Dalam rantai pasok ikan hias, partisipasi nelayan merupakan aktor terpenting yang menjadi ujung tombak bisnis ikan hias laut ini. Menurut pendapat para ahli, nelayan memiliki peran 49,8% lebih penting dari perusahaan (20,9%) dan juga pengepul (16,2%). Hal ini dapat dilihat pada hasil analisa sensitivitas yang didapatkan pada Analysis Hierarchy Process. Oleh karena itu, kesediaan nelayan untuk berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok ikan hias ini sangat penting. Dalam penelitian ini, dianalisa beberapa faktor yang menjadi penentu kesediaan nelayan untuk berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok ikan hias non sianida.
Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan deskriptif kuantitatif, dengan variabel bebas kesediaan, dan dibedakan antara nelayan yang bersedia berpartisipasi dan tidak bersedia berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok
96
Gambar 21. Pairwise comparison untuk aktor yang berperan dalam rantai pasok ikan hias non sianida di Kepulauan Seribu
ikan hias laut. Variabel bebas adalah kepercayaan (trust), komitmen, norma-norma kerjasama, kesaling tergantungan, kesesuaian, hubungan tambahan, dan jaminan kepastian. Variabel-variabel bebas tersebut diukur dengan menggunakan skala likert dengan spesifikasi 5 untuk pernyataan sangat setuju, 4 untuk setuju, 3 untuk netral, 2 untuk tidak setuju, dan 1 untuk sangat tidak setuju.
Pada penelitian ini diketahui dari 38 responden, hanya 5 responden yang tidak ingin berpatisipasi dalam manajemen rantai pasok ikan hias. Artinya, dari seluruh populasi, 87% nelayan di Kepulauan Seribu bersedia berpartisipasi dalam rantai pasok, sedangkan hanya 13% sisanya tidak bersedia berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok.
Dari 13% nelayan yang menyatakan tidak bersedia berpartisipasi, alasan yang dikemukakan adalah karena mereka memiliki pekerjaan lain, yaitu bekerja di keramba budidaya kerapu ikan hias atau karena order sepi. Alasan yang dikemukakan oleh responden tidak ada kaitannya dengan variabel yang dimaksud dalam penelitian. Untuk lebih jelasnya, pada beberapa tabel di bawah ini akan diperlihatkan dan dibahas tentang signifikan atau tidaknya perbedaan karakter jawaban antara nelayan yang bersedia berpartisipasi dan nelayan yang tidak bersedia berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok ikan hias laut non sianida di Kepulauan Seribu.
(1) Kepercayaan (trust)
Tabel 17 menunjukkan tentang parameter yang digunakan untuk mengukur variabel kepercayaan nelayan terhadap pengepul. Dapat dilihat bahwa nelayan yang bersedia maupun yang tidak bersedia percaya akan harga ditetapkan pengepul. Sedangkan penyesuaian harga beli di tingkat pengepul masih belum
nelayan ,498 pengepul ,162 perusahaan ,209 pihak luar ,131 Inconsistency = 0,01
with 0 missing judgments.
0 0 0 0
97
direspon secara jelas oleh nelayan. Namun demikian, nelayan yang bersedia berpartisipasi setuju bahwa perubahan harga di tingkat pengepul akan mempengaruhi harga di tingkat nelayan. Hal ini berarti bahwa perubahan harga jual pengepul memang mempengaruhi harga beli pengepul terhadap nelayan, namun belum tentu pengepul yang bersangkutan akan menyesuaikan harga belinya dengan pengepul yang lain. Pengaruh perubahan harga ini dapat digunakan untuk mengukur kesediaan nelayan untuk berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok ikan hias.
