjutnya. Juga mengenai diri sendiri tapi tidak banyak paling tanya tempat tinggal dan dulu sekolah atau kuliahnya dimana.”
Untuk jawaban dari kualitas kedua yaitu kejujuran dalam keterbukaan. Dicky menjawab,
“Iya jujur dalam dan sesuai dengan apa yang dialami.”
Berdasarkan kutipan di atas, tanggapan seperti sharing pengalaman berkegiatan sosial yang sebelumnya pernah diikuti adalah cara Dicky untuk menunjukkan keterbukaan dirinya kepada relawan. Selain itu, yang dibicarakan masih dalam lingkup kegiatan sosial Tzu Chi seperti membicarakan mengenai beragam kegiatan yang biasa dijalankan dan rencana kegiatan selanjutnya. Sharing – sharing yang di sampaikan merupakan tanggapan secara jujur dari apa yang dikomunikasikan relawan terlebih dahulu kepada calon relawan.
Selanjutnya informan ketiga yaitu Desy yang juga hampir sama jawabannya dengan informan lainnya, berikut jawaban Desy mengenai apa yang dibicarakannya dengan relawan,
“Biasanya bicara tentang diri masing-masing seperti alamat, asal, kuliah, kerja. Masih yang seperti itu kalau masih belum begitu kenal. Kalau uda kenal lebih banyak yang bisa di obrolin. Juga ada ngobrol tentang kegiatan.”
Selanjutnya dalam kualitas kejujuran di aspek ini, Desy menyampaikan bahwa ia,
“Sudah jujur. Apalagi kalau menyangkut kegiatan yang sudah diikuti dan jujur untuk ingin ikut kegiatan lagi.”
Desy dalam membuka diri dengan relawan juga sama dengan calon relawan lainnya seperti yang dibicarakan mengenai diri tidak terlalu dalam masih yang bersifat umum seperti alamat, asal, dan tempat dulu kuliah. Calon relawan dalam membuka diri juga melihat sampai sejauh mana kedekatannya dengan relawan jika sudah sampai tahap yang dekat maka akan lebih terbuka. Calon relawan juga menyampaikan perasaannya dengan jujur terutama mengenai perasaannya setelah mengikuti kegiatan dan menunjukkan tanggapannya yang antusias dengan akan mengikuti kegiatan selanjutnya.
Keterbukaan komunikasi terutama pada relawan, mereka lebih banyak membuka diri mereka dengan lebih dulu menceritakan diri sendiri dan menanyakan kepada calon relawan baik yang berhubungan dengan diri mereka maupun tanggapan calon relawan setelah mengikuti kegiatan. Setelah itu calon relawan baru dapat membuka diri dengan menanyakan kembali ataupun menanggapi apa yang disampaikan relawan. Umumnya yang dibicarakan adalah mengenai diri dan mengenai Tzu Chi yang sifatnya tidak terlalu dalam. Komunikasi yang terus menerus dan semakin dekat membuat diantara keduanya semakin terbuka dalam berkomunikasi. Semua penyampaian dan tanggapan selalu disampaikan dengan jujur dan sesuai dengan perasaan maupun kenyataan yang terjadi.
4.3.1.2 Empati
Selama menjadi relawan, relawan dapat memahami posisi calon relawan setelah mengikuti kegiatan. Suriadi sering menjumpai calon relawan yang menunjukkan rasa senang dan bersyukur setelah mengenal Tzu Chi dan perasaan tersebut tercermin dari sikap calon relawan yang antusias menyatakan akan datang kembali di kegiatan selanjutnya. Tentu relawan ikut merasakan apa yang dirasakan calon relawan dengan turut senang sekaligus menanggapi perasaan calon relawan tersebut dengan
memberi masukan yang lebih menambah perasaan senang dan bersyukur seperti mengingatkan kembali hal yang telah dilakukan adalah demi melayani masyarakat.
Pernyataan tersebut dapat diperjelas lagi dengan melihat jawaban langsung relawan dalam memahami calon relawan, berikut jawaban yang disampaikan Suriadi,
“Kalau paham, saya sudah pasti paham seperti yang saya sudah katakan sebelumnya kerena sudah melewatinya. Dan cara saya menanggapinya memberikan pesan lagi untuk menambah perasaan mereka seperti semua yang dilakukan demi kebaikan masyarakat.”
Sementara itu untuk kualitas kedua dalam aspek ini relawan dapat ikut merasakan apa yang dirasakan calon relawan. Suriadi menjawab,
“Tentu saya ada merasakan apa yang dirasakan calon relawan karena saya juga pernah mengalami di proses calon relawan. Yang dirasakan calon relawan yang saya dapatkan biasanya senang dan merasa bersyukur bisa ikut dalam kegiatan”
Disamping relawan menemukan rasa senang didiri calon relawan. Moni juga menemukan perasaan calon relawan yang tersentuh hingga menangis di saat ataupun seusai kegiatan. Sehingga relawan terdorong untuk menunjukkan rasa empatinya dengan menghampiri dan mencoba menenangkan calon relawan. Setelah itu baru menanyakan apa yang dirasakan calon relawan dan mencoba memahami posisi calon relawan. Setelah memahami posisi yang dirasakan calon relawan, relawan ikut merasakan terhanyut dan disaat itu relawan juga sharing pengalamannya selama berkegiatan di Tzu Chi. Dengan demikian, relawan juga dapat belajar dari pengalaman calon relawan dan begitu juga sebaliknya.
