• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.3 Hipotesis

Dengan mengetahui arah kedatangan sinyal, maka antena pemancar akan mengarahkan beam pancar antena hanya ke sumber sinyal tersebut sehingga akan terjadi efisiensi daya pancar antena ataupun sebaliknya, penerimaan sinyal yang baik dan minim gangguan bagi penerimanya. Dengan menggunakan antena directional atau Yagi, dapat meningkatkan keakuatan dari pemancaran atau penerimaan sinyal serta menambah jarak pendeteksiaan sumber sinyal yang lebih jauh daripada menggunakan antena omni-directional.

65

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dimulai dengan mengumpulkan bahan-bahan pendukung yang sesuai dengan alat yang dibuat. Kemudian dilakukan rancang bangun terhadap sistem atau alat yang akan dibuat dan selanjutnya dilakukan analisis terhadap hasil uji alat.

3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat

Dalam penelitian ini terdapat beberapa alat yang digunakan seperti yang tercantum dalam tabel 3.1.

Tabel 3. 1 Alat yang digunakan

No Nama Jumlah

( Unit ) Keterangan

1 Tang Potong 1 Untuk memotong kaki komponen dan kabel

2 Tang Lancip 1 Untuk memasang mur dan menjepit komponen

3 Tang Kupas 1 Untuk mengupas kabel 4 Obeng Plus 1 Untuk memasang baut

5 Multimeter 1 Untuk mengecek jalur dan pengecekan parameter kelistrikan

6 Solder 1 Untuk memasangkan timah pada kabel 7 Laptop 1 Untuk melakukan pekerjaan seperti desain

dan pemrograman

8 Bor 1 Untuk pembuatan box kemasan

9 Cutter 1 Untuk pebuatan box kemasan

10 Gluegun 1 Sebagai perekat komponen ke box

3.1.2 Bahan

Dalam penelitian ini terdapat beberapa bahan yang digunakan seperti yang tercantum dalam tabel 3.2.

Tabel 3. 2 Bahan yang Digunakan

3.2 Tahapan Penelitian

Pada penelitian ada beberapa tahapan yang harus dilakukan antara lain : 1. Landasan Teori

Hal pertama yang dilakukan pada tahap penelitian adalah landasan teori.

Landasan teori ini berisi tentang beberapa teori pendukung untuk penelitian ini.

2. Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah adalah tahapan yang bertujuan untuk menentukan masalah yang akan dibahas dan diteliti dalam penelitian.

No Nama Jumlah

( Unit ) Keterangan

1 NodeMCU 1

Sebagai pusat pemrosesan sistem dan sebagai media pemroses informasi dai sensor GY-87

2 Sensor GY-87 1 Sensor untuk membaca arah sinyal

3 VU Display 1 Sensor untuk membaca nilai penangkapan sinyal

4 OLED Display 1 Sebagai display arah, pitch, roll dari sumber sinyal.

4 Antena Yagi 1 Sebagai media penangkapan sinyal frekuensi radio

5 RF Attenuator 1 Rangkaian untuk mengurangi tingkat penerimaan sinyal.

6 Kabel jumper 1 Menghubungkan masing-masing rangkaian.

7 Catu Daya/ Battery

18650 1 Sebagai Penyuplay tegangan komponen

Elektronik.

3. Batasan Masalah

Batasan masalah bertujuan untuk memberikan batas penelitian sehingga penelitian dapat lebih spesifik pada topik utama yang akan diteliti.

4. Tujuan Penelitian

Pada tahap ini disampaikan tentang tujuan yang akan dicapai dari penelitian ini.

5. Perancangan Alat

Perancangan alat adalah tahapan untuk mendesain alat dimulai dari sistem kerja, perancangan hardware hingga perancangan software.

6. Pengujian Alat

Pengujian alat bertujuan untuk memastikan bahwa perancangan alat yang sudah dilakukan berfungsi dengan baik sehingga dapat memenuhi tujuan penelitian.

7. Pengolahan Data

Pengolahan data adalah tahapan ketika pengujian data sudah menghasilkan sebuah data. Pengolahan ini dilakukan untuk menyempurnakan data yang sudah didapatkan dari hasil pengujian.

