• Tidak ada hasil yang ditemukan

wawancara di atas diharapkan bisa saling melengkapi satu sama lain dalam mendapatkan data yang diperlukan oleh peneliti.

3.6. Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh akan diolah dengan menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Untuk kajian pada nelayan, digunakan analisis deskriptif dengan memaparkan data tabulasi, dan untuk perusahaan dan pihak lain yang berkepentingan digunakan analisis hierarki proses. Analisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang secara nyata berpengaruh pada kesediaan nelayan untuk berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok yang ada. Sedangkan analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk melihat keefektifan manajemen rantai pasok sebelumnya. Dari hasil analisis yang ada akan digabungkan dan diolah menjadi alternatif-alternatif strategi yang dapat digunakan untuk merumuskan strategi manajemen rantai pasok yang adil dan lestari.

3.6.1 Analisis Deskriptif

Salah satu analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Analisis deskriptif merupakan suatu metode yang digunakan untuk meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuannya adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat, mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir, 2003).

Metode analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan situasi dan kondisi perusahaan, evaluasi tingkat keefektifan manajemen rantai pasok yang telah dilakukan selama ini, hubungannya dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan nelayan dan pemasok sesuai dengan karakteristik mereka masing-masing. Data yang diperlukan dalam analisis deskriptif ini akan diambil dengan metode wawancara mendalam, sehingga di dapatkan informasi yang lengkap dan detail tentang kondisi dan situasi perusahaan. Untuk selanjutnya, analisis ini akan dihubungkan dengan hasil analisis metode regresi logit untuk nelayan dan proses hirarki analitik untuk pengepul, sehingga akan

33

diramu alternatif-alternatif strategi yang dapat dilakukan oleh perusahaan selanjutnya untuk dapat memiliki rantai pasok yang kohesif.

3.6.2 Analisis Deskriptif Kuantitatif

Analisis deskriptif ini didasarkan pada data yang disajikan dalam bentuk tabel. Pada penelitian ini digunakan beberapa variabel sebagai indikator untuk mengetahui dan memastikan bahwa nelayan yang tidak bersedia berpartisipasi dalam rantai pasokan adalah nelayan yang tidak setuju terhadap variabel-variabel yang ditanyakan.

Salah satu kajian dalam penelitian ini faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan nelayan dan pengepul untuk berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok dianalisis dengan menggunakan metode yang sangat sederhana, yaitu metode deskriptif kuantitatif. Responden dihadapkan pada pilihan bersedia berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok atau tidak bersedia. Kesediaan untuk berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok tersebut dianggap sebagai variabel dependen (tak bebas) yang diduga dipengaruhi oleh sejumlah variabel independen (bebas).

Variabel independen tersebut antara lain kepercayaan (trust), komitmen

(commitment), norma-norma kerjasama (cooperation norms),

kesalingtergantungan (interdependence), kesesuaian (compatibility), hubungan tambahan di luar hubungan profesi (extendness relationship), dan persepsi manajemen akan ketidakpastian lingkungan (environment uncertainty). Karena variable independen yang dimaksud adalah tentang persepsi, maka dalam analisa ini responden menjawab dengan menggunakan skala likert dengan kisaran sebagai berikut: sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju, dan sangat tidak setuju.

Variabel-variabel yang diduga berpengaruh terhadap kesediaan ketiga pihak untuk berpartisipasi dalam MRP antara lain :

(1) Kepercayaan (trust)

Kepercayaan mewakili kejujuran, kebajikan, dan kesediaan (Mentzer, 2004). Kepercayaan berarti kemauan untuk menerima ketidaknyamanan yang sifatnya hanya sementara, dan kebersediaan untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang akan berakibat buruk bagi perusahaan. Kepercayaan merupakan kebersediaan untuk mengandalkan mitra kerjanya. Diduga apabila ada

34

kepercayaan dalam diri individu atau organisasi, maka dorongan untuk berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok akan semakin tinggi.

