• Tidak ada hasil yang ditemukan

6.1. Komoditas Potensial

6.1.2. Rajungan

6.1.2.3. Gambaran Umum Rantai Pasok Rajungan

Alat yang digunakan untuk penangkapan rajungan antara lain gillnet dan kodong (trap net). Meskipun bersifat fluktuatif setiap bulannya, ketersediaan rajungan di wilayah ini cukup melimpah terutama pada saat musimnya.

Rajungan semi raw material merupakan produk antara dari daging rajungan, setelah melalui proses pengukusan dan pemisahan daging. Proses pengukusan dan pemisahan harus dilakukan sesegera mungkin sejak penangkapan, agar daging yang dihasilkan berkual itas baik dan mudah dipisahkan. Pemisahan daging merupakan proses yang penting karena berdampak pada kelas kualitas dan nilai jual daging.

Proses pengolahan rajungan di Kabupaten Lombok Barat bersifat tradisional dengan peralatan dan teknologi yang masih sederhana. Peralatan utama yang digunakan adalah alat pengukus, pisau pemisah, kotak kontainer dan freezer. Proses utama dalam pengolahan ini adalah pengukusan rajungan. Daging rajungan yang telah dikukus, kemudian segera dipisahkan bagian-bagian dagingnya. Daging

dipisahkan kemudian dikelompokkan ke dalam kelas/grade berdasarkan bagian tubuh, ukuran daging dan warnanya. Tiap grade dari bagian rajungan memiliki harga yang berbeda.

Gambar 18. Proses pengupasan daging rajungan

Daging yang telah dikupas, dipisahkan kemudian ditempatkan dalam container plastic atau kantung plastik. Untuk mempertahankan mutu, daging dalam container disimpan dalam freezer sampai diambil oleh perusahaan pengumpul.

Gambar 19. Pengemasan daging rajungan berdasarkan bagia

Proses produksi dan pengolahan rajungan yang dilakukan masih belum optimal. Selain keterbatasan sarana pengolahan, pekerja juga belum menggunakan standar prosedur kerja yang jelas. Peningkatan sarana dan peralatan perlu dilakukan untuk meningkatkan hasil penjualan agar persentase barang yang ditolak pembeli (reject) semakin kecil.

Rumah produksi untuk mengolah rajungan merupakan bangunan konkrit beton dengan kondisi yang baik. Namun demikian, tata guna ruang produksi masih kurang efektif dan efisien sehingga diperlukan manajemen tata letak dan optimasi fungsi dalam banguanan produksi. Bangunan yang digunakan sebenarnya tidak sesuai desain dan kontruksi apabila digunakan untuk kegiatan pengolahan rajungan.

Perdagangan rajungan olahan di Kabupaten Lombok Barat, khususnya di daerah Lembar dan Sekotong telah dilakukan cukup lama. Daging olahan semi raw material tersebut dikirim atau dibeli oleh agen dari perusahaan-perusahan eksportir antara lain Windika Utama, Philips Seafood dan Bumi Menara Internusa. Pemilihan agen penjualan oleh pengolah didasarkan pada beberapa kriteria antara lain harga jual, standar kualitas yang harus dipenuhi dan sistem pembayaran.

Hasil analis menunjukkan bahwa peluang ekspor daging rajungan masih terbuka luas dan mempunyai prospek untuk dikembangkan. Perusahaan pengekspor masih dapat menampung seluruh produk yang dihasilkan oleh pengolah, tetapi dengan ketentuan standar yang telah ditetapkan.

6.1.2.3.2. Pelaku Utama Pasar dan Peranannya

Pelaku usaha yang terlibat dalam pengolahan dan perdagangan rajungan di Kabupaten Lombok Barat adalah nelayan, pengepul, pengolah, hotel/restoran, perusahaan dan konsumen. Masing-masing mempunyai peran penting dan membentuk mata rantai komoditas rajungan. Nelayan adalah produsen utama yang bertugas menangkap rajungan.

Tabel 11. Peran pelaku usaha komoditas rajungan di Lombok Barat

Pelaku usaha Peran

Nelayan - Produsen utama rajungan

Pengepul - Mengumpulkan dan menyalurkan rajungan dari nelayan ke konsumen atau pengolah

- Menentukan harga jual di tingkat nelayan

Pengolah - Mengolah rajungan mentah menjadi semi raw material Perusahaan - Menampung hasil olahan rajungan dan mini plant

- Menyalurkan/ekspor semi raw material Restoran/hotel - Memasarkan kepada konsumen

6.1.2.3.2.1. Saluran, Harga dan Margin Pemasaran

Hasil tangkapan nelayan dikumpulkan oleh pengepul, untuk dijual kepada pengolah atau konsumen langsung. Hasil olahan kemudian akan disetorkan kepada perusahaan eksportir (Gambar 20). Rajungan yang ditangkap oleh nelayan di Desa

Lembar Selatan dan sekitarnya memiliki harga yang berbeda. Rajungan hasil tangkapan nelayan akan dijual kepada pengepul untuk kemudian diolah menjadi daging rajungan dengan harga Rp. 12.000-Rp 15.000 per kilogram dalam partai besar. Namun demikian, rajungan yang dijual secara pribadi ke pasar lokal terutama untuk kebutuhan hotel dan restoran dijual dengan harga Rp. 25.000 per kg.

