• Tidak ada hasil yang ditemukan

PADA DUA LINGKUNGAN DI KELURAHAN SAMATA Perubahan Pada Dimensi Lingkungan

Sejarah dua lingkungan berupa kawasan persawahan yang diteliti tidak terlepas dari sejarah ekologi yang terbentuk pada komunitas masyarakat lokal. Lokasi studi merupakan wilayah yang terkena oleh agenda kebijakan pemerintah regional (pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan) dalam membangun kawasan pembangunan jalan dimana sejarah perkembangan pertanian pada kedua lokasi (Lingkungan Samata dan Lingkungan Borongraukang) tidak terlepas dari intervensi pemerintah untuk melaksanakan agenda revolusi hijau di era Orde Baru yang memasukkan kabupaten Gowa dalam menggalakkan program-program intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Intervensi pemerintah di sekitar tahun 1970an adalah melibatkan masyarakat dalam melaksanakan agenda pemerintah melalui revolusi hijau dengan program intensifikasi seperti Bimas, Inmas, Insus dan Supra Insus pada masyarakat di lingkungan Samata dan lingkungan Borongraukang untuk menjadikan kawasan percontohan swasembada beras di Kabupaten Gowa.

Pada saat pembangunan infrastruktur pada Kawasan Indonesia Timur menjadi pilihan kebijakan politik pemerintah, pada saat itu pula pembangunan kawasan kota megapolitan Mamminasata khsususnya pembangunan jalan pada tahun 2007 menyentuh kawasan persawahan di kelurahan Samata. Pembangunan akibat pembangunan jalan pembentuk kawasan perkotaan tersebut dan terus- menerus diikuti oleh pembangunan pemukiman menyebabkan perubahan struktur ekologi yang massif pada kawasan persawahan lingkungan Samata dan beberapa wilayah di Lingkungan Borongraukang.

Perubahan topografi lahan

Topografi awal wilayah lingkungan Samata pada umumnya diliputi oleh vegetasi padi dan merupakan hamparan persawahan dengan dataran rendah yang rata. Jenis sawah yang berada di lingkungan Samata yang terbentang dari jalan Kacong Daeng Lalang hingga jalan Karaeng Daeng Makkawari merupakan sawah irigasi semi-teknis yang berasal dari saluran bendungan Bili-bili yang berlokasi di Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa (sekitar 12.5 km dari kelurahan Samata). Sebelum terjadinya pembukaan jalan di wilayah lingkungan Samata, terdapat tiga lintasan jalan yang terbentuk yaitu jalan Kacong Daeng La‟lang, jalan Karaeng Daeng Makkawari, dan Jalan Abdul Muthalib Daeng Narang. Pada jalan Karaeng Daeng Makkawari, saluran irigasi masih tergolong lancar dan masyarakat dapat melakukan panen sebanyak dua kali dalam setahun. Terusan dari jalan Kacong Daeng La‟lang di sebelah timur adalah jalan Karaeng Daeng Makkawari. Kedua jalan terbesar dalam wilayah pemukiman masyarakat lingkungan Samata inilah

yang dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai tempat yang leluasa untuk menjemur gabah.

Petani di lingkungan ini sudah mengadopsi teknologi traktor untuk menggarap sawah dan adapula yang sudah menggunakan mesin panen padi secara individual. Komunitas masyarakat petani hanya memanfaatkan lahan sawah untuk menanam padi saja. Kebanyakan masyarakat menanam tanaman hortikultur di pekarangannya seperti tomat, cabe, kunyit, ubi jalar, lengkuas, jahe, daun salam dan bawang merah untuk dikonsumsi sehari-hari. Tingkat kesuburan lahan tergolong masih baik, saluran air irigasi yang lancar dan drainase yang baik menjadikan petani tidak terlalu mengkhawatirkan akan ancaman banjir meskipun curah hujan di musim penghujan sangat tinggi karena daya serap air yang sangat baik.

