BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
2. Gambaran Resiliensi
1. I Have
Pengalaman hidup yang dijalani oleh AR memang tidaklah mudah, dimana disaat teman-temannya yang lain seusianya bisa melanjutkan sekolah atau menempuh jenjang pendidikan, AR harus bekerja untuk membantu ibunya memenuhi kebutuhan keluarga. Untuk itu sangatlah perlu untuk dukungan dari kelurga maupun teman-teman dan juga lingkungannya untuk AR dapat mengembangkan resiliensinya. Berikut gambaran sumber resiliensi yang mampu dikembangkan AR dari faktor I Have:
a. Trusting Relationship
Tuntutan atau beban hidup yang harus dijalani oleh AR, dimana AR yang masih berusia 14 tahun sudah dituntut untuk harus sudah bekerja membantu sang ibu untuk menafkahi keluarganya. Semua beban ataupun tuntutan hidup tersebut tidaklah mungkin dapat dialui AR tanpa dukungan dari orang-orang terdekat maupun orang-orang disekitarnya. Beruntung AR memiliki seorang nenek yang sangat menyayanginya. AR mengaku seringkali menceritakan atau berkeluh kesah mengenai perilaku ibunya terhadapnya kepada sang nenek.
Kadang-kadang aja kak kalo masalah di rumah sama mamak, kalo sama temen gak ada cerita..
(R1/W2/b.555-557/h.18)
Dirumah, AR seringkali mendapatkan perlakuan kasar dari sang ibu ketika ia hanya sedikit membawa pulang uang kerumah dari hasil bekerja, pada saat seperti itulah neneknya selalu ada untuknya dan berusaha untuk menghibur dan
juga menenangkan serta mendengarkan keluh kesahnya. Akan tetapi, AR hanya mengeluhkan masalah dengan sikap ibunya terhadapnya saja, sedangkan untuk masalah AR dengan teman-temannya maupun masalah pekerjaannya, AR tidak pernah menceritakannya kepada siapapun termasuk kepada neneknya, AR lebih suka untuk memendam semuanya sendiri.
Iya sama nenek kadang-kadang cerita tapi masalah sama mamak aja, kalo sama temen gak pernah cerita..
(R1/W4/b.1535-1538/h.50)
Menurut pengakuan AR, sebenarnya dia memiliki hubungan yang baik dengan sang ibu, hanya saja ia sering dimarahi/dipukuli jika ketika ia pulang kerja hanya membawa pulang uang sedikit. Begitupun hubungan AR dengan teman-teman AR juga baik-baik saja, hanya saja terkadang bertengkar ketika ada temannya yang menyerobot giliran/antrian. AR juga mempunyai seorang teman akrab bernama Heri. Heri adalah temannya di tempat kerja. Walaupun AR dekat dengan Heri, namun AR tidak pernah menceritakan masalahnya kepada sahabatnya itu, melainkan AR lah yang lebih sering menjadi tempat curahan hati atau tempat berkeluh kesah temannya tersebut. Dulu awalnya AR sempat juga pernah bercerita masalah yang dialaminya kepada teman-temannya, tetapi ia merasa teman-temannya malah mengejek dan menertawakannya, sehingga setelah itu AR tidak pernah lagi sama sekali menceritakan masalahnya kepada teman-temannya.
Iya kak.. aku males kalo cerita sama temen, sering di ulok in (R1/W2/b.580-581/h.18)
Sering diketawain gitu kak, makanya aku malas cerita (R1/W2/b. 584-585/h.19)
Iya kak, karna di ulok in itu makanya males cerita-cerita lagi (R1/W2/b.588-589/h.19)
Menurut pengakuan teman-teman AR yang didapat peneliti setelah melakukan percakapan dengan mereka, mereka sering melihat AR murung ditempat kerja dan lebih banyak diam, sehingga mereka sering sekali menanyakan keadaan AR dan menyuruhnya untuk lebih enjoy dan mau menceritakan masalah yang dihadapinya kepada mereka, tetapi menurut teman-temannya, AR nya malah lebih banyak diam dan tidak mau menceritakan masalahnya kepada mereka. Setelah diceritakan oleh peneliti alasan AR tidak mau bercerita lagi kepada mereka karena pernah mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan karena AR merasa ketika bercerita malah diledekin atau ditertawakan oleh teman-temannta sehingga tidak mau bercerita lagi kepada mereka. Temen-teman AR sangat terkejut mengetahui hal tersebut, mereka mengaku tidak pernah memiliki niatan jahat, sebenarnya mereka hanya ingin agar AR tidak terlalu serius memikirkan masalahnya, sehingga mereka sengaja membuat lelucon yang memungkinkan AR untuk bisa tertawa dan bisa melupakan masalahnya, mereka tidak menyangka bahwa hal itu malah membuat AR tidak pernah mau lagi bercerita masalahnya kepada mereka.