8. Analisis

Analisis adalah tahapan ketika data yang sudah diolah selanjutnya akan diselidiki tentang tingkat keberhasihan dari alat. Analisis ini dapat dilakukan dengan cara membandingkan hasil dan beberapa teori yang ada pada landasan teori.

9. Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan adalah hasil utama penelitian yang sudah dilakukan.

Kesimpulan berdasarkan dari hasil analisis yang sudah dilakukan serta mampu menjawab masalah yang ada pada perumusan masalah. Sedangkan saran adalah pendapat yang diberikan untuk penelitian selanjutnya. Semua tahapan ini harus dilakukan harus sesuai urutan agar penelitian ini dapat berjalan dengan baik. Tahapan tersebut dapat dilihat pada gambar 3.1.

Gambar 3. 1 Tahapan Penelitian

3.3 Perancangan Sistem

Dalam membuat suatu sistem diperlukan blok diagram perancangan sehingga sistem yang dibuat dapat dijalankan sesuai dengan yang diharapkan.

Perancangan ini berdasarkan Blok Diagram alat yang terlihat pada gambar 3.2.

RF OFFSET

ATTENUATOR TRANSCEIVER

SENSOR IMU

GY-87 MICROCONTROLLER

FIELD STRENGTH METER

VU DISPLAY ANALOG

VU DISPLAY BAR

OLED DISPLAY

DIRECTIONAL ANTENA

OP-AMP

Gambar 3. 2 Diagram blok perancangan sistem 3.3.1 Perancangan Hardware

Perancangan hardware adalah perancangan yang menyangkut tentang tampilan secara fisik antara lain rangkaian elektronis..

A. Perancangan Power Supply

Rangkaian ini berfungsi untuk mengatur penyediaan dan pembagian tegangan kerja pada alat serta mengatur jalur data. Tengangan kerja yang digunakan adalah 3.3 VDC yang berasal dari adaptor charger dan battery lithium 18650.

B. Perancangan Kompas Digital

Pada perancangan kompas digital ini menggunakan modul GY-87 sebagai sensor untuk mengambil data sudut Azimuth dari antena pengarah. GY-87 memiliki 3 buah sensor, yaitu sensor HMC5883L (kompas), sensor MPU6050 (accelerometer dan gyroscope) , sensor BMP180 (temperatur dan tekanan). Pada penelitian kali ini hanya digunakan sensor HMC5883L dan senso MPU6050 yang difungsikan untuk membaca nilai sudut Azimuth serta pitch roll dari alat yang dirancang. Sedangkan mikrokontroller yang digunakan yaitu NodeMCU, dan Display dari sudut Azimuth menggunakan OLED SSD1306. Pemrograman dengan menggunakan software Arduino IDE dengan listing program terlampir.

Gambar 3. 3 Rangkaian Kompas Digital C. Perancangan Offset Attenuator

Rangkaian ini berfungsi untuk mengurangi tingkat penerimaan sinyal sambil memberikan hasil yang akurat untuk impedansi dengan karakteristik yang digunakan. Rangkaian ini berjenis active attenuator artinya rangkaian ini memerlukkan tegangan untuk mengatur berapa besar peredaman sinyal. Rangkaian dibuat menggunakan pcb berlubang dan disambungkan ke antena dan transciever.

Rangkaian ini sekaligus menggeser frekuensi penerimaan sesuai crystal yang digunakan.

Gambar 3. 4 Rangkaian Attenuator RF D. Perancangan OpAmp

Operational Amplifier atau lebih dikenal dengan istilah OpAmp adalah salah satu dari bentuk IC Linear yang berfungsi sebagai Penguat Sinyal listrik. Sebuah OpAmp terdiri dari beberapa Transistor, Dioda, Resistor dan Kapasitor yang terinterkoneksi dan terintegrasi sehingga memungkinkannya untuk menghasilkan Gain (penguatan) yang tinggi pada rentang frekuensi yang luas. Dalam bahasa Indonesia, OpAmp atau Operational Amplifier sering disebut juga dengan Penguat Operasional.