Setelah pembangunan jalan berlangsung yaitu dimulainya penutupan lahan sawah dan pengerasan tanah pada tahun 2007, sebagian besar lahan sawah di jalan Kacong Daeng Lalang (bagian barat Samata) dikonversi menjadi lahan pemukiman dan sebagian kecil di wilayah lahan sawah jalan Karaeng Daeng Makkawari sehingga terjadi penambahan satu jalan besar yang melintasi kelurahan Samata yang menutup lahan sawah di sepanjang wilayah Karaeng Daeng Makkawari hingga menembus jalan Abdul Muthalib Daeng Narang, yaitu jalan Tun Abdul Razak (Lihat lampiran 8). Pada sepanjang Jalan Abdul Muthalib Daeng Narang dan Jalan Tun Abdul Razak saat ini semakin banyak diikuti dengan hadirnya bangunan-bangunan rumah permanen dan ruko, bengkel hingga kompleks pemukiman dan juga toko-toko swalayan waralaba. Pembangunan Jalan Abd. Muthalib Daeng Narang yang terbuat dari beton memiliki ketinggian satu meter lebih daripada tanah pemukiman lama, kecuali bangunan ruko-ruko dan kompleks permukiman baru yang ketinggian jalannya sudah setara dengan jalan Abd. Muthalib Daeng Narang. Pada sebelah barat lingkungan Samata yakni Jalan

Kacong Daeng La‟lang sudah mulai dipenuhi oleh kompleks pemukiman yang

telah dihuni dan adapula yang masih dalam proses pembangunan kawasan pemukiman baru.

Jalan Kacong Daeng La‟lang inilah yang merupakan jalan poros yang berbatasan langsung dengan jalan Tamangapa, Makassar- jalan Tun Abduk Razak, Kabupaten Gowa - jalan Hertasning, Makassar dimana keduanya adalah ruas jalan baru yang telah dibangun untuk membangun kawasan Metropolitan Mamminasata. Satu-satunya permukiman terbesar yang menutupi sebagian besar lahan persawahan di lingkungan Samata adalah kompleks pemukiman RSp dengan luas wilayah kurang lebih 21 hektar yang mengakibatkan penutupan lahan sawah dan

di wilayah Kacong Daeng La‟lang hingga ke wilayah Tamangapa,

Makassar.Sementara itu, pada sebelah barat jalan Kacong Daeng La‟lang hingga di sepanjang jalan Tun Abdul Razak di sebelah utara terhampar lahan sawah vegetasi Padi yang telah mengalami kekeringan dan tidak digarap namun memiliki pembatas beton setinggi kurang lebih 1-2 meter yang menunjukkan batas-batas pengkaplingan lahan dan pondasi-pondasi pembangunan rumah. Antara jalan besar dan sawah terdapat jarak saluran drainase selebar kurang lebih satu meter dan dibatasi oleh tembok beton setinggi dua meter.Pada jalan Kacong

Daeng La‟lang terlihat kondisi perbedaan kontras antara permukiman dalam

kompleks yang pada umumnya dihuni oleh masyarakat pendatang dengan

yang merupakan jalan kabupaten yang dibuka oleh pemerintah kabupaten Gowa sejak tahun 1997 yang pada awalnya masih berupa jalanan pasir berbatu, kemudian pada tahun 2002 baru dilakukan pengaspalan mengingat telah dimulainya pembangunan permukiman RSp dan sebagai penghubung jalan menuju jalan Tun Abdul Razak.

Pengaspalan jalan dilakukan lagi pada tahun 2010. Sebelum dilakukan pengaspalan, para petani bebas menjemur gabahnya di sepanjang jalan Kacong

Daeng La‟lang hingga jalan Makkawari. Namun sejak pengaspalan, hampir tidak

ada lagi yang melakukan penjemuran gabah kecuali di sekitar jalan Karaeng Daeng Makkawari karena masyarakat asli setempat masih banyak yang berprofesi sebagai petani. Di sepanjang jalan Kacong Daeng La‟lang semakin banyak tumbuh pemukiman baru sehingga hampir keseluruhan kondisi jalan aspal kurang baik karena berlubang akibat sangat sering dilintasi oleh truk pasir yang berlalu lalang untuk dapat menuju kompleks permukiman.

Berbeda dengan jalan Kacong Daeng La‟lang yang sudah terlihat perbedaan

jelas antara permukiman pendatang dan warga asli, jalan Karaeng Daeng Makkawari masih didominasi oleh warga asli yaitu etnis Makassar-Samata. Kondisi aspal pada jalan Makkawari masih kondusif dan mulus. Pada sepanjang jalan, sebagian penduduk sudah melakukan renovasi bangunan rumah permanen yang mirip dengan rumah warga perkotaan pada umumnya, termasuk kantor kelurahan yang berdiri di tengah-tengah permukiman warga. Sementara di lorong- lorong belakang jalan utama, masih banyak rumah-rumah panggung dan rumah semi-permanen lainnya yang dihuni oleh warga asli.

