BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Gaya Belajar
2. Macam-macam gaya belajar
Gaya belajar diklasifikasikan berdasarkan beberapa pendekatan sebagai berikut (dalam, Gunawan 2007):
a. Pendekatan berdasarkan pada pemrosesan informasi; menentukan cara
yang berbeda dalam memandang dan memproses informasi yang baru.
Pendekatan ini dikembangkan oleh Pask (1975 – 1976), McDade
(1978), Schmeck (1981), Kolb (1984), Gregorc (1982), dan Honey dan Mumford (1986).
b. Pendekatan berdasarkan pada kepribadian; menentukan tipe karakter
yang berbeda. Pendekatan ini dikembangkan oleh Kagan (1965), Witkin, Oltman, Raskin, dan Karp (1971), dan Myer-Briggs (1985).
c. Pendekatan berdasarkan pada modalitas sensori; menentukan tingkat
ketergantungan terhadap indera tertentu. Pendekatan ini
d. Pendekatan berdasarkan pada lingkungan; menentukan respons yang berbeda terhadap kondisi fisik, psikologis, sosial, dan instruksional. Pendekatan ini dikembangkan oleh Witkin, Eison, Canfield (dalam Gunawan, 2007).
e. Pendekatan berdasarkan pada interaksi sosial; menentukan cara yang
berbeda dalam berhubungan dengan orang lain. Pendekatan ini dikembangkan oleh Mann, Gibbard, & Hartman (1967), Grasha (1972), Reichmann & Grasha (1974), dan Fuhrmann & Grasha (1983).
f. Pendekatan berdasarkan pada kecerdasan: menentukan bakat yang
berbeda. Pendekatan ini dikembangkan oleh Gardner (1983), dan Handy (dalam Gunawan, 2007).
g. Pendekatan berdasarkan pada wilayah otak; menentukan dominasi
relatif dari berbagai bagian otak. Pendekatan ini dikembangkan oleh Sperry, Bogen, Edward, Hermann (dalam Gunawan, 2007).
Penelitian ini lebih berfokus pada penggunaan gaya belajar dengan pendekatan modalitas sensori. Melihat, mendengar, menyentuh, dan merasa adalah empat unsur yang membentuk gaya belajar seseorang dari enam indera secara keseluruhan (dalam Prashnig, 2007). Berdasarkan Neuro-Linguistic Programming yang dikembangkan oleh Richard Bandler dan John Grinder (dalam Gunawan, 2007) dalam model strategi komunikasi, bahwa selain memasukkan informasi dari kelima indera, juga digunakan preferensi sensori, yaitu berdasarkan visual (penglihatan),
auditori (pendengaran), dan kinestetik (sentuhan dan gerakan) yang dikenal dengan V-A-K.
Depotter dan Hernacki (2010) menjelaskan beberapa karakteristik dari masing-masing gaya belajar VAK, yaitu:
a. Gaya belajar visual
Individu yang memiliki gaya belajar visual menggunakan daya melihat (ketajaman indera mata) yang lebih memudahkan dalam belajar, lebih nyaman belajar dengan warna-warni, garis dan bentuk, lebih suka membaca daripada mendengarkan, dan mengingat dengan gambar (Tim Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling, Provinsi Jakarta, 2014).
Individu dengan gaya belajar visual melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka pengajar untuk mengerti pelajaran, dan cenderung duduk di depan agar melihat dengan jelas. Individu dengan gaya belajar visual berpikir menggunakan gambar-gambar dan belajar dengan lebih cepat menggunakan tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Individu visual lebih suka mencatat sampai detail untuk memperoleh informasi (Tim Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling, Provinsi Jakarta, 2014).
Ciri-ciri gaya belajar visual:
1) Rapi dan teratur
2) Berbicara dengan cepat
4) Teliti terhadap hal detail
5) Mementingkan penampilan, baik dalam hal pakaian maupun
presentasi
6) Pengeja yang baik dan mampu melihat kata-kata di dalam pikiran
7) Mengingat dengan asosiasi visual
8) Tidak terganggu oleh keributan
9) Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika
ditulis, dan sering kali meminta bantuan orang lain untuk mengulangi
10) Pembaca cepat dan tekun
11) Lebih suka membaca daripada dibacakan
12) Membutuhkan pandangan dan tujuan yang menyeluruh dan
bersikap waspada sebelum secara mental merasa pasti tentang suatu masalah atau proyek
13) Mencoret-mencoret tanpa arti selama berbicara di telepon dan
dalam rapat
14) Mudah lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain
15) Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat berupa “ya”
atau “tidak”
16) Lebih suka demonstrasi daripada berpidato
b. Gaya belajar auditori
Individu dengan gaya belajar auditori mengekspresikan diri melalui komunikasi internal dengan diri sendiri maupun eksternal dengan orang lain (dalam Gunawan, 2007). Individu yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajar melalui telinga (alat pendengaran). Individu yang mempunyai gaya belajar auditori mampu belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang dikatakan pengajar (Tim Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling, Provinsi Jakarta, 2014).
