• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PERKEMBANGAN BANTUAN HUKUM CUMA-CUMA D

B. Penerapan Bantuan Hukum Cuma-Cuma Dalam Perkara Perdata D

3. Syarat Untuk Mendapatkan Bantuan Hukum Cuma-Cuma Dalam

Objek pemberian bantuan hukum adalah lapisan masyarakat yang buta huruf dan berpendidikan rendah yang tidak mengetahui dan menyadari hak-haknya sebagai subjek hukum karena kedudukan sosial dan ekonomi serta akibat tekanan-tekanan yang lebih kuat dan tidak mempunyai keberanian/kemampuan untuk memperjuangkan hak-haknya.53Maka masyarakat sebagai pencari keadilan yang tidak mampu tersebut selaku

52

Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogjakarta:Liberty, 2006), Hal.232.

53

Abdul Rahman Saleh dkk, Verboden voor Honden En Inlanders dan Lahirlah LBH, (Jakarta: YLBHI,2012), Hal. 162.

Pemohon Bantuan Hukum dalam memohon bantuan hukum wajib memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan oleh undang-undang.

Adapun syarat-syarat tersebut diatur secara khusus dalam Pasal 14 dan Pasal 15 Bab IV Undang-Undang Bantuan Hukum, yang berisi:

a. Untuk memperoleh bantuan hukum, Pemohon Bantuan Hukum harus memenuhi syarat-syarat:

1) mengajukan permohonan secara tertulis yang berisi sekurang- kurangnya identitas pemohon dan uraian singkat mengenai pokok persoalan yang dimohonkan bantuan hukum;

2) menyerahkan dokumen yang berkenaan dengan perkara; dan 3) melampirkan surat keterangan miskin dari Lurah, Kepala Desa,

atau pejabat yang setingkat di tempat tinggal Pemohon Bantuan Hukum.

b. Dalam hal Pemohon Bantuan Hukum tidak mampu menyusun permohonan secara tertulis, permohonan dapat diajukan secara lisan. c. Pemohon Bantuan Hukum mengajukan permohonan bantuan hukum

kepada Pemberi Bantuan Hukum.

d. Pemberi Bantuan Hukum dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah permohonan bantuan hukum dinyatakan lengkap harus memberikan jawaban menerima atau menolak permohonan Bantuan Hukum.

e. Dalam hal permohonan bantuan hukum diterima, Pemberi Bantuan Hukum memberikan Bantuan Hukum berdasarkan surat kuasa khusus dari Penerima Bantuan Hukum.

f. Dalam hal permohonan bantuan hukum ditolak, Pemberi Bantuan Hukum mencantumkan alasan penolakan.

g. Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara pemberian bantuan hukum diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Undang-Undang Bantuan Hukum telah menetapkan tentang kriteria dan syarat tentang bagaimana seorang Pencari keadilan dapat dikatakan tidak mampu dalam memperoleh bantuan hukum. Miskin merupakan salah satu syarat yang paling utama dalam mengajukan bantuan hukum cuma-cuma. Sebab kembali ke tujuan utama dari pemberian bantuan hukum cuma-cuma itu sendiri adalah mempertahankan hak si miskin dan menegakkan keadilan pencari keadilan yang tidak mampu.

Seseorang yang mengajukan permohonan untuk mendapatkan bantuan hukum, harus dapat menunjukkan bukti-bukti mengenai kemiskinannya, misalnya dengan memperlihatkan suatu surat pernyataan dari Lurah atau Kepala Desa yang disahkan oleh Camat, mengenai penghasilannya yang rendah atau sama sekali tak berpenghasilan, dan keterangan-keterangan lainnya yang berhubungan dengan kemiskinan.54 Hal mengenai bukti ini telah dibahas pada halaman sebelumnya tentang urgensi dari keterangan tidak mampu ini.

“Kriteria miskin dapat ditunjukkan dengan Surat Keterangan Tidak Mampu secara ekonomi yang dengan sendirinya yang bersangkutan berhak untuk dilayani. Namun untuk tidak menyulitkan, kriteria ini dapat dilihat dari jumlah pendapatan calon klien untuk membayar seorang Advokat. Untuk menilai kriteria ini, dalam formulir pendaftaran klien terdapat informasi yang harus diisi yaitu: pekerjaan pokok dan tambahan, harta yang dimiliki, dan jumlah keluarga yang ditanggung. Jika ketiga komponen tersebut tidak memungkinkan mereka untuk membayar jasa Advokat dan biaya transportasi, maka secara formal yang bersangkutan memenuhi syarat. Jika tenaga dan dana tunjangan perkara cukup maka dengan sendirinya dapat dilayani. Namun jika tenaga saja yang ada, maka diterima dengan syarat yang menanggung biaya transportasi adalah pencari keadilan, sedangkan jika tidak ada tenaga/Sumber Daya Manusia dan dana tunjangan perkara tidak cukup, maka klien dibantu dan dipantau untuk menyelesaikan kasusnya secara mandiri.”55

Terlepas dari syarat seorang Pemohon Bantuan Hukum untuk dapat memperoleh bantuan hukum, terdapat juga syarat agar sebuah LBH dapat dipercayai sebagai Pemberi Bantuan Hukum yang memiliki Kompetensi. Adapun syarat-syarat LBH yang berperan sebagai Pemberi Bantuan Hukum terdapat dalam Pasal 4 Peraturan Pemerintah No.42 tahun 2013, yaitu:

54

Mochtar Kusumaatmadja, Bantuan Hukum Di Indonesia Terutama Dalam Hubungannya Dengan Pendidikan Hukum, (Bandung: Binacipta, 1975), Hal.7.

