Gambaran rantai pasok yang akan dibahas terdiri dari struktur rantai pasok, entitas rantai pasok, manajemen rantai pasok, sumber daya rantai pasok, dan proses bisnis rantai pasok.
5.1.1 Struktur Rantai Pasok A. Anggota Rantai Pasok
Pada rantai pasok suatu komoditas terdiri dari dua jenis anggota rantai pasok, yaitu anggota primer dan anggota sekunder. Anggota primer adalah pihak-pihak yang terlibat secara langsung dalam kegiatan produksi dalam rantai pasok. Anggota sekunder adalah anggota rantai pasok yang tidak secara langsung terlibat dalam kegiatan produksi, namun memiliki pengaruh dalam kegiatan bisnis dalam rantai pasok tersebut.
A.1. Anggota Primer Rantai Pasok
Anggota primer pada rantai pasok ikan hias laut ini adalah nelayan tangkap ikan hias laut sebagai pemasok utama, pengepul sebagai pengumpul, perusahaan (baik ekspor maupun lokal) sebagai pemelihara di farm ikan hias, dan konsumen ikan hias yang terdiri dari retail lokal, konsumen akhir lokal, importir, grosir di luar negeri, retail luar negeri, dan konsumen akhir luar negeri. Gambaran lebih lengkap tentang jaringan anggota primer rantai pasok ikan hias non sianida di Kepulauan Seribu dapat dilihat pada Gambar di bawah ini:
Gambar 18. Jaringan Anggota Primer Rantai Pasok Ikan Hias Non Sianida di Kepulauan Seribu Nelayan Pengepul Importir whole-saller Retail Lokal Konsu-men Akhir Lokal Grosir Retail Konsu-men Akhir Pasar Dalam Negeri Pasar Luar Negeri
Perusaha -an Ekspor
64 1. Nelayan Ikan Hias
Ada sekitar 50 nelayan ikan hias di Kepulauan Seribu yang terkonsentrasi di Pulau Panggang. Mereka mencari ikan hias di sekitar Kelurahan Pulau Panggang dan beberapa kelurahan sekitar Pulau Panggang. Nelayan ikan hias dikelompokkan menjadi nelayan lepas dan nelayan terikat. Nelayan lepas menjual ikan hiasnya pada pengepul mana saja yang mereka suka dengan pertimbangan tertentu, sedangkan nelayan terikat/ tetap menjual ikan hiasnya pada pengepul tertentu. Tidak ada ikatan kontrak tertulis yang mengikat secara hukum atau kelembagaan antara nelayan dan pengepul.
Nelayan lepas menyediakan dan menyiapkan sendiri perahu tangkap beserta bensinnya serta jaring tangkapnya, sedangkan beberapa nelayan terikat disediakan bensin dan jaring tangkapnya oleh pengepulnya. Kewajiban nelayan terikat adalah menjual seluruh hasil tangkapan ikan hias yang telah diorder oleh pengepul dengan kualitas ikan yang baik. Beberapa nelayan terikat yang modal penangkapannya disediakan oleh pengepul tidak menjual ikannya pada pengepul lain walaupun harga pada pengepul lain lebih baik. Harga ikan hias dari nelayan ditentukan sepenuhnya oleh pengepul.
2. Pengepul Ikan Hias
Pengepul ikan hias di Kepulauan Seribu, yaitu di Pulau Panggang berjumlah 13 orang. Masing-masing pengepul memiliki sejumlah nelayan tetap dan nelayan lepas sebagai pemasok ikan hias. Pengepul memberikan pinjaman modal penangkapan pada nelayan, dengan jaminan bahwa ikan hias yang ditangkap oleh nelayan akan seluruhnya dijual pada pengepul tersebut. Apabila ikan hias pada pengepul belum mencukupi order, pengepul akan membeli ikan hias pada nelayan lepas atau kepada sesama pengepul.
