2 TINJAUAN PUSTAKA
4. GAMBARAN UMUM PETERNAKAN SAPI POTONG INDONESIA
Pola Peternakan Sapi Pedaging di Indonesia
Pengusahaan ternak sapi pedaging di Indonesia memiliki pola yang sangat berbeda dengan negara-negara produsen daging sapi seperti Australia, Amerika Serikat maupun Selandia Baru. Pengusahaan peternakan sapi pedaging di Indonesia didominasi oleh peternakan rakyat. Pola yang demikian menyebabkan distribusi sapi dan penyediaan sapi siap pedaging menjadi berkurang. Menurut
Muladno (2010), lebih dari 90% peternak sapi pedaging di Indonesia adalah peternak rakyat yang merupakan usaha sambilan dan bukan sebagai usaha pokok. Ciri khas dari peternakan rakyat setidaknya adalah: (a) skala usaha relatif kecil (b) merupakan usaha rumah tangga (c) cara memeliharanya masih tradisional; dan seringkali ternak digunakan sebagai sumber tenaga kerja. Hal ini memberi arti peternak tidak menganggap penting usaha ini dan tidak mengharapkan sebagai ternak penghasil daging.
Pengusahaan ternak sapi pedaging rakyat dilihat dari sistem pemeliharaannya terbagi ke dalam dua pola, yaitu yang berbasis lahan (landbase) dan yang tidak berbasis lahan (non landbase). Pola pemeliharaan yang bersifat
landbase memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) Pemeliharaan ternak dilakukan di padang-padang penggembalaan yang luas yang tidak dapat digunakan sebagai lahan pertanian, sehingga pakan ternak hanya mengandalkan rumput yang tersedia di padang penggembalaan tersebut; (2) Pola ini umumnya terdapat di wilayah yang tidak subur, sulit air, bertemperatur tinggi, dan jarang penduduk; (3) Teknik pemeliharaan dilakukan secara tradisional, kurang mendapat sentuhan teknologi; (4) Pengusahaan tidak bersifat komersial, tetapi cenderung bersifat sebagai simbol status sosial. Pola pemeliharaan yang bersifat non landbase memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) pemeliharaan ternak lebih banyak dikandangkan dengan pemberian pakan di dalam kandang; (2) terkait dengan usahatani sawah atau ladang sebagai sumber hijauan pakan ternak; (3) pola ini umumnya dilakukan di wilayah padat penduduk; dan (4) pengusahaan pola non landbase relatif lebih intensif dibandingkan dengan pola landbase dengan tujuan umumnya untuk tabungan dan sebagian lagi untuk tujuan komersial. Skala pemilikan ternak pada pola landbase pada umumnya lebih besar dibandingkan dengan pola non landbase. Pola landbase umumnya mengusahakan ternak dengan skala pemilikan di atas 3-5 ekor, sedangkan sapi yang dimiliki oleh peternak yang non landbase
biasanya memiliki skala di bawah 3 ekor (Rahmanto, 2004).
Unit usaha yang menguasai ternak sapi potong meliputi rumahtangga, perusahaan peternakan berbadan hukum,pedagang ternak dan lainnya. Rumahtangga peternak adalah rumahtangga yang memelihara ternak termasuk pedagang ternak yang biasanya melakukan pemeliharaan ternak selama 2 bulan atau lebih. Perusahaan peternakan berbadan hukum adalah unit usaha yang mengusahakan ternak baik untuk pengembangbiakan, penggemukan, pembibitan, maupun perdagangan dengan status badan hukum PT, CV, Firma, Koperasi, BUMN, dan Yayasan. Pedagang ternak adalah anggota rumahtangga yang melakukan perdagangan ternak, memperjualbelikan ternak yang bukan hasil pemeliharaan sendiri dengan tujuan memperoleh keuntungan dalam jangka waktu
pemeliharaan kurang dari 2 bulan. Lainnya adalah unit usaha yang melakukan pemeliharaan ternak yang meliputi rumahtangga khusus (asrama, pesantren), Rumah Potong Hewan (RPH), Unit Pelaksana Teknis, dan lain lain (BPS-Ditjen PKH, 2011).
