1 PENDAHULUAN Latar Belakang
4 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Pengantar
Perubahan ruang wilayah pedesaan akibat pembangunan infrastruktur yang dilakukan secara terintegrasi tentunya mempengaruhi kondisi sosial-ekonomi, dan sosial-ekologis tertentu yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat lokal. Terjadinya reduksi kepemilikan dan penguasaan lahan oleh petani karena semakin tingginya tingkat pelepasan lahan pertanian akan berpengaruh terhadap perubahan struktur sosial, struktur agraria dan sistem nafkah. Untuk mengetahui dinamika perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat lokal di kawasan persawahan yang berbatasan langsung dengan kota besar yang terkena wilayah pembangunan jalan penghubung kawasan Mamminasata, perlu dibahas terkait profil lokasi penelitian dan komunitas di antara dua lokasi yang berbeda secara demografi dan topografi serta sejarah perkembangan komunitas dari dua lokasi tersebut.
Pada bab ini akan digambarkan bagaimana kondisi kelurahan Samata yang berada dalam wilayah tata ruang pembangunan kawasan Mamminasata.
Tabel 1 Pokok Penelitian, Data yang dikumpulkan dan Metode Pengumpulan Data
Pokok Penelitian Data Yang Dikumpulkan Metode
Pengumpulan Data Bagaimana proyek pembangunan Mamminasata tersebut menimbulkan perubahan sosial, ekonomi dan ekologis bagi masyarakat l.okal
o Konsep Pembangunan kota baru Mamminasata (Wilayah yang masuk dalam pembangunan kota baru Mamminasata).
Wawancara, data sekunder dan dokumentasi
o Data konsep keruangan dari proyek Mamminasata
Data sekunder, dokumentasi, wawancara dengan Dinas Tata Ruang
o Proses pelepasan tanah dan registrasi akta tanah oleh pemerintah, perusahaan atau individu o Regulasi yang digunakan pemerintah dan
tindakan pemerintah dan perusahaan terhadap masyarakat yang dikonversi lahannya akibat proyek Mamminasata
Wawancara, Dokumentasi dari Dinas-dinas pemerintahan terkait
o Implementasi nilai-nilai budaya dan tradisi yang berlangsung di masyarakat
o Gangguan ekologis yang dirasakan pasca pembangunan, perilaku masyarakat terhadap lingkungan.
o Pola nafkah masyarakat sebelum dan sesudah adanya pembangunan Mamminasata
o Mmengukur kedalaman tingkat perubahan sistem interaksi masyarakat
Wawancara mendalam ke kasus dan infroman , dokumentasi.
Kelurahan Samata terdiri atas dua lingkungan yaitu Lingkungan Samata dan Lingkungan Borongraukang. Luas Wilayah Kelurahan Samata sebesar 4311 km² dan berbatasan langsung dengan kota Makassar serta berjarak sekitar 3 km dari wilayah pusat kecamatan Somba Opu dan berjarak sekitar 4 km dari ibu kota Kabupaten Gowa, Sungguminasa. Melalui dua lokasi ini, akan dipaparkan bagaimana perbedaan kondisi di antara dua komunitas tineliti. Jarak antara kedua lokasi penelitian yang tidak terlalu jauh (dari kawasan sekitar kotayang terkena modernisasi dari pembangunan) dan bahkan secara administratif masih dalam satu wilayah kelurahan justru memperlihatkan kondisi cukup berbeda di antara keduanya. Pasca pembangunan jalan, jumlah penduduk di Kelurahan Samata semakin meningkat dari tahun ke tahun dan saat ini sudah dihuni oleh 70 persen masyarakat pendatang sementara masyarakat lokal yang merupakan warga etnis Makassar-Samata hanya berjumlah 30 persen. Untuk membatasi lingkup penelitian ini, hanya masyarakat lokal dalam hal ini merupakan masyarakat asli etnis Makassar yang berdomisili di kelurahan Samata yang dijadikan sebagai komunitas yang akan diteliti.
