iv. Episoda depresif
20. GANGGUAN FOBIK
a. EPIDEMIOLOGI
Fobia merupakan gangguan mental yang umum dijumpai di Amerika, yaitu sebesar 5-10% dari populasi umum. Angka prevalensi seumur hidup pada fobia spesifik adalah sekitar 11%, pada fobia sosial 3-13%, dan pada agorafobia 2-6%.
Fobia adalah suatu ketakutan yang tidak rasional yang menyebabkan penghindaran yang disadari terhadap objek, aktivitas atau situasi yang ditakuti.
Takut terhadap binatang, badai, ketinggian, penyakit, cedera, dsb. Fobia sosial
Takut terhadap rasa memalukan di dalam berbagai lingkungan sosial seperti berbicara di depan umum, dsb. b. ETIOLOGI • Faktor perilaku • Faktor psikososial • Faktor biologik c. DIAGNOSIS
Pedoman diagnosis gangguan fobik
• Rasa takut yang jelas, menetap dan berlebihan atau tidak beralasan (obyek /situasi)
• Pemaparan dengan stimulus fobik hampir selalu mencetuskan kecemasan
• Menyadari bahwa rasa takut adalah berlebihan
• Situasi fobik dihindari Fobia spesifik
A. Rasa takut yang jelas dan menetap yang berlebihan atau tidak masuk akal, ditandai dengan adanya antisipasi terhadap objek atau situasi spesifik (mis. Naik pesawat terbang, ketinggian, binatang, mendapat suntikan, melihat darah) B. Pemaparan dengan stimulus fobia hampir selalu mencetuskan kecemasan
yang dapat berupa serangan panik yang berkaitan dengan situasi atau dipredisposisikan oleh situasi. Catatan: Pada anak-anak, kecemasan dapat diekspresikan dengan menangis, tantrum.
C. Orang tersebut menyadari bahwa rasa takutnya berlebihan atau tidak beralasan. Catatan: pada anak-anak, gambaran ini tidak harus ada D. Situasi fobik dihindari, atau jika tidak dapat dihindari, dihadapi dengan
kecemasan atau penderitaan yang kuat
E. Penghindaran, antisipasi cemas atau penderitaan dalam situasi fobia secara bermakna mengganggu rutinitas normal seseorang, fungsi pekerjaan, atau aktivitas sosial dan hubungan dengan orang lain, atau terdapat penderitaan yang jelas akibat menderita fobia.
F. Pada individu di bawah usia 18 tahun, berlangsung sekurangnya selama 6 bulan
G. Kecemasan, serangan panik, atau penghindaran fobik tidak lebih baik dijelaskan oleh gangguan psikiatrik lain, seperti gangguan obsesif kompulsif, gangguan strs pasca trauma, gangguan cemas perpisahan, fobia sosial, gangguan panik dengan agorafobia, atau agorafobia tanpa riwayat gangguan panik.
Fobia sosial
A. Rasa takut yang jelas dan menetap terhadap satu atau lebih situasi sosial, saat seseorang dihadapkan pada orang yang tidak dikenal/tidak akrab atau pada situasi yang memungkinkan ia akan diperhatikan oleh orang lain. Orang tersebut merasa takut akan berperilaku dengan cara yang merendahkan atau memalukan dirinya.
B. Pemaparan dengan situasi sosial yang ditakuti hampir selalu mencetuskan kecemasan yang dapat berupa serangan panik yang berkaitan dengan situasi atau dipredisposisikan oleh situasi.
C. Orang tersebut menyadari bahwa rasa takutnya berlebihan atau tidak beralasan D. Situasi sosial atau situasi yang ditakuti dihindari, atau jika tidak dapat dihindari,
dihadapi dengan kecemasan atau penderitaan yang kuat
E. Penghindaran, antisipasi cemas atau penderitaan dalam situasi sosial atau kinerja secara bermakna mengganggu rutinitas normal seseorang, fungsi pekerjaan, atau aktivitas sosial dan hubungan dengan orang lain, atau terdapat penderitaan yang jelas akibat menderita fobia.
F. Pada individu di bawah usia 18 tahun, berlangsung sekurangnya selama 6 bulan
G. Rasa takut atau penghindaran adalah bukan karena obat-obatan atau kondisi medik umum
H. Bila terdapat gangguan kondisi medik umum atau gangguan psikiatrik lain, rasa takut pada kriteria A tidak berkaitan dengan hal tersebut.
Agorafobia
A. Kecemasan berada di dalam suatu tempat atau situasi yang kemungkinan akan sulit meloloskan diri (atau merasa malu) atau mungkin tidak terdapat
pertolongan jika mengalami panik atau gejala mirip panik. Rasa takut pada agorafobia secara khas mencakup situasi berada di luar rumah sendirian, berada di kerumunan, berada di atas jembatan, menempuh perjalanan dengan bis, kereta api atau mobil.
