• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DATA, ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

C. Analisis Data

1. Gaya Belajar Siswa

auditorial. Dan hasil dari kuesioner pilihan ganda diperoleh dominan gaya belajar visual. (2) Gaya mengajar guru dilihat dari 4 aspek yaitu metode pembelajaran, media pembelajaran, urutan pembelajaran dan alokasi waktu pembelajaran adalah gaya mengajar yang cenderung keaktivitas-aktivitas auditorial. Dari hasil pnelitian menunjukkan kesesuaian antara gaya mengajar guru dan gaya belajar siswa yang auditorial.

Kata kunci: gaya belajar, gaya mengajar, VAK

vii

ABSTRACT

STUDENTS’ LEARNING STYLE IN ELEMENTARY SCHOOL FOR FOURTH AND FIFTH GRADER AND TEACHER’S TEACHING STYLE

IN THOSE CLASSES IN LEARNING OF NATURAL SCIENCES IN SD SUBSIDI PUSAT DAMAI KALIMANTAN BARAT

Margareta Pamela Sanata Dharma University

2013

This research was descriptive quantitative and qualitative descriptive which was aimed to find out (1) learning styles of Natural Sciences’ fourth and fifth grader SDS Subsidi Pusat Damai Kalimantan Barat, (2) the teaching styles of Natural Sciences’ teacher in those classes in SDS Subsidi Pusat Damai Kalimantan Barat.

The research was conducted in SDS Subsidi Pusat Damai in early April 2013 with a sample of 122 students and 1 science teacher of VB and VC grade. Instruments that used in data collection are science learning style questionnaire, interview students and teachers, observations, and fieldnotes. Data were analyzed quantitatively using statistic Non Parametrik K related Samples test and statistic deskptive analysis, while qualitative data were analyzed using Coding technique.

The results show that: (1) students' learning styles SDS Subsidi Pusat Damai based on questionnaire chek list showed dominant auditory learning style. And multiple-choice questionnaires showed dominan visual learning style (2) teachers' teaching styles are observed using 4 aspects; teaching methods, instructional media, learning sequence and allocation of instructional time is a teaching style that tends to auditory activities. The results of the research showed the correspondence between teachers’ teaching style and students' learning styles auditory.

ix

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis persembahkan kehadirat-Nya atas segala berkat dan rahmat yang telah diberikan, sehingga skripsi dengan judul “Gaya Belajar Siswa Kelas IV dan V SD Serta Gaya Mengajar Guru Di Kelas Tersebut

Dalam Pembelajaran IPA Di SDS Subsidi Pusat Damai Kalimantan Barat” ini dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini dibuat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan dukungan, bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. T. Sarkim, M.Ed, Ph.D selaku Dosen Pembimbing yang telah membimbing dan memberikan masukan yang berharga dalam penyelesaian skripsi ini. 2. Segenap Dosen Pendidikan Fisika yang telah memberikan pengajaran yang

berguna dalam perkuliahan.

3. Staf sekretariat JPMIPA atas bantuannya selama menjadi mahasiswi dan membantu dalam pembuatan surat ijin dan jadwal ujian.

4. Linin, S. Pd selaku Kepala Sekolah SDS Subsidi Pusat Damai yang telah memberikan ijin untuk melaksanakan penelitian.

5. Pak Kinjun selaku Guru mata pelajaran IPA kelas VB SDS Subsidi Pusat Damai yang telah memberikan kemudahan dan membantu dalam melaksanakan penelitian.

x

6. Ibu Lusia Pipit selaku Guru mata pelajaran IPA kelas VC SDS Subsidi Pusat Damai yang telah bersedia membantu dalam melaksanaan penelitian.

7. Agnes Ika Kurniawati dan Benedicta Retvina Prasetyanti yang telah menjadi rekan kerja tim dalam penelitian ini dan telah banyak membantu dalam penyelesaian Skripsi ini.

8. Bapak, Alm. mama, Adik-Adikku serta Keluargaku yang selalu memberikan dukungan, bantuan, doa dan kasih yang tiada habisnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

9. Pacarku Fransiskus Ramba Agus yang selalu memberikan dukungan, semangat dan doa selama penulis menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih atas kesetiaan, bantuan dan pengertiannya.

10. Seluruh Teman-Teman Pendidikan Fisika yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas kebersamaan dan kerjasamanya selama kuliah.

11. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu selama penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari berbagai pihak. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Yogyakarta, 19 Agustus 2013 Penulis

xi

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN .... ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .... ... v

ABSTRAK .... ... vi

ABSTRACT ... ... vii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK ... viii

KATA PENGANTAR .... ... ix

DAFTAR ISI ………... ... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 2

C. Tujuan Penelitian ... 3

D. Manfaat Penelitian ... 3

E. Batasan Pengertian ... 4

F. Deskripsi Penelitian ... 5

BAB II LANDASAN TEORI ... 7

xii

B. Gaya Belajar ... 11

1. Pengertian Gaya Belajar ... 11

2. Klasifikasi Gaya Belajar ... 12

3. Manfaat Pemahaman Gaya belajar ... 21

C. Gaya Mengajar Guru ... 22

1. Pengertian Mengajar ... 22

2. Gaya Mengajar ... 25

D. IPA atau Sains ... 26

E. Gaya Belajar Siswa dalam Pembelajaran IPA ... 28

BAB III METODE PENELITIAN ... 29

A. Jenis Penelitian... 29

B. Subyek Penelitian ... 29

C. Waktu dan Tempat Penelitian ... 30

D. Metode Penelitian ... 30 E. Instrumen Penelitian ... 31 1. Kuesioner ... 31 2. Wawancara ... 32 3. Observasi ... 33 4. Fieldnotes... 34 F. Validitas Instrumen ... 34

G. Metode Analisis Data ... 35

1. Data Hasil Kuesioner Gaya Belajar Siswa ... 35

xiii

3. Fieldnotes... 37

4. Observasi ... 38

BAB IV DATA, ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 40

A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian ... 40

B. Data Penelitian ... 42

1. Kuesioner Gaya Belajar ... 43

2. Wawancara ... 43

3. Fieldnotes ... 44

4. Rekaman Video Hasil Observasi ... 44

C. Analisis Data ... 46

1. Gaya Belajar Siswa ... 46

2. Gaya Mengajar Guru ... 56

D. Pembahasan ... 66

1. Gaya Belajar IPA ... 66

2. Gaya Mengajar Guru ... 71

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 75

A. Kesimpulan ... 75

B. Saran ... 76

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Daftar Aspek Kuesioner Chek List... 31 Tabel 2. Sebaran Sampel Siswa Kelas IV dan V SDS Pusat Damai ... 40 Tabel 3. Daftar Analisis Hasil Kuesioner Pilihan Ganda ... 48 Tabel 4. Hasil Frekuensi Kuesioner Pilihan Ganda SDS Subsidi Pusat

Damai ... 51 Tabel 5. Hasil Frekuensi Kuesioner Pilihan Ganda di SMP Charitas 02 Mojosari

OKU Timur Palembang... 52 Tabel 6. Hasil Frekuensi Kuesioner Pilihan Ganda Siswa SMA Bhakti Karya

Temanggung ... 52 Tabel 7. Kegiatan dan Alokasi Waktu dari Transkrip dan Fieldnotes ... 64