Beberapa pengepul memasok pada perusahaan ekspor, dan beberapa memasok pada perusahaan lokal. Pengepul yang memasok pada perusahaan ekspor diberikan fasilitas pinjaman berupa pondok penampungan kecil beserta akuarium, plastik untuk membungkus ikan, dan tabung gas di pulau. Hal ini dilakukan oleh perusahaan untuk kepentingan perusahaan juga, yaitu perusahaan menginginkan kualitas ikan hias yang baik. Oleh karena itu pinjaman operasional beserta transfer teknologi dilakukan oleh perusahaan pada pengepul. Di sisi lain,
65
untuk keberlanjutan usaha nelayan dan pengepul, pengepul merasa senang diberikan pinjaman investasi tersebut. Kerjasama saling membutuhkan seperti ini sangat efektif bagi perusahaan. Namun demikian, ada sisi buruk bagi pengepul tersebut, karena dengan adanya ikatan semacam ini pengepul menjadi tidak memiliki posisi tawar yang baik dalam menentukan harga ikan hias, karena harga ikan hias sepenuhnya ditentukan oleh perusahaan. Hal inilah yang menyebabkan nelayan juga tidak memiliki posisi tawar pada pengepul.
Pada penelitian ini, dilakukan wawancara kepada 11 pengepul dari 13 pengepul ikan hias laut yang ada di Kepulauan Seribu. Dari pernyataan tersebut, dapat diketahui bahwa ada 13 rantai pasok primer di Kepulauan Seribu. Tabel di bawah ini menunjukkan 11 rantai primer yang ada di Kepulauan Seribu.
Tabel 12. Jaringan Anggota Primer Rantai Pasok Ikan Hias di Kepulauan Seribu dari Nelayan hingga Perusahaan
No Nelayan Pengepul Perusahaan lokal Perusahaan ekspor
1. Tetap 2 org
Lepas 2 org Kamid - CV. Blue Star Aquatic
2. Tetap 10 org
Lepas 3 org Junaedi -
PT. Dinar Darum Lestari
3. Tetap 3 org
Lepas 8 org Mujahidi - CV. Cahaya Baru
4. Tetap 5 org Lepas 0 org Kelompok Nelayan - PT. Golden Marindo Persada 5. Tetap 10 org
Lepas 2 org Halimun
1. Napoleon
2. Galaxy/prent -
6. Tetap 2 org
Lepas 3 org Muhadi Aquatic Jaya -
7. Tetap 5 org
Lepas 10 org Simon Toupik Aquarium -
8. Tetap 2 org
Lepas 5 org Syahbudin Armas Arquatik -
9. Tetap 4 org
Lepas 0 org Abdul Hakim Family -
10. Tetap 2 org
Lepas 5 org Abdul Somad CV. Aqua Marindo -
11. Tetap 3 org
Lepas 4 org Simin Palem Lestari -
Ada satu kelompok nelayan ikan hias di Kepulauan Seribu yang mencoba memotong rantai pasok pada elemen pengepul ini. Kelompok ini bernama KELONPIS, dimana mereka berorganisasi, mengumpulkan ikan hias bersama-sama dan menjualnya langsung pada perusahaan selayaknya pengepul. Kelompok
66
ini lah yang berfungsi sama seperti pengepul. Inisiatif ini sangat bermanfaat bagi anggota kelompok, karena nelayan bisa menentukan harga untuk mereka sendiri. Paling tidak, penentu harga pada hasil tangkapan ikan mereka bukanlah pengepul, tapi langsung perusahaan. Harapan dari anggota kelompok nelayan ini adalah peningkatan kesejahteraan anggota.
