• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab IV Analisa dan Pembahasan

4.3 Proses Membangun Usaha Meubel

Bapak Kim melihat kemampuan beliau bukan hanya sekedar seorang pembuat meubel professional, melainkan bisa menjadi seorang entrepreneuer. Ketertarikan beliau pada meubel, mampu menyusun design usaha yang ingin beliau buat, mengukur apakah ide membuat meubel tersebut layak atau tidak dengan keadaan disekitarnya. Setelah beliau mengumpulkan data-data yang menyatakan bahwa usahanya dapat berkembang, dimulailah proses membangun usaha.

Kemampuan yang dimilikinya tidak didapat dari sekolah. Semakin banyak meubel yang dibuat oleh bapak Kim, keahliannya semakin berkembang. Kesempatan karir dari seorang asisten pembuat meubel untuk berada di tingkat lebih tinggi semakin terbuka sehingga menjadi quality controller. Selama 10 tahun beliau bekerja di pabrik meubel menjadi quality controller, beliau mendapatkan kesempatan untuk dapat meningkatkan ketrampilannya lebih banyak lagi. Tidak hanyak belajar tentang membuat meubel, beliau belajar untuk bagaimana menjadi pemimpin dalam hal mengorganisir karyawannya, menilai kualitas meubel yang dihasilnya, membangun kerjasama dengan orang lain, dan masih banyak lagi. Secara otomatis lingkungan pertemanannya adalah dengan para pemilik pabrik atau pemilik sebuah usaha. Beliau mendapat banyak masukkan dan pertimbangan untuk membangun usahanya sendiri.

Bersama dengan rekan kerjanya membangun sebuah pabrik produksi meubel di Korea.

Beliau mulai membuat list apa saja yang harus beliau persiapkan bersama dengan target waktu yang dibuatnya. Dari pekerjaan sebelumnya, ada banyak hal yang beliau dapatkan setelah bergelut dengan dunia meubel. Tidak begitu sulit bagi beliau untuk mencari info maupun mengecek pasaran untuk hasil produksinya. Tentunya bekal yang beliau miliki banyak dan dibantu oleh rekan kerja yang sama-sama mengerti mengenai bisnis meubel. Sehingga awal mula pemasaran, mereka lebih focus pada pasar dalam negeri Korea. Namun sangat disayangkan, tidak sampai 10 tahun membangun usaha di Korea, beliau bangkrut dikarenakan kondisi ekonomi masyarakat korea saat itu terkena dampak krisis finansial (di Indonesia: krisis moneter).

Hal ini terjadi saat merosoknya nilai tukar yang menyebakan pinjaman Korea yang diberikan kepada beberapa negera seperti Thailand, Hongkong, Filipina, Malaysia, dan lain-lain tidak

- 33 -

dapat dikembalikan. Sehingga utang Negara yang dipinjam Korea dari Amerika, Jepang, dan Negara lainnya tidak dapat ditutup. Saat itu pemerintahan Korea tidak terlalu pandai mengatur keuangan Negara yang mengharuskan perusahaan-perusahaan Korea maupun asing bangkrut (Korean Archive’s. 2017). Kejadian ini membuat bapak Kim sangat sedih dan bingung untuk bisa bangkit lagi. Beliau mencari alternative lain untuk dapat bekerja agar dapat membiayai kehidupannya bersama keluarga. Pada tahun 1997 beliau mendapat tawaran pekerjaan di Indonesia sebagai quality controller di perusahaan meubel milik Korea. Sangat berat baginya untuk meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil dan istrinya ditengah-tengah krisi Negara.

Namun beliau yakin dengan bekerja di Indonesia beliau dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai selesai.

