BAB V PENUTUP
B. Saran
Adapun saran dan masukan yang dapat penulis berikan yaitu:
1. Dalam penelitian ini dapat dilihat bahwa Calon Provinsi Bolaang Mongondow Raya telah mampu untuk menjadi sebuah daerah otonom baru ditinjau dari aspek potensi wilayah khususnya sumber daya manusia, ketersediaan sumber daya alam, dan kemampuan kemandirian keuangan daerah.
2. Penelitian ini belum mencakup dari berbagai aspek lainnya terkait kesiapan Calon Provinsi Bolaang Mongondow sebagai daerah otonom baru seperti dari aspek ketersedediaan sarana dan prasarana, aspek kemampuan kinerja pemerintah, aspek keamaan dan pertahanan daerah, serta aspek lainya.
98 3. Penelitian selanjutnya sangat diharapkan dan kiranya dapat melengkapi kekurangan yang ada pada penelitian ini, serta bisa melanjutkan ke tahap berikutnya seperti perumusan strategi pengembangan wilayah untuk keberhasilan otonomi daerah kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA
Amin Ika Dinas. (2013). Otonomi Daerah Untuk Penguatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Pengelolaang Keuangan Dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah. Jurnal Ilmiah, Vol.3 Nomor 1. Universitas Diponegoro
Badan Pusat Statistik. (2018). Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Sulawesi Utara. BPS Sulawesi Utara
Kaho, Riwu. (2005). Prospek Otonomi Daerah di Negara Republik Indonesia:
Identifikasi Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Penyelenggaraannya.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Mahardika I Gusti Ngurah, Artini Luh Gede. (2011). Analisis Kemandirian Keuangan Daerah di Era Otonomi Pada Pemerintah Kabupaten Tabanan:
Universitas Udayana, Bali.
Safitri Sani. (2016). Sejarah Perkembangan Otonomi Daerah di Indonesia. Jurnal Criksetra, Volume 5, Nomor 9. Universitas Sriwijaya
Shintamettan. (2017). Sumber Daya Alam Dalam Otonomi Daerah. Universitas Gunadarma
Sebayang P. Suryani. (2015). Analisis Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Antar Provinsi Sumatera. Medan: Universitas Negeri Medan
Surkati Ahmad. (2012). Otonomi Daerah Sebagai Instrumen Pertumbuhan Kesejahteraan dan Peningkatan Kerjasama Antar Daerah. Banten:
Universitas Sultan Agung Tirtayasa
https://www.maxmanroe.com/vid/umum/pengertian-otonomi-daerah.html
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
FINKA RATNA BONDE lahir pada tanggal 09 September 1997 di Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara.
Merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Lahir dari pasangan Sukardi Bonde dan Ibu Ratna Rachel Tontuli. Mulai menempuh pendidikan di SDN 2 Kosinggolan pada tahun 2003 dan tamat 2009. Pada tahun yang sama melanjutkan pendidikan di SMPN 4 Kotamobagu dan selesai pada tahun 2012, selanjutnya melanjutkan pendidikan di SMA Yadika Kopandakan II pada tahun 2012 dan tamat 2015. Pada tahun 2015 juga melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi yaitu Universitas Bosowa Makassar, Fakultas Teknik, Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota.
Rencana Pembentukan Daerah Otonom Baru| ii PENDAHULUAN
Kebijakan Pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) merupakan salah satu jawaban atas berbagai persoalan yang muncul dalam penyelengaraan pemerintahan daerah saat ini, hal tersebut yang memicu munculnya berbagai macam fenomena dan keinginan masyarakat pada berbagai wilayah untuk membentuk. Munculnya fenomena ini seiring dengan dinamika yang terjadi dalam masyarakat pada era reformasi dimana reformasi dianggap sebagai solusi ketimpang pembanguan yang terjadi pada orde baru.
