Gambaran Umum Kondisi Geografis
Kelurahan Tigarunggu merupakan bagian dari daerah Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun. Kelurahan Tigarunggu berada pada ketinggian +
Batas Utara : Pematang Purba
1.300 mdpl dan memiliki topografi bertipe tinggi (termasuk dalam dataran tinggi), dengan suhu rata-ratanya adalah 22oC. Luas daerah Kelurahan Tigarunggu adalah 2.097 hektar, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
Batas Selatan : Kecamatan Dolok Pardamean Batas Barat : Purba Tongah
Batas Timur : Kecamatan Raya
Kondisi Pertanian Aktual
Daerah Kelurahan Tigarunggu memiliki wilayah yang cocok terhadap sektor pertanian, terutama pada tanaman keras seperti kopi. Oleh karenanya, sebagian besar penduduk Kelurahan Tigarunggu bermata pencaharian sebagai petani.
Di Kelurahan Tigarunggu terdapat beberapa komoditi pertanian yang sering diusahakan, seperti : jagung, ubi jalar, tomat, cabai merah, kentang, kubis, kopi, dan jeruk. Sebagian besar petani di Kelurahan Tigarunggu berusaha tani kopi. Luas tanaman kopi di Kelurahan Tigarunggu sebesar 280 Ha, penduduk
Cut Farhani Rizky : Hubungan Dinamika Kelompok Tani Dengan Produktivitas Dan Pendapatan Usaha Tani Kopi (Kasus : Kelurahan Tigarunggu, Kabupaten Simalungun), 2010.
yang berusaha tani kopi ada sekitar 851 KK petani yang sudah termasuk dalam 36 kelompok tani kopi. Data-datanya dapat dilihat pada lampiran 1.
Kondisi Kelembagaan Agribisnis
Kelurahan Tigarunggu merupakan daerah yang memiliki beberapa Kelompok Tani. Jumlah Kelompok Tani di Kelurahan Tigarunggu sebanyak 43 Kelompok Tani, dari 43 kelompok tani tersebut ada sebanyak 36 kelompok tani kopi, yang akan menjadi fokus pada pembahasan dalam penelitian ini. Pada dasarnya Kelompok Tani dibentuk atas dasar :
1. Domisili (tergantung pada tempat tinggal).
2. Hamparan (pada satu daerah berusaha tani dengan komoditi yang sama). 3. Kebutuhan (tergantung pada kebutuhan petani).
Pembentukan Kelompok Tani di Kelurahan Tigarunggu umumnya didasarkan atas campuran antara domisili dan hamparan.
Lembaga Penunjang Pertanian
PT.Allegrindo Nusantara adalah peternakan babi nomor 2 terbesar di Asia Tenggara, setelah peternakan babi di Kepulauan Riau, PT.Allegrindo Nusantara adalah anak cabang dari PT.Domba Mas Group yang terletak di daerah Tanjung Morawa, Medan. PT.Allegrindo Nusantara mempunyai luas areal peternakan ±126 Ha, dengan luas areal produksi 30 Ha, diperkirakan memiliki jutaan ekor babi yang setiap harinya dikirim ke Medan atau sesuai pesanan dari pihak yang membutuhkan. Selebihnya adalah tempat sanitasi babi, dan perumahan karyawan.
Cut Farhani Rizky : Hubungan Dinamika Kelompok Tani Dengan Produktivitas Dan Pendapatan Usaha Tani Kopi (Kasus : Kelurahan Tigarunggu, Kabupaten Simalungun), 2010.
Secara tidak langsung PT.Allegrindo dapat menjadi lembaga penunjang pertanian, dalam hal memberikan kotoran ternaknya sebagai pupuk untuk usaha tani mereka.
Sampai saat ini PT.Allegrindo Nusantara menjadi kontroversi bagi sebagian besar masyarakat Tigarunggu, beberapa masyarakat menyatakan bahwa dampak negatif dari PT.Allegrindo Nusantara sangat mengganggu ketentraman warga, misalnya: banyaknya lalat dan nyamuk dalam bentuk dua kali ukuran normal karena mengkonsumsi kotoran babi yang mengandung hormon, serta diberikannya suntik hormon kepada ternak apokir (yang tidak mampu bereproduksi) agar tetap bereproduksi, hal ini sangat tidak layak dikonsumsi oleh masyarakat luas.