Hal tersebut diperkuat dengan jawaban Moni dalam hal memahami posisi calon relawan yaitu,
“ Paham. memahami posisi mereka sampai terbawa perasaan. Shi Gu juga sharing selama menjadi relawan. Jadi disini kami dapat sama sama belajar dari pengalaman.”
Sementara itu dalam ikut merasakan apa yang dirasakan calon relawan, Moni menyatakan,
“Ya ikut merasakan. Misalnya kalau menemukan senang juga ada yang terharu hingga menangis. yang seperti ini, Shi Gu mencoba dekati dan menenangkan mereka.”
Pernyataan Moni tersebut seirama dengan apa yang disampaikan oleh Irawati yang juga mampu memahami posisi calon relawan. Irawati menyampaikan pemahaman terhadap calon relawan dengan menjawab,
“Iya Shi Gu ada menanyakan tanggapan dan perasaan calon relawan setelah mengikuti kegiatan Tzu Chi dan biasanya tanggapan mereka banyak yang terkejut sekaligus bersyukur. Terkejut ternyata di lapangan saat melakukan kegiatan banyak kondisinya yang memprihatinkan. Dari sana mereka jadi sadar dan merasa bersyukur dengan keadaan mereka sekarang. Cara memahaminya dengan cara mendengarkan kemudian juga sekalian Shi Gu disana juga sharing dengan mereka waktu Shi Gu awal - awal ikut kegiatan. Hampir sama dengan apa yang mereka rasakan.”
Sedangkan untuk kualitas selanjutnya dalam aspek ini, Irawati juga mengupayakan untuk ikut merasakan apa yang dirasakan oleh calon relawan dengan menyampaikan jawaban,
“Iya Shi Gu merasakan hal yang sama dengan calon relawan . Rasa syukur karena disini kita sama sama sebagai pemberi bantuan. Dengan adanya sharing berharap agar calon relawan juga dapat menganggap bahwa mereka juga bagian dari kita.”
Dari kutipan di atas menunjukkan bahwa Irawati selama menjadi relawan yang aktif dalam kegiatan amal sosial sangat memahami posisi di calon relawan. Calon relawan yang sharing mengaku terkejut melihat kondisi penerima bantuan yang memprihatinkan namun dibalik itu, rasa syukur yang juga dirasakan karena posisi mereka sebagai pemberi bantuan bukan sebagai penerima bantuan. Relawan menunjukkan rasa empatinya dengan mendengarkan dan juga menceritakan kembali ketika mereka baru ikut kegiatan yang dampak yang dirasakan relawan juga sama dengan apa yang dirasakan oleh calon relawan. Dengan caranya ini, menunjukkan
bahwa relawan ternyata juga ikut merasakan hal yang sama. Relawan bertindak demikian bertujuan agar calon relawan juga dapat merasakan bahwa mereka sudah dianggap bagian dari anggota relawan pula.
Calon relawan ketika melakukan kegiatan mengakui bahwa perasaan yang dirasakannya adalah senang sekaligus tidak terduga. Perasaan inilah yang dirasakan Wilsen dan perasaan ini diungkapkannya juga kepada relawan. Seringkali calon relawan saat melihat relawan berkegiatan misalnya saja ke panti jompo. Relawan disana mencoba untuk menghibur, menyemangati serta selalu tersenyum kepada opa dan oma, bahkan sampai memeluk. Dan disini timbul rasa penasaran dari calon relawan, sehingga mendorong calon relawan untuk menanyakan “bagaimana bisa secepat itu akrab dengan opa oma?” dan disini calon relawan coba memahami posisi relawan. Dan yang kemudian disimpulkan dari jawaban relawan yaitu yang terpenting dalam melayani harus selalu bahagia dan menganggap penerima bantuan adalah keluarga. Mendengar jawaban yang demikian, calon relawan menunjukkan rasa empatinya dengan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh relawan yaitu menanamkan pada diri dalam bersumbangsih dengan perasaan bahagia dan menganggap semua satu keluarga.
Pernyataan di atas dapat lebih jelas dan diperkuat dengan jawaban yang diberikan Wilsen dalam memahami posisi relawan. Dalam kualitas ini, Wilsen menyampaikan,
“Perasaan aku senang juga gak nyangka dan aku kasih tahu perasaan juga ke relawan baru setelah itu coba memahami posisi mereka. Gak nyangkanya misalnya lagi kegiatan pernah ikut kunjungan ke panti jompo dan melihat mereka cepat sekali dekat dengan opa oma di sana. Aku juga ada menanyakan kenapa bisa cepat dekat dari tersenyum terus sampai memeluk opa oma disana juga.”
