BAB III PERKEMBANGAN BANTUAN HUKUM CUMA-CUMA D
C. Garis Kemiskinan Dan Pemberian Bantuan Hukum Cuma-Cuma D
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara dalam mengukur kemiskinan menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.58
Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM), sehingga penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin.59 Penduduk miskin melalui kriteria tersebut merupakan penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan.
58
http://sumut.bps.go.id/frontend/Subjek/view/id/23#subjekViewTab1, diakses pada tanggal 15 Juni 2015.
59
Di Sumatera Utara modus pengeluaran perkapita sebulan lebih dari Rp.500.000,00 yaitu sebesar 49,33%, namun masih ada 0,02 % rumah tangga yang mempunyai pengeluaran perkapita dibawah Rp.100.000,00.60 Persentase pengeluaran perkapita sebulan menurut jenis pengeluaran (makanan dan non makanan), dapat menunjukkan kesejahteraan suatu daerah. Semakin tinggi persentase pengeluaran untuk non makanan, maka semakin tinggi tingkat kesejahteraan penduduknya. Persentase penduduk miskin di Kota Medan adalah Penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan.
Tabel.3.c.1
Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara
60
BPS, Statistik kesejahteraan masyarakat, Provinsi Sumatera Utara, Medan, Hal 12
jumlah penduduk jumlah penduduk miskin
0 500000 1000000 1500000 2000000 2500000 jumlah penduduk jumlah penduduk miskin
2013 2123210 209690
2012 2122804 198030
2011 2117224 204190
2010 2097610 212300
Perbandingan Jumlah Penduduk Miskin Terhadap Jumlah Penduduk Di Kota Medan
Dari tabel dapat terlihat bahwa seiring peningkatan pertumbuhan penduduk di Kota Medan yang senantiasa meningkat, jumlah penduduk miskin di Kota Medan mengalami penurunan dan kenaikan. Ketidakstabilan dari jumlah penduduk miskin tersebut dapat terlihat dari persentase penduduk miskin di Kota Medan berdasarkan diagram dapat disederhanakan yaitu:
Table 3.c.2
Persentase Penduduk Miskin Kota Medan
Tahun 2010 2011 2012 2013
Persentase* 9,8% 9,63% 9,33% 9,64%
*) Berdasarkan Jumlah Penduduk di Kota Medan
Pemberian bantuan hukum cuma-cuma oleh Negara sebagai Penyelenggara Bantuan Hukum di Kota Medan dalam bidang Perdata setelah dikeluarkan Undang-Undang Bantuan Hukum dimulai semenjak didirikannya Organisasi Lembaga Bantuan Hukum yang kemudian terakreditasi sebagai syarat pemberian bantuan hukum. Terdapat 9 (Sembilan) Organisasi Bantuan Hukum yang terakreditasi oleh KEMENKUMHAM di Kota Medan, antara lain:
1. Lembaga Bantuan Hukum Medan (LBH Medan)
LBH Medan merupakan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang paling tua yang berdiri di Kota Medan, yaitu pada tanggal 28 Januari 1978 yang diresmikan dibawah pimpinan Mahjoedanil dan dihadiri oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PERADIN yaitu, A. Rahman Saleh dan Direktur
LBH Jakarta, Adnan Buyung Nasution.61 LBH Medan merupakan satu- satunya LBH yang telah mendapatkan akreditasi B di Kota Medan. LBH Medan yang berkantor di Jl. Hindu No. 12 Medan ini memiliki struktur organisasi yang terdiri dari;
a. Direktur : Surya Adinata
b. Wakil Direktur : M.Khaidir F.Harahap c. Sekretaris : Reni Lorensa
d. Bendahara : Citra Sari Dewi
2. Perkumpulan Biro Bantuan Hukum Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Marginal
Perkumpulan Biro Bantuan Hukum Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Marginal merupakan Lembaga Bantuan Hukum yang telah memperoleh akreditasi C dari KEMENKUMHAM yang berkantor di Jl. Sisingamangaraja Lt. II No. 17A Simpang Marendal Medan – Sumatera Utara.