Sejarah Lingkungan Samata :komunitas masyarakat peri-urban
Samata merupakan salah satu wilayah kerajaan Gowa yang berdiri pada abad ke empat belas. Penamaan Samata dahulunya merupakan nama pemberian dari Raja Gowa, dimana dahulu Samata berasal dari kata Saumata yang berarti Passaung mata dalam bahasa Makassar bermakna nikmat dipandang mata. Sebelum kerajaan Gowa berdiri, terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang disebut sebagai Kasuwiyang Salapang (sembilan kerajaan kecil) atau biasa juga disebut Bate salapang (sembilan bendera). Kasuwiyang-kasuwiyang inilah yang menjadi cikal-bakal terbentuknya kerajaan Gowa Makassar, antara lain yaitu: Tombolo‟, Lakiung, Saumata, Parang-parang, Data‟, Agang Je‟ne, Bisei, Kalling dan
Sero‟.Samata termasuk wilayah vorstenlanden (bagian dari wilayah kerajaan) dengan keindahan alam serta lahan sawah dan kebun yang lebih subur dibandingkan wilayah lainnya. Tingkat kesuburan tanahnya sangat tinggi, sehingga produksi kebun dan padi yang dihasilkan berkualitas tinggi. Samata merupakan suatu daerah yang berbentuk distrik atau dalam bahasa Makassar bisa disebut Gallarang. Gallarang adalah kerajaan-kerajaan kecil yang pernah terbentuk di Gowa. Samata lahir karena adanya campur tangan raja Gowa, dimana menjelang abad ke-enam belas, pada masa pemerintahan Raja Gowa VI, Tunatangka Lopi membagi wilayah gallarang- gallarang tersebut menjadi dua bagian untukkedua orang putranya, yaitu kepada Batara Gowa dan Karaeng Loe Ri Sero. Batara Gowa melanjutkan kekuasaan ayahnya yang meninggal dunia. Wilayah gallarang tersebut meliputi (1) Paccelekang, (2) Patalassang, (3) Bontomanai Ilau, (4) Bontomanai Iraya, (5) Tombolo, dan (6) Mangasa. Sementara itu adiknya, Karaeng Loe ri Sero mendirikan gallarang baru yang
berada di bawah kekuasaan kerajaan Tallo dengan wilayah sebagai berikut: (1) Saumata, (2) Pannampu, (3) Moncong Loe, dan (4) Parang Loe ( Kadir 1978).
Hampir seluruh lahan di wilayah kampung Samata merupakan tanah milik raja-raja di Bongayya (Kerajaan Sompa Opu). Hingga kemudian diwariskan kepada anak-anak raja hingga di wilayah sekitar kelurahan Romangpolong dimana anak raja (somba) terakhir adalah Andi Ijok Karaeng Laloang Sombayya ri Gowa. Berdasarkan penuturan kepala lingkungan setempat menyebutkan mengenai
kekuasaan dan otoritas kerajaan Gowa bahwa apabila anak-anak keturunan raja yang sedang mengembara dan kemudian kudanya jatuh di suatu wilayah, maka daerah tersebutdapat diklaim sebagai wilayah kekuasaan mereka. Pada zaman kolonial Belanda masih menguasai Gowa, Samata berada di dalam wilayah distrik Tombolo. Kemudian pada saat pasca kemerdekaan RI, tepatnya tahun 1966, Samata berdiri sendiri menjadi Desa Samata yang terdiri dari kampung Samata, kampung Romangpolong, kampung Paccinongang dan kampung Pao-Pao dimana kantor kelurahan pada saat itu berlokasi di wilayah kampung Romangpolong. Kemudian pada tahun 1992, Samata resmi menjadi kelurahan Samata yang melingkupi dua lingkungan, yaitu lingkungan Samata dan lingkungan Borongraukang. Kepemilikan lahan yang dimiliki oleh somba-somba (raja) hingga saat ini terus dialihkan melalui proses pewarisan kepada keturunan- keturunan mereka.
Lingkungan Samata merupakan wilayah yang secara geografis berbatasan langsung dengan kota Makassar mendapat pengaruh besar dari keadaan perkotaan karena bersebelahan langsung dengan pembangunan jalan Aroepala- Tun Abdul Razak. Lingkungan Samata di sebelah utara berbatasan langsung dengan kelurahan Tamangapa, kota Makassar sementara di sebelah timur adalah lingkungan Borong raukang. Di sebelah selatan berbatasan langsung dengan kelurahan Romangpolong dan sebelah barat berbatasan langsung dengan kelurahan Paccinongang. Lingkungan Samata merupakan komunitas yang sudah banyak dihuni oleh masyarakat pendatang daripada masyarakat asli etnis Makassar Gowa-Samata.