Gambar 3. 5 Rangkaian OpAmp

.Dalam penulisan ini OpAmp digunakan sebagai penguat tegangan input dari sinyal antena untuk ditampilkan ke rangkaian VU Meter. Pada rangkaian yang dibuat penulis menggunakan IC LM358 sebagai penguat masukan dari sensor, fungsi rangkaian penguat adalah untuk memperbesar masukan dari sensor ke rangkaian VU Meter.

E. Perancangan Field Strength Meter

Dalam telekomunikasi, Field Strength Meter adalah instrumen yang mengukur kekuatan medan listrik yang berasal dari pemancar. Field Strength Meter pada penelitian ini digunakan untuk mengetahui posisi pemancar dalam jarak dekat.

Gambar 3. 6 Rangkaian Field Strength Meter 3.3.2 Perancangan Software

Perancangan software adalah perancangan yang menyangkut tentang bagaimana sistem akan bekerja dimulai dari inisialisasi sensor IMU GY-87, hingga penDisplayan data ke OLED Display. Perancangan ini berdasarkan pada prinsip kerja alat seperti pada gambar 3.2. Perancangan ini diawali dengan menginstal program Arduino IDE, Setelah itu dilanjutkan dengan menginstal Driver CH340, lalu menginstal Board ESP8266 Arduino melalui Board Manager. Sebelumnya mendownload, masukan dulu URL Download ESP8266 Board ke “Additional Board URLs” di setting, URLnya yaitu: https://dl.espressif.com/dl/package_esp32_

index.json.

Gambar 3. 7 Setting URL Board

Setelah menambahkan URL, Selanjutnya mengunduh Board ESP8266 melalui Board Manager. Setelah itu, kita mengatur Board, Upload Speed, dan Port sesuai mikrokontroler yang kita miliki. Selanjutnya memasukan program pada Arduino IDE. Program lengkap dapat dilihat dilampiran.

Gambar 3. 8 Tampilan ketika mengatur Board

Terdapat beberapa bagian dalam perancangan ini, yaitu : 1. Program inisialisasi pin dan variabel.

2. Program untuk pembacaan nilai masukan dari sensor.

3. Program untuk menentukan keadaan berdasarkan masukan dari sensor.

4. Program menampilkan Hasil Pembacaan Data ke OLED.

3.3.3 Perancangan Antena

Antena Yagi diketemukan oleh Professor Hidetsugu Yagi dan Assistannya Shintaro Uda pada tahun 1925. Antena Yagi merupakan sebuah antenna Dipole yang diberi tambahan parasitic elements berupa Reflector dan Director sehingga menghasilkan Gain kearah tertentu. Dari berbagai macam Buku Referensi Antena, bisa disimpulkan bahwa : “Tidak ada formula khusus untuk membuat Yagi terbaik di Band manapun “. Akan tetapi banyak sekali design Yagi yang baik dan bisa dicoba dibuat sendiri oleh Rekan-Rekan amatir radio.” (ORARI, 2007) Dari berbagai literature tentang antena Yagi pada band dimanapun, secara umum bisa disimpulkan sebagai berikut :

Gambar 3. 9 Perancangan Antena

A. Driven Element mempunyai panjang ½

λ

( lambda ). Sehingga rumus untuk menghitung total panjang Driven Element sebuah Yagi adalah sbb :

𝝀 = 𝟑𝟎𝟎/𝒇...(3.1)

𝐋 = 𝟎, 𝟓 𝐱 𝐊 𝐱 𝛌

...(3.1)

Dimana :

f = frekuensi kerja yang diinginkan.

λ

= panjang gelombang diudara L = panjang Driven Element.

K = velocity factor pada logam yang diambil sebesar 0,95

B. Panjang Reflector biasanya dibuat sekitar 7 % lebih panjang dari Driven Element.

C. Panjang Director 1 dibuat 5 % lebih pendek dari Driven Element. Jika akan dibuat Yagi yang memiliki elemen lebih dari 3 elemen, maka Director berikutnya ( Director 2 ) biasanya dipotong sedikit lebih pendek dari Director 1. Demikian juga dengan Director 3 , Director 4 dan seterusnya.

