DATA, FAKTA DAN INFORMASI LAPANGAN
II.2. Gambaran Singkat Kawasan Hutan Di Pulau Padang
Berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakatan Menteri Kehutanan menerbitkan Penujukan Kawasan Hutan dalam Keputusan Nomor 173/Kpts-II/1986 tanggal 6 Juni 1986 tentang penunjukan kawasan hutan di Provinsi Dati I Riau seluas ± 4.686.075 Ha.
Kawasan Hutan di Pulau Padang Kabupaten Kepulauan Meranti berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor Keputusan Nomor 173/Kpts-II/1986 tanggal 6 Juni 1986 tentang penunjukan kawasan hutan di Provinsi Dati I Riau seluas ± 4.686.075 Ha (berdasarkan TGHK) terdiri dari : 1. SM. Tasik Tanjung Padang selus ± 4.925 ha
2. HPT seluas ± 72.346 ha 3. HPK seluas ± 33.300 ha
Total luasan Kawasan Hutan Pulau Padang adalah seluas 110.939 Ha. SM Tasik Tanjung Padang telah ditatabatas sesuai berita acara tatabatas yang ditandatangani oleh Panitia Tata Batas Kabupaten Bengkalis tanggal 5 Maret 1997 dan disahkan oleh Menteri Kehutanan pada tanggal 25 Mei 1999.
Kronologis Perizinan Dan Kasus
Awal mula penolakan masyarakat terhadap PT.RAPP terjadi pada akhir tahun 2009, dimana saat itu Masyarakat Kepulauan Meranti melalui wadah Forum Masyarakat Peduli Lingkungan Kabupaten Kepulauan Meranti (FMPL-KM) mengirim Surat ke Menteri Kehutanan yang isinya menolak keberadaan PT RAPP di Pulau Padang, PT. SRL di Pulau Rangsang dan PT. LUM di Pulau Tinggi. Kemudian masyarakat Pulau Padang terutama dari Desa Lukit, Bagan Melibur
Page 19 of 93
dan Mengkirau mengajukan tuntutan kepada Kementerian Kehutanan berupa
pencabutan/pembatalan blok areal HTI PT.RAPP di Pulau Padang hingga saat ini. Alasan-alasan yang dikemukakan pada tuntutan tersebut antara lain :
1. Adanya HTI di Pulau Padang akan mengakibatkan tenggelamnya Pulau Padang. 2. Beberapa wilayah desa masuk dalam areal konsesi PT.RAPP.
3. Banyak lahan masyarakat desa yang terambil oleh PT.RAPP. 4. PT.RAPP kurang menyerap/melibatkan masyarakat desa setempat. 5. Perizinan/Amdal HTI PT.RAPP ada yang tidak sesuai aturan.
Kronologis Perizinan
Kronologis perizinan yang diberikan pada PT. RAPP dijelaskan sebagai berikut :
1. PT. Riau Andalan Pulp and Paper mengajukan permohonan persetujuan penambahan
IUPHHK pada hutan tanaman kepada Menteri Kehutanan Republik Indonesia dengan surat No. 02/RAPP-DU/I/04 tanggal 19 Januari 2004.
2. Berdasarkan permohonan dimaksud Menteri Kehutanan memberikan persetujuan
Penambahan/perluasan areal kerja IUPHHK pada Hutan Tanaman atas nama PT. RAPP sesuai surat Menhut No. S.143/MENHUT-VI/2004 tanggal 29 April 2004, dengan meminta kepada PT. RAPP antara lain yaitu :
a. Memperoleh perubahan rekomendasi Gubernur yang semula ditujukan untuk PT.
