• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Pemikiran Teoritis Investasi

Ekonom Amerika Paul L. Krugman dan Maurice Obstfeld (1999) dalam Fahmi, dkk (2009) mengatakan bahwa bagian output yang digunakan oleh perusahaan swasta guna menghasilkan output di masa mendatang dapat disebut sebagai investasi. Kasmir dan Jakfar (2009) menyatakan bahwa investasi dapat pula diartikan penanaman modal dalam suatu kegiatan yang memiliki jangka waktu relatif panjang dalam berbagai bidang usaha yang mana dalam arti sempit berupa proyek tertentu baik bersifat fisik dan nonfisik. Investasi memiliki dua atribut penting yaitu terdapat risiko dan tenggang waktu.

Dalam Kasmir dan Jakfar (2009), timbulnya suatu investasi pada suatu proyek disebabkan oleh berbagai faktor antara lain :

1) Adanya permintaan pasar

Adanya suatu kebutuhan dan keinginan dalam masyarakat yang harus disediakan. Hal ini disebabkan karena jenis produk yang tersedia belum mencukupi atau memang belum ada sama sekali.

2) Untuk meningkatkan kualitas produk

Hal ini dilakukan karena tingginya tingkat persaingan yang ada.

3) Kegiatan pemerintah

Merupakan kehendak pemerintah dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat atas suatu produk atau jasa.

Investasi yang menjanjikan keuntungan lebih awal akan lebih disukai daripada yang menjanjikan keuntungan kemudian. Investasi menurut karakteristiknya dapat dibagi menjadi beberapa golongan antara lain (1) investasi yang tidak dapat diukur labanya; (2) investasi yang tidak menghasilkan laba; (3) investasi yang dapat diukur labanya. Untuk investasi yang dapat diukur labanya perlu dilakukan studi kelayakan yang melihat berbagai aspek. Namun, tidak berarti bahwa jenis investasi yang lain tidak memerlukan studi kelayakan. Studi kelayakan tetap diperlukan, namun dengan intensitas dan penekanan untuk masing-masing aspek berbeda (Suratman, 2002).

Penilaian investasi pada studi kelayakan bisnis bertujuan untuk menghindari terjadinya investasi yang tidak menguntungkan karena bisnis yang tidak layak karena kekeliruan dan kesalahan dalam menilai investasi akan menyebabkan kerugian dan risiko yang besar. Gittinger (1986) mengungkapkan bahwa kegiatan investasi dapat mengubah sumber-sumber finansial menjadi barang-barang kapital yang dapat menghasilkan keuntungan-keuntungan atau manfaat-manfaat setelah beberapa periode waktu. Secara umum, bisnis merupakan kegiatan yang mengeluarkan biaya-biaya dengan harapan akan memperoleh hasil atau benefit dan secara logika merupakan wadah untuk melakukan kegiatan-kegiatan perencanaan, pembiayaan, dan pelaksanaan dalam satu unit bisnis.

Studi Kelayakan Bisnis

Menurut Kasmir dan Jakfar (2009), Bisnis adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan untuk memperoleh keuntungan sesuai dengan tujuan dan target yang diinginkan dalam berbagai bidang, baik jumlah maupun waktunya. Studi kelayakan bisnis adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu kegiatan atau usaha yang dijalankan, dalam rangka menentukan layak atau tidak usaha tersebut dijalankan. Kelayakan sendiri artinya penelitian yang dilakukan secara mendalam untuk menentukan apakah usaha yang akan dijalankan memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang akan dikeluarkan. Dengan kata lain, kelayakan dapat diartikan bahwa usaha yang dijalankan akan memberikan keuntungan finansial dan nonfinansial sesuai dengan tujuan yang mereka inginkan. Ada lima tujuan studi kelayakan bisnis dilakukan yaitu untuk menghindari risiko kerugian, memudahkan perencanaan,

memudahkan pelaksanaan pekerjaan, memudahkan pengawasan, dan

memudahkan pengendalian.

Menurut Johan (2011) bisnis didefinisikan sebagai sebuah kegiatan atau aktifitas yang mengalokasikan sumber-sumber daya yang dimiliki ke dalam suatu kegiatan produksi yang menghasilkan barang atau jasa, dengan tujuan barang dan jasa tersebut dapat dipasarkan kepada konsumen agar dapat memperoleh keuntungan atau pengembalian hasil. Studi kelayakan adalah sebuah studi untuk mengkaji secara komprehensif dan mendalam terhadap kelayakan sebuah usaha. Layak atau tidak layak dijalankannya sebuah usaha merujuk pada hasil pembandingan semua faktor ekonomi yang akan dialokasikan ke dalam sebuah usaha atau bisnis baru dengan hasil pengembaliannya yang akan diperoleh dalam jangka waktu tertentu. Suatu bisnis dapat dikategorikan layak dengan adanya landasan kelayakan yang mendasarinya sedangkan dikategorikan tidak layak karena ada faktor-faktor ketidaklayakan yang mempengaruhi.