(2) Komitmen (commitment)

Komitmen meliputi (Mentzer, 2004) : (a) input sumberdaya yang kredibel dan proporsional, (b) perilaku yang mencerminkan suatu keinginan yang kuat untuk berkomitmen, (c) harapan yang berkelanjutan dan kebersediaan untuk berinvestasi, dan (d) input yang konsisten dan perilaku menuju suatu komitmen yang tak lekang oleh waktu. Diduga apabila individu atau organisasi berkomitmen terhadap hubungan kerjasamanya, maka keinginan untuk tetap berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok akan terus meningkat.

(3) Norma-norma kerjasama (cooperative norms)

Norma kerjasama yang dimaksud dalam hal ini adalah suatu persepsi usaha yang dilakukan dengan kerjasama baik dari pemasok maupun distributor akan mencapai tujuan individu serta tujuan bersama dengan sukses apabila masing-masing pihak yang bekerjasama tidak melakukan tindakan-tindakan oportunis. Diduga apabila individu atau organisasi memiliki etika dalam berbisnis, maka pertisipasi dalam manajemen rantai pasok ini akan berjalan dengan baik.

(4) Kesalingtergantungan (interdependence)

Heide dan John (1998) menyatakan bahwa kesalingtergantungan dari suatu perusahaan pada mitranya akan meningkat ketika:

(a) Keluaran yang didapatkan oleh perusahaan poros dari mitranya merupakan hal yang penting dan bernilai tinggi, serta rasa saling membutuhkan yang tinggi.

(b) Keluaran yang didapatkan perusahaan melampaui keluaran yang tersedia untuk perusahaan.

(c) Perusahaan memiliki sumber alternatif/ sumber potensial yang terbatas untuk dipertukarkan.

Ketika kesalingtergantungan ini dirasakan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam manajemen rantai pasok, maka kebersediaan untuk tetap berpartisipasi pada manajemen rantai pasok.

35 (5) Kesesuaian (compatibility)

Kesesuaian diartikan sebagai dua atau lebih individu atau organisasi yang memiliki goal dan tujuan komplemen, sebagaimana kesamaan dalam filosofi operasi dan budaya perusahaan (Bucklin and Sengupta, 1993). Dalam hal ini, perusahaan melibatkan kombinasi tujuan dan aktivitas yang terpusat berdasarkan kesesuaian goal, tujuan, dan nilai.

(6) Hubungan tambahan di luar hubungan profesi (extended relationship)

Interaksi open ended adalah interaksi yang mungkin tidak memerlukan suatu skema kerjasama tertentu. Pasalnya, tidak ada orang yang akan lebih mengutamanakan kepentingan pihak lain, atau peduli terhadap kesejahteraan orang lain. Namun demikian, untuk tetap mempertahankan dan mengantisipasi putusnya hubungan kerjasama, maka masih memungkinkan untuk membina suatu hubungan open ended, dimana suatu pihak tidak secara mutlak dimiliki dan dikuasai oleh pihak yang lain. Diduga bahwa suatu pihak akan cenderung bersedia untuk berpartisipasi jika hubungan akan berlanjut dengan open ended daripada hubungan yang close ended.

(7) Persepsi manajemen akan ketidakpastian lingkungan (environment

uncertainty)

Ada beberapa hal mengenai ketidakpastian lingkungan, dan hal ini terkait dengan persepsi manajemen terhadap kondisi tersebut. Ketidakpastian tersebut antara lain dinamika perubahan teknologi yang tinggi, kondisi bisnis yang sangat cepat berubah, prediksi yang rendah akan permintaan pelanggan dan tindakan pesaing, serta permintaan internasionalisasi yang tinggi. Untuk variabel ini akan lebih menyentuh secara langsung bagi pihak perusahaan, sedangkan untuk pihak nelayan dan pengepul juga akan terkena dampak sistematis dari hal ini. Diduga ketika ada jaminan akan suatu kepastian, maka pihak yang terlibat dalam manajemen rantai pasok akan bersedia untuk berpartisipasi di dalamnya.

