• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab II Telaah Literatur

2.3 Proses dan Strategi Berwirausaha di Negara Asing

- 18 -

Membangun sebuah usaha, seseorang perlu melihat 3 tipe dalam tahap permulaan dan pertumbuhan kewirausahaan. Tipe pertama adalah tahap imitasi dimana wirausahawan meniru ide dari orang lain berdasarkan hasil pengamatannya dilihat dari segi teknik produksi, desain, produk, organisasi usaha, ataupun pemasarannya. Tipe kedua adalah tahap pengemabgan dan dimana melalui produk yang secara desain, organisasi usaha dan pemasaran melalui pengembangan yang lambat dan cenderung kurang dinamis namun ada sedikit perubahan. Tipe ketiga adalah tahap menciptakan barang dan jasa baru yang berbeda melalui ide sendiri dari setiap segi pembuatan produk sampai berkembang dan mencapai hasil unggulan (Ryani 2012).

Dalam proses pengembangan kewirausahaan menurut Srie Sulastri terdapat empat proses.

Pertama adalah proses inovasi yang bermula dari keinginan berprestasi, adanya sifat penasaran, mau menanggung resiko, dan pengalaman. Kedua, proses pemicu dari ketidakpuasaan seseorang dari pekerjaan yang ada sehingga muncul keberanian menanggung resiko dan komitmen yang tinggi terhadap bisnis. Ketiga, proses pelaksanaan yang memiliki kesiapan mental wirausaha yang mempunyai manager sebagai pelaksana kegiatan serta mempunyai visi dan misi yang jelas untuk mencapai tujuan. Keempat, proses pertumbuhan yang didorong oleh factor organisasi dengan tim yang kompak dalam menjalankan usaha, strategi yang mantap, struktur dan budaya organisasi yang baik, juga adanya produk yang menjadi unggulan. Ada 4 tahapan yang perlu dilewati dalam mengembangkan sebuah bisnis (Winardi, 2008), yaitu:

a. Tahapan awal, dimana ide-ide kreatif berkembang, hingga ke titik dimana perasaan atau pemahaman seseorang hal tersebut secara komersial layak diterapkan (feasible) dan mempunyai visi-visi untuk dijalankan.

b. Tahapan dimulainya usaha tersebut, dari sini terlihat bahwa mereka telah memiliki jadwal untuk dapat dilaksanakan. Jadwal yang memual kejadian-kejadian dimana ide-ide yang masih terlibat dalam riset produk dan pasar akan dicairkan.

c. Tahapan pertumbuhan awal, setelah memutuskan proyek tersebut layak diterapkan, usaha tersebut mulai beroperasi penuh dimana orang-orang yang berada didalamnya sedang belajar dan mengguji produk yang dipasarkan layak atau tidak.

d. Tahapan pertumbuhan kemudian yang didalamnya jika produk yang dipasarkan sudah memasuki tahapan kedewasaan sehingga diperlukan strukturisasi, pembiayaan jangka panjang, dan saham-saham perusahaan siap dijual secara umum.

- 19 -

Di Indonesia, untuk mendirikan sebuah usaha tidaklah mudah dalam melewati regulasi yang ada. Contohnya saja wirausahawan yang ingin mengembangkan usaha kecilnya menjadi Perseroan Terbatas (PT) sesuai dengan ketentuan Undang-undang no 40 tahun 2007 harus melalui 8 tahap. Kurang lebihnya wirausahawan memulai dengan mengajukan nama PT, pembuatan akte PT, pembuatan surat keterangan domisili perusahaan, permohonan nomor pokok wajib pajak, pengesahan anggaran dasar persereoan oleh menteri, mengajukan surat izin usaha perdagangan, mengajukan tanda daftar perusahaan, dan terakhir mendapatkan berita acara negara RI. Namun sebelum itu, sebuah perusahaan haruslah siap dengan nama perusahaan, logo, alamat, kartu nama dan slogan, kop surat dan dokumen-dokumen lainnya, stempel perusahaan, maksud dan tujuan usaha, jumlah usaha, susunan pimpinan, serta nomor rekening perusahaan Nama perusahaan (Handayani Rika 2013).

Lebih jauh lagi untuk mengembangkan minat berwirausaha Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi 2013 menegaskan bahwa pemerintah di negara maju menyisipkan materi kewirausahaan agar para mahasiswa memiliki pola pikir berwirausaha yang tidak bergantung pada orang lain (Dwika 2014). Karakter seorang wirausahawan sangatlah berpengaruh terhadap keberhasilan usahanya sendiri. Setidaknya ada empat faktor seperti (a) kemampuan mengidentifikasi kesempatan bisnis potensial, (b) memiliki sense of urgency yang membuat seseorang berorientasi pada tindakan, (c) mempunyai rincian perencanaan sebagai kunci-kunci utama untuk pekerjaannya, dan (d) mampu mencari bantuan dari pihak luar (Rizky Pamungkas 2014).