B. Situasi yang ditakuti dihindari, atau dihadapi dengan penderitaan atau kecemasan yang kuat akan mendapatkan serangan panik atau gejala mirip panik, atau perlu didampingi teman
C. Kecemasan atau penghindaran fobik tidak lebih baik dijelaskan oleh gangguan psikiatrik lain, seperti fobia sosial, fobia spesifik, gangguan obsesif kompulsif, gangguan stres pasca trauma, atau gangguan cemas perpisahan.
d. DIAGNOSIS BANDING
• Penyalahgunaan zat psikoaktif
• Tumor SSP
• Penyakit serebrovaskular
• Skizofrenia
• Gangguan panik
• Gangguan kepribadian menghindar
• Gangguan kepribadian paranoid
• Gangguan kepribadian dependen e. PENATALAKSANAAN
• Farmakoterapi
• Terapi perilaku
• Psikoterapi berorientasi tilikan
• Terapi lain : hipnosis, terapi suportif, terapi keluarga
• Konseling
- Dorong pasien untuk dapat mengatur pernafasan, membuat daftar situasi yang ditakuti atau dihindari, diskusikan cara-cara menghadapi rasa takut tersebut. - Dengan konseling banyak pasien tidak membutuhkan medikasi.
• Medikasi
- Bila ada depresi bisa diberi antidepresan lmipramin 50-150 mg/ hari.
- Bila ada ansietas beri antiansietas dalam waktu singkat, karena bisa menimbulkan ketergantungan.
- Beta-bloker dapat mengurangi gejala fisik. - Konsultasi spesialistik bila rasa takut menetap
f. PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS
Sebagian besar fobia spesifik yang mulai dialami sejak masa kanak dan berlanjut ke masa dewasa, akan terus berlanjut selama beberapa tahun. Perjalanan fobia sosial cenderung untuk menjadi kronik. Kebanyakan kasus agorafobia disebabkan oleh gangguan panik, dan bila gangguan panik teratasi maka agorafobia akan membaik dengan berjalannya waktu. Agorafobia tanpa riwayat gangguan panik bersifat kronis dan dalam perjalanan penyakitnya sering timbul komplikasi berupa gangguan depresi dan ketergantungan alkohol.
g. ALGORITMA GANGGUAN NEUROTIK Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Ya
Gejala cemas, takut, menghindar, meningkatnya
kewaspadaan
Akibat langsung dari pengaruh fisiologis dari kondisi medik
umum
Gangguan cemas akibat kondisi medik umum
Akibat langsung dari pengaruh fisiologis dari zat (penyalahgunaan zat,
medikasi, toksin)
Gangguan cemas yang diinduksi zat
Serangan panik berulang disertai kekhawatiran akan terjadinya serangan panik atau
perubahan perilaku Gangguan panik dengan Agorafobia Agorafobia Ya Ya Agorafobia
Agorafobia tanpa riwayat Gangguan panik Kecemasan terhadap
perpisahan dengan figur perlekatan (attachment)
dengan onset masa kanak Gangguan cemas perpisahan
Gangguan panik tanpa Agorafobia
Ya
Ya
Takut dipermalukan saat tampil
atau dalam situasi sosial Fobia sosial
Ya
Takut terhadap suatu objek
atau situasi Fobia spesifik
Ya
h. DAFTAR PUSTAKA
1. American Psychiatric Association, Diagnostic Criteria, DSM IV-TR, 2005 : 209 -223 2. Departemen Kesehatan Rl. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa
di Indonesia III, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, 1993 : 171-195
3. Departemen Kesehatan Rl. Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat : Gangguan Ansietas
4. Sadock BJ, Sadock VA : Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry, 10th ed. Lippincott Williams & Wilkins, 2007 : 579-633
5. Setyonegoro KR, Iskandar Y. Ansietas. Yayasan Drama Husada, Jakarta, 1980 : 2-4 6. Stahl SM, Essential Psychopharmacology Neuroscientific : Basis and Practical
Applications, 2nd ed. Cambridge University Press. 2002 : 300
Tidak Tidak Ya Ya Tidak Ya
Periode cemas dan khawatir disertai gejala yang berkaitan
selama 6 bulan Gangguan cemas menyeluruh
Terjadi hanya selama episoda Gangguan mood atau
Gangguan psikotik Lihat Gangguan mood atau
Gangguan psikotik Kecemasan sebagai respons
terhadap stresor atau kejadian traumatik berat
Lihat Reaksi terhadap stres berat dan Gangguan penyesuaian
Gejala yang bermakna namun tidak memenuhi kriteria untuk
Gangguan Neurotik yang spesifik
Gangguan neurotik yang tidak tergolongkan
21. SUB MODUL II.6.2
22. GANGGUAN PANIK
Penyusun: Dr. Tuti Kurnianingsih, SpKJ a. TUJUAN UMUM PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini PPDS mampu mengerti dan menguasai teori mengenai gangguan panik serta mampu mengelola gangguan panik secara mandiri dengan baik dan benar.
