BAB II. PENDIDIKAN IMAN ANAK DALAM KELUARGA DAN
A. Gambaran Umum Paroki Kristus Raja Cigugur dan Stasi Maria
1. Gambaran Umum Paroki Kristus Raja Cigugur
a. Sejarah
Sejarah perkembangan Gereja Katolik di tatar sunda berawal dari Kota Cirebon yaitu dengan berdirinya Gereja Santo Yosef Cirebon yang diresmikan pada tanggal 10 November 1880 oleh Mgr. A. Claessens sebagai Gereja pertama di wilayah Keuskupan Bandung Jawa Barat. Pada saat itu, di Cigugur masyarakat belum menganut agama Katolik. Masyarakat secara mayoritas masih menganut Agama Djawa Sunda sedangkan minoritas menganut agama Islam. Hubungan kedua kelompok penganut agama ini rukun, meskipun terkadang timbul kesalahpahaman (Basuki Nursananingrat, 1977: 9).
Agama Djawa Sunda (ADS) merupakan aliran kebatinan yang didirikan oleh Pangeran Sadewa Madrais Alibasa Kusuma Wijaya Ningrat atau yang dikenal sebagai Pangeran Madrais (Iman Sukmana, 2014: 29). Agama Djawa Sunda merupakan sebuah pemadatan dari ungkapan “anjawat lan anjawab roh susun-susun kang den tunda” artinya memilih dan menyaring roh yang tersusun dan yang tertunda yang ada di seluruh alam semesta termasuk dalam diri manusia (Iman Sukmana, 2014: 36).
ADS mengajarkan dan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mengakui bahwa Tuhan yang menjadi penggerak, pengatur, pembimbing gerakan
rohani manusia dan segala makhluk yang diciptakan-Nya (Basuki Nursananingrat, 1977:11). Para penganut ADS percaya bahwa tujuan hidup manusia adalah
“Sampurnaning Hirup Sajatining Mati”. Sampurnaning hirup berarti
sempurnanya hidup. Hal ini menunjukkan bahwa dalam keterbatasannya manusia mendekatkan diri kepada yang sempurna, yakni Tuhan. Sajatining mati berarti sejatinya mati, yakni mati dengan layak sebagai manusia dengan cara dirawat sedemikian rupa sebagai penghargaan terhadap raga manusia yang mencari kesempurnaan hidup (Iman Sukmana, 2014: 38-39).
Pada tahun 1937 ketika gunung Ciremai hampir meletus, Pangeran Madrais bersama para pengikutnya mendaki gunung untuk mengadakan ritual di puncak gunung. Setelah menuruni gunung, ia melanjutkan perjalanan menuju sebuah tempat yang dikenal “Curug Goong” (Curug berarti air terjun, goong merupakan alat musik tradisional yang dalam bahasa Indonesia disebut gong). Di tempat ini, ia mendapatkan wahyu yang berbunyi: “Isuk jaganing geto anjeun bakal nyalindung di handapeun camara bodas anu bakal mawa kana kaberesan
alam”. Pernyataan ini dalam bahasa Indonesia berarti “esok hingga masa yang
akan datang engkau akan berlindung di bawah cemara putih yang akan membawa pada kesejahteraan alam” (Iman Sukmana, 2014: 45). Wahyu yang didapatkan oleh Pangeran Madrais belum terlaksana hingga ia wafat dan digantikan oleh puteranya. Putra Pangeran Madrais bernama Pangeran Tedja Buana Alibassa.
Munculnya umat Katolik di Cigugur bermula dari permasalahan yang dialami penganut ADS (Agama Djawa Sunda). Pada tahun 1964, ada paham yang menyebabkan perbedaan pendapat antara salah satu penganut ADS dengan
penganut agama lain yang ada di Cigugur, yakni agama Islam. Pada saat itu pimpinan ADS, Pangeran Tedja Buana Alibassa bersama penganutnya harus menghadapi goncangan dan tuduhan yang berat dari masyarakat yang berbeda pendapat dan kepercayaan dan juga mendapatkan tuduhan dan tekanan dari pemerintah (Iman Sukmana, 2014: 53-55).