Nusa Prima Manunggal (NPM) dan PT. Selaras Abadi Utama (SAU) menjadi rekomendasi atas nama PT. RAPP dan memperoleh rekomendasi Bupati
b. Menyusun dan menyampaikan suplemen studi kelayakan hutan tanaman, sesuai
dengan areal penambahan/perluasannya.
c. Menyusun dan menyampaikan AMDAL berdasarkan areal
penambahan/perluas-annya.
d. Konsultasi dengan Badan Planologi Kehutanan untuk Peta areal kerja penambahan perluasan dimaksud
3. Berdasarkan point 2 di atas pihak PT. RAPP memohon rekomendasi Rekomendasi
Penambahan/ Perluasan Areal Kerja IUPHHK Hutan Tanaman atas nama PT. RAPP kepada Gubernur Riau sesuai dengan surat permohonan Direktur Utama PT.RAPP nomor 05/RAPP/VI/2004 tanggal 15 Juni 2004.
4. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Riau melalui surat nomor 522.1/PR/0914 tanggal 16 Juni
2004 mendukung perubahan/perluasan areal kerja IUPHHK-HT PT. Nusa Prima Manunggal (PNM) seluas 150.000 ha dan PT. Selaras Abadi Utama seluas 64.870 ha kepada PT.RAPP, dengan syarat sebagai berikut :
Page 20 of 93
a. Sebelum menteri kehutanan memberikan persetujuan prinsip pembangunan
IUPHHK-HT kepada PT. RAPP, harus terlebih dahulu mengaddendum surat keputusan HPH yang tumpang tindih dengan areal yang dicadangkan kepada PT.RAPP.
b. Perlu dilakukan perubahan status dari non kawasan hutan menjadi kawasan hutan produksi tetap (HP)
c. PT.RAPP diwajibkan menyelesaikan hak-hak masyarakat dan perusahaan lain yang berada di dalam areal pencadangan.
5. Gubernur Riau memberikan persetujuan perubahan Rekomendasi Penambahan/ Perluasan Areal Kerja IUPHHK Hutan Tanaman PT. NPM dan PT. SAU kepada PT. RAPP, melalui surat Gubernur No. 522/EKBANG/33.10 tanggal 2 Juli 2004, yang ditujukan kepada Bapak Menteri Kehutanan RI, dengan persyaratan sebagai berikut :
a. Sebelum menteri kehutanan memberikan persetujuan prinsip pembangunan IUPHHK-HT kepada PT. RAPP, harus terlebih dahulu mengaddendum surat keputusan HPH yang tumpang tindih dengan areal yang dicadangkan kepada PT.RAPP.
b. Perlu dilakukan perubahan status dari non kawasan hutan menjadi kawasan hutan produksi tetap (HP)
c. PT.RAPP diwajibkan menyelesaikan hak-hak masyarakat dan perusahaan lain yang berada di dalam areal pencadangan.
6. PT. RAPP mendapatkan Keputusan Gubernur Riau No. Kpts.667/XI/2004 tanggal 11
November 2004 tentang Kelayakan Lingkungan Kegiatan IUPHHK-HT di Areal Tambahan Kabupaten Pelalawan, Siak dan Bengkalis Provinsi Riau oleh PT. RAPP seluas 152.866 ha.
5. PT. RAPP mendapatkan Keputusan Gubernur Riau No. Kpts.326/VII/2006 tanggal 6 Juli 2006 tentang Kelayakan Lingkungan Kegiatan IUPHHK-HT di Areal Tambahan Kabupaten Pelalawan, Siak dan Bengkalis Provinsi Riau oleh PT. RAPP seluas 152.866 ha, dengan perincian termasuk dalam Kabupaten Bengkalis (sekarang menjadi bagian
Kabupaten Kepulauan Meranti tepatnya Pulau Padang) seluas 42.600 ha, Kabupaten
Siak sleuas 20.000 ha dan Kabupaten Pelalawan seluas 90.266 ha, sehingga dengan
demikian keputusan Gubernur Riau nomor 667/XI/2004 tanggal 11 November dinyatakan tidak berlaku lagi.
