• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 GAMBARAN UMUM KERETA API PATAS PURWAKARTA

Pola Operasi KA. Patas Purwakarta

Kereta api merupakan salah satu transportasi publik yang banyak digunakan oleh masyarakat. Kereta api memegang peranan strategis karena keunggulan-keunggulannya. Menurut Munawar (2005) kereta api memiliki keunggulan diantaranya; (1) angkutan massal yang dapat mengangkut penumpang dalam jumlah banyak, (2) angkutan yang tidak polutif, (3) tidak boros energi dan ruang, (4) lebih aman dan lancar karena memiliki jalur sendiri dan apabila terdapat persilangan dengan jalan raya, maka kereta api akan didahulukan, (5) efisien untuk lalu lintas kota yang padat penduduk.

Keunggulan-keunggulan tersebut menjadikan kereta api sebagai moda transportasi strategis yang berperan dalam mobilitas komuter dari wilayah pedesaan ke wilayah perkotaan termasuk kereta api Patas Purwakarta. Kereta api patas ekonomi Purwakarta atau lebih sering disebut Patas Purwakarta atau Patas PWK adalah kereta api kelas ekonomi (sekarang disamakan dengan kereta api lokal) yang melayani rute Purwakarta – Jakarta Kota pp.

Kalangan komuter maupun masyarakat umum awam beranggapan bahwasannya Patas PWK sama saja dengan kereta api lokal ekonomi yang biasa disebut dengan odong-odong, mungkin karena lintasan yang dilalui sama atau tidak ada pembeda yang signifikan, bahkan dikarcisnya pun antara odong-odong

dan patas disamakan, dengan bertulisan “Patas Ekonomi Purwakarta”, padahal di dalam grafik Perjalanan Kereta Api terlihat jelas perbedaan namanya.

Sebelum adanya penamaan kereta api kelas ekonomi yang banyak seperti sekarang, tata penamaan kereta api kelas ekonomi banyak yang hanya memakai embel-embel “KA CEPAT, KA. PATTAS, dan KA. EKSPRES ”, contohnya : KA. CEPAT SLO-PSE, KA. PATTAS ML-SB. Nama-nama kereta tersebut diantaranya KA Patas Purwakarta. Patas Purwakarta sudah lahir sejak jaman PJKA yakni pada tahun 1971. Dahulu kereta api ini bernama KA. CEPAT. Pada awalnya kereta api ini berbagi rangkaian dengan KA Cepat Jakarta-Bandung PP. Karena KA. PARAHYANGAN laku keras maka KA. Cepat Jakarta-Bandung PP memanjang rutenya sampai stasiun Sidareja dan dikenal menjadi KA Patas/Cepat Sidareja (Muhammad 2005).

Saat masih berbagi rangkaian dengan KA Cepat Sidareja, kereta api mempunyai pola operasi mulai dari stasiun Purwakarta berangkat pukul 05.20 WIB sampai Jakarta Kota sekitar pukul 07.59 WIB. Atau kalau yang ingin lebih pagi, maka berangkat dari Cikampek pukul 04.30 dan sampai ke stasiun Jakarta Kota pukul 06.47 WIB. Setelah stabling sebentar di DIPO DAO, siangnya sekitar pukul 12.00 diberangkatkan kembali menuju Sidareja dengan nama KA Patas Sidareja (https:// id.wikipedia.org/wiki/Kereta_api_lokal_Purwakarta).Dari stasiun Siareja kereta diberangkatkan pada subuh dini hari sekitar pukul 05.00 WIB dan sampai stasiun Jakarta Kota sekitar pukul 12.00 WIB kemudian stabling di DIPO DAO. Setelah pukul 17.00 WIB kereta diberangkatkan kembali dari stasiun Jakarta Kota menuju stasiun Purwakarta dengan nama KA Patas Purwakarta.

