3. Jumlah Relawan
4.4 Analisis Hasil Pengamatan
4.4.2 Hambatan Komunikasi Interpersonal
Dalam hal mengenai hambatan berkomunikasi antara relawan dan calon relawan, sejauh ini tidak ditemukan hambatan yang besar dan masih mampu diatasi. Yang paling signifikan hambatan komunikasi yang sering ditemukan adalah hambatan seperti ketidakmampuan dari calon relawan untuk menggunakan kata-kata khusus seperti Shi Xiong, Shi Jie, Shi Gu, Shi bo terutama bagi mereka yang tidak bisa berbahasa mandarin bahkan sering dari mereka yang salah mengucapkan kata yang seharusnya “shi bo” di baca “Se po” tetapi mereka tetap menyebutkan “Shi bo.”
Penggunaan bahasa asing juga berpengaruh pada calon relawan yang tidak mengerti arti kata seperti istilah-istilah bahasa mandarin yang sering digunakan di Tzu Chi. Misalnya jika relawan menanyakan “kamu masuk he qi bagian mana?” dari
sana calon relawan akan berbalik menanyakan maksud kata dari “he qi.” Maksud He qi di Tzu Chi adalah wilayah komunitas di Tzu Chi yang digunakan khusus di Jakarta yang dibagi menjadi lima he qi yaitu pusat, timur, barat, utara, dan selatan. Dan tentu arti kata yang tidak dimengerti calon relawan, juga dijelaskan oleh relawan.
4.5Pembahasan
Berdasarkan dari penelitian yang telah dilakukan, selanjutnya hasil dikaitkan dengan teori-teori yang berkaitan dan diuraikan sebagai berikut:
Melihat bahwa relawan dalam melakukan komunikasi interpersonal dengan calon relawan lebih dahulu untuk terbuka dan mencoba untuk langsung ke tahap hubungan yang lebih intim dan menunjukkan sikap ramah-tamah yang bergerak menuju hubungan yang inti. Sehingga berarti di sini relawan langsung berada di tahap penetrasi sosial yang melewatkan tahap-tahapan sebelumnya dalam berkomunikasi interpersonal.
Dalam aspek keterbukaan bahwa adanya upaya membuka diri baik dari relawan dan calon relawan terutama dari relawan, hal ini dapat dilihat dari relawan yang berinisiatif untuk memperkenalkan diri, menceritakan diri, dan membagikan informasi mengenai Tzu Chi terlebih dahulu. Dengan keterbukaan dari relawan terlebih dahulu mendorong calon relawan juga ikut membuka diri mereka dengan menceritakan diri mereka kembali. Sehingga dengan usaha diantara keduanya mereka dapat lebih dekat satu sama lain dan kedekatan ini berpengaruh pada pesan-pesan yang disampaikan semakin bebas dan terbuka. Walau hubungan belum dekat namun masih ada keterbukaan dari keduanya. Hal ini sudah menunjukkan salah satu aspek kualitas keterbukaan komunikasi interpersonal yaitu adanya keinginan untuk terbuka antara yang satu dengan yang lain tanpa harus menceritakan tentang semua kehidupannya, yang terpenting adanya kemauan dari relawan dan calon relawan untuk membuka diri mulai dari pembicaraan yang umum. Untuk kualitas kedua yang
menunujukkan kualitas keterbukaan komunikasi interpersonal yaitu adanya kejujuran dalam menanggapi stimuli yang disampaikan diantara relawan dan calon relawan. Dalam aspek keterbukaan kedua kualitas keterbukaan terdapat dalam komunikasi interpersonal antara relawan dan calon relawan.
Dengan adanya keterbukaan dari relawan dan calon relawan dalam berkomunikasi, tujuan komunikasi interpersonal telah dicapai yaitu relawan dan calon relawan dapat menemukan diri sendiri karena dengan adanya keterbukaan berarti memberikan kesempatan bagi relawan dan calon relawan untuk berbicara tentang apa yang mereka sukai juga mengenai diri mereka seperti yang dilakukan relawan dalam menceritakan diri mereka yaitu keseharian atau hobi mereka begitu juga sebaliknya hingga sampai pada sharing pengalaman.
