• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian yang Relevan

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 46-50)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.7 Hasil Penelitian yang Relevan

beberapa indikator untuk dijadikan parameter yang digunakan dalam mengukur kesiapsiagaan masyarakat adalah:

1. Pengetahuan dan sikap terdiri dari empat variabel, yaitu: a. Pemahaman tentang bencana alam

b. Pemahaman tentang kerentanan lingkungan

c. Pemahaman tentang kerentanan bangunan fisik dan fasilitas-fasilitas penting untuk keadaan darurat bencana

d. Sikap dan kepedulian terhadap resiko bencana

2. Rencana untuk keadaan darurat diterjemahkan menjadi delapan variabel, yaitu:

A. Organisasi pengelola bencana, termasuk kesiapsiagaan bencana B. Jalur dan Lokasi Evakuasi

C. Sistem Peringatan Dini

D. Rencana Pertolongan pertama, penyelamatan, keselamatan dan keamanan ketika terjadi bencana

E. Peralatan dan perlengkapan evakuasi

F. Fasilitas-fasilitas penting untuk keadaan darurat G. Edukasi dan simulasi evakuasi. (LIPI, 2006, p. 12).

2.7 Hasil Penelitian yang Relevan

Hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini dijelaskan sebagai berikut :

A. Peneliti: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Judul Penelitian: Kajian Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Mengantisipasi Bencana Gempa dan Tsunami di Kabupaten Aceh Besar, Kota Bengkulu dan Kota Bengkulu, Tahun 2006. Temuan Penting Penelitian:

1. Di Kabupaten Aceh Besar

a. Hasil survei untuk ketiga komunitas yaitu rumah tangga, sekolah dan pemerintah menjadi dasar perhitungan indeks kesiapsiagaan setiap kelompok komunitas. Indeks pada setiap komunitas merupakan gabungan dari kelima parameter yang disepakati menjadi ukuran kesiapsiagaan tiap komunitas yaitu: Pengetahuan dan sikap, Kebijakan

  dan arahan, Rencana tanggap darurat, Sistem peringatan dan Mobilisasi sumber daya. Berdasarkan hasil perhitungan mengenai kesiapsiagaan masyarakat perdesaan Aceh dalam mengantisipasi bencana, angka indeks total yang diperoleh adalah 52, atau dapat dikategorikan sebagai kondisi kurang siap.

b. Indeks sistem peringatan dini pada semua komunitas menunjukkan bahwa masyarakat masih kurang siap baik dalam penyediaan sistem peringatan, maupun merespons jika mendengar tanda peringatan tersebut. Sampai sekarang, sistem peringatan terhadap akan terjadinya bencana tsunami belum tersedia di lokasi kajian, meskipun keterlambatan mengetahui adanya bencana, telah banyak menyebabkan korban jiwa di daerahnya. Selama ini masyarakat tidak menyadari bahwa daerahnya rawan bencana, sampai bencana tsunami memusnahkan semuanya. Karena keawaman masyarakat dalam hal bencana, maka satu-satunya peringatan yang dimiliki oleh sebagian komunitas merupakan gerakan reflek masyarakat untuk menyelamatkan diri ke tempat yang dianggap aman dalam waktu yang sangat singkat. Karena pengalaman tersebut sebagian komunitas sepakat tentang pentingnya sistem peringatan yang dapat dijadikan pedoman untuk mengurangi resiko bencana. Sedangkan nilai indeks mobilisasi sumber daya yang merupakan nilai parameter terendah untuk semua komunitas (kurang dari 40), menunjukkan keadaan masyarakat yang belum siap untuk menggerakkan kesiapsiagaan. Hal ini lebih disebabkan oleh masih tingginya ketergantungan kehidupan masyarakat pada pihak luar, sehingga kurang memperhatikan kebutuhan untuk meningkatkan kesiapsiagaan, kecuali mendapat bantuan dari pihak lain.

2. Di Kota Bengkulu:

a. Hasil kajian menggambarkan bahwa Kota Bengkulu termasuk di dalam kategori kurang siap untuk mengantisipasi bencana alam, diindikasikan dari indeks kesiapsiagaan kota ini yang baru mencapai angka 51 dari

  didasarkan pada kekurang siapan semua stakeholders utama, yaitu: rumah tangga, komunitas sekolah dan pemerintah. Pemerintah, meskipun menduduki posisi tertinggi dengan nilai indeks sebesar 54, juga masih termasuk dalam kategori kurang siap. Rumah tangga yang merupakan cerminan dari masyarakat Kota Bengkulu mempunyai indeks kesiapsiagaan sebesar 51, berada pada posisi ke dua diantara dua stakeholders lainnya. Sedangkan komunitas sekolah, yang seharusnya merupakan sumber pengetahuan bagi masyarakat, ternyata paling kurang siap, indeks kesiapsiagaannya hanya mencapai angka 48 atau paling rendah, jika dibandingkan dengan rumah tangga dan pemerintah Kota Bengkulu.

b. Kurangnya kesiapsiagaan masyarakat Kota Bengkulu juga berkaitan dengan masih minimnya dukungan dari stakeholders pendukung. Analisa mengungkapkan bahwa dukungan dari stakeholders

pendukung, seperti: kelembagaan masyarakat, LSM dan Organisasi Non Pemerintah (ORNOP), kelompok profesi dan pihak swasta masih sangat terbatas. Meskipun di Kota Bengkulu terdapat banyak LSM, belum satupun LSM yang konsen dengan kesiapsiagaan masyarakat untuk mengantisipasi bencana. Peran LSM-LSM selama ini masih terbatas pada penanganan korban pasca bencana, seperti yang terjadi pada bencana gempa tahun 2000 dan banjir yang sering melanda kota ini pada musim hujan.