Menurut Ibrahim (2003) dalam Nurmalina, dkk (2009), studi kelayakan bisnis adalah kegiatan untuk menilai besarnya manfaat yang dapat diperoleh dalam melaksanakan suatu kegiatan usaha. Berdasarkan hal tersebut, studi kelayakan merupakan bahan pertimbangan untuk melakukan pengambilan keputusan mengenai apakah suatu rencana bisnis diterima atau ditolak serta apakah akan menghentikan atau mempertahankan bisnis yang sudah atau sedang dilaksanakan. Studi kelayakan bisnis bertujuan untuk mengetahui tingkat benefit yang dicapai dari suatu bisnis yang akan atau telah dijalankan, memilih alternatif bisnis yang menguntungkan, dan menentukan prioritas investasi berdasarkan pada alternatif bisnis yang menguntungkan tersebut. Selain itu, studi kelayakan bisnis juga dapat digunakan untuk menghindari pemborosan sumberdaya.

Aspek-aspek Studi Kelayakan Bisnis

Menurut Nurmalina, dkk (2009), dalam studi kelayakan bisnis terdapat dua kelompok aspek yang perlu diperhatikan yaitu aspek non finansial dan aspek finansial. Aspek nonfinansial terdiri dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen dan hukum, aspek sosial, ekonomi, dan budaya serta aspek lingkungan. Kasmir dan Jakfar (2009) menyatakan bahwa masing-masing aspek tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan. Hal tersebut menunjukkan bahwa jika

salah satu aspek tidak dipenuhi maka perlu dilakukan perbaikan atau tambahan yang diperlukan.

Aspek Nonfinansial

1. Aspek Pasar

Pasar dan pemasaran merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pasar dan pemasaran memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi dan saling mempengaruhi satu sama lainnya. Kegiatam pasar selalu diikuti oleh pemasaran dan setiap kegiatan pemasaran adalah bentuk untuk mencari atau menciptakan pasar (Kasmir dan Jakfar, 2009).

Menurut Ibrahim (2003) dalam Nurmalina, dkk (2009), aspek pasar adalah inti dari penyusunan studi kelayakan. Walaupun suatu bisnis secara teknis telah menunjukkan hasil yang layak untuk dilaksanakan, namun tidak ada artinya jika aspek pasar tidak layak seperti tidak adanya konsumen yang mau membeli produk yang dihasilkan. Umar (2007) menyatakan bahwa analisis aspek pasar pada dasamya bertujuan untuk mengetahui berapa besar luas pasar, pertumbuhan permintaan, dan market share dari produk yang akan dihasilkan.

Menurut Nurmalina, dkk (2009), aspek pasar dan pemasaran mencoba mempelajari tentang:

1) Permintaan

Permintaan yang diamati baik secara keseluruhan maupun diperinci menurut daerah, jenis konsumen, perusahaan besar pemakai serta memperkirakan proyeksi permintaan tersebut.

2) Penawaran

Penawaran dapat berasal dari dalam negeri maupun berasal dari impor. Bagaimana perkembangan di masa lalu dan bagaimana perkiraan di masa yang akan datang. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penawaran ini seperti jenis barang yang dapat menyaingi, kebijakan dari pemerintah, dan sebagainya.

3) Harga

Harga ditentukan berdasarkan perbandingan dengan barang-barang impor dan produksi dalam negeri lainnya. Apakah ada kecenderungan perubahan harga dan bagaimana polanya.

4) Perkiraan Penjualan yang Dapat Dicapai Perusahaan

Market share yang bisa dikuasai perusahaan dapat dihitung dengan cara :

Selain itu, aspek pemasaran tidak dapat dipisahkan dari variabel-variabel yang mempengaruhi kegiatan pemasaran itu sendiri. Variabel-variabel tersebut berupa bauran pemasaran yang merupakan inti dari pemasaran itu sendiri. bauran tersebut dikenal dengan 4P, yaitu :

1) Product (Produk)

Sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian untuk dibeli, untuk digunakan atau untuk dikonsumsi yang dapat memenuhi

keinginan dan kebutuhan. Suatu usaha harus dapat menghasilkan produk yang benar-benar dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumennya.