6. PT. RAPP mendapatkan Rekomendasi Bupati tentang Perluasan Areal sebagai Areal Pengganti sebagai berikut:
a. Bupati Pelalawan melalui suratnya No. 522.1/DISHUT/III/2005/233 tanggal 8 Maret 2005 dan No. 522/DISHUT/801 tanggal 18 Juni 2005;
Page 21 of 93
b. Bupati Bengkalis (sekarang menjadi bagian Kabupaten Kepulauan Meranti
tepatnya Pulau Padang) melalui suratnya No. 522.1/HUT/820 tanggal 11 Oktober
2005
c. Bupati Siak melalui suratnya No. 523.33/EK/2006/17 tanggal 24 Januari 2006;
7. Berdasarkan kelengkapan-kelengkapan sesuai dengan ketentuan dan persyaratan seperti dimaksud diatas, Menteri Kehutanan RI menerbitkan Keputusan Menteri Kehutanan No. SK.327/MENHUT-II/2009 tanggal 12 Juni 2009, seluas ± 350.165 (tiga ratus lima puluh ribu seratus enam puluh lima) hektar, dimana salah satu lokasinya berada di Pulau Padang, Kabupaten Bengkalis (yang sekarang menjadi Kab. Kepulauan Meranti), Provinsi Riau 41.205 Ha, dengan status TGHK berupa Hutan Produksi Terbatas (HPT).
8. Berdasarkan kelengkapan-kelengkapan sesuai dengan ketentuan dan persyaratan seperti dimaksud diatas, Menteri Kehutanan RI menerbitkan Keputusan Menteri Kehutanan No. SK.327/MENHUT-II/2009 tanggal 12 Juni 2009, seluas ± 350.165 (tiga ratus lima puluh ribu seratus enam puluh lima) hektar, dimana salah satu lokasinya berada di Pulau
Padang, Kabupaten Bengkalis (yang sekarang menjadi Kab. Kepulauan Meranti), Provinsi Riau 41.205 Ha, dengan status TGHK berupa Hutan Produksi Terbatas (HPT).
Surat keputusan ini diterbitkan berdasarkan atas permohonan Direktur Utama PT.RAPP nomor 02/RAPP-DU/I/04 tanggal 19 Januari 2004 dan surat keputusan Gubernur Riau nomor Kpts.667/XI/2004 tanggal 11 November 2004 yang sudah dinyatakan tidak
berlaku dengan dikeluarkannya Keputusan Gubernur Riau nomor 326/VII/2006 tanggal 6
Juli 2006.
9. Terhadap keputusan Menteri Kehutanan nomor 327/MENHUT-II/2009 tanggal 12 Juni
2009, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Riau dengan surat nomor 522.2/Pemhut/2621 tanggal 2 September 2009 menyampaikan bahwa :
a. Hasil analisa menunjukkan IUPHHHK-HTI PT. RAPP tumpang tindih dengan Suaka Marga Satwa Tasik Pulau Padang seluas ± 340, 69 Ha dan terdapat Hutan Produksi Konversi (HPK) seluas ± 23.411, 13 Hektar.
b. Keputusan Menteri Kehutanan nomor 327/MENHUT-II/2009 tanggal 12 Juni 2009, perlu ditinjau ulang dan direvisi, dan keputusan tersebut perlu mengacu dan mengakomodir surat keputusan gubernur Riau nomor 522/EKBANG/33.10 tanggal 2 Juli 2004.
c. Agar mengurangi areal yang tumpang tindih dengan kawasan suaka alam.
d. Menunda terlebih dahulu pelayanan sampai dengan dilakukan pengukuran dan penataan batas lapangan
Page 22 of 93
10. PT. RAPP memperoleh pengesahan atas Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Industri (RKUPHHK-HTI) Periode 2009 – 2018, sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. SK.186/VI-BPHT/2009 tanggal 10 Agustus 2009, yang mencakup areal di Pulau Padang, yang selanjutnya direvisi dan telah mendapat pengesahan sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. SK.173/VI-BPHT/2010 tanggal 22 Desember 2010 tentang Persetujuan Revisi RKUPHHK-HTI untuk jangka 10 tahun periode 2010-2019 atas nama PT. RAPP.
