• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Gejala Klinis Akibat Infeksi VNN

Keasaman (pH) sangat penting sebagai parameter kualitas air karena dapat mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di dalam air. Pengamatan harian yang dilakukan setelah infeksi virus VNN menunjukkan bahwa awal terjadinya gejala klinis pada ikan kerapu macan pada setiap perlakuan pH air adalah berbeda.

Ikan yang diinjeksikan virus pada perlakuan pH air yang berbeda mengalami gejala klinis abnormal paling cepat yaitu terjadi mulai hari ke-3 hingga terjadi kematian. Hal ini sesuai dengan studi yang dilakukan Chi (2001) yang menyatakan bahwa kematian pada ikan kerapu yang diinjeksikan oleh VNN pada ikan sehat dapat mencapai kematian hingga 100% dalam waktu 3 hari.

Pada hari ke-4 sampai hari ke-5 pada masing-masing ulangan, tanda-tanda ikan terinfeksi semakin jelas terlihat adanya beberapa ikan berenang tak menentu dan ikan mengapung dengan perut diatas disebabkan oleh pembengkakan gelembung renang (swim bladder), perubahan warna (discolouration) tubuh terlihat lebih gelap. Pada hari ke-6 mulai terlihat beberapa ikan yang lebih parah mengapung dengan posisi kepala mengarah ke permukaan air dan ekor ke arah bawah. Gejala klinisnya dapat dilihat dari Gambar 4.3 di bawah ini.

Gambar 4.3 a) Gerakan berenang ikan dengan posisi kepala di bawah. b) Gerakan berenang ikan tidak menentu. c) Pembengkakan gelembung renang pada ikan. d) Perubahan warna tubuh ikan menjadi lebih gelap.

4.4 Uji Hematologi

Pemeriksaan hematologi yang dilakukan dari masing-masing perlakuan menunjukkan hasil yang berbeda. Terjadi penurunan jumlah sel darah dari keadaan normal pada beberapa perlakuan. Hal ini disebabkan oleh pengaruh adanya serangan VNN pada darah dan mempengaruhi jumlah sel darah. Hasil pemeriksaan hematologi ikan kerapu macan yang diinjeksi VNN dapat dilihat dari Tabel 4.4 di bawah ini.

Tabel 4.4 Hasil Uji Hematologi

Keterangan: Jumlah leukosit normal : 150.000-300.000 sel/mm 3 Jumlah eritrosit normal : 1,3-3 juta sel/mm 3 Nilai hematokrit normal : 12-14%

Jumlah Hb normal : 30,8-45,5 g/dl

Berdasarkan Tabel 4.4 di atas dapat diketahui bahwa pada masing-masing perlakuan terjadi perubahan jumlah sel darah dari jumlah normal. Menurut Alamanda

et al., (2007), pada ikan yang terserang penyakit terjadi perubahan pada nilai

hematokrit, kadar hemoglobin, jumlah eritrosit dan jumlah leukosit. Penurunan jumlah leukosit terendah didapat pada perlakuan pH 7,0 yaitu 1.200 sel/mm3 dan diikuti pada perlakuan pH 7,5 sebesar 4.000 sel/mm3 dan pH 6,5 sebesar 7.400 sel/mm3, sedangkan jumlah leukosit tertinggi didapat pada perlakuan pH 8,5 sebesar 28.000 sel/mm3. Jumlah leukosit pada masing-masing perlakuan dibandingkan dengan jumlah leukosit normal sebesar 150.000-300.000 sel/mm3. Penurunan ini sebagai akibat dari kuatnya infeksi virus. Leukosit yang ada pada pembuluh darah sangat berkurang karena sebagian besar leukosit bergerak menuju jaringan-jaringan yang terinfeksi. Leukositosis terjadi apabila ada benda asing dalam darah. Jika virus terus menyerang, maka kekebalan tubuh menurun sehingga terjadi leukopenia. Ketidakmampuan sistem imunitas ikan dalam menghadapi infeksi virus, terlihat dari jumlah leukosit ikan yang

Perlakuan Hb (g/dl) PCV (%) Eritrosit (mm3) Leukosit (mm3) Po (kontrol) 44,0 12,0 2.300.000 264.000 pH 6,0 25,0 8,0 2.500.000 32.000 pH 6,5 17,2 6,0 2.570.000 7.200 pH 7,0 12,0 3,5 2.400.000 1.200 PH 7,5 13,5 4,6 2.450.000 4.000 pH 8,0 23,0 6,9 2.700.000 16.160 pH 8,5 25,2 7,8 2.840.000 28.000

menurun. Hasil ini sesuai dengan studi yang dilakukan Hendriyanto et al., (2007), mengenai infeksi KHV pada ikan mas dinyatakan bahwa kondisi ketidakmampuan sistem imunitas ikan dalam menghadapi infeksi ditandai dengan semakin menurunnya jumlah leukosit.