Setelah Patas Sidareja tidak beroperasi, KA Patas Puwakarta sering berbagi rangkaiannya dengan KA Patas Merak. Namun sejak tahun 2004-an sampai sekarang KA Patas Purwakarta memiliki rangkaian sendiri walaupun dalam seminggu terkadang sering bertukar rangkaian dengan KA Ekonomi Lokal yang memiliki rute yang sama dengan KA Patas Purwakarta.

KA. Patas Purwakarta hanya berhenti di stasiun yang telah ditentukan oleh PJKA sedangkan halte dan pos pemberhentian berjalan langsung. Stasiun pemberhentian dimulai dari stasiun Purwakarta – Cibungur – Cikampek – Dawuan – Kosambi – Klari – Karawang – Kedung Gedeh - Lemahabang – Cikarang – Tambun – Bekasi – Cakung – Klender – Jatinegara – Pasar Senen – Kemayoran – Kampung Bandan – Jakarta Kota. Semenjak kebijakan - kebijakan baru tahun 2013, KA. Patas Purwakarta tidak berhenti lagi di stasiun Kranji, Cakung, Klender Baru, Buaran, Klender, Jatinegara, Kramat, Kramat Sentiong, dan Kampung Bandan (Pratiwi 2013). Sebelum ada kebijakan tahun 2013 terkadang KA. Patas Purwakarta berhenti di halte Cibitung dan Sadang (dalam T100 menyebutnya berhenti sebentar). berikut gambar pos-pos pemberhentian KA. Patas Purwakarta yang dilalui:

Gambar 3. Jalur KA. Patas Purwakarta

Jumlah armada yang terbatas menyebabkan kereta api Patas Purwakarta selalu penuh dan padat saat jam-jam sibuk, baik pada pagi hari dan sore hari. Komuter yang menaiki kereta api Patas Purwakarta umumnya adalah pekerja dengan tujuan wilayah kota Jakarta. Para komuter ini lebih memilih menggunakan kereta api sebagai moda transportasinya menuju ke Jakarta dengan alasan lebih ekonomis dibandingkan dengan naik kendaraan lain seperti bus. Selain itu waktu tempuh menggunakan kereta api jauh lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan bus atau kendaraan pribadi. Komuter yang menaiki kereta api Patas Purwakarta setiap harinya pada jam-jam sibuk selalu sama orangnya pada setiap gerbong. Komunikasi pun tercipta diantara sesama komuter di gerbong dengan saling bertegur sapa dan mengenal satu sama lainnya. Komunikasi dan interaksi yang terjalin kian hari semakin intensif dan dekat. Komunikasi dan interaksi yang intensif di dalam gerbong kereta membentuk kelompok-kelompok sosial setiap gerbongnya yang memiliki berbagai macam aktivitas. Kelompok

sosial dalam kereta terbentuk pada awal tahun 1990-an. Terbentuknya kelompok sosial karena masing-masing penumpang “tetap” memiliki tujuan yang sama, yaitu rasa aman dan nyaman selama dalam perjalanan. Selain itu berbagai aktivitas yang dilakukan dalam gerbong menciptakan kohesivitas diantara sesama penumpang. Kohesivitas diantara sesama penumpang muncul dari adanya perasaan senasib dan sepenanggungan selama dalam perjalanan menggunakan kereta api dengan kondisi gerbong yang penuh dan padat. Namun dari delapan rangkaian gerbong KA. Patas Purwakarta, gerbong empat memiliki bentuk komunikasi yang berbeda dengan gerbong yang lainnya. Selain itu kebersamaan dalam kelompok tidak hanya sebatas dalam gerbong saja, tetapi juga di luar gerbong.

Momentum pesta perkawinan, sunatan di rumah anggota kelompok gerbong empat KA.Patas Purwakarta menjadi sarana berkumpul di luar gerbong kereta untuk menjalin keakraban dan kedekatan sesama penumpang kereta gerbong empat. Dari pertemuan yang tidak hanya sebatas dalam gerbong tetapi juga di luar gerbong menjadikan penumpang satu dengan penumpang lainnya di gerbong empat merasa dekat bagai keluarga kedua dan tercetus ide untuk membuat kelompok yang diberi nama gerbong empat. Anggota kelompok gerbong empat memperoleh manfaat dari adanya kelompok gerbong empat seperti pertemanan, kebersamaan, perlindungan. Bentuk perlindungan yang diberikan yaitu mendapat prioritas tempat duduk bagi anggota kelompok.

