KONDISI PERBATUBARAAN NASIONAL
4.1. Gambaran Umum Pertambangan Batubara Indonesia
Batubara Indonesia terutama dihasilkan dari Kalimantan dan Sumatera, serta sejumlah kecil dari Jawa, Sulawesi, dan tempat lain. Tambang-tambang dan pelabuhan batubara utama di Indonesia ditampilkan pada Gambar 4.1 di bawah ini.
Gambar 4.1. Lokasi Tambang dan Pelabuhan Batubara Utama
Pertambangan batubara Indonesia berkembang pesat ditopang oleh kebijakan batubara pemerintah yang memperkenalkan investasi asing secara agresif. Dari segi jumlah produksi, terdapat kenaikan yang sangat signifikan dimana angka produksi 15 tahun lalu yang hanya sebesar 31 juta ton meningkat hingga 8 kali lipat pada tahun 2010 menjadi 256 juta ton. Dan dalam 5 tahun terakhir ini terlihat kenaikan produksi sebanyak 20 juta ~ 40 juta ton per tahun. Demikian pula dengan volume ekspor yang terus meningkat, dimana ekspor pada tahun 2010 telah mencapai angka 198 juta ton sehingga menempatkan Indonesia menjadi salah satu eksportir batubara terbesar di dunia. Dari yang sebelumnya eksportir minyak, Indonesia sekarang ini adalah negara importir minyak, yang menyebabkan batubara semakin menempati posisi yang penting menggantikan minyak dalam komposisi penggunaan energi di Indonesia. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan pemerintah juga dihadapkan pada berbagai tantangan permasalahan, diantaranya semakin menjauhnya lokasi penambangan ke pedalaman, meningkatnya rasio pengupasan (stripping ratio), serta kekhawatiran tentang masalah lingkungan seperti kerusakan hutan.
Batubara Indonesia memiliki kadar abu dan sulfur yang rendah sehingga dikenal ramah lingkungan. Hal ini menyebabkan batubara Indonesia semakin kompetitif di
Kondisi Perbatubaraan Nasional
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. IV - 2
pasar dunia, di tengah kesadaran lingkungan yang makin meningkat pada saat ini.
Dan untuk menjamin pasokan batubara bagi industri dalam negeri, membuka tambang – tambang baru melalui daya dorong investasi termasuk investasi asing, serta mengeliminasi penambangan ilegal dan praktik suap dalam usaha penambangan, maka pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara sebagai pengganti UU No 11 tahun 1967, yang ditandatangani oleh Presiden pada bulan Januari 2009. Selain itu, pemerintah juga memberikan perhatian yang serius terhadap upaya pengembangan energi berbahan baku batubara seperti UBC, pencairan batubara, dan gasifikasi batubara.
4.1.1. Cadangan dan Kualitas Batubara
Cadangan batubara Indonesia dihitung berdasarkan eksplorasi yang terus dilakukan, sehingga angkanya pun terus membesar seiring dengan ditemukannya lapisan – lapisan baru batubara. Tabel 4.1 menampilkan sumber daya batubara Indonesia, sedangkan Tabel 4.2 menunjukkan sumberdaya batubara berdasarkan kualitasnya. Meskipun total sumber daya batubara Indonesia mencapai 104,7 miliar ton, tapi cadangan yang bisa ditambang hanya sekitar 1/5nya saja, yaitu sebesar 21,1 miliar ton. Jumlah ini dipastikan akan bertambah seiring dengan eksplorasi yang terus berlangsung. Dilihat dari wilayah, maka hampir seluruh cadangan batubara Indonesia terdapat di Sumatera (50,06%) dan Kalimantan (49,56%), sedangkan sebagian kecil terdapat di Jawa, Sulawesi, dan Papua. Batubaranya pun hampir semuanya berjenis batubara uap, dengan karakteristik kadar abu dan sulfur yang rendah. Dari cadangan yang ada, diketahui bahwa jumlah untuk tipe bituminus dan sub-bituminus sebesar kurang lebih 40%, sedangkan sebagian besar sisanya adalah lignit (merujuk ke sebagian batubara berkualitas sedang dan rendah). Antrasit juga diproduksi meskipun dalam jumlah yang sangat sedikit. Di Kalimantan bagian tengah juga diketahui terdapat batubara kokas sehingga pembangunan tambang di sana berlangsung dengan pesat dalam beberapa tahun belakangan ini.