3. Perusahaan
Perusahaan yang terdapat dalam rantai pasok ikan hias non sianida di Kepulauan Seribu antara lain perusahaan lokal dan perusahaan ekspor (lihat Tabel 14). Pada penelitian ini ada 3 perusahaan ekspor yang diwawancara, yaitu CV. Cahaya Baru, PT. Dinar Darum Lestari, dan CV. Blue Star Aquatic. Perusahaan ekspor menerima pasokan ikan hias seminggu sekali dari pengepul di Pulau Panggang dalam keadaan ikan di plastik dan di pisahkan untuk ikan yang siripnya tajam atau ikan yang senang berkelahi. Sesampainya di perusahaan, ikan di streaming selama 24 jam untuk mengetahui apakah ikan dalam kondisi sehat atau sakit . Kemudian ikan disortasi sesuai dengan jenis dan kualitas yang diinginkan perusahaan. Perusahaan juga melakukan upaya pemasaran kepada konsumen. 4. Konsumen
Ikan hias laut memiliki dua kelompok pasar, yaitu pasar dalam negeri dan pasar luar negeri. Konsumen pasar dalam negeri adalah perusahaan retail aquarium ikan hias laut. Namun pasar dalam negeri sangat terbatas, karena daya beli masyarakat kurang. Pasar luar negeri merupakan pasar yang sangat menjanjikan, karena peminat ikan hias laut cukup banyak dan tingkat kesejahteraan konsumen menengah ke atas juga banyak. Beberapa negara yang menjadi konsumen adalah USA (Los Angles, Miami, Kanada, San Fransisco, Brazil, Argentina), Eropa (Inggris, Jerman, Rusia, Polandia, Irlandia, Hungaria), Asia (Hongkong, Jepang, Taiwan, Korea), dan yang sedang mulai tumbuh adalah pasar Uni Emirat Arab (Dubai, Iran, Irak, Siria).
Pelanggan ikan hias dari luar negeri berdasarkan besarnya order dibedakan menjadi 3, yaitu wholesaller, grosir, dan ritel. Wholesaller membeli ikan hias dari perusahaan untuk dijual pada penjual grosir di beberapa negara bagian yang lebih kecil dan sulit dijangkau oleh penerbangan internasional. Grosir membeli ikan hias dari wholesaller, namun ada beberapa perusahaan yang menjual ikan hias
67
langsung pada grosir. Retailer ikan hias laut adalah penjual akuarium ikan hias laut. Ada beberapa perusahaan juga yang menjual langsung kepada retailer, tentunya volume penjualannya tidak akan besar. Retailer ini yang akan berhubungan dengan konsumen akhir, yaitu para hobbyist ikan hias laut dan pengadaan akuarium publik.
5. Aktivitas Anggota Rantai Pasok
Nelayan melakukan penangkapan ikan di lokasi penangkapan dengan menggunakan perahu kecil berbahan bakar bensin sebagai alat transportasi menuju lokasi penangkapan. Jaring tangkap dan alat tangkap yang lain (tembakan untuk ikan mandarin) telah disiapkan. Ikan yang telah ditangkap dimasukkan ke dalam keranjang penampungan yang ditenggelamkan dalam air laut tapi diberi alat pengapung agar keranjang tidak tenggelam semuanya dan tetap berada dalam posisi di permukaan air laut. Selanjutnya, ikan hias hasil tangkapan langsung di bawa ke pondok penampungan milik pengepul. Di sana, ikan langsung dihitung dan disortasi berdasarkan jenis dan kebutuhan order dan langsung di bayar. Bagi nelayan yang dipinjami jaring atau bensin, pembayaran dilakukan dengan melakukan pemotongan pada hasil penjualan ikan hias dari nelayan secara berkala.
Pengepul melakukan sortir pada ikan yang diterima dari nelayan dan membayarnya. Ikan dari nelayan akan ditampung sampai hari jumat, karena setiap hari jumat pengepul akan mengirimkan ikan ke perusahaan. Setelah ikan hias terkumpul di pondok penampungan, pengepul bersama karyawannya melakukan pengemasan ikan berdasarkan jenis dan jumlahnya. Pengemasan dilakukan dengan menggunakan plastik, diisi air yang mengandung bubuk antibiotik untuk menjaga kesehatan ikan, dan diisi gas dengan perbandingan air : gas = 1 : 3. Kemudian ikan yang telah dikemas masing-masing 1 ekor, dibungkus lagi dengan menggunakan plastik yang lebih besar, dimana 1 plastik dapat berisi 5-10 plastik kecil. Ikan yang telah dikemas dengan pastik besar kemudian diangkut dengan menggunakan gerobak dorong menuju dermaga di Pulau Panggang. Dengan menggunakan kapal ojek ikan-ikan tersebut diangkut ke Muara Angke. Sesampainya di Muara Angke, ikan-ikan tersebut diangkut lagi dengan
68
menggunakan gerobak dorong menuju kendaraan berupa mobil boks atau taksi menuju farm perusahaan.