xv

DAFTAR LAMPIRAN

1. Surat Permohonan Ijin Penelitian ...79

2. Surat Keterangan Penelitian ...80

3. Kuesioner Gaya Belajar Siswa ...81

4. Data Mentah Kuesioner Chek List...86

5. Data Mentah Kuesioner Pilihan Ganda...91

6. Transkrip Wawancara 3 Siswa ...94

7. Transkrip Wawancara Dengan 3 Guru tentang Gaya Belajar Siswa...100

8. Transkrip Wawancara Gaya Mengajar guru ...103

9. Fieldnotes (catatan lapangan)...112

10.Transkrip Video Observasi ...122

11.Hasil Pentabulasian Data kuesioner Chek List ...129

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Belajar dilakukan oleh semua orang, terutama siswa sebagai peserta didik di dalam lingkungan pendidikan. Saat ini kita sering menjumpai banyak siswa yang lebih suka bermain daripada belajar. Hal ini dikarena mereka menganggap belajar itu sangat sulit dan membuat frustasi sehingga mereka tidak maksimal dalam belajar. Hal tersebut mungkin ada kaitannya dengan gaya belajar yang diterapkan oleh siswa. Gaya belajar itu perlu diketahui karena kemampuan seseorang untuk memahami dan menyerap pelajaran berbeda-beda tingkatannya. Sebagian siswa lebih suka guru mereka mengajar dengan cara menuliskan segalanya di papan tulis. Ada siswa yang senang belajar di keramaian bahkan bahkan di kerumunan atau di tempat darmawisata, sebaliknya ada yang senang belajar di tempat sepi, sendiri, bahkan dikeheningan malam. Ada juga yang senang belajar kalau sambil mendengarkan musik. Apapun cara yang ditempuh siswa, perbedaan gaya belajar itu menunjukkan cara tercepat dan terbaik untuk bisa menyerap sebuah informasi dari luar dirinya.

Informasi yang diterima siswa tersebut, banyak diperoleh dari pendidik (guru). Informasi tersebut dapat diterima dengan baik, apabila guru

2

menyampaikan informasi sesuai dengan gaya belajar siswa. Guru yang memahami perbedaan gaya belajar masing-masing siswanya di dalam satu kelas, akan menggunakan metode yang bervariasi agar semua siswa dapat menyerap informasi dengan maksimal. Namun yang ada di dalam proses pendidikan kita adalah sebuah kenyataan bahwa kebanyakan guru menyampaikan informasi dengan cara mereka sendiri tanpa peduli dengan gaya belajar siswanya. Cara mengajar seperti ini juga sering dijumpai siswa, pada guru mata pelajaran IPA. Hal ini semakin mempersulit mereka dalam belajar IPA, yang menurut mereka materinya saja sudah sulit untuk dipelajari.

Berdasarkan permasalahan diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian gaya belajar seperti apa yang sering diterapkan oleh siswa Sekolah Dasar untuk memahami materi dan mengetahui cara mengajar seperti apa yang dilakukan oleh guru mereka. Sehingga dalam skripsi ini diambil judul Gaya Belajar Siswa Kelas IV dan V SD Serta Gaya Mengajar Guru di Kelas Tersebut Dalam Pembelajaran IPA di SDS

Subsidi Pusat Damai Kalimantan Barat.

B. Rumusan Masalah

1. Apa gaya belajar siswa kelas IV dan V dalam pembelajaran IPA di SDS Subsidi Pusat Damai Kalimantan Barat?

2. Apa gaya mengajar guru dalam pembelajaran IPA di SDS Subsidi Pusat Damai Kalimantan Barat?

3

C. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui gaya belajar siswa kelas IV dan V SDS Subsidi Pusat Damai Kalimantan Barat dalam pembelajaran IPA.

2. Mengetahui Gaya mengajar guru di SDS Subsidi Pusat Damai Kalimantan Barat dalam pembelajaran IPA.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Bagi siswa

Dapat memberikan pengetahuan bagi siswa untuk mengenali gaya belajarnya sendiri, sehingga dalam belajar siswa tidak merasa terbebani dan belajar sesuai dengan gaya belajarnya.

2. Bagi Sekolah

Dapat menjadi upaya bagi sekolah untuk meningkatkan prestasi siswa-siswi dalam pembelajaran.

3. Bagi Peneliti

Mempunyai pengalaman melakukan penelitian dan dapat mengembangkan lebih lanjut untuk penelitian lainnya demi kemajuan pendidikan dan dapat menambah wawasan dalam upaya memberikan pengetahuan mengenai gaya belajar kepada siswa.

4 4. Bagi Guru

Mendapat gambaran mengenai gaya belajar siswanya dan dapat mengembangkan metode mengajar yang sesuai dengan gaya belajar siswa.

E. Batasan Pengertian

1. Gaya Belajar

Gaya belajar adalah cara belajar yang sering digunakan oleh siswa untuk bereaksi dan menggunakan perangsang-perangsang dalam menyerap dan kemudian mengatur serta mengolah informasi pada proses belajar.

2. Gaya Belajar Visual (Visual Learners)

Gaya belajar visual adalah gaya belajar yang harus melihat terlebih dahulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya. Untuk lebih sederhananya, gaya belajar ini adalah belajar dengan cara melihat (DePorter dan Hernacki, 2010: 116-120).

3. Gaya Belajar Auditorial (Auditory Learners)

Gaya belajar ini mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Gaya belajar ini adalah belajar dengan cara mendengar (DePorter dan Hernacki, 2010: 116-120).

