• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab I Pendahuluan

1.5 Garis Besar Skripsi

Tujuan penulisan ini adalah untuk memotret pengalaman membangun usaha pada fase paling awal bagi wirausahawan asing berdasarkan studi kasus owner Zen Furniture di Jepara.

1.4.2. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penulisan ini adalah:

- Memberi sumbangan referensi bagi pengembangan ilmu kewirausahaan terhadap wirausahawan lokal dan internasional.

- Memberi bahan pertimbangan kepada pemerintah Indonesia terkait regulasi bagi penanam modal asing.

- Memberi saran untuk para wirausahawan yang ingin memperluas usahanya secara internasional.

1.5. Garis Besar Skripsi

Beberapa aspek yang akan diteliti adalah:

- Kewirausahaan dan Kewirausahaan Internasional: bagaimana kemampuan seseorang dalam merealisasikan ide menjadi suatu kegiatan ekonomi yang real pada kegiatan local dan international.

- Motivasinya dan membangun usaha: apa saja dorongan seorang wirausahawan memulai aktivitasnya didunia usaha.

- Alasan dan peluang membangun usaha di Indonesia: apasaja yang menjadi magnet Indonesia sebagai sasaran para wirausahawan membangun sebuah usaha.

- Proses membangun usaha di Indonesia: mencari tahu lebih dalam bagaimana proses atau langkah paling awal membangun sebuah usaha sampai usaha tersebut dapat berjalan.

- Pertimbangan membangun usaha di Negara lain: apasaja yang harus dipikirkan dan disiapkan untuk membangun sebuah usaha di Indonesia.

- Tantangan membangun usaha di Indonesia: hambatan apa saja yang bisa terjadi dalam membangun sebuah usaha di Indonesia.

- Strategi wirausahawan asing membangun usaha di Indonesia: bagaimana strategi para wirausahawan menghadapi tantangan dalam membangun usahanya.

- 16 - BAB II

TELAAH LITERATUR

2.1. Konsep Kewirausahaan dan Kewirausahaan Internasional

Sebuah tulisan pada “Buku Dalam Penulisan Pengertian Wirausaha Menurut Pakar (Abas Sunarya 2011)” untuk mengartikan kewirausahaan harus lebih dulu memahami wirausaha dan wirausahawan. Wirausaha berasal dari dua kata etimologi, pertama wira yang berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung;

kedua usaha berarti perbuatan amal, berbuat sesuatu. Sedangkan wirausahawan adalah seorang innovator yang mengimplementasikan perubahan-perubahan di dalam pasar melalui kombinasi-kombinasi baru dalam bentuk memperkenalkan produk baru, metode produksi baru, membuka pasar yang baru, memperoleh sumber pasokan baru dari bahan atau komponen baru, dan menjalankan organisasi didalamnya. Sehingga dengan jelas yang dikatakan oleh Geoffrey G.

Meredit pada 1995 kewirausahaan adalah suatu kemampuan melihat dan menilai kesempatan bisnis guna memanfaatkan sumber daya yang ada dan memastikan kesuksesan kesempatan tersebut untuk mendapatkan keuntungan.

Kewirausahaan dalam negeri adalah usaha yang tidak melampaui batas negara, adapun usaha yang melampaui batas negara disebut kewirausahaan internasional (Ball 2006). Pada dasarnya kedua hal ini mempunyai prinsip yang sama. Sedangkan kewirausahaan internasional menurut Hessels (2008) adalah perpaduan antara entrepreneurship dan business international yang mampu meningkatkan partisipasi usaha kecil dan baru dalam perekonomian internasional untuk menciptakan informasi tentang pasar global dan mitra internasional untuk kegiatan lintas negara. Dilain pihak, kemampuan kewirausahaan internasional mendorong system manajerial dan memasok persepsi yang bernilai tinggi dengan standar pemasaran internasional (Roudini 2012).