Karakteristik Komuter

Komuter yang menjadi responden ataupun informan dalam penelitian ini adalah anggota kelompok gerbong empat yang menjadi penumpang pada KA. Patas Purwakarta. Jumlah anggota kelompok kurang lebih sebesar 100 orang, sementara total keseluruhan penumpang mencapai 120 orang. Karakteristik anggota kelompok gerbong empat meliputi umur, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, tingkat pengeluaran dan waktu tempuh. Kategori alamat dibagi atas dua, yaitu Bekasi dan luar Bekasi sesuai dengan alamat anggota kelompok gerbong empat yang menjadi penumpang gerbong ke empat KA. Patas Purwakarta. Untuk lebih jelasnya deskripsi mengenai karakteristik anggota kelompok gerbong empat terdapat pada Tabel 3.

Tabel 3 Jumlah dan persentase responden menurut karakteristik anggota kelompok KA.Patas Purwakarta tahun 2014

Karakteristik Jumlah (Orang) Persentase (%)

Umur (tahun) < 25 > 25-50 >50 12 66 8 14 76.7 9.3 Domisili Bekasi Luar Bekasi 65 21 75.6 24.4 Jenis Kelamin Laki Perempuan 44 42 51.2 48.8 Tingkat Pendidikan Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Sarjana 1 1 66 18 1.2 1.2 76.7 20.9 Jenis Pekerjaan Pegawai Negeri Pegawai Swasta Lainnya 5 67 14 5.8 77.9 16.3 Tingkat Pendapatan <Rp 1.000.000 Rp1.000.000– Rp 2.000.000 >Rp 2.000.000 4 21 75 4.7 24.5 70.5 Posisi Pekerjaan Pemilik Karyawan Biasa Lainnya Akses Informasi -Tinggi -Sedang - Rendah 5 66 15 59 21 6 5.8 76.7 17.5 68.6 24.4 7 Keterangan: n = 86 Umur Individu

Dari hasil menunjukkan bahwa umur penumpang KA.Patas Purwakarta pada gerbong empat dengan kisaran 25 sampai dengan diatas 50 tahun dengan jumlah persentase terbanyak pada umur 26-50 tahun dengan persentase sebesar 76.7 %. Usia berkaitan dengan keputusan jarak perjalanan yang di tempuh (Gera dan Paproski 1980). Umur 26-50 merupakan umur yang masih produktif dan efektif untuk beraktivitas sampai ke luar wilayah tempat tinggalnya. Sedangkan persentase terkecil pada umur diatas 51 tahun yang berjumlah 9.3 %.

Domisili

Domisili ataupun tempat tinggal anggota kelompok gerbong empat KA.Patas Purwakarta lebih dari setengahnya bertempat tinggal di wilayah Bekasi. Umumnya mereka tinggal di wilayah Kabupaten Bekasi, seperti ibu Ratih yang telah menjadi penumpang kereta selama kurang lebih 20 tahun berdomisili di wilayah Tambun Kabupaten Bekasi. KA. Patas Purwakarta dan KA. sebagai moda transportasi andalan bagi anggota kelompok yang berdomisili di wilayah Tambun hingga Purwakarta. Dari hasil wawancara dengan mbak Indri, umumnya anggota kelompok memiliki kesamaan wilayah tempat tinggal, karenanya beberapa pertemuan di luar gerbong kereta , titik kumpul biasanya di area parkiran stasiun kereta atau yang mereka sebut showroom. Jumlah anggota kelompok yang memiliki domisili Bekasi sebesar 75.6 %, sementara yang berdomisili di luar Bekasi sebesar 24.4 %.