3. Di Kota Padang:

a. Hasil kajian kesiapsiagaan menghadapi bencana yang dilakukan di Kota Padang menunjukkan nilai indeks kesiapsiagaan sebesar 63,55. Nilai indeks tersebut merupakan nilai indeks gabungan antara nilai indeks pemerintah, komunitas sekolah dan nilai indeks rumah tangga dengan bobot masing-masing stakeholder yang hampir sama. Bobot untuk nilai indeks pemerintah sebesar 35 persen, untuk masyarakat (rumah tangga) sebesar 35 dan untuk komunitas sekolah sebesar 30 persen. Hal itu didasarkan pada pertimbangan bahwa kesiapsiagaan khususnya pada„tahap tanggap darurat apabila terjadi bencana, maka

  yang akan bertindak paling awal adalah masyarakat. Nilai indeks kesiapsiagaan kota Padang (63,55) termasuk dalam kategori hampir siap. Namun jika dicermati lebih lanjut, nilai indeks masing-masing stakeholder menunjukkan perbedaan yang cukup berarti. Nilai indeks pemerintah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan nlai indeks komunitas sekolah dan rumah tangga. Nilai indeks pemerintah sebesar 75 dan termasuk dalam kategori siap, sedangkan indeks pada komunitas sekolah dan rumah tangga masing-masing 59 dan 56, masuk dalam kategori hampir siap.

b. Kendatipun demikian tingginya nilai indeks pemerintah ini perlu ditinjau implimentasinya di lapangan. Semua indikator kesiapsiagaan bencana, terutama dari parameter rencana tanggap darurat dan mobilisasi sumber daya telah terpenuhi, akan tetapi pelaksanaan di lapangan belum optimal, terlihat dari masih timpangnya parameter indeks kesiapsiagaan pemerintah kota dan kecamatan. Hal yang perlu mendapat perhatian Pemerintah Kota Padang untuk lebih memaksimalkan implementasi rencana kesiapsiagaan menghadapi bencana di lapangan adalah optimalisasi peran dan fungsi Satlak. Pemerintah Kota Padang telah membentuk Satlak dengan SK walikota. Organisasi Satlak ini terdiri dari berbagai unsur dari instansi pemerintah kota, LSM dan organisasi profesi. Meskipun telah terbentuk, Satlak Kota Padang belum optimal melaksanakan fungsinya.

c. Berbagai upaya dan kegiatan tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana yang dilaksanakan di Kota Padang dalam beberapa tahun terakhir ini dikoordinir oleh salah satu dinas pemerintah kota, yaitu Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana. Secara organisatoris, Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Padang mempunyai kendala untuk melakukan koordinasi, karena kapasitas kelembagaan tidak bisa secara resmi melakukan koordinasi dengan instansi lainnya di jajaran pemerintah kota. Jika melakukan koordinasi,

  sekertaris kota (sekot). Jika peran Satlak dioptimalkan, maka fungsi koordinasi tersebut menjadi tanggung jawab Satlak dan secara kelembagan menjadi wewenangnya.

B. Peneliti: Masyarakat Peduli Bencana Indonesia (MPBI) dan UNESCO, Judul Penelitian: Kajian Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Mengantisipasi Bencana Gempa dan Tsunami di Nias Selatan, Tahun 2007. Temuan Penting:

a. Kesiapsiagaan masyarakat di Kecamatan Teluk Dalam yang diwakili oleh Desa Lagundri, Kelurahan Teluk Dalam dan Bawomataluo masuk dalam kategori hampir siap. Posisi ini berada tingkatan ketiga kesiapsiagaan menghadapi bencana di bawah kategori sangat siap dan siap. Dari ketiga target kelompok kajian ini hanya individu/rumah tangga saja yang pada tingkat siap, sedangkan aparat pemerintah dan komunitas berada pada tingkat kurang siap.

b. Sumberdaya manusia pada pemerintahan lokal terlihat kurang mampu dalam menangani permasalahan gempa bumi beberapa tahun lalu. Hal ini mengakibatkan tingkat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah menjadi bertambah rendah. Dana kuantitatif dan data kualitatif menegaskan bahwa pemerintah kurang mampu memobilisasi penanggulangan bencana, factor birokrasi dimana inisiatif menunggu atasan mereka menjadi masalah klasik.

c. Di sisi lain kelompok – kelompok masyarakat sudah pada tahap frustasi menghadapi pemerintah setempat, hal itu dikarenakan pengalaman penanganan bencanan alam Tahun 2005 hingga penelitian ini dilaksanakan dirasakan kurang adil. Kekuatan social masyarakat lemah dalam menghadapi pemerintah, karena kekuataan riil pada masyarakat di Nias Selatan hanya berada sampai batas desa.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 46-50)

Dokumen terkait