Selain memiliki teman yang sangat baik kepadanya, AR juga memiliki tetangga yang sangat baik dan pengertian terhadap kondisi keluarganya.
Gak kak, mungkin karna udah tau juga kekmana keluarga aku gak ada Bapak
(R1/W2/b.600-602/h.19)
Iya kak, kadang juga dibawain makanan kalo ada masak banyak-banyak gitu..
Tak ayal tetangga AR juga terkadang suka memberikan makanan kepada keluarga AR, apalagi jika datang bulan Ramadhan, di bulan Ramadhan AR dan keluarganya sangat sering mendapatkan makanan untuk berbuka dari tetangga-tetangganya.
Kadang-kadang aja kak, biasanya waktu puasa yang sering gitu buat bukaan..
(R1/W4/b.1550-1552/h.50)
b. Struktur dan Aturan Di Rumah
Setiap keluarga pasti memiliki struktur dan aturan dirumah mereka masing-masing, begitu juga dengan keluarga AR, dirumah AR abang dan adik-adiknya juga mendapatkan pembagian tugas yang harus dikerjakan dirumah. Untuk urusan sapu-menyapu/bersih-bersih dan mencuci piring itu adalah tugas adik-adik perempuannya, bagian memasak itu adalah tugas ibu dan neneknya, abangnya juga membantu untuk membantu ibunya berbelanja, AR hanya bertugas mengangkat/mengambil air dari sumur kedapur, namun hal ini sangat jarang dilakukan. Hal ini dikarenakan AR mulai pukul 06:30 WIB sudah mulai berangkat untuk bekerja, sedangkan baru pulang jam 18:30 WIB.
Iya kak, nimba aer dari sumur terus diangkat ke dapur, kan aku setengah tujuh baru pulang, jadi kadang itu aja yang disuruh..
(R1/W2/b.623-626/h.20)
Namun ketika AR hanya membawa pulang uang sedikit dari hasil bekerja, maka ia akan dihukum dengan mengangkat air dari sumur ke dapur dan juga ia akan dihukum dengan tidak akan dicucikan bajunya oleh sang ibu. Pernah suatu hari nenek AR hendak mencuci bju AR tetapi dilarang oleh ibunya karena hanya membawa pulang uang sedikit.
Kalo aku pulang bawa uangnya cuma dikit kena marah sama mamak, baju aku gak mau dicuciin (mengusap air matanya yang membasahi pipinya) (R1/W1/b.387-390/h.12)
Nenek aku waktu mau cuciin baju aku diamarahin sama mamak, gak dikasi cuci..(masih menangis)
(R1/W1/b.393-395/h.12)
Selain itu, ketika AR hanya membawa pulang uang sedikit, AR sering dituduh oleh ibunya bahwa uangnya lebih banyak digunakan untuk bermain game online atau dipakai kewarnet, sehingga ia sering dimarahi/dipukuli bahkan pernah dulunya sampai di usir dari rumah sampai ia harus menginap ditempat kerjanya, namun akhirnya pulang lagi kerumah dengan sendirinya.
Iya kak, pernah dulu aku juga di usir dari rumah (R1/W1/b.398-399/h.12)
Karna aku pulang bawa pulang uang cuma dikit, soalnya kan kadang aku capek kerja pengen juga kadang maen kalo diajakin kawan aku, jadi ada aku pake dikit buat maen game, tapi dimarahin sama mamak aku
(R1/W1/b.401-406/h.13)
Aku nginap disini kak(didoorsmeer) (R1/W1/b.409/h.13)
Diem aja kak, dimintai aja uang yang aku bawa pulang terus baru mau dicuciin baju aku
(R1/W1/b.422-424/h.13)
Nenek gak bisa ngapa-ngapain juga kak, kayak misalnya mamak gak mau cuci baju aku terus mau dicuciin sama nenek gak dibolehin juga sama mamak aku
(R1/W1/b.833-837/h.26-27)
Tetapi ketika AR membawa pulang uangnya lumayan banyak, ia juga terkadang sering dibebas tugaskan dari pekerjaan dirumah.
