• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

A. Gambaran Umum Wilayah

2. Gambaran Umum Calon Provinsi Bolaang Mongondow

55 kabupaten dan kota yang menjadi cakupan wilayah Calon Provinsi Bolaang Mongondow Raya hanya memiliki kontribusi sebesar rata-rata 2,81 %. Dengan besarnya perbedaan jumlah PDRB dapat dilihat bahwa pembangunan di Provinsi Sulawesi Utara masih terfokos di Kota Manado sebagai ibukota provinsi, sedangka daerah yang berada jauh dari ibukota cenderung relatif tertinggal.

2. Gambaran Umum Calon Provinsi Bolaang Mongondow Raya

56 Sebagai daerah yang terletak di garis katulistiwa, maka Calon Provinsi Bolaang Mongondow Raya Bolaang Mongondow hanya mengenal 2 musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Curah hujan di wilayah ini sangat tinggi, curah hujan tertinggi terjadi padabulan Januari yaitu 579 mm, dan terendah pada bulan September yaitu 0,73 mm.

Calon Provinsi Bolaang Mongondow Raya memiliki ketinggian yang bervariasi, yang tertinggi adalah Kecamatan Modayag yang berada pada Kabupaten Bolaang Mongondow Timur dengan ketinggian 650 Mdpl, selanjutnya Kecamatan Passi Kabupaten Bolaang Mongondow dengan ketinggian 450 Mdpl diikuti Kota Kotamobagu, sehingga terdapat kawasan pegunungan, bukit dan juga pesisir.

Terdapat 17 gunung di Bolaang Mongondow dan yang tertinggi adalah Gunung Batubulawan dengan ketinggian 1.970 m, sedangkan yang terendah adalah Gunung Mongaladia dengan ketinggian 1.325 m.

57

Gambar 4.3 Peta Administrasi Calon Provinsi Bolaang Mongondow Raya

58 Tabel 4.5

Luas Wilayah Calon Provinsi BMR dan Persentasenya Berdasarkan Kabupaten/Kota

Kabupaten/Kota Luas (Km2) Persentase Bolaang Mongondow

Bolaang Mongondow Selatan Bolaang Mongondow Timur Bolaang Mongondow Utara Kota Kotamobagu

2 871,65 1 615,86 910,18 1 680,00

68,06

20,73 11,67 6,57 12,13

0,49

Bolaang Mongondow Raya 7 145,75 52

Sumber: Sulawesi Utara Dalam Angka 2018

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa wilayah terluas yaitu Kabupaten Bolaang Mongondow dan wilayah terkecil yaitu Kota Kotamobagu. Dapat dilihat juga bahwa calon Provinsi Bolaang Mongondow Raya adalah 52 % dari total luas wilayah sulawesi utara atau mencakup lebih dari setengah wilayah Sulawesi Utara.

b) Sejarah

Penduduk asli Bolaang Mongondow berasal dari keturunan Gumalangit dan Tendeduata serta Tumotoibokol dan Tumotoibokat, awalnya mereka tinggal di gunung Komasaan (Bintauna). Kemudian menyebar ke timur di tudu in Lombagin, Buntalo, Pondoli‟, Ginolantungan sampai ke pedalaman tudu in Passi, tudu in Lolayan, tudu in Sia‟, tudu

59 in Bumbungon, Mahag, Siniow dan lain-lain. Peristiwa perpindahan ini terjadi sekitar abad 8 dan 9.

Nama Bolaang berasal dari kata “bolango” atau

“balangon” yang berarti laut. Bolaang atau golaang dapat pula berarti menjadi terang atau terbuka dan tidak gelap, sedangkan Mongondow dari kata „momondow‟ yang berarti berseru tanda kemenangan.

Desa Bolaang terletak di tepi pantai utara yang pada abad 17 sampai akhir abad 19 menjadi tempat kedudukan istana raja, sedangkan desa Mongondow terletak sekitar 2 km selatan Kotamobagu. Daerah pedalaman sering disebut dengan „rata Mongondow‟. Dengan bersatunya seluruh kelompok masyarakat yang tersebar, baik yang yang berdiam di pesisir pantai yang berada di pedalaman Mongondow di bawah pemerintahan Raja Tadohe, maka daerah ini dinamakan Bolaang Mongondow.

Setiap kelompok keluarga dari satu keturunan dipimpin oleh seorang Bogani (laki-laki atau perempuan) yang dipilih dari anggota kelompok dengan persyaratan : memiliki kemampuan fisik (kuat), berani, bijaksana, cerdas, serta mempunyai tanggung jawab terhadap kesejahteraan kelompok dan keselamatan dari gangguan musuh.

60 Mokodoludut adalah punu‟ Molantud yang diangkat berdasarkan kesepakatan seluruh bogani. Mokodoludut tercatat sebagai raja (datu yang pertama). Sejak Tompunu‟on pertama sampai ketujuh, keadaan masyarakat semakin maju dengan adanya pengaruh luar (bangsa asing).

