• Tidak ada hasil yang ditemukan

6.1. Komoditas Potensial

6.1.1. Tongkol

6.1.1.3. Gambaran Umum Rantai Pasok Tongkol

6.1.1.3.3. Alur Produk, Harga dan Margin Pemasaran

Komoditas tongkol dijual dalam bentuk segar dan olahan. Dalam bentuk segar rantai pemasaran cukup singkat yaitu nelayanàpedagang retaileràkonsumen. Pada umumnya tongkol segar hanya dipasarkan di pasar desa. Ikan tongkol segar dijual dalam ikat dengan satu ikat terdiri dari 5 ekor. Ikan dijual Rp1.000 per ekor untuk harga normal, dan jika sedang musim ikan atau musim paceklik ikan, harga per ekor berkisar antara Rp500-1500/ekor. Tongkol yang telah diolah menjadi produk pindang mengalami perubahan harga. Dalam satu keranjang terdiri dari 30 ekor pindang kecil dan dijual Rp25.000-55.000 per keranjang.

Tabel 8. Kondisi Aliran Pemasaran Produk Komoditas Ikan Tongkol

Nelayan Pemindang Pengepul

Input Supply BBM Kapal

Jaring dan Pancing

Tongkol Lemuru Garam Keranjang

Peralatan memindang

Ikan PIndang Tongkol dan Lemuru

Production Ikan tongkol segar IKan Tongkol Pindang - Trading Peralatan tangkap

BBM

Garam Keranjang

Garam Keranjang

Processing - Pembersihan Ikan

Penggaraman

Penyusunan dalam keranjang Perebusan

Perebusan ulang untuk mengawetkan

Marketing Rp. 500-1000 /ekor Rp. 25.000-55.000 /kranjang

Rp. 30.000-65.000 /keranjang

Gambar 14. Rantai Pasok Tongkol dari Produsen Hingga ke Konsumen

6.1.1.4. Hambatan Utama and Solusi Pengembangan Perikanan Tongkol

Pengembangan usaha perikanan dan kelautan Kabupaten Lombok Barat dihadapkan pada beberapa tantangan, yang meliputi aspek ketersediatan dan akses terhadap sarana prasarana perikanan, ketersediaan dan kualitas SDM, akses dan ketersediaan modal dan teknologi, pasar, dan kelembagaan. Berikut diuraikan hambatan serta solusi dan intervensi dalam pengembangan perikanan tongkol.

Tabel 9. Hambatan, Solusi dan Intervensi Kegiatan

Hambatan Solusi Fasilitator Intervensi

Struktur armada perikanan sangat timpang dan didominasi oleh perikanan tradisional atau skala kecil (39% perahu tanpa motor dan 61% perahu motor tempel)

Ø Fasilitasi dan perbaikan akses terhadap kapal motor untuk perluasan area penangkapan (fishing ground) di zona II, III dan ZEEI.

Ø Penguatan SDM melalui pendidikan dan pelatihan untuk

Ø Perbaikan sistem informasi dan database sumberdaya ikan Ø Registrasi dan pengaturan ijin

kapal ikan

Ø Kerjasama pemerintah daerah, masyarakat dengan aparat penegak hukum dalam pengaturan pemanfaatan sumberdaya ikan

Penanganan pasca panen hasil perikanan yang masih lemah sehingga menurunkan mutu dan nilai jual hasil perikanan

Ø Revitalisasi pabrik es dan pembangunan coldstorage Ø Perbaikan sistem dan metode

penanganan hasil

penangkapan (segar), mulai dikapal (penggunaan palka khusus atau cool box dan es) hingga di tempat pelelangan Ø Diseminasi informasi dan

teknologi pengolahan hasil

Ø Penyelenggaraan forum forum seminar, diskusi, lokakarya terbatas di pulau dan segmen pasar tradisional belum

Ø Pengembangan jaringan pasar dan kontrak kerjasama dengan pasar modern

Ø Peningkatan daya simpan dan daya tarik pindang dengan

Ø Mendekatkan layanan lembaga keuangan dengan komunitas masyarakat pesisir

Ø Pengembangan program masyarakat pesisir menabung (budaya menabung).

