Penelitian ini dilakukan di Desa Rombasan Kecamatan Pragaan Kabupaten
Sumenep. Secara topografi, wilayah Desa Rombasan berada pada ketinggian 0–84
meter dari permukaan laut, dimana kondisi daratan dengan kemiringan kurang
dari tiga persen sebanyak 223 hektar dan berombak dengan kemiringan 3.1–15
persen sebanyak 25 hektar. Angka curah hujan rata-rata di desa ini cukup rendah yaitu sebesar 2 100 mm per tahun, beriklim tropis dengan dua musim dan tingkat kelembaban udara lebih kurang 65 persen dan suhu rata-rata 24–32 0C, dengan curah hujan terendah pada umumnya terjadi pada bulan Juni sampai bulan Oktober. Secara administrasi, Desa Rombasan terletak sekitar 7 km dari ibukota Kecamatan Pragaan dan 36 km dari Kabupaten Sumenep. Desa Rombasan berbatasan dengan Desa Kertagena Laok Kecamatan kadur Kabupaten Pamekasan di sebelah Utara, Desa Sendang di sebelah Selatan, Desa larangan Perreng dan Desa Sentol Laok di sebelah Timur, dan Desa Kaduara Timur di sebelah barat.
Luas wilayah Desa Rombasan sebesar 127.45 hektar. Luas lahan tersebut terbagi dengan penggunaan untuk fasilitas umum, pemukiman, pertanian, kegiatan ekonomi, dan lainnya. Luas lahan yang digunakan untuk fasilitas umum antara lain luas tanah untuk jalan sebesar 17.85 hektar, luas tanah untuk bangunan umum sebesar 0.195 hektar, dan luas tanah untuk pemakaman sebesar 0.250 hektar. Sedangkan untuk aktivitas pertanian dan penunjangnya terdiri dari lahan sawah 30.00 hektar, ladang atau tegalan 43.85 hektar, dan hutan rakyat dan pemukiman sebesar 37.50 hektar.
Jumlah penduduk di Desa Rombasan yang tercatat secara administrasi adalah 805 jiwa dengan rincian penduduk berjenis kelamin perempuan sebanyak 414 jiwa (51.43 persen) dan penduduk berjenis kelamin laki-laki sebanyak 391 jiwa (48.57 persen) dengan tingkat pertumbuhan penduduk desa ini sebesar 0.89 persen dan mayoritas penduduk di desa ini beragama agama Islam. Sebagian besar penduduk Desa Rombasan memiliki pendidikan akhir sampai tamat SD yaitu sebesar 282 penduduk (35.03 persen) sedangkan penduduk yang memiliki pendidikan akhir sampai tamat perguruan tinggi hanya 13 penduduk (1.62 persen).
Tabel 10Tingkat pendidikan penduduk Desa Rombasan tahun 2011
Sumber : RJPM Desa Rombasan Tahun 2011–2015 (2011)
Secara umum mata pencaharian penduduk Desa Rombasan dapat diidentifikasi pada beberapa bidang seperti, petani, buruh tani, pegawai negeri sipil (PNS), karyawan swasta, pedagang, pensiunan, pekerja di bidang transportasi, konstruksi, buruh harian lepas, guru, nelayan, wiraswasta, dan lainnya.
Tabel 11 Jumlah penduduk menurut mata pencaharian Desa Rombasan tahun
2010
No. Mata Pencaharian Jumlah (orang) Persentase (%)
1. Petani 308 38.26
2. Buruh tani 72 8.94
3. Pegawai negeri sipil 4 0.50
4. Pengrajin 102 12.67
5. Pedagang 23 2.86
6. Peternak 78 9.69
7. Non produktif 218 27.08
Jumlah 805 100.00
Sumber : RJPM Desa Rombasan Tahun 2011–2015 (2011)
Berdasarkan Tabel 11 terlihat bahwa sebagian besar penduduk Desa Rombasan bermata pencaharian sebagai petani, yaitu sebesar 308 jiwa (38.26 persen) sehingga kemajuan di bidang pertanian dapat menjadi salah satu aspek yang membantu meningkatkan kesejahteraan penduduk di Desa Rombasan.