Pindah ke Negara lain, menjadikan dirinya adalah seorang pekerja asing di Indonesia bukan berarti jiwa dan cita-citanya untuk mempunyai usaha sendiri kandas. Setelah 2 tahun bekerja di Indonesia dan melalui banyak pertimbangan untuk membangun kembali usahanya sendiri entah kembali ke Korea atau tetap di Indonesia. Selain meninggalkan keluarganya di Korea, beliau menilai bahwa di Korea, sangat kecil peluangnya untuk memulai usaha pabrik meubel lagi. Di Indonesia, ada banyak sekali yang dapat mempermudah dirinya untuk membangun sebuah bisnis. Misalnya saja dari lokasi usaha yang strategis dengan bahan baku yang melimpah, upah tenaga kerja yang minim dengan keahlian yang handal, biaya sewa bangunan maupun transportasi lebih murah. Walaupun teknologi di Indonesia saat itu masih terbelakang, namun pengetahuan mengenai teknologi pabrik meubel yang dimilikinya bisa dikatakan ahli dan beliau tahu dimana mendapatkan teknologi yang yang menciptakan produk berkualitas international. Produksi meubel yang menargetkan pasar Korea dan China akan mendapatkan laba yang lebih besar daripada beliau membangun usahanya kembali di Korea.

Dengan pemikiran seperti itu, beliau telah memiliki kemampuan menjadi seorang wirausahawan internasional.

Hessels 2008 menjelaskan bahwa kewirausahaan internasional adalah perpaduan antara entrepreneurship dan business international. Dengan kemampuan manajerial bapak Kim yang berusaha di Indonesia dan memasok persepsi yang bernilai tinggi, memasarkan hasil produksi usahanya di pasar internasional (Roudini 2012). Secara international networking dan marketing capability, beliau mempunyai relasi cukup luas untuk memasarkan hasil produksinya didalam

- 34 -

maupun di luar negeri. Beliau berinovasi selalu dengan menggandeng beberapa designer meubel sehingga beliau mendapatkan banyak referensi untuk pengembangan produk. Beliau yang memiliki kemampuan dan keahlian berbisnis usaha meubel, menjadikan beliau tidak takut akan resiko yang bisa saja dihadapi. Sebelumnya beliau bekerja dibawah perusahaan Korea dengan sasaran pasar internasional, beliau mendapatkan banyak pengalaman dan pembelajaran untuk menjadi professional dibidangnya, sehingga menjadi seorang wirausahawan lintas Negara, bukanlah hal yang baru baginya. Satu-satunya cara yang tepat bagi beliau untuk dapat membangun usaha di Negara lain dengan mode of entry outsourcing dengan mendirikan PT.

dimana sistem yang berjalan didalam secara partnership.

4.4 Strategi Membangun usaha di Indonesia

Membangun sebuah usaha, seseorang perlu melihat 3 tipe penting dalam tahap permulaan dan pertumbuhan kewirausahaan. Pertama tahap imitasi, kedua tahap duplikasi dan ketiga tahap pengembangan (Ryani 2012). Bapak Kim yang bekerja kurang lebih 15 tahun di usaha meubel telah mengenal teknik produksi, desain, produk, organisasi usaha, ataupun pemasarannya untuk dapat diterapkan. Kesiapan membangun usaha beliau bisa dikatakan cukup matang karena ini bukanlah hal yang baru baginya. Hal ini bisa dilihat dari 4 proses yang menurut Srie Sulastri (2015) penting. Pertama proses inovasi yang bermula dari keinginan bapak Kim untuk berprestasi dibidang produksi meubel, beliau mau menanggung resiko seperti yang beliau alami saat membuka usaha di Korea. Tidak ada kata trauma untuk mencoba lagi. Kedua, beliau merasa tertantang untuk menjadi sukses dengan hasil tangannya, komitmen melanjutkan usaha yang pernah gagal dan usaha untuk menghidupi keluarganya. Ketiga, beliau telah berpengalaman menjadi quality controller dimana sikap seorang leader dan manajerial sudah ada. Beliau mengkoordinir anak buahnya sesuai dengan visi dan misi saat beliau bekerja di pabrik untuk dapat mencapai suatu tujuan. Terakhir, untuk mengembangan usahanya sendiri di Indonesia, orang kepercayaan beliau menjadi salah satu penentu kesusksesan pabriknya sendiri. Beliau telah mengatur struktur organinsasi yang menurut beliau efektif untuk bekerja sama dengan beliau yang turun tangan langsung mengawasi para pekerja. Beliau belajar bahasa Indonesia untuk dapat dekat dengan para pekerjanya, membangun budaya kerja sama tim yang baik, juga memproduksi meubel rumahan bergaya eropa sebagai hasil produksi unggulan.