Bau bangkai yang sering timbul dari PT.Allegrindo Nusantara menyebabkan warga terkadang harus menggunakan masker, timbulnya polusi udara dan air oleh limbah PT.Allegrindo yang tidak dikelola dengan sempurna.
Menurut warga kotoran babi tersebut langsung dibuang ke jalanan atau di depan pekarangan warga, sehingga menimbulkan bau tak sedap, terutama pada saat musim hujan. Serta ada pendapat dari beberapa warga setempat bahwa limbah dibuang ke Danau Toba sehingga mencemari kawasan Danau Toba. Warga setempat juga merasa adanya ketidakadilan, karena tenaga kerja yang dipakai adalah tenaga kerja dari luar daerah yang dirubah kartu Tanda Pengenalnya menjadi penduduk Tigarunggu.
Hal ini dibantah oleh pihak PT.Allegrindo Nusantara yang diwakili oleh Bapak Simbolon (Humas PT.Allegrindo Nusantara). Menurut beliau limbah sudah memenuhi standar sterilisasi, dan ternak tidak pernah diberikan suntik hormon,
Cut Farhani Rizky : Hubungan Dinamika Kelompok Tani Dengan Produktivitas Dan Pendapatan Usaha Tani Kopi (Kasus : Kelurahan Tigarunggu, Kabupaten Simalungun), 2010.
Gambar 2. PT.Allegrindo Nusantara Gambar 3. Tempat Sanitasi Mobil yang
Akan Memasuki Kandang Babi serta karyawan adalah 80% dari pemuda Tigarunggu. Untuk jelasnya dapat dilihat pada gambar 2 dan 3.
Namun menurut sebagian warga ada juga beberapa dampak positif berdirinya PT.Allegrindo Nusantara yaitu: daerah Tigarunggu semakin maju dan ramai, serta ekonomi masyarakat membaik, dan sebagian warga dapat menggunakan kotoran babi tersebut sebagai pupuk untuk tanaman kopi dan hortikultura mereka.
Struktur Penduduk
1. Distribusi Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Penduduk di Kelurahan tempat penelitian berjumlah 6,578 jiwa dengan perincian sebagai berikut:
Tabel 6. Distribusi Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kelurahan Tigarunggu Tahun 2008
No Jenis kelamin Jumlah (jiwa) Persentase (%) 1 Laki-laki 3,145 47.81 2 Perempuan 3,433 52.19 Jumlah 6,578 100.00
Cut Farhani Rizky : Hubungan Dinamika Kelompok Tani Dengan Produktivitas Dan Pendapatan Usaha Tani Kopi (Kasus : Kelurahan Tigarunggu, Kabupaten Simalungun), 2010.
Dari tabel 6 dapat dilihat bahwa jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah pria. Jumlah penduduk laki-laki sebanyak 3,145 jiwa dengan persentase 47.81%, sedangkan jumlah penduduk wanita 3,433 jiwa dengan persentase 52.19%.
2. Distribusi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
Distribusi penduduk menurut tingkat pendidikan adalah sebagai berikut:
Tabel 7. Distribusi penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Kelurahan Tigarunggu Tahun 2008
No Jenis Pendidikan Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
1 TK 20 0.6 2 SD 2,221 62.2 3 SMP/SLTP 599 16.5 4 SMA/SLTA/Pendidikan Agama 615 17.2 5 Akademi/D1 – D3 68 2.1 6 Sarjana/S1 – S3 50 1.4 Jumlah 3,573 100.00
Sumber : Kantor Camat Purba tahun 2009
Dari tabel 7 dapat dilihat bahwa jumlah penduduk yang lulus pendidikan Sekolah Dasar lebih banyak yaitu berjumlah 2,221 jiwa dengan pesentase 62.2%. Sedangkan yang paling rendah adalah pada jenjang pendidikan Taman Kanak- kanak jumlah penduduk yang pernah merasakan pendidikan tersebut adalah 20 jiwa dengan persentase 6%.
