• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA A. Kecemasan

C. Anak Autis 1. Pengertian Autis

2. Gejala Autisme

Gejala autisme pada anak muncul saat anak berusia dua atau tiga tahun, khas dengan adanya keterlambatan dan penyimpangan perkembangan komunikasi, interaksi sosial, perilaku, serta keterampilan tertentu. Menurut analisa para ahli, anak-anak yang di diagnosis mengalami autis pada usia 2 atau tiga tahun sebenarnya telah menunjukkan gejala-gejala pada tahun pertama bahkan sejak lahir ( http://www.quackwatch.com/03HealthPromotion/immu/autism.html , 2001). Dalam perkembangannya yang normal, seorang bayi mulai bisa berinteraksi dengan ibunya pada usia tiga sampai empat bulan. Bila ibu merangsang bayinya dengan menggerincingkan mainan dan mengajak berbicara, maka bayi tersebut akan merespon dan bereaksi dengan ocehan serta gerakan. Semakin lama bayi semakin responsif terhadap rangsang dari luar seiring dengan berkembangnya kemampuan sensorik. Pada umur enam sampai delapan bulan bayi sudah bisa berinteraksi dan memperhatikan orang yang mengajaknya bermain dan berbicara. Hal ini tidak muncul atau sangat kurang pada bayi autistik. Bayi bersikap acuh tidak acuh, seakan-akan menolak interaksi dengan orang lain dan lebih suka bermain dengan “dirinya sendiri” atau dengan mainannya (Yusuf, 2003).

Purwati (2005) menjelaskan gejala yang dialami anak autisme dapat berupa gejala gangguan perilaku dan gangguan intelektual, dan dapat disertai oleh gangguan fisik. Gangguan perilaku yang mencolok ialah interaksi dan hubungan yang abnormal terhadap lingkungan atau sosial.

Anak kurang menunjukan respon, tidak menikmati sentuhan fisik dan menghindari kontak mata (pandangan). Pada usia dua sampai tiga tahun anak tidak mancari orang tuanya untuk bermanja – manja, dan dengan bertambahnya usia, abnormalitas lainnya muncul misalnya tidak bermain dengan anak lain. Pada usia remaja individu mempunyai hubungan yang kurang pas, kurang sadar pada opini orang lain atau perasaan orang lain. Komunikasi verbal (bahasa) dan non verbal juga terganggu. Bila kemampuan bicara berkembang terdapat ketidaknormalan, seperti echolalia (mengulangi kata seperti burung beo) dan neologisme (“kata baru”). Anak autis kurang mampu bermain imajinatif (menggandai, misalnya ia sebagai pengemudi mobil balap) hal ini mungkin karena kurang berkembangnya pikiran simbolik pada individu. Perilaku motorik yang sering dijumpai ialah anak yang suka berputar – putar, jalan jinjit, atau bertepuk tangan.

Anak autis mempunyai ritual yang stereotip dan bila digangu menyebabkan distress dan kadang ia menentang. Mereka sering terikat pada objek–objek yang “sepele” misalnya kaleng. Letupan emosional sering terjadi, misalnya marah, gelisah atau cemas, dan hal ini dapat dicetuskan oleh masalah yang kecil. Anak autis juga mempunyai masalah dengan tidur, buang air besar dan buang air kecil. Epilepsi didapatkan pada sekitar 15 % pederita remaja, dan biasanya ringan. Penderita autis ada yang mengalami gangguan pada fungsi motorik kasar dan halus dan gangguan ini lebih berat pada mereka dengan IQ yang lebih rendah.

Neale dkk (Kuwanto & Natalia, 2001) mengatakan ada beberapa gejala gangguan perkembangan pada penyandang autisme yang sering dijumpai, akan tetapi gejala-gejala tersebut tidak harus ada pada semua anak penyandang autis. Pada penyandang autis yang berat mungkin hampir semua gejala itu ada, namun pada kelompok yang tergolong ringan hanya terdapat sebagian dari gejala-gejala tersebut. Adapun gejala-gejala tersebut yaitu:

a. Gangguan dalam bidang komunikasi verbal maupun non verbal meliputi:

1) Terlambat bicara

2) Berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti orang lain 3) Bila kata-kata mulai diucapkan, ia tidak mengerti artinya 4) Bicara tidak dipakai untuk komunikasi

5) Ia banyak meniru dan membeo (echolalia)

6) Beberapa anak sangat pandai menirukan beberapa nyanyian, nada maupun kata-katanya, tanpa mengerti artinya, sebagian dari anak-anak ini tetap tidak dapat bicara sampai dewasa.

7) Bila menginginkan sesuatu, ia menarik tangan yang terdekat dan mengharapkan tangan tersebut melakukan sesuatu untuknya.

b. Gangguan dalam bidang interaksi sosial 1) Menolak/menghindari tatapan mata 2) Tak mau menengok bila dipanggil 3) Seringkali menolak untuk dipeluk

4) Tak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang lain, lebih asik main sendiri

5) Bila didekati untuk diajak bermain, ia malah menjauh. c. Gangguan dalam bidang perilaku

1) Pada anak autistik terlihat adanya perilaku berkelebihan (exces) atau kekurangan (deficit). Contoh perilaku yang berlebihan adalah: adanya hiperaktivitas motorik, seperti tidak bisa diam, jalan mondar-mandir tanpa tujuan yang jelas, melompat-lompat, mengulang-ulang suatu gerakan tertentu. Contoh perilaku yang kekurangan adalah: duduk diam dengan tatapan kosong, melakukan permainan yang sama/monoton, sering duduk diam terpukau oleh sesuatu hal, misalnya benda yang berputar.

2) Kadang-kadang ada kelekatan pada benda tertentu yang terus dipegangnya dan dibawa kemana-mana.

3) Perilaku yang ritualistik

d. Gangguan dalam bidang perasaan atau emosi

1) Tidak dapat ikut merasakan yang dirasakan orang lain, misalnya melihat anak menangis ia tidak merasa kasihan melainkan merasa terganggu dan anak yang menangis itu mungkin didatangi dan dipukul.

2) Kadang-kadang tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah-marah tanpa sebab yang nyata.

3) Sering mengamuk tak terkendali, terutama bila tidak mendapatkan apa yang diinginkan, ia bisa menjadi agresif destruktif.

e. Gangguan dalam bidang persepsi sensoris

1) Mencium-cium atau menggigit mainan atau benda-benda apa saja 2) Bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga

3) Tidak menyukai rabaan atau pelukan

4) Merasa sangat tidak nyaman bila dipakaikan pakaian dari bahan kasar.

Sampai saat ini belum ada suatu pemeriksaan tertentu untuk memperkirakan bahwa seorang anak adalah penyandang autisme. Untuk diagnosis, hampir seluruh dunia menggugunakan kriteria DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourt Edition) atau dapat juga digunakan kriteria ICD-10 (International Classification of Disease, Tenth Edition). Selain itu sekarang dikembangkan tes yang dapat digunakan untuk mendiagnosis autisme pada anak yaitu tes Childhood Autism Rating Scale (CARS), Autism Diagnostic Observation Schedule

(ADOS) dan Checklist for Autism in Toddlers (CHAT) (www.autism-society.org, 2003).

Dokumen terkait