• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

2.2. Seksio Sesarea Berulang

2.3.5. Gejala Klinis

Ruptura uteri harus selalu diantisipasi bila pasien memberikan suatu riwayat paritas tinggi, pembedahan uterus sebelumnya, seksio sesarea ataupun

miomektomi (Jang, 2011). Namun, ruptura uteri umumnya terjadi sewaktu persalinan sedang berlangsung. Banyak gejala yang akan tampak ketika ruptura uteri terjadi, yaitu (Williams, 2010):

 Nyeri abdomen yang tiba-tiba.  Adanya nyeri uterus yang menetap.

 Dijumpai takikardi dan hipotensi, yang merupakan indikasi dari kehilangan darah akut.

 Kontur uterus yang tiba-tiba berubah, kontraksi uterus dapat berhenti mendadak dan bunyi jantung janin tiba-tiba menghilang.

 Dijumpai abdomen yang sering sangat lunak dan adanya nyeri lepas.

2.3.6. Komplikasi

Syok hipovolemik karena perdarahan yang hebat dan sepsis akibat infeksi adalah dua komplikasi yang fatal pada peristiwa ruptura uteri. Syok hipovolemik terjadi bila pasien tidak segera mendapat infus cairan kristaloid yang banyak untuk selanjutnya dalam waktu yang cepat digantikan dengan transfusi darah segar (Gupta, 2011).

Infeksi berat umumnya terjadi pada pasien kiriman dimana ruptura uteri telah terjadi sebelum tiba di rumah sakit dan telah mengalami berbagai manipulasi termasuk periksa dalam yang berulang. Jika dalam keadaan yang demikian pasien tidak segera memperoleh terapi antibiotika yang sesuai, hampir pasti pasien akan menderita peritonitis yang luas dan menjadi sepsis pasca bedah. Sayangnya hasil pemeriksaan kultur dan resistensi bakteriologik dari sampel darah pasien baru diperoleh beberapa hari kemudian. Antibiotika spektrum luas dalam dosis tinggi biasanya diberikan untuk mengantisipasi kejadian sepsis. Syok hipovolemik dan sepsis merupakan sebab-sebab utama yang meninggikan angka kematian maternal dalam obstetrik. Namun, meskipun pasien bisa diselamatkan, morbiditas dan kecacatan akibat terjadinya ruptura uteri tetap tinggi (Gupta, 2011).

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Seksio sesarea didefinisikan sebagai suatu jalan untuk melahirkan janin dengan cara melakukan insisi pada dinding abdomen (laparatomi) dan dinding rahim (histerotomi) (Williams, 2010).

Pada tahun 1916, Cragin membuat suatu pernyataan yang terkenal di dunia obstetrik-ginekologik bahwa “Once a cesarean, always a cesarean”, dimana pada saat itu juga, insisi uteri klasik secara vertikal untuk melakukan seksio sesarea digunakan secara universal. Namun, J. Whitridge Williams (1917) beranggapan bahwa pernyataan Cragin merupakan suatu pernyataan yang berlebihan, sebagaimana tercantum di dalam Williams Obstetrics edisi ke-empat. Institusi obstetrik ternama secara subsekuens melaporkan bahwa ruptura uteri terjadi pada minimal 4 persen kejadian seksio sesarea dengan insisi klasik dan 0,5 persen kejadian seksio sesarea dengan insisi di segmen bawah rahim (Williams, 2010).

Angka kejadian seksio sesarea di dunia sudah meningkat sejak tiga dekade belakangan ini sehingga menimbulkan peringatan dan perlu studi yang lebih mendalam (Mukherjee, 2006). Menurut WHO (1985) dalam Mukherjee (2006), persetujuan umum untuk angka optimal pelaksanaan seksio sesarea dari WHO adalah 10-15%. Menurut Sachs (1999) dalam Mukherjee (2006), usaha mencapai angka rekomendasi dengan menurunkan jumlahnya bisa berbahaya. Angka seksio sesarea pada setiap negara berbeda-beda. Di Amerika, menurut Zelop (2004) dalam Mukherjee (2006) lebih dari seperempat (26,1%) dari seluruh kelahiran dilakukan dengan seksio sesarea. Sama halnya dengan Thailand, selama tahun 2003 hingga 2005, adanya peningkatan kasus seksio sesarea secara berurutan dimulai dari 27,31 % , 27,94% dan terakhir mencapai 29,26% (Chanthasenanon dkk, 2007). Di Indonesia, seksio sesarea umumnya dilakukan karena adanya indikasi medis tertentu, sebagai tindakan mengakhiri kehamilan dengan komplikasi. Di RSU Kisaran, pada tahun 2000 – 2004, proporsi persalinan dengan seksio sesarea tercatat 51,13%, sebanyak 723 kasus dari 1414 persalinan, dengan

indikasi medis 93,4% dan indikasi sosial 6,6% (Harahap, 2006). Jelas bahwa rekomendasi WHO tidak tercapai dengan angka rata-rata kejadian seksio sesarea diatas 20%. Namun, menurut Wagner (2000) dalam Mukherjee (2006) masih ada negara dengan angka seksio sesarea tidak jauh dari 10% seperti Swedia, Denmark dan Belanda.