Terbuka dengan berbicara mengenai apa yang relawan ataupun calon relawan terutama mengenai diri mereka masing-masing berpengaruh kepada timbulnya empati dari keduanya. Karena dari apa yang dibagikan (sharing) relawan dan calon relawan dapat mencoba untuk ikut merasakan apa yang dirasakan lawan bicara mereka. Terutama dari sisi relawan yang lebih banyak pengalaman dan mendapatkan pembelajaran melalui kegiatan yang selama ini dilakukan, jika menemukan calon relawan yang sharing terutama mengenai kejadian di lapangan maka mudah bagi relawan untuk ikut merasakan serta memahami posisi calon relawan saat itu. Sama halnya dengan calon relawan yang juga dapat ikut merasakan dan memahami posisi relawann walau tidak sepenuh relawan. Dengan adanya empati melalui ikut merasakan dan memahami posisi antara keduanya maka mereka tidak akan menilai sikap salah satu diantaranya salah ataupun benar.
Dengan adanya aspek empati tujuan yang dicapai yaitu membentuk dan menjaga hubungan yang lebih penuh arti karena melibatkan emosi atau perasaan diantara keduanya, selain itu dengan adanya aspek empati ini juga terutama dari sisi calon relawan, mereka merasa lebih diperhatikan, dihargai, dan dicintai. Dengan demikian komunikasi yang dirasakan terasa nyaman, akrab, dan hangat serta komunikasi interpersonal juga berjalan efektif.
Berjalannya komunikasi interpersonal yang efektif terdapat kualitas dalam perilaku positif yaitu perhatian yang positif terhadap diri seseorang berarti dengan kata lain untuk dapat menjalankan suatu hubungan yang baik perlu awal yang baik
pula seperti adanya pandangan dan perhatian yang positif diawal komunikasi. Namun masih ditemukan dari hasil wawancara dengan salah satu informan yakni Wilsen, adanya pandangan negatif terhadap relawan dan juga pada hasil pengamatan dilapangan yaitu pandangan yang kurang baik terhadap yayasan Tzu Chi yang berasal dari diri calon relawan. Walaupun demikian mayoritas dari hasil penelitian calon relawan menaruh pandangan positif kepada relawan karena pertama didukung oleh adanya media massa seperti DAAI TV yang menayangkan nilai-nilai positif dalam kehidupan relawan dan yayasan Tzu Chi dengan tujuan untuk dapat menginspirasi pemirsa yang menonton DAAI TV termasuk calon relawan yang berniat bergabung menjadi relawan di Tzu Chi. Oleh karena itu, untuk lebih meyakinkan diri calon relawan mengenai pandangan mereka, mereka lebih memilih untuk dapat terlibat langsung dalam lingkungan Tzu Chi dan calon relawanpun menemukan bahwa pandangan positifnya sesuai dengan yang mereka lihat di DAAI TV. Relawanpun demikian menaruh pandangan dan perhatian positif bagi calon relawan yaitu tujuan mereka ikut berpartisipasi sebagian besar untuk bersumbangsih.
Pandangan dan perhatian yang positif yang ada pada diri relawan dan calon relawan akan terpelihara dengan baik jika hal tersebut dapat dikomunikasikan dengan baik dan dengan cara yang tepat. Sama halnya dengan yang dilakukan relawan, relawan lebih aktif untuk mengkomunikasikan pandangan positifnya terhadap calon relawan dengan menyampaikan pujian, mengucapkan terima kasih, dan dalam bentuk tindakan kepada calon relawan. Sehingga calon relawan juga terdorong untuk mengkomunikasikan pandangan mereka. Demikian pula yang dilakukan calon relawan kepada relawan jika pandangan mereka positif terutama jika diberi stimuli dan dorongan untuk mengkomunikasikannya. Sedangkan bila pandangan calon relawan yang negatif dikomunikasikan juga dengan cara yang benar dan orang yang tepat. Relawan juga mampu memberikan saran yang baik kepada calon relawan dengan harapan pandangan atau perhatian tersebut dapat ke arah yang positif.
Dengan mengkomunikasikan pandangan dan perhatian terutama yang positif tentu bermanfaat untuk membangun kerja sama yang efektif terutama jika berkaitan dengan kerjasama relawan dan calon relawan sebagai tim di lapangan. Selain kerjasama, perilaku positif juga dapat membantu calon relawan dalam interaksi
dalam kesehariannya dengan relawan sebagai tempat berkonsultasi dan mendapatkan masukan-masukan yang mengarah kearah positif, begitu juga sebaliknya.