6.1.1.5. Rekomendasi untuk Peningkatan Rantai dan Perbaikan Pendapatan 6.1.1.5.1. Tingkat Kabupaten

Strategi dan program pengembangan perikanan tangkap, termasuk perikanan tongkol di Kabupaten Lombok Barat, diantaranya dapat dilakukan melalui:

a. Peningkatan kapasitas dan jumlah armada perikanan tangkap lebih dari 10 GT dan alat tangkap serta alat bantu penangkapan ikan.

b. Promosi dan peningkatan daya tarik dan minat investasi perikanan tangkap.

c. Program pendampingan nelayan dengan bersinergi lembaga penelitian, pendidikan maupun organisasi swadaya masyarakat.

d. Peningkatan sistem keamanan dan keselamatan kegiatan perikanan tangkap e. Pembangunan pangkalan pendaratan ikan serta pembinaan SDM

pengelolanya

f. Pengembangan sistem rantai dingin mulai diatas kapal sampai ke tangan konsumen

g. Revitalisasi pabrik es dan pembangunan cold storage serta penyediaan air bersih dan listrik.

h. Pembangunan sentral pemindangan tongkol dan sarana pendukungnya.

i. Pembangunan rumah produksi dan outlet untuk pemasaran hasil perikanan.

j. Penguatan kelembagaan nelayan (kelompok/koperasi) untuk penataan administrasi kegiatana usaha.

k. Perbaikan jalan kabupaten yang menghubungkan kota dan sentra produksi pindang tongkol (daerah Bangko Bangko).

6.1.1.5.2. Tingkat Desa

Pada tingkat desa, dalam rangka proyek PMP, beberapa program yang perlu diintroduksi antara lain:

Tabel 10. Rekomendasi program tingkat desa

Rekomendasi Program Kelompok Sasaran Lokasi

Nelayan Pemasar Pengolah 1. Pengadaan armada penangkapan

ikan dengan kapal motor minimal ukuran di atas 10GT, serta alat tangkap dan alat bantu 2. Peningkatan keterampilan dan

penguasaan teknologi informasi dan alat bantu penangkapan untuk meningkatkan kecakapan nelayan 3. Peningkatan akses, ketersediaan

dan kemampuan pengelolaan

5. Perbaikan infrastruktur jalan. Bangko-Bangko

6. Peningkatan akses sarana dan prasarana pemasaran ikan

7. Penguatan kelompok usaha dan pengembangan pasar bersama dalam satu kawasan

pengembangan perikanan tangkap

Semua Semua desa target

8. Peningkatan akses, ketersediaan dan kemampuan pengelolaan modal usaha

Semua desa target 9. Perluasan dan pengembangan

jaringan pemasaran melalui kerjasama antara masyarakat, swasta dan pemerintah daerah

Semua desa target

10. Diversifikasi usaha perikanan tangkap melalui pengembangan perikanan terpadu, baik terpadu dalam artian minabisnis yaitu dari praproduksi sampai pemasaran hasil perikanan maupun terpadu dengan sektor lainnya pariwisata dan kegiatan ekonomi lainnya

Semua desa target

11. Pembuatan rumah produksi dan outlet penjualan produk olahan ikan secara berkelompok

Labuan Tereng Batu Kijuk

12. Perbaikan pengemasan ikan Bangko Bangko,

Desa Pelangan

6.1.2. RAJUNGAN

6.1.2.1. Penawaran Pasar

Rajungan merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang banyak ditemukan di Lombok Barat, terutama di daerah perairan teluk dengan ekosistem mangrove. Daerah ini meliputi Kecamatan Lembar dan Sekotong yang berada di sekitar Teluk Lembar. Kondisi hutan mangrove yang cukup baik sangat mendukung ketersediaan sumberdaya rajungan maupun berbagai jenis ikan lainnya.