2.2. Motivasi Berwirausaha

- 17 -

Untuk mendapatkan keuntungan seseorang terdorong oleh sesuatu untuk melakukan aktivitas yang ada imbalannya. Hal ini disebut dengan motivasi yang merupakan suatu daya penggerak atau dorongan yang ada dalam diri seseorang yang menciptakan suatu gairah untuk melakukan tindakan dalam memenuhi kebutuhan hidup maupun untuk pencapaian tujuan/kepuasaan (Akbar Setiawan 2016). Sardiman (Dalam Adhe Octaviona, 2016) motivasi ada dua kelompok, yaitu pertama motivasi intrinsic dimana motif-motif yang aktif tidak ada pengaruh dari luar, melainkan berasal dalam diri sendiri. Kedua motivasi ekstrinsic adalah motif-motif yang berdasarkan pengaruh dari luar. Proses kewirausahaan diawali dengan suatu aksioma, yaitu adanya tantangan. Dari tantangan tersebut timbul gagasan, kemauan, dan dorongan untuk inisiatif yang mendorong seseorang berpikir kreatif dan bertindak inovatif (Suryana. 2008).

Dalam aplikasi berusaha, kuncinya adalah memahami keberhasilan yang ditandai dengan adanya kesesuaian yang pas antara peluang (kesempatan) dengan waktu. Pada bagian ini, seorang wirausahawan harus bisa memanajemen antara kesempatan dengan waktu. Selain itu, Robin (2006) berpendapat bahwa ada 5 jenis kebutuhan, yaitu: psikologis, keamanan, social, penghargaan dan aktualisasi diri. Secara umum, motivasi memberikan arti adanya pengaruh dorongan atau alasan untuk melakukan sesuatu dimana penyebabnya bias dari dalam dan luar dari diri orang tersebut. Dorongan motivasi ini yang dikatakan oleh Profesor dari universitas Colorado J. Chris Leach dan Ronald W. Melicher (2009) mengatakan bahwa kewirausahaan tidaklah lepas dari ide yang menjadi kesempatan komersil untuk menciptakan nilai harga. Disisi lain minat dalam berwirausaha memberikan kemungkinan besar bagi seseorang dalam melakukan tindakan-tindakan berwirausaha. Contohnya, mengikuti seminar, pelatihan dan kemudian meluangkan waktu mempelajari lebih jauh dan langsung bertindak melakukan kegiatan tanam modal tersebut bahkan menambah (Kusmawati 2011).

Kewirausahaan internasional memotivasi kemampuan seseorang melalui proses bekerja dan mempengaruhi tingkah lakunya dalam lingkungan tempat kerjanya (Jong 2015). Adapun pengaruh yang mendorong aktivitas seseorang dalam pekerjaan seperti tingkat harapan, kontribusi, perumusan dan pelaksanaan strategi yang mengglobal dalam menghadapi resiko dan pencapaian tujuan perusahaan (Faris Naufal, 2015).

2.3 Proses dan Strategi berwirausaha di Negara Asing

- 18 -

Membangun sebuah usaha, seseorang perlu melihat 3 tipe dalam tahap permulaan dan pertumbuhan kewirausahaan. Tipe pertama adalah tahap imitasi dimana wirausahawan meniru ide dari orang lain berdasarkan hasil pengamatannya dilihat dari segi teknik produksi, desain, produk, organisasi usaha, ataupun pemasarannya. Tipe kedua adalah tahap pengemabgan dan dimana melalui produk yang secara desain, organisasi usaha dan pemasaran melalui pengembangan yang lambat dan cenderung kurang dinamis namun ada sedikit perubahan. Tipe ketiga adalah tahap menciptakan barang dan jasa baru yang berbeda melalui ide sendiri dari setiap segi pembuatan produk sampai berkembang dan mencapai hasil unggulan (Ryani 2012).

Dalam proses pengembangan kewirausahaan menurut Srie Sulastri terdapat empat proses.