Pada saat mengalami sakit di Santo Yosef Cirebon, ia berdoa dan meditasi. Dalam meditasinya, ia mendapatkan wahyu yang merupakan peringatan dari wahyu yang didapatkan oleh ayahnya, Pangeran Madrais di Curug Goong. Pangeran Tedja Buana percaya bahwa yang dimaksud Cemara Putih adalah “Kristus”, yakni Kristus yang menyelamatkan dunia. Berdasarkan hal itu, pada tanggal 21 September 1964 Pangeran Tedja Buana secara resmi membubarkan ADS dan bermaksud masuk ke dalam Gereja Katolik, namun ia memberikan kebebasan kepada penganutnya untuk memilih dan menganut agama sesuai dengan kepercayaan masing-masing (Iman Sukmana, 2014: 74-76).
Hal ini merupakan awal mula masuknya agama Katolik di wilayah Kuningan dan sekitarnya. Meskipun keputusan ini merupakan kehendak sendiri namun akibatnya begitu besar, lebih dari 5000 penganut ADS mendaftarkan diri dengan senang hati untuk masuk dalam pangkuan Gereja Katolik serta menyerahkan surat pernyataan ke pastoran Katolik Santo Yosef Cirebon, mengingat bahwa di Cigugur belum ada gereja.
Pada saat Natal 1964, setelah segala persoalan dengan pihak pemerintah selesai, secara resmi gedung yang dahulu digunakan ADS dibuka kembali (Iman Sukmana, 2014: 121). Sejak saat itu Gedung Paseban Tri Panca Tunggal menjadi
Gedung Gereja bagi umat Katolik Cigugur dan sekitarnya, termasuk umat Cisantana harus ke Cigugur untuk merayakan Ekaristi. Pada tahun selanjutnya, para Pastor Ordo Salib Suci (OSC), yaitu Pastor Hidayat OSC, Pastor Matias Kuppens OSC, Pastor Anton Ruten OSC, Pastor Straathof OSC memulai tugas khususnya di Cigugur dan juga di Cisantana (Iman Sukmana, 2014: 127).
b. Letak Geografis
Secara geografis, Paroki Kristus Raja Cigugur berada di kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan. Gereja paroki terletak di jalan Rumah Sakit 7, Cigugur. Wilayah Paroki terbagi ke dalam lingkup stasi yakni 12 stasi dan 1 pusat paroki. Berdasarkan Sensus tahun 2011 (Iman Sukmana, 2014: 462) diketahui bahwa stasi-stasi yang termasuk dalam paroki Kristus Raja Cigugur antara lain: Stasi Cisantana, Stasi Sukamulya, Stasi Kuningan, Stasi Talahab, Stasi Cibunut, Stasi Susuru, Stasi Wedang Temu, Stasi Kancana, Stasi Pugag, Stasi Winduhaji, Stasi Kramat Mulya dan Luragung. Setiap stasi terbagi dalam lingkungan-lingkungan. Jumlah keseluruhan lingkungan di Paroki Kristus Raja Cigugur adalah 52 lingkungan.
c. Jumlah Umat
Berdasarkan data sensus umat Katolik Cigugur tahun 2011 (Iman Sukmana, 2014: 461) diketahui terdapat 5.399 umat Katolik di Paroki Kristus Raja Cigugur. Namun, jumlah ini masih belum mencakup semua umat karena masih ada umat yang berada di luar kota sehingga tidak terdata. Apabila jumlah umat yang sudah terdata dijumlahkan dengan umat yang berada di luar kota, maka
dapat diperkirakan bahwa terdapat 7.000-an umat Katolik di Paroki Kristus Raja Cigugur (Iman Sukmana, 2014: 462).
d. Situasi Umat Katolik
Umat Katolik di Paroki Kristus Raja Cigugur sebagian besar adalah Suku Sunda dan beberapa Suku pendatang, seperti Suku Jawa, Batak dan Flores. Sebagian besar umat bermatapencaharian sebagai petani peternak, sedangkan sebagian bekerja sebagai pegawai, pedagang dan guru. Kegiatan menggereja yang dilakukan oleh umat adalah ibadat lingkungan, doa Rosario, Perayaan Ekaristi di stasi masing-masing. Kegiatan yang khas dilakukan oleh umat Paroki adalah Perayaan Ekaristi di Gua Maria Fatima Sawer Rahmat yang dilaksanakan setiap Kamis malam yakni malam Jumat kliwon. Umat sering menyebutnya sebagai kaliwonan. Selain itu, Gereja biasa melaksanakan Perayaan Ekaristi peringatan 22 Rayagung sebagai salah satu ucapan syukur umat atas hasil panen selama satu tahun. Kegiatan ini dilanjutkan dengan Pesta Nutu yang dihadiri oleh masyarakat dari berbagai tempat terutama daerah Cigugur.