Berdasarkan hasil PSPK (Pendataan Sapi Potong dan Kerbau) 2011 menunjukkan bahwa jumlah unit usaha peternakan sapi potong di Indonesia pada tahun 2011 tercatat 5.75 juta unit dengan populasi sapi potong 14.8 juta ekor. Sebagian besar populasi ternak sapi potong dikuasai oleh rumahtangga yaitu sebanyak 14.53 juta ekor (98.03%) dengan jumlah rumahtangga sebanyak 5.74 juta. Dengan demikian rata-rata dalam 1 unit rumahtangga usaha sapi potong menguasai 3 ekor ternak. Sementara itu, ternak sapi yang diusahakan oleh perusahaan berbadan hukum sebanyak 0.18 juta ekor (1.23%) dengan rata-rata jumlah ternak per perusahaan sekitar 734 ekor. Jumlah ternak yang dikuasai oleh pedagang sekitar 0.63%. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Banyaknya unit usaha dan populasi ternak menurut jenis usaha sapi potong di Indonesia tahun 2011
Jenis unit usaha Jumlah unit usaha (unit)
Jumlah ternak (ekor)
Jumlah ternak per unit usaha
(ekor) Rumahtangga 5 736 149 (99.81%) 14 532 847 (98.03%) 3 Perusahaan berbadan hukum 249 (0.00%) 182 743 (1.23%) 734 Pedagang 10 037 (0.17%) 93 474 (0.63%) 9 Lainnya 699 (0.01) 15 309 (0.01%) 22 Total 5 747 134 (100%) 14 824 373 (100%) 3 Sumber :BPS-Ditjen PKH (2011)
Menurut (Yusdja et al., 2001), usaha peternakan sapi pedaging rakyat memiliki posisi yang lemah dan sangat peka terhadap perubahan. Hal ini disebabkan oleh sifat usahanya. Karakteristik usaha peternakan rakyat dicirikan
oleh beberapa kondisi sebagai berikut: (1) Skala usaha relatif kecil; (2) Merupakan usaha rumah tangga; (3) Merupakan usaha sampingan; (4) Menggunakan teknologi sederhana; dan (5) Bersifat padat karya dengan basis
organisasi kekeluargaan. Untuk mengembangkan usaha peternakan rakyat ini menjadi usaha yang maju diperlukan informasi, baik yang menyangkut masalah permodalan, sistem kelembagaan, penerapan teknologi dan penciptaan pasar yang efisien.
Perkembangan Populasi Ternak Sapi Potong
Sapi pedaging secara umum terdiri dari dua jenis sapi utama yaitu Bos Taurus (sapi eropa, sebagian sapi Afrika,dan Asia) dan Bos indicus (sapi Brahman, India). Jenis-jenis sapi lainnya di luar jenis sapi utama saat ini berasal dari hasil perkawinan silang antara sapi dengan spesies lainnya seperti banteng, bison, dan kerbau. Sapi pedaging yang terdapat di Indonesia terdiri dari sapi lokal dan sapi impor. Sapi impor didatangkan dari Australia dan Selandia Baru
sedangkan sapi lokal Indonesia merupakan sapi variasi hasil perkawinan silang antara Bos indicus dan kerbau. Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura. Dari populasi sapi pedaging yang terdapat di Indonesia, jenis sapi yang penyebarannya merata di berbagai wilayah Indonesia adalah sapi Bali, sapi PO, Madura dan Brahman (Ditjenak dalam Alam, 2008). Berikut merupakan tabel perkembangan populasi sapi pedaging di Indonesia untuk setiap provinsi di Indonesia:
Tabel 4 Perkembangan Propulasi Sapi Potong Per Provinsi di Indonesia Tahun 2009-2013 (ekor) Provinsi 2009 2010 2011 2012 2013*) 1 Aceh 669 996 722 501 46 284 505 171 530 999 2 Sumatera Utara 394 063 41 267 541 698 609 951 625 817 3 Sumatera Barat 492 272 513 255 327 013 359 233 373 603 4 Riau 172 394 170 105 159 855 18 906 19 734 5 Jambi 164 256 17 771 119 888 139 534 151 543 6 Sumatera Selatan 342 412 347 873 246 295 260 124 277 032 7 Bengkulu 97 528 103 262 98 948 10 555 111 756 8 Lampung 463 032 496 066 742 776 77 805 834 154