Pertama adalah proses inovasi yang bermula dari keinginan berprestasi, adanya sifat penasaran, mau menanggung resiko, dan pengalaman. Kedua, proses pemicu dari ketidakpuasaan seseorang dari pekerjaan yang ada sehingga muncul keberanian menanggung resiko dan komitmen yang tinggi terhadap bisnis. Ketiga, proses pelaksanaan yang memiliki kesiapan mental wirausaha yang mempunyai manager sebagai pelaksana kegiatan serta mempunyai visi dan misi yang jelas untuk mencapai tujuan. Keempat, proses pertumbuhan yang didorong oleh factor organisasi dengan tim yang kompak dalam menjalankan usaha, strategi yang mantap, struktur dan budaya organisasi yang baik, juga adanya produk yang menjadi unggulan. Ada 4 tahapan yang perlu dilewati dalam mengembangkan sebuah bisnis (Winardi, 2008), yaitu:

a. Tahapan awal, dimana ide-ide kreatif berkembang, hingga ke titik dimana perasaan atau pemahaman seseorang hal tersebut secara komersial layak diterapkan (feasible) dan mempunyai visi-visi untuk dijalankan.

b. Tahapan dimulainya usaha tersebut, dari sini terlihat bahwa mereka telah memiliki jadwal untuk dapat dilaksanakan. Jadwal yang memual kejadian-kejadian dimana ide-ide yang masih terlibat dalam riset produk dan pasar akan dicairkan.

c. Tahapan pertumbuhan awal, setelah memutuskan proyek tersebut layak diterapkan, usaha tersebut mulai beroperasi penuh dimana orang-orang yang berada didalamnya sedang belajar dan mengguji produk yang dipasarkan layak atau tidak.

d. Tahapan pertumbuhan kemudian yang didalamnya jika produk yang dipasarkan sudah memasuki tahapan kedewasaan sehingga diperlukan strukturisasi, pembiayaan jangka panjang, dan saham-saham perusahaan siap dijual secara umum.

- 19 -

Di Indonesia, untuk mendirikan sebuah usaha tidaklah mudah dalam melewati regulasi yang ada. Contohnya saja wirausahawan yang ingin mengembangkan usaha kecilnya menjadi Perseroan Terbatas (PT) sesuai dengan ketentuan Undang-undang no 40 tahun 2007 harus melalui 8 tahap. Kurang lebihnya wirausahawan memulai dengan mengajukan nama PT, pembuatan akte PT, pembuatan surat keterangan domisili perusahaan, permohonan nomor pokok wajib pajak, pengesahan anggaran dasar persereoan oleh menteri, mengajukan surat izin usaha perdagangan, mengajukan tanda daftar perusahaan, dan terakhir mendapatkan berita acara negara RI. Namun sebelum itu, sebuah perusahaan haruslah siap dengan nama perusahaan, logo, alamat, kartu nama dan slogan, kop surat dan dokumen-dokumen lainnya, stempel perusahaan, maksud dan tujuan usaha, jumlah usaha, susunan pimpinan, serta nomor rekening perusahaan Nama perusahaan (Handayani Rika 2013).

Lebih jauh lagi untuk mengembangkan minat berwirausaha Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi 2013 menegaskan bahwa pemerintah di negara maju menyisipkan materi kewirausahaan agar para mahasiswa memiliki pola pikir berwirausaha yang tidak bergantung pada orang lain (Dwika 2014). Karakter seorang wirausahawan sangatlah berpengaruh terhadap keberhasilan usahanya sendiri. Setidaknya ada empat faktor seperti (a) kemampuan mengidentifikasi kesempatan bisnis potensial, (b) memiliki sense of urgency yang membuat seseorang berorientasi pada tindakan, (c) mempunyai rincian perencanaan sebagai kunci-kunci utama untuk pekerjaannya, dan (d) mampu mencari bantuan dari pihak luar (Rizky Pamungkas 2014).

