TINJAUAN PUSTAKA A. Kecemasan
C. Anak Autis 1. Pengertian Autis
3. Penyebab Utama Autisme
Penyebab autisme pada anak belum diketahui dengan pasti. Beberapa ahli mengungkapkan terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan
kerusakan usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis (Judarwanto, 2004).
Berdasarkan berbagai literatur, penyebab seorang anak menyandang autis dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Penyebab psikologis
Ketika autisme pertama kali ditemukan tahun 1943 oleh Leo Kanner, autisme diperkirakan disebabkan pola asuh yang salah. Kasus-kasus perdana banyak ditemukan pada keluarga kelas menengah dan berpendidikan, yang orang tuanya bersikap dingin dan kaku pada anak (emotional refrigerator). Kanner beranggapan sikap keluarga tersebut kurang memberikan stimulasi bagi perkembangan komunikasi anak yang akhirnya menghambat perkembangan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial anak. Bruno Bettelheim, seorang ahli psikoanalisis mengungkapkan hal yang sama, autisme disebabkan oleh pengasuhan ibu yang tidak hangat dan sikap penolakan terhadap anak sehingga anak cenderung menarik diri dan sibuk dengan dunianya. Charles Fester, ahli behavioristik berpendapat bahwa anak menderita autisme karena orangtua tidak memberikan perhatian dan ganjaran saat anak mengerjakan perilaku sosial yang tepat (Alloy dkk, 2004). Margareth Mahler, seorang peneliti anak autistik mengatakan anak-anak autistik mengalami kerusakan yang parah pada egonya karena sejak lahir tidak mampu dan tidak tertarik menjadikan ibu atau orang-orang lain sebagai patner dalam melakukan eksplorasi terhadap dunia luar dan dunia dalamnya. Mereka juga mengalami regresi ke arah tahap kehidupan yang
paling primitif serta menutup diri dari kehidupan yang menuntut respon-respon emosional dan sosial (Ginanjar, 2007).
b) Penyebab neurobiologis
Pertumbuhan atau perkembangan sel-sel otak sangat pesat terjadi pada periode kehamilan, sehingga segala gangguan atau penyakit pada ibu tentunya dapat berpengaruh pada janin. Pada saat pembentukan sel-sel tersebut timbul gangguan dari virus (rubella, toxoplasma, herpes), jamur (candida), oksigenasi, keracunan dari makanan, sehingga pertumbuhan sel-sel otak dibeberapa tempat menjadi tidak sempurna (Kuwanto & Natalia, 2001)
Proses kelahiran yang lama (partus lama) dimana terjadi gangguan nutrisi dan oksigenasi pada janin dapat memicu terjadinya autisme. Setelah bayi lahirpun (post partum) faktor pemicu tersebut masih ada, misalnya : infeksi ringan sampai berat pada bayi, imunisasi MMR dan hepatitis B (mengenai 2 jenis imunisasi ini masih kontroversial), logam berat, MSG, zat pewarna, zat pengawet, protein susu sapi (kasein) dan protein tepung terigu (gluten). Tumbuhnya jamur yang berlebihan di susu anak sebagai akibat dari pemakaian antibiotika yang berlebihan, dapat menyebabkan terjadinya ‘kebocoran’ usus (leaky gut syndrome) sehingga pencernaan kasein dan gluten tidak sempurna. Kedua protein ini hanya terpecah sampai
polipeptida. Polipeptida yang timbul dari kedua protein tersebut terserap kedalam aliran darah, masuk ke otak dan dirubah oleh reseptor opioid
fungsi otak terganggu. Fungsi otak yang terkena biasanya adalah fungsi kognitif, reseptif, atensi dan perilaku (Purwati, 2005)
Menurut Kuwanto dan Natalia (2001) ada tiga lokasi di otak penyandang autisme yang mengalami gangguan, yaitu gangguan pada
cerebellum (otak kecil), sistem limbik dan lobus parietalis. Berdasarkan MRI (Magnetic Resonance Imaging) yang dilakukan oleh Eric Courchesnes pada penyandang autisme ditemukan hipoplasia cerebellum (pengecilan
cerebellum) terutama pada lobus VI-VII. Cerebellum berperan dalam mengatur keseimbangan, proses sensorik, berpikir, daya ingat, belajar berbahasa dan perhatian. Kerusakan pada area ini membuat penyandang autisme tidak mampu untuk mengalihkan perhatiannya dengan cepat bila sedang memperhatikan sesuatu. Selain itu ditemukan kekurangan jumlah sel
purkinye, yaitu sel yang mempunyai kandungan serotonin tinggi. Serotonin
berfungsi untuk pengendalian mood, kontrol makan, tidur dan bangun serta rasa nyeri. Kerja serotonin terkait dengan kerja dopamin. Fungsi dopamin
adalah untuk mengendalikan gerakan, perhatian, dan proses belajar. Kurangnya sel purkinye menyebabkan keseimbangan antara serotonin dan
dopamin terganggu sehingga menyebabkan kegagalan pada peningkatan minat dan masalah pengendalian mood serta menyebabkan kacaunya jalur implus di otak. Pemeriksaan MRI juga menunjukkan 43% penyandang autisme mengalami pengurangan jumlah sel dan pelebaran lekukan otak pada lobus parietalis. Gangguan pada lobus parietalis ini menyebabkan terbatasnya perhatian terhadap lingkungan. Gangguan pada sistem limbik,
khususnya terjadi pada area yang disebut amigdala dan hippocampus.
