3.3 Pembahasan
3.3.2 Pencegahan Bahaya
3.3.2.1 Gangguan Integritas Jaringan berhubungan
Gangguan integritas jaringan merupakan berkaitan dengan adanya luka beresiko menimbulkan berbagai resiko komplikasi lebih lanjut karena kulit sampai jaringan merupakan mekanisme pertahanan primer. Gangguan integritas jaringan merupakan diagnosa prioritas utama pasca operasi. Resiko infeksi tidak diangkat menjadi diagnosa karena klien sudah mengalami infeksi, tetapi intervensi untuk mengatasi infeksi merupakan intervensi diagnosa gangguan integritas jaringan.
Diagnosa gangguan integritas jaringan menurut Teori Self Care Orems termasuk pemenuhan pada kebutuhan pencegahan bahaya sesuai dan pada klasifikasi NANDA termasuk pada kategori keamanan dan proteksi. Intervensi yang dilakukan merujuk pada NIC (Nursing Interventin Classification) meliputi kontrol infeksi dan wound care. Kontrol infeksi adalah meminimalkan tambahan dan transmisi agen infeksi (Dochterman & Bulechek, 2004). Wound care
Universitas Indonesia
merupakan pencegahan komplikasi luka dan meningkatkan penyembuhan luka (Dochterman & Bulechek, 2004).
Nursing system yang digunakan pada klien adalah wholly compensatory karena
klien tidak mampu melakukan upaya self care pencegahan bahaya secara mandiri. Intervensi keperawatan semuanya dilakukan oleh perawat dan keluarga, dengan metode pemberian bantuan dari guiding, teaching, directing, support, sampai
providing the development environment.
Intervensi yang dilakukan merujuk pada NIC (Nursing Interventin Classification) meliputi preventif syok, kontrol infeksi, dan wound care. Kontrol infeksi adalah meminimalkan tambahan dan transmisi agen infeksi (Dochterman & Bulechek, 2004). Wound care merupakan pencegahan komplikasi luka dan meningkatkan penyembuhan luka (Dochterman & Bulechek, 2004).
Aktivitas pada intervensi kontrol infeksi pada kasus meliputi monitor monitor tanda-tanda terjadinya infeksi, monitor faktor-faktor yang meningkatkan infeksi dan menurunkan daya tahan tubuh, kolaborasi pemberian antibiotik, monitor efek samping pemberian antibiotik, kontrol lingkungan, menganjurkan dan mengarahkan klien menjaga kebersihan, serta menganjurkan dan mengarahkan klien menigkatkan daya tahan tubuh. Aktivitas yang dilakukan diharapkan akan mencegah terjadinya infeksi secara sistemik yang akan beresiko terjadinya sepsis dan mempercepat penyembuhan luka. Pemberian antibiotik sistemik merupakan terapi untuk infeksi pada luka karena untuk mendukung antibiotik topikal yang tidak memiliki penetrasi sampai dalam (Daley, 2005). Pemberian antibiotik perlu monitor karena beresiko menimbulkan resistensi. Klien diberikan antibiotik injeksi intravena berupa ceftriaxon 1 gr IV, gentamycin 2 x 80 mg, dan metronidazole 2 x 500mg.
Infeksi lokal pada luka akan memperlama fase inflamasi pada penyembuhan luka karena sel akan dihancurkan bakteri dalam besar dimana akan menghambat kemampuan fibroblas untuk memproduksi kolagen (Senter & Pringele, 1985 dalam Dealey, 2005). Infeksi sistemik akan membutuhkan sel darah putih dan nutrisi dalam jumlah banyak sehingga mempengaruhi penyembuhan luka. Infeksi
47
Universitas Indonesia
sistemik akan meningkatkan metabolisme sehingga akan meningkatkan katabolisme atau penghancuran jaringan. Intervensi kontrol infeksi meliputi monitor faktor-faktor yang meningkatkan dan menurunkan infeksi, kolaborasi penggunaan antibiotik, monitor efek samping antibiotik, dan kontrol lingkungan yang beresiko meningkatkan infeksi. Faktor yang meningkatkan infeksi klien adalah kondisi umum klien yang kurang mendukung.
Antibiotik merupakan terapi yang digunakan dalam osteomielitis. Antibiotik yang diberikan klien memerlukan waktu karena ostemielitis kronis memerlukan terapi antibiotik dalam waktu lama. Antibiotik intravena memerlukan waktu selama 6 minggu pada terapi osteomielitis (Halstead, 2004). Struktur tulang mempengaruhi efektifitas antibiotik. Tulang memiliki struktur mikrosirkulasi yang mudah rusak karena toksin bakteri dan tidak memiliki sel pertahanan natural. Terapi klien hanya berupa pemberian antibiotik saja karena tindakan pembedahan belum memungkinkan dilakukan karena kondisi klien.
Pemberian antibiotik pada klien perlu dilakukan observasi terhadap efek samping yang mungkin timbul. Test resistensi terhadap antibiotik tidak dilkukan terhadap klien, demikian juga kultur sehingga terapi antibiotik yang diberikan terdapat kemungkinan tidak tepat.
