• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gaya Mendelegasikan (Delegating)

Dalam dokumen Tesis Gaya Kepemimpinan kepala sekolah (Halaman 96-105)

9.9 Team Management

4) Gaya Mendelegasikan (Delegating)

Delegating (S4) yakni hubungan rendah – tugas rendah. Gaya ini ditandai dengan memberikan kebebasan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan, karena bawahannya mempunyai tingkat kematangan yang tinggi serta mampu bertanggung jawab untuk mengatur sendiri.

Gaya kepemimpinan yang telah dikemukakan di atas pada dasarnya mengarah kepada dua dimensi kepemimpinan menurut teori perilaku, yaitu kepemimpinan yang berorientasi tugas dan berorientasi bawahan.

Lebih lanjut Hersey dan Blanchard mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan dan kematangan bawahan, para pemimpin perlu merubah gaya kepemimpinannya untuk disesuaikan

dengan perkembangan kematangan itu. Pada fase awal ketika bawahan baru pertama kali masuk organisasi, gaya kepemimpinan yang berorientasi tugas akan sangat tepat untuk diterapkan.

Bawahan harus diberi instruksi mengenai tugasnya dan dibuat terbiasa dengan peraturan dan prosedur organisasi. Jika bawahan sudah mempelajari tugasnya, kepemimpinan yang berorientasi tugas masih penting, karena bawahan belum mampu menerima tanggung jawab penuh, tetapi kepercayaan dan dukungan pimpinan dapat meningkat sejalan dengan makin akrabnya dengan bawahan. Dengan demikian, pemimpin mulai dapat menerapkan gaya kepemimpinannya yang berorientasi kepada bawahan.0.

Konsepsi kepemimpinan situasional ini melengkapi pimpinan dengan pemahaman dari hubungan antara Gaya Kepemimpinan (styles) yang efektif dengan Tingkat kesiapan (readiness) pegawainya. Perilaku pegawai atau bawahan ini amat penting untuk mengetahui kepemimpinan situasional, karena bukan saja pegawai sebagai individu bisa menerima atau menolak pimpinannya, akan tetapi sebagai kelompok, pegawai dapat menentukan kekuatan pribadi apapun yang dimiliki pimpinan.

Tingkat kesiapan pengikut atau bawahan dalam model ini digambarkan dalam tabel di bawah ini.

Tabel 1

Kesesuaian Gaya (S) dan Tingkat Kesiapan Pegawai (R) Tingkat Kesiapan

( Readiness – R) Kesesuaian Gaya ( Styles - S ) R1

Tidak bersedia

dan kemampuan rendah

S1 - Telling :

Perilaku tugas tinggi, perilaku hubungan rendah R2

Bersedia

tetapi kemampuan rendah

S2 – Selling : Perilaku tugas dan perilaku hubungan tinggi R3

Tidak bersedia

dan kemampuan sedang

S3 - Participating : Perilaku tugas rendah, perilaku hubungan tinggi R4

Bersedia

dan kemampuan tinggi

S4 - Delegating : Perilaku tugas dan perilaku hubungan tinggi

(Sumber: Hersey & Blanchard. 1992. Manajemen Perilaku Organisasi: Pendayagunaan SDM)

1) R1 yakni pegawai atau bawahan yang tidak mampu dan tidak bersediamengambil tanggung jawab untuk melakukan sesuatu. Mereka tidak kompeten dan tidak memiliki keyakinan. Notasi R1 menunjukkan bahwa pegawai memiliki tingkat kesiapan rendah.

2) R2 yakni pegawai atau bawahan yang tidak mampu akan tetapi bersedia melakukan tugas pekerjaan yang diberikan. Mereka bersedia melaksanakan tugas yang dibebankan, akan tetapi kemampuannya tidak memadai. Notasi R2 menunjukkan bahwa pegawai memiliki tingkat kesiapan sedang.

3) R3 yakni pegawai atau bawahan yang memiliki kemampuan tetapi tidak bersedia melakukan apa yang diharapkan oleh

pimpinan. Notasi R3 menunjukkan bahwa pegawai memiliki tingkat kesiapan sedang-tinggi.

