V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2. Gambaran Umum Usaha Kecil Industri Tempe
5.2.1. Pengrajin Tempe
Pengrajin tempe berusia rata-rata 38,8 tahun, dengan rentang 25-50 tahun, 82% berpendidikan SD dan SMP, dengan rentang tidak tamat SD-SMA. Proses belajar membuat tempe diperoleh melalui magang atau bekerja pada industri tempe milik orang tua atau orang lain. Lamanya proses belajar, dilakukan sampai mampu membuat tempe sendiri atau terbukanya kesempatan untuk mempunyai usaha sendiri, biasanya berlangsung selama 1-5 tahun. Selain sebagai pengrajin tempe sebanyak 5 orang (12,8%) memiliki pekerjaan lain yang sifatnya kerja “sampingan”.
Tiga tahun terakhir, sebanyak 7 orang pengrajin (17,9%) dari seluruh responden memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan atau penataran yang berkaitan dengan pengembangan usaha kecil, diselenggarakan oleh dinas terkait. Pelatihan yang berkaitan dengan pengembangan teknologi pembuatan tempe belum ada.
Kompetensi pengrajin tempe dalam penelitian ini adalah kemampuan atau kecakapan yang dimiliki dalam bentuk (1) pengetahuan, (2) sikap mental, dan (3) keterampilan, dalam bidang: membuat rencana usaha, memproduksi
dan memasarkan hasil produksi, melakukan evaluasi kinerja usaha, dan melakukan perbaikan mutu. Kompetensi pengrajin tempe termasuk dalam kategori baik (Tabel 12)
Tujuan pengrajin tempe menjadi anggota KOPTI adalah memperoleh kedelai dengan harga murah dibandingkan dengan harga di pasar. Dicabutnya subsidi harga kedelai oleh pemerintah menjadikan harga kedelai di KOPTI relatif sama dengan harga di pasar. Kondisi ini berdampak kepada mengendurnya hubungan pengrajin tempe dengan KOPTI, juga hubungan antar anggota.
Kurangnya komunikasi antar anggota KOPTI dan sifat wirausaha yang dimiliki pengrajin tempe termasuk dalam kategori cukup (Tabel 7), serta belum adanya penyuluhan untuk usaha industri tempe, diduga menjadi penyebab
kurangnya kesadaran pengrajin tempe akan kebutuhan terhadap informasi
inovasi baru. Kondisi ini dapat dilihat dari teknologi pembuatan tempe dan strategi pemasaran yang tidak mengalami perubahan nyata dan tidak adanya diversifikasi produk.
Menurut Rogers dan Shoemaker (1986) jika seseorang sadar akan kebutuhannya, maka akan berusaha mencari informasi-informasi mengenai hal- hal baru, inovasi baru, guna memenuhi kebutuhannya, selanjutnya dengan informasi yang didapat digunakan untuk memperbaiki hal-hal yang perlu diperbaharui.
Kesadaran pengrajin tempe terhadap perlunya peningkatan kualitas individu, sebagai insan yang dianugrahi Tuhan akal budi perlu didorong. Menurut Susanto (Yustina dan Sudradjat, 2008) penumbuh-kembangan akal budi dan pengendalian kehendak bebas hanya dapat terjadi dan tercapai jika individu- individu terpanggil dan terdorong secara sadar untuk senantiasa berada di dalam nuansa belajar. Selanjutnya Susanto menjelaskan pengertian ‘belajar’ tidak selalu harus diartikan sebagai menimba pengetahuan di bangku sekolah atau bangku kuliah, belajar dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, dan belajar apa saja yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas hidup.
Belum maksimalnya kesadaran pengrajin tempe terhadap perlunya belajar untuk meningkatkan kompetensinya, selain disebabkan belum adanya program penyuluhan juga dapat disebabkan oleh faktor individu. Menurut Susanto (Yustina dan Sudradjat, 2008) hal ini umumnya disebabkan: (1) lemahnya dorongan subyek untuk melakukan perubahan , antara lain karena subyek telah merasa puas dengan status quo-nya, walaupun mungkin kualitas sumber daya
manusianya tergolong rendah, dan (2) lemahnya dorongan atau minat subyek untuk melibatkan diri dalam proses ‘belajar’.