11. PT. RAPP memperoleh pengesahan atas Rencana Kerja Tahunan Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Industri (RKTPHHK-HTI) Tahun 2010, sesuai Surat Keputusan Direktur Bina Pengembangan Hutan Tanaman No. SK.10/BPHT-3/2010 tanggal 24 Maret 2010, luas ± 14.711 Ha di Pulau Padang, yang berlaku sampai tanggal 24 Maret 2011. Namun TKT 2010 ini belum terlaksana di lapangan karena :
a. Masih dalam tahap persiapan berupa perizinan koridor Desa Tanjung Padang yang baru diperoleh pada 8 September 2010 sesuai surat Gubernur Riau No. Kpts/1223/IX/2010. b. Izin pembuatan dermaga di Desa Tanjung Padang baru diperoleh pada 27 Desember
2010, sesuai surat Bupati Kepulauan Meranti No. 552/PU-HUB/2010/901.
c. Kendala adanya klaim masyarakat terhadap kawasan hutan karena alasan tertentu seperti bekas garapan masyarakat, tanah ulayat dan sebagainya.
12. PT. RAPP mengesahkan Rencana Kerja Tahunan Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Industri (RKTPHHK-HTI) Tahun 2011 secara mandiri (self approval), sesuai Surat Keputusan Direktur Utama PT. RAPP No. SK.06/RAPP/III/2011 tanggal 24 Maret 2011, luas ± 30.087 Ha di Pulau Padang, yang berlaku sampai tanggal 24 Maret 2012.
13. Hingga saat ini Tata Batas areal PT. RAPP di Pulau Padang belum dilaksanakan, namun demikian PT. RAPP telah melaksanakan proses :
a. Pengajuan permohonan tata batas areal IUPHHK-HT PT. RAPP di Pulau Padang melalui surat No. 216/RAPP-DIR/V/2010 tanggal 18 Mei 2010 yang ditujukan ke Direktur Pengukuhan dan Penatagunaan Kawasan Hutan sepanjang 217,88 Km.
b. Pembuatan kontrak penataan batas areal IUPHHK-HT PT. RAPP di Pulau dengan konsultan PT. Wicaksana Mega Cipta tertanggal 20 Agustus 2010.
c. Pembahasan draft pedoman tata batas di Ditjen Planologi, pada tanggal 7 Oktober 2010. d. Pengajuan kembali permohonan pengesahan pedoman tata batas areal IUPHHK-HT PT.
RAPP di Pulau Padang dan permohonan tenaga teknis pengawasan pelaksanaan tata batas ke Direktur Pengukuhan dan Penatagunaan Kawasan Hutan, sesuai surat No. 74/RAPP-DIR/IV/2011 tanggal 5 April 2011. Hingga saat ini dalam proses pengesahan pedoman
Page 23 of 93
tata batas dan penyediaan tenaga pengawas tata batas di Direktorat Pengukuhan dan Penatagunaan Kawasan Hutan.
e. Hingga saat ini Tata Batas Areal PT. RAPP di Pulau Padang belum dilaksanakan, namun demikian operasi PT. RAPP di lapangan telah berjalan dengan mengacu pada tata ruang yang dibuat sendiri oleh PT. RAPP di lokasi Pulau Padang, dengan luas total 41.205 Ha, terdiri dari :
a) Tanaman Pokok : 27.375 Ha (66 %),
b) Tanaman Unggulan : 4.121 Ha (10 %),
c) Tanaman Kehidupan : 1.904 Ha ( 5 %),
d) Kawasan Lindung : 4.102 Ha (10 %),
e) Sarana prasarana : 808 Ha ( 2 %),
f) Areal Tidak Produktif : 2.895 Ha ( 7 %). (termasuk didalamnya areal tambang Kondur Petroleum SA, Bakrie Group).
