Sumber: www.tongberisi.net
Keberadaan lokasi evakuasi dan gedung – gedung tersebut juga sudah mulai disosialisasikan ke masyarakat melalui billboard, pamflet, leaflet, dimuat di media cetak dan disiarkan melalui media elektronika (TV dan radio). Dengan adanya sosialisasi ini diharapkan masyarakat bisa segera mengindentifikasi dimana tempat evakuasi yang paling layak dan dekat jaraknya bagi mereka dan keluarga. Indentifikasi ini sangat penting, karena akan menentukan pembagian penyebaran masyarakat dalam mencapai tempat evakuasi yang aman, sehingga tidak menumpuk pada satu tempat saja.
Dalam perencanaan, Pemerintah Kota Padang akan membangun 100 unit shelter sebagai lokasi evakuasi vertikal untuk menampung masyarakat yang ingin menyelamatkan diri. Ini sesuai dengan yang disampaikan oleh, Kepala BPBD Kota Padang:
“Kita merencanakan untuk membangun 100 shelter yang nantinya bida dimanfaatkan oleh masyarakat yang ingin mengungsi, dan shelter ini akan di bangun secara bertahap. Kapasitas shelter tergantung kepadatan penduduk di zona masing – masing.”
Pentingnya pembenahan dan pembangunan lokasi evakuasi vertikal sesegara mungkin karena jika hanya mengandalkan lokasi evakuasi horizontal
saja, maka waktu yang akan dipakai untuk menyelamatkan diri tidak mencukupi, karena menurut perkiraan para ahli tsunami bisa datang dalam rentang waktu 5 – 30 menit. Pembangunan gedung sebagai tempat evakuasi vertikal menjadi semakin krusial, karena ada beberapa kawasan di zona rawan tsunami di Kota Padang jika dilakukan evakuasi horizontal harus menempuh jarak yang cukup jauh. Lokasi yang cukup jauh dari lokasi evakuasi horizontal adalah zona rawan tsunami di sekitar pesisir pantai di utara Kota Padang, karena hamparan wilayah dataran rendahnya cukup luas sementara untuk mencapai zona aman cukup jauh, dan ditambah dengan sempitnya jalur – jalur evakuasi. Sementara ketika gempa yang berpotensi tsunami terjadi mobilitas masyarakat begitu tinggi untuk menyelamatkan diri. Ini diakui sendiri oleh Kabid Kesiapsiagaan dan Pencegahan BPBD Kota Padang:
“Hal ini tentu berbahaya apalagi menurut perkiraan normal terjadinya tsunami setelah gempa kira 5 sd 10 menit. Kita hitung saja jarak antara pantai purus di padang dengan daerah andalas yang diperkirakan aman dari tsunami yang terjadi ada sekitar 4 km. dan itu kemampuan lari manusia tidak akan sanggup mencapainya hanya dalam waktu 15 menit. Kalau mau lari dengan kendaraan tidak akan bisa seperti pengalaman – pengalaman yang lalu. Karena jalur evakuasi begitu sempit untuk menampung mobilitas masyarakat yang akan mengungsi dengan kendaraan bermotor. Keadaan seperti akan sangat berbahaya jikka saat evakuasi jalur – jalur macet, bisa- bisa jalan – jalan yang dipenuhi masyarakat tersebut bisa dihantam tsunami padahal masyarakat belum sampai ke tempat aman atau evakuasi horizontal. Untuk mengatasi hal tersebut harus diupayakan secepatnya membangun gedung yang bisa berfungsi sebagai lokasi evakuasi vertikal atau shelter untuk dikombinasikan dengan evakuasi horizontal.”
Pemerintah Kota Padang telah mengindentifikasi lokasi evakuasi baik vertikal maupun horizontal. Lokasi evakuasi ini dipilih berdasarkan tingkat kerawanan di setiap zona dan kesiapan jalur evakuasi. Lokasi evakuasi vertikal di
runtuh pasca gempa 30 September 2009. Hingga saat ini, sangat sedikit gedung yang layak dan sesuai standar kekokohan untuk di jadikan sebagai shelter. Seperti yang disampaikan oleh Manajer Advokasi Komunitas Siaga Tsunami:
“Kalau masalah bangunan, setelah kita cek pasca beberapa kali gempa sebelum gempa besar Tahun 2009 di Kota Padang, kebanyakan memang tidak layak untuk dijadikan tempat pengungsian atau bahkan tempat beraktivitas. Hal ini sangat berbahaya jika tidak segera dibenahi. Ternyata betul, terbukti pada gempa Tahun 2009 banyak gedung yang runtuh.”