Pada dasarnya, ada 4 indikasi umum untuk dilakukannya seksio sesarea yaitu : saat kelahiran bayi harus dilakukan secepatnya namun tidak dapat diinduksi; bila persalinan membahayakan ibu dan janin; dalam situasi gawat darurat yang membutuhkan persalinan segera dan saat persalinan pervaginam tidak memungkinkan. Secara spesifik, indikasi untuk seksio sesarea termasuk partus tak maju, disproporsi pelvik, malpresentasi, gawat janin, hipertensi pada kehamilan, ibu dengan gangguan plasenta, prolaps tali pusar, diabetes mellitus, partus gagal diinduksi, infeksi herpes, gangguan Rh, partus forcep gagal, dan juga seksio sesarea berulang.

Menurut Shamsad (2008) dalam penelitiannya mengenai indikasi seksio sesarea pada ibu hamil di Pakistan, dijumpai indikasi paling sering adalah akibat seksio sesarea berulang dengan nilai sebesar 20,5 %. Tidak jauh berbeda dengan penelitian di Thailand, indikasi seksio karena seksio berulang didapati hingga 29% pada 4252 kasus, diikuti dengan disproporsi sefalopelvik (24,64%). Dari gambaran diatas, kontribusi terbesar dalam angka seksio sesarea didapati dari seksio sesarea berulang dan didukung juga oleh indikasi lain. Terkhusus pada seksio sesarea berulang, menurut Thomas (2001) dalam Mukherjee (2006), sebenarnya hal ini dapat dicegah dengan vaginal birth after a previous CS (VBAC). Bahkan dikatakan lebih aman daripada seksio sesarea berulang secara rutin. Namun, pada kenyataan, antusiasme pelaksanaan VBAC sangatlah kurang.

Menurut Leveno (1999) dalam Williams (2010), terjadi peningkatan angka kejadian ruptura uteri dan morbiditas dan mortalitas perinatal pada pasien yang melakukan proses kelahiran secara pervaginam setelah menjadi proses seksio sesarea pada proses kelahiran sebelumnya, sehingga menyiratkan bahwa proses kelahiran secara pervaginam memiliki risiko lebih tinggi daripada dugaan sebelumnya. Namun, menurut Silver dkk. (2006) dalam Williams (2010), jika

dibandingkan dengan proses kelahiran secara pervaginam, proses kelahiran secara seksio sesarea juga memiliki banyak risiko. Beberapa diantaranya adalah komplikasi anestesi, perdarahan, kerusakan pada kandung kemih dan organ lainnya, infeksi pelvis, dan formasi adhesi, dimana risiko-risiko ini akan semakin berbahaya seiring dengan semakin berulangnya suatu kejadian seksio sesarea pada seorang ibu hamil. Meskipun berisiko tinggi, seksio sesarea berulang yang terencana tetap menjadi pilihan bagi banyak ibu hamil dengan alasan-alasan tertentu seperti rasa nyaman yang timbul karena sang ibu mengetahui dengan pasti kapan proses kelahiran terjadi dan adanya rasa takut dari ibu hamil akan kemungkinan terjadi perpanjangan proses kelahiran yang dapat berakibat fatal.

Berdasarkan uraian data di atas, maka penulis ingin melakukan penelitian tentang gambaran karakteristik pelaksanaan seksio sesarea berulang di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik dan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan pada Tahun 2012.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut : Bagaimana gambaran karakteristik pelaksanaan seksio sesarea berulang di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik dan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Pirngadi Kota Medan pada Tahun 2012.

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui angka kejadian seksio sesarea berulang dan indikasi pelaksanaan seksio sesarea berulang di RSUP H. Adam Malik dan RSUD Dr. Pirngadi, Medan.

1.3.2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui kecenderungan kunjungan ibu bersalin dengan seksio sesarea berulang berdasarkan data per bulan tahun 2012.

b. Untuk mengetahui distribusi proporsi ibu yang mengalami persalinan seksio sesarea berulang berdasarkan faktor sosiodemografi yang meliputi : umur, suku, tingkat pendidikan, pekerjaan dan sumber biaya.

c. Untuk mengetahui distribusi proporsi ibu yang mengalami persalinan seksio sesarea berulang berdasarkan faktor mediko-obstetri yang meliputi : paritas, jarak persalinan, riwayat obstetri jelek.

d. Untuk mengetahui distribusi proporsi ibu yang mengalami persalinan seksio sesarea berulang berdasarkan indikasi seksio sesarea.

e. Untuk mengetahui distribusi proporsi ibu yang mengalami persalinan seksio sesarea berulang berdasarkan lama rawatan rata-rata.

f. Untuk mengetahui distribusi proporsi ibu yang mengalami persalinan seksio sesara berulang berdasarkan keadaan ibu sewaktu pulang. g. Untuk mengetahui distribusi proporsi bayi yang lahir melalui

persalinan seksio sesarea berulang berdasarkan keadaan bayi sewaktu pulang.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yakni : 1.4.1. Bagi Peneliti

a) Sebagai tambahan wawasan serta kesempatan penerapan ilmu yang telah diperoleh selama mengikuti pendidikan di FK USU.

b) Sebagai pemenuhan tugas akhir pendidikan di FK USU. 1.4.2. Bagi Pelayanan Kesehatan

Dapat menjadi bahan masukan untuk mempertimbangkan pelaksanaan seksio sesarea berulang pada ibu hamil.