- 35 -

Menjadi seorang owner dan leader sebuah usaha di Negara orang lain adalah salah satu kendala terbesar yang dialaminya. Saat menjadi seorang quality controller, beliau merasa tanggung jawab yang harus dilaksanakan menjadi salah satu tantangan terbesar bekerja dibawah arahan orang lain. Tidak mudah bagi beliau untuk dapat memimpin banyak karyawan yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Tanggung jawab yang diemban memaksa beliau untuk dapat tinggal dan mampu mengarahkan karyawannya mengikuti aturan yang berlaku.

Beliau merasa bahwa setiap orang mampu melakukan banyak hal. Namun bagaimana caranya untuk dapat bertindak berasal dari niat dalam diri. Misalnya saja dimulai dari koordinasi mencari bahan baku, proses produksi, pemasarannya, mengatur keuangan perusahaan, membayar pekerja, dan lain sebagainya adalah pekerjaan dari seorang pengusaha. Namun dibalik itu semua ada proses untuk membangun usahanya sendiri.

Seorang wirausahawan harus menilai apakah nantinya usaha mereka mendatangkan keamanan, kenyamanan serta keuntungan selama berwirausaha (Ariwibowo 2009). Bapak Kim melihat bahwa di Indonesia saat itu adalah Negara dengan sistem politik yang stabil bagi para pekerja asing, memberikan jaminan hukum yang jelas dan ada banyak potensi yang didominasi lahan perkebunan yang luas, ditambah dengan bahan baku serta sumber daya manusia yang unggul dalam memahat beliau memutuskan membuka usahanya sendiri di Jepara. Hal ini didukung hasil survey Lee Kuan Yew School of Public and National University of Singapore pada 2011-2012 tentang daya saing ASEAN menempatkan Indonesia adalah negara yang paling menarik untuk para penanam modal asing. Lebih jauh lagi, dengan bantuan seorang kenalan dari Indonesia, beliau menyewa sebuah tempat untuk dijadikan pabrik meubel. Adapun modal yang berasal dari simpanannya di Korea dan seorang investor. Dari pekerjaan pertamanya di Indonesia, beliau belajar banyak hal untuk bagaimana membangun usaha mulai dari mengurus perijinan, mencari tenaga kerja dan bahan baku yang sesuai dengan standart yang ia tetapkan. Jika beliau membangun usaha di Korea, mungkin tidak akan bisa bertahan dikarenakan pola pikir masyarakat Korea saat ini telah berubah. Kebanyakan pekerja lebih memilih bekerja di kantoran dibandingkan di pabrik. Sehingga tenaga pembuat meubel akan sangat sulit untuk ditemukan, disisi lain bahan baku yang harus dibeli diluar negeri dan juga daya beli yang menurun dikarenakan produksi meubel di Korea mahal. Adapun pembeli meubel di Korea saat ini ada 2

- 36 -

tipe, pertama pembeli meubel utuh/sudah jadi dan kedua adalah pembeli meubel yang hanya menginginkan kerangka saja.

Mendirikan sebuah usaha di Indonesia tidaklah mudah untuk melewati regulasi yang ada.

Sandi Firmansyah (2016) menjelaskan ada 3 bentuk perusahaan jika ingin membuka usaha di Indonesia. Pertama adalah Foreign Direct Investment as a Limited Liability atau yang lebih dikenal dengan PT PMA, kedua Local Company dengan sebutan Perseroan Terbatas (PT), ketiga Representative Office. Beliau menceritakan bahwa 20 tahun yang lalu sangat sulit bagi orang asing untuk membuka usaha di Indonesia. Ada banyak dokumen yang harus dilengkapi dan memerlukan uang yang tidak banyak. Contohnya saja wirausahawan yang ingin mengembangkan usaha kecilnya menjadi Perseroan Terbatas (PT) harus melalui 8 tahap. Jika ada perusahaan asing masuk ke Indonesia, perusahaan tersebut harus mengetahui konsekuensi mengenai pemahaman keharusan administrasi internasional dan birokrasi negara tujuan.