Ini membuktikan kekokohan bangunan di Kota Padang banyak yang amburadul karena mungkin sebelumnya tidak memperhatikan aspek kerentanan Kota Padang terhadap ancaman gempa dan tsunami. Padahal sebelum gempa Tahun 2009, banyak gedung pemerintahan yang direncanakan sebagai tempat evakuasi vertikal, ternyata saat gempa terjadi gedung tersebut banyak yang roboh. Masyarakat Kota Padang ikut menguatkan pendapat dari di atas, melalui wawancara dengan salah seorang warga Kota Padang, Sri mengatakan:
“Iya, kami mana mau lari ke gedung itu (lokasi evakuasi vertikal), melihat goncangan gempa yang keras, rasanya gedung itu tidak akan tahan. Kalau kami lari ke sana sama saja kami bunuh diri”.
Keengganan masyarakat untuk mengevakuasi diri ke gedung lokasi evakuasi vertikal memang bisa dipahami karena banyak bangunan tersebut saat gempa besar Tahun 2009 lalu rusak parah. Bangunan yang tidak layak tersebut banyak memakan korban jiwa, seperti yang terjadi di Gedung Lembaga Pendidikan LBA – LIA yang hancur dan memakan korban saat terjadi gempa. Gedung seperti ini tentu tidak layak dijadikan tempat evakuasi vertikal serta untuk ditempati atau sebagai pusat aktivitas saja tidak aman apalagi jika harus menampung masyarakat yang ingin menyelamatkan diri dari tsunami jika terjadi. Persoalan lokasi evakuasi vertikal berupa bangunan yang tidak layak dan diragukan kekokohannya menahan goncangan gempa dan hantaman tsunami tersebut, dicoba dijawab oleh Kabid Kesiapsiagaan dan Pencegahan BPBD Kota Padang:
“Memang di Kota Padang sendiri banyak gedung yang roboh pasca gempa Tahun 2009 lalu, termasuk gedung – gedung yang sebelumnya telah diindentifikasi sebagai tempat evakuasi vertikal. Ini tentu menjadi pengetahuan yang berharga buat kami. Untuk gedung – gedung yang akan di bangun kami akan memperketat perizinannya dan mewajibkan bangunan tersebut juga bisa difungsikan sebagai shelter nantinya”.
Menurut penelusuran penulis, baru ada tiga gedung yang telah selesai dibangun dan memang direncanakan sebagai shelter karena dibangun dengan memperhatikan kekohon bangunan, yang pertama, SMUN 1 Padang, kedua, Rusunawa di Pantai Purus, dan yang ketiga, Gedung Fakultas Ekonomi UNP. Tentu saja shelter yang baru tiga ini tidak akan mampu menampung masyarakat yang akan mengungsi meningat begitu padatnya penduduk di zona rawan tsunami. Saat ini, Dinas Tata Ruang dan Bangunan Kota Padang sedang menggodok kebijakan yang mewajibkan setiap gedung yang akan dibangun di daerah zona rawan tsunami, mesti juga berfungsi sebagai shelter atau evakuasi vertikal. Karena seperti yang diketahui, lokasi atau tempat evakuasi vertikal di Kota masih sangat sedikit. Idealnya setiap jarak satu kilometer di zona rawan bencana tsunami atau kira – kira dua kilometer dari pantai yang padat penduduk minimal ada satu shelter yang bisa menampung hingga dua ribu orang sekaligus. Ini digunakan sebagai lokasi evakuasi vertikal dan nantinya akan dikombinasikan dengan lokasi evakuasi horizontal yaitu pengungsian ke dataran yang lebih tinggi.