2) Price (Harga)

Suatu nilai yang rela dibayarkan atau diberikan konsumen kepada produsen untuk mendapatkan barang atau jasa tertentu yang dibutuhkan/diinginkannya. Penentuan harga merupakan hal yang penting karena mempengaruhi preferensi konsumen untuk rela mendapatkan produk tersebut. Harga akan menentukan laku atau tidaknya suatu produk yang dihasilkan.

3) Place (Tempat)

Lokasi produksi dan distribusi ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memadai merupakan komponen penting sehingga produk tersebut tersedia di tempat dan waktu konsumen membutuhkan.

4) Promotion (Promosi)

Kegiatan menginformasikan produk yang dihasilkan kepada konsumen sehingga konsumen menyadari kehadiran produk tersebut dan mendapatkan informasi serta memahami hakikat dari produk tersebut. Promosi merupakan salah satu kegiatan untuk menarik minat konsumen atas produk yang dihasilkan.

2. Aspek Teknis

Aspek teknis yaitu analisis yang berhubungan dengan input bisnis (penyediaan) dan output (produksi) berupa barang dan jasa. Aspek teknis memiliki pengaruh yang besar terhadap kelancaran jalannya usaha. Dalam suatu usaha, hubungan aspek-aspek teknis sangat menentukan keberhasilan usaha terutama keberhasilan proses produksi. Masing-masing komponen dalam aspek teknis ini saling terkait satu sama lain dan ketidaklayakan salah satu komponen akan mengganggu proses produksi secara keseluruhan.

Menurut Nurmalina, dkk (2009), aspek teknis merupakan suatu aspek yang berkenaan dengan proses pembangunan bisnis secara teknis dan pengoperasiannya setelah bisnis tersebut selesai dibangun. Aspek-aspek teknis dapat dianalisis dari beberapa faktor, yaitu

1) Penentuan Lokasi Bisnis

Hal yang perlu diperhatikan untuk pemilihan lokasi bisnis antara lain ketersedian bahan baku, letak pasar yang dituju, ketersediaan tenaga kerja, dan iklim serta keadaan tanah (agroekosistem) dari lokasi bisnis

2) Proses Produksi

Berdasarkan proses produksi dikenal adanya tiga jenis proses, yaitu proses produksi yang terputus-putus, kontinu, dan kombinasi. Sistem yang kontinu akan lebih mampu menekan risiko kerugian akibat fluktuasi harga dan efektivitas tenaga kerja yang lebih baik dibandingkan dengan sistem terputus.

3) Layout

Layout merupakan keseluruhan proses penentuan bentuk dan penempatan fasilitas-fasilitas yang dimiliki suatu perusahaan. Pengertian layout mencakup layout site (layout lahan lokasi bisnis), layout pabrik, layout bangunan bukan pabrik, dan fasilitas-fasilitasnya.

4) Pemilihan Jenis Teknologi dan Equipment

Kriteria yang dapat digunakan dalam pemilihan jenis teknologi adalah seberapa jauh derajat mekanisasi yang diinginkan dan manfaat ekonomi yang diharapkan, disamping kriteria yang lain yakni:

a) Ketepatan jenis teknologi yang dipilih dengan bahan mentah yang

digunakan.

b) Keberhasilan penggunaan jenis teknologi tersebut di tempat lain yang

memiliki ciri-ciri yang mendekati dengan lokasi bisnis.

c) Kemampuan pengetahuan penduduk (tenaga kerja) setempat dan

kemungkinan pengembangannya, juga kemungkinan penggunaan tenaga kerja asing.

d) Pertimbangan kemungkinan adanya teknologi lanjutan sebagai salinan

teknologi yang akan dipilih sebagai akibat keusangan.

3. Aspek Manajemen

Menurut Nurmalina, dkk (2009), aspek manajemen mempelajari tentang manajemen dalam masa pembangunan bisnis dan manajemen dalam masa operasi. Pada masa pembangunan, aspek manajemen mempelajari siapa yang akan menjadi pelaksana bisnis, jadwal penyelesaian bisnis, dan siapa yang akan melakukan studi kelayakan bisnis untuk masing-masing aspek. Manajemen dalam operasi mempelajari bentuk organisasi yang dipilih, struktur organisasi, deskripsi setiap jabatan, jumlah tenaga kerja yang akan digunakan, dan menentukan anggota direksi serta tenaga ahli.