Sebagai negara dengan wilayah kepulauan yang cukup luas, komoditas rajungan tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Meskipun persentase dan produksi yang dihasilkan tidak terlalu besar, wilayah NTB merupakan salah satu sumber rajungan di Indonesia. Wilayah supplier rajungan dan presentasi supply daging rajungan dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 15. Peta Persentase Supply Rajungan di Indonesia

Sumber Potensi dan tantangan Ekspor Perikanan Rajungan KML 2011

Produksi rajungan di Lombok cukup besar, meskipun mengalami fluktuasi pada setiap tahunnya. Produksi rajungan mengalami peningkatan pada tahun 2010 yaitu 630 ton. Namun demikian produksi rajungan mengalami penurunan pada tahun 2011 yaitu 482 ton. Fluktuasi dan kecenderungan ini perlu perlu diperhatikan dalam sisi input supply untuk keberlanjutan usaha perikanan rajungan. Produksi rajungan di Lombok selama periode 2008-2011 dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 16. Produksi Rajungan Lombok Sumber: Sidatik 2013

6.1.2.2. Permintaan Pasar dan Potensi Pertumbuhan

Rajungan merupakan komoditas ekspor yang memiliki pangsa pasar luas dan nilai jual yang tinggi. Rajungan dibutuhkan dalam jumlah yang besar oleh perusahan-perusahaan eksportir, terutama dalam bentuk semi raw material atau olahan. Volume dan nilai ekspor rajungan tercatat meningkat setiap tahun pada periode 2005-2008, dan diperkirakan akan tetap meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Perkembangan volume dan nilai produksi ekspor rajungan di Indonesia tersaji pada Gambar 15).

Hasil perhitungan dari International Trade Center menunjukkan bahwa ekspor olahan rajungan (crab) Indonesia mempunyai kontribusi yang cukup besar, yaitu 9-11% dari total perdagangan dunia senilai US $ 152.713.000 pada tahun 2012, atau meningkat 26,6 % dari tahun sebelumnya (2011).

0   200   400   600   800  

2008  

2009  

2010  

2011  

Ton  

Tahun  

Gambar 17. Volume dan Nilai Ekspor Rajungan Indonesia 2006-2008 Sumber : Potensi dan tantangan Ekspor Perikanan Rajungan KML 2013

Rantai produksi dan pemasaran rajungan di Kabupaten Lombok Barat relatif sederhana. Rajungan hasil tangkapan nelayan dijual langsung kepada pengolah atau pengepul. Beberapa pengepul adalah sekaligus pengolah. Rajungan yang terkumpul akan diolah pada mini plant menjadi rajungan semi rawa material (daging dikukus dan dipisahkan). Daging yang diperoleh dipilah berdasarkan warna, bagian tubuh dan ukuran, yang selanjutnya akan dikemas dan dijual kepada perusahaan untuk proses lanjut atau ekspor.

6.1.2.3. Gambaran Umum rantai Pasok Rajungan 6.1.2.3.1. Deskripsi Produk dan Teknologi

Alat yang digunakan untuk penangkapan rajungan antara lain gillnet dan kodong (trap net). Meskipun bersifat fluktuatif setiap bulannya, ketersediaan rajungan di wilayah ini cukup melimpah terutama pada saat musimnya.

Rajungan semi raw material merupakan produk antara dari daging rajungan, setelah melalui proses pengukusan dan pemisahan daging. Proses pengukusan dan pemisahan harus dilakukan sesegera mungkin sejak penangkapan, agar daging yang dihasilkan berkual itas baik dan mudah dipisahkan. Pemisahan daging merupakan proses yang penting karena berdampak pada kelas kualitas dan nilai jual daging.

Proses pengolahan rajungan di Kabupaten Lombok Barat bersifat tradisional dengan peralatan dan teknologi yang masih sederhana. Peralatan utama yang digunakan adalah alat pengukus, pisau pemisah, kotak kontainer dan freezer. Proses utama dalam pengolahan ini adalah pengukusan rajungan. Daging rajungan yang telah dikukus, kemudian segera dipisahkan bagian-bagian dagingnya. Daging

dipisahkan kemudian dikelompokkan ke dalam kelas/grade berdasarkan bagian tubuh, ukuran daging dan warnanya. Tiap grade dari bagian rajungan memiliki harga yang berbeda.

Gambar 18. Proses pengupasan daging rajungan

Daging yang telah dikupas, dipisahkan kemudian ditempatkan dalam container plastic atau kantung plastik. Untuk mempertahankan mutu, daging dalam container disimpan dalam freezer sampai diambil oleh perusahaan pengumpul.