Sementara itu, calon relawan dalam ikut merasakan apa yang dirasakan relawan. Dapat dilihat dengan jawaban yang disampaikan oleh Wilsen,
“Iya aku ikut merasakan dengan melalui jawaban yang mereka kasih ke aku jadinya setelah itu, aku coba ikut ngerasain.”
Sementara itu informan berikutnya, Dicky menunjukkan empatinya terhadap relawan dengan mendengarkan sharing relawan selama mereka menjadi relawan, juga memotivasi relawan untuk terus aktif melayani masyarakat lewat pujian yang dilontarkan. Dari sharing tersebut, calon relawan tidak dapat sepenuhnya ikut merasakan apa yang dirasakan relawan. Tetapi mereka mencoba untuk memahami posisi relawan. Agar dapat memahaminya, yang dilakukan calon relawan adalah dengan ikut membantu dan melakukan apa yang relawan lakukan. Sehingga lama kelamaan calon relawan berharap dapat mengerti perasaaan yang dirasakan relawan seperti yang di share kepadanya. Walau calon relawan hingga saat ini belum sepenuhnya merasakan.
Dari pernyataan di atas, dapat terlihat cara Dicky yang lebih berbeda dibandingkan calon relawannya dalam memahami posisi relawan. Hal ini dapat didukung dengan pernyataan Dicky,
“Kalau mau memahami harus ikut apa yang mereka lakukan baru bisa paham. Misalnya ikut bantu dalam kegiatan sama yang seperti relawan lakukan.”
Selanjutnya untuk ikut merasakan apa yang relawan rasakan untuk menunjukkan rasa empati calon relawan kepada relawan, Dapat diperjelas dengan jawaban Dicky,
“Ada merasakan tetapi masih belum bisa penuh rasanya. Mereka juga sering sharing selama menjadi relawan. Setelah sharing biasanya saya kasih dukungan dengan memberi pujian terus juga kasih motivasi untuk terus menjadi relawan.”
Sedangkan yang dirasakan Desi dalam memahami posisi yang benar-benar memahami posisi relawan. Selain dari sharing yang didapat, pemahamannya ini juga didapatkan karena dalam kegiatan calon relawan juga berada diposisi yang sama dengan relawan yaitu sama-sama membantu penerima bantuan. jadi bagi calon relawan untuk ikut merasakan apalagi memahami adalah tentu dapat dirasakan. Misalkan saat melihat relawan yang merasakan iba terhadap penerima bantuan, calon relawan juga turut merasakan rasa iba tersebut. Dengan cara demikianlah wujud rasa empati yang diberikan calon relawan terhadap relawan.
Pernyataan calon relawan diatas yang dapat memahami posisi relawan serta ikut merasakan apa yang dirasakan relawan dapat diperkuat dengan pernyataan Desi yang juga merupakan calon relawan yaitu,
“Saya ikut merasakan yang relawan rasakan. Apalagi kalau melihat relawan seringkali merasa kasihan dengan yang mendapat bantuan atau kunjungan kasih. Sayapun ikut merasakan yang relawan rasan. Apalagi kalau melihat relawan seringkali merasa kasihan dengan yang mendapat bantuan atau kunjungan kasih. Saya juga ikut bisa merasakan.”
Mendengarkan merupakan salah satu wujud awal yang dilakukan baik relawan dan calon relawan dalam menunjukkan rasa empati mereka. Karena sama-sama posisi relawan dan calon relawan adalah bersumbangsih bagi penerima bantuan, maka tidak sulit bagi mereka untuk saling memahami posisi. Sehingga peluang untuk ikut merasakan sangat besar dirasakan terutama bagi relawan terhadap calon relawan karena mereka sudah pernah ditahap di calon relawan. Sedangkan bagi calon relawan juga bisa ikut merasakan yang dirasakan relawan walau tidak sepenuh relawan. agar dapat bisa sepenuhnya merasakan calon relawan tetap mencoba terus ikut melakukan seperti yang dilakukan relawan sehingga kedepannya dapat ikut merasakan sepenuhnya apa yang dirasakan relawan.
4.3.1.3Perilaku Positif
Amal sosial merupakan tujuan dari calon relawan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan Tzu Chi. Demikian menurut pandangan Suriadi terhadap calon relawan yang turut ikut berpartisipasi. Terkadang relawan juga menanyakan kepada calon relawan tujuan mereka ikut kegiatan. Dengan dapat berpartisipasi untuk kegiatan amal, maka calon relawan juga memberikan sumbangsihnya terhadap masyarakat. Terutama bagi mereka yang membutuhkan. Relawan mengkomunikasikan pandangannya ini kepada calon relawan sebagai wujud menghargai dan menghormati dengan kata-kata yang sudah menjadi suatu budaya di Tzu Chi.
Pandangan positif relawan terhadap calon relawan yang juga dikomunikasikan dapat dilihat dengan jawaban yang dilontarkan Suriadi,