PADA KAWASAN MAMMINASATA
KAWASAN SATELIT (DESA)
Konstruksi pembangunan kota megapolitan terintegrasi yang menciptakan kawasan desa-kota telah memperlihatkan hubungan ekonomi yang timpang. Desa atau kawasan persawahan menjadi sasaran bagi pengambilan sumberdaya alam di desa khususnya lahan untuk menjadi ruang pembangunan ruang untuk memperlancar arus kapital khususnya kompleks pemukiman yang dinikmati oleh masyarakat di kota atau kawasan sentral. Urbanisasi penduduk desa yang semakin banyak untuk memilih mencari nafkah baru di sektor non-pertanian karena kehilangan lahan sawah sebagai nafkah utama mereka sebelumnya sehingga pada saat yang sama sektor pertanian semakin ditinggalkan oleh warga desa. Kepemilikan tanah yang sebagaian besar berada di tangan elit lokal dilemahkan dengan kompensasi pelepasan lahan yang menguntungkan kepentingannya sendiri membentuk sikap individualisme sehingga tidak lagi menunjukkan keberpihakan kepada warga desa. Kekuatan ekonomi pada masyarakat lokal akan semakin lemah dan justru akan semakin membawa beban bagi warga yang tidak memiliki kompetensi khusus serta rendahnya tingkat pendidikan sehingga hanya dapat menempati sektor jasa seperti buruh bangunan, supir ojek motor, pedagang sayur dan sebagainya. Bilamana jumlah masyarakat lokal di wilayah desasemakin banyak berada di wilayah pusat kota maka masyarakat desa secara keseluruhan akan memasuki fase ketergantungan terhadap pasar dan nafkah di wilayah kota.
Sehingga, sumberdaya potensial bukan hanya produksi bahan pangan, namun berupa lahan-lahan produktif yang diarahkan untuk dapat menaikkan nilai tambah (added value) ekonomi dimana lahan-lahan menjadi alat ekonomi baru untuk meningkatkan investasi ekonomi seperti pada bidang property dan infrastruktur lainnya. Pengalihan orientasi pembangunan ini kemudian mendisposesi lahan-lahan pertanian dari kepemilikan para petani atau masyarakar pedesaan kepada para pengusaha dan elit-elit lokal. Untuk memudahkan pengambilan surplus dalam memperdalam hubungan ketergantungan ini, pembangunan jalan dan infrastruktur melalui pembangunan kota megapolitan Mamminasata secara berkesinambungan dijalankan untuk membentuk kota Makassar sebagai kota metropolis yang berfungsi sebagai kutub pertumbuhan ekonomi. Kota metropolis Makassar kemudian dibangun untuk menjadi pusat aglomerasi yang menarik tumbuhnya pembangunan ekonomi pada kota kabupaten Maros, Sungguminasa dan Takalar yang merupakan kota –kota satelit yang berada di sekelilingnya.
Sebagaimana terbentuknya zona manfaat (benefit zone) yang diberikan kepada pemerintah daerah setempat melalui modernisasi infrastruktur sehingga menguntungkan sebagian pihak, di sisi lain terdapat pula zona resiko (risks zone) yang dirasakan oleh masyarakat lokal dari pembangunan kota megapolitan ini. Pembangunan Mamminasata ini di antaranya mensyaratkan dilakukannya konversi lahan dalam jumlah yang besar. Peningkatan transaksi sumberdaya seperti jual-beli tanah di antara para pemilik tanah semakin sering terjadi baik dari pemerintah, pengusaha spekulan properti, hingga masyarakat setempat yang merupakan petani. Perubahan penguasaan lahan yang membawa kepada akuisisi lahan pertanian milik masyarakat lokal melalui transaksi jual beli menimbulkan gejala baru yaitu munculnya kelas baru yang berada pada upperclass dari petani pemilik lahan yang pada umumnya berasal dari pejabat desa/ tokoh masyarakat dan pemilik lahan luas pada masyarakat lokal.