Gambar 19. Pengemasan daging rajungan berdasarkan bagia

Proses produksi dan pengolahan rajungan yang dilakukan masih belum optimal. Selain keterbatasan sarana pengolahan, pekerja juga belum menggunakan standar prosedur kerja yang jelas. Peningkatan sarana dan peralatan perlu dilakukan untuk meningkatkan hasil penjualan agar persentase barang yang ditolak pembeli (reject) semakin kecil.

Rumah produksi untuk mengolah rajungan merupakan bangunan konkrit beton dengan kondisi yang baik. Namun demikian, tata guna ruang produksi masih kurang efektif dan efisien sehingga diperlukan manajemen tata letak dan optimasi fungsi dalam banguanan produksi. Bangunan yang digunakan sebenarnya tidak sesuai desain dan kontruksi apabila digunakan untuk kegiatan pengolahan rajungan.

Perdagangan rajungan olahan di Kabupaten Lombok Barat, khususnya di daerah Lembar dan Sekotong telah dilakukan cukup lama. Daging olahan semi raw material tersebut dikirim atau dibeli oleh agen dari perusahaan-perusahan eksportir antara lain Windika Utama, Philips Seafood dan Bumi Menara Internusa. Pemilihan agen penjualan oleh pengolah didasarkan pada beberapa kriteria antara lain harga jual, standar kualitas yang harus dipenuhi dan sistem pembayaran.

Hasil analis menunjukkan bahwa peluang ekspor daging rajungan masih terbuka luas dan mempunyai prospek untuk dikembangkan. Perusahaan pengekspor masih dapat menampung seluruh produk yang dihasilkan oleh pengolah, tetapi dengan ketentuan standar yang telah ditetapkan.

6.1.2.3.2. Pelaku Utama Pasar dan Peranannya

Pelaku usaha yang terlibat dalam pengolahan dan perdagangan rajungan di Kabupaten Lombok Barat adalah nelayan, pengepul, pengolah, hotel/restoran, perusahaan dan konsumen. Masing-masing mempunyai peran penting dan membentuk mata rantai komoditas rajungan. Nelayan adalah produsen utama yang bertugas menangkap rajungan.

Tabel 11. Peran pelaku usaha komoditas rajungan di Lombok Barat

Pelaku usaha Peran

Nelayan - Produsen utama rajungan

Pengepul - Mengumpulkan dan menyalurkan rajungan dari nelayan ke konsumen atau pengolah

- Menentukan harga jual di tingkat nelayan

Pengolah - Mengolah rajungan mentah menjadi semi raw material Perusahaan - Menampung hasil olahan rajungan dan mini plant

- Menyalurkan/ekspor semi raw material Restoran/hotel - Memasarkan kepada konsumen

6.1.2.3.2.1. Saluran, Harga dan Margin Pemasaran

Hasil tangkapan nelayan dikumpulkan oleh pengepul, untuk dijual kepada pengolah atau konsumen langsung. Hasil olahan kemudian akan disetorkan kepada perusahaan eksportir (Gambar 20). Rajungan yang ditangkap oleh nelayan di Desa

Lembar Selatan dan sekitarnya memiliki harga yang berbeda. Rajungan hasil tangkapan nelayan akan dijual kepada pengepul untuk kemudian diolah menjadi daging rajungan dengan harga Rp. 12.000-Rp 15.000 per kilogram dalam partai besar. Namun demikian, rajungan yang dijual secara pribadi ke pasar lokal terutama untuk kebutuhan hotel dan restoran dijual dengan harga Rp. 25.000 per kg.

Permintaan rajungan untuk hotel dan restoran tidak begitu tinggi sehingga nelayan lebih memilih menjual rajungan yang diperoleh ke pengepul rajungan untuk kepentingan olahan dan ekspor. Alur pemasaran dan rerata harga jual komoditas rajungan pada masing-masing segmen pemasaran di Kabupaten Lombok Barat dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 20. Bagan alir komoditas rajungan dan produk daging rajungan

Untuk optimalisasi hasil pada masing-masing segmen, setiap pelaku usaha perlu memperhatikan input, proses maupun proses pemasaran yang sangat spesifik.