Jenis Kelamin

Sebesar 51.2 % anggota kelompok adalah laki-laki. Hal ini dapat dipahami karena laki-laki memiliki tanggung jawab dalam mencari nafkah bagi keluarganya, walaupun harus mencari nafkah sampai keluar wilayah tempat tinggalnya. Penumpang perempuan berjumlah 42 orang dari total 86 responden dengan persentase sebesar 48.8%.

Tingkat Pendidikan

Sebagian besar anggota kelompok gerbong empat KA.Patas Purwakarta memiliki tingkat pendidikan hingga SMA sebesar 76.7%. Sementara tingkat kedua adalah tamatan Sarjana (S1). Hal ini sesuai dengan hasil Survei Tenaga Kerja Nasional (Sakernas) tahun 2008, bahwa pendidikan yang yang dimiliki oleh komuter sebagian besar adalah SLTA.

Jenis Pekerjaan

Profesi pekerjaan anggota kelompok gerbong empat KA.Patas Purwakarta adalah pegawai swasta atau hanya sebagai karyawan swasta biasa sebanyak 77.9 %. Seperti yang diungkapkan oleh ibu Ratih yang berprofesi sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan di Jakarta. Ia melakoni pekerjaannya sudah lebih dari 20 tahun. Sementara yang berprofesi sebagai pegawai negeri sebesar 5.8%.

Posisi Pekerjaan

Posisi pekerjaan atau jabatan yang dimiliki di tempat pekerjaan sejalan dengan tingkat pendidikan yang dimiliki oleh anggota kelompok, yaitu sebagai karyawan biasa sebesar 76.7 %. Tingkat pendidikan yang dimiliki oleh responden umumnya adalah tamatan SMA. Pendidikan berkaitan erat dengan jenis pekerjaan, semakin tinggi pendidikan seseorang idealnya berbanding linier dengan jenis pekerjaan (Soepardi 2008). Namun terdapat juga anggota kelompok yang memiliki usaha sendiri seperti berdagang sebesar 5.8%.

Tingkat Pendapatan

Jumlah pendapatan anggota kelompok kereta gerbong empat KA.Patas Purwakarta sebagian besar berada diatas Rp 2.000.000,- yakni sebesar 70.5%. Tingkat pendapatan di atas 2 juta memberi motivasi kepada anggota kelompok untuk bekerja hingga ke luar domisili. Zax mengemukakan bahwa perilaku komuter berkaitan dengan pola perilaku tenaga kerja dan pasar perumahan. Tenaga kerja menganggap harus ada kompensasi dari biaya menjadi komuter melalui upah yang lebih tinggi dan harga perumahan yang lebih rendah (Stutzer dan Frey 2008). Namun demikian masih terdapat jumlah pendapatan yang relatif kecil yakni berjumlah kurang dari Rp 1.000.000,- sebesar 4.7 %.

Akses Informasi

Akses informasi anggota kelompok kereta gerbong empat KA.Patas Purwakarta sebesar 68.6 persen memiliki akses cukup tinggi baik melalui komunikasi tatap muka langsung, media cetak, elektronik maupun media online. Umumnya informasi yang diperoleh dari sesama anggota kelompok selama dalam perjalanan di kereta. Informasi juga diperoleh melalui pesan dari handphone yaitu SMS. SMS biasanya berisi informasi ketidakhadiran anggota, anggota sakit ada keluarga anggota yang tertimpa musibah.

Proses Komunikasi Terbentuknya Kelompok “Gerbong Setan”

Komuter yang ada di gerbong empat adalah potret penumpang kereta api Jabodetabek dan sekitarnya yang setiap hari menggunakan kereta menuju tempat bekerja. Jumlah pekerja yang bermigrasi setiap harinya kian bertambah. Jumlah komuter tahun 2013 sekitar 600.000 per hari. Tahun berikutnya mencapai 700.000 orang dan pada Juni 2015 sudah mencapai 800.000 orang per hari. Pada hari kerja, jumlah komuter bisa mencapai 830.000 orang per hari (Julianery 2015). Stres terjebak kemacetan selama diperjalanan menjadi pemicu komuter beralih menggunakan kereta api. Wener dan Evans (2011) mengungkapkan bahwa komuter yang menggunakan mobil akan mengalami stres yang lebih dibandingkan dengan komuter yang menggunakan kereta api.