Aktivitas pada intervensi wound care pada kasus meliputi mengkaji faktor-faktor yang meningkatkan dan menghambat penyembuhan luka, mengkaji luka klien, meningkatkan serta melakukan ganti balut. Aktivitas pada intervensi mempertimbangkan internal dan eksternal faktor.
Faktor yang menghambat penyembuhan luka pada klien yang perlu mendapatkan perhatian adalah nutrisi dimana kadar hemoglobin yang dibawah normal yang akan mempengaruhi perfusi jaringan perifer termasuk pada area luka. Kondisi pasca operasi juga perlu menjadi pertimbangan. Protein dan karbohidrat dibutuhkan untuk memenuhi pasokan energi karena penghancuran jaringan akan menghasilkan keseimbangan nitrogen negatif. Kesimbangan nitrogen negatif mengakibatkan gangguan immun dan beresiko infeksi (Dealey, 2005).
Universitas Indonesia
Pemberian cairan intravena RL pada klien membantu tercukupinya kebutuhan nutrisi pasca operasi. Menganjurkan klien untuk meningkatkan nutrisi yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin C, dan Zinc berperan untuk mencegah infeksi pada luka sehingga mempercepat penyembuhan luka. Karbohidrat berkontribusi sebagai energi untuk meningkatkan fungsi leukosit, makrofag, dan fibroblast. Protein berperan sebagai respon immun fagositosit, angiogenesisi, fibroblas, proliferasi, sisntesis kolagen, dan remodelling luka. Vitamin C akan memberikan efek pada sistesis kolagen, kekuatan luka, fungsi neutrofil, migrasi makrofage, dan respon imun. Zinc berguna untuk proliferasi sel, meningkatkan epitelisasi, dan meningkatkan kekuatan kolagen (Daeley, 2005).
Metode pencucian luka dengan cairan NaCl 0,9 % digunakan karena merupakan cairan fisiologis. Luka pasca operasi merupakan luka bersih sehingga dalam pencucian tidak perlu digunakan cairan antiseptik. Penggunaan darryantule sebagai primary dressing berfungsi untuk mencegah infeksi superfisial. Kandungan antibiotik (firacetin sulfat) dalam tulle perlu dimonitor karena akan menimbulkan masalah pada sensitivitas dan resistensi terhadap bakteri. Penggunaan kompres NaCl 0,9 % dan Metronidazole sebagai secondary dressing berfungsi untuk menciptakan suasana lembab pada saat luka masih basah tetapi ketika luka sudah mulai kering tidak dilakukan. Suasana lembab akan mendukung migrasi epidermal, meningkatkan pH dan level oksigen, menjaga electrical
gradient, dan menahan cairan luka dari permukaan kulit (Schultz et al, 2003
dalam Daeley, 2005). Penggunaan antibiotik sebagai agen topikal berperan menekan pertumbuhan bakteri dan mengurangi bau akibat eksudasi. Osteomielitis apabila jaringan lunak telah mengalami nekrosis, penggunaan antibiotik sistemik kurang efektif karena vaskularisasi yang menurun (Maher, Salmond, & Pellino; 2002).
Luka juga beresiko meningkatkan infeksi karena pertahanan primer tidak adekuat sementara adanya perdarahan berperan terhadap terjadinya infeksi karena ketidakadekuatan pertahanan sekunder (Herdman, 2012). Komplikasi pada pasca bedah berkaitan dengan adanya luka meliputi perdarahan dan infeksi (Smeltzer & Bare, 2008). Infeksi dapat terjadi karena tindakan bedah dan kontaminasi balutan
49
Universitas Indonesia
pasca trauma. Perdarahan beresiko terjadi karena kerusakan pembuluh darah besar yang menyebabkan perdarahan masif. Komplikasi pasca operasi perlu dimonitor karena leukosit pada tanggal 6 Oktober sempat naik menjadi 16,4 ribu/dl dan hemoglobin turun menjadi 11,9 g/dl sehingga perlu mewaspadai resiko infeksi dan perdarahan.
Perawatan luka merupakan tindakan meminimalkan syok sepsis karena mencegah pertumbuhan bakteri (smeltzer & Bare, 2006). Metronidazole digunakan sebagai agen topikal dalam perawatan luka perlu diobservasi. Antibiotik digunakan sebagai agen topikal apabila antibiotik sistemik tidak efektif (Dealey, 2005). Kebersihaan area sekitar luka perlu dilakukan. Flora normal pada kulit dapat meningkatkan perkembangan mikroorganisme pada luka. Staphylococcus
epidermidis merupakan patogen utama terjadinya infeksi pada tulang (Maher,
Salmond, & Pellino, 2002). Staphylococcus epidermidis merupakan flora normal pada kulit tetapi menjadi patogen apabila berada pada tulang karena mempunyai sifat komensal.
Evaluasi dari intervensi yang telah dilakukan menunjukan bahwa penyembuhan luka tidak maksimal. Kondisi luka diameter 1 – 2 cm dan bengkak pada area paha 5 cm diatas lutut dan masih tampak rembesan pus dalam jumlah banyak pada balutan klien. Status nutrisi klien perlu ditingkatkan untuk mendukung penyembuhan luka. Nursing system klien tidak mengalami perubahan karena tidak ada peningkatan dalam melakukan self care sehingga nursing system klien tetap pada area wholly compensatory.