DAFTAR PUSTAKA
2.1.4. Klasifikasi Seksio Sesarea
Ada beberapa jenis seksio sesarea yaitu seksio sesarea klasik atau corporal yaitu insisi pada segmen atas uterus atau korpus uteri. Pembedahan ini dilakukan bila segmen bawah rahim tidak dapat dicapai dengan aman, bayi besar dengan kelainan letak terutama jika selaput ketuban sudah pecah. Seksio sesarea profundal (low cervical dengan insisi pada segmen bawah rahim) merupakan suatu pembedahan dengan melakukan insisi pada segmen bawah uterus (Prawiroharjo, 2006). Hampir 99 % dari seluruh kasus seksio sesarea memilih teknik ini karena memiliki beberapa keunggulan seperti kesembuhan lebih baik dan tidak banyak menimbulkan perlekatan.
2.1.5. Indikasi Seksio Sesarea 2.1.5.1. Indikasi Medis
Melahirkan dengan cara seksio sesarea sebaiknya dilakukan atas pertimbangan medis dengan memperhatikan kesehatan ibu maupun bayinya. Artinya, janin atau ibu dalam keadaan gawat dan hanya dapat diselamatkan jika persalinan dilakukan dengan jalan seksio sesarea, dengan tujuan untuk memperkecil terjadinya risiko yang membahayakan jiwa ibu dan bayinya (Scotts, 2002).
a. Faktor Janin
a. Bayi terlalu besar (fetal macrosomia)
Bayi besar akan dilahirkan dengan seksio sesarea karena sering mengakibatkan adanya cephalopelvic disproportion (Jazayeri, 2007).
b. Kelainan kongenital
Seksio sesarea merupakan indikasi dengan bayi yang memiliki kelainan, seperti hidrosefalus dengan pembesaran diameter biparietal (Williams, 2010).
c. Kelainan Letak Bayi i. Letak Sungsang
Ada kecenderungan melakukan seksio sesarea pada kehamilan dengan letak sungsang dan persalinan normal mungkin tidak akan dilakukan dalam menangani persalinan sungsang ini (Fischer, 2006).
ii. Letak Lintang
Menurut Pitkin (2003), hal ini sering terjadi pada ibu yang sudah melahirkan lebih dari sekali, kehamilan prematur dan polihidramnion.
d. Ancaman Gawat Janin (Fetal Distress)
Fetal distress sering dihubungkan dengan kehamilan lewat waktu atau dengan komplikasi yang berdampak pada ibu dan janin (Beers, 2004).
e. Bayi Kembar
Kehamilan kembar dapat memberi risiko yang lebih tinggi terhadap ibu dan bayi, sehingga harus dilakukan pengawasan kehamilan yang lebih intensif (Wiknjosastro, 2006).
f. Faktor Plasenta
i. Plasenta Previa
Menurut Wiknjosastro (2006), plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir.
ii. Solusio Plasenta
Seksio sesarea dilakukan untuk mencegah kekurangan oksigen atau keracunan air ketuban pada janin (Wiknjosastro, 2006).
b. Faktor Ibu
a. Disproporsi Sefalo-Pelvik
Disproporsi sefalo-pelvik adalah ketidakseimbangan kepala dan panggul ibu (Wiknjosastro, 2006).
b. Disfungsi Uterus
Disfungsi uterus mencakup kerja uterus yang tidak terkoordinasi, hal ini menyebabkan tidak adanya kekuatan untuk mendorong bayi keluar dari rahim (Wiknjosastro, 2006).
c. Ruptura Uteri
Ruptura uteri adalah keadaan robekan pada rahim dimana telah terjadi hubungan langsung antara rongga amnion dengan rongga peritoneum (Mansjoer, 2009). Robekan rahim violenta terjadi karena trauma pertolongan versi dan ekstraksi, ekstraksi forsep, kuretase, manual plasenta (Okudaira, 2003).
Partus tak maju, juga dikenal partus memanjang, merupakan keadaan dimana seorang ibu hamil tidak dapat melahirkan 18 jam setelah awal kontraksi (Mukherjee, 2006).
e. Infeksi pada Ibu
Ibu dengan infeksi herpes genital aktif cenderung untuk melakukan seksio sesarea (Brown, 2003 dalam Joy, 2009).