Jumlah komuter yang bertambah setiap harinya menggunakan kereta api menyebabkan suasana stasiun sangat ramai baik pada pagi dan sore hari. Pada pagi hari komuter berpakaian rapih diantar kendaraan pribadi atau ojek ke stasiun. Sebagian lagi membawa mobil atau sepeda motor sendiri dan memarkirnya di tempat parkir stasiun. Dari sana, mereka melanjutkan perjalanan ke kantor dengan kereta api.

Namun segala sesuatu ada sisi positif dan negatifnya. Di samping sebagai moda transportasi yang murah dan cepat, ternyata kereta api juga memiliki kelemahan dari sisi kenyamanan dan keamanan. Muchsin (2010) mengatakan bahwa penumpang kereta api selama ini hanya diposisikan sebagai pemakai jasa yang harus pasrah menerima fasilitas yang diberikan oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero).

Kondisi yang sama juga terjadi di KA Patas Purwakarta. Fasilitas yang terdapat pada KA. Patas Purwakarta tidak sesuai dengan UU no 23 tahun 2007 yang menyebutkan bahwa

“Perkeretaapian diselenggarakan dengan tujuan untuk memperlancar perpindahan orang dan/atau barang secara massal dengan selamat, aman, nyaman, cepat dan lancar, tepat, tertib dan teratur, efisien, serta menunjang pemerataan, pertumbuhan, stabilitas, pendorong, dan penggerak pembangunan nasional” (Departemen Perhubungan 2007).

Jumlah armada yang terbatas dan frekuensi keberangkatan yang masih sedikit, terutama pada jam-jam sibuk baik pagi dan sore hari, menyebabkan setiap gerbong di KA. Patas Purwakarta dari Gerbong 1 hingga 8 selalu penuh dan padat oleh komuter yang berasal dari Purwakarta, Cikampek, Karawang, Cikarang hingga Tambun. Umumnya penumpang yang menaiki KA. Patas Purwakarta bekerja di wilayah Jakarta. Tarif KA Patas Purwakarta yang murah menjadikanya sebagai moda transportasi andalan bagi mereka yang bekerja di Jakarta selain belum adanya pilihan untuk kereta yang lebih layak seperti commuter line (CL). Tarif dari stasiun Purwakarta menuju Jakarta sangat murah yaitu Rp 3.500,-, begitu juga sebaliknya. Sementara tarif dari stasiun Tambun menuju Jakarta hanya bertarif Rp 2.000,- . Tarif murah itulah yang menjadi penyebab bapak Chandra (48 tahun) masih bertahan menjadi penumpang kereta sejak tahun 1984. Seperti yang diungkapkan oleh bapak Chandra, 48 tahun.

“Saya naik kereta dari tahun 1984, dari karcis 400 perak sampai harga karcis Rp 2.000”.

Selain bertarif murah waktu berangkat kereta juga sesuai dengan jadwal kerja penumpang. Kereta berangkat dari stasiun Purwakarta pukul 05.20 WIB menuju stasiun Kota. Begitu juga pada sore hari, kereta ini berangkat dari stasiun Kota pada pukul 17.55 WIB. Menurut penumpang waktu ini sesuai dengan jadwal pulang kerja mereka yaitu pukul 17.00 WIB dari kantor. Karena tarif yang dikenakan murah, maka dari sisi pelayanan, keamanan dan kenyamanan penumpang juga sangat ekonomis, tanpa kipas angin, namun memakai air conditioner (AC), walau tidak terasa dingin karena kapasiatas air conditioner (AC) tidak sesuai dengan ukuran ruangan.

