• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

2 TINJAUAN PUSTAKA

7. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, dapat diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Integrasi pasar daerah sentra produksi daging sapi (Jawa Timur dan NTB) dengan pasar daerah sentra konsumsi daging sapi (Jawa Barat dan Jakarta) menunjukkan bahwa terjadi kointegrasi (integrasi dalam jangka panjang). Respon harga dari daerah sentra konsumsi ke daerah sentra produksi daging sapi masih bersifat searah. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu pasar merupakan pasar acuan dan pasar lainnya merupakan pasar pengikut dimana sentra konsumsi daging sapi (Provinsi Jakarta) merupakan pasar acuan atau sentra dalam pemasaran daging sapi dan pasar lainnya sebagai pasar pengikut. Selain itu, diketahui bahwa pemasaran daging sapi dari daerah sentra produksi daging sapi ke daerah sentra konsumsi daging sapi tidak efisien karena adanya selisih harga yang tinggi. Pemasaran daging sapi yang tidak efisien tersebut diduga disebabkan oleh adanya biaya transportasi yang tinggi dan banyaknya pelaku pasar dari daerah sentra produksi ke daerah sentra konsumsi yang menyebabkan saluran pemasaran daging sapi yang panjang. Selain itu, adanya

market power dari pedagang perantara dan pedagang besar yang dapat menentukan harga berimplikasi terhadap adanya disparitas harga yang tinggi antara level peternak/ produsen dan level konsumen.

2. Integrasi pasar daging sapi domestik dengan pasar daging sapi dunia menunjukkan adanya hubungan integrasi dalam jangka panjang namun dalam jangka pendek masih terdapat ketidakseimbangan sehingga dibutuhkan penyesuaian untuk mencapai kesimbangan jangka panjangnya. Indonesia merupakan negara kecil dan net importir daging sapi, sehingga perubahan yang terjadi di pasar internasional akan mempengaruhi harga daging sapi domestik, namun sebaliknya perubahan harga daging sapi domestik tidak dapat mempengaruhi harga daging sapi dunia. Selain itu, selisih harga daging sapi domestik dan harga daging sapi dunia yang sangat besar. Hal ini menunjukkan bahwa pemasaran daging sapi domestik Indonesia tidak efisien. Jika ditelusuri lebih lanjut, harga daging sapi impor yang beredar di beberapa pasar swalayan yang lebih tinggi dibandingkan harga paritas impor. Hal ini menunjukkan pemasaran daging sapi impor juga tidak efisien dimana diduga terjadi ketidakadilan dalam pengambilan keuntungan dimana terdapat indikasi adanya impor lebih menguntungkan pihak importir. Hal ini diduga terjadi permainan harga oleh pihak importir daging sapi dimana diduga dalam pemasaran daging sapi impor terdapat perilaku kartel sehingga harga daging sapi impor yang beredar di swalayan lebih tinggi dari harga paritas impor namun masih lebih rendah dari harga daging sapi domestik.

3. Penawaran daging sapi bersifat inelastis terhadap harga daging sapi domestik. Hal ini dapat disebabkan oleh sebagian besar peternak Indonesia adalah peternak rakyat yang masih bersifat subsisten, skala kecil dan tujuan pemeliharaan ternak adalah sebagai tabungan atau sebagai tenaga kerja di sawah, sehingga adanya perubahan harga daging sapi tidak mempengaruhi

penawaran daging sapi karena sifat peternak sapi Indonesia yang tidak responsif terhadap perubahan harga. Respon penawaran daging sapi yang negatif terhadap pergerakan harga susu juga menunjukkan bahwa sumber penawaran daging sapi bukan hanya berasal dari sapi potong namun juga berasal dari sapi perah. Penawaran daging sapi juga dipengaruhi oleh harga pakan, peningkatan harga pakan dapat menyebabkan penurunan penawaran daging sapi. Oleh karena itu, pengembangan agribisnis pakan mutlak diperlukan apabila Indonesia bermaksud untuk mencapai swasembada daging sapi. Selain itu, Penawaran daging sapi sangat elastis terhadap jumlah sapi yang dipotong karena jumlah sapi yang dipotong menunjukkan ketersediaan daging sapi.

Saran

Implikasi Kebijakan

1. Perlu adanya perbaikan sarana transportasi dan memperpendek saluran pemasaran dari daerah sentra produsen ke daerah sentra konsumen agar tidak menimbulkan biaya pemasaran yang tinggi sehingga selisih harga dari daerah sentra produksi dan sentra konsumsi tidak terlalu jauh berbeda.

2. Perlu adanya kebijakan price brand, dimana Pemerintah menetapkan suatu rentang/disparitas harga yang wajar antara harga di level petani dengan harga di level konsumen. Untuk menentukan rentang yang wajar maka Pemerintah perlu memperhatikan tingkat harga yang tidak eksploitatif bagi konsumen namun tetap memberikan margin yang ideal bagi pedagang perantara.

3. Perlu adanya kebijakan yang dapat mendorong pelaku usaha baru untuk masuk ke perdagangan daging sapi (impor). Sebagaimana disebutkkan bahwa masih terdapat entry barrier alami dalam perdagangan daging sapi di Indonesia, yaitu berupa jaringan pemasaran. Dalam hal ini Pemerintah diharapkan mampu mengurangi entry barrier tersebut, sehingga peluang bagi pelaku usaha baru untuk masuk ke perdagangan daging sapi menjadi semakin terbuka, hal ini akan menekan harga daging sapi domestik menjadi lebih rendah selanjutnya gap atau selisih harga daging sapi domestik dan daging sapi impor tidak terlalu jauh.

4. Untuk mencapai swasembada daging sapi di Indonesia, sebagaimana diinginkan Pemerintah, maka diperlukan perubahan orientasi usahaternak. Jika selama ini cukup banyak peternak yang memelihara untuk tujuan subsistensi dan fungsi non komersial yang lain maka perlu terus dikembangkan usahatani sapi potong yang sepenuhnya berbasiskan komersial. Swasembada daging sapi juga akan tercapai apabila industri pakan juga dikembangkan.

Saran Penelitian Lanjutan

1. Dalam penelitian mengenai integrasi pasar baik pasar daging sapi sentra produksi dan konsumsi dan pasar daging sapi domestik dan dunia hanya ditinjau dari sisi harga saja, maka untuk memperkuat gambaran integrasi pasar tersebut sebaiknya dilakukan penambahan variabel yang mempengaruhi integrasi pasar tersebut seperti aliran komoditas daging sapi, biaya transaksi dan volume perdagangan, jarak antar pasar serta sarana transportasi.

2. Guna mengidentifikasi mengenai respon penawaran secara lanjut, perlu adanya penelitian mengenai respon peternak terhadap perubahan harga input dan output dengan menggunakan data cross section. Hal ini untuk memperkuat adanya sifat petani yang masih bersifat subsisten sehingga dapat dibuat kebijakan yang langsung berkenaan dengan peternak secara langsung. Selain itu, perlu pula dikaji mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi peternak untuk menjual ternaknya.