Birokrasi yang dimaksud mengacu pada pola kerjasama dan koordinasi antar lembaga/institusi birokrasi Negara. Bapak Kim tahu bahwa awal mula membangun usaha, dirinya akan mendapatkan banyak masalah dan bisa gagal untuk memulai langkah baru. Untuk menyiasatinya beliau melakukan partnership dengan meminjam nama rekan kerjanya yang berasal dari Indonesia atau strategi mode of entry yang dipakai adalah contract manufacture/outsourcing.

Strategi ini melakukan kerja sama dengan perusahaan local untuk memproduksi bagian dari produk atau seluruh produk dengan pemasaran produk tanggung jawabnya dipegang oleh perusahaan International. Dalam hal ini bapak Kim mengurus pemasarannya yang hasil produksinya diekspor ke Korea dan China.

Mode of entry ini membantu beliau mendapatkan kemudahan dimana tidak perlu adanya investasi, fleksibel, penghematan sumber daya (bahan baku, orang, dll), resiko yang minim, perusahaan mempunyai akses ke pasar secara langsung. Beliau menyerahkan proses awal kepada rekannya, misalnya dalam pembuatan surat izin, hal-hal terkait regulasi maupun administrasi dimana bapak Kim berperan sebagai penyuplai dana. Selama 10 tahun menggunakan nama rekannya, beliau yang sudah lebih mengerti bahasa dan budaya Indonesia, memutuskan mengganti PT menjadi PMA agar control perusahaannya bisa langsung dikendalikan oleh beliau.

Kesuksesan beliau dilihat dari gaya kepemimpinan beliau yang terjun langsung dan mengawasi

- 37 -

para pekerjanya serta kualitas hasil produksinya. Beliau tahu bahwa kecakapannya bekerja dengan karyawannya dapat memberikan sumbangsih yang bermanfaat bagi usahanya.

4.5 Tantangan Membangun Usaha di Indonesia

Berwirausaha di negara asing bagi siapapun tidaklah mudah. Banyak hal yang harus dipertimbangkan termasuk mengenali resiko yang bisa terjadi. Salim (2000) berpendapat bahwa ada 3 penyebab yang berasal dari segi ekonomi, alam dan perilaku manusia menyebabkan resiko kerugian. Penyebab ini dapat mempengaruhi kesiapan beliau untuk bisa membangun usahanya sendiri di negara lain. Namun, sangat disayangkan, kondisi geografis yang unik dan kurangnya infrastruktur transportasi menjadi tantangan dalam pemanfaatan sumber daya alam ditambah lagi pada 20 tahun yang lalu teknologi di Indonesia masih sangat kurang, sehingga beliau harus mengambilnya dari Korea untuk usahanya ini. Adapun kendala yang menjadi ujung tombak bisa tidaknya beliau membangun usaha di Indonesia terkait regulasi yang saat itu masih sangat rumit bagi warga negara asing yang ingin berinvestasi. Jika dilihat dari Indeks Kemudahan Berbisnis World Bank 2016 menunjukkan posisi Indonesia di peringkat ke 109 dari total 189 negera, hal ini dapat berdampak pada penurunan minat investor asing di Indonesia. Beliau tahu untuk berbisnis di Indonesia tidak gampang, oleh karena itu beliau memanfaatkan sistem bersbinis partner untuk menjaga usahanya tetap berlajan.