Permintaan rajungan untuk hotel dan restoran tidak begitu tinggi sehingga nelayan lebih memilih menjual rajungan yang diperoleh ke pengepul rajungan untuk kepentingan olahan dan ekspor. Alur pemasaran dan rerata harga jual komoditas rajungan pada masing-masing segmen pemasaran di Kabupaten Lombok Barat dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 20. Bagan alir komoditas rajungan dan produk daging rajungan

Untuk optimalisasi hasil pada masing-masing segmen, setiap pelaku usaha perlu memperhatikan input, proses maupun proses pemasaran yang sangat spesifik.

Tabel berikut menunjukkan kondisi aliran dan proses produksi pada masing-masing segmen produksi komoditas rajungan.

Tabel 12. Kondisi Product Flows Komoditas Rajungan

Nelayan Pengepul Eksportir

Input - Ketersediaan Pengolahan - Pendinginan - Pengukusan,

pengupasan pengemasan

- Pengalengan kepiting Pemasaran - Dijual ke pengepul - Eksportir melalui

agen perusahaan

- Pemasaran ke luar negeri

Input supply kegiatan produksi daging rajungan dari tingkat nelayan hingga ekspor memiliki spesifikasi tersendiri. Meskipun rajungan diperoleh dalam jumlah banyak, namun produksi rajungan belum optimal. Kegiatan penangkapan dilakukan dengan gillnet mono filament atau kodong (trap net). Selain rajungan, beberapa jenis ikan lain juga ikut tertangkap sebagai hasil sampingan. Hasil tangkapan utama langsung dijual langsung ke pengepul untuk menjaga hasil tangkapan agar tetap hidup atau segar. Peningkatan mutu dan kualitas hasil tangkapan rajungan dilakukan dengan penanganan sistem rantai dingin (penambahan coolbox).

6.1.2.4. Hambatan Utama and Solusi Pengembangan Perikanan

Peningkatan produksi dan nilai tambah produk rajungan mempunyai berbagai kendala yang harus diupayakan langkah penyelesaiannya. Hambatan dan solusi yang harus dilakukan secara ringkas dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 13. Permasalahan dan Solusi Komoditas Rajungan

Pelaku usaha Permasalahan Solusi

Nelayan 1. Keberlanjutan stok rajungan

2. Data kemelimpahan rajungan

1. Regulasi mengenai ukuran dan musim penangkapan rajungan, untuk

menghindari penangkapan rajungan yang sedang memijah atau bertelur.

2. Membuat sistem pencatatan yang baik dari pengepul dan nelayan untuk menjaga sumberdaya alam rajungan yang potensial dan masuk dalam kelas mature value chain

Pengolah 1. Efisiensi/ergonomi lokasi produksi

1. Pengubahan tata guna ruang

2. Penerapan SOP dalam proses produksi serta meningkatkan higienitas lokasi produksi

3. Proses pengolahan limbah cangkang/

kulit rajungan untuk pakan ternak, chitosan atau tepung kalsium.

6.1.5. Rekomendasi Spesifik untuk Meningkatkan Nilai Tambah Pendapatan 6.1.5.1. Tingkat Kabupaten

1. Membangun jalur distribusi yang lancar antara produsen dan eksportir degan membangun kerjasama dalam tingkat kabupaten dengan perusahaan pengiriman atau perusahaan transportasi dalam memudahkan proses pengiriman barang.

2. Membangun rumah kemas yang juga mengakomodasi pengemasan produk produk hasil olahan masyarakat desa

6.1.5.2. Tingkat Desa

1. Komoditas Rajungan sebagai komoditas ang perlu ditingkatkan di daerah Lembar Selatan dan sekitarnya. Penguatan kelembagaan kelompok nelayan untuk menjaga keberlanjutan usaha dengan memastikan ketersediaan sumberdaya dan pengawasan terhadap sumberdaya rajungan perlu ditingkatkan

2. Megembangkan sistem pengawasan mutu dengan pendampingan intensif kepada masyarakat terutama kelompok pengolah untuk meminimalkan reject produk

3. Membentuk beberapa mini plan serupa dengan pendampingan dari miniplan yang sudah berkembang untuk optimalisasi pengelolaan sumberdaya rajungan

Dokumen terkait