9 Kep Bangka Belitung 9 624 9 852 7 733 8 405 9 246
10 Kep Riau 8 323 8 693 17 338 17 251 1 744 11 DKI Jakarta - - 1 691 1 214 1 214 12 Jawa Barat 309 609 32 775 422 989 429 637 444 155 13 Jawa Tengah 1 525 250 1 554 458 1 937 551 2051 407 2 092 436 14 DI Yogyakarta 283 043 290 949 375 844 358 387 424 839 15 Jawa Timur 3 458 948 3 745 453 4 727 298 4957 478 5 058 853 16 Banten 73 515 69 727 469 55 424 56 942 17 Bali 675 419 6 838 637 473 651 216 660 984
18 Nusa Tenggara Barat 592 875 695 951 68 581 91 656 1 002 503 19 Nusa Tenggara Timur 577 552 600 923 778 633 81 445 817 708 20 Kalimantan Barat 175 019 176 734 15 332 16 924 171 429 21 Kalimantan Tengah 68 022 75 098 54 647 59 385 71 922 22 Kalimantan Selatan 218 065 228 545 138 691 152 495 162 515 23 Kalimantan Timur 101 176 108 321 90 748 99 986 104 985 24 Sulawesi Utara 106 598 98 522 105 225 119 889 125 883 25 Sulawesi Tengah 210 535 211 769 230 682 250 921 257 303 26 Sulawesi Selatan 729 066 848 916 983 985 1 112 893 1 112 893 27 Sulawesi Tengagara 253 171 268 138 213 736 236 511 261 008 28 Gorontalo 240 659 253 411 183 868 202 974 203 582 29 Sulawesi Barat 124 632 13 577 72 822 79 905 88 208 30 Muluku 79 162 83 943 73 976 83 866 95 156 31 Maluku Utara 45 488 45 488 6 084 64 136 68 675 32 Papua Barat 36 081 37 093 41 464 52 046 62 683 33 Papua 62 053 78 825 81 796 88 347 92 837 Indonesia 12 759 838 13 581 570 14 824 373 15 980 697 16 606 803 Sumber : Ditjen PKH, 2014 Ket : *) angka sementara
Berdasarkan jenisnya ternak dikelompokkan menjadi ternak besar (sapi pedaging, sapi perah, kerbau, dan kuda), ternak kecil (kambing, domba, dan babi), ternak unggas (ayam buras, ayam ras petelur, ayam ras pedaging, dan itik) dan aneka ternak (kelinci, burung puyuh, merpati, dan itik manila). Berdasarkan data di atas yang diperoleh dari 33 provinsi, populasi ternak sapi terbesar terletak di
Pulau Jawa yaitu Jawa Timur dengan populasi ternak sapi pedaging sebanyak
5 058 853 atau mencapai 30 % dari proporsi populasi ternak sapi di Indonesia. Populasi ternak sapi terbesar berikutnya secara berturut-turut adalah Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Sedangkan perkembangan sapi potong dan sapi perah di Indonesia dapat diketahui pada Tabel 5:
Tabel 5 Perkembangan Populasi Sapi Potong dan Sapi Perah di Indonesia tahun 2009-2013 (000 ekor)
Jenis 2009 2010 2011 2012 2013*)
Sapi Pedaging 12 760 13 582 14 824 15 981 16 607
Sapi Perah 475 488 597 612 636
Sumber : Ditjen PKH, 2014 Ket : *) angka sementara
Peternakan sapi di Indonesia terdiri atas dua kelompok yaitu peternakan sapi potong dan peternakan sapi perah. Meskipun demikian, peternakan sapi potong merupakan jenis ternak sapi yang paling banyak dipelihara oleh masyarakat, hal ini dikarenakan sapi potong merupakan jenis sapi yang mudah untuk dipelihara. Pada tahun 2012 secara nasional populasi ternak besar khususnya sapi potong dan sapi perah mengalami peningkatan jumlah populasi bila dibandingkan dengan populasi pada tahun 2011 dengan rincian sebagai berikut: sapi pedaging 15.98 juta ekor (peningkatan 7.80%), sedangkan sapi perah 0.61 juta ekor (peningkatan 2.47%).