Pembukaan rumah kost juga semakin mudah ditemukan di sekitar jalan Karaeng Daeng Makkawari baik yang dibangun oleh warga asli maupun warga pendatang. Hal ini dikarenakan adanya kawasan perguruan tinggi Universitas Islam Negeri (UIN) Samata yang hanya memerlukan waktu kurang lebih 5-10 menit dari atau kurang lebih hanya 1 km dari jalan Karaeng Daeng Makkawarisehingga masyarakat setempat semakin banyak membuka peluang usaha melalui bisnis indekost untuk mengakomodasi masyarakat pendatang baik dari kalangan mahasiswa maupun umum seperti pekerja industri. Dibandingkan dengan jalan Kacong Daeng La‟lang, masyarakat yang tinggal di sepanjang pinggiran jalan Karaeng Daeng Makkawari juga masih bebas untuk menjemur gabahnya di depan rumah setiap hari. Namun pada dua tahun terakhir inimasyarakat Samata merasa terganggu dengan berlalu lalangnya kendaraan beroda dua hingga beroda empat untuk melintasi jalan tembus menuju jalan Hertasning baru- Tun Abdul Razak yang seringkali melindas gabah-gabah yang dijemur serta meninggalkan debu.

Kondisi lainnya yaitu kondisi ekologiLingkungan Samata yang mengalami krisis akibat konsentrasi lalu lintas yang semakin memadat di sekitar kelurahan Samata. Intensitas debu yang tinggi di musim kemarau dan kendaraan pengangkut material bahan bangunan dan kendaraan lainnya yang berlalu lalang membuat kebisingan suara dan polusi udara sehingga sulit bagi beliau untuk menjemur gabahnya hingga di luar rumah. Beberapa warga ada memperlebar pekarangannya supaya bisa cukup dijadikan tempat menjemur gabah, namun masih banyak warga yang tinggal di rumah-rumah petak semi permanen yang terpaksa menjemur gabah di pinggir jalan. Situasi dimana semakin banyaknya orang yang berlalu lalang melewati jalan pemukiman penduduk inilah yang cukup mengkhawatirkan

baik oleh beliau maupun warga-warga sekitarnya. dan sengaja atau tidak gabah yang dijemur menjadi rusak karena terinjak hingga akhirnya masyarakat merasa bahwa tempat yang selama ini dianggap efektif untuk penjemuran kini tidak aman lagi dikarenakan lalu lalang kendaraan bermotor, mulai dari motor, mobil pribadi hingga truk-truk pengangkut material bangunan. Masyarakat setempat berinisiasi untuk memindahkan tempat penjemuran tepat di depan halaman rumah, namun justru menyebabkan gabah menjadi susah mengering dan tidak terhindar dari jangkauan hewan ternak yang berkeliaran.

Beberapa masyarakat telah mengeluhkan fakta tersebut mengatakan bahwa akhir-akhir ini pembangunan perumahan semakin „membabibuta‟ karena masalah ini telah menimpa masyarakat yang menjemur gabah. Perubahan ekologi ini menjadikan masyarakat lokal semakin waspada bahwasanya wilayah huni mereka tidak lagi didominasi oleh warga lingkungan setempat. Intensitas masyarakat pendatang yang juga meningkat seiring dengan pembangunan kawasan di sekitar lingkungan Samata semakin mencirikan kota seperti kompleks pemukiman, universitas, ruko-ruko yang menjadi penarik pertumbuhan penduduk dan intensitas kegiatan sosial-ekonomi yang didominasi dan hanya dinikmati sebagian besar oleh warga pendatang serta masyarakat lokal yang memiliki modal tanah untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya.