Variabel-variabel diatas akan diturunkan menjadi pertanyaan-pertanyaan dalam format kuesioner yang sama yang akan direspon oleh nelayan dan pengepul. Kuesioner disusun berdasarkan kondisi mereka terkait pekerjaan yang dilakukan (Lampiran 4 dan 5).

36 3.6.3. Analysis Hierarchy Process (AHP)

Tujuan utama pada penelitian ini adalah untuk menentukan strategi manajemen rantai pasok ikan hias laut yang adil dan lestari. Adil berarti bahwa ada pemerataan nilai dari supplier paling awal sampai pada konsumen paling akhir. Lestari berarti bahwa proses aktivitas penangkapan ikan hias ini masih dalam batas kewajaran dan tidak mengganggu keseimbangan alam, sehingga sumber daya alam sebagai produk utama dari perdagangan ini bisa selalu tersedia dan tidak punah.

Untuk merumuskan strategi ini, penulis melakukan wawancara kepada 6 responden sebagai ahli yang terdiri dari 3 responden dari pihak perusahaan, 1 responden dari pihak pemerintah, 1 respoden dari pihak LSM, dan 1 responden dari pihak akademisi. Responden diminta untuk mengisi kuesioner dengan kerangka pikir Analytical Hierarchy Process (AHP) dan memberikan penilaian perbandingan berpasangan (pairwise comparison) untuk proses selanjutnya. Responden sebagai ahli dalam hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.

Proses Hierarki Analitik (Analytical Hierarchy Process – AHP) dikembangkan untuk mengorganisasikan informasi dan judgement dalam memilih alternatif yang paling disukai (Saaty, 1983). Keunggulan dari AHP ini adalah dapat memecahkan masalah dalam suatu kerangka berpikir yang terorganisir, sehingga memungkinkan dapat diekspresikan untuk mengambil keputusan yang efektif atas suatu permasalahan. Permasalahan yang kompleks dapat disederhanakan dan dipercepat proses pengambilan keputusannya.

Berikut adalah tahapan yang dilakukan pada penelitian dengan menggunakan AHP :

1. Penyusunan Hierarki

Prinsip kerja AHP adalah penyederhanaan suatu persoalan kompleks yang tidak terstruktur, strategik, dan dinamik menjadi bagian-bagian kecil untuk disusun ke dalam suatu hierarki. Bagian-bagian kecil yang dikenal dengan variabel tersebut kemudian diberi nilai sesuai dengan tingkat kepentingannya berupa nilai numerik yang secara subyektif mengandung arti penting relatif dibandingkan dengan variabel yang lain. Dari berbagai pertimbangan tersebut,

37

kemudian dilakukan sintesa untuk menetapkan variabel yang memiliki prioritas tinggi dan berperan untuk mempengaruhi hasil pada sistem tersebut.

Pada AHP, permasalahan penelitian secara grafis dapat dikonstruksikan sebagai diagram bertingkat, yang dimulai dengan goal/ sasaran, lalu kriteria level pertama, subkriteria, dan akhirnya alternatif.

Tabel 4. Responden Ahli pada Perumusan Strategi MRP Ikan Hias yang Adil dan Lestari

No Nama Institusi Nama Institusi

Jabatan Keahlian

1. Ibu Wiwie Perusahaan eksportir CV. Cahaya Baru Manajer Farm Ikan Hias Berpengalaman dalam manajemen dan pemasaran ikan hias laut 2. Erik Jaya Putra Perusahaan

Eksportir CV. Blue Star Aquatic Manajer Operasional Farm Berpengalaman dalam manajemen dan pemasaran ikan hias laut 3. H. R. Dody Timur Wahjuadi, DRH Perusahaan Eksportir PT. Dinar Darum Lestari Kepala cabang Jakarta Berpengalaman dalam manajemen dan pemasaran ikan hias laut 4. Prof. Dr. Ir. Musa Hubeis M. Si, Dipl. Ing, DEA Akademisi Institut Pertanian Bogor Dosen – Spesialiasasi Manajemen Strategis Spesialisasi dalam bidang manajemen strategik secara umum 5. Ir. Abdul Khaliq, M. Si