Tabel 17. Respon untuk Variabel Kepercayaan (trust)
N o
Parameter Prosentase nelayan yang merespon (%)
Nelayan bersedia Nelayan tidak bersedia SS S N TS STS SS S N TS STS 1
Nelayan percaya akan harga ikan hias yang ditetapkan oleh pengepul
3 68 8 8 0 0 11 0 3 0 2
Pengepul akan
menyesuaikan harga beli ikan hias dengan pengepul yang lain untuk nelayan
3 29 34 21 0 0 0 11 3 0 3
Perubahan harga di tingkat pengepul akan
mempengaruhi harga di tingkat nelayan
3 53 0 32 0 0 5 3 5 0
(2) Komitmen (commitment)
Apabila dilihat dari parameter yang digunakan, pada Tabel 18 dapat dilihat bahwa komitmen nelayan terlihat dari kekonsistenan mereka dalam mensuplai ikan hias sesuai order, menjaga kualitas ikan hias yang dijual pada pengepulnya. Semua nelayan setuju dengan komitmen tersebut. Namun ada satu hal yang membuat nelayan masih tetap bersedia berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok ikan hias, yaitu komitmen pengepul untuk selalu menepati cara pembayaran yang disepakati. Hal ini dapat dijadikan ukuran untuk menentukan kesediaan nelayan dalam berpartisipasi. Oleh karena itu, penting bagi pengepul untuk selalu menepati cara pembayaran yang telah disepakati sebagai bagian dari komitmen mereka terhadap nelayan.
Nelayan tidak setuju tentang kontrak kerja, karena kondisi di lapang menunjukkan bahwa nelayan dan pengepul tidak memiliki kontrak kerja tertulis namun hanya berupa kontrak sosial yang sangat kuat di lingkungan mereka. Sehingga, adanya
98
ikatan kontrak kerja tidak mempengaruhi kesediaan nelayan untuk berpartisipasi dalam rantai pasok ikan hias laut non sianida di Kepulauan Seribu.
Tabel 18. Respon untuk Variabel Komitmen
N o
Parameter Prosentase nelayan yang merespon (%)
Nelayan bersedia Nelayan tidak bersedia SS S N TS STS SS S N TS STS 1 Nelayan selalu mensuplai
ikan hias sesuai order 3 74 11 0 0 0 11 3 0 0 2
Nelayan selalu menjaga kualitas hasil tangkapannya yang dijual pada pengepul
11 68 3 5 0 0 13 0 0 0 3
Pengepul selalu menepati cara pembayaran yang disepakati
3 66 8 11 0 0 3 8 3 0 4 Nelayan dan pengepul
terikat kontrak kerja 0 3 16 66 3 0 0 5 8 0
(3) Norma-norma kerjasama (cooperative norms)
Dalam hal norma kerjasama ini, nelayan yang bersedia maupun tidak memiliki niat baik mereka untuk tidak menjual ikan yang kondisinya cacat pada pengepul. Namun yang menarik disini adalah bahwa nelayan yang bersedia berpartisipasi setuju bahwa mereka hanya akna menjual ikan hiasnya kepada pengepul yang memberikan mereka modal berupa jaring dan bensin.
Tabel 19. Respon untuk Variabel Norma-norma Kerjasama
N o
Parameter Prosentase nelayan yang merespon (%)
Nelayan bersedia Nelayan tidak bersedia SS S N TS STS SS S N TS STS 1 Nelayan tidak akan menjual
ikan hias yang kondisinya cacat kepada pengepul
3 66 0 16 3 0 11 0 3 0 2
Nelayan hanya menjual ikan hias kepada pengepul yang memberinya modal (jaring/bensin)
0 63 8 16 0 0 5 0 8 0
Misalnya, ketika nelayan diberi modal awal berupa jaring dan bensin oleh pengepul satu, maka hanya padanyalah dia akan menjual ikan tersebut, tidak pada pengepul yang lain. Apabila terjadi tindakan oportunis, yaitu si nelayan menjual ikannya pada pengepul lain dengan alasan harga di pengepul lain lebih tinggi, maka si nelayan tersebut bisa di black list oleh pengepul tersebut dan hubungan mereka bisa terputus dengan sendirinya.