Selanjutnya dilihat dari ketinggian gedung yang layak dijadikan sebagai
shelter, karena harus memperhatikan perkiraan ketinggian gelombang tsunami
jika terjadi. Gedung yang difungsikan sebagai shelter, seharusnya mempunyai standar ketinggian yang mengacu kepada perkiraan para ahli kebencanaan. Ketinggian minimal gedung yang layak dijadikan shelter menurut BPBD Kota Padang berkisar 3 lantai dengan ketinggian 8 – 10 meter. Sedangkan menurut perkiraan Anggota Tim Ahli Pengurangan Resiko Bencana UNDP, mengambil contoh ketinggian tsunami di Aceh Tahun 2004, berikut penuturannya:
15 meter dari permukaan tanah. Ini hanya asumsi ya, bukan hasil penelitian, karena tidak ada satupun alat atau teknologi di zaman ini yang mampu menperkirakan tinggi tsunami berapa atau berapa lama datangnya tsunami. Penilaian ini hanya berdasarkan pengamatan di sejumlah kawasan yang pernah terkena dampak tsunami.”
Kendala untuk menentukan berapa standar ketinggian untuk gedung yang dijadikan shelter tentu berpengaruh terhadap kesiapsiagaan Kota Padang dalam menghadapi ancaman gempa dan tsunami. Perkiraan tingginya tsunami jika terjadi, walaupun ini tentu tidak diharapkan, semuanya berdasarkan asumsi dan pengalaman gempa dan tsunami yang pernah terjadi sebelumnya baik di Kota Padang sendiri, maupun di kawasan lainnya. Karena hingga saat ini, belum ada alat atau kecanggihan teknologi untuk memprediksi secara akurat berapa tingginya tsunami yang akan terjadi.
Tapi tentu saja persoalan ini tidak bisa menghambat atau menghentikan upaya untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman gempa dan tsunami. Shelter tetap harus dibangun dengan memperhatikan standar kekokohan dan ketinggian menurut perhitungan dan perkiraan para ahli. Permasalahan untuk memprediksi secara akurat berapa kuatnya gempa dan berapa tingginya gelombang tsunami yang akan terjadi telah memasuki ranah yang tidak bisa dijangkau oleh ilmu pengetahuan manusia itu sendiri.
Selanjutnya upaya pembenahan lokasi evakuasi vertikal tentu harus dikolaborasikan dengan pembenahan lokasi evakuasi horizontal. Lokasi evakuasi horizontal yang ada di Kota Padang, umumnya adalah kawasan yang berada di zona aman tsunami. Artinya menurut peta kerawanan tsunami di Kota Padang zona aman tsunami ini berada di kawasan timur Kota Padang, atau sepanjang garis yang mengikuti Jalan By – Pass yang membujur sepanjang 30 km dari Simpang Kalumpang sampai Teluk Bayur. Kawasan timur Kota Padang ini memang berada cukup jauh dari pantai, yang menurut perkiraan para ahli kebencanaan cukup aman dari hantaman tsunami. Jaraknya berkisar 6 sampai 8 km dari garis Pantai Padang dan berada di ketinggian minimal 6 meter dari permukaan laut.
Berdasarkan pengalaman gempa yang telah beberapa kali terjadi di Kota Padang, pada umumnya masyarakat lebih memilih kawasan ini sebagai lokasi evakuasi. Lokasi evakuasi ini cukup luas dan bisa menampung masyarakat yang ingin menyelamatkan diri dan mengungsi. Persoalannya adalah, lokasi evakuasi horizontal yang ada ini umumnya berupa Masjid, sekolah – sekolah, lapangan, areal tanah kosong, bahkan di pinggir Jalan By – Pass. Belum ada lokasi yang dirancang dan dibangun khusus sebagai lokasi evakuasi horizontal yang lengkap fasilitas umum dan sosialnya, seperti air bersih dan fasilitas MCK. Persoalan ini tentu menjadi kendala tersendiri dimana masyarakat tentu butuh fasilitas tersebut ketika mengungsi. Berdasarkan pengalaman gempa 30 September 2009, masyarakat yang menyelamatkan diri ke lokasi ini hanya bertumpuk di pinggir jalan dan tidak ada keteraturan. Ini sesuai dengan penuturan Dayat, salah seorang warga yang ikut merasakan gempa tersebut:
“Orang pada mengungsi ke By – Pass, hanya bertumpuk – tumpuk saja dan tidak teratur, ada yang menangis – menangis. Lokasi yang ditentukan pemerintah tidak tahu kita, dan rasanya memang tidak ada”
Memang menurut penelusuran peneliti, lokasi yang dirancang dan dibangun khusus sebagai tempat evakuasi horizontal belum ada. Ketika hal ini disampaikan ke Kabid Kesiapsiagaan dan Pencegahan BPBD Kota Padang, dia membenarkan hal ini:
”Pokoknya secara kebijakan semua daerah hijau (zona aman tsunami) tersebut dijadikan lokasi evakuasi. Masalah fasilitas semacam MCK, air bersih dan dan sebagainya, tentu kita lihat kemampuan finansial pemerintah sendiri. Memang sampai saat ini, lokasi yang dilengkapi fasilitas semacam itu belum ada di Kota Padang. Itu butuh pekerjaan besar untuk membangun itu, sementara saat ini ancaman gempa besar dan tsunami di Kota Padang sesuai dengan prediksi para ahli kan sangat tinggi. Jadi sementara ini kita menggunakan fasilitas – fasilitas yang dimiliki oleh pemerintah sebagai tempat pengungsian. Misalnya di daerah timur Kota Padang ada Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang atau Kampus
sementara. Secara permanen sih belum ada tempat tersendiri khusus sebagai lokasi evakuasi.”