Kronologis Kasus
Konflik Masyarakat Pulau Padang dengan PT. RAPP di Pulau Padang kabupaten Kepulauan Meranti dimulai sejak tahun 2009 sebelum Kabupaten ini dimekarkan dari Kabupaten induk Bengkalis. Kronologis kasus ini dijelaskan sebagai berikut :
Tanggal 26 Agustus 2009
Pj. Bupati Kepulauan Meranti Drs. Syamsuar, M.Si. mengajukan surat kepada Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Nomor 100/Tapem/189 tentang Peninjauan ulang terhadap semua IUPHHK-HTI PT. LUM, PT. SRL dan PT RAPP di Kabupaten Kepualauan Meranti.
Tanggal 30 Desember 2009
Masyarakat dari berbagai desa di Kabupaten Kepulauan Meranti khususnya desa-desa dari Pulau Padang antara lain Tanjung Padang, Selat Akar, Kudap, Dedap, Mengkopot, Mengkirau, Bagan Melibur, Pelantai, dan beberapa desa diluar Pulau Padang seperti Semukut, Renak Dungun, Sungai Tohor, dan desa-desa lain yang berjumlah 1000an orang mendatangi Kantor Bupati Kepulauan Meranti (di Selat Panjang)yang saat itu di Jabat Oleh Bupati Pj. Syamsuar, M.Si. masyarakat dan Kepala Desa-kepala desa yang memimpin aksi tersebut dengan tegas menolak rencana operasional PT. RAPP di Pulau Padang. Bupati Syamsuar yang saat itu menjabat, sangat mendukung apa yang dilakukan Masyarakat untuk menolak kehadiran PT. RAPP beroperasi di Pulau Padang.
Page 24 of 93
Tanggal 30 Desember 2009 (Laporan Investigasi Eyes on the Forest)
Forum Masyarakat Peduli Lingkungan Kabupaten Kepulauan Meranti (FMPL-KM) mengirim Surat ke Menteri Kehutanan, Perihal Penolakan IUPHHK-HT PT. Sumatera Riau Lestari Blok Pulau Rangsang, PT. LUM dan PT. RAPP blok Pulau Padang di Kabupaten Kepulauan Meranti.
Tanggal 10 Februari 2010
WARGA PULAU PADANG KE JAKARTA yang PERTAMA
Perwakilan Masyarakat dan Kepala Desa Pulau Padang yang berjumlah 9 orang dan beberapa organisasi/LSM seperti Meranti Center, Walhi, Mahasiswa Bengkalis, masyarakat Padang Lawas mendatangi Kantor Kementerian Kehutanan di Jakarta menuntut tinjau ulang SK Menhut No. 327 tahun 2009 sekaligus menuntut pencabutan izin HTI di Kepulauan Meranti. Setelah masyarakat mendatangi Kantor Kementerian Kehutanan kemudian Masyarakat Pulau Padang mendatangi Kantor PT. RAPP di Jakarta menuntut hal yang sama.