Sementara itu pada lingkungan Borongraukang yang tidak terlampau jauh dengan lingkungan Samata, secara fisik lingkungan Borongraukang masih jauh lebih bebas polusi dan lebih didominasi oleh rumah-rumah panggung tradisional dibandingkan dengan Lingkungan Samata. Akses jalan Veteran Bakung yang berujung pada lahan sawah menjadikan belum banyak pendatang yang menduduki wilayah lingkungan Borongraukang dibandingkan lingkungan Samata. Semenjak tahun 2007 kemunculan kompleks-kompleks perumahan baru sudah terjadi di Lingkungan Borongraukang. Terdapat kompleks yang sudah dihuni oleh beberapa masyarakat yang pada umumnya warga pendatang, adapula perumahan yang sudah dibangun namun belum juga dihuni sehingga kondisinya tampak tidak terawat dengan warna cat yang sudah usang. Semakin banyak pengembang (developer) pemukiman yang terus menanamkan modalnya di wilayah Borongraukang namun tampaknya wilayah Borongraukang kurang kondusif karena sebagian besar pemukiman masih didominasi oleh warga asli. Berbeda halnya dengan lingkungan Samata yang telah didominasi sebagian besar warga pendatang karena memiliki akses langsung dengan jalan besar Tun Abdul Razak sehingga proses asimilasi budaya telah berlangsung. Selain karena alasan keamanan dan kekhawatiran akan terjadinya ketimpangan sosial-ekonomi sehingga kompleks pemukiman di lingkungan Borongraukang belum banyak dihuni oleh warga pendatang.

Sementara itu, dibandingkan dengan kondisi topografi dan fisik jalan

Veteran Bakung, kondisi jalan Rappocidu‟ secara topografi berada tepat di pertengahan hamparan sawah dengan dataran yang rata dan lebih rendah dibandingkan jalan Veteran Bakung. Namun secara fisik, secara keseluruhan bangunan-bangunan pemukiman warga merupakan rumah panggung tradisional yang terbuat dari kayu. Selain itu, sarana transportasi umum sama sekali belum dapat dijangkau untuk menuju ke pusat kota kecuali dengan menggunakan kendaraan pribadi seperti motor, sepeda dan kuda. Hal ini disebabkan akses jalan

sarana transportasi umum yakni di jalan Abdul Muthalib Daeng Narang Lingkungan Samata, warga harus menempuh jarak sekitar 1 km dari jalan veteran Bakung dan sekitar 3 km dari jalan Rappocidu‟.

Terganggunya Keseimbangan Lingkungan Pasca Pembangunan Jalan

Bapak DM mengemukakan proses pelepasan lahan di jalan jalan Daeng Makkawari (lingkungan Samata) yang telah dibeli oleh salah satu pengembang pemukiman besar.

Sebelum terjadinya pelepasan lahan besar-besaran untuk pembukaan jalan, beberapa kapling lahan milik sudah terakumulasi sekitar lebih dari 20 hektar. Pada saat itu, beberapa warga yang telah menjual tanah sawahnya untuk kepentingan hajatan atau ibadah haji masih dapat mengakses lahan yang mereka sewa seluas 3 hektar untuk dapat digarap sekitar 20 are. Beberapa tahun terakhir setelah ada jalan baru, langsung pengembang bongkar lahan tersebut untuk dijadikan perumahan. Waktu itu masih ada warga yang kerja sawah di sana tapi akhirnya banyak yang tinggalkan karena sudah mulai ditutup tanah yang bikin air irigasi juga sudah tidak mengalir. Potong tangan saya kalau alasannya lahan itu tidak produktif. Tidak ada lahan sawah di Samata yang tidak produktif

Sebagian besar warga yang masih menggarap lahan sawah milik petani lain yang lokasinya pada umumnya berada di jalan daeng Makkawari (lingkungan Samata) sebelumnya telah memiliki nafkah ganda, dimana pada waktu tertentu masih menjadi buruh tani meskipun dengan luasan yang lebih sedikit namun di sisi lain kesehariannya menjadi buruh bangunan serabutan di kota.

Berikut penuturan bapak Sydt (34) yang pada akhirnya kehilangan lahan garapannya dan ditimbun oleh kontraktor secara sepihak :

Waktu itu sempat saya dikasih rezeki lagi dari paman untuk garap sawah garapannya juga di sekitar Campagayya. Tetapi setahun kemudian sudah ada papan yang tulisannya

“Akan Dibangun Universitas X”. Kita warga yang tidak tahu-menahu kapan akan universitas itu akan dibangun kemudian mengadu kepada pihak kelurahan agar menunda dulu pembangunannya karena padi sudah hampir menguning.Akhirnya warga yang menggarap di sana pergi ramai-ramai mengawasi mobil truk pasir yang datang. Kita mau memohon supaya pengembang menunggu dulu sampai panen tiba. Sayang sekali pihak pengembang tidak bisa menunggu karena alasan waktu kontrak pembangunan terbatas. Orang di kelurahan juga tidak bisa bertindak kepada pengembang karena pemilik lahan sudah terlanjur menjual lahannya.