Ketika dikonfirmasikan ke BPBD Kota Padang, hal ini bisa diatasi dengan memakai fasilitas milik pemerintah maupun swasta yang ada di areal tersebut. Di kawasan tersebut ada RSUD Kota Padang, Kampus Unand Limau Manis, dan beberapa ruko milik swasta. Tapi hal ini bukan tanpa masalah, karena berdasarkan pengalaman gempa 30 September 2009, bangunan sepanjang zona hijau tersebut banyak yang runtuh termasuk beberapa gedung yang telah dipersiapkan menjadi lokasi evakuasi vertikal. Ternyata Pemko Padang sendiri belum mempunyai rencana untuk merancang dan membangun lokasi evakuasi horizontal yang layak. Hal ini diakui sendiri oleh Staf Ahli BPBD Kota Padang:
“Untuk itu belum ada rencana ke sana. Belum ada program membuat lokasi pengungsian dengan fasilitas lengkap seperti itu. Berdasarkan pengalaman gempa yang lalu, masyarakat banyak menggunakan fasilitas yang ada di sekolah, masjid, dan bahkan perumahan penduduk setempat.
Pemerintah Kota Padang belum mempunyai rencana terpadu untuk membenahi dan mempersiapkan lokasi evakuasi vertikal dan lokasi evakuasi horizontal tentu akan menjadi kendala dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan Kota Padang dalam menghadapi ancaman gempa dan tsunami. Padahal upaya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat tidak hanya bisa dilakukan dengan edukasi atau sosialisasi semata, tetapi juga mesti mempersiapkan sarana dan prasarana untuk menyelematkan diri ketika gempa yang berpotensi tsunami terjadi.
4.9 Sistem Peringatan Dini
Dalam menciptakan kesiapsiagaan masyarakat, tentu harus dibarengi dengan adanya suatu sistem yang memungkinkan informasi akurat tentang terjadinya bencana bisa diketahui secara cepat. Dalam hal ini, sistem yang dibutuhkan adalah sistem peringatan dini atau “early warning system”, yang mencakup bagaimana suatu informasi tentang bencana terutama bencana gempa
dan tsunami disebarluaskan dan diketahui oleh masyarakat sehingga masyarakat bisa melakukan tindakan darurat untuk menyelamatkan diri.
Sistem peringatan dini pada dasarnya merupakan suatu alat atau mekanisme untuk memberikan informasi awal kepada masyarakat yang berkepentingan sebelum terjadi suatu peristiwa yang dapat membahayakan jiwa khususnya manusia dan atau mengancam keselamatan harta benda. Dalam sistem peringatan dini ini harus ada media untuk menyampaikannya secara langsung ke masyarakat dan bisa diakses masyarakat ketika terjadi bencana. (Wijanarko, 2008, p. 2). Di Kota Padang sendiri dalam penanganan bencana gempa dan tsunami, Pemerintah Kota telah membuat suatu sistem yang memungkinkan adanya semacam warning ketika gempa besar berpotensi tsunami terjadi, info tersebut harus disebarkan secara luas ke seluruh masyarakat Kota Padang untuk sesegara mungkin menyelamatkan diri ketika berada di zona rawan tsunami. Seperti yang dikatakan oleh salah seorang Staf BPBD Kota Padang,
“di Kota Padang, telah ada suatu prosedur sistem peringatan dini yang memberikan peringatan agar seluruh unsur tanggap darurat segera bergerak dan memberikan perintah evakuasi bagi masyarakat ketika gempa berpotensi tsunami”
Sistem peringatan dini ini sudah pernah di uji coba secara massal pada tahun 2005 yang mana diadakan simulasi evakuasi untuk memperlihatkan kesiapan masyarakat dan aparatur pemerintah dalam keadaan darurat. Memang secara prosedur, sistem peringatan dini yang terlihat sudah berkinerja dengan baik dan aparat terlihat sudah mengetahui bagaimana peran dan fungi masing – masing.