Aspek manajemen merupakan aspek yang penting untuk dianalisis dalam analisis kelayakan usaha. Karena walaupun suatu usaha dikategorikan layak tanpa didukung dengan manajemen yang baik, bukan tidak mungkin akan mengalami kegagalan. Baik menyangkut masalah Sumber Daya Manusia (SDM) maupun menyangkut rencana perusahaan secara keseluruhan harus sesuai dengan tujuan perusahaan. Tujuan perusahaan akan lebih mudah tercapai jika memenuhi tahapan dalam proses manajemen. Proses manajemen akan terGambar dari masing-masing fungsi yang ada dalam manajemen.

Menurut Suliyanto (2010), analisis aspek manajemen dan sumber daya manusia terdiri dari dua bahasan penting, yaitu sub aspek manajemen dan sub aspek sumber daya manusia. Analisis sub aspek manajemen lebih menekankan pada proses dan tahap-tahap yang harus dilakukan pada proses pembangunan bisnis, sedangkan analisis sub aspek sumber daya manusia menekankan pada ketersediaan dan kesiapan tenaga kerja baik jenis atau mutu maupun jumlah sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis.

4. Aspek Hukum

Aspek hukum berisi mengenai masalah kelengkapan, keaslian, kesempumaan, dan keabsahan dokumen perusahaan, mulai dari bentuk badan usaha sampai izin-izin yang dimiliki. Kegagalan dalam aspek ini akan berakibat pada tidak sempumanya hasil penelitian atau dengan kata lain apabila ada dokumen yang tisak sah pasti akan menimbulkan masalah di kemudian hari (Kasmir dan Jakfar 2009). Aspek hukum mempelajari jaminan-jaminan yang dapat disediakan bila akan menggunakan sumber dana yang berupa pinjaman, berbagai akta, sertifikat, dan izin. Selain itu, aspek hukum diperlukan dalam hal

mempermudah dan memperlancar kegiatan bisnis pada saat menjalin jaringan kerjasama dengan pihak lain (Nurmalina, dkk 2009).

5. Aspek Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Menurut Nurmalina, dkk (2009), yang akan dinilai dalam aspek ini adalah seberapa besar bisnis mempunyai dampak sosial, ekonomi, dan budaya terhadap masyarakat keseluruhan. Pada aspek sosial yang dipelajari adalah penambahan kesempatan kerja atau pengangguran, pemerataan kesempatan kerja, dan bagaimana bisnis tersebut terhadap lingkungan sekitar lokasi bisnis seperti semakin ramainya daerah tersebut, lalu lintas yang semakin lancar, adanya penerangan listrik, telepon, dan sarana lain. Pada aspek ekonomi yang dipelajari yaitu apakah suatu bisnis dapat memberikan peluang peningkatan pendapatan masyarakat, pendapatan asli daerah, pendapatan dari pajak, dan dapat menambah aktivitas ekonomi. Secara budaya, perubahan dalam teknologi atau peralatan mekanis dalam bisnis dapat mengubah jenis pekerjaan yang dilakukan oleh masyarakat.

Menurut Kasmir dan Jakfar (2009), jika ditinjau dari aspek ekonomi adanya investasi akan memberikan peluang untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Sedangkan bagi pemerintah dampak positif yang diperoleh dari aspek ekonomi adalah memberikan pemasukan berupa pendapatan baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Sebaliknya dampak negatif tidak akan terlepas dari aspek ekonomi seperti eksplorasi sumber daya alam yang berlebihan, masuknya pekerja dari luar daerah sehingga mengurangi peluang bagi masyarakat sekitamya. Dampak positif dari aspek sosial bagi masyarakat secara umum adalah tersedianya sarana dan prasarana yang dibutuhkan, seperti pembangunan jalan, jembatan, listrik, dan sarana lainnya. Kemudian bagi pemerintah dampak negatif dari aspek sosial adanya perubahan demografi di suatu wilayah, perubahan budaya, dan kesehatan masyarakat. Dampak negatif dalam aspek sosial termasuk terjadinya perubahan gaya hidup, budaya, adat istiadat dan struktur sosial lainnya.

6. Aspek Lingkungan

Aspek lingkungan menyangkut berbagai hal yang berhubungan dengan lingkungan dan dampak yang ditimbulkan oleh keberadaan suatu perusahaan seperti pencemaran dan kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya (Fahmi, dkk 2009). Emil Salim dalam Fahmi, dkk (2009) menyatakan bahwa pengetahuan tentang dampak lingkungan diperlukan karena membantu pengusaha memilih teknologi dan cara produksi yang bisa memperkecil dampak negatif terhadap lingkungan.