4. Gaya Belajar Kinestetik (Tactual Learners)

Gaya belajar ini harus menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar kita bisa mengingatnya. Gaya belajar ini adalah belajar

5

dengan cara bergerak, bekerja dan melibatkan aktivitas fisik (DePorter dan Hernacki, 2010: 116-120)

5. Gaya Mengajar

Gaya mengajar merupakan suatu kebiasaan yang menggambarkan perilaku guru dalam proses pengajaran dengan mengacu pada cara, metode, dan juga media yang digunakan untuk menyampaikan informasi. Selain itu gaya mengajar juga melibatkan urutan dalam proses pembelajaran yang selalu berhubungan dengan alokasi waktu.

F. Deskripsi Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Pada penelitian ini peneliti tidak melakukan penelitian seorang diri, tetapi bekerja sebagai tim yang terdiri dari 3 orang dan dilakukan di tempat yang berbeda pula. Untuk tingkat SD, penelitian dilakukan oleh peneliti sendiri di SDS Subsidi Pusat Damai Kalimantan Barat. Untuk tingkat SMP dilakukan oleh Agnes Ika Kurniawati di SMA Bhakti Karya Temanggung dan untuk tingkat SMP penelitian dilakukan oleh Benedicta Retvina Prasetyanti di SMP Charitas 02 Mojosari OKU Timur Palembang. Pada jenjang SD dan SMP melakukan penelitian tentang gaya belajar siswa dan gaya mengajar guru dalam pembelajaran IPA kecuali dan untuk SMA yaitu gaya belajar siswa dalam pembejaran Fisika. Ada dua alasan penlitian ini dilakukan secara tim, yaitu:

6

1. Penelitian ini merupakan penelitian yang belum pernah dilakukan di prodi Pendidikan Fisika maka lebih mudah bila dilakukan secara bersama.

2. Peneliti ingin meneliti gaya belajar siswa di situasi yang berbeda dan jenjang sekolah yang berbeda pula.

Oleh karena itu, berdasarkan dua alasan diatas peneliti dan 2 rekan peneliti mempelajari teori yang sama. Sehingga jika terdapat kesamaan-kesamaan kalimat dalam penulisan berdasarkan hasil diskusi bersama. Dalam analisis data dan pembahasan peneliti akan saling merujuk hasil penelitian dari data yang diperoleh 2 rekan peneliti.

7

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Definisi Belajar

Dalam Supriadie dan Deni (2012: 1) pendidikan didefinisikan sebagai usaha sadar, terencana dan diupayakan untuk memungkinkan peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri, baik fisik maupun nirfisik; yakni mengembangkan potensi pikir (mental-intelektual), sosial, emosional, nilai moral, spiritual, ekonomikal (kecakapan hidup), fisikal, maupun kultural, sehingga ia dapat menjalani hidup dan kehidupannya sesuai dengan harapan dirinya, keluarganya, masyarakat, bangsa dan negara; serta dapat menjawab tantangan peradaban yang semakin maju.

Menurut Driyarkara (1980: 128), pendidikan sebagai suatu bentuk hidup bersama, pemasukkan manusia muda ke dalam alam nilai-nilai dan kesatuan antar pribadi yang mempribadikan.

Menurut Fakry dalam Supriadie dan Deni (2012: 2) mengatakan bahwa pendidikan sebagai suatu proses yang secara rasional, sistematik, dan berencana dilakukan untuk mengubah perilaku manusia menuju tahap kematangan yang dikehendaki.

Sedangkan menurut Ahmad Tafsir dalam Tatang (2012: 16) memaknai pendidikan sebagai bimbingan yang diberikan seseorang secara maksimal.

Dari pengertian-pengertian pendidikan diatas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana yang dilakukan untuk

8

mengembangkan potensi diri menuju tahap kematangan yang dikehendaki secara maksimal.

Di dalam pendidikan terdapat proses pembelajaran yang terdiri dari belajar dan mengajar. Belajar merupakan kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat mendasar dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan, karena belajar adalah kunci utama dalam setiap usaha pendidikan (Muhibbin, 2008: 59).

Dalam mengkaji hakikat belajar Muhibbin (1995: 90) mengulas pendapat Hintzman yang mengatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.