Beberapa perusahaan menjemput ikan hias dari Muara Angke, namun ada beberapa yang menunggu pengepul mengantarkan ikan hias sampai farm perusahaan. Pengelolaan ikan hias laut sebagian besar dilakukan di farm perusahaan ekspor ikan hias. Berikut adalah beberapa teknologi pengelolaan ikan hias laut yang dilakukan di perusahaan mulai dari pembelian ikan dari nelayan hingga pada pengiriman/ ekspor ke luar negeri.
a. Pembelian dan sortir ikan hias
Ikan hias sebagai bahan baku utama perusahaan dibeli dari pengepul di Kepulauan Seribu. Ikan hias tersebut dibungkus dengan menggunakan plastik ukuran 40x60 cm yang sudah di beri lapisan kantung plastik juga untuk mencegah kebocoran. Jumlah ikan hias yang ada di kantung plastik tersebut lebih kurang 50 ekor untuk ikan dengan ukuran rata-rata 5 cm bagi ikan ikan yang tidak berkelahi atau ikan yang tidak bersirip tajam. Sedangkan untuk ikan yang suka berkelahi dan yang bersirip tajam, yang berpotensi untuk saling merusak satu sama lain di gunakan kantung plastik yang lebih kecil dan diisi satu ekor untuk satu plastik yang sesuai dengan ukurannya.
Ikan yang baru datang kemudian dibuka plastiknya dan dibiarkan selama lebih kurang 1 sampai 2 jam untuk melihat apakah kondisi ikan dalam keadaaan sehat atau tidak. Setelah itu baru dilakukan pemilihan (sortir) ikan hias dengan patokan ukuran, kondisi kesehatan ikan yang meliputi kelincahan, warna, dan tingkat kerusakan sirip atau kulit ikan. Setelah itu baru dipindahkan ke dalam akuarium adaptasi, dan setelah sehari, ikan dipindahkan ke akuarium pemeliharaan.
b. Pemeliharaan ikan hias
Pemeliharaan ikan hias dilakukan seperti pemeliharaan ikan hias pada umumnya, yaitu diberi makan, dikontrol pH air dan kebersihan lingkungannya, sirkulasi air harus selalu berjalan, sehingga pada farm pemeliharaan ikan hias ini selalu tersedia genset untuk berjaga-jaga apabila tiba-tiba terjadi pemadaman listrik dari pusat. Hal inilah yang membuat konstruksi farm di perusahaan ikan
69
hias laut selalu berdampingan dengan mess karyawan, karena untuk pemeliharaan ikan hias ini diperlukan pengawasan 24 jam penuh.
Ikan-ikan yang di order oleh pelanggan dan akan dikirim, 3 hari sebelumnya di pisahkan dari kolam pemeliharaan untuk di beri perlakuan khusus, yaitu di puasa kan. Selama 3 hari ikan tersebut tidak diberi makan agar mereka tidak agresif ketika dilakukan proses pengepakan dan pengiriman, sehingga sampai di negara tujuan, ikan tersebut dapat bertahan hidup.