Sejarah Usaha
Usaha yang dimiliki oleh bapak Muhlis Hidayat merupakan usaha budidaya buah naga putih dan buah naga merah dengan penerimaan sampingan berupa jasa pembudidayaan buah naga. Usaha budidaya buah naga ini telah dimulai sejak tahun 2006. Sebelumnya, tanaman yang dibudidayakan adalah tanaman palawija yaitu jagung, dan ketika musim kemarau tiba, tanaman yang dibudidayakan adalah tembakau. Lahan yang digunakan untuk budidaya jagung dan tembakau merupakan tanah warisan. Selain itu, pada tahun 1999 pendapatan yang diterima dari usahatani palawija diinvestasikan untuk perkebunan jati. Jumlah jati emas yang dibudidayakan sebanyak 600 pohon dan ditanam pada
lahan seluas 2 500 m2. Jati emas dipilih sebagai investasi jangka panjang dengan
No. Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%)
1 Belum atau tidak sekolah 104 12.92
2 Tidak tamat SD 270 33.54 3 Tamat SD 282 35.03 4 Tamat SMP 65 8.07 5 Tamat SMA 71 8.82 6 Tamat PT 13 1.62 Jumlah 805 100.00
pertimbangan bahwa semakin tua umur tanaman jati maka akan semakin mahal harga yang didapat jika dijual. Selanjutnya di tahun yang sama, investasi lain yang dilakukan adalah membangun peternakan ayam petelur. Jumlah total ayam petelur yang dibudidayakan sampai dengan tahun 2000 sebanyak 4 000 ekor ayam dengan kandang berjarak 200 meter dari rumah pemilik usaha.
Usahatani palawija dan tembakau dilakukan dengan menggunakan tenaga kerja dalam keluarga dan luar keluarga. Sedangkan untuk peternakan ayam petelur digunakan tenaga kerja luar keluarga. Sistem upah tenaga kerja luar keluarga menggunakan sistem gaji dengan mengakumulasikan upah per hari menjadi satu bulan. Sejak tahun 2004, semua tenaga kerja yang digunakan untuk usahatani palawija, tembakau, dan peternakan ayam petelur adalah tenaga kerja luar keluarga dengan mempekerjakan penduduk di Desa Rombasan yang menganggur. Hal ini dikarenakan pemilik usaha terpilih menjadi kepala desa di Desa Rombasan.
Ide untuk memulai usaha budidaya buah naga muncul pada tahun 2006 setelah melakukan kunjungan ke Probolinggo. Probolinggo merupakan tempat dimana Mr. Lin Min Ying (Abdullah) tinggal, seorang warga negara Taiwan yang menikah dengan penduduk lokal dan merupakan pembudidaya buah naga di Probolinggo. Tawaran untuk membudidayakan buah naga di Desa Rombasan muncul dari Mr. Lin karena mengetahui bahwa cuaca dan iklim di daerah tersebut cocok untuk pembudidayaan dan pengembangan buah naga. Pada awalnya tawaran tersebut ditolak karena besarnya modal yang dibutuhkan untuk investasi pada perkebunan buah naga. Selain itu, terjadinya kegagalan panen tembakau dan kasus penipuan membuat penginvestasian pada perkebunan buah naga merupakan hal yang tidak mungkin. Namun, Mr. Lin memberikan keyakinan bahwa buah naga dapat dikembangkan dengan optimal di daerah tersebut dan memberikan modal awal untuk pembudidayaan buah naga. Modal tersebut berupa sarana produksi budidaya buah naga dan akan dibayar secara kredit setelah buah naga panen dan terjual.
Pada bulan April 2006, buah naga pertama di Desa Rombasan ditanam dengan bantuan dan pengawasan langsung dari Mr. Lin. Pemilik usaha hanya mengeluarkan biaya untuk menanggung biaya transportasi dari Probolinggo ke Desa Rombasan. Buah naga yang ditanam pertama kali di Desa Rombasan merupakan jenis buah naga putih sebanyak 200 cagak. Saat ini, buah naga yang ditanam berjenis buah naga putih dan buah naga merah dengan jumlah cagak masing-masing sebanyak 800 cagak yang ditanam pada lahan seluas satu hektar.
Permintaan buah naga pada kebun buah naga ini terus mengalami peningkatan. Hal tersebut dapat dibuktikan dari hasil panen pada lahan yang dimiliki sekarang belum mampu mencukupi semua permintaan yang datang. Apalagi menjelang perayaan imlek maupun Maulid Nabi Muhammad SAW, permintaan buah naga akan meningkat lebih dari lima kali lipat. Namun kendala yang dihadapi untuk memenuhi semua permintaan konsumen tersebut adalah modal dan keterbatasan lahan. Modal yang dibutuhkan untuk memulai usaha budidaya buah naga ini besar sehingga hal tersebut yang membuat kesulitan untuk menjalin kerjasama atau kemitraan dengan petani lain untuk mengonversi lahan mereka menjadi kebun buah naga. Kultur petani di daerah tersebut yang telah terbiasa dengan tanaman musiman juga merupakan kendala dalam hal perluasan
lahan. Namun buah naga memiliki nilai ekonomis tinggi sehingga tetap akan dilakukan pengembangan secara bertahap.