Pemerintah Suku Dinas Kelautan dan Pertanian Kab. Adm. Kep. Seribu Kepala urusan pengelolaan sumberdaya Kelautan Berpengalaman dalam menjalankan program untuk masyarakat nelayan ikan hias laut di P. Panggang 6. Idris, S. Pi LSM Yayasan Terumbu Karang Indonesia Kepala Divisi Pengelolaan Sumberdaya Terumbu Karang Berpengalaman dalam mendampingi masyarakat nelayan ikan hias laut di P. Panggang

38

Persoalan yang akan diselesaikan, diuraikan menjadi unsur-unsurnya, yaitu kriteria dan alternatif, kemudian disusun menjadi kriteria hierarki. Untuk penelitian ini, digunakan suatu diagram hierarki yang mempresentasikan keputusan untuk memilih strategi terpenting yang dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan kesediaan semua pihak untuk berpartisipasi dalam MRP ikan hias laut non sianida.

Susunan skema hierarki yang dimaksud akan tersusun menjadi beberapa level. Pertama adalah level 0 adalah goal yang diinginkan, level 1 adalah faktor yang akan mempengaruhi tercapainya goal, level 2 merupakan aktor yang terlibat dalam pencapaian goal, level 3 merupakan susunan tujuan untuk mencapai goal, dan level 4 merupakan skenario, yang akan menjadi strategi yang diprioritaskan dalam penelitian ini. Berikut adalah susunan hierarki yang dimaksud :

Gambar 8. Skema Analysis Hierarchy Process untuk Ultimate Goal tertentu

Penilaian Kriteria dan Alternatif

Menurut Marimin (2008), AHP memungkinkan pengguna untuk memberikan nilai bobot relatif dari suatu kriteria majemuk (atau alternatif majemuk terhadap suatu kriteria) secara intuitif, yaitu dengan melakukan perbandingan berpasangan (pairwise comparison).

AKTOR FAKTOR SKENARIO Ultimate Goal GOAL TUJUAN K X A B C D R S Q L M N W Y Z P

39

Tabel 5. Nilai dan Definisi Pendapat Kualitatif (Saaty, 1983)

Nilai Keterangan

1 Kriteria/ alternatif A sama penting dengan kriteria/ alternatif B 3 A sedikit lebih penting dari B

5 A jelas lebih penting dari B 7 A sangat jelas lebih penting dari B 9 A mutlak lebih penting dari B

2,4,6,8 Apabila ragu-ragu antara dua nilai yang berdekatan

Kriteria dan alternatif dinilai melalui perbandingan berpasangan, dan menurut Saaty (1983), untuk berbagai persoalan, skala 1 sampai 9 adalah skala terbaik dalam mengekspresikan pendapat. Nilai dan definisi pendapat kualitatif dari skala perbandingan Saaty dapat dilihat pada Tabel 5 di atas.

2. Penentuan prioritas

Untuk setiap kriteria dan alternatif, perlu dilakukan perbandingan berpasangan (pairwise comparison). Nilai-nilai perbandingan relatif kemudian diolah untuk menentukan peringkat relatif dari seluruh alternatif. Baik kriteria kualitatif maupun kriteria kuantitatif, dapat dibandingkan sesuai dengan

judgement yang telah ditentukan untuk menghasilkan bobot dan prioritas. Bobot

dan prioritas dihitung dengan manipulasi matriks atau melalui penyelesaian persamaan matematik.

Dalam metode Analytical Hierarchy Process ini nantinya akan dilakukan pembobotan melalui beberapa operasi perhitungan matematis. Ada tiga langkah yang digunakan untuk menentukan besarnya bobot, yaitu:

Langkah 1 : wi/wj = aij w (i, j = 1,2, ..., n) i w

= bobot input dalam baris

j

Langkah 2 :

= bobot input dalam lajur

wi = aij wj

Pada umumnya, kasus-kasus yang ada mempunyai bentuk: (i, j = 1,2, ..., n)

wi = (i, j = 1,2, ..., n)