Jumlah eritrosit, pada masing-masing perlakuan didapat jumlah yang normal berkisar antara 2,30-2,84 juta sel/mm3 dirujuk dari jumlah eritrosit normal sebesar 1,3-3 juta sel/ mm3. Kadar hematokrit normal didapat pada perlakuan Po (kontrol) sebesar 12% dirujuk dari nilai hematokrit ikan normal sekitar 12-14% sedangkan pada perlakuan lainnya terjadi penurunan dengan kadar hematokrit berkisar antara 3,5-8,0%. Jumlah hematokrit terendah didapat pada perlakuan pH 7,0 sebesar 3,5%. Menurut Anderson (1996), menurunnya kadar hematokrit dapat dijadikan petunjuk mengenai rendahnya kandungan protein pakan, defisiensi vitamin atau ikan mendapat infeksi, sedangkan meningkatnya kadar hematokrit, menunjukkan ikan ada dalam keadaan stres. Apabila ikan terkena penyakit atau nafsu makannya menurun, nilai hematokrit darahnya menjadi tidak normal. Jika nilai hematokrit rendah maka jumlah eritrositpun rendah (Bastiawan et al., (2001) dalam Alamanda et al., 2007).

Jumlah hemoglobin tertinggi didapat pada perlakuan Po (kontrol) sebesar 44,0 g/dl dan terendah pada perlakuan pH 7,0 sebesar 12,0 g/dl. Jumlah normal hemoglobin ikan yaitu sekitar 30,8-45,5 g/dl. Dapat dikatakan, bahwa pada perlakuan kontrol jumlah hemoglobin normal sedangkan pada perlakuan yang diinjeksi virus VNN mengalami penurunan nilai hemoglobin dari nilai normal. Menurut Bastiawan et

al., (2001) dalam Alamanda et al., 2007), kemampuan mengikat oksigen dalam darah

tergantung pada jumlah hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah. Rendahnya kadar Hb menyebabkan laju metabolisme menurun dan energi yang dihasilkan menjadi rendah. Hal ini membuat ikan menjadi lemah dan tidak memiliki nafsu makan serta terlihat diam di dasar atau menggantung di bawah permukaan air. Menurut Irianto (2005), sejumlah ikan pada pH rendah, maka kapasitas hemoglobin dalam membawa oksigen juga rendah. Pada pH 7,4 laju oksigenasi empat kali lipat lebih cepat daripada laju deoksigenasi di insang. Pada pH rendah pada jaringan yang aktif mobilisasi, laju deoksigenasi dapat mencapai 400 kali daripada laju oksigenasi.

4.5Pemeriksaan Histopatologi

Gambaran histopatologi pada sampel otak masing-masing perlakuan memperlihatkan kerusakan yang sama (Gambar 4.5). Namun kerusakan terparah terjadi pada perlakuan pH 6,0 ditandai dengan adanya kongesti, peningkatan sel-sel glia, terbentuknya halo di sekitar sel glia dan neuron yang menunjukkan adanya edema serta ditemukan adanya vaskulitis. Dari pengamatan organ otak pada Po (kontrol) terlihat adanya sedikit peningkatan sel-sel glia dan kongesti di beberapa bagian otak walaupun struktur otak relatif masih terlihat normal. Pada perlakuan pH 6,5, pH 7,0, pH 7,5, pH 8,0 dan pH 8,5 tampak adanya kongesti yang disertai dengan adanya penggumpalan atau akumulasi sel-sel radang dan sel-sel glia yang berkelompok secara umum dan terjadinya vaskulitis.

Menurut Munday (1997), bahwa pada pengamatan mikroskop cahaya, histopatologi serangan VNN ditandai dengan vakuolisasi dan nekrosis dari sistem saraf pusat yang sangat konsisten pada berbagai spesies. Secara umum, anterior otak lebih parah terkena dampak dari pada sumsum tulang belakang posterior dan stadia larva lebih parah terkena dampak dari stadia remaja. Kerusakan yang paling khas adalah adanya vakuolisasi pada otak menyebabkan intrasitoplasmik. Namun posisi yang tepat tidak selalu dapat ditentukan. Kerusakan lainnya dicatat termasuk piknosis, sel basophilia, kariorrhesis sel saraf, granularitas neuropil dan akumulasi bahan eosinophilik dalam makrofag dan dinding pembuluh darah.

Menurut Moody & Horwood (2008), kerusakan biasanya kurang parah pada ikan lebih tua dari ikan remaja dan tergantung pada umur ikan. Keparahan vakualisasi bisa berkisar dari satu atau dua sel yang berpengaruh terhadap nekrosis ke seluruh daerah di otak. Secara umum, vakuolasasi terjadi lebih sering pada tektum optik dan otak kecil daripada di telencephalon dan medula oblongata. Infeksi virus pada sel-sel inang akan merangsang sistem pertahanan tubuh inang. Pada tingkat infeksi berat maka mekanisme pertahanan tubuh akan tertekan dan hewan inang dalam hal ini ikan akan mati (Irianto, 2005).

Gambar 4.5 Histopatologi Otak Ikan Kerapu Macan yang Diinjeksikan VNN pada Masing-Masing Perlakuan pH dengan Pewarnaan HE dan

Pembesaran 400x (V: Vasculitis, K: Kongesti, E:Edema, G:Sel glia, = 10 µm )

Dokumen terkait