Gak kak, kalo lagi males aja aku ga ngerjai ato kadang lagi capek karena banyak yang cuci motor hari tu, tapi biasanya kalo aku dapat banyak ato lagi rame, jarang disuruh sama mamak aku, kalo lagi dapat dikit iya
c. Role Models
Didalam keluarga AR, nenek AR lah yang sering memberikan contoh untuk berperilaku yang baik kepada AR, nenek AR sering memberikan nasehat-nasehat kepada AR. Selain itu, nenek AR juga lah yang mengajarkannya untuk menunaikan shalat, mengaji dan juga berpuasa. Semua hal itu ia pelajari dari sang nenek.
Ada di ajarin nenek kak (R1/W2/b.695/h.22)
Yah dibilang lah kak, aku gak boleh bandel, gitu-gitu (R1/W2/b.715-716/h.23)
d. Dorongan Agar menjadi Otonom
Awal mula AR bekerja adalah karena atas perintah dari sang ibu untuk menjadi penjaga bola di lapangan bola dekat rumahnya. Namun lama-kelamaan setelah AR tidak melanjutkan pendidikannya lagi ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia pun lebih memilih sendiri untuk bekerja daripada hanya dirumah, setidaknya itu akan bisa lebih meringankan beban ibunya yang harus membanting tulang menafkahi AR dan saudara-saudaranya sendirian karena sejak dari kecil ia sudah tidak memiliki ayah. Ayah nya pergi meninggalkan ibunya dan juga AR beserta saudara-saudaranya. Untuk itu akhirnya AR mulai bekerja, dan ketika ia diajak oleh temannya untuk bekerja di tempat doorsmeer sudah atas keinginan sendiri, walaupun awalnya adalah berkat perintah dari ibunya, namun lambat laun ia menyadari dan merasakan sedikit perubahan dengan membantu ibunya mencari uang. Hal ini dapat terlihat dari hasil wawancara berikut:
Dulu disuruhnya jaga bola kak yang deket rumah tu, daripada aku nganggur ato maen, tapi karna dapat dikit aku pindah kemari
(R1/W2/b.732-735/h.23)
e. Akses Pada Kesehatan, Pendidikan, Kesejahteraan dan Layanan Keamanan
Selama AR bekerja, ia tidak pernah dipaksa oleh ibunya untuk bekerja jika sedang dalam keadaan sakit. Ketika sakit ia biasanya diberi obat yang dibeli diwarung di dekat rumahnya, namun ia tidak pernah dibawa kedokter, karena tidak memiliki biaya kalau harus pergi berobat ke dokter atau kerumah sakit.
Kalo sakit aku gak masok kerja kak (R1/W2/b.741-742/h.24)
Iya ada kak dibeliin obat diwarung deket rumah (R1/W2/b.747-748/h.24)
Gak kak, ada dibeliin obat, kalo gak kerja pun gak dimarahin (R1/W2/b.761-762/h.24)
Walaupun AR bekerja untuk dapat membantu sang ibu memenuhi kebutuhan keluarga, namun dari hatinya yang paling dalam ia sangat ingin bisa seperti remaja-remaja yang lain yang seusianya. Dimana mereka bisa bermain dengan teman-teman mereka tanpa harus menanggung beban keluarga dipundaknya dengan mencari uang, rasa iri kadang muncul di hatinya ketika meliaht remaja yang lain yang seusianya tidak harus bekerja seperti dirinya dan mereka pun dapat melanjutkan sekolah mereka.
Iya kadang pengen juga gitu kak kayak anak-anak laen bisa sekolah, maen sama temen gak harus kerja, tapi mau gimana lagi
Jangankan terhadap remaja lainnya, dirumahnya sendiri ia merasa diperlakukan tidak adil, AR sangat ingin seperti abangnya yang bisa bersekolah karena mau dibantu dibiayai oleh saudaranya, tetapi itu hanya untuk abangnya saja, karena abangnya dianngap lebih pintar, sedangkan AR dianggap bandel. Sering dibandingkan seperti itu sangat membuat AR sedih, beberapa kali ia terlihat menunduk dan matanya berkaca-kaca ketika mengungkapkan keinginannya seperti abangnya untuk dapat sekolah tersebut.
Iya kak, abang aku bisa sekolah, aku gak.. (menunduk dan mata terlihat berkaca-kaca dan lebih sering berkedip)
(R1/W2/b.784-787/h.25)
Gak kak, dia dibantu dibiayain sama uwak (R1/W1/b.449-450/h.14)
Dia sekolahnya dibantu biayain sama uwak, kalo aku gak (R1/W1/b.452-453/h.14)
Gak tau aku kak, katanya aku bandel, abang aku pinter jadi disekolahin sama sodara aku, aku gak..