Tabel 4.1. Sumberdaya dan Cadangan Batubara (dalam Milyar Ton) Tahun 2010 Measured Indicated Inferred Hypothetical Total %
Jawa 5,47 6,65 0 2,09 14,21 0,01
Sumatra 20.153,72 13.949,29 10.634,37 7.699,18 52.436,56 50,06 Kalimantan 14.371,81 17.977,78 5.070,61 14.497,21 51.917,41 49,56
Sulawesi 0 146,92 33,09 53,09 233,10 0,22
Maluku 0 2,13 0 0 2,13 0,00
Papua 89,40 64,02 0 0 153,42 0,15
Total 22.251,57 15.738,07 34.146,79 34.620,40 104.756,83
Cadangan
Kondisi Perbatubaraan Nasional
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. IV - 3
Total Cadangan 23.400,00
Sumber: Dit Pengusahaan Minerbapabum, 2010
Tabel 4.2. Sumber Daya Batubara Berdasarkan Kualitas
Kualitas Cadangan %
Low rank < 5.100 kal 21.183,04 20,22
Middle rank 5.100 – 6.100 69.551 66,39
Haigh rank 6.100 – 7.100 13.021,49 12,43
Highest rank > 7.100 1.001,65 0,96
Total 104.756,83 100
Sumber: Dit Pengusahaan Minerbapabum, 2010
4.1.2. Sistem Operasi, Produksi dan Penjualan Batubara
UU Minerba yang baru menetapkan adanya Wilayah Pertambangan (WP), yang didalamnya terbagi menjadi 3 jenis wilayah pengusahaan mineral & batubara, yaitu Wilayah Usaha Pertambangan (WUP), Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR), serta Wilayah Usaha Pertambangan Khusus (WUPK). UU ini juga menetapkan aturan baru berupa Ijin Usaha Pertambangan (IUP), yang dapat diberikan kepada BUMN, BUMD, perusahaan swasta, KUD, maupun perorangan untuk melaksanakan usaha pertambangan. Sebagai upaya mewujudkan transparansi perijinan, maka sistem tender diberlakukan pada proses pemberian IUP ini. Ijin pengusahaan terbagi berdasarkan wilayah pertambangannya, yaitu Ijin Usaha Pertambangan (IUP), Ijin Pertambangan Rakyat (IPR), serta Ijin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). IUP sendiri terbagi menjadi IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi.
Sebagai peraturan pelaksana dari UU ini, maka pemerintah secara bertahap mengeluarkan peraturan – peraturan tentang 1) Usaha pertambangan mineral dan batubara, 2) Wilayah pertambangan (PP No 22 tahun 2010), 3) Pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral & batubara (PP No 23 tahun 2010), serta 4) Reklamasi lahan pasca tambang.
Sistem operasi produksi batubara Indonesia secara garis besar terbagi menjadi 4 kelompok, yaitu 1) BUMN (PT Bukit Asam/PTBA), 2) PKP2B atau Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (Coal Contract of Work/CCoW) yang terbagi menjadi 3 generasi, 3) KP (Kuasa Penambangan), dan 4) KUD. PKP2B adalah kelompok yang lahir dari hasil kebijakan pemerintah Indonesia dalam mendorong pengusahaan batubara melalui upaya mengundang investasi asing secara agresif.
Tambang – tambang PKP2B memberikan kontribusi yang besar dalam menggenjot jumlah produksi batubara Indonesia yang meningkat secara drastis sekarang ini.
Kondisi Perbatubaraan Nasional
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. IV - 4
PTBA memiliki tambang terbuka skala besar di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, serta tambang bawah tanah di Ombilin, Sumatera Barat. Adapun tambang – tambang berstatus KP umumnya adalah tambang investasi dalam negeri, sedangkan tambang – tambang KUD biasanya berskala kecil. Dengan diundangkannya UU No 4 tahun 2009, maka hanya kontrak PKP2B yang masih terus berlanjut, sedangkan sistem yang lainnya tidak berlaku lagi.
Statistik jumlah produksi batubara Indonesia ditampilkan pada Tabel 4.3. Pada tahun 2009, jumlah produksi mencapai 256 juta ton, yang sebagian besar dihasilkan oleh 10 perusahaan tambang PKP2B generasi 1. Berdasarkan realisasi produksi tahun 2008, tambang – tambang dengan jumlah produksi melebihi 10 juta ton adalah Adaro Indonesia (38 juta ton), KPC (36 juta ton), Kideco Jaya Agung (22 juta ton), Berau Coal (13 juta ton), Arutmin Indonesia (16 juta ton), serta Indominco Mandiri (11 juta ton). Keseluruhan jumlah produksi dari keenam tambang tersebut mendekati 60% dari total produksi batubara nasional.