Diusia 39 tahun, beliau memulai segalanya dari awal di Negara asing. Beliau menjadi seorang wirausahawan international, dimana beliau membangun sebuah usaha di Negara lain yang bukan Negara beliau sendiri. Kendala budaya dan bahasa menjadi salah satu pergumulan beliau pada awal membangun usaha. Seiring berjalannya waktu, beliau belajar banyak hal mengenai Indonesia, membuktikan bahwa beliau bisa bertahan sampai saat ini. Saat beliau memilih sistem outsourcing, dimana segala macam pengurusan administrasi untuk membangun usaha dipegang oleh orang rekannya tersebut adalah pilihan yang sangat berisiko baginya.

Dikarenakan 100% modal yang dikumpulkan beliau diatasnamakan pada orang lain, saat itu beliau harus membuat perjanjian hitam diatas putih dibawah dengan lembaga hukum yang sah.

Resiko yang bisa saja terjadi jika orang rekannya tiba-tiba tidak jujur, bisa saja menghasilkan utang, syarat-syarat terkait perjanjian dan hukum yang lebih kompleks, integrasi operasional,

- 38 -

masalah komunikasi dan koordinasi, dan ketidaksesuaian dengan bisnis yang ada. Bapak Kim sangat bersyukur mendapatkan rekan kerja yang jujur mendampinginya selama berusaha di Indonesia. Tantangan lainnya menggunakan outsourcing adalah kurang fleksibel respon terhadap permintaan pasar, gaji yang minim dengan harapan produktivitas yang tidak sesuai, keterbatasan pasokan, dan sangat diperlukan pengendalian kualitas. Bapak Kim yang dengan langsung mengawasi pabriknya selalu mengontrol permintaan dengan kapasitas produksi, menilai langsung kinerja pekerja dan hasil produksi, lebih dekat dengan pekerja untuk menciptakan suasana yang kondusif serta memberikan gaji yang sesuai dengan peraturan yang berlaku dan taat hukum.

Kendala-kendala yang beliau hadapi bukanlah alasan untuk mundur. Beliau melihatnya sebagai suatu tantangan yang haus ingin melalui dan menyelesaikannya. Setelah proses pembangunan usahanya selesai, beliau dibantu oleh seorang asisten sebagai orang kepercayaannya. Asistennya akan membantu bapak Kim dalam komunikasi untuk mengarahkan para pekerjanya, bekerja sama dengan supplier maupun usaha-usaha kecil menengah, dan membantu segala sesuatu yang masih asing dengan Indonesia. Sebagai seorang entrepreneur bapak Kim tidak menyerahkan semuanya kepada asistennya, seperti memberi keputusan tetap ada ditangan beliau. Bantuan asistennya sangat dirasakan oleh bapak Kim melalui proses adaptasi dengan Bahasa dan budaya Indonesia sendiri. Dilain pihak, tugas dan tanggung jawab seorang owner tidak hanya terfokus pada manajemen usahanya, beliau harus selalu update mengenai selera pasar, peka terhadap design dan innovasi baru, juga berperan sebagai marketing.

Beliau membuka kerjasama untuk ekspor barang produksinya ke Korea dan sampai ke China.

Namun untuk mendapatkan buyer tidaklah mudah bagi beliau, hal ini dikarenakan banyaknya competitor yang sudah ada sejak lama bersaing dengan produk baru miliknya. Untuk dapat bertahan dan bersaing beliau lebih detail menjaga kualitas hasil produksinya juga menjual barang dengan harga terjangkau. Tidak hanya sampai disitu, beliau yakin dengan menggandeng usaha-usaha kecil menengah yang ada di jepara membantu dirinya untuk memenuhui kebutuhan pasar terutama memenuhi kuantitas permitaan.

Perlahan-lahan usaha beliau lebih dikenal dengan usahanya sendiri dan mendapat banyak pesanan. Strategi yang diterapkannya pula tidak hanya pada awal-awal saat mengembangkan usahanya, namun sampai saat ini beliau masih menerapkannya. Beliau yakin dan percaya dengan

- 39 -

mengerahkan segala kemampuan dan kecintaannya terhadap meubel, akan membantu kehidupan seseorang menjadi lebih mudah. Bukan hanya dari meubel hasil produksinya, melainnya para pekerjanya mendapatkan lapangan pekerjaan juga beliau dapat menghidupi keluarganya sendiri.