Kelainan itu diperkirakan terjadi semasa janin. Tugas amigdala adalah mengontrol fungsi agresi dan emosi. Kelainan pada amigdala menyebabkan penyandang autisme kurang dapat mengendalikan emosinya sehingga mereka sering mengamuk bila tidak mendapat yang diinginkan, mendadak tertawa, menanggis ataupun marah tanpa sebab, dan menunjukkan rasa takut yang tidak lazim. Area hippocampus berperan dalam fungsi belajar dan daya ingat. Gangguan pada area ini menyebabkan penyandang autisme kesulitan dalam menyimpan informasi baru dalam memorinya, juga bisa mengakibatkan terjadinya hiperaktivitas dan perilaku aneh yang diulang-ulang.
Penelitian-penelitian mengenai kelainan otak tersebut terus berlanjut. Courchesne dkk yang sebelumnya menyatakan adanya penurunan jumlah
purkinye pada cerebellum sebagai penyebab autisme, dalam penelitian lanjutannya menghasilkan hipotesis baru. Para peneliti tersebut berpendapat bahwa pada saat lahir bayi autistik memiliki ukuran otak yang normal. Namun setelah mencapai usia dua atau tiga tahun ukuran otak mereka membesar melebihi normal, terutama pada lobus frontalis dan otak kecil yang disebabkan oleh pertumbuhan white matter (area putih) dan gray matter (area abu-abu) yang berlebihan. Sementara sel saraf yang ada lebih sedikit dibandingkan pada otak normal dan kekuatannya juga lebih lemah. Kondisi inilah yang tampaknya berkaitan dengan gangguan pada perkembangan kognitif, bahasa, emosi dan interaksi sosial (Ginanjar, 2007)
c) Penyebab genetik
Sampai saat ini faktor genetik diduga berpengaruh kuat atas munculnya kasus autisme. Siegel (2003) menuliskan, dari penelitian-penelitian yang pernah dilakukan pada kelompok besar, diketahui bahwa autisme disebabkan oleh beberapa gen, bukan hanya satu gen saja. Anak-anak dalam satu keluarga tidak memiliki gen yang persis sama kecuali pada kembar identik. Oleh sebab itu apabila dalam satu keluarga terdapat anak yang menderita autisme, saudara kandungnya (siblings) belum dapat di pastikan mengalami hal yang sama.
Menurut Siegel 10-25 % saudara sekandung (siblings) dari anak autis akan mengalami kesulitan berkomunikasi atau kesulitan bersosialisasi. Hal ini berarti anak tersebut memiliki beberapa gen yang sama seperti yang dimiliki oleh saudaranya yang menderita autisme. Seorang anak kembar tidak identik biasanya memiliki 50 % gen yang sama dengan saudara kembarnya. Oleh sebab itu bila seorang anak kembar tidak identik menderita autisme maka kemungkinan saudara kembarnya menderita autisme sebesar 30-45 %. Berbeda dengan anak kembar identik, mereka memiliki gen yang persis sama. Apabila satu dari kembar identik menderita autisme, maka 90-95 % saudara kembarnya akan menderita autisme. Siegel menambahkan, bila satu keluarga memiliki anak laki-laki autisme, kemungkinan anak yang lahir berikutnya mengalami autisme adalah 3 %. Apabila anak yang pertama menderita autisme adalah perempuan, maka
kemungkinan anak yang lahir berikutnya akan menderita autisme diatas 12%.
Awalnya para ahli menduga kromosom X-rapuh (fragile-X chromosom), sebagai penyebab autisme. Pada penelitian selanjutnya ditemukanpula keganjilan pada kromosom 15 dalam gen penderita autisme, bahkan diduga seluruh kromosom penderita autisme mengalami gangguan kecuali kromosom 14 (Alloy dkk, 2002).