Pemberlakuan Otonomi Daerah yang dimulai sejak tanggal 1 Januari 2001 telah membawa implikasi yang luas dan serius. Undang-Undang Noomor 222 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang lebih lanjut mengalami perubahan sampai pada Undang-Undang No. 23 Tahun 2014, telah melahirkan paradigma baru dalam pelaksanaan otonomi daerah, yang meletakkan otonomi penuh, luas dan bertanggung jawab pada daerah kabupaten dan kota. Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dijelaskan bahwa Prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam arti, daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan diluar yang menjadi urusan pemerintah yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberikan pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat.
Potensi Wilayah merupakan salah aspek yang menentukan keberhasilan dari daerah otonom baru, hal ini karena potensi wilayah menjadi penggerak utama dalam perkembangan dan
pertumbuhan ekonomi suatu daerah sehingga dalam pembentukan daerah otonom baru harus bisa mengkaji potensi wilayah yang ada dengan tujuan untuk dapat mengurangi resiko pemekaran kedepannya seperti kesulitan masalah keuangan dan pembiayaan pembangunan, pelayanan publik yang masih sama, mengalami degrasi pembangunan, dan resiko pemekaran lainnya.
Josef Riwu Kaho mengemukakan ada beberapa faktor yang mendukung keberhasilan otonomi daerah yaitu diantaranya: 1). Faktor manusia Penyelenggaraan otonomi daerah hanya dapat berjalan dengan sebaik-baiknya apabila manusia pelaksananya baik, dalam arti mentalitas maupun kapasitasnya. 2). Faktor kemampuan keuangan ini merupahkan salah satu indikator penting guna mengukur tingkat ekonomi suatu daerah. Keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah tidak dapat dilepaskan dari cukup tidaknya kemampuan daerah dalam bidang keuangan.
Keuangan daerah digunakan untuk membiayai pembangunan daerah yang bersangkutan. Sumber – sumber keuangan daerah dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu Pendapatan asli daerah (PAD) dan sumber pendapatan non-asli daerah (non-PAD). 3). Faktor peralatan Peralatan merupahkan instrumen perantara dan pembantu bagi aparatur pemerintah daerah dalam melaksanakan berbagai tugas pekerjaannya. Untuk memperlancar jalanya penyelenggaraan tugas pemerintah daerah maka diperluakan sejumlah alat yang cukup memadai, baik kuantitas maupun kualitasnya. Keterbatasan peralatan yang dimiliki daerah dapat menyulitkan aparatur dalam melaksanakan fungsi public service.
4). Faktor organisasi dan manajemen Untuk dapat mewujudkan organisasi yang baik dan sehat maka dalam setiap organisasi perlu diterapkan asas – asas atau prinsip – prinsip tertentu.
Rencana Pembentukan Daerah Otonom Baru| iii Pembentukan sebuah daerah otonom baru
pastinya tidak lepas dari tujuannya yaitu pertumbuhan ekonomi demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi menurut Adam Smith yaitu terbagi dari dua faktor, yaitu faktor output total dan faktor pertumbuhan penduduk. Output total terdiri dari tiga variabel yaitu sumber daya alam, sumber daya manusia, dan persediaan capital atau modal. Sedangkan pada faktor kedua yaitu pertumbuhan penduduk yang mempengaruhi perluasan pasar dan laju pertumbuhan ekonomi.
Salah satu daerah di Indonesia yang ingin membentuk Daerah Otonom Baru yaitu Bolaang Mongondow Raya dimana didalamnya tergabung empat Kabupaten dan satu Kota diantaranya yaitu Kabupaten Bolaang Mongondow Induk, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan serta Kota Kotamobagu.