Tabel berikut menunjukkan kondisi aliran dan proses produksi pada masing-masing segmen produksi komoditas rajungan.

Tabel 12. Kondisi Product Flows Komoditas Rajungan

Nelayan Pengepul Eksportir

Input - Ketersediaan Pengolahan - Pendinginan - Pengukusan,

pengupasan pengemasan

- Pengalengan kepiting Pemasaran - Dijual ke pengepul - Eksportir melalui

agen perusahaan

- Pemasaran ke luar negeri

Input supply kegiatan produksi daging rajungan dari tingkat nelayan hingga ekspor memiliki spesifikasi tersendiri. Meskipun rajungan diperoleh dalam jumlah banyak, namun produksi rajungan belum optimal. Kegiatan penangkapan dilakukan dengan gillnet mono filament atau kodong (trap net). Selain rajungan, beberapa jenis ikan lain juga ikut tertangkap sebagai hasil sampingan. Hasil tangkapan utama langsung dijual langsung ke pengepul untuk menjaga hasil tangkapan agar tetap hidup atau segar. Peningkatan mutu dan kualitas hasil tangkapan rajungan dilakukan dengan penanganan sistem rantai dingin (penambahan coolbox).

6.1.2.4. Hambatan Utama and Solusi Pengembangan Perikanan

Peningkatan produksi dan nilai tambah produk rajungan mempunyai berbagai kendala yang harus diupayakan langkah penyelesaiannya. Hambatan dan solusi yang harus dilakukan secara ringkas dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 13. Permasalahan dan Solusi Komoditas Rajungan

Pelaku usaha Permasalahan Solusi

Nelayan 1. Keberlanjutan stok rajungan

2. Data kemelimpahan rajungan

1. Regulasi mengenai ukuran dan musim penangkapan rajungan, untuk

menghindari penangkapan rajungan yang sedang memijah atau bertelur.

2. Membuat sistem pencatatan yang baik dari pengepul dan nelayan untuk menjaga sumberdaya alam rajungan yang potensial dan masuk dalam kelas mature value chain

Pengolah 1. Efisiensi/ergonomi lokasi produksi

1. Pengubahan tata guna ruang

2. Penerapan SOP dalam proses produksi serta meningkatkan higienitas lokasi produksi

3. Proses pengolahan limbah cangkang/

kulit rajungan untuk pakan ternak, chitosan atau tepung kalsium.

6.1.5. Rekomendasi Spesifik untuk Meningkatkan Nilai Tambah Pendapatan 6.1.5.1. Tingkat Kabupaten

1. Membangun jalur distribusi yang lancar antara produsen dan eksportir degan membangun kerjasama dalam tingkat kabupaten dengan perusahaan pengiriman atau perusahaan transportasi dalam memudahkan proses pengiriman barang.

2. Membangun rumah kemas yang juga mengakomodasi pengemasan produk produk hasil olahan masyarakat desa

6.1.5.2. Tingkat Desa

1. Komoditas Rajungan sebagai komoditas ang perlu ditingkatkan di daerah Lembar Selatan dan sekitarnya. Penguatan kelembagaan kelompok nelayan untuk menjaga keberlanjutan usaha dengan memastikan ketersediaan sumberdaya dan pengawasan terhadap sumberdaya rajungan perlu ditingkatkan

2. Megembangkan sistem pengawasan mutu dengan pendampingan intensif kepada masyarakat terutama kelompok pengolah untuk meminimalkan reject produk

3. Membentuk beberapa mini plan serupa dengan pendampingan dari miniplan yang sudah berkembang untuk optimalisasi pengelolaan sumberdaya rajungan

6.1.3 Rebon

6.1.3.1. Penawaran Pasar

Rebon merupakan komoditas penting di daerah Lombok Barat terutama di daerah Lembar. Daerah ini menjadi habitat udang-udangan karena memiliki wilayah perairan dengan ekosistem mangrove yang baik. Pemanfaatan sumberdaya rebon umumnya menggunakan bagan tancap.

Produksi Rebon di Lombok meningkat cukup berarti dalam empat tahun terakhir, dari hanya 142 ton tahun 2008 menjadi lebih dari 600 ton di tahun 2011.