c. Pengepakan ikan hias
Pengepakan ikan hias harus disesuaikan dengan negara tujuan dan musim yang sedang berlangsung di negara tersebut. Ekspor ke negara negara Eropa, Amerika dan Jepang, packing ikan hias pada musim panas tidak menggunakan koran pelapis dan digunakan es batu kecil yang di plastik seperti es lilin untuk menjaga suhu ikan. Namun ketika di negara tujuan tersebut terjadi musim dingin, maka antara styrofoam dan karton diberikan koran pelapis sampai enam lapis. Untuk musim dingin yang ekstrim, terkadang perlu diberi kantong penahan suhu (heat pack) di tiap kardusnya. Sedangkan ekspor ke negara-negara tujuan ekspor di Asia, tidak menggunakan koran pelapis. Kemampuan daya tahan ikan di dalam kotak styrofoam dapat bertahan selama lebih kurang 48 jam.
Sebelum dilakukan pengiriman, ikan hias dikarantina lagi dengan cara dimasukkan ke dalam akuarium terpisah dan dipuasakan, dengan tidak diberi makan.
1) Peralatan dan bahan yang digunakan :
a) Kardus karton berukuran 55 x 30 x 35 cm b) Kotak styrofoam ukuran 50 x 28 x 33 cm
c) Plastik ukuran lebar 10,12,15,17,18,25,38, dan 40 cm. d) Tangki oksigen dengan kapasitas 200 kg/ cm
e) Ultra violet
2
f) Marine buffer ph 8,3
g) Obat antibiotik Water Soluble Bulk Powder 2) Proses pengepakan ikan hias
a) Ikan dipilih dan disortir sesuai dengan ukuran dan jenis berdasarkan order dari konsumen.
70
b) Ukuran plastik disesuaikan dengan ukuran ikan dan jenisnya. Plastik ukuran 10 cm diisi ikan ukuran 1 inci untuk 1 ekor ikan. Plastik dilapisi dua dan tengahnya dilapisi kertas koran untuk mencegah agar ikan tidak saling melihat satu sama lain, sehingga tidak berkelahi.
c) Air untuk pengiriman disediakan di kolam khusus dan di atasnya diletakkan mesin ultraviolet (UV) untuk mematikan bakteri yang terdapat di dalam air tersebut. Kemudian ditambahkan di dalamnya marine buffer PH 8,3 sebanyak 38 gram. Penggunaan marine buffer berguna untuk menjaga alkalinitas dan kestabilan PH air laut.
d) Pemberian air ke dalam kantung plastik sebanyak ½ cm dari atas punggung ikan. Setelah itu diberi water soluble bulk powder yang mengandung nitrofurazone sebagai antibiotik, kira kira sampai air di dalam kantung berwarna kuning.
e) Pemberian oksigen ke dalam kantung plastik dilakukan apabila ikan sudah dimasukkan ke dalam kantung plastik dan diberi antibiotik. Setealah itu baru ikan diikat dengan karet. Tabung oksigen 200 kg/cm2
d. Pengiriman ikan hias
untuk 200 kotak, dengaan kapasitas isi 1 boks berjumlah 50 kantung plastik lebar 10 cm. Penempatan kantung plastik yang berisi ikan hias di dalam kotak styrofoam dalam posisi tegak. Antara styrofoam dan kotak kardus diberi koran pelapis sesuai dengan kondisi negara tujuan ekspor.
Ikan hias yang telah di packing kemudian dimasukkan ke dalam mobil boks untuk dikirim ke bandara terdekat. Perusahaan-perusahaan di Tangerang ini pintu ekspornya adalah Bandara Soekarno Hatta. Di bandara dilakukan proses karantina, dimana perusahaan terkait diwajibkan untuk memberikan sampel ikan yang dikirim, untuk membuktikan bahwa ikan yang dikirim bebas bakteri dan penyakit. Setelah karantina selesai dilakukan, kemudian dengan cepat ikan-ikan ini dimasukkan kembali ke bagasi pesawat dan dikirim ke negara tujuan.