Baik relawan dan calon relawan juga merasa dihargai keberadaanya melalui sikap yang menunjukkan perilaku suportif dengan cara meminta informasi. Kemudian dengan mengetahui informasi tersebutlah masing-masing dapat mengetahui apa yang perlu didukung, Oleh karena itu dalam aspek perilaku suportif ini juga adanya sikap keterbukaan dan aspek empati yang ditunjukkan oleh relawan maupun calon relawan. Ditemukan bahwa calon relawan pasif dalam membagikan informasi ataupun meminta informasi sehingga relawan memberikan stimulus berupa pesan tentang dirinya terlebih dahulu, kemudian calon relawan menerima pesan sampai pada menginterpretasikan pesan yang disampaikan relawan seperti relawan yang menceritakan tentang pengalamannya selama di Tzu Chi dan pengalaman setelah mngikuti kegiatan. Maka calon relawan terdorong untuk menyampaikan kesan dan pengalamannya pula setelah mengikuti kegiatan. Atau seperti relawan yang menginfokan kegiatan, kemudian calon relawan terdorong untuk meminta informasi kepada relawan tentang deskripsi kegiatan dan jobdesk yang perlu dilakukan mereka saat di lapangan.
Dari informasi yang didapat dan apabila respon tersebut positif maka relawan memberikan dukungan dengan cara terus menginformasikan pesan yang calon relawan butuhkan. Namun tidak semua respon dari calon relawan positif, masih terdapat respon negatif. Tetapi mereka terbuka dan berterus terang secara spontan dalam menyampaikan informasi tersebut. Mendapat tanggapan demikian, relawan juga menanggapi hal ini dengan cara mendengarkan dan menggunakan pemikiran yang terbuka serta memberikan jawaban netral sebagai bentuk dukungan dan perilaku suportif mereka misalnya memberikan jawaban kepada calon relawan bahwa di Tzu Chi terutama relawan masih pada tahap pembelajaran dan pelatihan diri agar menjadi pribadi yang lebih baik. Dari jawaban tersebut, relawan tidak memihak apa yang disampaikan calon relawan ataupun memihak posisinya sebagai relawan di Tzu Chi. Sebaliknya calon relawan memberikan bentuk dukungannya dalam perilaku suportif dengan cara mau mendengarkan dan mecoba memahami pengertian yang disampaikan oleh relawan. Selain itu juga dengan menunjukkan keseriusan dan antusias dalam mengikuti kegiatan untuk dapat bersumbangsih bagi mereka yang membutuhkan.
Bersumbangsih bagi mereka yang membutuhkan menjadi suatu kesamaan niat dan tujuan bagi relawan dan juga calon relawan berpartisipasi di Tzu Chi yang merupakan organisisasi nonprofit bukan pemerintah yang kegiatannya bergantung pada pengumpulan dana guna menunjang operasional mereka. Dana yang didapatkanpun berasal dari relawan yang merupakan anggota yayasan dan juga sebagian besar calon relawan juga menjadi donatur tetap yayasan. Dari kesamaan nilai, tujuan, dan pengalaman relawan dan calon relawan menciptakan kesetaraan antara keduanya. Seperti kesamaan latar belakang antara relawan dan calon relawan juga berpengaruh pada keakraban diantara keduanya.
Selain dari segi kesamaan pengalaman, tujuan, nilai, ataupun dalam hal latar belakang, kesamaan dalam hal mengirim dan menerima pesan juga terjadi dalam situasi komunikasi relawan dan calon relawan. Ini didukung karena budaya Tzu Chi yang membiasakan antar relawan juga calon relawan untuk memanggil sebutan/panggilan seperti Shi Xiong, Shi Jie yang artinya saudara satu perguruan/ajaran yang umurnya tidak terpaut terlalu jauh dan Shi Gu, Shi Bo yang digunakan untuk sebutan bagi orang yang lebih tua/seumuran orang tua yang artinya juga sama saudara/keluarga yang memiliki satu perguruan/ajaran sehingga semua orang adalah setara di Tzu Chi.