40 Langkah 3 :

Bila perkiraan aij baik akan cenderung untuk dekat dengan nisbah wi/wj. Jika n juga berubah maka n diubah menjadi λmax

w

sehingga diperoleh:

i = (i, j = 1,2, ..., n)

Pengolahan horisontal bertujuan untuk menyusun prioritas elemen keputusan di setiap level hierarki keputusan. Menurut Saaty (1983), tahapannya adalah sebagai berikut:

Pengolahan horisontal

a. Perkalian baris (z)

Z1=

b. Perhitungan vektor prioritas atau vektor eigen

eVPi

c. Perhitungan nilai eigen maksimum

adalah elemen vektor prioritas ke-i

VA = aij x VP dengan VA = (Vai VB = VA/VP dengan VB = (V ) bi λ ) max = VBi VA = VB = Vektor antara untuk i = 1, 2, ..., n

d. Perhitungan indeks konsistensi (CI):

Perhitungan indeks ini bertujuan untuk mengetahui konsistensi jawaban yang akan berpengaruh kepada kesahihan hasil. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

CI =

Untuk mengetahui apakah CI dengan besaran tertentu cukup baik atau tidak, perlu diketahui rasio yang dianggap baik, yaitu apabila CR ≤ 0.1, dengan rumus sebagai berikut :

41

Nilai RI merupakan nilai random indeks yang dikeluarkan oleh Oarkridge

Laboratory, berupa tabel sebagai berikut:

N 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

RI 0.00 0.00 0.58 0.90 1.12 1.24 1.32 1.41 1.45 1.49 1.51 1.48 1.56

Pengolahan ini digunakan untuk menyusun prioritas setiap elemen dalam hierarki terhadap sasaran utama. Jika NPpq didefinisikan sebagai nilai prioritas, pengaruh elemen ke – p pada tingkat ke – q terhadap sasaran utama, maka:

Pengolahan vertikal

NPpq = Untuk p = 1, 2, ..., r

T = 1, 2, ..., s Dimana:

NPpq = nilai prioritas pengaruh elemen ke-p pada tingkat ke-q terhadap sasaran utama.

NPHpq = nilai prioritas elemen ke-p pada tingkat ke-q

NPTt = nilai prioritas pengaruh elemen ke-t pada tingkat q-1

Perhitungan matematis di atas merupakan prinsip dasar dalam melakukan pembobotan elemen pada level skenario terhadap ultimate goal atau tujuan puncak. Namun, dalam implementasi praktisnya, pemrosesan pembobotan AHP ini dapat dilakukan dengan menggunakan software Expert Choice 2000.

IV. GAMBARAN UMUM

4.1. Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu 4.1.1. Kondisi Geografis

Kepulauan Seribu berada di posisi geografis antara 106° 20’ 00’’ BT hingga 106° 57’ 00’’ BT dan 5° 10’ 00’’ LS hingga 5° 57’ 00’’ LS, terdiri dari 105 gugus pulau terbentang vertikal dari Teluk Jakarta hingga ke utara yang berujung di Pulau Sebira.

Wilayah Kepulauan Seribu memiliki luas daratan mencapai 897,71 Ha yang terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil dan luas perairan mencapai 6.997,50 Km2

4.1.2. Aspek Alam

. Secara fisik, di sebelah utara Kepulauan Seribu berbatasan langsung dengan Laut Jawa atau Selat Sunda. Di sebelah timur berbatasan dengan Laut Jawa. Sebelah selatan berbatasan dengan daratan Pulau Jawa terutama wilayah pesisir Jakarta Utara dan Kabupaten Tangerang Propinsi Banten, dan di sebelah barat berbatasan langsung dengan Laut Jawa atau Selat Sunda.