Sebagaimana yang terjadi pada hubungan antar negara sentral dan pinggiran, hubungan antara wilayah kota dan desa melalui pembangunan kawasan kota yang mengintegrasikan wilayah Kabupaten dan Kota yang dihubungkan melalui pembangunan fasilitas-fasilitas infrastruktur lainnya pada area Lingkungan dan Desa untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi regional justru hanya dinikmati oleh masyarakat kota dan elit lokal setempat. Fasilitas infrastruktur untuk membuka akses energi, informasi yang diharapkan berpengaruh langsung bagi masyarakat setempat pada kenyataannya hanya menguntungkan para pemilik modal dan berpihak pada pengusaha serta masyarakat yang berada di wilayah pusat kota.
Pembauran masyarakat yang semakin meningkat antara desa dan kota yang merupakan efek dari pembangunan jalan baru penghubung kota Makassar dan wilayah kabupaten tersebut akan menandai adanya disparitas sosial dari kelas- kelas yang terbentuk. Hal ini menyebabkan hampir seluruh elemen sumberdaya dan kelembagaan lokal meluruh menjadi modal komersial. Komodifikasi ini menjadikan perubahan gaya hidup masyarakat setempat khususnya pada lingkungan Samata yang lebih mengutamakan keuntungan semata (profit- oriented). Interaksi-interaksi yang berlangsung lebih cenderung kepada nilai manfaat (value of benefits) dari kepentingan yang dibangun. Pemikiran kapitalistik yang mulai menjadi hasrat bagi setiap orang hingga menyentuh ke dalam gaya hidup masyarakat desa dibuktikan dari lahannya hanya sebagai bagian dari investasi atau objek penyewaan para penggarap agar menjadi sumberdaya ekonomi rumah tangga. Orientasi masyarakat persawahan bukan hanya menghasilkan produksi pangan yang cukup namun juga berorientasi mereproduksi keuntungan dari produksi modal material serta kekuasaan. Penggarap yang menyewa lahan hanya berinteraksi pada petani pemilik atau para pemilik lahan pada saat pembagian karung gabah hasil produksi. Kondisi ini semakin mentransisikan ke arah masyarakat gesselschaft yang bisa membawa kepada pelumpuhan fungsi kelembagaan desa.
Keragaman nafkah hidup yang makin berkembang di lingkungan Samata menunjukkan bahwa petani saat ini hanya merupakan salah satu dari entitas masyarakat desa. Petani yang dahulunya masih berstatus sebagai pemilik- penggarap kemudian beralih nafkah karena telah berada dalam jebakan sistem ekonomi kapitalistik dengan terlibat dalam okupasi di luar pertanian/luar desa baik untuk mengembangkan modal kapitalnya atau sekedar sebagai strategi bertahan hidup dengan upah yang rendah. Sebagian masyarakat pada lingkungan Borongraukang yang belum mendapatkan pengaruh langsung khususnya di
kampung Rappocidu‟ yang belum tersentuh dengan pembangunan jalan belum memperlihatkan fenomena yang signifikan karena masih mengandalkan aktivitas di sektor pertanian. Namun tidak dapat dipungkiri, sumber-sumber daya nafkah dari luar desa sudah mulai menjadi alternatif masyarakat sebagai strategi pertahanan ekonomi rumah tangga mereka.
Terputusnya hubungan kolektif akibat pelepasan lahan yang mewarnai situasi masyarakat desa/pertanian ini semakin merenggangkan guyubnya masyarakat dan mengarahkan kepada situasi interaksi transaksional. Hilangnya lahan sebagai sarana pertemuan kolektvitas masyarakat persawahan kemudian akan menjadi faktor utama yang dapat memutuskan interaksi warga dimana keseluruhan entitas pada komunitas persawahan yakni pemilik-penggarap,
penyewa-penyakap, buruh tani serta hubungan patronase yang berlangsung di dalamnya. Arus kutub antar pengaruh kota dan desa kemudian semakin saling tarik-menarik satusama lain. Kepadatan penduduk lingkungan Samata yang lebih besar komposisi pendatangnya dibandingkan lingkungan Borongraukang merupakan salah satu faktor berikutnya yang mendukung terjadinya difusi pengaruh kelembagaan masyarakat kota. Gejala terbentuknya masyarakat gesselschaft semakin jelas, sehingga tradisi bekerja yang berasal semangat gotong-royong semakin tereduksi karena semua kelembagaan dilihat dari keuntungan ekonomis.