Perubahan total mulai terlihat sejak Tadohe menjadi Tompunu‟on, akibat pengaruh pedagang Belanda dirubah istilah Tompunu‟on menjadi Datu (Raja).

Tadohe dikenal seorang Datu yang cakap, sistem bercocok tanam diatur dengan mulai dikenalnya padi, jagung dan kelapa yang dibawa bangsa Spanyol pada masa pemerintahan Mokoagow (ayah Tadohe). Tadohe melakukan penggolongan dalam masyarakat, yaitu pemerintahan (Kinalang) dan rakyat (Paloko‟). Paloko‟ harus patuh dan menunjang tugas Kinalang, sedangkan Kinalang mengangkat tingkat penghidupan Paloko‟ melalui pembangunan disegala bidang, sedangkan kepala desa dipilih oleh rakyat. Tadohe berhasil mempersatukan seluruh rakyat yang hidup berkelompok dengan boganinya masing-masing, dan dibentuk sistem pemerintahan dari Bolaang, Mongondow (Passi dan Lolayan), Kotabunan, Dumoga,

61 disatukan menjadi Bolaang Mongondow. Di masa ini mulai dikenal mata uang real, doit, sebagai alat perdagangan.

Pada zaman pemerintahan raja Corenelius Manoppo, raja ke-16 (1832), agama Islam masuk daerah Bolaang Mongondow melalui Gorontalo yang dibawa oleh Syarif Aloewi yang kawin dengan putri raja tahun 1866. Karena keluarga raja memeluk agama Islam, maka agama itu dianggap sebagai agama raja, sehingga sebagian besar penduduk memeluk agama Islam dan turut mempengaruhi perkembangan kebudayaan dalam beberapa segi kehidupan masyarakat. Sekitar tahun 1867 seluruh penduduk Bolaang Mongondow sudah menjadi satu dalam bahasa, adat dan kebiasaan yang sama (menurut N.P Wilken dan J.A.Schwarz).

Pada tanggal 1 Januari 1901, Belanda dibawa pimpinan Controleur Anton Cornelius Veenhuizen bersama pasukannya secara paksa bahkan kekerasan berusaha masuk Bolaang Mongondow melalui Minahasa, setelah usaha mereka melalui laut tidak berhasil dan ini terjadi pada masa pemerintahan Raja Riedel Manuel Manoppo dengan kedudukan istana raja di desa Bolaang. Raja Riedel Manuel Manoppo tidak mau menerima campur tangan pemerintahan

62 oleh Belanda, maka Belanda melantik Datu Cornelis Manoppo menjadi raja dan mendirikan komalig (istana raja) di Kotobangon pada tahun 1901. Pada tahun 1904, dilakukan perhitungan penduduk Bolaang Mongondow dan berjumlah 41.417 jiwa.

Pada tahun 1906, melalui kerja sama dan kesepakatan dengan raja Bolaang Mongondow, W.

Dunnebier mengusahakan pembukaan Sekolah Rakyat dengan tiga kelas yang dikelola oleh zending di beberapa desa; yakni desa Nanasi, Nonapan, Mariri Lama, Kotobangon, Moyag, Pontodon, Pasi, Popo Mongondow, Otam, Motoboi Besar, Kopandakan, Poyowa Kecil dan Pobundayan dengan total murid sebanyak 1.605 orang, sedangkan pengajarnya didatangkan dari Minahasa.

Pada tahun 1937 dibuka di Kotamobagu sebuah sekolah Gubernemen, yaitu Vervolg School (sekolah sambungan) kelas 4 dan 5 yang menampung lepasan sekolah rakyat 3 tahun. Ibukota Bolaang Mongondow sebelumnya terletak disalah satu tempat di kaki gunung Sia‟

dekat Popo Mongondow dengan nama Kotabaru. Karena tempat itu kurang strategis sebagai tempat kedudukan controleur, maka diusahakan pemindahan ke Kotamobagu

63 dan peresmiannya diadakan pada bulan April 1911 oleh Controleur F. Junius yang bertugas tahun 1910-1915.

Pada tahun 1911 didirikan sebuah rumah sakit di ibukota yang baru Kotamobagu. Rakyat mulai mengenal pengobatan modern, namun ada juga yang masih mempertahankan dan melestarikan pengobatan tradisional melalui tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat obat dan sampai sekarang dibudayakan secara konvensional.

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Bolaang Mongondow menjadi bagian wilayah Propinsi Sulawesi yang berpusat di Makassar, kemudian tahun 1953 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 1953 Sulawesi Utara dijadikan sebagai daerah otonom tingkat I. Bolaang Mongondow dipisahkan menjadi daerah otonom tingkat II mulai tanggal 23 Maret 1954, sejak saat itu Bolaang mongondow resmi menjadi daerah otonom yang berhak mengatur rumah tangganya sendiri berdasarkan PP No.24 Tahun 1954. Atas dasar itulah, mengapa setiap tanggal 23 Maret seluruh rakyat Bolaang Mongondow selalu merayakannya sebagai Hari Ulang Tahun Kabupaten Bolaang Mongondow.