Perkembangan Produksi Daging
Produksi daging yang tercatat di sini adalah hasil pemotongan ternak yang dilakukan di dalam negeri, baik yang bibitnya berasal dari bibit dalam negeri maupun impor kemudian dilakukan penggemukan/pemeliharaan di dalam negeri. Produksi daging secara nasional dari tahun 2009-2013 cenderung mengalami peningkatan namun secara terperinci perkembangan produksi daging nasional dapat terlihat pada Tabel 6:
Tabel 6 Perkembangan Produksi Daging di Indonesia Tahun 2009-2013 (000 ton)
Jenis 2009 2010 2011 2012 2013*)
Daging 2 204.9 2 366.2 2 554.2 2 666.1 2 827.8
Sapi pedaging 409.3 436.5 485.3 508.9 545.6
Kerbau 34.6 35.9 35.3 37.0 40.3
Kambing dan domba 73.8 68.8 66.3 65.2 67.0
Sumber : Ditjen PKH, 2014 Ket : *) angka sementara
Pada tahun 2012 total produksi daging sebanyak 2 666.10 ribu ton yang terdiri dari daging sapi dan kerbau 545.87 ribu ton, kambing dan domba 109.57 ribu ton. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2011) produksi daging mengalami peningkatan yaitu 4.38% dengan peningkatan terbesar berasal dari sapi pedaging (4.86%), dan kerbau (4.62%). Namun selain mengalami peningkatan terdapat penurunan produksi daging bila dibandingkan dengan tahun 2011 pada ternak kambing dan domba dengan nilai -1.70%.
Konsumsi Daging Sapi
Peningkatan penduduk dari tahun ke tahun yang diiringi dengan peningkatan pendapatan masyarakat dan kesadaran masyarakat akan gizi menyebabkan peningkatan konsumsi daging sapi juga meningkat. Kebutuhan daging sapi nasional sebagian besar dipenuhi oleh produksi dari dalam negeri, namun karena kebutuhan konsumsi daging sapi yang meningkat setiap tahunnya dan kebutuhan daging tersebut melebihi produksi daging sapi lokal menyebabkan pemerintah melakukan impor daging sapi dan sapi bakalan untuk digemukkan dalam rangka memenuhi kebutuhan daging sapi nasional. Kebijakan impor dilakukan guna memenuhi kebutuhan daging sapi yang terus meningkat, namun demikian produksi daging sapi lokal belum mampu mengejar laju peningkatan konsumsi daging sapi dalam negeri. Adapun perkembangan konsumsi daging sapi Indonesia dapat diketahui pada Tabel 7.
Tabel 7 Perkembangan Produksi, Impor dan Konsumsi Daging Sapi Indonesia Tahun 1999-2013
Tahun Produksi Daging Sapi
Impor Daging Sapi Total
Konsumsi Daging Sapi
Ton Persen Ton Persen Ton
1999 308 770 96.70 10 548 3.30 319 318 2000 339 940 92.66 26 937 7.34 366 877 2001 338 690 95.37 16 438 4.63 355 128 2002 330 290 96.65 11 455 3.35 341 745 2003 369 710 97.20 10 666 2.80 380 376 2004 447 570 97.44 11 772 2.56 459 342 2005 358 710 94.73 19 941 5.27 378 651 2006 395 840 94.27 24 079 5.73 419 919 2007 339 480 89.61 39 352 10.39 378 832 2008 392 700 89.60 45 580 10.40 438 280 2009 409 300 85.86 67 400 14.14 476 700 2010 436 500 82.83 90 500 17.17 527 000 2011 485 300 64.41 268 123 35.59 753 423 2012 508 900 57.92 369 693 42.08 878 593 2013 545 600 72.07 211 488 27.93 757 088 Rata-rata 390 121.4 34 222.14 462 441.7 r (%/tahun) 3.20 21.58 4.66 Sumber : Ditjen PKH, 2014
Berdasarkan Tabel 7 di atas dapat diketahui bahwa konsumsi daging sapi nasional cenderung fluktuatif, namun menunjukkan adanya peningkatan dari tahun 1999-2013 dimana laju peningkatan konsumsi daging sapi nasional mencapai 4.66%. Kebutuhan daging sapi tersebut sebagian besar dipenuhi oleh produksi daging sapi dalam negeri, namun peningkatan produksi masih cenderung lebih kecil dengan peningkatan konsumsi sehingga guna memenuhi kebutuhan konsumsi daging sapi maka dilakukan kegiatan impor. Adapun perkembangan impor daging sapi dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan yang signifikan hingga tahun 2012. Pada tahun 2013, impor daging sapi mengalami
penurunan sebesar 15%. Hal ini disebabkan produktivitas peternakan sapi pedaging di Indonesia masih rendah sehingga produksi daging sapi dalam negeri belum mampu menutupi kebutuhan konsumsi daging sapi nasional serta daging sapi impor masih menjadi alternatif dalam pemenuhan kebutuhan daging sapi di Indonesia.