99
Beberapa nelayan yang tidak menjual ikan pada pengepul tertentu adalah nelayan lepas atau nelayan yang mangkir. Hal ini sesuai dengan respon nelayan pada data nelayan yang tidak bersedia berpartisipasi dalam rantai pasok. Dari respon ini dapat disimpulkan bahwa nelayan yang masih bersedia berpartisipasi dalam rantai pasok adalah mereka yang masih memegang teguh norma dalam penjualan ikan pada pemberi modal, sebaliknya, nelayan yang tidak bersedia berpartisipasi tidak setuju untuk menjual ikannya hanya pada pemberi modal. (4) Kesalingtergantungan (interdependence)
Dari data dapat diketahui bahwa sebagian besar pengepul mengandalkan nelayannya untuk memenuhi ordernya, dan apabila nelayan tidak mensuplai pengepul, maka pengepul akan terhambat aktivitasnya dalam memenuhi order perusahaan. Namun pada kenyataannya, pengepul dapat membeli ikan pada nelayan lain atau dapat membeli ikan dari sesama pengepul apabila mereka mengalami masalah pemenuhan order pada perusahaan. Baik nelayan yang bersedia maupun yang tidak bersedia menyatakan tidak setuju bahwa pengepul adalah satu-satunya pihak pemberi modal, karena pada kenyataannya, bukan mereka bisa mendapatkan modal dari pihak lain. Variabel kesalingtergantungan tidak dapat digunakan sebagai alat ukur untuk menentukan kesediaan nelayan. Tabel 20. Respon untuk Variabel Kesalingtergantungan
N o
Parameter Prosentase nelayan yang merespon (%)
Nelayan bersedia Nelayan tidak bersedia SS S N TS STS SS S N TS STS 1 Pengepul mengandalkan
nelayannya sebagai pemasok ikan hias untuk memenuhi order perusahaan
5 66 5 11 0 0 11 0 3 0 2
Apabila nelayan tidak melakukan penangkapan maka pengepul akan merasa terhambat proses
pengumpulannya
3 71 3 11 0 0 8 5 0 0
3
Pengepul adalah satu-satunya pihak yang bisa memberikan pinjaman modal usaha (jaring/bensin) kepada nelayan
0 37 11 39 0 0 5 0 8 0
4 Nelayan hanya bisa menjual hasil tangkapan ikan hiasnya kepada pengepul tertentu
100 (5) Kesesuaian (compatibility)
Kesesuaian diartikan sebagai dua atau lebih individu atau organisasi yang memiliki goal dan tujuan komplemen, sebagaimana kesamaan dalam filosofi operasi dan budaya perusahaan (Bucklin and Sengupta, 1993). Mayoritas nelayan setuju bahwa ada kesesuaian dalam rantai pasok ikan hias mereka. Tidak ada masalah dalam hal kesesuaian karena nelayan, pengepul, dan perusahaan dirasa telah memiliki kesesuaian dalam hal menangkap dengan ramah lingkungan, mengurangi biaya operasional, dan meningkatkan keuntungan bersama. Tentang kesesuaian antara jenis ikan yang di order oleh eksportir dan keberadaan ikan di Kepulauan Seribu tidak di respon dengan jelas oleh nelayan. Sehingga dalam hal ini kesesuaian dalam melakukan penangkapan ramah lingkungan, menghemat biaya operasional penangkapan, dan peningkatan keuntungan belum dapat digunakan untuk menjelaskan tentang perbedanaan antara nelayan yang bersedia dan tidak bersedia berpartisipasi dalam rantai pasok ikan hias.
Tabel 21. Respon untuk Variabel Kesesuaian
N o
Parameter Prosentase nelayan yang merespon (%)
Nelayan bersedia Nelayan tidak bersedia SS S N TS STS SS S N TS STS 1 Nelayan menangkap ikan
hias tanpa menggunakan sianida/ potassium
5 79 3 0 0 0 11 0 3 0 2
Eksportir hanya menerima ikan dari pengepul yang ditangkap tanpa menggunakan sianida/ potassium 3 61 21 3 0 0 8 3 3 0 3
Nelayan dan pengepul berusaha untuk menghemat biaya penangkapan ikan
18 58 3 8 0 3 11 0 0 0 4 Nelayan, pengepul, dan
eksportir sama-sama berusaha untuk menghemat biaya penangkapan ikan
21 47 18 0 0 0 11 0 3 0 5 Nelayan dan pengepul
sama-sama berusaha untuk meningkatkan keuntungan
34 47 3 3 0 0 13 0 0 0 6 Nelayan dan pengepul, dan
eksportir sama-sama berusaha untuk
meningkatkan keuntungan
13 61 13 0 0 3 11 0 0 0 7 Ikan hias yang diorder oleh
eksportir sesuai dengan keberadaan ikan hias yang tersedia di Kep. Seribu
101
(6) Hubungan tambahan di luar hubungan profesi (extendness relationship)
Dari parameter yang digunakan, dapat diketahui bahwa sebagian besar nelayan bisa menjual ikannya pada pengepul lain jika order pengepul utamanya sudah terpenuhi. Hal ini yang dimaksud oleh Mentzer (2004) sebagai hubungan
open ended, dimana hubungan harusnya dibina dengan fleksibilitas yang tidak
merugikan satu sama lain. Hubungan antara nelayan dan pengepul sebagian besar terjalin karena pertemanan/ persaudaraan, namun selebihnya bukan, atau ragu-ragu. Sedangkan pemberian THR oleh pengepul dirasakan hampir oleh semua nelayan, baik yang bersedia maupun yang tidak bersedia berpartisipasi. Hal ini berarti bahwa variabel hubungan tambahan juga belum dapat menjelaskan tentang kesediaan nelayan untuk berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok ikan hias laut di Kepulauan Seribu.