Sampai di negara tujuan, ikan tersebut dijemput oleh importir yang merupakan wholesaller, grosir, dan retail. Ada pula importir yang disebut dengan transhipper, dimana tanpa membuka kemasan, mereka menjual ikan-ikan dari Indonesia ke negara-negara bagian yang lain. Tabel 15 menunjukkan ringkasan
71
kegiatan yang dilakukan oleh anggota primer pada rantai pasokikan hias non sianida di Kepulauan Seribu.
Tabel 13. Aktivitas Anggota Primer Rantai Pasok Ikan Hias Non Sianida di Kepulauan Seribu
Aktivitas Anggota Primer Rantai Pasok
Nelayan Pengepul Perusahaan Konsumen Pertukaran a. Penjualan b. Pembelian c. Peminjaman modal √ √ √/- √ √ √/- √ √ - √ √ - Fisik a. Penangkapan b. Penampungan c. Pemeliharaan d. Pengemasan e. Pengangkutan lokal f. Pengangkutan internasional √ - - - - - - √ - √ √ - - √ √ √ √ √ - √ √/- - - √ √ Fasilitas a. Sortasi b. Teknologi pemeliharaan c. Informasi pasar d. Perijinan ekspor e. Perijinan impor - - - - - √ - - - - √ √ √ √ - √/- √ √ - √ Keterangan : ( √ ) : dilakukan ( - ) : tidak dilakukan
A2. Anggota Sekunder Rantai pasok
Anggota sekunder adalah pihak yang memperlancar kegiatan rantai pasokdalam menyediakan bahan baku yang dibutuhkan mulai dari kebutuhan penangkapan, pengemasan, pemeliharaan, hingga kebutuhan kantor. Bahan baku untuk penangkapan meliputi bensin untuk bahan bakar perahu, untuk pengemasan di tingkat pengepul meliputi plastik, bubuk antibiotik, air laut, gas tabung, dan karet gelang. Pemeliharaan di farm perusahaan memerlukan bahan baku air laut, bahan untuk skimmer, antibiotik, dan pakan ikan. Pengemasan di tingkat perusahaan memerlukan bahan baku berupa kardus karton berukuran 55 x 30 x 35 cm, kotak styrofoam ukuran 50 x 28 x 33 cm, plastik ukuran lebar 10,12,15,17,18,25,38, dan 40 cm, tangki oksigen dengan kapasitas 200 kg/ cm2,
72
Ultra violet, Marine buffer ph 8,3, Obat antibiotik Water Soluble Bulk Powder,
dan air laut. Hubungan anggota primer dalam rantai pasok dengan anggota sekunder ini adalah hanya berupa hubungan konsumen biasa. Tabel 16 menunjukkan pemasok sekunder dalam rantai pasok ikan hias non sianida.
Tabel 14. Daftar Pemasok Bahan Baku Non Ikan Hias dalam Rantai Pasok No. Elemen
Rantai Pasok
Jenis barang Sumber Pemasok
1. Nelayan Bensin Kios bensin di pulau
2. Pengepul Plastik ukuran lebar 10, 15, 25, dan 40 cm
Dari perusahaan
3. Bubuk anti biotik Kios kecil di pulau
4. Air laut Ambil air laut di pulau
5. Tangki oksigen Dari perusahaan
6. Karet gelang Kios kecil di pulau
7. Perusahaan Bahan untuk skimmer Toko Bahan Kimia di Jakarta
8. Pakan ikan Pasar ikan di Jakarta
9. Kardus karton Toko Kardus & Plastik di Jakarta
10. Kotak styrofoam Toko Kardus & Plastik di Jakarta
11. Plastik ukuran lebar
10,12,15,17,18,25,38, dan 40 cm
Toko Kardus & Plastik di Jakarta
12. Tangki oksigen Tempat pengisian oksigen,
bengkel di Jakarta
13. Ultra violet Toko Bahan Kimia di Jakarta
14. Marine buffer ph 8,3 Toko Bahan Kimia di Jakarta
15. Antibiotik Water Soluble
Bulk Powder
Toko Bahan Kimia di Jakarta
16. Air Laut Sea World, Grosir Air Laut
Tangkian di Jakarta Sumber : Hasil wawancara dengan beberapa pihak
B. Pola Aliran Dalam Rantai Pasok
Ada tiga macam aliran yang harus dikelola dalam suatu rantai pasok. Pertama adalah aliran barang yang mengalir dari hulu (upstream) ke hilir (downstream), kedua adalah aliran finansial (uang) dari hilir ke hulu, dan yang ketiga adalah aliran informasi yang dapat mengalir dari hulu ke hilir atau sebaliknya. Model rantai pasok ikan hias non sianida di Kepulauan Seribu ini terdiri atas nelayan, pengepul, perusahaan, konsumen, dan pemasok sekunder.