Jumlah produksi yang meningkat menunjukkan potensi ketersediaan sumber bahan baku untuk pengembangan usaha berbasis rebon. Data hasil tangkapan rebon secara reguler di Teluk Lembar tidak tersedia sehingga belum dapat di analisis ketersediaan stoknya. Namun demikian, berdasarkan informasi nelayan, hasil rebon tidak menentu dan mengalami penurunan pada beberapa bulan terakhir. Hal ini diduga karena semakin aktifnya kegiatan kepelabuhannya di Teluk Lembar. Intensitas cahaya lampu patromak pada bagan sebagai atraktor rebon semakin berkurang kemampuan mengumpulkan rebon karena banyaknya lampu kapal feri sebagai distractor. Karena itu, pemantauan stok rebon perlu dilakukan secara reguler untuk mengetahui ketersediaan dan pemanfaatannya secara berkelanjutan di Teluk Lembar.

Gambar 21. Grafik Produksi Rebon dan udang lainnya di Kabupaten Lombok Barat Sumber Sidatik

6.1.3.2. Permintaan Pasar dan Potensi Pertumbuhan

Rebon selain dikonsumsi dalam bentuk segar, juga dalam bentuk olahan.

Umumnya rebon diolah menjadi produk terasi di Lombok Barat. Beberapa kelompok 0  

masyarakat juga mengolahnya untuk produk olahan sederhana lainnya seperti rempeyek. Konsumsi terasi masyarakat Lombok relatif tinggi mengingat makanan khas Lombok biasa menggunakan terasi sebagai pelengkap rasa. Pasar domestik terasi sangat tinggi, namun terasi yang ada di Lombok Barat sebagian besar bukan berasal dari daerah Lombok Barat, tetapi daerah daerah lainnya.

Lombok Barat memiliki terasi olehan yang dikemas dalam botol dan merupakan terasi panggang. Terasi olahan ini dikerjakan oleh kelompok dan memiliki pasar yang baik hingga ke luar pulau (Jakarta). Kapasitas produksi terasi ini masih kecil karena berbagai keterbatasan yang dihadapi oleh para pelaku usaha. Hasil wawancara dengan pelaku usaha diketahui kebutuhan pasar luar pulau untuk produk terasi panggang diperkirakan mencapai 10.000 botol per bulan. Permintaan tersebut terutama berasal dari pasar Jakarta. Namun kapasitas produksi kelompok hanya 1.500 botol perbulan.

Gambar 22. Terasi panggang produksi Desa Labuhan Tereng Kec. Lembar

6.1.3.3. Deskripsi Nilai Rantai Pemasaran 6.1.3.3.1. Deskripsi Produk dan Teknologi

Kegiatan produksi rebon di Lombok Barat umumnya dengan penangkapan menggunakan bagan tancap. Bagan ditempatkan di daerah teluk, yang tidak jauh dari pantai/pemukiman. Akses menuju lokasi penangkapan (bagan) biasanya menggunakan perahu jukung. Hasil tangkapan nelayan selanjutnya dipasarkan di para lokal.

Produk olahan rebon yang utama adalah terasi dan kerupuk. Teknologi pengolahan terasi dan kerupuk masih sangat sederhana. Namun dalam upaya pengembangan nilai produk dan meningkatkan masa simpan produk, produk terasi dipanggang dan dikemas dalam botol. Produksi kerupuk dari pengolah juga masih

menggunakan teknologi yang sederhana, namun telah dikemas dengan baik yaitu dalam botol.

6.1.3.3.2. Pelaku Utama Pasar dan Perananya

Hasil tangkapan rebon dijual dalam bentuk segar ataupun kering oleh nelayan dan pengumpul. Pelaku usaha pengolahan dan pemasaran umumnya adalah kelompok perempuan desa. Kegiatan usaha pengolahan terasi umumnya berskala kecil (rumah tangga) namun mampu memberikan manfaat yang tinggi kepada masyarakat terutama wanita yang sebelumnya tidak memiliki kegiatan dan tambahan dalam pendapatan rumah tangga. Untuk pasar terasi, dapat dikatagorikan sedang berkembang pesat. Setiap bulan usaha ini mampu membuat 1.500 botol terasi panggang dan pasarnya mencapai Bali serta Jakarta dan secara umum pelaku usaha belum mampu memenuhi permintaan. Karena itu, usaha ini perlu dikembangkan untuk memanfaatkan peluang pasar yang sangat baik tersebut. Namun upaya pengembangan usaha tersebut perlu diikuti upaya peningkatan daya dukung lingkungan. Selain itu, kegiaan ini juga memerlukan dukungan dengan sarana dan prasarana yang memadai.