Rencana pembentukan Daerah Otonom Baru ini telah ada sejak tahun 2006 dengan melihat dimana Kabupaten Bolaang Mongondow dan kabupaten lainnya yang nanti akan termasuk dalam Provinsi Bolaang Mongondow Raya telah memberikan kontribusi yang besar kepada PAD Provinsi Sulawesi Utara namun tidak sebanding dengan kesejahteraan yang dirasakan oleh masyarakat maka dengan dengan adanya pemekaran ini diharapkan Provinsi Bolaang Mongondow Raya menjadi daerah yang mandiri dengan mengelola pemerintahan daerahnya sendiri demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun sampai saat ini rencana ini belum juga terealisasi dan masih mengundang berbagai pro dan kontra dalam masyarakat. Saat ini memang antusias masyarakat dalam rencana cukup besar namun tidak sedikit juga masyarakat yang berpendapat bahwa Bolaang Mongondow Raya belum siap
untuk dijadikan sebuah provinsi baru. Berdasarkan penjelasan diatas maka saya tertarik untuk melihat bagaimana kesiapan wilayah ditinjau dari potensi wilayah saat ini yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat Bolaang Mongondow sebagai sebuah daerah otonom baru kedepannya.
METODE PENELITIAN 1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di beberapa kabupaten dan kota yang nantinya menjadi cakupan wilayah Provinsi Bolaang Mongondow Raya diantaranya yaitu Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, dan Kota Kotamobagu. Selain itu penelitian ini juga dilakukan di Instansi-intansi yang berkaitan langsung dengan proses pembentukan calon Provinsi Bolaang Mongondow Raya Itu sendiri.
2. Jenis dan Sumber Data a. Jenis Data
Data Kuantitatif, yaitu data yang berbentuk angka dan data numerik. Data yang dikumpulkan berupa: Jarak dari ibukota Sulawesi Utara ke wilayah sekitarnya, Data jumlah penduduk, Data luas wilayah wilayah yang akan dimekarkan, Potensi wilayah, mulai Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, serta sarana prasarana. Potensi ekonomi, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), dan sebagainya.
Data Kualitatif, yaitu data yang berbentuk bukan angka atau menjelaskan secara deskripsi tentang kondisi lokasi penelitian
Rencana Pembentukan Daerah Otonom Baru| iv secara umum. Diantaranya berupa data
kondisi sosial budaya masyarakat yang ada.
b. Sumber Data
Data primer diperoleh melalui observasi lapangan yaitu suatu teknik penjaringan data melalui pengamatan langsung pada objek penelitian. Survei ini dilakukan untuk mengetahui kondisi kualitatif objek studi. Jenis data yang dimaksud meliputi wawancara secara langsung terhadap masyarakat maupun pemerintah daerah dengan tujuan untuk memperoleh informasi berupa tanggapan atau perspektif dari masyarakat maupun pemerintah terkait rencana pembentukan daerah otonom baru.
Data Sekunder, dengan observasi terhadap lembaga-lembaga dan instansi terkait dengan salah satu teknik penjaringan data guna mengetahui kuantitatif objek penelitian. Adapun berupa data statistik wilayah berupa data kondisi geografi, data kependudukan, data pendapatan daerah serta data potensi wilayah.
3. Teknik Analisis Data
Pada penelitian ini, terdapat beberapa analisis yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang ada baik kualitatif maupun kuantitatif, penjelasannya yaitu sebagai berikut:
a. Analisis Kualitatif Deskriptif
Metode penelitian kualitatif merupakan sebuah metode yang menekankan pada aspek pemahaman lebih mendalam terhadap suatu masalah dari pada melihat sebuah permasalahan.
Penelitian kualitatif adalah sebuah penelitian riset yang sifatnya deskripsi, cenderung menggunakan analisis dan lebih menampakkan proses maknanya.