Tabel 22. Respon untuk Variabel Hubungan Tambahan
N o
Parameter Prosentase nelayan yang merespon (%)
Nelayan bersedia Nelayan tidak bersedia SS S N TS STS SS S N TS STS 1 Nelayan bisa menjual
ikannya pada pengepul lain jika order pengepul utamanya sudah terpenuhi
3 55 8 21 0 0 8 3 3 0 2
Sesama nelayan bisa saling bertukar informasi
mengenai harga beli ikan hias
0 82 0 5 0 0 8 0 5 0 3
Hubungan keseharian nelayan dengan pengepul adalah hubungan
pertemanan/ persaudaraan
3 55 21 8 0 0 5 5 3 0 4 Pengepul memberikan THR
kepada nelayan 3 76 0 8 0 0 13 0 0 0
(7) Persepsi manajemen akan ketidakpastian lingkungan (environment uncertainty) Pada parameter untuk mengukur jaminan kepastian pada Tabel 23 di bawah ini, jawaban nelayan sangat beragam. Tidak semua nelayan selalu mendapatkan terusan order dari eksportir. Hal ini direspon sama antara nelayan yang bersedia maupun yang tidak. Tentang pinjaman yang bisa diberikan oleh pengepul untuk keperluan sehari-hari pada nelayan saat order sedang sepi cenderung
102
direspon positif. Ada satu parameter yang digunakan dalam penelitian ini yang mungkin bukan merupakan jaminan kepastian dari pihak luar, namun sekedar Tabel 23. Respon untuk Variabel Jaminan Kepastian
N o
Parameter Prosentase nelayan yang merespon (%)
Nelayan bersedia Nelayan tidak bersedia SS S N TS STS SS S N TS STS 1 Nelayan akan selalu
mendapatkan terusan order dari eksportir
0 37 3 47 0 0 3 3 8 0 2
Pengepul bisa memberi pinjaman untuk keperluan sehari-hari pada nelayan saat order sedang sepi.
3 37 13 34 0 3 3 5 3 0 3
Pengepul dan nelayan memiliki pekerjaan sampingan selain menangkap dan
mengumpulkan ikan hias
0 74 11 3 0 0 8 5 0 0
merupakan sistematika bertahan hidup, yaitu tentang pekerjaan sampingan. Sebagian besar nelayan memiliki pekerjaaan sampingan selain menangkap dan mengumpulkan ikan hias untuk berjaga-jaga dari ketidakpastian lingkungan yang mereka hadapi. Hal ini berarti bahwa variabel jaminan kepastian tidak dapat dijadikan ukuran dalam menentukan kesediaan nelayan untuk berpartisipasi dalam manajemen rantai pasok ikan hias laut di Kepulauan Seribu.
Secara umum, respon nelayan yang menyatakan tidak bersedia berpartisipasi di atas mayoritas sama dengan respon secara nelayan yang menyatakan bersedia berpartisipasi dalam rantai pasok. Namun ada beberapa poin yang dapat dijadikan sebagai ukuran kesediaan nelayan, antara lain pengaruh perubahan harga di tingkat pengepul, komitmen pengepul dalam menepati pembayaran, dan norma dalam menjual ikan kepada pemberi modal.
5.3. Strategi Manajemen Rantai Pasok Ikan Hias Non Sianida di Kepulauan