Sadar akan banyaknya kendala yang bisa saja terjadi, pada tahun 2002 beliau bersama istrinya membuka toko meubel di Incheon, Korea untuk dapat mendukung usaha utama bapak Kim.

Toko meubel yang dinamakan Zen Furniture ini diawasi langsung oleh Ibu Kim, sehingga beliau lebih focus untuk produksi barang di Jepara. Kedepannya beliau ingin membuka usaha lain untuk memanfaatkan limbah sisa-sisa pembuatan meubel menjadi satu barang yang dapat dipakai.

4.6 Hasil Diskusi

Pembentukkan proses internasional entrepreneurship bapak Kim yang sukses berwirausaha di Indonesia dapat digambarkan sebagai berikut:

- 40 -

Dari gambar diatas menceritakan tentang model international entrepreneurship yang terjadi. Dimulai dari motivasi, kesempatan dan ada proses yang menyatu untuk mendukung usaha seseorang. Perbedaan entrepreneurship dan international entrepreneurship, lebih banyak ada pada capabilities yang ada seperti international networking, international marketing, innovation & risk-taking, international learning, international experience. Seseorang yang memiliki capabilities, mampu masuk menjadi international entrepreneurship melalui beberapa strategi mode of entry. Strategi tersebut adalah ekspor, lisence, contract manufacturing/outsourcing, join venture/aliansi, direct investment. BCI Asia 2017 mengelompokkan suatu proyek terdiri dari tahap design, documentation, dan kemudian construction. Ide yang dimaksudkan adalah sesuatu apa yang ingin direalisasikan yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Kumpulan ide-ide menjadi design awal yang memotivasi seseorang berani mengambil tahap awal. Tahapan ini patutlan didokumentasikan, tujuannya adalah untuk melihat apakah usaha yang ingin dibangun memiliki peluang yang bagus dari segi bahan baku,

International Entrepreneurship

- 41 -

tenaga kerja, transportasi, lokasi dan juga pemasarannya. Dengan adanya dokumentasi ini, diharapkan seseorang dapat menilai atau meramalkan masa depan usahanya dapat berjalan atau tidak. Setelah tahap dokumentasi, mulailah tahap konstruksi untuk merealisasikan ide yang telah diuji menjadi sebuah usaha bisnis yang memiliki potensi jual yang tinggi.

Membangun sebuah usaha, ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh seseorang.

Tahapan-tahapan ini menurut Winardi 2008 (Rendy 2011) mulai dari tahap awal yang menjelaskan bagaimana sebuah ide berkembang. Didalam tahap awal ini, bisa menjelaskan latar belakang objek yang mendorong dirinya untuk merealisasikan visi-visinya. Tujuan seorang wirausahawan ada 2, tujuan yang akan dijalankan dalam jangka waktu pendek, atau dalam jangka waktu lama. Tahapan selanjutnya untuk proses memulai sebuah usaha, seorang wirausahawan menyusun sebuah jadwal atau langkah-langkah untuk dapat menjadikan ide mereka bisa dijual dan dimanfaatkan oleh orang lain. Setelah itu, tahap pertumbuhan awal yang akan menguji dan memutuskan ide yang dapat direalisasikan tersebut dapat mulai beroperasi dengan layak atau tidak. Tahapan terakhir adalah pembentukkan strukturisasi dan pembiayaan jangka panjang apakah saham-saham perusahaan siap dijual secara umum.

Wirausahawan adalah seorang harus mampu melihat kemampuan (capabilities) yang ada didalam dirinya sendiri. Kemampuan ini merupakan landasan utama pada evolusi ekonomi saat ini. Ada 4 dimensi kemampuan, yaitu sumber daya manusia, sumber daya alam, waktu dan kesempatan. Sumber daya yang dimaksud adalah manusia yang memiliki keahlian yang cakap dan secara mudah dapat dipekerjakana. Sedangkan sumber daya yang berasal dari alam adalah kemampuan atau potensi alam yang memungkinkan tersedianya bahan baku dengan mudah, karena dapat dilestarikan. Dalam konteks ini, sumber daya manusia dan alam adalah kemampuan yang menciptakan strategi pasar, sedangkan waktu dan kesempatan adalah maneuver nyata menciptakan sebuah usaha.