Pada penelitian ini, analisis kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan data yang diperoleh data hasil wawancara dengan beberapa narasumber terkait faktor pendorong pemekaran Provinsi Bolaang Mongondow Raya serta kondisi sosial budaya yang berkembang dimasyarakat.
b. Analisis Kemandirian dan Kemampuan Keuangan Daerah
Halim (2002) menjelaskan bahwa ciri utama suatu daerah yang mampu melaksanakan otonomi, yaitu (1) kemampuan keuangan daerah, artinya daerah harus memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber-sumber keuangan, mengelola dan menggunakan keuangan sendiri yang cukup memadai untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahannya, dan (2) ketergantungan kepada bantuan pusat harus seminimal mungkin, agar pendapatan asli daerah (PAD) dapat menjadi bagian sumber keuangan terbesar sehingga peranan pemerintah daerah menjadi lebih besar.
Kemandirian Keuangan Daerah Kemandirian keuangan daerah menunjukkan bahwa pemerintah daerah mampu untuk membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah. Kemandirian keuangan daerah
Rencana Pembentukan Daerah Otonom Baru| v dapat dihitung dengan cara pendapatan asli
daerah dibagi bantuan pemerintah pusat maupun daerah di kali seratus (Abdul Halim, 2002).
Berikut adalah acuan untuk melihat tingkat rasio kemandirian keuangan daerah yang terdiri dalam empat pola hubungan yaitu, pola hubungan instruktif, pola hubungan konsultatif, pola hubungan partisipatif dan pola hubungan delegatf.
Tabel 1
Pola Hubungan Berdasarkan Tingkat Rasio Kemandirian
Rasio Kemandirian (%) Pola Hubungan 0 – 25
>25-50
>50-75
>75-100
Instruktif Konsultatif Partisipatif Delegatif Sumber: Abdul halim (2002)
Berikut penjelasannya:
1) Pola hubungan instruktif, yaitu peran Pemerintah Pusat lebih dominan dari pada kemandirian Pemerintah Daerah.
2) Pola hubungan konsultatif, yaitu campur tangan Pemerintah Pusat sudah mulai berkurang, karena daerah telah dianggap mampu melaksanakan otonomi daerah.
3) Pola hubungan partisipatif, yaitu peran Pemerintah Pusat semakin berkurang mengingat daerah yang bersagkutan tingkat kemandiriannya mendekati mampu melaksanakan otonomi daerah.
4) Pola hubungan delegatif, yaitu campur tangan Pemerintah Pusat sudah tidak ada karena daerah telah benar-benar mandiri
dalam melaksanakan otonomi daerah (Halim, 2004:188)
Kemampuan Keuangan Daerah
Analisis ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh kondisi keuangan dapat mendukung otonomi daerah (Sularso, 2011), dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
KKDt = TPDt x 100 % TBDt
Keterangan:
KKDt : Kemampuan keuangan daerah dalam persen
TPDt : Total pendapatan daerah tahun t TBDt : Total belanja daerah tahun t
Tabel 2
Skala Interval Kemampuan Keuangan Daerah
Persentase Kemampuan
Keuangan Daerah 0,00 – 10,00 %
10,01 – 20,00 % 20,01 – 30,00 % 30,01 – 40,00 % 40,01 – 50,00 %
>50,00 %
Sangat Kurang Kurang Sedang Cukup Baik Sangat Baik Sumber: Sularso, 2011
Semakin tinggi persentasenya maka semakin tinggi juga kemampuan suatu daerah dalam mengelola keuangan daerahnya sendiri. Analisis ini digunakan untuk melihat kemampuan pengelolaan keuangan daerah Provinsi Bolaang Mongondow Raya sebagai calon Daerah Otonom Baru.
Analisis LQ RK = Pendapatan Asli/Daerah x 100
Bantuan Pemerintah Pusat/Provinsi
Rencana Pembentukan Daerah Otonom Baru| vi Metode Location Quotient
(Tarigan, 2005) digunakan untuk mengetahui sektor basis atau potensial suatu daerah tertentu. Metode ini menyajikan perbandingan relatif antara kemampuan sektor di daerah (kabupaten/kota) dengan kemampuan sektor yang sama pada daerah yang lebih luas (provinsi).