Para wirausahawan yang ingin mengembangkan kegiatannya melampai batas negara memiliki strategi dalam pengembangan usahanya di negara lain khususnya di Indonesia, seperti (Wuryandari, 2014):

a. Kegiatan ekspor yang kegiatannya mengembangkan usahanya di pasar global. Melalui ekspor, resiko membangun usaha relative kecil dan tidak memerlukan biaya lebih kecuali untuk transportasi. Disisi lain para eksportir harus membangun sarana lain untuk memasarkan produk dan distribusinya terhadap negara tujuan, kurangnya control harga jual, serta kenaikan harga diakibatkan perpindahan barang lintas negara (misalnya biaya kirim, pengepakan, asuransi, perantara, pajak, biaya administrasi dan biaya lainnya).

b. Lisensi adalah sebuah transaksi kontraktual antara perusahaan (lisensor) yang

- 20 -

menawarkan beberapa kepemilikan aset kepada sebuah perusahaan asing (lisensee) untuk ditukarkan dengan loyalty atau fee, contohnya system franchise. Dalam system ini pihak yang memberikan lisensi mendapatkan royalty untuk setiap unit produksi dan penjualan, pihak yang mendapatkan lisensi berhak menggunakan teknologi, brand, dll yang dimiliki pemberi, dan banyak perusahaan lisensi menjadi sangat profitable. Namun sayangnya, resiko pembajakan tidak dapat dihindari, sulitnya mengontrol pabrikasi dan pemasaran produk-produk ke negara lain, laba yang dibagi antara pemberi dan penerima lisensi, dan pada situasi yang tidak bagus pemberi lisensi dapat mempelajari teknologi dan dapat membuat produk kompetitif yang serupa setelah jatuh tempo lisensi.

c. Contract manufacture atau outsourcing, dimana perusahaan melakukan kerja sama dengan perusahaan local untuk memproduksi bagian dari produk atau seluruh produk dengan pemasaran produk tanggung jawabnya dipegang oleh perusahaan International.

Kelebihan dari outsourcing ini adalah tidak perlu adanya investasi, fleksibel, penghematan sumber daya (bahan baku, orang, dll), resiko yang minim, perusahaan mempunyai akses ke pasar secara langsung, dan mode of entry yang cepat.

Kekurangannya adalah kurang fleksibel respon terhadap permintaan pasar, gaji yang minim dengan harapan produktivitas yang tidak sesuai, keterbatasan pasokan, dan sangat diperlukan pengendalian kualitas.

d. Join Venture/Aliansi strategis adalah hubungan formal yang telah disepakati ataupun pemenuhan kebutuhan masing-masing kelompok/orang untuk mencapai satu tujuan.

Biasanya aliansi strategis terjadi dalam satu jangka waktu tertentu bukan dengan pesaing langsung, namun memiliki kesamaan produk atau layanan untuk target yang sama.

Sehingga dapat mengurangi kebutuhan modal dan sumber daya lainnya, perusahaan nasional mendapatkan teknologi dan perusahaan internasional mendapatkan pemasaran, risiko yang minim, perusahaan dapat beroperasi secara global, kepemilikan, akses pendanaan yang mudah, dan adanya manajemen local di negara asing. Join venture ini dapat bermanfaat pada perusahaan, namun tidak banyak terhadap pelanggan. Hal ini karena dukungan tidak merata dan juga menyebabkan persaingan antara partner.

e. Investasi langsung adalah investasi yang dibuat untuk melayani kepentingan bisnis investor di sebuah perusahaan, yang di negara yang berbeda dari negara asal investor. Hal positif yang didapati dari investasi langsung adalah akuisisi yang menyediakan akses

- 21 -

cepat ke pasar baru, jalan untuk ekspansi internasional, merk dan reputasi telah tercipta, mengurangi kompetisi, serta pengalaman manajemen yang sudah matang. Namun tidak dapat dihindari seperti pendanaan yang mahal menghasilkan utang, negosiasi dan akusisi yang kompleks terhadap syarat-syarat terkait perjanjian dan hukum, integrasi operasional, masalah komunikasi dan koordinasi, dan kesesuaian dengan bisnis yang ada.