Perkembangan Harga Daging Sapi Domestik dan Internasional
Para ekonom neo-klasik percaya bahwa harga merupakan indikator utama yang dapat mencerminkan tingkat efisiensi suatu pasar. Transmisi harga dan tingkat integrasi pasar dapat dijadikan indikasi efisiensi yang terbentuk antar dua pasar yang saling berinteraksi, baik secara vertikal maupun spasial (Meyer & von Cramon-Taubadel, 2004).
Menurut Amikuzuno dan Ogundari (2012), khusus untuk bidang ekonomi pertanian, analisa transmisi harga dan integrasi pasar sudah berkembang sejak 50 tahun terakhir. Penelitian mengenai integrasi pasar dan transmisi harga diawali dengan analisa tingkat integrasi dan transmisi harga antar dua pasar yang berbeda wilayah geografisnya, yang kemudian disebut dengan interaksi secara spasial. Penelitian kemudian berkembang untuk melihat interaksi harga yang terjadi antar dua level pasar yang berada dalam satu rantai pemasaran, yang kemudian disebut dengan interaksi secara vertikal.
Pada kasus spasial, interaksi harga akan berjalan sesuai hukum satu harga (Law of One Price/LOP) dimana harga antara dua pasar yang berbeda lokasi adalah sama, selisih harga yang terjadi hanya sebesar biaya transfer antar kedua pasar tersebut. Pada model tersebut, perubahan yang terjadi di sisi permintaan dan penawaran di salah satu pasar akan mempengaruhi perdagangan dan harga jual di pasar yang lain, sampai pada akhirnya mencapai suatu titik keseimbangan harga yang tidak memungkinkan terjadinya pertukaran perdagangan antara kedua pasar tersebut. Harga sebagai indikator dalam menentukan jumlah penawaran dan permintaan berkembang dan menunjukkan trend yang terus menaik atau menurun atau bahkan berkembang secara fluktuatif. Perkembangan harga antar daerah dan perkembangan harga di pasar internasional tidak selalu sejalan, karena akan dipengaruhi oleh biaya transportasi dan margi pemasaran. Perkembangan harga antara pasar domestik dan pasar internasional untuk komoditas daging sapi di Indonesia dapat terlihat pada Gambar 2 (Halaman 5).
Berdasarkan Gambar 2 dapat diketahui bahwa harga daging sapi domestik lebih tinggi dibandingkan dengan harga daging sapi internasional. Hal ini disebabkan pengelolaan peternakan di luar negeri lebih efisien dibandingkan dengan peternakan di Indonesia sehingga harga internasional untuk komoditas daging juga menjadi lebih rendah. Selain itu, perkembangan harga daging sapi domestik bulanan pada tahun 2013 di Indonesia cenderung fluktuatif dengan trend yang meningkat setiap bulannya. Sedangkan untuk perkembangan harga daging intenasional cenderung menurun pada bulan Mei yang kemudian kembali mengalami peningkatan pada bulan Agustus sampai bulan Desember. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan harga daging sapi baik di tingkat pasar domestik maupun di pasar internasional menunjukkan trend yang sama.