Gugus Kepulauan Seribu tergolong relatif muda disebabkan inti utama batuan baru terbentuk kurang lebih 12.000 tahun Sebelum Masehi (Ongkosono, 1986). Secara spesifik, pulau-pulau di kawasan tersebut dibentuk dari gosong karang. Gosong karang terbentuk karena pengaruh perubahan musim. Selama musim angin barat (Desember-Mei), air tawar yang mengalir dari Jawa, Sumatra, dan Kalimantan membawa kandungan nutrien yang berpengaruh bagi terumbu karang. Kandungan nutrien tersebut menyebabkan jumlah fitoplankton, zooplankton, dan tutupan alga meningkat sehingga menekan karang dan menyebabkan karang memutih dan mati. Karang yang mati tersebut membentuk gosong dan secara akumulatif dapat membentuk pulau-pulau kecil setelah ratusan hingga jutaan tahun (Tomascik, dkk., 1997).

Tipe iklim di Kepulauan Seribu adalah tropika panas dengan suhu maksimum mencapai 32°C dan suhu minimum 21°C, sementara suhu rata-rata mencapai 27°C. Kelembaban udara rata-rata 80% dan termasuk sistem musim ekuator yang cenderung dipengaruhi oleh variasi tekanan udara. Pada November hingga April berlangsung musim hujan dengan hari hujan berkisar antara 10

43

sampai 20 hari per bulan. Sementara musim kemarau terjadi pada Mei hingga Oktober dengan 4-10 hari hujan per bulan. Mengacu pada data tahun 2000, curah hujan bulanan di Kepulauan Seribu tercatat rata-rata 142,54 mm dengan curah hujan terendah pada Juni (0 mm) dan tertinggi pada September (307 mm).

Kondisi pasang surut di Kepulauan Seribu dapat dikategorikan sebagai harian tunggal. Kedudukan air tertinggi dan terendah adalah 0,6 m dan 0,5 m dibawah duduk tengah. Rata-rata ketinggian air pada pasang perbani adalah 0,9 m dan rata-rata ketinggian air pada pasang mati adalah 0,2 m. Ketinggian air tahunan terbesar mencapai 1,10 m. Melalui beberapa pengukuran di sejumlah lokasi dalam waktu yang berbeda, kecepatan arus di Kepulauan Seribu berkisar 0,6 cm/detik hingga 77,3 cm/detik. Kecepatan arus dipengaruhi kuat oleh angin dan sedikit pasang surut. Arus permukaan pada musim barat berkecepatan maksimum 0,5 m/detik dengan arah ke timur sampai tenggara. Pada musim timur kecepatan maksimumnya 0,5 m/detik. Gelombang laut yang terdapat pada musim barat mempunyai ketinggian antara 0,5 - 1,175 m dan musim timur 0,5 – 1,0 m (Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, 2005).

Suhu air permukaan di Kepulauan Seribu pada musim barat berkisar antara 28,5°C – 30,0°C. Pada musim timur suhu air permukaan antara 28,5°C – 31,0°C. Hal tersebut memperlihatkan bahwa tidak ada fluktuasi yang nyata antara musim barat dengan musim timur. Salinitas berkisar antara 30‰ - 34‰ baik pada musim barat maupun pada musim timur. Beberapa parameter kualitas air laut menunjukkan ada yang melampaui baku mutu pada lokasi tertentu, seperti Cu, Cd, dan Hg, diantaranya merupakan perairan pulau-pulau berpenghuni seperti Pulau Tidung, Pulau Pari, Pulau Panggang, Pulau Pramuka, dan Pulau Kelapa.

4.1.3. Aspek Pemerintahan dan Pengelolaan Wilayah

Secara administratif Kepulauan Seribu berada dalam wilayah Propinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta dengan status kabupaten adminstratif, sehingga wilayah Kepulauan Seribu memiliki nama Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. Pembagian wilayah pemerintahan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu terdiri dari dua wilayah kecamatan dan enam kelurahan, yaitu Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan mencangkup Kelurahan Pulau Tidung, Kelurahan Pulau Pari, dan Kelurahan Pulau Untung Jawa. Wilayah berikutnya adalah Kecamatan

44

Kepulauan Seribu Utara mencangkup Kelurahan Pulau Panggang, Kelurahan Pulau Kelapa, dan Kelurahan Pulau Harapan.