Kapitalisme ibarat kutub kuat yang menarik kehidupan sedikit demi sedikit dari setiap entitas desa untuk semakin tergantung dengan kelembagaan tata produksi kapital yang semakin mengaburkan eksistensi produksi pangan yang berbasis masyarakat desa yang seharusnya diwarnai oleh nuansa kolektivitas yang sangat erat satu sama lain. Para petani pemilik tanah mempertahankan tanah sebagai eksistensi hidup sebagai masyarakat asli akan tetapi sangat sulit untuk memungkiri bahwa kebutuhan hidup yang semakin meningkat di masa depan dan standar hidup yang semakin berdifusi dengan masyarakat perkotaan akan menjadi sebab eksistensi lahan sawah semakin terancam oleh pembangunan infrastruktur kota karena telah menilai lahan sebagai salah satu modal kapital yang bernilai tinggi.
Lahan sawah kini bukan hanya menjadi sumber nafkah utama masyarakat desa, maka persaingan hidup semakin kuat sehingga semakin memperluas ruang disparitas antara lapisan kelas kaya dan kelas miskin. Ketergantungan masyarakat lokal terhadap akses pasar dan nafkah di perkotaan dalam segala aspek kehidupan inilah yang menjadikan semakin mengarahkan pada pembentukan polarisasi kelas dalam masyarakat desa yakni masyarakat. Masyarakat terdiferensiasi menjadi pihak yang meraup keuntungan atas kompensasi pelepasan lahan dan pihak yang terpinggirkan akibat terlepasnya nafkah hidup utama mereka terhadap pertanian. Masyarakat mengalami kondisi transisi dari pembangunan pertanian menjadi pembangunan infrastruktur jalan dan pemukiman. Kondisi ini menunjukkan terjadinya perubahan lansekap, ekonomi dan sosial-budaya akibat perubahan ruang kapital industri yang hampir mengenyahkan sektor pertanian di wilayah peri-urban khususnya di kelurahan Samata.
Bentuk-bentuk inilah yang merupakan proses komersialisasi kawasan desa (ruralland commercialization) yang terjadi pada pembangunan kawasan Mamminasata yang membuka hubungan langsung antara kotaterhadap desa. Hubungan ekonomi-politikdari proyek pembangunan megapolitan yang mengintegrasikan wilayah kabupaten-kota mempengaruhi seluruh masyarakat hingga di kawasan pedesaan mengarahkan pembangunan desa semakin bias terhadap peradaban kota.Sementara itu masyarakat desa semakin ditarik oleh tarikan pembangunan negara maju melalui modernisasi dalam segala bidang, mengandalkan investasi dari perkotaan untuk pembangunan dan pada akhirnya kemudahan untuk mendapatkan surplus sumberdaya alam dari desahanya dinikmati oleh masyarakat kota sementara masyarakat desa semakin sulit jauh dari keberdaulatan dalam akses sumberdaya lokalakibat tereduksinya lahan persawahan sehingga menjadi tergantung dengan pasar sebagaimana dengan masyarakat kota pada umumnya.