D. Gain terbesar diperoleh jika jarak antara Driven Element dengan Reflector sekitar 0,2 λ – 0,25 λ.

E. Untuk memperoleh coupling yang baik antara Driven Element dengan Director 1, maka Director 1 sebaiknya ditempatkan sejauh 0,1 λ – 0,15 λ dari Driven Element.

F. Jika menggunakan Director 2, maka ditempatkan sejauh 0,15 λ – 0,2 λ dari Director 1.

G. Jika menggunakan Director 3, maka ditempatkan sejauh 0,2 λ - 0,25 λ dari Director 2, dan seterusnya.

Karena pada penelitian kali ini mengunakan frekuensi VHF maka akan memakai Antena Yagi 2 meter band ½ λ. Maka perhitungan diperoleh perhitungan sebagai berikut :

𝜆 =300 𝑓

𝜆 = 300

144.000

𝜆 = 2,0833333 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝐾 = 0.95

Maka panjang Driven elemen : 𝐿 = 0.5 𝑥 𝐾 𝑥 𝐿

𝐿 = 0.5 𝑥 0.95 𝑥 2,0833333 𝑚 𝐿 = 0,9896 𝑚

Dibulatkan menjadi 99 cm. Panjang Reflector : R = 1.07 x 99cm = 105,93 cm.

Dibulatkan menjadi 106 cm. Panjang director : D = 0.95 x 99 cm = 94.05 cm

Jarak antar elemen sekitar 20 cm – 10 cm, kecuali Driven Elemen dengan Director 1 sekitar 10 cm – 15 cm.

3.4 Cara Analisis

Sistem ini dijalankan dengan menggunakan tegangan Input sebesar 3.3 V DC untuk menyalakan OLED Display, sensor IMU GY87, Rangkaian Frequency Offset Attenuator, VU Display dan mikrokontroler. Pada penelitian ini dilakukan beberapa analisis untuk menguji sistem yang direncanakan . Berikut adalah langkah kerja dalam melakukan analisis:

1. Menghidupkan alat dengan menekan tombol saklar ke on.

2. Menghidupkan HT sebagai penerima.

3. Setting frekuensi HT dengan ditambah atau dikurangi 4 Mhz dari Frekuensi sebenarnya.

4. Mulai tracking dengan menggerakan Antena 360 drajat, cari pada sinyal yang paling besar diterima oleh HT dilihat pada bar penerimaan sinyal.

5. Ketika sudah mendapatkan sinyal yang paling besar catat sudutnya dan hasil kekuatan sinyal.

6. Ulangi hingga 10x pengujian.

7. Analisis hasil pengujian dengan menggunakaan rata-rata hasil untuk menghitung rata-rata error, rata-rata kepekaan penerimaan dan rata-rata sudut Azimuth.11

Mulai

Menghidupkan Supply ke semua rangkaian

Kondisi Siaga.

Siap menampilkan data arah, pitch, roll dan

kekuatan sinyal.

Selesai

Setting Frekuensi ditambah atau dikurangi

dengan 4 Mh z

Menampilkan Hasil Data ke OLED DISPLAY Tracking Sinyal. Mencari

dimana sinyal Terkuat.

Analisis Rata-rata Hasil Pengujian

Gambar 3. 10 Flowchart Analisis Sistem

78

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan menampilkan hasil pelaksanaan penelitian dan membahas antara lain: Hasil perancangan alat, hasil pengujian dan pembahasan keseluruhan.

4.1 Hasil Perancangan Alat

Hasil dari perancangan berupa sistem deteksi sudut Azimuth yang sudah terintegrasi dengan antena pengarah. Bentuk fisik dari hasil perancangan tersebut dapat dilihat pada gambar 4.1.