Pada wanita yang sedang melakukan perawatan terhadap virus HIV, bila dilakukan seksio sesarea menunjukkan penurunan angka transmisi pada bayi (Clinical Guidelines dalam Joy, 2009).
f. Pre-eklampsia dan eklampsia (PE/E)
Penyakit preeklampsia biasanya ditandai dengan timbulnya gejala yang berurutan diawali dengan bertambahnya berat badan yang berlebihan, diikuti dengan adanya edema, hipertensi dan diakhiri dengan proteinuria (Tanjung, 2004)
2.1.5.2. Indikasi Sosial
Selain indikasi medis terdapat indikasi sosial untuk melakukan seksio sesarea. Indikasi sosial timbul oleh karena permintaan ibu walaupun tidak ada masalah atau kesulitan dalam persalinan normal. Menurut Mackenzie et al (1996) dalam Mukherjee (2006), permintaan ibu merupakan suatu faktor yang berperan dalam angka kejadian seksio sesarea yaitu mencapai angka 23%. Diketahui karena kurangnya pengetahuan tentang keuntungan dan kerugian dari prosedur juga menjadi penyebab ibu sering dengan mudah meminta dilakukannya seksio sesarea. Disamping itu, selain untuk menghindari sakit, alasan untuk melakukan seksio sesarea adalah untuk menjaga tonus otot vagina. Persalinan yang dilakukan dengan seksio sesarea sering dikaitkan dengan masalah kepercayaan yang masih berkembang di Indonesia. Tentunya tindakan seksio sesarea dilakukan dengan harapan apabila anak dilahirkan pada tanggal dan jam sekian, maka akan memperoleh rezeki dan kehidupan yang baik (Wiknjosastro, 2006).
Adanya ketakutan ibu-ibu akan kerusakan jalan lahir (vagina) sebagai akibat dari persalinan normal, menjadi alasan ibu memilih bersalin dengan cara seksio sesarea. Padahal penelitian membuktikan bahwa mitos tersebut tidak benar karena penyembuhan luka di daerah vagina hampir sempurna (Wiknjosastro,2006).
Di sisi lain, persalinan dengan seksio sesarea dipilih oleh ibu bersalin karena tidak mau mengalami rasa sakit dalam waktu yang lama. Hal ini terjadi karena kekhawatiran atau kecemasan menghadapi rasa sakit pada persalinan normal (Wiknjosastro,2006). Walaupun begitu, menurut FIGO (1999) dalam Mukherjee (2006), pelaksanaan seksio sesarea tanpa indikasi medis tidak di-benarkan secara etik.
2.1.6. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi setelah tindakan seksio sesarea adalah sebagai berikut:
2.1.6.1. Infeksi Puerperal (nifas)
Hal ini sering kita jumpai pada partus terlantar, dimana sebelumnya telah terjadi infeksi intrapartal karena ketuban yang telah pecah terlalu lama (Wiknjosastro, 2006).
2.1.6.2. Perdarahan
Perdarahan dapat disebabkan karena banyaknya pembuluh darah yang terputus dan terbuka, atonia uteri, dan perdarahan pada placental bed (Wiknjosastro, 2006).
2.1.6.3. Luka Kandung Kemih
Tindakan seksio sesarea, apabila dilakukan dengan tidak hati-hati dapat mengakibatkan luka pada organ lain seperti kandung kemih, yang dapat menyebabkan infeksi (Wiknjosastro, 2006).
2.1.6.4. Komplikasi pada Bayi
yang baik, kematian perinatal paska seksio sesarea berkisar antara 4-7%. (Wiknjosastro, 2006)
2.1.7. Prognosis
Dulu angka morbiditas dan mortalitas untuk ibu dan janin tinggi. Pada masa sekarang, oleh karena kemajuan yang pesat dalam teknik operasi, anestesi, penyediaan cairan dan darah, indikasi dan antibiotika, angka ini sangat menurun. Angka kematian pada rumah-rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan oleh tenaga-tenaga yang cekatan adalah kurang dari 2 per 1000 (Wiknjosastro, 2006).
Nasib janin yang ditolong secara seksio sesarea sangat tergantung dari keadaan janin sebelum dilakukan operasi. Menurut data dari Negara dengan pengawasan antenatal yang baik dan fasilitas neonatal sempurna, angka kematian perinatal sekitar 4-7% (Wiknjosastro, 2006).