Sebagai kereta satu-satunya yang melayani penumpang dari Purwakarta menuju Jakarta Kota, maka kereta yang memiliki gerbong berjumlah delapan ini cukup padat, baik pagi maupun sore hari, saat jam pergi dan pulang kerja. Umumnya penumpang yang berada di setiap gerbong selalu sama orangnya. Kalaupun ada orang yang berbeda menaiki kereta ini, jumlahnya tidak banyak. Jumlah penumpang yang padat dan sebagai kereta satu-satunya bagi mereka yang berdomisili di daerah Purwakarta, Cikampek, Karawang, Cikarang hingga Tambun menyebabkan penumpang kereta Purwakarta saling mengenal dan memiliki keterikatan antara satu dengan yang lainnya. Tidak memberikan tempat duduk kerap dilakukan anggota setiap gerbong kereta Purwakarta kepada penumpang yang bukan anggota kelompok gerbong kereta terutama pada saat jam pulang kerja.

Kondisi gerbong yang padat, penumpang kereta yang selalu sama setiap harinya menyebabkan terbentuknya interaksi yang intensif secara terus menerus

sehingga perbedaan status kelas komuter tidak menjadi halangan dalam proses komunikasi dan interaksi sesama anggota kelompok. Perbedaan latar belakang menjadi ruang diantara sesama anggota untuk saling memahami antara satu dengan yang lainnya.

Pertemuan yang selalu terjadi setiap harinya membentuk kelompok- kelompok sosial dalam gerbong kereta. Hampir setiap gerbong Kereta Api Patas

Purwakarta memiliki “wajah-wajah penumpang” yang sama setiap harinya. Penumpang yang selalu sama dan memiliki tujuan yang sama yaitu rasa aman dan nyaman selama dalam perjalanan saling berkomunikasi dan mengenal lebih dekat. Dinamika komunikasi dan interaksi penumpang KA. Patas Purwakarta yang terbentuk tidak hanya sepintas lalu saja. Komunikasi dan interaksi yang intensif di dalam kereta hingga membentuk kelompok-kelompok sosial setiap gerbongnya yang memiliki berbagai macam aktivitas. Namun dari delapan rangkaian gerbong KA. Patas Purwakarta, gerbong empat memiliki prilaku komunikasi yang berbeda dengan gerbong yang lainnya. Selain itu kebersamaan dalam kelompok tidak hanya sebatas dalam gerbong saja, tetapi juga di luar gerbong.

Momentum pesta perkawinan, sunatan di rumah anggota kelompok gerbong empat KA.Patas Purwakarta menjadi sarana berkumpul di luar gerbong kereta untuk menjalin keakraban dan kedekatan sesama penumpang kereta gerbong empat. Dari pertemuan yang tidak hanya sebatas dalam gerbong tetapi juga di luar gerbong menjadikan penumpang satu dengan penumpang lainnya di gerbong empat merasa dekat bagai keluarga kedua dan tercetus ide untuk membuat kelompok yang diberi nama gerbong empat. Anggota kelompok gerbong empat memperoleh manfaat dari adanya kelompok gerbong empat seperti pertemanan, kebersamaan, perlindungan. Bentuk perlindungan yang diberikan yaitu mendapat prioritas tempat duduk bagi anggota kelompok. Jika ada penumpang lain di luar anggota kelompok yang duduk terlebih dahulu maka, anggota kelompok pria tidak segan-segan mengusir penumpang tersebut bahkan memukul apabila penumpang tersebut tidak mau diusir. Julukan pun muncul dari penumpang lain di luar anggota kereta tersebut. “Gerbong setan”, julukan yang

diberikan kepada gerbong nomor empat dari depan. Nama “Gerbong setan”

diberikan oleh penumpang dari luar gerbong empat. Seperti yang di ungkapkan oleh bapak Ahmad , 37 tahun.