Formula Analisis LQ dengan pendekatan nilai tambah / pendapatan
LQ = Vi / Vt Yi / Yt Keterangan:
Vi = Nilai PDRB sektor i pada tingkat wilayah yang lebih rendah
Vt = Total PDRB pada tingkat wilayah yang lebih rendah
Yi = Nilai PDRB sektor i pada tingkat wilayah lebih atas
Yt = Total PDRB sektor i pada tingkat wilayah lebih atas
LQ > 1 artinya, komoditas itu menjadi basis atau menjadi sumber pertumbuhan. Komoditas memiliki keunggulan komparatif, hasilnya tidak saja dapat memenuhi kebutuhan diwilayah bersangkutan akan tetapi juga dapat di ekspor ke luar wilayah.
LQ = 1 artinya, komoditas itu tergolong non basis, tidak memiliki keunggulan komparatif. Produksinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan wilayah sendiri dan tidak mampu untuk diekspor.
LQ < 1 artinya, komoditas ini juga termasuk non-basis. Produksi
komoditas disuatu wilayah tidak dapat memenuhi kebutuhan sendiri sehingga perlu pasokan atau impor dari luar.
Untuk menentukan sektor unggulan di suatu kabupaten, maka nilai LQ dari suatu sektor yang bersangkutan harus lebih besar dari 1. Nilai LQ yang semakin lebih tinggi dari 1 menunjukkan adanya keunggulan komparatif yang semakin tinggi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Calon Provinsi Bolaang Mongondow Raya merupakan bagian dari wilayah Provinsi Sulawesi Utara, yang awalnya merupakan satu kabupaten, yaitu Kabupaten Bolaang Mongondow.
Secara geografis Calon Provinsi Bolaang Mongondow Raya terletak antara 0030’ – 100’
Lintang Utara dan 1230 – 1240 Bujur Timur, rencana batas wilayah administrasi yaitu:
Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Sulawesi Utara
Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Minahasa
Sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Tomini
Sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Gorontalo
Gambar 1
Peta Administrasi Calon Provinsi Bolaang Mongondow Raya
Rencana Pembentukan Daerah Otonom Baru| vii Tabel 3
Luas Wilayah Calon Provinsi BMR dan Persentasenya Berdasarkan Kabupaten/Kota
Sumber: Provinsi Sulawesi Utara Dalam Angka Tahun 2018
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa wilayah terluas yaitu Kabupaten Bolaang Mongondow dan wilayah terkecil yaitu Kota Kotamobagu. Dapat dilihat juga bahwa calon Provinsi Bolaang Mongondow Raya adalah 52 % dari total luas wilayah sulawesi utara atau mencakup lebih dari setengah wilayah Sulawesi Utara.
Penduduk calon Provinsi BMR sebanyak 575.422 jiwa yang terdiri dari empat kabupaten dan satu kota dengan jumlah penduduk terbanyak yaitu 240.505 jiwa pada Kabupaten Bolaang Mongondow.
Tabel 4
Jumlah Penduduk Provinsi Sulawesi Utara Berdasarkan Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin Tahun 2017
Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk Jumlah
L P
Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Selatan Bolaang Mongondow Timur Bolaang Mongondow Utara Kota kotamobagu
124 970 33 615 36 796 40 097 62 110
115 535 30 556 33 814 38 340 59 589
240 505 64 171 70 610 78 437 121 699 Bolaang Mongondow Raya 297 588 277 834 575 422 Kepulauan Sangihe 66 011 64 342 130 024
Siau Tagulandang Biaro Kepulauan Talaud Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Minahasa Utara Kota Manado Kota Bitung Kota Tomohon
32 576 46 311 171 418
63 162 54 720 102 720 215 832 108 481 51 386
33 400 44 367 163 903
26 836 50 994 98 858 214 301 103 928 50 595
65 976 90 678 335 321
89 998 105 714 200 985 430 133 212 409 101 981 Sulawesi Utara 1 107 485 1 231 155 2 338 641
Sumber: Sulawesi Utara Dalam Angka 2018
Total penduduk calon Provinsi Bolaang Mongondow adalah 575.422 jiwa atau 25 % dari total penduduk Sulawesi Utara yang berjumlah 2.338.641 jiwa.