1.4.3. Bagi Masyarakat

a) Sebagai bahan masukan agar lebih memahami proses kelahiran seksio sesarea yang berulang.

b) Dapat menjadi masukan bagi pembaca tentang karakteristik pelaksanaan seksio sesarea berulang.

c) Dapat mempengaruhi pembaca untuk membuat pertimbangan dalam menentukan proses kelahiran selanjutnya secara seksio sesarea.

1.4.4. Bagi Dunia Pendidikan

a) Sebagai bahan referensi atau sumber data untuk penelitian sejenis berikutnya yang akan melakukan penelitian dengan menggunakan metode dan variabel yang lebih kompleks.

b) Sebagai bahan masukan bagi institusi pendidikan dokter, keperawatan dan kebidanan dalam proses belajar mengajar yang berhubungan dengan kejadian seksio sesarea berulang.

ABSTRAK

Seksio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus. Indikasi seksio sesarea meningkat pada waktu sekarang ini karena berkembangnya indikasi dan majunya tehnik operasi serta ampuhnya anestesi. Riwayat seksio sesarea berulang merupakan indikasi seksio sesarea tersering diikuti oleh disproporsi sefalopelvik pada ibu. Meski berisiko tinggi, seksio sesarea berulang tetap menjadi pilihan bagi banyak ibu hamil.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian secara retrospektif. Populasi dan sampel pada penelitian ini adalah seluruh ibu yang melahirkan secara seksio sesarea dengan riwayat seksio sesarea berulang di RSUP H. Adam Malik dan RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan pada tahun 2012 dengan jumlah sebanyak 167 orang. Data yang diperoleh selanjutnya diolah dengan menggunakan program SPSS dan dituangkan dalam bentuk tabel dan grafik.

Dari penelitian ini, diperoleh hasil bahwa karakteristik seksio sesarea berulang di kedua rumah sakit mengalami penurunan. Faktor sosiodemografi yang menduduki tertinggi merupakan kelompok usia risiko rendah (74,8%), suku Batak (49,7%), tingkat pendidikan SMA (75,4%), pekerjaan ibu rumah tangga (83,8%), sumber biaya JAMPERSAL (54,5%). Faktor mediko-obstetrik yang menduduki tertinggi merupakan kelompok paritas primipara (54,5%), tidak ada riwayat penyakit terdahulu (83,2%), jarak persalinan di atas 3 tahun (43,1%), dan tidak ada riwayat obstetrik buruk (65,9%). Indikasi yang menduduki tertinggi adalah indikasi medis (79%). Keadaan pulang yang menduduki tertinggi adalah ibu pulang berobat jalan (99,4%) dan bayi pulang sehat (95,3%).

Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan angka kejadian seksio sesarea berulang yang diharapkan berlanjut di tahun-tahun berikutnya dan faktor-faktor yang menjadi karakteristik dalam pelaksanaan seksio sesarea berulang diharapkan dapat diminimalisasi dengan pelayanan antenatal yang memadai.

ABSTRACT

Cesarean section is a surgical procedure used to deliver a baby through an incision in the mother's abdomen and a second incision in the mother's uterus. The indications for performing Cesarean section keep increasing due to the improvement on surgery techniques, various indications and the power of anaesthesia to minimize the pain. Repeated cesarean section is known as the primary indication, followed by cephalopelvic disproportion. Eventhough known for its high risks, repeated cesarean section still remains as the way of giving birth on most mothers

This is a descriptive research with a retrospective design using medical records. The sample are all mothers with history of previous cesarean section that give birth in H. Adam Malik Hospital and Dr. Pirngadi Hospital in 2012, totaling 167 people. After collecting the data, they are calculated and analyzed with SPSS Program and are shown in distribution tables and diagrams.

The result of the research show that there is a decrease rate of cesarean section throughout the year. The highest sociodemographic factors that cause repeated cesarean section was low-risk age group (74,8%), Bataknese (49,7%), high school graduates (75,4%), housewives (83,8%), national labor insurance (54,5%). The highest medical obstetrics factors that cause repeated cesarean section was primiparity (54,5%), no medical history (65,9%), more than 3 years birth interval (43,1%), and no bad obstetric history (65,9%). The highest indication factors that cause repeated cesarean section was medical indication (79%). 99,4% of the mothers were coming home healthy as an outpatient clinic and 95,3% of the babies were coming home healthy.

The decreasing result of the research was hoped to be continued throughout the years and all factors, which act as characteristcs for the implementation of repeated cesarean section, are hoped to be minimized with the adequate antenatal care.

KARAKTERISTIK PELAKSANAAN SEKSIO SESAREA BERULANG DI RSUP. H. ADAM MALIK DAN RSUD. DR. PIRNGADI KOTA MEDAN

Dokumen terkait