2.4 Tantangan membangun usaha di Indonesia

Menyinggung masalah yang dilalui dalam proses mendapatkan kesempatan dan berwirausaha tidaklah lepas dari berbagai tantangan. Para wirausahawan sangatlah mengenal resiko yang dihadapi dalam proses mengembangkan kesempatannya. Resiko usaha menurut kamus besar bahasa Indonesia, resiko adalah akibat yang kurang menyenangkan, merugikan, membahayakan dari suatu perbuatan atau tindakan. Resiko adalah ketidak tentuan yang mungkin melahirkan persitiwa kerugian (Salim 2000). Salim berpendapat, penyebab yang berasal dari segi ekonomi, alam dan perilaku manusia adalah tiga faktor yang menyebabkan resiko kerugian.

Resiko ini harus dapaat dipelajari untuk menyiapkan seseorang dapat melalui tantangan-tantangan membangun usaha. Adapun resiko terdiri dari 3 definisi menurut Emmet J. Vaughan (1996) seperti: pertama, risk is the chance of loss dimana chance of loss berhubungan dengan suatu keterbukaan terhadap kemungkinan kerugian. Dalam ilmu statistik, chance dipergunakan untuk menunjukkan tingkat probabilitas akan munculnya situasi tertentu. Sebagian penulis menolak definisi ini karena terdapat perbedaan antara tingkat risiko dengan tingkat kerugian.

Dalam hal chance of loss 100%, berarti kerugian adalah pasti sehingga risiko tidak ada. Kedua, risk is the possibility of loss saat istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada diantara nol dan satu. Namun, definisi ini kurang cocok dipakai dalam analisis secara kuantitatif. Ketiga, risk is uncertainty saat uncertainty dapat bersifat subjective dan objective.

Subjective uncertainty merupakan penilaian individu terhadap situasi risiko yang didasarkan pada pengetahuan dan sikap individu yang bersangkutan. Objective uncertainty dimana kemungkinan terjadinya peristiwa akibat proses yang berlangsung atau yang akan datang. Selain itu, tantangan terbesar dalam berwirausaha adalah berasal dari dalam diri seseorang, dimana mental yang dimiliki dinilai lemah atau tidak ada motivasi yang kuat. Sifat yang merendahkan mutu, menyukai pola hidup yang instan, tidak percaya diri, tidak ada disiplin dalam diri, dan

- 22 -

suka mengabaikan tanggung jawab adalah masalah kelemahan para wirausaha Indonesia sampai saat ini Koentjaraningrat (Dalam Rahmi Ulfah. 2010).

2.5 Alasan dan Peluang Membangun Usaha di Indonesia

Indonesia dari hasil survey Lee Kuan Yew (2011-2012) tentang daya saing ASEAN menempatkan Indonesia adalah negara yang paling menarik untuk para penanam modal asing.

Ada 5 faktor yang mempengaruhinya. Pertama factor suku bunga yang stabil. Kedua, data dari world bank dimana Gross National Income yang meningkat. Ketiga, hasil perhitungan Asian Development Bank dimana jumlah masyarakat kelas menengah atas meningkat setiap tahunnya.

Keempat, nilai inflasi yang stabil. Terakhir, pengendalian indicator ekonomi makro dan peraturan insentif fiscal dan non-fiscal dari pemerintah. Namun kondisi geografis yang unik dan kurangnya infrastruktur transportasi menjadi tantangan dalam pemanfaatan sumber daya alam.

Menurut OECD (Petar Vujanovic dan Richard Dutu, Economic Survey of Indonesia, OECD, 2016).dalam dua darsawarsa ini, Indonesia memiliki catatan yang sangat baik dalam mengurangi kemiskinan. Namun masih sebanyak 30 juta penduduk masih hidup dibawah garis kemiskinan.