4) R4 yakni pegawai atau bawahan yang memiliki kemampuan dan bersedia melakukan tugas-tugas yang diperlukan oleh pimpinan. Notasi R4 menunjukkan bahwa pegawai memiliki tingkat kesiapan tinggi.0

Rustandi dalam bukunya mengembangkan teori ini menyatakan tentang cara kepemimpinan dihubungkan dengan tingkat kematangan anak buah. Pemimpin yang berhasil adalah mereka yang selain memiliki kemampuan pribadi tertentu, juga mampu membaca keadaan anak buah dan lingkungannya. Sebab ada keterkaitan langsung antara gaya kepemimpinan yang tepat untuk diterapkan dengan tingkat kematangan anak buah, agar pemimpin memperoleh ketaatan atau pengaruh yang memadai. Salah satu cara untuk mengetahui tingkat kematangan anak buah adalah dengan melihat kemampuan (”ability”) dan semangat (”willingness”) mereka dalam memepertanggungjawabkan pelaksanaan tugas yang bebankan kepadanya. Model yang dikembangkan Rustandi 0 dikenal

dengan teori kepemimpinan situasional yaitu model gaya kepemimpinan yang menekankan pada efektivitas pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat untuk menghadapi situasi tertentu dan tingkat kesiapan jiwa bawahan.

0 Ibid. hal. 183.

0 R. Achmad Rustandi, 1985. Gaya Kepemimpinan, Pendekatan Bakat Situasional. Bandung: Penerbit Armico. Hal. 65

Gaya kepemimpinan situasional yang dikemukakan di atas memiliki banyak kesamaan dilihat dari dimensi kepemimpinan menurut teori tugas dan dimensi perilaku.

Sementara menurut Wahjosumidjo0 pada dasarnya tidak ada

pemimpin yang baik, yang ada adalah pemimpin yang efektif yaitu pemimpin yang selalu berubah-ubah perilakunya sesuai dengan tingkat perkembangan kedewasaan bawahannya. Oleh karena itu, seorang pemimpin dapat berperilaku efektif, akan lebih cocok apabila pemimpin itu dapat menerapkan ajaran teori kepemimpinan situasional.

Di tengah-tengah dinamika organisasi yang antara lain diindikasikan adanya perilaku staf / individu yang berbeda-beda, maka untuk mencapai efektivitas organisasi, penerapan keempat gaya kepemimpinan di atas perlu disesuaikan dengan tuntutan keadaan, inilah yang dimaksud dengan situational leadership. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa untuk dapat mengembangkan gaya kepemimpinan situasional ini, seseorang perlu memiliki tiga kemampuan khusus yakni:

1) Kemampuan analitis (analytical skills), yakni kemampuan untuk menilai tingkat pengalaman dan motivasi bawahan dalam melaksanakan tugas.

2) Kemampuan untuk fleksibel (flexibility atau adaptability skills), yaitu kemampuan untuk menerapkan gaya kepemimpinan yang paling tepat berdasarkan analisa terhadap situasi.

3) Kemampuan berkomunikasi (communication skills), yakni kemampuan menjelaskan kepada bawahan tentang perubahan gaya kepemimpinan yang diterapkan.

Ketiga kemampuan tersebut sangat dibutuhkan bagi seorang pemimpin, sebab seorang pemimpin harus dapat melaksanakan tiga peran utamanya yakni peran interpersonal, peran pengolah informasi (information processing), serta peran pengambilan keputusan (decision making). 0

Setelah membahas beberapa gaya kepemimpinan, maka pembahasan akan dipersempit lagi yaitu mengenai gaya kepemimpinan yang dimiliki oleh kepala sekolah. Tugas seorang pemimpin seperti kepala sekolah adalah menyangkut bagaimana kepala sekolah bertanggung jawab atas sekolahnya dalam melaksanakan berbagai kegiatan, seperti bagaimana mengelola berbagai masalah menyangkut pelaksanaan administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan, pendayagunaan sarana dan prasarana untuk mewujudkan sekolah sebagai wiyata mandala, bertanggung jawab atas tercapainya tujuan, peran, dan mutu pendidikan di sekolah.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Rosmiller, Lipman, dan Marivelly dalam Dadi Permadi 0 sebagai berikut:

“A Principal is responsible for translating educational goals and objectives in specific budgetary request, preraring and defending school budget, maintaining the use of resources provides, and evaluating educational outcomes in pragmatic terms.” (“seorang kepala sekolah bertanggung jawab untuk menterjemahkan maksud dan tujuan-tujuan pendidikan dalam suatu permohonan biaya, mempersiapkan dan mempertahankan keuangan sekolah, memelihara segala sumber daya yang ada, dan mengevaluasi lulusan dengan ukuran-ukuran pragmatis.”)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah dalam mengarahkan dan memanfaatkan segala sumber daya yang tersedia sangat menentukan keberhasilan proses belajar di sekolah. Untuk mewujudkan tanggung jawab tersebut maka kepala sekolah sangat berperan dalam mengendalikan keberhasilan kegiatan pendidikan, meningkatkan pelaksanaan administrasi sekolah sesuai dengan pedoman, meningkatkan keterlaksanaan tugas tenaga guru sesuai dengan tujuan, dan mengatur secara profesional pendayagunaan serta memelihara sarana dan prasarana pendidikan.

Dengan demikian, agar tujuan sekolah dapat tercapai, maka kepala sekolah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya memerlukan suatu gaya dalam memimpin, yang dikenal dengan gaya kepemimpinan kepala sekolah, dengan kata lain kesuksesan seorang pemimpin sangat tergantung pada kefektifan gaya

0 Dadi Permadi. 2004. Kepemimpinan Mandiri (Profesional) Kepala sekolah. Bandung: PT. Sarana Panca Karya. hal. 24.

kepemimpinannya. Hal ini berarti bagaimana cara bekerja pimpinan dengan pihak lain yang berkepentingan dalam mewujudkan tujuan organisasi.

Dengan menyebut gaya kepemimpinan kepala sekolah, maka akan tampak gaya kepemimpinan dari kepala sekolah yang meliputi:

1) menciptakan iklim yang kondusif 2) mempengaruhi bawahan

3) mengelola perubahan organisasi 4) mengelola hubungan

5) berusaha mengikutsertakan orang lain dalam pengambilan keputusan

6) mengembangkan organisasi

7) mendelegasikan wewenang pada bawahan 8) mengelola kerjasama.

Sifat-sifat dan ciri-ciri dari kepemimpinan yang berhasil itu dapat dijelaskan sebagai berikut :

1) Watak dan kepribadian terpuji. Agar para bawahan maupun orang yang berada di luar organisasi mempercayainya seorang pemimpin harus mempunyai watak dan kepribadian yang terpuji. Mereka adalah cermin dari bawahan, sumber identifikasi, motivasi dan moral para bawahan.

2) Keinginan melayani bawahan. Seorang pemimpin harus percaya pada bawahan. Ia mendengarkan pendapat mereka dan berkeinginan untuk membantu menimbulkan dan mengembangkan keterampilan bawahan agar karir mereka meningkat.

3) Memahami kondisi lingkungan. Seorang pemimpin tidak hanya menyadari tentang apa yang sedang terjadi di sekitarnya, tetapi juga harus memiliki pengertian yang memadai sehingga dapat mengevaluasi perbedaan kondisi organisasi dan para bawahannya.

4) Inteligensia yang tinggi. Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan berpikir pada taraf yang tinggi. Ia dituntut untuk mampu menganalisis problem yang efektif, belajar yang cepat dan memiliki minat yang tinggi untuk mendalami dan menggali ilmu.

5) Berorientasi ke depan. Seorang pemimpin harus memiliki intuisi, kemampuan memprdiksi dan visi sehingga dapat mengetahui sejak awal tentang kemungkinan-kemungkinan apa yang dapat mempengaruhi organisasi yang dikelolanya.

6) Sifat yang terbuka dan lugas. Pemimpin harus sanggup mempertimbangkan fakta-fakta dan inovasi yang baru. Lugas namun konsisten pendiriannya. Bersedia mengganti cara kerja

yang lama dengan cara kerja yang baru yang dipandang mampu memberi nilai guna yang efisien dan efektif bagi organisasi.

Dalam dokumen Tesis Gaya Kepemimpinan kepala sekolah (Halaman 96-105)