Saat ini telah terpasang 10 sirine di zona rawan tsunami di Kota Padang. Masing – masing sirine ini, akan memberikan peringatan kepada masyarakat ketika terjadi gempa yang berpotensi tsunami. Sirine ini secara rutin di ujicobakan pada tanggal 26 setiap bulannya. Pada tahap perencanaan sirine ini akan di tambah jumlahnya hingga menjadi 14 unit. Ini sesuai dengan yang di sampaikan oleh Kepala BPBD Kota Padang:
“Kita secara bertahap sudah memasang sirine sebagai bagian sistem peringatan dini kepada masyarakat. Saat ini sudah terpasang 10 sirine, dan akan menyusul beberapa sirine lagi. Sehingga bisa meng cover seluruh area rawan tsunami di Kota Padang”
Sirine tersebut dalam keadaan cuaca normal dan baik bisa didengar hingga radius satu setengah kilo meter persegi. Sementara jika dalam keadaan cuaca buruk hanya bisa didengar kurang dari satu kilometer persegi. Dan kendala lainnya adalah kurangnya daya listrik untuk menghidupkan sirine tersebut jika aliran listrik terputus, seperti yang disampaikan oleh Kasi Penyelamatan BPBD Kota Padang:
“masalah daya listrik menjadi kendala dalam pengoptimalan sirine. Jika listrik terputus makan daya cadangan hanya sanggup menahan hingga 15 menit. Ini tentu harus dicarikan solusi, namun kami terkendala pada masalah dana”
Berdasarkan hasil pantauan pada sistem peringatan dini di Kota Padang oleh GTZ, sebuah lembaga nirlaba internasional, peristiwa pada tanggal 12 dan 13 September 2007, serangkaian gempa di laut mengguncang Kota Padang. Gempa pertama terjadi sore hari tanggal 12 September 2007 dengan kekuatan 7.9 SR. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengirimkan peringatan potensi tsunami. Pemko Padang melalui short message service (SMS). Walikota Padang kemudian mengumumkan lewat radio. Hanya sedikit yang berinisiatif (hanya 22 % dari 200 orang yang di wawancara) melakukan evakuasi dan sebagian besar dari yang berinisiatif membutuhkan waktu lebih dari 20 menit untuk mulai meninggalkan area beresiko.Diduga pengumuman tidak memberikan arahan yang memadai karena sebagian masyarakat hanya berjaga – jaga dan menunggu konfirmasi terjadinya tsunami.