1. Potensi Wilayah
Dalam pembentukan Daerah Otonom Baru tentunya tidak lepas dari peninjaun terkait potensi wilayah yang ada. Sesuai dengan prinsip otonomi daerah dimana menciptakan daerah yang mandiri sehingga dengan berdasarkan potensi yang ada dapat diketahui apakah calon daerah otonom baru tersebut dapat mendukung perkembangan daerahnya sendiri kedepan nanti sebagai sebuah daerah otonom baru.
a. Sumber Daya Manusia
Indeks Pembangunan Manusia
Pembangunan manusia merupakan salah satu indikator terciptanya pembangunan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dan memperoleh pendapatan, kesehatan pendidikan dan sebagainya. IPM merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia
Kabupaten/Kota
Luas (Km2)
%
Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Selatan Bolaang Mongondow Timur Bolaang Mongondow Utara Kota Kotamobagu
2 871,65 1 615,86 910,18 1 680,00
68,06
20,73 11,67 6,57 12,13 0,49 Bolaang Mongondow Raya 7 145,75 52
Rencana Pembentukan Daerah Otonom Baru| viii (masyarakat atau penduduk), IPM dapat
menentukan peringkat atau level pembangunan suatu wilayah atau negara.
Human Development Index (HDI)/ Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terdiri dari indeks ekonomi (pendapatan riil per kapita), indeks pendidikan yaitu angka melek huruf (HLS) dan rata lama sekolah (RLS), serta indeks kesehatan berupa angka harapan hidup waktu lahir (AHH).
Tabel 5
Tingkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Berdasarkan Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara
Tahun 2017
Kabupaten/Kota AHH HLS RLS Pengeluara
n Perkapita IPM Bolaang Mongondow
Bolaang Mongondow Selatan
Bolaang Mongondow Timur
Bolaang Mongondow Utara
Kota kotamobagu
68,61 64,03
67,32
66,98
69,72 11,16 12,22
11,47
11,87
12,68 7,38 7,72
7,53
7,86
9,98
9.761 8.452
8.568
8.739
10.366
66,08 64,05
64,73
65,60
72,00 Bolaang Mongondow
Raya
- - - - -
Kepulauan Sangihe Siau Tagulandang Biaro
Kepulauan Talaud Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Minahasa Utara Kota Manado Kota Bitung Kota Tomohon
69,35 69,85
69,48 70,46 69,24 69,58 70,86 71,34 70,54 71,34
11,90 11,32
12,14 13,94 11,76 11,71 12,45 14,11 12,25 14,16
7,89 8,56
8,93 9,55 8,72 8,51 9,32 11,03 9,64 10,24
11.111 7.812
8.268 12.026 11.162 10.105 11.075 13.477 11.895 11.323
69,14 66,03
67,74 74,59 70,05 68,91 72,20 78,05 72,94 75,34
Sulawesi Utara 71,04 12,66 9,14 10.422 71,66
Sumber: Sulawesi Utara Dalam Angka 2018
Pembangunan Indeks Manusia di Sulawesi Utara cenderung merata hal ini dilihat dari perbedaan antar kabupaten/kota yang tidak signifikan.
Adapun empat kabupaten yang termasuk dalam calon Provinsi BMR memang berada dibawah rata-rata IPM Sulawesi Utara namun tidak terlampau jauh. Rata-rata tingkat indeks pembangunan manusia calon Provinsi Bolaang Mongondow Raya berada pada kategori sedang berdasarkan
standar United Nations Development Programme (UNDP)
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja adalah suatu indikator ketenagakerjaan yang memberikan gambaran tentang penduduk yang aktif secara ekonomi dalam kegiatan sehari-hari merujuk pada suatu waktu dalam periode survei. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dapat diukur dengan cara jumlah angkatan kerja dibagi jumlah penduduk usia kerja dikali 100.