55

Pemberian Bantuan Hukum dilaksanakan oleh Pemberi Bantuan Hukum, yang harus memenuhi syarat:

a. Berbadan hukum; b. Terakreditasi;

c. Memiliki Kantor atau Sekretariat yang tetap; d. Memiliki pengurus; dan

e. Memiliki program bantuan hukum.

Akreditasi adalah penilaian dan pengakuan terhadap Lembaga/Organisasi Bantuan Hukum kemasyarakatan yang akan memberikan bantuan hukum yang berupa klasifikasi/penjenjangan dalam pemberian bantuan hukum.56 Dengan menjadikan akreditasi sebagai salah satu syarat dari sebuah LBH dalam memberikan bantuan hukum cuma- cuma, maka mutu dari pelayanan bantuan hukum tersebut dianggap telah baik sebab akreditasi berfungsi sebagai jaminan mutu dari pemberi bantuan hukum tersebut.

Menurut panitia verifikasi/akreditasi Organisasi Bantuan Hukum Badan Pembinaan Hukum Nasional, penilaian organisasi bantuan hukum yang lulus akreditasi dengan kategori A,B dan C harus memenuhi kritera- kriteria yang dijelaskan dibawah ini:57

Katagori A memiliki:

a. Jumlah program, bantuan hukum non litigasi paling sedikit 7 (tujuh) program;

b. Jumlah Advokat paling sedikit 10 (sepuluh) orang dan paralegal yang dimiliki paling sedikit 10 (sepuluh) orang;

c. jangkauan penanganan kasus atau lingkup wilayah Provinsi atau Kabupaten/Kota;

56

http://bphn.go.id/bantuanhukum/PANDUAN-VERIFIKASI-AKREDITASI-OBH.pdf diakses pada 05 Juni 2015.

57

d. Pendidikan formal dan non formal yang dimiliki Advokat paling rendah Strata-I dan Paralegal yang telah mengikuti pelatihan Paralegal; e. Status kepemilikan dan sarana prasarana kantor;

f. Kepengurusan lembaga lengkap;

g. Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga

h. Laporan keuangan sesuai dengan standard akutansi;

i. Nomor Pokok Wajib Pajak Lembaga/Organisasi Bantuan Hukum; dan j. Jaringan yang dimiliki Lembaga/Organisasi Bantuan Hukum.

Kategori B meliputi:

a. Jumlah kasus yang ditangani paling sedikit 1 (satu) tahun sebanyak 30 (tiga puluh);

b. Jumlah program bantuan hukum nonlitigasi paling sedikit 5 (lima) program;

c. Jumlah Advokat paling sedikit 5 (lima) orang dan Paralegal yang dimiliki paling sedikit 5 (lima) orang;

d. Pendidikan formal dan nonformal yang dimiliki Advokat paling rendah strata-I dan Paralegal yang telah mengikuti pelatihan Paralegal;

e. Jangkauan penanganan kasus atau lingkup wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota;

f. Status kepemilikan dan sarana prasarana kantor; g. Kepengurusan lembaga lengkap;

h. Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga;

i. Laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi;

j. Nomor Pokok Wajib Pajak Lembaga/Organisasi Bantuan Hukum; dan k. Jaringan yang dimiliki Lembaga/Organisasi Bantuan Hukum.

Kategori C memiliki:

a. Jumlah kasus yang ditangani paling sedikit 1 (satu) tahun sebanyak 10 (sepuluh) kasus;

b. Jumlah program bantuan hukum nonlitigasi paling sedikit 3 (tiga) program;

c. Jumlah Advokat paling sedikit 1 (satu) orang dan Paralegal yang dimiliki paling sedikit 3 (tiga) orang;

d. Pendidikan formal dan nonformal yang dimiliki Advokat paling rendah strata-I dan Paralegal yang telah mengikuti pelatihan Paralegal;

e. Jangkauan penanganan kasus atau lingkup wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota;

f. Status kepemilikan dan sarana prasarana kantor; g. Kepengurusan lembaga lengkap;

h. Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga;

i. Laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi;

j. Nomor Pokok Wajib Pajak Lembaga/Organisasi Bantuan Hukum; dan k. Jaringan yang dimiliki Lembaga/Organisasi Bantuan Hukum.

Namun, dapatkah kita mempercayai bahwa pemberian akreditasi terhadap suatu LBH dilakukan dengan jujur dan independen? Sebab akreditasi merupakan bentuk kemampuan dari sebuah LBH dan pengakuan dari Negara yang mempertunjukkan kepedulian Negara dalam memberikan kualitas yang terbaik dalam pelayanan bantuan hukum cuma- cuma. Apabila dalam pelaksanaannya masih terjadi ketimpangan maka tetap masyarakat yang tidak mampulah yang tetap sebagai korban.

C. Garis kemiskinan Dan Pemberian Bantuan Hukum Cuma-Cuma di