Permasalahan dan Tantangan Pengembangan Peternakan Sapi Pedaging
Belum berkembangnya peternakan sapi pedaging di Indonesia disebabkan karena banyaknya kendala dalam pengembangan sapi pedaging. Sebagian besar peternak sapi di Indonesia merupakan peternak tradisional dengan sistem peternakan tradisional yang dicirikan oleh skala usaha kecil dengan jumlah sapi satu hingga tiga ekor per rumahtangga peternak. Ternak sapi dipelihara sebagai sumber tenaga kerja untuk pengolahan lahan serta sebagai tabungan, bukan untuk tujuan memproduksi daging. Pemeliharaan dilakukan secara tradisional dengan kualitas pakan yang rendah sehingga kualitas hasil ternak juga rendah (Soedjana, 2005). Menurut Dwiyanto (2006) sarana dan prasarana yang berhubungan langsung dengan pengembangan usaha sapi berupa air bersih, padang penggembalaan maupun lokasi lahan kering masih terbatas, perkendangan dan pabrik pakan ternak potong juga belum terpenuhi dengan baik. Selain berbagai kendala tersebut masih terdapat permasalahan utama lainnya yang masih menghambat pencapaian produktivitas dan efisiensi usaha ternak sapi, antara lain menyangkut sumberdaya ternak, sumberdaya manusia, sumberdaya pakan, dan sumberdaya teknologi.
a) Sumberdaya Ternak
Masalah produksi dan reproduksi pada sapi pedaging belum optimal. Peran ternak sapi pedaging lokal belum dimanfaatkan secara otimal, karena sentra-sentra produksi ternak tersebut belum berkembang secara maksimal. Waktu rata-rata umur beranak pertama sapi Indonesia lambat yaitu lebih dari 4.5 tahun dan jarak antara kelahiran juga masih sangat panjang yaitu lebih dari 18 bulan. Hal tersebut disebabkan manajemen dan perawatan ternak yang kurang baik. Sapi betina yang dipelihara dengan baik sedikitnya menghasilkan anak 2-3 ekor sepanjang masa hidupnya (Dwiyanto, 2006).
Walaupun sapi-sapi lokal belum dimanfaatkan secara optimal, namun terdapat permasalahan lain yang mengancam penggunaan sapi lokal yaitu degradasi produksi yang terjadi pada sapi lokal yang mengalami pengecilan bentuk ukuran tubuh. Hal tersebut dipengaruhi oleh pemotongan ternak dengan kondisi baik yang digunakan sebagai standar pasar ternak sapi potong dan jumlah pemotongan induk atau betina produktif (Suryana, 2000).
Rendahnya produksi sapi domestik menyebabkan rendahnya pemenuhan kebutuhan akan daging sapi. Usaha yang dilakukan diantaranya adalah mengimpor sapi bakalan yang dilakukan sejak tahun 1990 sampai saat ini. Menurut kajian para peneliti Australia, impor daging sapi dan sapi bakalan Indonesia akan meningkat pada tahun 2020 menjadi 70% dari semula yang hanya 20% (Dwiyanto, 2006).
b) Sumberdaya Manusia
Usaha budidaya sapi pedaging pada sebagian besar peternak di Indonesia masih bersifat sambilan dengan skala usaha yang rendah (di bawah 10 ekor). Orientasi peternak untuk menghasilkan ternak sesuai permintaan pasar masih rendah. Hanya sedikit kelompok tani ternak sapi pedaging yang mengembangkan sistemdan usaha agribisnis berbasis sapi pedaging.
c) Sumberdaya Pakan
Penyediaan pakan hijauan sampai saat ini masih tergantung pada musim dan pemanfaatan limbah/hasil samping tanaman pertanian. Kendala utama khususnya di Kawasan Indonesia Timur adalah kekurangan pakan hijauan pada musim kering yang panjang. Model penyediaan pakan hijauan sepanjang tahun belum diterapkan dengan baik. Ketersediaan pakan yang baik sangat penting karena keberhasilan peternakan di negara maju dilandasi oleh pertanian (tanaman pangan dan pakan) serta pembibitan yang baik.
d) Sumberdaya Lahan
Semakin terbatasnya penyediaan lahan untuk penanaman rumput unggul, menyebabkan ketergantungan kepada limbah tanaman pertanian/pangan yang nilai nutrisinya relatif lebih rendah semakin meningkat. Namun demikian, keterbatasan lahan ini hanya terdapat di Pulau Jawa, sementara permintaan terhadap daging sapu terbesar berasal dari masyarakat di Pulau Jawa.
e) Sumberdaya Teknologi
Pemanfaatan teknologi tepat guna belum optimal, mengingat keterbatasan peternak untuk memanfaatkannya terutama bila dikaitkan dengan biaya dan aplikasi di lapangan. Jika dibandingkan dengan negara lain seperti Australia dan negara produsen utama daging sapi dunia, penggunaan teknologi tepat guna di Indonesia masih rendah.