Secara demografis, jumlah penduduk di Lingkungan Samata berdasarkan sensus penduduk tahun 2011 yaitu sebanyak 2405 jiwa yang terbagi menjadi 1227 jiwa penduduk laki-laki dan 1178 jiwa penduduk perempuan. Dari total penduduk tersebut jumlah kepala keluarga sebanyak 481 KK yang terdiri dari 3 RT dan 7 RT. Sebagian masyarakat lingkungan Samata memperhatikan tingkat pendidikan. Meskipun pada umumnya masyarakat masih tamatan SD atau bahkan tidak tamat SD, setidaknya mereka telah melek huruf. Sarana pendidikan yang tersedia di Lingkungan Samata yaitu SD sebanyak 2 unit dan SMP sebanyak 1 Unit. Pada umumnya SD dan SMP Negeri sudah memiliki sarana dan prasana yang tergolong baik. Para siswa yang bersekolah, khususnya masyarakat yang tidak mampu diberikan buku pelajaran gratis.
Sejarah Lingkungan Borongraukang:komunitas masyarakat desa persawahan
Masyarakat lingkungan Borongraukang menjuluki daerah mereka merupakan daerah Tana Koko yang berarti tanah kebun. Penamaan borong raukang yaitu berasal dari kata borong yaitu banyak, dan raukang yang berarti rotan. Secara turun-temurun masyarakat mengetahui bahwa lingkungan Borongraukang dahulunya merupakan lahan yang dipenuhi dengan rotan. Pada zaman kolonial, wilayah Borongraukang dikelilingi oleh hamparan sawah dan kebun-kebun dengan medan yang terjal. Tempat teraman yang dijadikan sebagai tempat persembunyian masyarakat saat itu adalah wilayah Rappocidu‟yang
jaraknya cukup jauh dari wilayah Samata. Penamaan rappocidu‟ menurut warga
setempat adalah wilayah yang dikelilingi oleh padi yang ujung bulir yang tajam ( cidu‟). Pada zaman kolonial hingga pada zaman kependudukan Jepang di era
pra-kemerdekaan RI, jumlah KK sekitar 100 KK dimana terlihat jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah KK saat ini yang hanya berjumlah 28 KK saja. Sekitar tahun 1950 sedikit demi sedikit warga yang kemudian keluar ke kota untuk mendapatkan lahan tempat tinggal bahkan adapula yang merantau ke pulau Jawa dan Kalimantan untuk mencari nafkah. Lahan-lahan di lingkungan Borongraukang sebagian besar dimiliki oleh keturunan anakaraengatau raja yang pada akhirnya secara turun-temurun diwariskan.
Jumlah penduduk lingkungan Borongraukang berdasarkan data monografi pemerintah kelurahan Samata pada tahun 2011 adalah sebanyak 4675 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 2346 jiwa dan sebanyak 2329 jiwa penduduk perempuan. Berdasarkan total penduduk, terdapat jumlah kepala keluarga sebanyak 935 KK dengan jumlah mayoritas penduduk yang berdomisili di jalan
Veteran Bakung sebanyak 907 KK sedangkan di jalan Rappocidu‟ hanya terdiri
dari 28 KK. Berbeda dengan lingkungan Samata yang hanya terdiri dari 3 RW dan 7 RT, lingkungan Borongraukang terdiri dari 5 RW dan 18 RT. Sarana pendidikan hanya terdiri dari 2 unit yakni SDN Samata dan SD Inpres Bakung.
Keseluruhan warga lingkungan Borongraukang beragama Islam dan sebagian besar merupakan masyarakat Makassar-Gowa. Wilayah Veteran Bakung sudah dihuni beberapa warga pendatang, baik yang bermukim di kompleks perumahan maupun yang telah berasimilasi dengan masyarakat asli karena ikatan perkawinan. Proses asimilasi ini berlangsung selama 20 tahun, Sedangkan warga yang berdomisili di jalan Rappocidu‟ seluruhnya adalah warga etnis Makassar-
Gowa. Meskipun beberapa warga pendatang di jalan Rappocidu‟ yang pada umumnya menikah dengan warga asli Rappocidu‟, namun mereka masih memiliki
hubungan kekerabatan dan berada dalam lingkup etnis yang sama.