b. TUJUAN KHUSUS PEMBELAJARAN
1. Mampu menganalisis-menjabarkan etiologi gangguan panik secara biopsikososial termasuk aspek psikodinamikanya (C4)
2. Mampu menganalisis-menjabarkan tanda dan gejala gangguan panik (C4) 3. Mampu menganalisis-menjabarkan diagnosis banding gangguan panik (C4) 4. Mampu menganalisis-menjabarkan diagnosis gangguan panik (C4)
5. Mampu memformulasikan upaya penatalaksanaan gangguan panik secara adekuat dan efektif melalui melalui pendekatan biopsikososial (C5)
6. Mampu membuat prediksi perjalanan penyakit dan prognosis gangguan panik (C5) Peserta didik : residen Psikiatri semester dua
c. REFERENSI
• Sadock BJ, Sadock VA, Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry, Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10 th ed, Lippincott Williams & Wilkins, Baltimore, 2007
• Sadock BJ, Sadock VA, Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry, 8th ed, Lippincott Williams & Wilkins, Baltimore, 2005
• Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III, DitJen YanDik DepKes RI, Jakarta, 1993
• Suplemen Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III, DitJen YanDik DepKes RI, Jakarta, 1995
• American Psychiatric Association, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV, 1994
d. KOMPETENSI
Mampu mendiagnosis dan menatalaksana gangguan panik berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan psikiatrik.
e. KETERAMPILAN
Setelah mengikuti secara lengkap sesi-sesi yang telah disiapkan, peserta didik diharapkan memiliki keterampilan untuk :
• Menganalisis etiologi gangguan panik serta implikasi psikodinamikanya
• Mengidentifikasi tanda dan gejala gangguan panik
• Mendiagnosis gangguan panik dan membuat diagnosis bandingnya
• Merencanakan intervensi terapeutik secara cepat dan tepat f. GAMBARAN UMUM
Prevalensi gangguan panik berkisar 1-4% dengan jumlah penderita perempuan 2-3 kali lebih banyak dibandingkan laki-laki. Gangguan panik dapat terjadi pada segala usia, tetapi lebih banyak pada usia dewasa muda. Faktor biologik, faktor genetik dan faktor psikososial merupakan penyebab dari gangguan panik. Serangan panik yang terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung sedikitnya selama 10 menit, ditandai antara lain oleh palpitasi, perasaan tercekik, perasaan pusing, bergoyang atau akan pingsan merupakan gejala yang khas untuk gangguan panik. Gangguan cemas dan bermacam-macam gangguan medik (kardiovaskuler, endokrin) merupakan diagnosis banding gangguan panik. Modalitas terapi mencakup farmakoterapi, psikoterapi, terapi perilaku. Gangguan panik bersifat kronis. Pada follow up jangka panjang sekitar 30-40% pasien bisa bebas gejala, 50% mengalami gejala ringan, dan sekitar 10-20% terus mengalami gejala yang mengganggu.
g. RANCANGAN PEMBELAJARAN 23.
24. Tujuan 1
25. Mampu menganalisis-menjabarkan etiologi gangguan panik secara biopsikososial dan implikasi psikodinamikanya (C4)
Must to know keypoint :
Mampu menganalisis-menjabarkan teori-teori tentang terjadinya gangguan panik secara biopsikososial
Tujuan 2
Mampu menganalisis-menjabarkan tanda dan gejala gangguan panik (C4) Must to know keypoint :
Mampu menganalisis-menjabarkan tanda dan gejala gangguan panik Tujuan 3
Mampu menganalisis-menjabarkan diagnosis banding gangguan panik (C4) Must to know keypoints :
Tujuan 4
Mampu menganalisis-menjabarkan diagnosis gangguan panik (C4) Must to know keypoint :
Mampu menganalisis-menjabarkan diagnosis gangguan panik Tujuan 5
Mampu memformulasikan upaya penatalaksanaan yang adekuat melalui pendekatan biopsikososial (C5)
Must to know keypoints :
Mampu memformulasikan penanggulangan gangguan panik secara adekuat dan efektif melalui pendekatan biopsikososial
Tujuan 6
Mampu membuat prediksi perjalanan penyakit dan prognosis gangguan panik (C5) Must to know keypoint :
Mampu membuat prediksi perjalanan penyakit dan prognosis gangguan panik
a. RANGKUMAN
Pada modul ini peserta didik mendapatkan kuliah mengenai aspek-aspek penting gangguan panik (epidemiologi, etiologi, tanda dan gejala, diagnosis, prinsip penanggulangan, komorbiditas dan perjalanan penyakit serta prognosis) disertai dengan sesi-sesi berupa diskusi kelompok, pembahasan kasus kertas, bed side teaching dan pengalaman praktek dengan pasien agar dapat menguasai ketrampilan untuk dapat mengelola gangguan panik dengan baik.
b.
c. MATERI BAKU PEMBELAJARAN