64 Seiring dengan Nuansa Reformasi dan Otonomi Daerah, telah dilakukan pemekaran wilayah dengan terbentuknya Kabupaten Bolaang Mongondow Utara melalui Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2007 dan Kota Kotamobagu melalui Undang-Undang RI No. 4 Tahun 2007 sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Bolaang Mongondow.

Kemudian tahun Pada tahun 2008 Kabupaten Bolaang Mongondow kembali dimekarkan, yaitu dengan terbentuknya Kabupaten Bolaang Mongondow Timur dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2008, sedangkan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan dibentuk berdasarkan Nomor 30 Tahun 2008.

Saat ini wilayah Bolaang Mongondow terdiri dari 4 kabupaten dan 1 kota, seiring dengan keinginan dan aspirasi segenap elemen masyarakat Bolaang Mongondow, dan dalam rangka memajukan daerah, membangun kesejahteraan rakyat, memudahkan pelayanan, dan memobilisasi pembangunan bagi terciptanya kesejahteraan serta kemakmuran rakyat, maka di putuskanlah rencana pembentukan Provinsi Bolaang Mongondow Raya.

65 d) Kependudukan

Penduduk calon Provinsi BMR sebanyak 575.422 jiwa yang terdiri dari empat kabupaten dan satu kota dengan jumlah penduduk terbanyak yaitu 240.505 jiwa pada Kabupaten Bolaang Mongondow.

Tabel 4.6

Jumlah Penduduk Provinsi Sulawesi Utara Berdasarkan Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin Tahun 2017

Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk Jumlah

Laki-Laki Perempuan Bolaang Mongondow

Bolaang Mongondow Selatan Bolaang Mongondow Timur Bolaang Mongondow Utara Kota kotamobagu

124 970 33 615 36 796 40 097 62 110

115 535 30 556 33 814 38 340 59 589

240 505 64 171 70 610 78 437 121 699 Bolaang Mongondow Raya 297 588 277 834 575 422 Kepulauan Sangihe

Siau Tagulandang Biaro Kepulauan Talaud Minahasa

Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Minahasa Utara Kota Manado Kota Bitung Kota Tomohon

66 011 32 576 46 311 171 418

63 162 54 720 102 720 215 832 108 481 51 386

64 342 33 400 44 367 163 903

26 836 50 994 98 858 214 301 103 928 50 595

130 024 65 976 90 678 335 321

89 998 105 714 200 985 430 133 212 409 101 981 Sulawesi Utara 1 107 485 1 231 155 2 338 641

Sumber: Sulawesi Utara Dalam Angka 2018

Total penduduk calon Provinsi Bolaang Mongondow adalah 575.422 jiwa atau 25 % dari total penduduk Sulawesi Utara yang berjumlah 2.338.641 jiwa.

66 Tabel 4.7

Jumlah Penduduk Menurut Usia dan Kabupaten/Kota Calon Provinsi BMR Tahun 2017

Usia

Kabupaten/Kota

Jumlah Bolmong Bolsel Boltim Bolmut Kotamobagu

0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65+

22.732 22.747 22.389 19.844 16.970 19.894 19.562 18.298 16.882 15.209 13.266 10.508 8.780 13.424

7.279 7.071 6.322 5.529 4.954 5.577 5.393 4.551 4.008 3.764 3.092 2.311 1.945 2.375

6.296 6.427 6.259 5.915 5.559 5.867 5.910 5.450 5.189 4.626 3.949 3.092 2.423 3.648

7.640 8.083 7.531 6.685 5.692 6.413 5.906 5.797 5.147 5.164 4.115 3.351 2.677 4.236

10.693 10.657 10.568 11.735 9.925 11.735

9.820 9.232 9.103 8.624 6.940 5.353 4.353 5.841

54.640 54.985 53.069 49.708 43.100 52.798 46.591 43.328 40.329 37.023 31.362 24.615 20.178 29.524 Total 240.505 64.171 70.610 78.437 121.699 575.422

Sumber: Sulawesi Utara Dalam Angka Tahun 2018

Penduduk yang berada pada daerah Calon Provinsi BMR didominasi oleh penduduk kelompok umur 5-9 tahun yaitu sebesar 54.985 jiwa atau sebesar 9,5 % dan penduduk dengan kelompok umur terkecil yaitu kelompok umur 60-64 tahun yang hanya terdiri dari 20.178 jiwa atau 3,5 %.

67 B. Faktor Yang Melatarbelakangi Lahirnya Ide Tentang Rencana

Dokumen terkait