Lokasi Usaha
Usaha budidaya buah naga ini dilakukan di Desa Rombasan Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep Jawa Timur. Total lahan yang digunakan untuk pembudidayaan buah naga hingga saat ini seluas satu hektar. Rincian penggunaan lahan tersebut adalah 5 000m2 untuk buah naga putih dan 5 000m2 untuk buah naga merah. Kedua lahan tersebut terletak dalam radius jarak 1 km dan masih dapat dijangkau oleh sarana transportasi apapun sehingga pengontrolan rutin terhadap kinerja tenaga kerja dan kondisi kebun dapat dilakukan dengan baik dan rutin.
Pada kondisi setelah pengembangan akan dilakukan penambahan luas lahan seluas lima hektar sehingga total lahan yang dibudidayakan seluas enam hektar. Rencananya, lima hektar lahan tambahan tersebut digunakan untuk pembudidayaan buah naga putih seluas dua hektar dan buah naga merah seluas tiga hektar. Lahan tambahan buah naga putih terletak di belakang lahan awal buah naga putih sedangkan lahan tambahan buah naga merah terletak di samping dan belakang lahan awal buah naga merah. Radius jarak kedua lahan tambahan tersebut adalah 1.1 km.
Kegiatan Usaha
Hasil dari kegiatan usaha yang dilakukan adalah buah naga putih dan buah
naga merah. Buah naga yang dihasilkan tersebut dijual dalam bentuk fresh
product. Buah naga yang dihasilkan dari kegiatan ini adalah buah naga semi
organik. Konsumen utama dari produk ini adalah konsumen lokal. Usaha ini dimulai dengan modal keberanian karena usaha ini membutuhkan biaya investasi yang besar namun diyakini dapat memberikan pendapatan yang besar pula. Pada awal pembudidayaan, buah naga yang ditanam sebanyak 200 cagak pada lahan
seluas 1 500m2 dengan jenis buah naga putih. Setelah buah naga putih panen, buah
naga merah ditanam sebanyak 250 cagak pada lahan seluas 2 000m2.
Pengembangan usaha budidaya buah naga ini dilakukan secara bertahap. Hingga saat ini, jumlah total buah naga yang dibudidayakan adalah 1 600 cagak dengan rincian 800 cagak buah naga putih dan 800 cagak buah naga merah pada lahan seluas satu hektar.
Buah naga dapat ditanam di daerah ini karena cuaca dan tanah yang digunakan untuk berbudidaya cocok. Tanah di Desa Rombasan memiliki tekstur yang kering dan keras serta didominasi oleh bebatuan sehingga teknik berbudidaya semi organik atau organik merupakan pilihan untuk dapat membudidayakan buah naga di daerah ini. Pupuk organik dan kandang yang digunakan dalam persiapan penanaman buah naga berguna untuk menggemburkan tanah yang kering dan keras tersebut. Buah naga termasuk dalam tumbuhan kaktus yang tidak memerlukan banyak air atau air yang menggenang dan mengalami pertumbuhan yang maksimal dan cepat dengan pola penanaman dan
perawatan semi organik atau organik. Hal itulah yang menyebabkan buah naga di kebun ini mulai berbuah dalam kurun waktu enam bulan. Pada panen pertama, kebun buah naga ini dapat menghasilkan 1.5 ton buah naga putih dan merupakan panen tercepat karena pada umumnya buah naga akan mulai berbuah pada bulan kesepuluh atau keduabelas penanaman. Segala pengetahuan yang digunakan dalam pembudidayaan buah naga di Desa Rombasan ini diperoleh secara otodidak baik melalui Mr. Lin maupun buku panduan berbudidaya.
Awalnya, berbagai macam input yang dibutuhkan dalam pembudidayaan diperoleh dari Probolinggo. Namun seiring dengan berkembangnya usaha dan untuk lebih mengefisiensikan biaya, penyediaan input dilakukan sendiri. Selain itu, terdapat usaha sampingan yang dilakukan yaitu jasa pembudidayaan buah naga. Usaha ini merupakan usaha yang menyediakan jasa penanaman dan perawatan buah naga bagi pemula. Cakupan dari usaha ini adalah penyedia sarana produksi dan tenaga teknis yang mengajari perawatan buah naga bagi pemula. Usaha ini dilakukan sejak tahun 2009.