Dampak lingkungan hidup yang terjadi adalah berubahnya suatu lingkungan dari bentuk aslinya seperti perubahan fisik, kimia, biologi atau sosial. Perubahan lingkungan ini jika tidak diantisipasi dari awal akan merusak tatanan yang sudah ada, baik terhadap fauna, flora, maupun manusia itu sendiri. Oleh karena itu, sebelum suatu usaha dijalankan maka sebaiknya dilakukan terlebih dahulu studi tentang dampak lingkungan yang akan timbul, baik sekarang maupun yang akan datang. Selain untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan juga mencri jalan keluar untuk mengatasi dampak tersebut (Kasmir dan Jakfar, 2009).

Aspek Finansial

Menurut Umar (2007) menganalisis aspek keuangan dari suatu studi kelayakan bisnis bertujuan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan, dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan, seperti ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan proyek untuk membayar kembali dana tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan menilai apakah proyek akan dapat berkembang. Aspek ini bertujuan untuk menilai biaya-biaya apa saja yang akan dihitung dan berapa besar biaya-biaya yang akan dikeluarkan, seberapa besar pendapatan yang akan diterima jika bisnis dijalankan. Hal-hal yang diteliti dalam aspek ini adalah lama pengembalian investasi yang ditanamkan, sumber pembiayaan, tingkat suku bunga yang berlaku, biaya kebutuhan investasi, dan aliran kas (cashflow).

Teori Biaya dan Manfaat

Biaya merupakan pengeluaran atau pengorbanan yang dapat menimbulkan pengurangan terhadap manfaat yang kita terima, sedangkan manfaat adalah sesuatu yang menimbulkan kontribusi terhadap tujuan suatu proyek (Nurmalina, dkk 2009). Biaya yang umumnya dimasukkan dalam analisis bisnis adalah biaya- biaya yang langsung berpengaruh terhadap suatu investasi, antara lain biaya investasi dan biaya operasional. Komponen yang termasuk dalam biaya, yaitu:

1) Biaya Investasi

Biaya investasi adalah biaya yang umumnya dikeluarkan pada awal kegiatan dan pada saat tertentu untuk memperoleh manfaat beberapa tahun kemudian, biasanya memerlukan biaya yang besar. Biaya investasi juga dapat dikeluarkan pada beberapa tahun setelah bisnis berjalan yang disebut dengan biaya reinvestasi.

2) Biaya Operasional

Biaya operasional mengGambarkan pengeluaran untuk menghasilkan produksi yang digunakan bagi setiap proses produksi dalam satu periode kegiatan produksi. Biaya operasional terdiri dari dua komponen utama, yaitu biaya variabel dan biaya tetap. Biaya variabel adalah biaya yang besar kecilnya selaras dengan perkembangan produksi atau penjualan setiap tahun. Sedangkan biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tidak terpengaruh oleh perkembangan jumlah produksi atau penjualan dalam satu tahun.

3) Debt Service

Debt Service merupakan pembayaran yang dilakukan berupa suku bunga dan

modal yang dipinjam. Biaya ini dikeluarkan untuk pembayaran modal pinjaman yang diterima oleh suatu usaha.

4) Pajak

Pajak berhubungan dengan pengurangan manfaat bersih yang diterima bisnis. Menurut Nurmalina, dkk (2009), manfaat terdiri dari tiga macam, yaitu

tangible benefit, indirect or secondary benefit, dan intangible benefit. Tangible

benefit adalah manfaat yang dapat diukur seperti disebabkan oleh peningkatan

produksi, perbaikan kualitas produk, perubahan waktu dan lokasi penjualan, perubahan bentuk produk, mekanisasi pertanian, pengurangan biaya transportasi,

dan penurunan atau menghindari kerugian. Indirect or secondary benefit adalah

eksternal di luar bisnis. Intangible benefit adalah manfaat yang rill ada tapi sulit diukur seperti bisnis pertamanan yang memberikan manfaat berupa keindahan, kenyamanan, kesegaran, dan kesehatan.