Dengan melengkapi kekurangan ini sangatlah dibutuhkan kebijakan yang difokuskan pada pencapaian pertumbuhan yang kuat berkesinambungan. Misalnya saja upaya memaksimalkan diversifikasi komoditas pertanian, mendorong kerja sama antara petani kecil dan perkebunan besar, serta melonggarkan pembatasan terhadap penanam modal asing demi meningkatkan produktivitas pertanian

Seorang wirausahawan mampu melihat peluang dimana dia bersedia mengambil resiko dan menghadapinya untuk mengelola dan mengatur segala urusan yang berhubungan dengan keuangan oleh Arif F. Hadiparanata. Peluang usaha adalah proses melibatkan individu atau kelompok menggunakan usaha dan sarana untuk menciptakan suatu nilai untuk memenuhi kebutuhan tanpa melihat sumberdaya yang digunakan. Hal ini didukung oleh Thomas W.

Zimmerer yang mengatakan peluang terdiri dari kreativitas dan dan inovasi untuk memecahkan

- 23 -

masalah dan melihat kesempatan yang diterapkannya. Adapun pertimbangan yang dilihat oleh seorang wirausahawan sebelum memutuskan membangun usaha di Indonesia mereka terlebih dahulu menilai yang dirasa penting apakah nantinya usaha mereka mendatangkan keamanan, kenyamanan serta keuntungan selama berwirausaha (Trijoyo ariwibowo 2009). Adapun 3 faktor yang perlu dicermati wirausahawan internasional:

1. Factor kestabilan politik, dimana mereka akan mencermati kestabilan politik sebagai iklim yang kondusif untuk usaha-usaha penanaman modal asing. Antar konflik politik dan antar konflik kelompok masyarakat tidak merugikan penanam modal asing.

2. Factor ekonomi, dimana tersedianya sumber daya alam menjadi daya tarik ekonomi.

Factor ekonomi ini pula berkaitan dengan factor politik yang saling mempengaruhi.

3. Factor hukum, berbagai ketentuan system hukum terkait dengan kegiatan penanaman modal asing yang memberikan jaminan perlindungan oleh Negara. System hukum ini harus menciptakan kepastian, keadilan, dan efisiensi.

Adapun ukuran internasional lainnya bagi seorang wirausahawan akan melihat apakah sistem birokrasi sudah berjalan baik atau belum disuatu negara untuk membangun usahanya adalah (1) Indeks Persepsi Korupsi Global, merupakan transparansi internasional yang menggambarkan level the misuse of public power for private benefit yang menempatkan Indonesia (2011) pada ranking 100 dari 182 negara dengan nilai IPK 3; (2) Indeks Daya Saing Global (World Economic Forum) dimana Indonesia berada pada ranking 37 pada tahun 2015 dan menjadi 41 untuk tahun ini dari 142 negara, dalam indeks ini semakin kecil nilainya maka semakin baik daya saing global negara tersebut; (3) Indeks Kemudahan Berbisnis (The Ease of Doing Business-World Bank).

Perwita (2013) menjelaskan bahwa jika perusahaan asing masuk ke Indonesia, perusahaan tersebut harus mengetahui konsekuensi mengenai pemahaman keharusan administrasi internasional dan birokrasi negara tujuan. Birokrasi yang dimaksud mengacu pada pola kerjasama dan koordinasi antar lembaga/institusi birokrasi negara. Zulfi Suhendra (2013) menceritakan tentang sebuah perusahaan Jerman, Metro AG yang sempat kabur setelah melakukan penjajakan 2 tahun dikarenakan birokrasi yang betele-tele. Indonesia menjadi negara kedua terburuk setelah India terkait inefisiensi birokrasi, sedangkan Singapura menjadi negara paling efisien untuk birokrasi (Kusdiantono, 2010). Untuk memahami lebih jelas, Indeks

- 24 -

Kemudahan berbisnis yang akan ditinjau lagi. Jika dilihat dari Indeks Kemudahan Berbisnis World Bank 2016 menunjukkan posisi Indonesia di peringkat ke 109 dari total 189 negera.