(R1/W1/b.456-458/h.14)
Iya kak, tapi kan pengen juga bisa sekolah (mata masih terlihat berkaca kaca)
(R1/W2/b.791-794/h.25)
Hanya abang AR yang dibantu biaya untuk melanjutkan sekolah, sedangkan adik-adik AR yang saat ini masih duduk dibangku Sekolah Dasar dibiayai sendiri oleh ibu AR.
Kalo adek-adek aku bukan kak, tapi mamak aku, kalo aku sekolah juga dibilang sama mamak uangnya gak cukup, kalo adek aku masih kecil, senggaknya SD nya harus tamat dibilang sama mamak aku..
2. I am
Berikut merupakan gambaran kekuatan personal dari AR dalam mengembangkan resiliensinya:
a. Perasaan Dicintai dan Perilaku yang Menarik
Dalam hal kasih sayang, AR semenjak kecil tidaklah pernah merasakan bagaimana kasih sayang dari sosok seorang ayah, karena ayahnya telah pergi meninggalkan ibunya sejak AR masih kecil. Ia pun tidak dapat menggambarkan bagaimana perasaannya terhadap ayahnya sendiri karena sama sekali tidak mengingat dan mengenal ayahnya.
Bapak aku pergi ninggalin mamak waktu aku masih kecil kak (mengucapkan sambil menangis dan mengusap air matanya)
(R1/W1/b.355-358/h.11)
Gaktau kak, udah lama gak pernah pulang, akupun gak kenal, mukanya aja aku gaktau kalo ketemu dijalan.. (menunduk)
(R1/W2/b.860-863/h.27)
Selain itu AR juga tidak pernah mendapatkan kabar/berita apapun mengenai ayahnya. Selain tidak pernah merasakan kasih sayang dari sosok seorang ayah, AR juga merasa ibunya kurang menyanyanginya, malah ia sering mendapat perlakuan kasar dari sang ibu, walaupun dia sudah berusaha untuk bekerja menyenangkan dan membantu ibunya.
Masih kurang kak (R1/W2/b.897/h.28) Iya sayang mungkin kak (R1/W4/b.1555/h.50)
AR menginginkan agar ibunya bisa berubah agar lebih menyayanginya dan tidak berlaku kasar lagi terhadapnya, karena ia bekerja juga untuk membantu
sang ibu agar tidak terlalu berat menanggung beban sendirian. Selain membantu ibu bekerja, AR juga menuruti perintah ibunya juga merupakan bentuk sayang AR kepada ibunya.
Jangan sering marah-marah kak, kan aku capek juga udah bantu kerja tapi pulang kalo bawa dikiti selalu dimarahin..
(R1/W4/b.1565-1568/h.51)
Mau gitu kak kalo disuruh, kalo lagi capek ato males aja kadang males, terus aku kerja juga kan bantu mamak kak
(R1/W4/b.1659-1662/h.54)
b. Mencintai, Empati dan Altruistik
AR sangat menyayangi ibunya, bekerja adalah salah satu wujud/bentuk kasih sayang yang coba ditunjukkan oleh AR kepada ibunya. Begitupun dengan neneknya, ia juga sangat menyayangi neneknya, karena ketika AR dimarahi oleh ibunya, neneknyalah yang selalu menenangkannya, tetapi neneknya juga tidak bisa berbuat banyak untuk membela AR dari kemarahan sang ibu.
Hmm.. kan aku mau kerja kak, bisa bantu-bantu buat uang makan dirumah (R1/W2/b.1565-1568/h.51)
Nenek gak bisa ngapa-ngapain juga kak, kayak misalnya mamak gak mau cuci baju aku terus mau dicuciin sama nenek gak dibolehin juga sama mamak aku
(R1/W1/b.833-837/h.26-27)
Terhadap temannya AR tidak pernah pamrih, walaupun AR tidak pernah menceritakan masalahnya kepada temannya, tetapi ia bersedia untuk mendengarkan keluh kesah temannya yang sedang mengalami masalah.
Gak pernah kak, aku cuma sering dengerin cerita dia aja (R1/W4/b.1521-1522/h.49)
c. Bangga Pada Diri Sendiri
AR sangat bangga bisa mencari uang sendiri dan tidak harus meminta kepada orang tua lagi, walaupun terkadang ia memiliki keinginan seperti anak yang lainnya.