Dalam melaksanakan pembangunan di wilayah Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, pemerintahan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu memiliki visi yaitu “Kepulauan Seribu Sebagai Ladang dan Taman Kehidupan Bahari yang Berkelanjutan”. Untuk mewujudkan visi tersebut, beberapa misi yang akan dicapai adalah sebagai berikut:

a) Mewujudkan wilayah Kepulauan Seribu sebagai kawasan wisata bahari yang lestari

b) Menegakkan hukum yang terkait dengan pelestarian lingkungan kebaharian dan segala aspek kehidupan

c) Meningkatkan kesejahteraan melalui pemberdayaan masyarakat Kepulauan Seribu dengan perekonomian berbasis kelautan

a) UU No. 34 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Propinsi Daerah Khusus Ibukota Negara Republik Indonesia Jakarta

Agar arah pembangunan di wilayah Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu sesuai dengan visi dan misi, maka ada beberapa aspek hukum yang mendasari pembangunan tersebut, antara lain:

b) UU No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah c) UU No. 24 Tahun 1992 Tentang Penataan Ruang

d) PP No. 55 Tahun 2001 Tentang Pembentukan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta

e) PP No. 25 Tahun 2000 Tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom

f) Perda No. 6 Tahun 1999 Tentang RTRW DKI Jakarta

g) Perda No. 11 Tahun 1992 Tentang Penataan dan Pengelolaan Pulau-Pulau di Kepulauan Seribu

Pengelolaan wilayah pemerintahan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu meliputi berbagai aspek yang mencangkup tata kelola pemerintahan, kependudukan, dan aspek lainnya dalam koridor pemerintahan daerah dengan otoritas otonomi kebijakan pemerintah daerah dibawah naungan pemerintah propinsi DKI Jakarta.

45

Sementara itu pengelolaan kawasan di wilayah Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu juga dilakukan oleh unsur pemerintah yang lain yaitu Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS) di bawah naungan Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Kebijakan pengelolaan TNKpS di wilayah Kepulauan Seribu terkait dengan perlindungan, dan pemanfaatan kawasan Kepulauan Seribu sebagai daerah konservasi.

4.1.4. Aspek Sosial dan Ekonomi

Meskipun wilayah Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu terdiri dari 105 pulau, namun pulau yang berpenduduk hanya terdapat di 11 pulau, yaitu Pulau Panggang, Pulau Pramuka, Pulau Kelapa, Pulau Kelapa Dua, Pulau Harapan, Pulau Sebira, Pulau Tidung Besar, Pulau Payung, Pulau Pari, Pulau Lancang Besar, dan Pulau Untung Jawa. Kondisi penduduk di Kepulauan Seribu setiap tahunnya mengalami peningkatan. Pada tahun 2003 jumlah penduduk sebanyak 19,255 jiwa dan pada tahun 2004 meningkat menjadi 19,593 jiwa. Sementara pada tahun 2007 Kepulauan Seribu memiliki penduduk sebanyak ± 20.376 jiwa dengan pertumbuhan penduduk rata-rata 3,5% per tahun.

Pada tahun 2002, mata pencaharian penduduk yang mendominasi di Kepulauan Seribu adalah nelayan (69,36%) yang kemudian diikuti oleh mata pencaharian sebagai pedagang (10,39%). Jumlah penduduk terbesar yang berprofesi sebagai nelayan adalah Kelurahan Pulau Pari (84,51%) diikuti Kelurahan Pulau Panggang. Sedangkan kelurahan yang penduduknya paling sedikit berprofesi sebagai nelayan adalah Kelurahan Pulau Harapan (48,62%). Mata pencaharian penduduk yang mendominasi di Kepulauan Seribu menurut data tahun 2003-2004 ialah nelayan sebanyak 5.430 orang, yang kemudian diikuti oleh mata pencaharian sebagai petani rumput laut sebanyak 5.238 orang diikuti oleh pekerjaan sebagai swasta sebesar 5.008 orang (Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, 2005).

Kehidupan sosial budaya di Kepulauan Seribu cukup unik, karena kawasan tersebut memiliki kegiatan dan segmentasi masyarakat yang beragam. Di Kepulauan Seribu dijumpai dualisme kondisi sosial ekonomi dan sosial budaya