3. Distribusi Penduduk Menurut Tingkat Ketenagakerjaan
Tabel 8. Distribusi Penduduk Menurut Tingkat Ketenagakerjaan di Kelurahan Tigarunggu Tahun 2008
No Jenis Mata Pencaharian Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
1 Karyawan: a. PNS b. ABRI c. Swasta a. 130 b. 12 c. 55 a. 5.91 b. 0.55 c. 2.50 2 Wiraswasta 49 2.23 3 Tani 1,948 88.59 4 Pertukangan 5 0.22 Jumlah 2,199 100.00
Cut Farhani Rizky : Hubungan Dinamika Kelompok Tani Dengan Produktivitas Dan Pendapatan Usaha Tani Kopi (Kasus : Kelurahan Tigarunggu, Kabupaten Simalungun), 2010.
Dari tabel 8 dapat dilihat bahwa jumlah penduduk bekerja sebagai tani sangat tinggi dengan jumlah 1,948 jiwa dan persentase sebesar 88.59%. Sedangkan pada ketenagakerjaan dalam bidang pertukangan adalah yang paling rendah dengan jumlah 5 jiwa atau dengan persentase 0.22%.
Sosio Kultural Masyarakat
Masyarakat di Kelurahan Tigarunggu masih sangat menjunjung tinggi adat-istiadat dan kebudayaan pada daerah mereka, dan dominant masyarakatnya adalah suku Batak Simalungun. Kata “Simalungun" sebagai nama daerah dan nama sukubangsa baru timbul sejak abad ke-18, yakni sesudah dibentuk oleh Dinasti Tuan Sisingamangaraja, raja Batak pada waktu itu.
Simalungun atau Sibalungun berarti "sunyi" atau "lengang", maksudnya adalah "negeri yang ditinggalkan". Memang pada masa itu daerah ini ditinggalkan oleh rajanya yang bernama Nagur. Oleh orang Batak yang lain Tanah Simalungun disebut juga "Tano Jau", yang didiami oleh orang-orang "Jau". Sebutan orang "Jau" untuk menunjuk orang-orang Batak asli dari sekitar wilayah Danau Toba yang "me-melayu-kan diri" ke daerah rantau dan menyatu dengan orang Melayu. Saat ini sebagian besar orang Simalungun mendiami daerah Kabupaten Simalungun, dan di Kotamadya Pemantang Siantar.
Orang Simalungun tidak terlalu mementingkan soal “silsilah” karena penentu partuturan di Simalungun adalah “hasusuran” (tempat asal nenek moyang) dan tibalni parhundul dalam horja-horja adat. Dahulu kalau orang Simalungun bertemu, bukan langsung bertanya “aha marga ni ham?” tetapi “hunja
Cut Farhani Rizky : Hubungan Dinamika Kelompok Tani Dengan Produktivitas Dan Pendapatan Usaha Tani Kopi (Kasus : Kelurahan Tigarunggu, Kabupaten Simalungun), 2010.
do hasusuran ni ham?” seperti pepatah Simalungun “Sin Raya, sini Purba, sin Dolog, sini Panei. Na ija pe lang na mubah, asal ma marholong ni atei.
Seluruh marga raja-raja Simalungun itu diikat oleh persekutuan adat yang erat oleh karena konsep perkawinan antara raja dengan “puang bolon” (permaisuri) yang adalah puteri raja tetangganya. Seperti raja Tanoh Djawa dengan puang bolon dari Kerajaan Siantar (Damanik), raja Siantar yang puang bolonnya dari Partuanan Silappuyang, raja Panei dari putri raja Siantar, raja Silau dari put ri raja Raya, raja Purba dari putri raja Siantar dan Silimakuta dari putri raja Raya atau Tongging.
Dalam budaya Batak, kepala adalah anggota tubuh yang paling tinggi martabatnya. Menyentuh kepala seseorang dengan tidak disertai permintaan maaf yang sungguh-sungguh, bisa berakibat parah. Sebaliknya anggota tubuh yang paling rendah derajatnya ialah telapak kaki. Oleh karena itu masyarakat Simalungun sangat menghormati orang yang lebih tua atau orang yang di tua kan di daerahnya, serta pada setiap ketua kelompok tani di Kelurahan Tigarunggu sangat disegani dan dihormati oleh anggotanya.
Adalah penghinaan besar jika seseorang berkata kepada seseorang lain : “Ditoru ni palak ni pathon do ho yang artinya Kau ada dibawah telapak kakiku ini", sambil mengangkat kaki memperlihatkan telapak kakinya pada seteru. Penghinaan seperti ini hanya dilontarkan oleh seseorang yang amarahnya sudah memuncak dan sudah siap berkelahi.