Para wirausahawan yang ingin mengembangkan kegiatannya melampai batas negara memiliki strategi dalam pengembangan usahanya di negara lain khususnya di Indonesia, seperti (Wuryandari, 2014):

a. Kegiatan ekspor yang kegiatannya mengembangkan usahanya di pasar global. Melalui ekspor, resiko membangun usaha relative kecil dan tidak memerlukan biaya lebih kecuali untuk transportasi. Disisi lain para eksportir harus membangun sarana lain untuk memasarkan produk dan distribusinya terhadap negara tujuan, kurangnya control harga jual, serta kenaikan harga diakibatkan perpindahan barang lintas negara (misalnya biaya kirim, pengepakan, asuransi, perantara, pajak, biaya administrasi dan biaya lainnya).

b. Lisensi adalah sebuah transaksi kontraktual antara perusahaan (lisensor) yang

- 20 -

menawarkan beberapa kepemilikan aset kepada sebuah perusahaan asing (lisensee) untuk ditukarkan dengan loyalty atau fee, contohnya system franchise. Dalam system ini pihak yang memberikan lisensi mendapatkan royalty untuk setiap unit produksi dan penjualan, pihak yang mendapatkan lisensi berhak menggunakan teknologi, brand, dll yang dimiliki pemberi, dan banyak perusahaan lisensi menjadi sangat profitable. Namun sayangnya, resiko pembajakan tidak dapat dihindari, sulitnya mengontrol pabrikasi dan pemasaran produk-produk ke negara lain, laba yang dibagi antara pemberi dan penerima lisensi, dan pada situasi yang tidak bagus pemberi lisensi dapat mempelajari teknologi dan dapat membuat produk kompetitif yang serupa setelah jatuh tempo lisensi.

c. Contract manufacture atau outsourcing, dimana perusahaan melakukan kerja sama dengan perusahaan local untuk memproduksi bagian dari produk atau seluruh produk dengan pemasaran produk tanggung jawabnya dipegang oleh perusahaan International.

Kelebihan dari outsourcing ini adalah tidak perlu adanya investasi, fleksibel, penghematan sumber daya (bahan baku, orang, dll), resiko yang minim, perusahaan mempunyai akses ke pasar secara langsung, dan mode of entry yang cepat.

Kekurangannya adalah kurang fleksibel respon terhadap permintaan pasar, gaji yang minim dengan harapan produktivitas yang tidak sesuai, keterbatasan pasokan, dan sangat diperlukan pengendalian kualitas.

d. Join Venture/Aliansi strategis adalah hubungan formal yang telah disepakati ataupun pemenuhan kebutuhan masing-masing kelompok/orang untuk mencapai satu tujuan.

Biasanya aliansi strategis terjadi dalam satu jangka waktu tertentu bukan dengan pesaing langsung, namun memiliki kesamaan produk atau layanan untuk target yang sama.

Sehingga dapat mengurangi kebutuhan modal dan sumber daya lainnya, perusahaan nasional mendapatkan teknologi dan perusahaan internasional mendapatkan pemasaran, risiko yang minim, perusahaan dapat beroperasi secara global, kepemilikan, akses pendanaan yang mudah, dan adanya manajemen local di negara asing. Join venture ini dapat bermanfaat pada perusahaan, namun tidak banyak terhadap pelanggan. Hal ini karena dukungan tidak merata dan juga menyebabkan persaingan antara partner.

e. Investasi langsung adalah investasi yang dibuat untuk melayani kepentingan bisnis investor di sebuah perusahaan, yang di negara yang berbeda dari negara asal investor. Hal positif yang didapati dari investasi langsung adalah akuisisi yang menyediakan akses

- 21 -

cepat ke pasar baru, jalan untuk ekspansi internasional, merk dan reputasi telah tercipta, mengurangi kompetisi, serta pengalaman manajemen yang sudah matang. Namun tidak dapat dihindari seperti pendanaan yang mahal menghasilkan utang, negosiasi dan akusisi yang kompleks terhadap syarat-syarat terkait perjanjian dan hukum, integrasi operasional, masalah komunikasi dan koordinasi, dan kesesuaian dengan bisnis yang ada.

Dokumen terkait