Tanggal 12 Februari 2010
Perwakilan Masyarakat dan Kepala Desa Pulau Padang yang berjumlah 9 orang dan beberapa organisasi/LSM al. Meranti Center, Walhi, Mahasiswa Bengkalis, masyarakat Padang Lawas mendatangi dan menemui DPD-RI wilayah Riau Instiawati Ayus di Gedung DPR-RI dan Anggota DPR-RI Komisi IV di Jakarta menuntut tinjau ulang SK Menhut No.327 tahun 2009 sekaligus menuntut pencabutan izin HTI di Kepulauan Meranti. (Sumber: wawancara dengan
Toha Kepala Desa Mengkirau di Mengkirau, tanggal 12 Juli 2011)
Tanggal 6 Maret 2010
11 orang perwakilan masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti untuk yang kedua kalinya ke Jakarta mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Mabes Polri sekaligus menuntut pencabutan SK Menhut No. 327 tahun 2009. (wawancara dengan Toha Kepala Desa Mengkirau di Mengkirau, tanggal 12 Juli 2011)
Tanggal 26 Juli 2010
Masyarakat Kec. Merbau sebanyak 350an orang mendatangi Kantor DPRD Kepulauan Meranti dan menuntut penghentian operasional dan Pencabutan izin HTI di Kabupaten Kepulauan Meranti seperti PT. SRL dan PT. LUM dan PT. RAPP Dialog antara perwakilan masyarakat dan anggota-anggota DPRD yang juga hadir ketua DPRD Hafizoh, wakil ket. DPRD Taufikurrahman dan puluhan anggota DPRD lainnya. Dalam kesempatan tersebut terjadi perdebatan antara masyarakat dan anggota dewan. Dalam menanggapi aspirasi dan tuntutan masyarakat, Ketua
Page 25 of 93
DPRD Kab. Kepulauan Meranti Hafizoh menyatakan ―jika bapak-bapak seratus persen menolak
HTI di Kepulauan Meranti, saya juga menolak bahkan seratus limapuluh persen. Akan tetapi kami tidak memiliki wewenang untuk menghentikan operasional HTI di Kabupaten kepulauan Meranti, yang memiliki wewenang ini adalah bapak Bupati‖. Dalam dialog tersebut DPRD juga
berjanji akan turun meninjau kelapangan.
Tanggal 30 Juli 2010
DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti mengajukan surat kepada Kementerian Kehutanan RI Nomor 661/DPRD/VII/2010 tentang Permohonan Peninjauan ulang izin operasional PT. SRL, PT. LUM, dan PT. RAPP (terlampir)
Tanggal 19 Agustus 2010
Masyarakat Pulau Padang dan Masyarakat Pulau Rangsang sebanyak 700 orang lebih, mendatangi Kantor DPRD Kepulauan Meranti masih dengan tuntutan yang sama menuntut pencabutan izin PT. RAPP di Pulau Padang dan menuntut penghentian operasional PT. SRL dan PT. LUM.
Tanggal 3 September 2010
Bupati Kepulauan Meranti mengajukan surat kepada Menteri Kehutanan RI di Jakarta nomor 100/TAPEM/IX/2010/70 perihal Peninjauan Ulang IUPHHK-HTI PT. LUM, PT. SRL dan PT. RAPP terkait dengan penolakan HTI yang dilakukan oleh masyarakat.
Tanggal 8 September 2010
Gubernur Riau mengeluarkan Surat No. 223/IX/2010 tanggal 8 September 2010, tentang izin Pembuatan Koredor pada IUPHHK-HT, PT. RAPP Pulau Padang di Kabupaten kepulauan Meranti. Setelah sekian hari sejak tanggal dikeluarkan Surat Gubernur tentang izin koredor tersebut, wargapun kemudian mengetahuinya. Surat tersebut memunculkan keresahan bagi warga pulau padang dan memancing amarah masyarakat, yang seharusnya setelah hari raya idul Fitri masyarakat menfokuskan untuk berkebun memperbaiki perekonomian setelah berkunjung kesanak saudara pada hari raya. Lagi-lagi masyarakat di ―paksa‖ untuk mendatangi kantor Bupati di selatpanjang. Dan masyarakat semakin marah ketika 2 orang buruh warga Pulau Rangsang yang mengolah kayu dijadikan Papan/bahan kapal ditangkap oleh pihak keamanan. Padahal mereka memiliki surat kelompok Tani yang legal.