8
SIMPULAN DAN SARAN
SimpulanHasil studi dari penelitian mengenai pengaruh pembangunan jalan dan pemukiman di kawasan Mamminasata pada kelurahan Samata yang terdiri dari dua lingkungan, kelurahan Samata dan kelurahan Borongraukang mengungkapkan beberapa simpulan sebagai berikut :
Terjadinya perubahan sosial di Lingkungan Samata dan Borongraukang merupakanproses komersialisasi kawasan desa (rural commercialization) yang terjadiakibat pembangunan kawasan Mamminasata yang membuka hubungan langsung antara kota terhadap desa. Perubahan ini disebabkan oleh adanya kebijakan pembangunan kawasan Mamminasata yang memasukkan wilayah desa persawahan sebagai bagian dari wilayah pembangunan jalan kawasan Mamminasata. Faktor internal dari sebab terjadinya perubahan adalahsemakin tingginya nilai harga jual akibat permintaan akan lahan yang terus meningkat sehingga masyarakat lokal terdorong untuk melepaskan lahannya.
Perubahan fisik yang paling tampak adalah perubahan lingkungan yang sangat drastis khususnya di Lingkungan Samata yaitu terganggunya keseimbangan lingkungan pada kawasan persawahan yang ditutup oleh beton untuk pondasi pemukiman sehingga menyebabkan kekeringan di lingkungan Samata namun di sisi lain membawa musibah banjir dan genangan air di Lingkungan Borongraukang. Memburuknya kondisi ekologi akibat perubahan perubahan lansekap persawahan menjadi jalan dan pemukiman ini menyebabkan teralienasinya masyarakat dengan ruang aktivitas sosial dan penghidupan mereka dan semakin melemahkan ikatan masyarakat terhadap orientasi nafkah pertanian.
Pada dimensi ekonomi, Lingkungan Samata mengalami perubahan yang drastis pada kelembagaan nafkah, dimana sebagian besar nafkah masyarakat berasal dari kota atau sektor non-pertanian seperti supir bentor, penjual sayur dan sebagainya. Berbeda dengan Lingkungan Borongraukang, mengalami perubahan kelembagaan nafkah yaitu hadirnya tengkulak/distributor beras yang berasal dari warga setempat. Selain itu, sebagian kecil petani Borongraukang telah melakukan sistem nafkah ganda di luar desa sehingga terjadi perubahan alokasi sumberdaya manusia yaitu tenaga kerja perempuan yang semakin banyak dilibatkan dalam pertanian dengan upah yang lebih murah.Berkembangnya etika komersialisme warga khususnya di lingkungan Samata ditunjukkan dengan perilaku masyarakat setempat yang mengkomodifikasikan semua bentuk materi, mulai dari lahan hingga adanya upah terhadap tenaga jasa.
Pada dimensi sosial-budaya, perubahan yang paling besar terjadi di lingkungan Samata adalah pelapisan sosial masyarakatakibat terjadinya keberagaman nafkah terhadap sektor nafkah di perkotaan semakin besar sehingga menghadirkan struktur baru dalam pelapisan masyarakat. Semakin kompleksnya struktur sosial mempengaruhi perubahan etika hubungan solidaritas warga yang dahulunya bekerja bersama namun saat ini hanya berupa hubungan yang transaksional yang individualistik. Hal tersebut berdampak pada semakin terpolarisasinya masyarakat dari setiap kelas dan menunjukkan penajaman ketimpangan sosial akibat pembangunan.
Saran
Berdasarkan simpulan di atas, pembangunan kawasan kota yang terintegrasi dan melibatkan lahan-lahan pertanian produktif harusnya tidak hanya mengakomodasi melalui pembayaran kompensasi terhadap para pemilik lahan saja, namun juga harus memperhatikan dan mengganti nilai kerugian yang dialami penggarap dan buruh tani yang menggantungkan hidupnya pada lahan yang diproduksinya selama berusaha tani di lahan tersebut.
Perlu adanya perhatian dari pemerintah daerah setempat melalui kebijakanpembangunan yang dapat mengurangi disparitas, marginalisasi masyarakat lokal serta alienasi sosial-ekologi yang terjadi di balik pembangunan kawasan Mamminasata sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan oleh semua kelas masyarakat.