- 42 - BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Motivasi adalah dorongan seseorang melakukan aktivitas untuk mendapatkan keuntungan atau imbalam. Ada dua kelompok motivasi, yaitu motivasi intrinsic yang berasal dari dalam diri sendiri dan motivasi ekstrinsic yang berdasarkan pengaruh dari luar. Proses kewirausahaan sendiri diawali dengan suatu aksioma, yaitu adanya tantangan. Dari tantangan tersebut timbul gagasan, kemauan, dan dorongan untuk inisiatif yang mendorong seseorang berpikir kreatif dan bertindak inovatif. Motivasi menjadi seorang wirausahawan tidak lepas dari ide yang menjadi kesempatan komersil untuk menciptakan nilai harga. Disisi lain minat dalam berwirausaha memberikan kemungkinan yang besar bagi seseorang melakukan aktivitas nyata untuk berwirausaha. Adapun pengaruh yang mendorong aktivitas seseorang dalam pekerjaan seperti tingkat harapan, kontribusi, perumusan dan pelaksanaan strategi yang mengglobal dalam menghadapi resiko dan pencapaian tujuan perusahaan. Hal ini terjadi pada bapak Kim dimana motivasi internal beliau yang melalui kecintaan dan keterampilannya membuat dirinya tergerak untuk berkreasi dan berinovasi lebih jauh lagi. Sedangkan motivasi eksternal beliau saat itu adalah beliau membutuhkan sebuah pekerjaan. Beliau yang menjadi professional saat bekerja bersama orang merasa tidak puas dan ingin membangun usaha sendiri sehingga termotivasi untuk membangun sebuah usaha meubel demi kepuasaan diri sendiri. Pernah bangkrut saat beliau membangun usaha di Korea, namun saat beliau mendapat kesempatan untuk bekerja di

Motivasi adalah dorongan seseorang melakukan aktivitas untuk mendapatkan keuntungan atau imbalam. Ada dua kelompok motivasi, yaitu motivasi intrinsic yang berasal dari dalam diri sendiri dan motivasi ekstrinsic yang berdasarkan pengaruh dari luar. Proses kewirausahaan sendiri diawali dengan suatu aksioma, yaitu adanya tantangan. Dari tantangan tersebut timbul gagasan, kemauan, dan dorongan untuk inisiatif yang mendorong seseorang berpikir kreatif dan bertindak inovatif. Motivasi menjadi seorang wirausahawan tidak lepas dari ide yang menjadi kesempatan komersil untuk menciptakan nilai harga. Disisi lain minat dalam berwirausaha memberikan kemungkinan yang besar bagi seseorang melakukan aktivitas nyata untuk berwirausaha. Adapun pengaruh yang mendorong aktivitas seseorang dalam pekerjaan seperti tingkat harapan, kontribusi, perumusan dan pelaksanaan strategi yang mengglobal dalam menghadapi resiko dan pencapaian tujuan perusahaan. Hal ini terjadi pada bapak Kim dimana motivasi internal beliau yang melalui kecintaan dan keterampilannya membuat dirinya tergerak untuk berkreasi dan berinovasi lebih jauh lagi. Sedangkan motivasi eksternal beliau saat itu adalah beliau membutuhkan sebuah pekerjaan. Beliau yang menjadi professional saat bekerja bersama orang merasa tidak puas dan ingin membangun usaha sendiri sehingga termotivasi untuk membangun sebuah usaha meubel demi kepuasaan diri sendiri. Pernah bangkrut saat beliau membangun usaha di Korea, namun saat beliau mendapat kesempatan untuk bekerja di

Dokumen terkait