Box 1. Kasus Bapak Sydt ( 34) : Kehilangan Ruang untuk nafkah dan aktivitas hidup Kondisi yang dialami oleh keluarga Bapak Sydt, yaitu terjadinya tindakan pencaplokan dan penutupan lahan sawah garapannya dan petani lainnya oleh pihak pembangun properti (Gedung PTS) akibat transaksi pembelian kepada pemilik lahan secara sepihak yang tidak melibatkan peran serta dari warga setempat yang menggarap lahan tersebut. Situasi ini terjadi pada saat beliau pernah mendapatkan kembali lahan sawah untuk dapat digarap di sekitar jalan Tun Abdul Razak yang pada saat itu masih subur dan dialiri irigasi di sekitar tahun 2009. Namun terjadi tiba-tiba penimbunan lahan dilakukan oleh kontraktor developer pada masa menunggu masa panen untuk beberapa pekan ke depan. Namun mereka tidak dapat melakukan aksi protes mengenai kondisi tersebut kepada pemilik lahan yang memiliki otoritas penuh terhadap lahan miliknya. Kondisi tersebut menjadikan warga setempat yang pada umumnya penggarap sawah akhirnya harus berpikir kembali untuk mendapatkan nafkah baru demi mempertahankan keberlangsungan kebutuhan ekonomi rumah tangganya. Bahkan menjadikan bapak Sydt sama sekali telah meninggalkan pekerjaannya sebagai petani.

Di balik hilangnya nafkah masyarakat petani akibat penutupan lahan sawah, terdapat kemegahan kawasan pemukiman yang melengkapi adanya pembangunan jalan dan berada di tengah-tengah kawasan persawahan secara fisik dibangun sedimikian rupa sehingga sangat identik dengan gaya hidup perkotaan yang dilengkapi oleh saluran drainase bawah tanah yang memperlihatkan kondisi sosial

–ekonomi yang timpang dengan masyarakat lokal setempat. Penutupan pada sepetak demi sepetak lahan yang terjadi khususnya untuk pembangunan pemukiman bukan hanya mempengaruhi kondisi ekonomi masyarakat melainkan terjadinya perombakan struktur ekologis pada tata ruang lansekap lingkungan Samata. Kondisi ini merupakan bentuk perusakan ekologis yang masif karena telah menutup ruang saluran akses air yang mengalir hingga ke areal persawahan serta berkonsekuensi besar terhadap tergenangnya air pada lahan sawah dan bencana banjir terutama di musim penghujan.

Berikut penuturan bapak DE mengenai perubahan ekologi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir sejak terjadinya pembukaan jalan dan maraknya pembangunan pemukiman :

“Di sini sudah sering tergenang sawah, apalagi musim hujan. Itu wajar memang karena

saluran irigasi lancar masuk ke sini dari bendungan yang dibuat warga sekitar tahun 2005. Hanya saja genangannya cepat surut karena tinggi air sekitar 40-50 cm. Pas musim hujan, kalau tidak salah tahun 2011 itu, hujan tidak berhenti turun sampai akhirnya disini tergenang sampai dua meter. Orang tidak bisa turun ke bawah tangga karena tingginya sudah hampir sampai di lantai atas. Beberapa anak itik saya mati dan hilang, tapi untungnya induknya masih bisa diselamatkan. Lama surutnya banjir waktu itu lebih satu minggu, jadi kita sulit untuk kemana-mana, apalagi anak-anak disini juga tidak bisa sekolah.