Tabel 4.3. Jumlah Produksi Batubara (dalam Ribu Ton)
Tambang 2006 2007 2008 2009 (prediksi)
PTBA 9.292 8.555 10.099
PKP2B 164.713 171.570 177.538
KP + KUD 18.995 36.875 52.363
Total 193.000 217.000 240.000 256.000
Sumber: Ditjen Minerba, 2009
Dari perkiraan produksi tahun 2009 sebesar 256 juta ton, ternyata ada kenaikan realisasi produksi batubara sampai 275 juta ton, berarti ada kenaikan sebesar 7,4
%. Produksi batubara tersebut masih dominan dijual untuk ekspor sebesar 208 juta ton (75%) dan untuk kebutuhan domestik sebesar 67 juta ton atau sekitar 25%
(Tabel 4.4).
Tabel 4.4. Realisasi Produksi dan Penjulan Batubara Indonesia, Tahun 2009
No. Subyek Jumlah, juta ton
1 Sumber Daya 105.190
2 Cadangan 21.130
3 Produksi 275
4 Penjualan
a. Ekspor 208 (75%)
b. Domestik 67 (25%)
Kondisi Perbatubaraan Nasional
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. IV - 5
Sumber data : Realisasi produksi tahun 2010, DJMB
Jumlah tambang berdasarkan sistem operasi produksi ditunjukkan pada Tabel 4.5.
Angka yang ditampilkan adalah data aktual per September 2010. Tambang BUMN hanya 1 perusahaan, yaitu PTBA. Untuk PKP2B generasi 1, dari yang awalnya sebanyak 11 buah kini tinggal 10 saja karena 1 tambang mengundurkan diri dari kontrak. Ke-10 tambang tersebut seluruhnya sudah berproduksi saat ini. Untuk generasi 2, dari 18 tambang di awal, kini hanya 12 buah yang masih melanjutkan kontrak, dimana 10 tambang sudah mulai berproduksi. Adapun untuk generasi 3, dari 100 lebih tambang di awal, 30 buah lebih sudah mengundurkan diri sehingga tersisa 54 tambang saja yang melanjutkan kontrak. Dan dari 54 tambang itu, 20 buah sudah mulai berproduksi.
Tabel 4.5. Jumlah Tambang berdasarkan Sistem Operasi Produksi Penyelidikan Umum, Eksplorasi F/S, Sumber: Presentasi ICMA pada CCD seminar tahun 2010
Dengan demikian, tambang – tambang PKP2B yang terus melakukan pengembangan berjumlah 76 buah, yang 40 di antaranya sudah berproduksi.
Untuk tambang berstatus KP, saat ini jumlahnya meningkat secara drastis dan diperkirakan lebih dari 2500 buah, sebagai akibat dari kebijakan pemindahan wewenang perijinan kuasa penambangan saat berlakunya undang – undang otonomi daerah pada tahun 1999. Dari jumlah tersebut, 900 tambang diantaranya sudah memenuhi prosedur perijinan berdasarkan UU Minerba yang baru, yaitu IUP.
Dengan berlanjutnya pembangunan tambang oleh tambang – tambang PKP2B generasi 2 dan 3 serta KP, maka produksi batubara Indonesia diperkirakan akan terus meningkat ke depannya.
4.1.3. Prediksi Kebutuhan Domestik dan Ekspor
Statisik jumlah kebutuhan domestik ditampilkan pada Tabel 4.6. Terlihat bahwa pembangkitan listrik dan industri semen mendominasi kebutuhan dalam negeri.
Pada tahun 2005, konsumsi domestik adalah sebanyak 41,35 juta ton, naik menjadi 56 juta ton pada tahun 2009. Dengan diluncurkannya crash program 10.000 MW di bidang kelistrikan, maka kebutuhan domestik diperkirakan akan meningkat hingga
Kondisi Perbatubaraan Nasional
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. IV - 6
64,96 juta ton pada tahun 2010, serta 78,97 juta ton pada tahun 2011. (Sumber:
Seminar APEC di Fukuoka tahun 2010).