73
Gambar 20 menunjukkan pola aliran dalam rantai pasok ikan hias non sianida di Kepulauan Seribu.
Keterangan : Aliran barang Aliran finansial Aliran informasi
Gambar 19. Pola Aliran dalam Rantai Pasok Ikan Hias Non Sianida di Kepulauan Seribu
Aliran komoditas ikan hias non sianida dimulai dari nelayan sebagai pemasok utama. Hasil tangkapan ikan hias dikumpulkan pada pengepul. Setiap seminggu sekali atau setelah jumlah dan jenis ikan hias memenuhi order dari perusahaan, maka pengepul mengantarkan ikan hias tersebut pada perusahaan, yang dalam hal ini ada 2 jalur, yaitu perusahaan lokal dan perusahaan eksportir. Harga beli ikan hias laut ini ditentukan sepenuhnya oleh perusahaan, sehingga pengepul juga menentukan harga pada nelayan berdasarkan harga dari perusahaan dikurangi dengan biaya yang harus dikeluarkan pengepul untuk operasional penyimpanan dan transportasi. Beberapa pengepul mengantar ikan hias sampai ke
farm perusahaan dengan menggunakan mobil boks atau taksi, dan sebagian yang
lain hanya menitipkan ikan hias pada anak buah kapal dan sesampainya di Muara Angke, ikan hias tersebut telah dijemput oleh pihak perusahaan. Biaya transportasi akan ditanggung oleh salah satu pihak atau kedua belah pihak dengan kesepakatan yang telah ditentukan.
Nelayan Pengepul
Perusahaan Lokal
Konsumen Akhir Pasar Dalam Negeri Pasar Luar Negeri
Perusahaan Eksportir Perusahaan Importir Penyedia sarana non ikan Konsumen Akhir
74
Setelah sampai di perusahaan, sesuai dengan order pelanggan, perusahaan mengirimkan ikannya dengan menggunakan transportasi darat ke Bandara Soekarno Hatta. Hal ini yang menyebabkan banyak eksportir ikan hias memilih lokasi perusahaannya dekat dengan bandara. Untuk memperpendek waktu tempuh dan efektivitas biaya. Kemudian ikan tersebut melalui proses karantina di bandara, dan dengan waktu yang sangat singkat, ikan diterbangkan ke negara tujuan.
Sesampainya di negara tujuan, ikan dijemput dari bandara ke perusahaan importir. Dari perusahaan importir yang menjadi wholesaller, akan mendistribusikan ikan ke pedagang grosir di negara-negara bagian yang lebih kecil, kemudian ikan diangkut dengan menggunakan transportasi darat, kemudian sesampainya di pedagang grosir, ikan dikirimkan ke petshop/ retail akuarium dan ikan hias laut. Pembeli sebagai end user membeli ikan dari toko akuarium dan ikan hias hias laut tersebut untuk kesenangan/ hobby mereka.
Aliran finansial pada rantai pasok ikan hias non sianida mengalir dari konsumen, perusahaan importir, perusahaan eksportir, pengepul, dan nelayan. Sedangkan untuk pasar dalam negeri aliran finansial lebih pendek, yaitu dari konsumen, perusahaan lokal, pengepul, dan nelayan. Importir membayar kepada eksportir dengan menggunakan 2 cara, yaitu membayar di awal, sebelum ikan