“saya baru pertama kalinya menaiki kereta Patas Purwakarta tersebut, kita sering menyebutnya sebagai kereta odong-odong dulunya karena keretanya jelek dan penumpangnya padat sekali. Ketika sampai di gerbong kereta, saya langsung duduk di tempat yang kosong, namun tidak berapa lama kemudian saya diusir oleh penumpang lainnya dengan mengatakan bahwa tempat yang saya duduki sudah ada penumpangnya. Akhirnya saya berdiri. Tidak berapa lama kemudian ada bapak-bapak duduk ditempat saya duduki, kemudian diusir, namun bapak tersebut tidak mau pindah atau berdiri dengan alasan belum terlihat penumpangnya. Akhirnya bapak tersebut berdebat dan bertahan sampai akhirnya dipukuli oleh penumpang tetap kereta PatasPurwakarta”.

Julukan ini muncul karena penumpang luar melihat reaksi yang ditunjukan

oleh penumpang gerbong empat agak “brutal” dan “sadis” apabila ada penumpang “asing” atau di luar anggota gerbong empat mengancam kenyamanan dan keamanan anggota kelompok gerbong empat. Reaksi “sadis” dan “brutal” ini muncul sebagai perlindungan kelompok terhadap anggotanya. Bahkan menurut bapak Chandra (48 tahun) yang telah menjadi penumpang sejak tahun 1984 mengungkapkan:

Dulu, akhir tahun 1990 an sampai tahun 2000 an kalau ada pencopet yang ketahuan mencopet di gerbong empat, kita lempar. Tapi gak langsung kita lempar, kita kasih makan terlebih dahulu, diberi minum. Sampai di Bekasi kita lempar dari kereta”.

Namun dibalik kesan negatif yang ditangkap oleh penumpang “luar”, ternyata kesan positif justru yang tertanam pada penumpang gerbong empat KA. Patas Purwakarta yang tergabung dalam kelompok. Manfaat menjadi anggota kelompok sangat mereka rasakan, baik itu selama dalam gerbong maupun di luar

Peran dan Partisipasi Anggota Kelompok

Dalam kelompok gerbong empat, setiap individu anggota kelompok tentunya memiliki peran masing-masing untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Setiap anggota memiliki tugas dan fungsi yang bervariasi. Dengan kata lain, anggota kelompok yang berbeda tentu akan memainkan peran yang berbeda. Forsyth (1983) menyatakan bahwa role differentiation adalah perbedaan peran dalam suatu kelompok, misal menjadi pemimpin, pengikut, atau pengeluh. Memainkan peran dalam proses komunikasi tidaklah semudah yang dibayangkan. Peran yang dimainkan oleh setiap anggota kelompok tidak jarang mendapat benturan sehingga menimbulkan konflik dengan anggota lain dalam kelompok. Ketika hal ini terjadi dan tidak segera diatasi maka keberlangsungan kelompok secara tidak langsung akan terancam.

Hal ini pernah terjadi dalam kelompok gerbong empat, dimana konflik kerap terjadi pada awal pembentukan kelompok. Dengan perbedaan latar belakang dan karakter yang dimiliki anggota kelompok tidak jarang menimbulkan

“gesekan” dan salah pengertian diantara anggota kelompok yang berkomunikasi. Salah pengertian dengan ucapan teman yang bernada tinggi pernah menjadi masalah dalam kelompok. Apabila tidak segera diselesaikan, maka akan memicu konflik sesama anggota kelompok dan mengancam keberlangsungan kelompok. Sebelum menjadi besar, biasanya anggota yang lain akan berupaya untuk

mendinginkan suasana hati individu yang mengalami “gesekan”.

Apabila masukan dari anggota kelompok lain tidak berhasil mendinginkan suasana hari anggota yang berkonflik maka peran seorang pemimpin dibutuhkan dalam hal ini. Ada yang berperan sebagai pemimpin sehingga dituntut untuk memberikan nasehat namun tidak terkesan menggurui sehingga kedua belah pihak

Dokumen terkait