Tabel 4.6. Kebutuhan Batubara dalam Negeri (Domestik)
Industri 2005 2006 2007 2008 2009 ( prediksi)
Ketenagalistrikan 25.669 27.758 29.788 32.027
Semen, Baja, Lainnya 15.681 20.242 24.212 16.973
Total 41.350 48.000 54.000 49.000 56.000
Sumber: Ditjen Minerba, 2009
Kemudian untuk realisasi ekspor, statistiknya ditampilkan pada Tabel 4.7. Ekspor batubara Indonesia terus mengalami peningkatan, dengan tujuan utama ke Asia, yaitu Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Singapura, Thailand, dan Malaysia. Realisasi ekspor tahun 2009 adalah sebesar 198 juta ton.
Tabel 4.7. Realisasi Ekspor Batubara Indonesia
Area Negara 2005 2006 2007 2008 2009
Prediksi produksi batubara dalam jangka panjang, jumlah kebutuhan domestik serta ekspor ditampilkan pada Tabel 4.8. Mulai berproduksinya tambang – tambang PKP2B yang tersisa serta KP akan meningkatkan produksi batubara setiap tahunnya sehingga jumlah produksi pada tahun 2025 diperkirakan akan mencapai 405 juta ton.
Tabel 4.8. Prediksi Produksi, Kebutuhan Domestik, dan Ekspor
2010 2015 2020 2025
Produksi 270.000 321.000 361.000 405.000
Domestik 64.000 120.000 170.000 220.000
Ekspor 206.000 201.000 191.000 185.000
Sumber: Ditjen Minerba, 2009
Kondisi Perbatubaraan Nasional
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. IV - 7
Volume kebutuhan domestik pun akan meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dalam negeri, sehingga pada tahun 2025 diprediksi sebesar 220 juta ton.
Hal ini berarti peningkatan tajam sekitar 4 kali lipat dibandingkan dengan realisasi tahun 2008 yang sebesar 49 juta ton. Meningkatnya kebutuhan domestik mengakibatkan pertumbuhan untuk ekspor diperkirakan hanya akan sampai tahun 2015, kemudian menurun hingga angka 185 juta ton pada tahun 2025.
4.1.4. Kondisi Infrastruktur dan Pelabuhan Batubara
Di Indonesia, infrastruktur yang terkait dengan pengusahaan batubara belumlah memadai. Transportasi batubara umumnya memanfaatkan sungai besar, seperti Sungai Musi di Sumatera Selatan, Sungai Barito di Kalimantan Tengah dan Selatan, beberapa sungai di Jambi, serta Sungai Mahakam di Kalimantan Timur. Kereta batubara sampai saat ini hanya digunakan di tambang PTBA Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Selain itu, terminal batubara dan pelabuhan batubara dapat dikatakan belum memadai pula.
Batubara kebanyakan diangkut dengan menggunakan tongkang melewati sungai kemudian dipindahkan ke kapal batubara besar di laut lepas (trans-shipment) sehingga efisiensi pengangkutan menjadi kurang baik. Untuk itu, perlu upaya baru untuk mengatasi hal ini, misalnya penggunaan fasilitas penimbunan dan pengangkutan batubara terapung skala besar (mega float) atau pusher barge.
Tabel 4.9 menampilkan pelabuhan-pelabuhan batubara di Indonesia.
Tabel 4.9. Pelabuhan-pelabuhan Batubara di Indonesia, 2009 Pelabuhan Lokasi Pengelola Max. vassel
(DMT)
Pulau Bai Sumatera Harbor Authority
35.000 2.000
Tanjung Bara Kalimantan PT. KPC 180.000 5.000
Tanah Merah Kalimantan PT. Kideco 60.000 2.600
NPLCT Kalimantan PT. Arutmin 150.000 5.000
Balikpapan Kalimantan PT. BCT 60.000 5.000
Tanjung Redeb Kalimantan PT. Berau Coal 5.000 750
Beloro Kalimantan PT. MHU 8.000 1.350
Loa Tebu Kalimantan PT. Tanito Harum
8.000 6.300
Sembilang Kalimantan PT. Arutmin 7.500 1.000
Air Tawar Kalimantan PT. Arutmin 7.500 1.800
Satui Kalimantan PT. Arutmin 5.000 1.500
IBT Kalimantan Terminal
Batubara Indah
200.000
Banjarmasin Kalimantan Harbor 5.000
Kondisi Perbatubaraan Nasional
Kajian Implikasi Penetapan Kebijakan Nilai Tambah Upgrading Batubara untuk Ekspor thd Pengusahaan Batubara di Indonesia…2011,.Bambang Yunianto, dkk. IV - 8
Authority
Kelanis Kalimantan PT. Adaro 8.000 1.700
Bontang Kalimantan PT. Indominco 150.000 5.000