• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Umum Keluarga 1

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 62-65)

BAB 4 DESKRIPSI INFORMAN

4.2 Keluarga 1

4.2.3 Gambaran Umum Keluarga 1

selesai menelepon, GA meminta izin ke peneliti untuk ke kamar mandi terlebih dahulu sebelum melakukan wawancara. GA juga sempat menawarkan peneliti untuk menyantap sarapan. Di meja makan terlihat ada sepiring gorengan, makanan ringan, dan gelas yang masih digunakan untuk minum. GA mengaku di meja makan tersebut memang tidak ada nasi atau lauk pauk karena sudah tidak ada lagi kegiatan masak-memasak di rumah ini.

Wawancara dilakukan kembali di ruang tamu. Selama proses wawancara, GA tidak melakukan kegiatan yang menggangu proses wawancara. Dengan posisi duduk yang tegap, sesekali GA meneguk secangkir kopi yang sudah dibuatnya sendiri. Awalnya saat pertama kali ingin meneguk kopinya, GA terlihat enggan untuk memimun kopinya karena takut akan menganggu jalannya proses wawancara. Namun kemudian peneliti memberitahukan agar GA bisa bersantai dan dapat menikmati kopinya. Sikap GA fokus dalam menjawab pertanyaan yang peneliti berikan. Hanya saat di tahap akhir wawancara, Bi tiba-tiba datang ke ruang tamu untuk sekedar mendengarkan jalannya wawancara sambil sesekali memberikan pendapat yang Ia miliki.. Namun, hal ini tidak terlalu berdampak dalam proses wawancara.

Secara keseluruhan proses wawancara ini berjalan secara lancar. GA terlihat seperti individu yang ceria dan mudah bergaul dengan masyarakat. Saat wawancara pun tak jarang Ia tertawa dan mengeluarkan sedikit candaan. Setelah proses wawancara selesai, GA, Bi, dan peneliti sempat mengobrol tentang berbagai macam hal. Sikap GA dan anaknya saat berbicara terlihat sangat santai dan tidak ada kekakuan di antara mereka. Mereka berbicara saling antusias satu dengan yang lainnya, terlihat sangat santai, dan tidak kaku antara satu dengan yang lainnya. Setelah itu GA pun harus bersiap-siap untuk pergi ke pengajian rutin di hari Minggu.

4.2.3 Gambaran Umum Keluarga 1

Pasangan suami istri T dan GA menikah pada bulan januari tahun 1889. Keduanya bertemu saat sama-sama berada di bangku perkuliahan di Universitas Indonesia. Pasangan ini dikaruniai 2 orang anak yaitu perempuan (Bi) dan laki-laki (Ba). Bi saat ini sedang dalam tahap menyelesaikan kuliahnya di Universitas

49

Indonesia. sedangkan Ba saat ini sedang duduk di bangku SMA di sebuah pesantren yang tak jauh dari rumah. Keduanya menganut agama islam dan bersuku Jawa. Latar belakang keluarga T berasal dari Jawa Tegal dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga wiraswasta. Sedangkan latar belakang keluarga GA berasal dari Jawa Tengah dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga pegawai.

Setelah menikah, T dan GA merupakan pasangan yang sama-sama menghasilkan sumber daya ekonomi. Hal ini karena sejak awal mereka sudah memiliki sebuah komitmen yang telah disepakati sebelum menikah. Keduanya bekerja di Kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat. Di awal, juga T memiliki komitmen bahwa pada usia ke 50 tahun, Ia tidak ingin tetap bekerja sebagai pegawai kantoran karena Ia lebih menginginkan untuk beralih menjadi wiraswastawan. Pada tahun 2007 saat dirinya berusia 48 tahun, Ia menderita sakit tekanan darah tinggi yang membuatnya harus segera berhenti dari pekerjaannya lebih cepat dari yang telah Ia rencanakan sebelumnya.

―ya sebetulnya alasan yang paling utama itu saya kan udah ini, dari awal sudah punya komitmen. Di umur yang ke 50 saya sudah harus berhenti kerja. Kenapa? Karena cara berpikir saya begini.. di usia 50 nanti, saya nggak mau masih jadi kuli lah istilahnya. Dan saya memulai wiraswasta juga semenjak masih kerja. Jadi nggak bener-bener dari 0 setelah saya nggak kerja memulainya. Jadi memang sudah punya rencana sendiri bahwa saya harus berhenti ngantor saat usia saya 50 tahun. Namun di dalam perjalanannya, saat usia saya 48 tahun, saya sakit. Tekanan darahnya tinggi. Nah karena itu saya harus berhenti bekerja lebih awal dari yang saya targetkan sebelumnya.‖ (hasil wawancara peneliti dengan informan T pada tanggal 12 Maret 2012)

Kemudian T melanjutkan tekadnya setelah berhenti kerja, yaitu dengan memiliki usaha sendiri. Berbagai macam usaha sudah Ia coba, seperti membuka kafe, berjualan baju, memiliki jasa taxi, dll. Sampai akhirnya Ia memfokuskan pada usaha rental mobil yang selalu buka dalam 24 jam. Jika ada orang yang ingin menyewa mobilnya, T hanya akan langsung menghubungi supir-supir yang Ia miliki untuk menjalankan perintahnya sesuai dengan keinginan konsumen. Usaha rental mobil ini merupakan usaha yang dapat dikelola dari rumah sehingga tidak mengharuskan T untuk meninggalkan rumah. Hal inilah yang kemudian membuat T lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan Ia pun turut membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, sekaligus mengurus keperluan anak-anak.