Gambar 4. 1 Bentuk Fisik Perancangan

Sistem ini dijalankan dengan menggunakan tegangan Input sebesar 3.3 V DC yang berasal dari battery untuk menyalakan OLED Display, sensor IMU GY87, Rangkaian Frequency Offset Attenuator, VU Display dan mikrokontroler. Setelah semuanya mendapatkan mendapatkan supply tegangan maka alat akan bekerja dari

membaca nilai arah, pitch dan Roll. Sesudah alat dapat membaca maka settingke frekuensi yang akan diinginkan dengan ditambahkan atau dikurangi sebanyak 4 Mhz sesuai Offset Attenuator yang dipasang. Ketika sudah mendapatkan sinyal yang paling besar catat sudutnya dan nilai penguatan sinyal.

Gambar 4. 2 VU Meter dan OLED Display

Gambar 4. 3 S-Meter HT Dolton 4.2 Hasil Pengujian

Pengujian dilakukan di Laboratorium Teknologi dan Komunikasi IST AKPRIND Yogyakarta yang beralamat di Jl. I Dewa Nyoman Oka No.32, Kotabaru, Yogyakarta. (-7.7849925, 110.370323) pada tanggal 7-8 Desember 2019.

Pada pengujian tersebut terbagi menjadi 3 kali percobaan frekuensi Repeater yang terdapat di Yogyakarta. Setiap frekuensi dilakukan percobaaan hingga 10 kali.

Hasil rata-rata dari pengujian yang dilakukan sebagai berikut :

A. Repeater Nglanggeran.

Tabel 4. 1 Hasil Pengujian Rata-Rata Repeater Nglanggeran No Frekuensi Sudut Pengukuran S-Meter Kekuatan

Sinyal ST DEV

B. Suroloyo

Tabel 4. 2 Hasil Pengujian Rata-Rata Repeater Suroloyo

No Frekuensi Sudut Pengukuran S-Meter

Kekuatan

C. Blado

Tabel 4. 3 Hasil Pengujian Rata-Rata Repeater Blado

No Frekuensi Sudut Pengukuran S-meter

Kekuatan

4.3 Pembahasan

Prinsip kerja rangkaian Detector Sudut Azimuth Arah Kedatangan Sinyal Antena Ini yaitu Antena akan menerima sinyal dan kemudian diteruskan ke attenuator. Attenuator berfungsi untuk mengurangi tingkat penerimaan sinyal. Dari attenuator kemudian sinyal akan dilanjutkan ke receiver yaitu berupa HT, HT yang digunakan merk Dolton tipe DN-801.

Gambar 4. 4 Frekuensi Pengetesan

Pada HT tersebut akan tertampil indikator sinyal penerimaan yang berbentuk digital tertampil pada LCD, didalam HT Dolton 14 indikator penerimaan sinyal. Arti dari Setiap indikator sinyal yaitu :

➢ Bar 1 setara dengan S1 sebesar 5,5 µV/meter.

➢ Bar 2 setara dengan S2 sebesar 11 µV/meter.

➢ Bar 3 setara dengan S3 sebesar 16,5 µV/meter.

➢ Bar 4 setara dengan S4 sebesar 22 µV/meter.

➢ Bar 5 setara dengan S5 sebesar 27,5 µV/meter.

➢ Bar 6 setara dengan S6 sebesar 33 µV/meter.

➢ Bar 7 setara dengan S7 sebesar 38,5 µV/meter.

➢ Bar 8 setara dengan S8 sebesar 44 µV/meter.

➢ Bar 9 setara dengan S9 sebesar 49,5 µV/meter.

➢ Bar 10 setara dengan penguatan penerimaan 10 dB.

➢ Bar 11 setara dengan penguatan penerimaan 20 dB.

➢ Bar 12 setara dengan penguatan penerimaan 30 dB.

➢ Bar 13 setara dengan penguatan penerimaan 40 dB.

➢ Bar 14 setara dengan penguatan penerimaan 60 dB.