Akses transportasi untuk memasuki wilayah lingkungan Borongraukang masih terbilang sulit hingga saat ini, terutama untuk menuju lokasi jalan kampung
Rappocidu‟ yang hanya dapat dilalui oleh motor atau kuda sekitar satu kilo meter.
Jalan menuju lokasi tersebut sangat kering dengan bentuk jalan yang landai serta dan panas matahari terasa sangat menyengat karena di belakang daerah Veteran
Bakung hingga menuju kampung Rappocidu‟ diliputi hamparan sawah luas yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua atau kuda.Sejak bulan Agustus 2013 dinas Binamarga PU kabupaten Gowa telah mengeksekusi pembukaan jalan tani yang masih dalam proses pengerasan tanah sepanjang 300 meter namun hingga saat ini belum dilanjutkan realisasinya.
Hampir seluruh penduduk asli yang berada di lingkungan Borongraukang bekerja sebagai petani sawah dan petani kebun dengan jumlah keseluruhan sebanyak 1115 jiwa. Warga yang bekerja di sektor non-pertanian yakni di sektor perdagangan dimana pada umumnya bekerja sebagai pedagang sayur, ikan dan kelontongan yaitu sebesar 122 jiwa, dan sektor industri rumah tangga 44 jiwa. Kondisi ini memperlihatkan bahwamasyarakat lokal setempat sangat menggantungkan hidupnya di sektor pertanian. Meskipun perekonomian masyarakat berada di sektor pertanian yang potensial, namun karena minimnya akses transportasi untuk menuju ke kota, khususnya masyarakat lokal yang berada
di jalan Rappocidu‟ dengan kondisi wilayah yang cukup terisolir dari akses jalan
maupun sarana transportasi menunjukkan dinamisasi perekonomian yang relatif
lamban. Hal ini juga menyebabkan masyarakat lokal khususnya perempuan (ibu dan anak-anak) jarang untuk melakukan perjalananan memasuki kawasan
perkotaan, kecuali karena adanya keperluan yang mendesak seperti membeli keperluan lebaran, peralatan sekolah anak-anak, mengantarkan keluarga yang akan berangkat haji yang berlokasi di kota Sungguminasa, Kabupaten Gowa serta hanya beberapa warga saja yang pergi mencari nafkah sebagai pedagang sayur atau ikan di kota. Kesadaran warga di jalan Rappocidu‟ untuk membuat MCK di dalam rumah juga belum terlalu terbangun secara nyata. Saat ini masyarakat masih memanfaatkan WC Umum yang dibuat oleh mahasiswa KKN sekitar 3 tahun yang lalu. Air sumur masih menjadi sumber pemandian masyarakat dan melakukan aktivitas mencuci pakaian sambil memakai sarung mandi. Model pendirian WC Umum yang kurang terintegrasi dengan saluran air menjadikan warga kurang memilih untuk menggunakannya sebagai tempat mandi. WC Umum hanya digunakan warga untuk BAB (Buang Air Besar) atau BAK (Buang Air Kecil) dengan mengambil air sumur dan mengumpulkannya di dalam ember dengan volume tampung yang dianggap cukup. Cukup berbeda dengan warga yang berdomisili di jalan Veteran Bakung dimana mereka telah memiliki WC pribadi di rumah masing-masing dan tidak ada lagi yang melakukan aktivitas mandi dan mencuci dengan sekitar sumber air sumur.
Sementara itu, distribusi bahan material yang tidak tersedia di lingkungan setempat seperti kayu untuk pendirian rumah panggung tradisional, dibangun oleh warga dengan cara memikul bahan-bahan kayu dari jalan Veteran Bakung, baik dengan berjalan kaki menggunakan motor, bak semen maupun dengan kuda. Begitu pula dengan akses kesehatan, warga masih mengandalkan bantuan dukun karena sulitnya untuk melalui jalan sawah yang berlumpur, terutama pada musim penghujan untuk mencapai daerah kota yang terdapat puskemas atau rumah sakit. Kesadaran warga akan pentingnya pendidikan sudah mulai terlihat saat ini, dimana anak-anak yang bermukim di jalan Rappocidu‟ tetap bersekolah meskipun harus berjalan kaki hingga ke sekolah yang berlokasi di jalan Veteran bakung, Lingkunga Borongraukang.