Selain itu, kualitas dalam aspek kesamaan adanya pengakuan secara diam-diam oleh kedua pihak bahwa mereka sama-sama berarti dan dari perbedaan yang ada diupayakan untuk dipahami. Tentu situasi komunikasi dapat efektif lagi jika pemahaman tersebut dapat diwujudkan dengan tindakan langsung seperti upaya yang dilakukan dengan menyesuaikan diri antara relawan dan calon relawan. Relawan melakukan upaya penyesuaian diri yang dilihat dari karakter sedangkan calon relawan melakukan penyesuaian diri berdasarkan konteks komunikasi yakni konteks nilai dan konteks ruang. Nilai dan budaya Tzu Chi berpengaruh kepada hasil penelitian yang didapat bahwa calon relawan lebih banyak berupaya melakukan penyesuaian diri mereka terutama jika mereka masih berada dalam lingkungan Tzu Chi. Dari cara berpenampilan, berbicara, bersikap, dan bertingkah laku. Misalnya seperti upaya yang dilakukan calon relawan dalam hal kebiasaan makan, biasanya mengkonsumsi daging dan makanan kadangkala masih sisa saat bersama relawan, mereka menyesuaikan diri dengan memakan makanan vegetarian dan menghabiskan makanan tersebut. Salah satu contoh tindakan calon relawan demikian dapat
dikatakan pengakuan secara diam-diam terhadap relawan sebagai wujud rasa hormat. Dengan upaya dari keduanya terutama calon relawan melakukan penyesuaian diri, maka tentu berpengaruh kepada situasi komunikasi yang terjadi yaitu lancar, nyaman, dan akrab.
Dalam berkomunikasi interpersonal antara relawan dan calon relawan, yang ditinjau dari kelima aspek hasil menunjukkan bahwa komunikasi yang berjalan termasuk efektif, namun masih ditemukan beberapa hambatan yaitu hambatan semantik dan hambatan manusiawi. Hambatan semantik yang terjadi dalam aspek kesamaan. Dalam berbahasa juga didasarkan pada kekhasan budaya dan nilai Tzu Chi, dibalik ini ternyata calon relawan menemukan hambatan dalam mengerti dan memahami bahasa yang digunakan oleh relawan. Sehingga calon relawan tidak mengerti bahasa yang digunakan. Ini berdampak kepada umpan balik yang disampaikan calon relawan kepada relawan yaitu salah pengucapan kata asing tersebut yang tentu berbeda bunyi dan makna kata yang dimaksud oleh calon relawan kepada relawan.
Selanjutnya juga ditemukan hambatan manusiawi dalam aspek perilaku positif yang berasal dari dalam diri calon relawan. Ditemukan pandangan negatif yang terdapat dalam aspek perilaku positif yaitu beberapa calon relawan memandang relawan masih kurang kredibel dengan status mereka dan juga calon relawan memandang bahwa bangunan Tzu Chi Centre berlebihan untuk ukuran Yayasan Sosial. Namun dengan pernyataan atau pandangan demikian, relawan menyikapinya dengan menunjukkan perilaku suportifnya yaitu bersikap netral. Dan disini calon relawan juga menunjukkan perilaku suportifnya dengan mencoba untuk mendengarkan.
Dalam komunikasi yang terjadi antara relawan dan calon relawan memiliki suatu tujuan yaitu untuk mencapai suatu komunikasi yang efektif. Melalui tercapainya komunikasi yang efektif , keduanya dapat membangun hubungan yang lebih dekat juga relawan dapat memberikan dorongan kepada calon relawan untuk dapat menjadi bagian dari relawan. Sehingga dengan komunikasi yang ada dapat menjadi proses bagi relawan khususnya untuk menyampaikan stimulusnya agar dapat mengubah ataupun membentuk perilaku dari calon relawan agar sesuai dengan apa yang diharapkan relawan.
Untuk mengubah ataupun membentuk perilaku, komunikasi interpersonal sangat efektif dilakukan karena dengan komunikasi ini, baik relawan dan calon relawan dapat memberikan dan menerima pesan dengan efek umpan balik yang didapat secara langsung/tatap muka. Relawan dan calon relawan memiliki karakter yang berbeda-beda seperti sifat-sifat, pendapat, pandangan, nilai, pikiran, dan perilaku. Namun dengan adanya komunikasi interpersonal, diantara keduanya dapat bertoleransi dalam memberikan dan menerima perbedaan yang ada, yang dapat dilihat dari hasil penelitian yang menunjukkan adanya upaya dari relawan maupun dari calon relawan yang tidak hanya dilakukan saat mereka berbicara tetapi juga dalam bersikap dan berperilaku.
Dalam komunikasi interpersonal antara relawan dan calon relawan sering ditemukan bahwa mereka saling sharing atau berbagi informasi yang tentu bermanfaat bagi keduanya yaitu mendapatkan informasi yang dibutuhkan dan juga dapat memberikan stimulus bagi keduanya untuk dapat semakin terbuka hingga sampai pada tahap melibatkan emosi seperti perasaan dan juga dapat mempengaruhi serta mengubah sikap/perilaku. Hal ini berarti komunikasi interpersonal efektif yang terjadi berfungsi untuk meningkatkan hubungan insani diantara keduanya.