Pada gempa 30 september 2009, BMKG hanya memberikan informasi gempa tetapi tidak menerbitkan peringatan tsunami karena kedalaman dan lokasi gempa tidak berpotensi tsunami. Setengah dari 200 orang yang diwawancarai langsung meninggalkan pantai setelah gempa terjadi. Ketiadaan informasi resmi
beberapa saat setelah gempa terjadi menyebabkan sisanta pergi ke pantai untuk melihat air surut, padahal informasi gempa dari BMKG menjangkau Pemko Padang lima menit sesudah gempa. Namun informasi tersebut diumumkan oleh Walikota Padang ke masyarakat tiga puluh menit setelah gempa melalui Radio Republik Indonesia (RRI). Jika terjadi tsunami makan peringatan tersebut sangat terlambat. (GTZ, 2010, p. 2)
Pengalaman gempa yang terjadi di Kota Padang tetap menjadi bahan evaluasi bagaimana sistem peringatan dini gempa dan tsunami bekerja. Pada gempa tahun 2009 masyarakat Kota Padang mayoritas tidak mendapat peringatan apa – apa dari pemerintah tentang apakah gempa tersebut berpotensi tsunami atau tidak. Umumnya masyarakat hanya mengungsi ketika goncangan gempa dirasakan sangat kuat, dan menurut pengetahuan mereka berarti berpotensi tsunami. Ini sesuai dengan perkataan salah seorang warga:
“Tidak ada peringatan dari pemerintah, yang jelas banyak orang yang lari menyelamatkan diri ke tempat yang tinggi. Kan tahu sendiri gempanya besar sekali, ya kalau mau aman lari. Saat itu kalau terjadi tsunami kan bahaya”
Saat itu penduduk Kota Padang memilih mengevakuasi sendiri keluarga dan kerabat masing – masing ke tempat yang aman. Tidak adanya alat atau media yang menyampaikan informasi langsung ke seluruh masyarakat Kota Padang menunjukkan bahwa sistem peringatan dini yang telah di inisiasi oleh Pemko ternyata tidak berkinerja baik di lapangan saat terjadi bencana gempa tersebut. Adanya wacana menggunakan masjid – masjid sebagai tempat penyebarluasan informasi bencana sampai sekarang juga belum berfungsi dengan baik. Ketika hal ini ditanyakan ke BPBD Kota Padang, mereka menjawab:
“Memang sistem peringatan dini belum menyentuh seluruh masyarakat yang ada di Kota Padang, kita lagi mempersiapkannya secara bertahap kok, ada keterbatasan dana”
gempa yang sudah beberapa kali terjadi di Kota Padang seharusnya membuat pemerintah bergerak lebih cepat untuk membenahi sistem peringatan dini ini. Sebagai upaya pencegahan dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, sistem peringatan dini yang bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat menjadi keharusan yang tidak bisa di tawar lagi apalagi dengan tingginya potensi ancaman bencana gempa dan tsunami di Kota Padang.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian dari hasil penelitian dan pembahasan mengenai evaluasi kebijakan penanganan bencana gempa dan tsunami di Kota Padang, peneliti menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Pemerintah Kota Padang secara garis besar sudah mulai memperhatikan faktor kesiapsiagaan sebagai unsur penting dalam penanggulangan bencana dengan telah diinisiasinya berbagai program kesiapsiagaan. Namun mayoritas program yang dibuat masih pada tahap perencanaan dan belum dimulai. Paradigma penanggulangan bencana oleh Pemerintah Kota Padang masih banyak terfokus pada tahapan tanggap darurat. Selain itu, masih tergantungnya Pemerintah Kota Padang kepada LSM juga menjadi kendala tersendiri yang memperlihatkan bahwa kapasitas Pemerintah Kota Padang dalam meningkatkan kesiapsiagaan masih perlu ditingkatkan lagi. Di sisi lain koordinasi oleh BPBD Kota Padang sebagai leading sector penanggulangan bencana masih lemah karena banyak instansi masih bergerak sendiri – sendiri dalam penanggulangan bencana terutama aspek kesiapsiagaan
2. Dari hasil analisis, secara umum edukasi masyarakat sudah mulai dilakukan, walaupun belum ada pemerataan karena edukasi masih difokuskan pada institusi pendidikan seperti sekolah, padahal masih banyak unsur masyarakat lain yang membutuhkan edukasi. Sementara itu pembenahan fasilitas kritis masih terus dilakukan, mengingat kerentanan Kota Padang yang tinggi terhadap ancaman gempa dan tsunami. Kendala yang ditemui oleh Pemerintah Kota Padang dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat adalah masih banyak bangunan yang rentan, jalur dan lokasi evakuasi yang belum memadai serta sistem peringatan dini yang belum dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Kota Padang secara luas.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas penulis akan memberikan saran untuk upaya Pemerintah Kota Padang untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana gempa dan tsunami:
1. Pemerintah perlu merubah paradigma dalam penanggulangan bencana dengan lebih fokus pada aspek kesiapsiagaan. Program yang terkait dengan upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat perlu di perlu diperbanyak. Pemerintah Kota Padang disarankan untuk tidak terlalu tergantung dengan LSM dengan memperbaiki kapasitas lembaga maupun SDM dalam penanggulangan bencana terutama pada tahap pencegahan. Selain itu, koordinasi antar masing – masing lembaga penanggulangan bencana perlu diperkuat dengan mengoptimalkan fungsi BPBD Kota Padang sebagai koordinator.