Tabel 6
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Kabupaten/Kota Calon Provinsi Bolaang Mongondow
Raya, tahun 2017
Kabupaten/Kota TPAK (%) Bolaang Mongondow
Bolaang Mongondow Selatan Bolaang Mongondow Timur Bolaang Mongondow Utara Kota Kotamobagu
70 65 64,3 64,10 62,11
Sulawesi Utara 60,85
Sumber: Sulawesi Utara Dalam Angka Tahun 2018, diolah kembali
Tingkat partisipasi angkatan kerja menurut kabupaten/kota calon Provinsi BMR lebih tinggi dari rata-rata TPAK Sulawesi Utara. Hal ini menunjukkan bahwa di Bolaang Mongondow Raya memiliki lapangan kerja yang cukup luas serta minat bekerja oleh penduduk usia kerja cukup tinggi.
Angka Beban Tanggungan (ABT) Rasio ketergantungan adalah suatu ukuran yang menjelaskan mengenai beban yang harus ditanggung oleh pekerja.
Rencana Pembentukan Daerah Otonom Baru| ix Rasio ini menghitung jumlah penduduk
non produktif dan membaginya dengan jumlah penduduk produktif. Angka beban tangguangan adalah angka yang menyatakan perbandingan antara penduduk usia tidak produktif (dibawah 15 tahun dan diatas 65 tahun) dengan usia produktif (antara usia 15 sampai 64 tahun) dikalikan 100. Angka Beban Tanggungan dapat dihitungan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Angka Beban Tanggungan (ABT) Formula : ABT = P0-14 + P65 / P15-64 x 100
Tabel 7
Angka Beban Tanggungan Menurut Kabupaten/
Kota Calon Provinsi Bolaang Mongondow Raya, Tahun 2017
Kabupaten/Kota Usia Produktif
Usia Non
Produktif ABT Bolaang Mongondow
Bolaang Mongondow Selatan
Bolaang Mongondow Timur
Bolaang Mongondow Utara
Kota Kotamobagu
159.213 64.171
47.980
50.947
86.113
81.292 23.047
22.630
27.490
37.759
50 36
47
54
44 Sumber: Masing-masing Kabupaten/Kota Dalam Angka 2018, diolah kembali
Berdasarkan perhitungan diatas diketahui bahwa angka beban tanggungan di tiga kabupaten dan di Kotamobagu tergolong dalam kategori rendah yaitu sama dengan atau dibawah 50 dan yang diatas 50 atau masuk kategori sedang yaitu hanya Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Dengan rendahnya ABT ini maka Bolaang Mongondow Raya memiliki
kondisi ekonomi yang baik karena rendahnya penduduk non produktif yang harus ditanggung oleh penduduk produktif.
Sosial Budaya
Guiso et al. (2006, 23-24) mencoba memberikan pemahaman yang sederhana dalam mendefinisikan nilai-nilai budaya dan pengaruhnya terhadap hasil-hasil ekonomi.
Bolaang Mongondow adalah salah satu daerah yang dimana adat istiadat masih ikut berperan aktif dalam penyelenggaran kehidupan masyarakat sehari-hari mulai dari gaya hidup sampai ikut andil dalam perumusan kebijakan pemerintah daerah. Sejak semula, masyarakat Bolaang Mongondow mengenal tiga macam cara kehidupan bergotong royong yang masih terpelihara dan dilestarikan terus sampai sekarang ini, yaitu: Pogogutat (potolu adi’), Tonggolipu’, Posad (mokidulu). Adat Pogogutat yang artinya persaudaraan atau kekeluargaan adalah salah satu yang paling terkenal dan sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat mongondow. Tradisi ini dipimpin atau dikelola oleh yang namanya Rukun Pogogutat, dalam kehidupan masyarakat mongondow jika ada satu keluarga yang akan melaksanakan suatu acara atau hajatan maka masyarakat lainnya akan membantu dalam pelaksaan acara tersebut. Bantuan berupa materil maupun sembako yang akan diberikan kepada yang punya acara dan akan turut menyumbangkan tenaga mulai dari sebelum sampai sesudahnya acara berlangsung.