Tanpa dan Dengan Bisnis (Without and With Business)

Menurut Nurmalina, dkk (2009) analisis studi kelayakan bisnis terutama yang bergerak di bidang pertanian membedakan antara arus komponen biaya dan manfaat antara kondisi dengan (with) dan tanpa (without) bisnis. Perbedaan besaran angka kondisi tanpa dan dengan bisnis ini, merupakan besaran yang sebenarnya yaitu sebagai pengaruh kondisi yang dihasilkan oleh adanya investasi baru atau kondisi yang sebenarnya sebagai pengaruh adanya bisnis. Jika yang diidentifikasi adalah kondisi dengan bisnis, maka yang dimaksud adalah kondisi yang dipengaruhi oleh adanya bisnis yang dibandingkan dengan kondisi yang sebenarnya terjadi tanpa adanya bisnis.

Hal yang perlu diperhatikan adalah manfaat bersih tambahan (Incremental

Net Benefit) yaitu manfaat bersih dengan bisnis (net benefit with business)

dikurangi dengan manfaat bersih tanpa bisnis (Net Benefit Without Business). Hal

ini dimungkinkan karena ada faktor-faktor produksi yang sebelumnya tidak tergunakan atau tidak terpakai ataupun belum termanfaatkan sehingga pada saat ada bisnis apakah faktor tersebut memberikan manfaat (benefit) atau tidak bagi bisnis yang dijalankan.

Konsep Nilai Waktu Uang (Time Value of Money)

Investasi suatu bisnis berkaitan dengan usaha dalam jangka waktu yang panjang. Uang memiliki nilai waktu, yaitu uang dihargai secara berbeda dalam waktu yang berbeda. Konsep nilai waktu uang menyatakan bahwa uang yang diterima sekarang lebih berharga daripada uang yang diterima kemudian. Atau nilai sekarang adalah lebih baik daripada nilai yang sama pada masa yang akan datang (Gittinger, 1986 dalam Nurmalina, Sariyanti, dan Karyadi, 2009).

Waktu mempengaruhi nilai uang, sehingga untuk membandingkan nilai uang yang berbeda waktu pengeluaran dan penerimaannya perlu dilakukan

penyamaan nilai uang tersebut menggunakan tingkat diskonto (discount rate)

yang bertujuan untuk melihat nilai uang di masa yang akan datang (future value)

pada saat sekarang (present value). Kriteria analisis finansial yang digunakan

adalah discounting criteria. Kriteria ini merupakan suatu teknik yang menurunkan

nilai manfaat dan biaya pada masa sekarang berdasarkan tingkat diskonto tertentu. Penggunaan metode ini didasarkan pada pertimbangan bahwa adanya inflasi, reinvestasi dan risiko mengakibatkan perbedaan nilai uang saat ini dengan nilai uang pada masa yang akan datang.

Umur Bisnis

Berdasarkan Nurmalina, dkk (2009) Penentuan panjangnya umur bisnis suatu bisnis berdasarkan tingkat kemampuan kegiatan bisnis. Ada beberapa cara antara lain:

1) Umur ekonomis suatu bisnis

Ditetapkan berdasarkan jangka waktu yang kira-kira sama dengan umur ekonomis dari aset terbesar yang ada pada bisnis yaitu jumlah tahun selama pemakaian aset tersebut dan meminimumkan biaya tambahannya.

2) Umur teknis

Umur teknis digunakan untuk memudahkan perhitungan dan pada umumnya digunakan untuk bisnis besar bergerak. Umur teknis umumnya lebih panjang dibandingkan umur ekonomis, tetapi hal ini tidak berlaku apabila ada

keusangan teknologi dengan adanya penemuan teknologi baru (absolence).

3) Untuk bisnis yang umur teknis atau ekonomisnya lebih dari 25 tahun biasanya

umur bisnis ditentukan selama 25 tahun karena nilai setelah 25 tahun akan menghasilkan nilai discount factor yang kecil mendekati nol jika dihitung

pada discount rate dengan tingkat bunga lebih besar dari 10 persen.

Kriteria Kelayakan Investasi

Dalam Nurmalina, dkk (2009), mencari ukuran menyeluruh tentang baik tidaknya suatu bisnis diperlukan pengukuran menggunakan beberapa kriteria. Kriteria kelayakan investasi yang biasa digunakan antara lain :

1) Nilai Bersih Sekarang (Net Present Value)

Net Present Value (NPV) merupakan nilai sekarang dari selisih antara

manfaat (benefit) dengan biaya (cost) pada tingkat suku bunga tertentu. NPV

dari suatu bisnis merupakan nilai bersih sekarang arus kas tahunan setelah pajak dikurangi dengan pengeluaran awal. Suatu bisnis dikatakan layak atau

Dokumen terkait