Box 2. Kasus Bapak DE (61) : Terjadinya bencana ekologis pada lingkungan tempat tinggal warga

Bapak DE berserta keluarganya sudah hidup sejak pernikahannya dengan istrinya yang merupakan warga lokal Samata sejak tahun 1963. Sebelum adanya pembangunan, bentuk fisik lingkungan tempat tinggal keluarga bapak DE di kampung Rappocidu‟ ditutupi oleh hamparan vegetasi sawah tadah hujan dan kemudian berhasil mendapatkan aliran irigasi dari waduk di Pattalassang yang hulunya merupakan bendungan Bili-Bili. Sejak adanya aliran irigasi, setiap musim penghujan lahan-lahan sawah digenangi air yang menjadikan pertumbuhan sawah semakin produktif dan subur. Adanya air irigasi yang dikonservasi dengan baik menjadikan hasil panen padi setiap musim penghujan menghasilkan besaran produksi yang signifikan dan menguntungkan petani. Namun semenjak pembangunan pemukiman semakin massif terjadi sehingga menutup akses air pada sebagian besar lahan sawah di Samata dan beberapa wilayah di Borongraukang menyebabkan terganggunya keseimbangan alam di lingkungan Borongraukang akibat teralihkannya debit air irigasi dalam jumlah yang besar sehingga mengakibatkan banjir.

Tergenangnya lahan sawah sebagian besar berdampak pada wilayah Borongraukang, seperti lahan sawah milik Bapak DE (61) yang setiap tahunnya digenangi air hingga di sekitar wilayah tempat tinggalnya. Bencana banjir terparah terjadi pada tahun 2011, dimana ketinggian air mencapai dua hingga tiga meter hingga menutup bagian bawah tangga pada rumah panggung tradisional mereka. Pada saat itu warga terpaksa merakit perahu yang terbuat dari batang pohon pisang sebagai sarana transportasi dan agar dapat mengakses jalan keluar hingga ke wilayah lingkungan Samata. Kerugian yang dialami warga lainnya adalah terhalanginya anak-anak untuk bersekolah terutama yang berada di kampung Rappocidu‟ akibat banjir. Dampak lingkungan yang terjadi pada Bapak DE menyebabkan kampung Rappocidu‟ semakin terisolasi dari aktivitas kerja sehari-hari, rusaknya padi dan beresiko pada hilangnya dan kematian pada hewan ternak yang dipelihara oleh warga.

Terjadinya musibah banjir karena secara topografi wilayah Borongraukang relatif lebih rendah dibandingkan wilayah Samata. Dampak langsung yang dirasakan warga sekitar adalah bencana banjir pada wilayah yang secara topografi lebih rendah karena: 1). Tidak adanya penyerapan air yang cukup karena daya dukung lahan khususnya lahan sawah semakin berkurang; 2). Saluran air yang berasal dari bendungan Bili-bili yang mengalir ke wilayah kelurahan Samata melalui kanal-kanal dan diperuntukkan untuk lahan sudah tertutup aksesnya akibat pembangunan pondasi-pondasi pemukiman yang meninggikan posisi tanahnya agar bebas banjir.

Dinamika kepemilikan lahan

Sejak dahulu penguasaan lahan baik di lingkungan Samata pada umumnya hampir sama dengan penguasaan lahan di lingkungan Borongraukang, yakni berdasarkan hakmilik individual. Bentuk kepemilikannya sebagian besar berdasarkan jalur pewarisan dari generasi kedua kepada anak keturunan. Lahan pertanian sejak dahulu sangat mudah dialihkuasakan dalam pengelolaannya, terutama untuk keperluan haji atau pesta pernikahan yang mewah yang merupakan pencapaian kemapanan sosial-ekonomi terbesar bagi masyarakat karena tidak semua kalangan bisa melaksanakannya. Penguasaan lahan melalui sewa atau penyewaan dilakukan oleh petani yang memiliki lahan sempit untuk mendapatkan hasil produksi yang lebih besar.

Kepemilikan lahan luas di kelurahan Samata sebagian besar berasal dari kelas bangsawan dan keturunan raja yang berada di lingkungan Samata. Dominasi kepemilikan tersebut memberikan pengaruh yang kuat pada mereka terutama pada aktivitas sosial politik di lingkungannya. Kelas pemilik lahan tersebut yang juga memiliki pengaruh politik karena keterlibatannya kepada masyarakat menjadikan mereka sangat disegani oleh warga. Hanya warga yang menurut mereka dekat dan dipercaya yang diizinkan oleh kelas pemilik lahan untuk menggarap lahan sawah miliknya. Mereka yang berada dalam kelas pemilik lahan pada umumnya dijadikan tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh dan tinggal di wilayah Lingkungan Samata, seperti kepala lurah, kepala lingkungan, imam masjid hingga ketua RW. Penggantian jabatan tersebut biasanya dilakukan jika mereka sudah berusia lanjut atau meninggal dunia. Intervensi politik mereka saat ini masih

Dokumen terkait