Keterangan :
ABT Tinggi : ≥ 70 ABT sedang : 51 – 69
ABT Rendah : ≤ 50
Rencana Pembentukan Daerah Otonom Baru| x Adapun slogan atau moto hidup
dari masyarakat Bolaang Mongondow yaitu mototabian, mototanoban, bo’
mototompiaan yang masih dijunjung tinggi saat ini. Mototabian berarti saling menyayangi, mototanoban berarti saling mengasihi, dan mototompiaan yaitu saling memperbaiki. Hal inilah yang menjadikan masyarakat Bolaang Mongondow memiliki rasa persatuan dan persaudaraan yang kuat.
Rasa persatuan inilah sehingga mendukung terbentuknya hubungan yang baik antara pemerintah dan masyarakat yang dapat menjadi potensi dimana dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Bolaang Mongondow Raya sebagai suatu daerah otonom baru kedepannya.
b. Ketersediaan Sumber Daya Alam Sumber daya alam adalah semua kekayaan berupa benda mati maupun benda hidup yang berada di bumi dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia (Abdullah, 2007:3). Tidak dapat dipungkiri bahwa sumber daya alam merupakan salah satu faktor yang mendukung keberhasilan otonomi daerah mengingat bahwa sumber daya alam adalah salah satu faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi suatu daerah jika dapat dikelola secara optimal. Calon Provinsi Bolaang Mongondow Raya jika dilihat dari aspek geografis wilayah terdiri dari daerah pegunungan, perbukitan dan daerah pesisir yang menjadikan memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah.
Tabel 8
Potensi Sumber Daya Alam Berdasarkan Jenis Usaha Calon Provinsi Bolaang Mongondow Raya
Sektor Bolmong Bolsel Boltim Bolmut kk Sulut
Pertanian (Ha) Tanaman Sayuran (Ha) Perikanan (Ton) Perkebunan (Ha) Kehutanan
63.351
50.690
272,60
39.188
17.030 1.816
438
77,2
12.992
21.218 3.645
5.260
530,4
-
11.137 19.797
107
167,6
-
5.983 3.664
39
64,6
-
1.974 122.139
68.201
3.991
395.433
64.367
Sumber: Provinsi Sulawesi Utara Dalam Angka 2018
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat calon Provinsi BMR memiliki potensi yang besar khususnya pada sektor pertanian dan pada tanaman sayuran yaitu masing-masing 75 % dan 83 % serta sektor kehutanan yaitu 69 % dari total Sulawesi Utara. Adapun pada sektor perikanan dan perkebunan tidak terlalu berkontribusi pada total Sulawesi Utara yaitu masing-masing 14 % dan 16 %. Dari perhitungan diatas dapat dilihat bahwa dari 5 sektor yang ada, 4 sektor diantaranya memiliki tingkat kontribusi yang tinggi pada Sulawesi Utara.
Selanjutnya analisis komparatif wilayah yaitu dengan alat analisis Location Quotient (LQ) untuk melihat tingkat kemandirian wilayah sehingga dapat diketahui apakah potensi suatu calon daerah otonom baru dapat menunjang atau memenuhi kebutuhan daerahnya sendiri.
Analisis LQ selain digunakan untuk mengetahui sektor basis ekspor juga untuk mengetahui apakah potensi yang ada sudah bisa memebuhi kebutuhan daerahnya sendiri atau tidak. Berikut