Dikarenakan dalam pengujian tidak menggunakan S meter yang sesungguhnya maka nilai angka kuat sinyal diterima yang diperoleh dari hasil penunjukan meter pada HT Dolton perlu dikonversi terlebih dahulu agar mendapatkan satuan yang sama untuk memudahkan perhitungan. Untuk mengetahui besarnya nilai penguatan yang diterima oleh antenna perlu dilakukan perhitungan dengan rumus :

𝑃𝑒𝑛𝑔𝑢𝑎𝑡𝑎𝑛 = 20 log𝐾𝑢𝑎𝑡 𝑠𝑖𝑛𝑦𝑎𝑙 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 50 µV/meter Maka nilai penguatannya adalah

➢ 𝐵𝑎𝑟 1 = 20 log5,5 µV 𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟

Setelah mendapatkan sudut dengan penguatan penerimaan paling besar kemudian sensor HMC5883L akan membaca nilai Gyroscope dan Accelerometer untuk diproses mendapatkan sudut Azimuth dari antena pengarah tersebut. Tingkat ketelitian pengujian ini dihitung dengan cara selisih sudut batas titik atas pada pengukuran tersebut dibagi dengan 360 º kali 100 %, karena pada pengujian kali ini sudut yang diamati per 10º artinya ketelitian kesalahan pengukuran paling rendah ada pada 10°

360°x100% = 2,7% dari sudut sebenarnya.

Sedangkan error pengamatan diukur dengan menggunakan standar deviasi.

Standar deviasi adalah sebuah nilai statistik yang di manfaatkan untuk menentukan sebuah sebaran data dalam suatu sampel, serta seberapa dekat titik data individu ke mean atau rata – rata nilai sampel nya. Lalu dari kumpulan data sama dengan 0 menandakan bahwa semua nilai dalam himpunan tersebut sama. Sedangkan nilai deviasi yang lebih besar menunjukkan bahwa titik data individu jauh dari nilai rata – rata nya.

Dalam pengujian kali dilakukan pada 3 frekuensi berbeda, yaitu frekuensi 169.700 MHz yaitu radio Repeater milik bekas BPBD yang terletak di Nglanggeran, frekuensi 143.200 MHz milik RAPI Sedayu yang terletak di Puncak Bukit Suroloyo, dan frekuensi 164.275 MHz milik Kominfo Bantul yang terletak di Blado.

Pada Setiap Frekuensi dilakukan 10 kali percobaan di sudut yang sama, dengan selisih sudut antar pengukuran adalah 10º lalu berpindah searah jarum jam ke 10º berikutnya. Pengukuran dilakukan pada sore hari dimana frekuensi sedang ramai digunakan sehingga hasil tidak terganggu oleh pancaran radio sekitar. Hasil grafik dari rata-rata pengujian sebagai berikut :

Gambar 4. 5 Grafik Pengujian Repeater Nglanggeran

Berdasarkan Gambar 4.5 dapat dibahwa sudut Azimuth kedatangan sinyal tertinggi kekuatan sinyal penerimaannya pada 110° dari arah utara. Sinyal mulai terdeteksi pada kurang dan lebih 80° dari titik puncak sinyal. Kepekaan sinyal tertinggi pada 60 dB. Tingkat ketelitian pada pengujian ini adalah:

Ketelitian=𝑆𝑒𝑙𝑖𝑠𝑖ℎ 𝑠𝑢𝑑𝑢𝑡 𝑡𝑖𝑡𝑖𝑘 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑎𝑡𝑎𝑠

Gambar 4. 6 Grafik Deviasi Pengujian Repeater Nglanggeran

Berdasarkan gambar 4.6, Deviasi pengukuran pada pengujian Repeater Nglanggeran ini tertinggi pada sudut 20º-30º sesudah titik puncak sudut pengukuran sebesar 21 dB. Hal ini disebabkan karena antara S6- sinyal penuh terdapat selisih kekuatran penerimaan sinyal yang sangat jauh yaitu hingga 60 dB lebih. Sedangkan tingkat pembacaan sinyal dari HT Dolton hanya dapat membaca S3, S6, dan penerimaan penuh.