5.2.2. Industri Tempe
Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 9 tahun 1995, pasal 5, maka usaha industri tempe yang menjadi obyek penelitian ini termasuk dalam kategori usaha kecil, karena memiliki omset hasil penjualan tahunan tidak lebih 1 miliar rupiah (kisaran omset usaha industri tempe per tahun antara Rp. 7.200.000 – Rp. 820.000.000). Setiap industri tempe memiliki tenaga kerja yang jumlahnya 1- 3 orang, dengan hasil produksi 1.200 kg – 11.400 kg/bulan. Mutu tempe yang dihasilkan dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6Jumlah industritempe berdasarkan
mutu tempe yang diproduksi
Mutu Tempe Jumlah
Industri
Persen (%)
1. Grade I (Sangat baik/Super) 2 5,13
2. Grade II (Baik) 27 69,23
3. Grade III (Cukup baik) 7 17,95
4. Grade IV (Kurang baik) 3 7,69
Jumlah 39 100
Sebanyak 69,23% industri tempe memproduksi tempe mutu grade II
(baik), grade I (sangat baik/super), diproduksi oleh dua industri (5,13%). Tempe
grade II adalah tempe yang kandungan kedelainya 100%, dan kedelainya direbus sebanyak satu kali, sedangkan tempe grade I, kandungan kedelainya sama dengan tempe grade II namun kedelainya direbus sebanyak dua kali.
Perebusan kedelai yang dilakukan sebanyak dua kali akan menambah
biaya produksi untuk bahan bakar, sedangkan rasa tempe grade I dengan
grade II tidak berbeda nyata. Tempe grade I dapat simpan selama 3 hari, sedangkan tempe grade II selama 2 hari, lebih dari itu tempe akan mengalami
proses pembusukan. Jumlah industri tempe yang melakukan perebusan kedelai
sebanyak satu kali, mencapai 94,87%. Proses produksi yang dilakukan pengrajin tempe disajikan pada Gambar 3.
• Kedelai yang rusak atau busuk dibuang. • Kedelai dibersihkan dari kotoran yang
menempel/kerikil.
• Kedelai direbus selama 1-2 jam, dengan air bersih (seluruh air yang digunakan dalam proses pembuatan tempe tidak mengandung garam dan kaporit).
• Perebusan dilakukan untuk mematangkan dan
mengembangkan kedelai.
• Kedelai yang sudah direbus direndam di dalam air bersih selama 12 -15 jam.
• Kedelai ditekan-tekan menggunakan mesin pemisah kulit.
• Kedelai yang kulitnya sudah terlepas direndam dalam air agar kulitnya mengambang
• Kulit yang telah mengambang dibuang.
• Kedelai ditiriskan selama 1-2 jam, di atas tampah, dengan cara meletakkan kacang kedelai secara merata dan tipis.
• Kacang kedelai yang sudah dingin dan kering diinokulasi dengan ragi (kapang rhizopus). • Jumlah ragi yang diberikan 2% dari berat kacang
kedelai.
• Tempe dicetak dan dibungkus menggunakan daun pisang/pelastik. pembungkus harus dibuat berlubang- lubang agar ragi memperoleh udara selama
fermentasi.
• Ukuran cetakan sesuai permintaan pasar.
• Kacang kedelai yang telah dibungkus disimpan selama 36-38 jam di rak-rak.
• Penyimpanan tidak dilakukan dengan cara ditumpuk. • Pada poses peragian tangan pekerja dan peralatan
harus steril, terutama dari garam.
• Dicari tempe yang tidak jadi/rusak disisihkan, agar tidak turut terjual.
Gambar 3. Diagram alir proses pembuatan tempe grade II.
Kacang Kedelai
Mensortir dan membersihkan kacang kedelai
Merebus kacang kedelai
Merendam kacang kedelai
Mengupas dan memisahkan kulit kacang kedelai
Meniriskan kacang kedelai Melakukan inokulasi Mencetak dan membungkus Melakukan fermentasi
Memanen dan mensortir tempe sebelum dijual
Secara umum masalah yang dihadapi usaha industri tempe adalah:
• Harga kedelai terus naik hingga 110% dari harga normal Rp 3.500 – Rp 4.000 menjadi Rp 8.000 per kg. Lonjakan kenaikan harga kedelai terjadi sejak bulan November 2007 (Mustofa, 2008).
• Adanya persaingan yang kurang sehat antar pengrajin, yang dilakukan dengan cara menurunkan harga jual tempe.
• Belum adanya program penyuluhan dari instansi terkait.