Dari wawancara yang penulis berhasil lakukan, LBH ini telah berdiri kurang lebih 5 (lima) tahun. Dengan diketuai oleh Andi Rinaldi dan dibantu oleh Anita selaku sekretaris dan Serli Amita selaku bendahara, LBH ini pada tahun ini telah memberikan bantuan hukum cuma-cuma sebanyak 1 (satu) perkara perceraian secara litigasi dan 3 (tiga) perkara non litigasi yang meliputi pembuatan surat gugatan dan lain-lain. Saat ini LBH Perkumpulan Biro Bantuan Hukum Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Marginal sedang memproses 15 (lima belas) perkara yang keseluruhannya mengenai masalah perceraian.62
61
http://www.lbhmedan.com/profil-kami.html, Op.Cit, diakses pada 27 Mei 2015.
62
Hasil wawancara dengan Andi Rinaldi, Direktur Perkumpulan Biro Bantuan Hukum Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Marginal, Tanggal 27 Mei 2015.
3. Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Medan
PKPA merupakan Lembaga Bantuan Hukum cuma-cuma dengan akreditasi C yang dikhususkan dalam bidang Anak dan telah berdiri sejak 21 Oktober 1996 berkantor di Jalan Abdul Hakim No.5A Pasar 1 Setia Budi. Tujuan dari pendirian PKPA adalah memberikan advokasi kebijakan yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan anak serta menegakkan hak-hak yang dimiliki anak. Pada pelaksanaannya, sampai saat ini PKPA hanya menangani masalah anak dalam bidang pidana.
PKPA yang berkedudukan di kota Medan merupakan cabang PKPA yang fokus di bidang Pusat Informasi dan Pengaduan Anak (PUSPA). PKPA PUSPA bertjuan dalam memberian layanan pendampingan dan perlindungan anak-anak dalam memperoleh akses terhadap keadilan, anak korban trafficking, anak-anak yang menjadi korban kekerasan dan anak yang berkonflik dengan hukum seringkali mendapat perlakuan sewenang- wenang. Anak-anak dari keluarga miskin seringkali diabaikan hak-haknya untuk mendapatkan rasa keadilan. PKPA juga melakukan advokasi kebijakan ditingkat lokal dan nasional untuk menjamin terpenuhinya hak hak anak sesuai standart Hukum Internasional Hak Asasi Manusia.
4. Lembaga Bantuan Hukum Menara Keadilan
LBH Menara Keadilan merupakan LBH yang memiliki akreditasi C dan berkantor di Jl. Bambu No. 64 Kel. Durian Kec. Medan Timur.
5. Lembaga Bantuan Hukum Perkumpulan Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan Medan
LBH Perkumpulan Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan Medan (selanjutnya disebut LBH APIK), merupakan Lembaga Independen yang telah memproleh akreditasi C yang berdiri sejak tahun 1993. Lembaga ini memiliki bidang yang fokus kepada anak dan perempuan. LBH APIK ini berdiri pada tahun 1997 dan berkantor di Jl. Sisingamangaraja No. 17A Simpang Marindal, Medan, Sumatera Utara.
6. Yayasan Pusaka Indonesia
Pusaka Indonesia (PI) adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) berbadan hukum yayasan yang telah memperoleh akreditasi C pada tahun 2013, yang fokus terhadap perlindungan anak dan perempuan di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara. Berdiri pada tanggal 10 Desember 2000, bertepatan dengan hari HAM sedunia, oleh sejumlah aktivis LSM, Dosen dan Advokat di Sumatera Utara. Yayasan Pusaka Indonesia dibangun dan dijalankan untuk terciptanya tatanan masyarakat sipil (civil society) dan kebijakan yang menghormati, melindungi dan memenuhi hak-hak anak serta lingkungan sosialnya dengan menganut prinsip kepentingan terbaik untuk anak. PI berkantor di Jl. Kenanga Sari No. 20 Lk.III, Kel. Tanjung Sari, Kec. Medan Selayang, Medan – Sumatera Utara.