Page 26 of 93
Merespon surat Gubernur tentang izin pembuatan Koredor, Masyarakat Pulau Padang dan Rangsang mendatangi Kantor Bupati Kepulauan Meranti antara lain menuntut pembebasan 2 orang wagra petani Rangsang yang di tangkap oleh pihak keamanan AIRUT karena menjual kayu hasil olahan ke Selatpanjang, dan menuntut penghentian Operasional PT. SRL, dan pencabutan izin PT. RAPP di pulau padang. Dalam aksi ini masyarakat diterima oleh wakil Bupati untuk berdialog dengan beberapa wakil masyarakat terkait penolakan masyarakat terhadap operasional Perusahaan-perusahaan Pembabat Hutan Alam di kabupaten Kepulauan Meranti. Judul dalam Pernyataan sikap Aksi tersebut adalah; “Pemerintahan Kabupaten
Kepulauan Meranti HARUS MAMPU Mengusir keberadaan PT RAPP di Kabupaten Kepulauan Meranti…!” Kutipan pernyataan Sikap aksi masyarakat tanggal 11 Oktober 2010:
‖Penangkapan terhadap 2 (dua) masyarakat Desa Bungur Kecamatan Rangsang yang
merupakan rekan seperjuangan kita atas Nama Agus alias Sanum dan Ruslan alias Jun Oleh AIRUT Tanjung Samak dengan Petugas Bernama Jefri, Ardian Syah, dan Saudara Iwan Dengan No kapal: 004 Pada hari Selasa Tanggal 28 September 2010 pada Pukul 5.30 WIB di Perairan Kelautan Selatpanjang dengan Tuduhan Ilegal logging atau membawa kayu dengan dokumen tidak lengkap tersebut adalah merupakan Tindakan Yang sangat Merugikan Bagi Kehidupan Buruh Tani yang pada akhirnya penangkapan terhadap Rekan kita tersebut dapat kita simpulkan bahwa Kebijakan Politik Pemerintah saat Ini lagi-lagi hanya menguntungkan Pemilik Modal Asing di Negeri Ini. Karna jelas terbukti keberadaan PT.SRL, PT. LUM dan PT. RAPP di Kabupaten Kepulauan Meranti yang jelas-jelas keberadaan mereka sangat di tentang oleh rakyat, Namun pada kenyataanya kebijakan Politik Pemerintah di tingkatan Bupati dan Dewan dalam merespon aksi kita dengan mengeluarkan rekomendasi-rekomendasi tidaklah membawa capaian besar untuk menguntungkan perjuangan Rakyat. Terbukti hingga saat ini Oprasional mereka tidak pernah Berhenti dan Bahkan dengan Leluasa Mengeluarkan Puluhan Ribu Ton Kayu dari Kabupaten kepulauan ini dan Tidak mendapat suatu apapun.”
Massa denganjumlah 1500 orang lebih dalam pernyataannya sebagai berikut:
1. Mendesak Bupati dan DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti untuk SEGERA mengeluarkan surat penolakan terhadap SK Gubernur Riau Nomor : KPTS/1223/IX/2010 tanggal 08 September 2010 tentang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) PT. RAPP Pulau Padang (Desa Sungai Hiu Tanjung Padang) Kecamatan Merbau Kabupaten Kepulauan Meranti.
2. Bebaskan kawan kami Agus alias Sanum dan Ruslan alias Jun sekarang Juga !!!
3. Usut dan Tangkap Mafia Tanah dengan Modus Kelompok tani yang telah disahkan olehkepala desa setempat di Kecamatan Merbau dan Kecamatan Rangsang.
Page 27 of 93
4. Bupati dan DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti harus menegaskan sikap politiknya
terhadap pemerintahan Pusat maupun Propinsi atas surat yang pernah di keluarkan, agar di lakukan peninjauan ulang SK menhut tersebut demi kepentingan rakyat atau Mundur Sekarang Juga !!!