Individu auditori mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendah), dan kecepatan berbicara. Informasi yang tertulis mempunyai makna yang minim bagi individu auditori. Individu seperti ini menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset, kurang suka membuat catatan-catatan, dan lebih senang mendengarkan teman yang sedang belajar (Tim Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling, Provinsi Jakarta, 2014). Ciri-ciri gaya belajar auditori:
1) Berbicara kepada diri sendiri saat bekerja
2) Mudah terganggu oleh keributan
3) Menggerakkan bibir dan mengucapkan tulisan di buku ketika
membaca
5) Mampu mengulangi kembali dan menirukan nada, birama, dan warna suara
6) Mengalami kesulitan dalam menulis cerita, tetapi hebat dalam
bercerita
7) Berbicara dalam irama yang terpola
8) Pembicara yang fasih
9) Lebih suka musik daripada seni
10) Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang
didiskusikan daripada yang dilihat
11) Suka berbicara, suka berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu panjang
lebar
12) Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan
visualisasi
13) Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menulis
14) Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
c. Gaya belajar kinestetik
Individu dengan gaya belajar kinestetik sangat peka terhadap perasaan atau emosi dan pada sensasi sentuhan serta gerakan. Individu dengan gaya belajar ini sulit untuk duduk diam dalam waktu yang lama karena keinginan untuk beraktivitas dan eksplorasi yang kuat. Gaya belajar kinestetik belajar dengan melakukan gerakan dan sentuhan (Tim Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling, Provinsi Jakarta, 2014).
Ciri-ciri gaya belajar kinestetik:
1) Berbicara dengan perlahan
2) Menanggapi perhatian fisik
3) Menyentuh orang lain untuk mendapatkan perhatian
4) Berdiri dekat ketika berbicara dengan orang lain
5) Selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak
6) Mempunyai perkembangan awal otot-otot yang besar
7) Belajar melalui memanipulasi dan praktik
8) Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
9) Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca
10) Banyak menggunakan isyarat tubuh
Berikut adalah perbedaan cara belajar untuk masing-masing gaya belajar agar menjadikan belajar menjadi efektif:
Tabel 2.1:
Cara belajar untuk masing-masing gaya belajar
Gaya Belajar Media atau alat bantu yang digunakan Visual Gerakan tubuh/ body language
Buku, majalah Grafik, diagram
Peta pikiran / mind mapping OHP / Komputer
Poster Kolase Flow Chart
Highlighting, tulisan dengan warna yang menarik Kata-kata kunci yang dipanjang di sekeliling kelas Model/peralatan
Auditori Suara yang jelas dengan intonasi yang terarah Membaca dengan keras
Pembicara tamu, sesi tanya jawab, diskusi Rekaman ceramah atau kuliah
Belajar dengan mendengarkan atau menyampaikan informasi
Permainan peran Teknik Mnemonics Musik
Kerja kelompok Kinestetik Keterlibatan fisik
Field trip Membuat model Highlitghting Tick It
Membuat peta pikiran
Menggunakan gerakan tubuh untuk menjelaskan sesuatu Tabel dikutip dari Adi W. Gunawan (2007) dalam bukunya yang berjudul “Genius Learning Strategi”
Penguraian di atas menjelaskan bahwa masing-masing gaya belajar menggunakan alat bantu yang berbeda agar mampu menciptakan proses belajar yang efektif. Gaya belajar visual yang mengandalkan indera penglihatan dalam menerima dan menyerap informasi cenderung lebih
mudah belajar dengan menggunakan alat bantu yang berbentuk visual, seperti buku, poster, dan OHP.
Gaya belajar auditori yang menggandalkan indera pendengaran dalam menerima dan menyerap infomasi lebih mudah belajar dengan menggunakan alat bantu musik atau rekaman suara. Gaya belajar kinestetik yang mengandalkan indera sentuhan cenderung lebih mudah terbantu dalam belajar jika melibatkan gerakan tubuh atau kegiatan praktek secara langsung di lapangan.