6.1.3.3.3. Saluran, Harga dan Margin Pemasaran

Seperti telah diuraikan pelaku pasar usaha pemanfaatan sumberdaya rebon adalah nelayan, pengolah, dan pedagang (pengumpul). Rantai pemasaran udang rebon yang ada di Kecamatan Lembar sangat sederhana, yaitu dari nelayan – pedagang – pengolah - konsumen. Harga udang rebon segar mencapai Rp30.000/kg, namun dengan permintaan pasar kecil. Untuk rebon kering, bahan baku terasi, harga per kilogram sekitar Rp18.000-25.000. Sementara harga produk terasi pangang berkisar antara Rp5.000-10.000 per botol. Berikut disajikan saluran pemasaran dan rantai pasok rebon dan terasi

Gambar 23. Rantai Pasok Komoditas Rebon

Tabel 14. Kondisi Product Flows Komoditas Rajungan

Rantai Pasok Nelayan Pengolah Terasi Pengolah

Input Supply Armada penangkapan Teknologi alat tangkap

Processing Pengeringan Penumbukan

Fermentasi

6.1.3.4. Hambatan dan Solusi Pengembangan Komoditas Rebon

Permasalahan yang dihadapi masing-masing kelompok usaha berbeda.

Permasalahan yang dihadapi nelayan bagan adalah semkain tinggi dan banyaknya kapal yang bersandar di Teluk lembar yang mengganggu usaha penangkapan ikan.

Untuk pengolah terasi permasalahan yang dihadapi adalah adalah kurangnya supply bahan baku dari sumber terdekat, sehingga haus membeli dari sumber di luar Kabupaten seperti dari Lombok Timur yang dijual di pasar provinsi. Berikut disajikan permasalahan dan solusi untuk komoditas Udang Rebon.

Tabel 15. Permasalahan dan solusi terhadap komoditas Udang Rebon

Pelaku usaha Permasalahan Solusi

Nelayan 1. Keberlanjutan stok rebon

1. Diperlukan sistem penangkapan yang lebih optimal dengan menggunakan teknologi penangkapan dengan light atractor (lampu bawah air)

2. Perbaikan kawasan mangrove melalui program rehabilitasi mangrove

3. Perbaikan sistem pencatatan usaha/kegiatan produksi rebon baik dari pengepul dan nelayan untuk monitoring stok udang

4. Bantuan armada perikanan tangkap dan alat tangkap seperti bagan

Pengolah produksi terasi seperti pelebaran dapur produksi, penggunaan mesin pengering 2. Menguatkan kelembagaan dan jaringan

kelompok nelayan.

3. Peningkatan sarana prasarana produksi terasi

4. Peningkatan akses dan kerjasama dengan pelaku pasar (pasar modern) untuk mempeluas jangkauan pasar

5. Peningkatan kualitas dan penampilan produk melalui pengadaan sarana prasaran dan keterampilan pengemasan

6. Pemngembangan rumah produksi dan outlwt hasil perikanan

1. Menguatkan kelembagaan dan jaringan kelompok nelayan.

2. Peningkatan kualitas dan penampilan produk melalui pengadaan sarana prasaran dan keterampilan pengemasan

6.1.3.5. Rekomendasi untuk Meningkatkan NilaiTambah dan Pendapatan 6.1.3.5.1. Tingkat Kabupaten

1. Membangun jalur distribusi yang lancar antara produsen dan konsumen besar yang berada di Bali atau Jakarta degan membangun kerjasama dalam tingkat kabupaten dengan perusahaan pengiriman atau perusahaan transportasi dalam memudahkan proses pengiriman barang.

2. Membangun rumah produksi, rumah kemas yang juga mengakomodasi

2. Membangun rumah produksi, rumah kemas yang juga mengakomodasi

Dokumen terkait