Pada zaman dulu, dalam setiap pertemuan, telapak kaki selalu diusahakan tidak nampak ketika duduk bersila, tradisi semacam ini masih tetap dijaga hingga sekarang karena memperlihatkan telapak kaki pada orang lain adalah pelanggaran
Cut Farhani Rizky : Hubungan Dinamika Kelompok Tani Dengan Produktivitas Dan Pendapatan Usaha Tani Kopi (Kasus : Kelurahan Tigarunggu, Kabupaten Simalungun), 2010.
etika yang berat, karena telapak kaki tetap dianggap anggota tubuh yang paling hina derajatnya.
Sebelum terkontaminasi dengan racun-racun pikiran jaman modern, setiap orang Batak, terutama orang tua, cukup menitipkan sebuah tempat sirih (salapa atau gajut), ataupun sehelai ulos, sebatang tongkat, atau apa yang ada pada dirinya sebagai surat jaminan hutang pada pihak yang mempiutangkan, ataupun jaminan janji pada orang yang diberi janji. Walaupun nilai ekonomis barang jaminan bisa saja sangat rendah tetapi barang tersebut adalah manifestasi dari martabat penitip, dan harus menebusnya suatu hari dengan merelealisasikan pembayaran hutang ataupun janjinya.
Rondang bittang adalah kebudayaan yang masih dilaksanakan oleh masyarakat Tigarunggu, biasanya diadakan setiap satu tahun sekali, dalam acara ini akan dipertunjukkan segala kebudayaan Simalungun, seperti: kompetisi tarian, lomba pakaian adat Simalungun, lomba memasak, serta perlombaan olah raga. Rondang bittang ini biasanya dilakukan selama seminggu setelah panen dalam komoditi pertanian dengan maksud memberikan pujian dan berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah diberikan kesejahteraan.
Kelurahan Tigarunggu telah banyak didatangi oleh penduduk luar daerah yang akhirnya bermukim di Tigarunggu, meskipun saat ini sudah banyak penduduk luar (heterogen). Namun penduduk asli Tigarunggu tidak pernah merasa tersisih oleh kedatangan orang asing, malah mereka menjadikan penduduk pendatang sebagai tenaga kerja pada lahan pertanian mereka.
Menurut Betrik (penduduk pendatang di Kelurahan Tigarunggu) mereka dipersatukan oleh ketua adat melalui organisasi pemuda dan masyarakat,
Cut Farhani Rizky : Hubungan Dinamika Kelompok Tani Dengan Produktivitas Dan Pendapatan Usaha Tani Kopi (Kasus : Kelurahan Tigarunggu, Kabupaten Simalungun), 2010.
pembinaan kelompok tani, serta adanya kumpulan arisan (partonggoan) bagi umat kristiani, dan Sarikat Tolong-Menolong (STM) bagi umat Islam.
Kelurahan Tigarunggu mempunyai objek wisata yang banyak diminati oleh wisatawan mancanegara maupun domestik yaitu Simarjarunjung.
Simarjarunjung adalah merupakan perbukitan, yang di bawahnya kita dapat melihat langsung pemandangan Danau Toba, sekitar tahun 1986 Kelurahan Tigarunggu menjadi lintas wisata Simarjarunjung dan Danau Toba hingga sekarang.
Hal ini diharapkan dapat menambah pendapatan masyarakat sekitar, karena biasanya pengunjung perbukitan Simarjarunjung dan Danau Toba akan singgah di pemukiman/kedai warga yang menjual bahan bakar botolan untuk kendaraan bermotor dan buah nenas yang dapat langsung dipetik dari pohon.
Dijadikannya Kelurahan Tigarunggu sebagai lintas wisata akan berdampak positif bagi warga setempat, tumbuhnya kebanggaan warga atas hal tersebut dikarenakan lintas wisata tersebut akan menjadi jalan utama dan menjadi prioritas pemerintah agar jalan tetap bagus (mulus).
Cut Farhani Rizky : Hubungan Dinamika Kelompok Tani Dengan Produktivitas Dan Pendapatan Usaha Tani Kopi (Kasus : Kelurahan Tigarunggu, Kabupaten Simalungun), 2010.