Bangga juga kak, bisa cari uang sendiri (R1/W3/b.1024-1025/h.33)
Hmm..gak tau kak, gak ada kayaknya, paling ya kerja aja bsa cari uang sendiri
(R1/W3/b.1031-1033/h.33)
AR juga tidak pernah malu untuk bekerja, karena dia bekerja untuk mencari uang yang halal, bukan dari hasil mencuri ataupun mengemis, sehingga ia tidak perlu malu untuk bekerja asalkan uang yang diperolehnya halal.
Gak kak, kalo nyuri baru malu, ini kerjaan halal ngapain malu.. (R1/W4/b.1667-1669/h.54)
d. Otonomi dan Tanggung Jawab
AR jarang meminta pendapat atau bantuan orang lain dalam bertindak, ia lebih sering melakukan segala sesuatu sendiri, kucuali bila ia merasa benar-benar tidak sanggup, baru ian akan meminta tolong kepada temannya, seperti misalnya ditempat kerja nya, jika AR tidak memiliki cukup tenaga ataupun tangannya licin karena terkena sabun maupun minyak untuk menghidupkan mesin untuk mencuci motor, maka ia baru akan meminta bantuan kepada temannya.
Jarang kak, paling kalo misalnya tangan aku lagi licin gak kuat narek mesin baru minta tolong si Danu buat narek mesinnya
(R1/W3/b. 1096-1099/h.35)
Iya kak, soalnya dia lumayan keras, capek juga nareknya (R1/W3/b.1105-1106/h.36)
Sering sendiri kak, kalo gak sanggop baru minta bantu. (R1/W3/b.1160-1161/h.37)
Dalam hal tanggung jawab, agaknya AR cenderung tidak mau mengakui kesalahannya jika belum ketahuan, tetapi jika sudah terlanjur ketahuan maka ia baru akan mengakui kesalahannya.
Iya kak, takut dimarahi, kalo udah ketauan yah mau gimana lagi..hhe.. (R1/W3/b.1086-1088/h.35)
e. Harapan, Keyakinan dan Kepercayaan
Setiap orang pasti memiliki harapan, begitu juga dengan AR, ia memiliki harapan kedepannya ia bisa lebih baik lagi kehidupannya daripada sekarang, walau sedikit pesimis karena ia menganggap tidak banyak hal yang dapat dilakukan dengan hanya tamatan SD, namun ia tetap memiliki keyakinan dan percaya bahwa suatu saat kedepannya ia akan bisa lebih baik. Untuk mencapai itu semua, AR bersedia untuk pindah-pindah kerja demi mencari pekerjaan yang lebih baik. Ia juga masih tetap berharap untuk bisa bersekolah. Namun untungnya sampai saat ini segala beban hidup yang dipikulnya tidak sampai membuatnya ingin mengakhiri hidupnya, ia hanya pernah sampai lari dari rumah, tetapi tidak pernah aterbesit sedikitpun untuk mengakhiri hidupnya.
Hmmm.. apa ya kak? Ingin bisa lebih baek kedepannya pasti (R1/W4/b.1672-1673/h.54)
Gak pernah kak, paling lari dari rumah aja kak (R1/W3/b.1166-1167/h.37)
Iya kadang pengen juga gitu kak kayak anak-anak laen bisa sekolah, maen sama temen gak harus kerja, tapi mau gimana lagi
Gak lah kak, kalo misalnya dapat kerjaan yang lebih bagus yah mungkin aku pindah kak..
(R1/W3/b.1188-1190/h.38)
AR bisa bertahan dengan segala beban hidup yang dihadapinya dengan cara mencoba untuk terus menjalaninya dengan apa adanya (go with the flow).
Yah dijalanin aja kak, mau gimana lagi ya kan? Dijalani aja.. (R1/W3/b.1207-1208/h.39)
Gaktau kak dijalanin aja, kalo nanti dapat kerjaan yang lebih bagus dan lebih banyak uang pindah kerja mungkin kak, nanya-nanya sama temen, dulu kan kerja disini karna tau dari temen juga
(R1/W4/b.1679-1684/h.54)
3. I Can
a. Berkomunikasi
Menurut pengakuan AR, ia memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan teman-temannya, namun untuk mengkomunikasikan masalahnya dia lebih senang untuk memendamnya sendiri, walaupun sesekali juga mengungkapkan apa yang ia rasakan mengenai ibunya kepada sang nenek.