Tanggal 29 Oktober 2010
Perwakilan Masyarakat Pulau Padang berdasarkan undangan pihak perusahaan, bertemu dengan managemen PT. RAPP di Hotel Gran Zuhri Pekanbaru. Dalam pertemuan tersebut masyarakat menuntut Pihak perusahaan sebelum beroperasi di Pulau Padang untuk melakukan Mapping (pemetaan ulang), inclaving, dan pembuatan tapal batas permanen sebelum PT. RAPP melakukan operasional di Pulau Padang. Secara lisan pihak perusahaan menyetujui semua tuntutan masyarakat Pulau Padang yang saat itu diwakili oleh 10 orang petani Pulau Padang yang didampingi oleh Teri Hedra Caniago Ketum KPP-STR Propinsi Riau dan Dessri Kurniawati, SH Sekjen KPP-STR Prop Riau. namun secara tertulis berbeda dengan apa yang disepakati secara lisan. Sehingga pihak masyarakat tidak mau menandatangani berita acara dan notulensi hasil pertemuan.
Tanggal 30 Oktober 2010
PT. RAPP mengelar sosialisasi dengan mengundang masyarakat Pulau Padang, perwakilan petani, LSM, Mahasiswa, DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti Herman, Aziz, Fauzi Hasan, Asmawi, pejabat sekretariat DPRD Kep. Meranti Burhanuddin yang sebelumnya adalah pejabat dinas Kehutanan kepulauan Meranti yang telah mengesahkan dan membuat berita acara survey lokasi jalan koredor (tanggal 17 Mei 2010) dan rekomendasi untuk pembuatan jalan Koredor di Sungai Hiu Pulau Padang. Diundang juga orang-orang yang dianggap tokoh masyarakat oleh pihak perusahaan. Dalam acara tersebut Salah satu perwakilan masyarakat meminta pihak perusahaan untuk menunjukkan AMDAL sebagai syarat untuk dikeluarkannya SK Menhut. Namun pihak perusahaan menjawab bahwa AMDAL adalah domainnya Pemerintah.
Tanggal 3 November 2010
Direktorat Jenderal Bina Usaha kehutanan tertanda Direktur jenderal Imam Santoso, No. S.1055/VI-BPHT/2010 tanggal 3 November 2010 perihal: Mohon ditinjau ulang Izin Operasional PT. SRL, PT. LUM dan PT. RAPP yang ditujukan kepada ketua DPRD Kabupaten kepulauan Meranti. Dalam surat tersebut dinyatakan bahwa IUPHHK-HTI ketiga perusahaan tersebut adalah sah dan aktif yang memiliki Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan tanaman Industri dan Rencana kerja Tahunan Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan kayu
Page 28 of 93
pada Hutan tanaman Industri (RKTUPHHK-HTI) tahun berjalan. Dan seluruh areal Kerka IUPHHK-HTI tersebut berada dalam kawasan Hutan produksi.
Tanggal 26 November 2010
Bupati Kepulauan Meranti mengirimkan surat kepada Camat Merbau No.
100/TAPEM/XI/2010/96 perihal; Rekomendasi.Pada hakekatnya bias di pahami bahwa surat tersebut adalah sebuah perintah kepada camat untuk menfasilitasi pihak perusahaan PT. RAPP yang akan menjalankan operasionalnya di Pulau Padang
Tanggal 29 November 2010,
Perwakilan Masyarakat Pulau Padang bertemu lagi dengan Pihak Managemen PT. RAPP untuk membicarakan rencana Masyarakat Pulau Padang akan membuat kegiatan SEMINAR TERBUKA dan akan dijadikan wadah untuk mempertemukan semua unsure pemerintahan baik Bupati, Dishut, DPRD, Camat, Kepala Desa, BPD, Tokoh Masyarakat dan masyarakat umum dan pihak Perusahaan PT. RAPP dalam acara SEMINAR TERBUKA tersebut. Dalam pertemuan untuk yang kedua kalinya dengan PT. RAPP di hotel Gren Zuhri Pekanbaru, pihak perusahaan di