Scherer, peneliti dari Universitas Toronto, Kanada bersama para ilmuwan dari sembilan negara melakukan penelitian dengan mengumpulkan gen dari 1.168 keluarga. Tiap-tiap keluarga memiliki minimal dua anak autis. Scherer memeriksa kromosom X yang berjumlah 23, ternyata pada masing-masing kromosom ada beberapa gen yang abnormal dan pada kromosom nomor 11 yang paling menonjol kelainannya.. Berdasarkan fakta ini Scherer berkesimpulan bahwa 90 % penyebab autisme adalah genetik. Melalui penelitian itu, Scherer berharap bisa mengetahui keterkaitan antara gen-gen dan berapa banyak gen abnormal yang terlibat. Penelitian tersebut di danai oleh Autism Genome Project cabang Kanada. Dokter Bridget Fernandez selaku ketua Autism Genome Project memperkuat temuan Scherer. Menurut beliau autisme seperti juga asma berkaitan dengan faktor keturunan atau genetik. Jika autisme tidak muncul dalam satu jenjang keturunan, artinya autisme tidak diturunkan dari orangtua, bisa juga melalui garis dari buyut (Kelana dan Larasati, 2007)
Selain itu sejak lima tahun lalu (sejak 2002) para ilmuwan yang tergabung dalam Autism Genome Project melakukan penelitian terhadap keluarga-keluarga yang memiliki beberapa kasus autis. Mereka mengumpulkan bahan riset mereka dan mengujinya. Penelitian ini mempelajari 1200 keluarga dengan melibatkan 120 ilmuwan dari 50 lembaga yang tersebar dilebih dari 19 negara. Seperti dilaporkan dalam jurnal Nature Genetics, penelitian ini menemukan kromosom 11 dan gen khusus yang bernama Neurexin sebagai penyebab autis. Neurexin merupakan bagian dari keluarga gen yang membantu komunikasi sel syaraf. Menurut para ilmuwan, gen ini memainkan peran penting dalam terjadinya sindrom autis. Mereka menggunakan teknologi chip gen untuk melihat kesamaan genetik di antara orang-orang autis. Proyek ini didanai oleh organisasi nirlaba Autism Speak dan departemen kesehatan Amerika Serikat. (http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0702/19/145456.htm)
d). Penyebab Imunisasi
Judarwanto (2004) mengatakan berkembangnya informasi mengenai kandungan merkuri dan thimerosal dalam imunisasi dapat menyebabkan autisme, membuat banyak orangtua menolak pemberian imunisasi pada anak. Akibatnya anak tidak mendapatkan perlindungan imunisasi untuk menghindari penyakit-penyakit yang berbahaya seperti hepatitis B, Difteri, Tetanus, Pertusis, TBC dan sebagainya. Thimerosal atau thiomersal adalah senyawa merkuri organik atau dikenal sebagai sodium etilmerkuri thiosalisilat mengandung 49,6% merkuri. Bahan ini digunakan sejak tahun
1930, sebagai bahan pengawet dan stabilizer dalam vaksin, produk biologis atau produk farmasi lainnya. Thimerosal sangat efektif dalam membunuh bakteri dan jamur dan mencegah kontaminasi bakteri terutama pada kemasan vaksin multidosis yang telah terbuka. Pada dosis tinggi, merkuri dan metabolitnya seperti etilmerkuri dan metilmerkuri bersifat nefrotoksis
dan neurutoksis. Senyawa merkuri ini mudah sekali menembus sawar darah otak dan dapat merusak otak.
Pemberian vaksin MMR (measles, mumps, and rubella) jugadiduga dapat menyebabkan anak menjadi autis. Vaksin MMR menyebabkan kerusakan usus dan menyebabkan autis. Imunisasi MMR adalah imunisasi kombinasi untuk mencegah penyakit campak, campak Jerman dan penyakit gondong. Vaksin MMR biasanya diberikan pada anak berusia 16 bulan. Vaksin ini adalah gabungan vaksin hidup yang dilemahkan. Semula vaksin ini ditemukan secara terpisah, namun dalam beberapa tahun kemudian digabung menjadi vaksin kombinasi. Kombinasi tersebut terdiri dari virus hidup Campak galur Edmonton atau Schwarz yang telah dilemahkan, komponen Antigen Rubella dari virus hidup Wistar RA 27/3 yang dilemahkan dan Antigen gondongen dari virus hidup galur Jerry Lynn atau Urabe AM-9.
Banyak penelitian yang dilakukan secara luas ternyata membuktikan bahwa autisme tidak berkaitan dengan thimerosal, tetapi memang terdapat teori atau kesaksian yang menunjukkan bahwa Autisme berhubungan dengan thimerosal. Prof Dr Andrew Wakefield, konsultan gastroenterologis
pada Rumah Sakit Free Royal, London adalah salah seorang yang membenarkan bahwa vaksin MMR bisa menyebabkan autisme pada anak. Klaim ini didasarkan atas kasus 170 anak yang datang ke kliniknya. Anak-anak tersebut mengalami sindrom autisme dan penyakit usus setelah diinjeksi dengan vaksin ini. Beberapa orang tua penderita autisme di Indonesiapun berkesaksian bahwa anaknya terkena autisme setelah diberi imunisasi (Judarwanto, 2004). Sutadi (2004), wakil ketua yayasan autisme Indonesia mengakui terdapat beberapa keluhan dari sejumlah orang tua seputar keterlambatan bicara anaknya setelah divaksin MMR. Mental anak menurun dan kontak mata anak mereka menurun perlahan-lahan, namun menurutnya tidak semua anak yang diberi vaksin MMR akan menjadi autis. Semuanya tergantung pada si anak, ada anak yang beresiko tinggi untuk menderita autis ada yang tidak.
D. Perbedaan Kecemasan antara Ayah dan Ibu yang Memiliki Anak