50

―… dan sekarang pekerjaan yang jalan yaitu saya buka rental mobil. nah, jadi itulah pekerjaan yang notabene saya geluti sekarang ini dan pekerjaan merentalkan mobil jadi itu tidak seperti pekerjaan yang harus ngantor, jadi itu bisa dikendalikan dari rumah karena saya lebih banyak memakai mobil sendiri dan saya punya sopir-sopir yang siap untuk diperintahkan oleh saya kapan saja…‖ (hasil wawancara peneliti dengan informan T pada tanggal 12 Maret 2012)

Sejak berhenti kerja, keluarga 1 memutuskan untuk tidak menggunakan jasa pembantu rumah tangga lagi. Alasannya adalah karena pembantu rumah tangga yang terakhir mereka gunakan memutuskan untuk menikah, T yang sudah berhenti bekerja sehingga harus mulai dibuat pengurangan biaya kehidupan sehari-hari, anak-anak yang sudah besar sehingga tidak membutuhkan pengasuh khusus, dan mereka juga menganggap bahwa mereka dapat mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri. Hingga akhirnya T ikut mengambil peran dalam mengurus pekerjaan rumah tangga, seperti mencuci pakaian, mencuci piring, dan menyetrika. Selain itu T juga lah yang memegang tanggung jawab dalam bidang domestik.

―Itu pertama karena pembantunya menikah.. oh, karena bapaknya kan udah nggak bekerja, jadi untuk pengurangan biaya. abis itu anak-anak juga udah besar, jadi bisa diatasin sendiri deh. pembantu cuma nonton sinetron. ternyata zaman sekarang anak-anak udah besar, nggak terlalu perlu lagi gitu‖ (hasil wawancara peneliti dengan informan GA pada tanggal 29 April 2012)

―Ketika saya mengambil alih pekerjaan wanita (pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh wanita) itu seperti mencuci pakaian, menyetrika, kemudian mencuci piring itu saya lakukan sendiri karena sejak saya berhenti bekerja itu saya sudah tidak memakai pembantu lagi. Pembantu saya stop karena semuanya saya tekel sendiri‖ (hasil wawancara peneliti dengan informan T pada tanggal 12 Maret 2012)

T menjalani pekerjaan domestik ini dengan senang hati dan tidak merasa terbebani. Berbeda dengan istrinya, GA yang sehari-harinya lebih banyak menghabiskan waktu untuk pekerjaan di kantornya. Peran GA di dalam keluarga juga mengimbangi apa yang dikerjakan oleh suaminya, yaitu dalam aspek mencari nafkah. Setelah T memutuskan untuk menjadi wiraswastawan, hal ini berdampak dalam segi ekonomi, yaitu distribusi GA dalam menghasilkan sumber daya ekonomi lebih besar bila dibandingkan dengan dirinya. Hal ini yang membuat keduanya saling membagi pekerjaan sebagai orang tua, misalnya saat GA harus bekerja, T lah yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

―Saya melakukan aktifitas dirumah yang bisa juga kalau meng-handle beberapa pekerjaan yang sebetulnya maksudnya, biasanya dikerjakan oleh perempuan nah itu saya ambil alih.

51

Jadi relatif apa yang dikerjakan oleh istri saya itu adalah bisa dibilang 80% pekerjaan kantor selebihnya mengenai katakanlah semacam pengasuhan anak. Anak saya sudah besar-besar ada yang mahasiswa dan ada yang masih SMA itu lebih banyak saya kendalikan sebagai… pengendalinya saya… sebagai kepala keluarga dan itu bisa sambil jalan tidak ada yang berat.‖ (hasil wawancara peneliti dengan informan T pada tanggal 12 Maret 2012)

―Eeem... sekarang kan karena kita tuh sama kan ya laki-laki dan perempuan.. memang kebetulan kan aku eeem.. ikut mencari nafkah yang termasuk lebih besar gitu kan dari suamiku.. jadi nah semua serba ditanggung bersama. Jadi anak itu nggak harus tanggung jawabnya si ibu misalnya. Jadi kebetulan kalo secara finansial mungkin aku lebih menghasilkan gitu. Jadi yaa.. ditanggung sama-sama gitu.. misalnya suami juga ngurusin anak, kita juga ngurusin anak gitu.. ―(hasil wawancara peneliti dengan informan GA pada tanggal 29 April 2012)

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 62-65)

Dokumen terkait