Muhibbin (1995: 90) juga mengulas pendapat dari Wittig yang yang mendefinisikan hakikat belajar sebagai: any relatively permanent change in an organism’s behavioral rappertoire that occrus as a result of experience. Artinya, belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.

Dari beberapa definisi diatas, Muhibbin (1995: 92) menyatakan bahwa belajar secara umum dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.

9

Siregar dan Nara (2011: 4) juga mengulas pendapat Singer yang mendefinisikan belajar sebagai perubahan perilaku yang relatif tetap yang disebabkan praktik atau pengalaman yang sampai dalam situasi tertentu.

Komalasari (2010: 2) mengulas pendapat Sunaryo yang mengatakan bahwa belajar merupakan suatu kegiatan dimana seseorang membuat atau menghasilkan suatu perubahan tingkah laku yang ada pada dirinya dalam pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Menurut Saljo dalam Rossum dan Hammer (2004) belajar juga dapat dilihat dari sudut pandang siswa. Saljo menyimpulkan lima konsep belajar, yaitu :

1. Belajar sebagai peningkatan pengetahuan

Belajar sebagai peningkatan pengetahuan artinya belajar adalah mendapatkan hal-hal baru yang tidak diketahui sebelumnya. Sehingga semakin lama kita belajar maka pengetahuan kita semakin bertambah. 2. Belajar adalah mengingat

Belajar adalah mengingat artinya belajar sama dengan menghafal dan kemampuan untuk mereproduksi apa yang dihafal. Dalam hal ini apa yang dihafal adalah produknya sementara menghafal adalah bentuk prosesnya.

3. Belajar sebagai kemahiran memperoleh fakta, prosedur dan lain-lain yang dapat dimanfaatkan di masa depan

Belajar dalam hal ini artinya memilih dan menghafal fakta-fakta, prosedur, gagasan dan sebagainya kemudian mencerminkan lebih lanjut

10

atas apa yang dipelajari untuk memutuskan kegunaannya di masa depan. Sehingga dalam belajar hal yang dilakukan tidak hanya menghafal tetapi juga berlatih sampai sempurna tanpa mengubah pengetahuan atau prosedur.

4. Belajar sebagai pemisahan makna

Belajar sebagai pemisahan makna artinya belajar adalah suatu proses pemahaman yang dicapai melalui ide-ide yang berkaitan dalam subyek, menemukan hal-hal apapun, melihat materi pelajaran lebih mendalam, mengumpulkan berbagai sudut pandang pada materi yang dipelajari dan mendapatkan gambaran besar. Jadi belajar adalah berpikir lebih jelas, melihat sesuatu yang baru dengan cara yang jauh lebih logis, dan melihat langkah-langkah untuk sampai pada kesimpulan.

5. Belajar sebagai proses menafsirkan yang bertujuan pada pemahaman realita

Dalam hal ini belajar adalah mengubah cara melihat sesuatu dengan mengubah perspektif untuk menuju ke pemahaman yang lebih baik. Dari pengertian-pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan perilaku yang ada pada diri seseorang dalam menambah ilmu pengetahuan dengan mengingat dan memahaminya, sehingga cara berpikir menjadi lebih logis dan dapat menafsirkan ilmu pengetahuan itu dalam proses menuju ke pemahaman yang lebih baik untuk kemudian mempraktekkannya sampai sempurna.

11

B. Gaya Belajar

Untuk memahami apa itu gaya belajar, maka pada bagian ini penulis akan mengulas tentang pengertian gaya belajar, klasifikasi gaya belajar, ciri-ciri dari masing-masing tipe gaya belajar dan manfaat pemahaman gaya belajar bagi guru dan siswa.

1. Pengertian Gaya Belajar

Prashing (2007: 29)menjelaskan bahwasemua orang dalam segala usia dapat benar-benar mempelajari apapun apabila dibiarkan melakukannya dengan gaya unik yang sesuai dengan kekuatan pribadi mereka sendiri. Gaya unik yang sesuai dengan kekuatan pribadi siswa adalah gaya belajar yang siswa terapkan, yang akan membuat siswa merasa terbantu dalam menyerap dan mengolah infomasi sehingga belajar dan berkomunikasi akan lebih mudah.

Menurut DePorter dan Hernacki (2006: 110-112), gaya belajar merupakan suatu kombinasi dari bagaimana seseorang menyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi. Nasution (1984: 93) gaya belajar merupakan cara siswa bereaksi dan menggunakan perangsang-perangsang yang diterimanya dalam proses belajar.