Iya sama nenek kadang-kadang cerita tapi masalah sama mamak aja, kalo sama temen gak pernah cerita..
(R1/W4/b.1535-1538/h.50)
Gak pernah kak, aku cuma sering dengerin cerita dia aja (R1/W4/b.1521-1522/h.49)
Teman-teman AR sering menceritakan masalah mereka kepada AR, hal ini membuktikan AR dapat berkomunikasi dengan baik terhadap teman-temannya juga, ia hanya terkadang merasa kesal kepada temannya yang menyerobot antrian, tetapi selebihnya hubungan mereka baik-baik saja.
AR mengaku baru kepada peneliti ia berbicara dan menceritakan banyak hal, bahkan apa yang diceritakan dan dikeluhkan kepada peneliti belum pernah diungkapkan kepada ibunya sama sekali, barulah kepada peneliti ia mau mengutarakannya.
Iya kak, Cuma sama kakak aja aku baru ada cerita-cerita kayak gini.. (R1/W4/b.1400-1402/h.46)
Iya kakak baek, mau dengerin cerita aku, kakak juga gak ulok kayak temen-temen aku, ada ngasi nasehat-nasehat juga, enak jadinya..
(R1/W4/b.1433-1437/h.47)
Gak kak, baru sama kakak aja aku kayak gini mau cerita-cerita, mamak aku aja gak pernah aku cerita-cerita gini, kakak baek, gara-gara kakak bilang sama orang ni kemaren jangan ulokin, orang ni udah lumayan lebih baek lagi sama aku kak, mau ditanyainnya aku ada masalah ato gak dirumah, disuruh cerita jangan dipendam sendiri..
(R1/W4/b.1446-1456/h.47)
b. Pemecahan Masalah
Masalah yang biasa dihadapi AR ditempat kerjanya adalah masalah dengan temannya yang terkadang suka menyerobot antrian. Ketika AR mengalami masalah dengan temannya tersebut, AR mengaku lebih banyak diam, baru keesokan harinya suasana menjadi cair dan normal kembali setelah mereka melupakan dan bersenda gurau kembali, hal ini ia lakukan agar tidak bermasalah dengan temannya dan tidak membuat dia menjadi tidak betah bekerja karena masalah tersebut.
Paling diam-diaman aja kami kak, besoknya udah baekan lagi (R1/W3/b.1270-1271/h.41)
Iya kak, malez cakapinnya, tapi besoknya dibecandain lagi ketawa-ketawa lagi, kalo gak gitu gak betah juga lah kak kerja kalo gak cakap-cakapan gitu..
Selain itu ketika AR dimarahi oleh ibunya, ia juga lebih banyak diam saja, setelah dimarahi ia lantas masuk kamar untuk menyendiri dan menangis, bahkan terkadang jika AR merasa sangat sedih atau kesal ia pernah samapai lari dari rumah, namun akhirnya ia pulang juga dengan sendirinya.
Ya aku diem aja masok kamar kadang nangis sendiri juga, dulu juga pernah lari dari rumah kalo aku lagi kesel kali
(R1/W3/b.1236-1239/h.40)
Pernah juga kak dulu aku lari dari rumah karena dimarahin terus dipukulin juga, lari aku kemari, tapi habis itu pulang lagi
(R1/W1/b.683-686/h.22)
c. Mengelola Berbagai Perasaan dan Ransangan
Untuk menghindari masalah dengan teman, biasanya AR juga memilih untuk menghindari pertengkaran tesebut, dia lebih banyak diam untuk menahan emosinya dan baru akan bertindak jika temannya sudah sangat kelewatan dan sangat menganggu.
Owhh.. ituu, kalo itu kami pake giliran kak, jadi ga bakalan rebutan..soalnya dulu kami sering rebut kalo ga pake giliran, jadi disuruh pake giliran sama Jelonya biar gak berantem..
(R1/W1/b.214-218/h.07) Gak kak, aku diem aja (R1/W3/b.1307/h.42)
Diem aja kak, kalo ganggu kali baru aku bilang.. (R1/W4/b.1384-1385/h.45)
Selain itu, ketika AR merasa bosan/suntuk ketika bekerja, ia terkadang memilih untuk pergi main game online ke warung internet(warnet). Ketika AR merasa sedih juga terkadang ia memilih untuk menhabiskan waktunya sejenak untuk bermain game di warnet.
Kadang-kadang aja kak, kan aku bosen juga kalo lagi sepi gitu daripada