Sangat berbeda jauh dari negara tetangga Singapura yang ada pada peringkat pertama dan Malaysia pada peringkat ke 18. Berdasarkan data diatas bank dunia menyarankan 10 hal yang harus diperbaiki. Adapun 10 proses yang harus ditelaah jika seorang wirausaha local maupun asing ingin membangun usaha dimulai dari perizinan usaha, izin mendirikan bangunan, langganan listrik, daftar property, akses kredit, melihat minority investor, wajib pajak, transaksi antarnegara, kontrak usaha, status pailit (doingbusiness.org pada 23.10.2016). Konsekuensi yang dapat terjadi adalah menurunnya niat penanam modal asing yang pasti akan berdampak negatif terhadap produksi di dalam negeri dan ekspor (Tulus Tambunan 2008).

- 25 - BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis dan Sumber Data 3.1.1. Jenis Data

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Data kualitatif, yaitu data yang disajikan dalam bentuk kata verbal bukan dalam bentuk angka (Muhadjir 1996). Berdasarkan pendapat Sugiyono (2010) metode kualitatif ialah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi.

Penulis memilih metode kualitatif karena penelitian yang diteliti cukup kompleks dan dinamis sehingga data yang diperoleh dari narasumber akan lebih alamiah karena bersifat tatap muka atau interview langsung. Selain itu, penulis bermaksud untuk memahami lingkungan sumber penelitian untuk menemukan pola, hipotesis serta teori yang sesuai dengan data yang diperoleh dilapangan.

Secara garis besar, penelitian ini menggunakan autobiography study yang memfokuskan diri pada satu orang individu, kemudian membangun penelitian dari cerita dan epiphany (peristiwa mendadak dan pembukaan rahasia diri) dari kejadian-kejadian yang spesial individu, yang selanjutnya menempatkannya dalam konteks yang lebih luas dan membangkitkan keberadaan penulis dalam penelitian (Satori dan Komariah (2012:34). Walaupun penelitian biografi hanya memfokuskan pada satu individu, akan tetapi individu tersebut mesti diposisikan dalam konteks yang lebih luas yang mempengaruhi perjalanan hidupnya, pengaruh-pengaruh yang membuat dirinya mengambil keputusan serta langkah awal membangun usaha di Indonesia.

Bertolak dari pendapat tersebut, biografi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah kisah perjalanan seseorang wirausahawan Korea yang konsisten berusaha lebih dari 10 tahun di Indonesia.

- 26 - 3.1.2. Sumber Data

Arikunto (1998) berpendapat sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data dapat diperoleh. Ada dua data (Loefland dalam Moleong 2009) yang digunakan oleh penulis.

Pertama adalah sumber data utama atau primer dimana kata-kata dan tindakan orang yang diamati atau diwawancarai. Sebaliknya sumber data tertulis atau sekunder adalah yang berasal dari dokumentasi seperti foto ataupun tulisan-tulisan seperti surat izin dukungan, data-data pembeli, dan lain-lain.

Melalui data primer, penulis mengadakan interview langsung dengan owner Zen Furniture dan mengamati siklus tempat kerja owner untuk mendapatkan pengalamannya berwirausaha di Indonesia. Sebaliknya melalui data sekunder, penulis akan meminta izin untuk memotret lingkungan kerja owner Zen Furniture dan juga membaca dokumen-dokumen seperti surat izin usaha sebagai sumber data penelitian. Adapun dokumen-dokumen pendukung lainnya seperti junal-jurnal terkait pengalaman wirausahawan asing.

3.2. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian kualitatif ini ada dua metode yang digunakan (Sugiyono 2012), yaitu:

a. Metode pengumpulan data melalui interview yang mendalam. Metode Interview yang

a. Metode pengumpulan data melalui interview yang mendalam. Metode Interview yang

Dokumen terkait