Dari pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa gaya belajar adalah cara belajar dalam belajar yang sering digunakan oleh siswa untuk bereaksi dan menggunakan perangsang-perangsang dalam menyerap dan kemudian mengatur serta mengolah informasi pada proses belajar.

12

2. Klasifikasi Gaya Belajar

Menurut Gunawan (2007: 139) mengatakan bahwa telah banyak upaya yang dilakukan untuk mengenali dan mengkategorikan cara manusia belajar, cara memasukkan informasi ke dalam otak. Secara garis besar, ada tujuh pendekatan yang umum dikenal dengan kerangka referensi yang berbeda dan dikembangkan juga oleh ahli yang berbeda dengan variasinya masing-masing. Gunawan (2007: 139-140) merangkum ketujuh cara belajar tersebut, yaitu:

a. Pendekatan berdasarkan pada pemrosesan informasi; menentukan cara yang berbeda dalam memandang dan memproses informasi yang baru. Pendekatan ini dikembangkan oleh Kagan, Kolb, Honey dan Umford Gregorc, Butler, dan McCharty.

b. Pendekatan berdasarkan pada kepribadian; menentukan tipe karakter yang berbeda-beda. Pendekatan ini dikembangkan oleh Myer-Briggs, Lawrence, Keirsey & Bates, Simon & Byram, Singer-Loomis, Grey-Wheelright, Holland dan Geering.

c. Pendekatan berdasarkan pada modalitas sensori; menentukan tingkat ketergantungan terhadap indera tertentu. Pendekatan ini dikembangkan oleh Bandler & Grinder dan Messick.

d. Pendekatan berdasarkan pada lingkungan; menentukan respon yang berbeda terhadap kondisi fisik, psikologis, sosial, dan instruksional. Pendekatan ini dikembangkan oleh Witkin, Eison, Canfield.

13

e. Pendekatan berdasarkan pada interaksi sosial; menentukan cara yang berbeda dalam berhubungan dengan orang lain. Pendekatan ini dikembangkan oleh Grasha-Reichman, Perry, Mann, Furmann-Jacobs, dan Merill.

f. Pendekatan berdasarkan pada kecerdasan; menentukan bakat yang berbeda. Pendekatan ini dikembangkan oleh Gardner dan Handy.

g. Pendekatan berdasarkan wilayah otak; menentukan dominasi relatif dari berbagai bagian otak, misalnya otak kiri dan otak kanan. Pendekatan ini dikembangkan oleh Sperry, Bogen, Edwards, dan Hermann.

Dari ketujuh pendekatan tersebut, menurut Gunawan (2007: 142) ada tiga pendekatan belajar yang paling populer dan sering digunakan saat ini, yaitu:

1. Pendekatan berdasarkan preferensi sensori: visual, auditori dan kinestetik. Dari hasil survei diketahui bahwa terdapat 29% orang visual, 34% auditori dan 37% kinestetik.

2. Profil Kecerdasan, dikembangkan oleh Howard Gardner. Menurut gardner, manusia mempunyai delapan kecerdasan yaitu: linguistik, logika/matematika interpersonal, intrapersonal, musik, naturalis, spasial, dan kinestetik.

3. Preferensi kognitif, dikembangkan oleh Dr. Anthony Gregorc. Gregorc membagi kemampuan mental menjadi empat kategori yaitu Konkret-Sekuensial, Abstrak-Konkret-Sekuensial, Konkret-Acak dan Abstrak-Acak.

14

Sedangkan menurut Suyono dan Haryanto (2011: 148-160) ada beberapa gaya belajar. Gaya belajar tersebut meliputi:

a. Gaya belajar VAK

Gaya belajar ini ada tiga macam yaitu visual atau belajar dengan cara melihat, auditorial atau belajar dengan cara mendengar dan kinestetik atau belajar melalui gerakan-gerakan fisik.

b. The Myers-Briggs Type Indikator (TMBTI)

Gaya belajar ini sesuai dengan tipe kepribadian seseorang yang meliputi ekstrovert (berfokus pada dunia luar diri seseorang), pengindera (berfokus pada fakta dan prosedur), pemikir, dan pembuat pertimbangan.

c. Gaya belajar menurut Kolb

Dokumen terkait