Berdasarkan wawancara yang berhasil penulis lakukan, pada tahun ini, PI tengah menangani 3 permohonan bantuan hukum cuma-cuma yang bersifat non-litigasi dalam perkara perdata, 3 perkara perdata yang bersifat litigasi dalam perkara perceraian dan hak asuh atas anak, serta 3 kasus pidana yang bersifat litigasi.63
7. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Perlindungan Konsumen Persada Medan
Yayasan ini merupakan LBH yang telah memperoleh akreditasi C dari KEMENKUMHAM pada tahun 2013. LBH ini juga merupakan Advokat Piket di Posbakum yang berkedudukan di Peradilan Umum Medan. LBH ini berkantor di Jl. Teladan No. 59 Pelangi Medan, Sumatera Utara.
Berdasarkan wawancara yang penulis berhasil lakukan, susunan organisasi dari LBH ini adalah:
Direktur : Riswan Siregar Pembina : Romi Afandi Pasaribu Pengawas : Bambang H.Samosir
8. Lembaga Bantuan Hukum Trisila Sumatera Utara
Merupakan LBH dengan akreditasi C yang berdiri beberapa tahun setelah berdirinya LBH Medan yang berkantor di Jl. Sei Bertu No. 32/7 Kel. Merdeka, Kec. Medan Baru, Medan, Sumatera Utara. Saat ini LBH Trisila dipimpin oleh Hasan Lumbanraja dengan posisi sebagai direktur.
63
Lembaga ini juga mempunyai pos di Tarutung yaitu Pos LBH Trisila Tapanuli dan di Tanjun Balai yaitu Pos Trisila Tanjung Balai.64
9. Perhimpunan Bantuan Hukum Dan Advokasi Rakyat Sumatera Utara (BAKUMSU)
BAKUMSU merupakan LBH yang berdiri semenjak 1 Januari 1970. LBH BAKUMSU yang berkantor di Jl. Air Bersih 28 Medan Kel. Sudirejo I Kec. Medan Kota – Sumatera Utara didirikan dengan tujuan agar terwujudnya masyarakat sipil yang kuat dan berpengaruh dalam menegakkan sistem hukum dan tatanan negara hukum yang demokratis.
LBH BAKUMSU yang memiliki akreditasi C memiliki bidang kerja dan bidang pelayanan dalam bantuan hukum, studi dan pendidikan, dan advokasi dan jaringan, dan memiliki wilayah pelayanan khusus Sumatera Utara. LBH ini memulai sejarah pelayanannya pada tanggal 7 Januari 2000 di dasarkan atas kebutuhan Non Govenrment Organization (NGO) di Sumatera Utara dimana perlu adanya suatu LBH yang sungguh serius dan professional, menangani NGO mitra, NGO jaringan, dan Organisasi Rakyat Sumatera Utara.
Penduduk kota Medan juga dapat memperoleh informasi mengenai bantuan hukum di lingkungan Peradilan Umum, melalui:65
64
Ramses Harry Doan Sinaga, , Peranan Lembaga Bantuan Hukum Dalam Memberikan Bantuan Hukum Kepada Masyarakat Di Bidang Perdata , (Medan: Fakultas Hukum USU, 2013), Hal.69.
1) Pengadilan Negeri/Pengadilan Tinggi/Mahkamah Agung; 2) Kejaksaan Negeri/Kejaksaan Tinggi;
3) Rumah Tahanan Negara; 4) Lembaga Pemasyarakatan; 5) Kepolisian Sektor/Resort/Daerah;
6) Kantor Pemerintah Daerah (Propinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, Kelurahan/ Desa);
7) Lembaga masyarakat sipil penyedia bantuan hukum;
8) Unit kerja bantuan hukum dalam Organisasi Profesi Advokat; 9) Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum di Perguruan Tinggi. Setiap tempat tersebut harus memberikan informasi yang dibutuhkan oleh penduduk Kota Medan yang membutuhkan. Hal ini sesuai dengan asas keterbukaan yang menjadi norma dalam penerapan bantuan hukum cuma-cuma di Kota Medan.
D. Kelemahan dan Kelebihan Pelaksanaaan Pemberian Bantuan Hukum