Gambar 4. 7 Grafik Pengujian Repeater Suroloyo

Berdasarkan Gambar 4.7 dapat dibahwa sudut Azimuth kedatangan sinyal tertinggi kekuatan sinyal penerimaannya pada 300°-310° dari arah utara. Sinyal mulai terdeteksi pada kurang dan lebih 70° dari titik puncak sinyal. Kepekaan sinyal tertinggi pada 40 dB. Tingkat ketelitian pada pengujian ini adalah

Ketelitian=𝑆𝑒𝑙𝑖𝑠𝑖ℎ 𝑠𝑢𝑑𝑢𝑡 𝑡𝑖𝑡𝑖𝑘 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑎𝑡𝑎𝑠

360° = 20

360x100% = 5,5%

0 2 4 6 8 10 12 14

10 30 50 70 90 110 130 150 170 190 210 230 250 270 290 310 330 350

S-METER

SUDUT AZIMUTH

Hasil Pengujian Frekuensi 143.200

Gambar 4. 8 Grafik Deviasi Pengujian Repeater Suroloyo

Berdasarkan gambar 4.8, Deviasi pengukuran pada pengujian Repeater Suroloyo ini tertinggi pada sudut 10º sesudah titik puncak sudut pengukuran sebesar 21 dB. Hal ini disebabkan karena jarak antara S6- sinyal penuh terdapat selisih kekuatan penerimaan sinyal yang sangat jauh yaitu hingga 60 dB lebih. Sedangkan tingkat pembacaan sinyal dari HT Dolton hanya dapat membaca S3, S6, dan penerimaan penuh. Selain itu bisa disebabkan oleh interferensi dari pemancar Direct yang digunakan oleh pengguna.

Gambar 4. 9 Grafik Pengujian Repeater Blado

0

Berdasarkan Gambar 4.9 dapat dibahwa sudut Azimuth kedatangan sinyal tertinggi kekuatan sinyal penerimaannya pada 190° dari arah utara. Sinyal mulai terdeteksi pada kurang dan lebih 60° dari titik puncak sinyal. Kepekaan sinyal tertinggi pada 60 dB. Tingkat error ketelitian pada pengujian ini adalah

Ketelitian= 𝑆𝑒𝑙𝑖𝑠𝑖ℎ 𝑠𝑢𝑑𝑢𝑡 𝑡𝑖𝑡𝑖𝑘 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑎𝑡𝑎𝑠

360° = 10

360x100% = 2,7 %

Gambar 4. 10 Grafik Deviasi Pengujian Repeater Blado

Berdasarkan gambar 4.8, Deviasi pengukuran pada pengujian Repeater Blado ini tertinggi pada sudut dari arah utara sebesar 31 dB. Hal ini disebabkan karena jarak antara S6- sinyal penuh terdapat selisih kekuatan penerimaan sinyal yang sangat jauh yaitu hingga 60 dB lebih. Sedangkan tingkat pembacaan sinyal dari HT Dolton hanya dapat membaca S3, S6, dan penerimaan penuh. Selain itu bisa disebabkan oleh interferensi dari pemancar Direct yang digunakan oleh pengguna.

Secara keseluruhan ketelitian perancangan alat ini adalah

2,7% + 5,5 % + 2,7 %

3

= 3.63 %

Dari sudut sebenarnya sumber sinyal berada.

Deviasi tertinggi dari pengujian alat ini adalah 31 dB pada pengujian frekuensi 164.275 MHz.

90

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dari beberapa data penelitian yang sudah dilakukan maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

a) Stasiun Repeater Nglanggeran terletak pada sudut 110º arah tenggara dari titik pengujian dengan penerimaan sinyal penuh hingga mencapai 60 dB.

b) Stasiun Repeater Suroloyo terletak pada sudut antara 300º-310º arah Barat Laut dari titik pengujian dengan penerimaan sinyal penuh hingga mencapai 60 dB..

c) Stasiun Repeater Blado terletak pada sudut 190º arah selatan dari titik pengujian dengan penerimaan sinyal penuh hingga 60 dB.

d) Dengan menggunakan detektor Azimuth ini dapat mengetahui sudut kedatangan sinyal dengan ketelitian rata-rata 3.63 % dari sudut sebenarnya.

e) Antena Yagi-Uda setelah diuji dapat menunjukkan keakuratan kemampuan deteksi mempunyai kepekaan penerimaan hingga 60 db, sehingga mampu menunjukan kekuataan sinyal tertinggi pada arah tersebut.

f) Kompas digital dalam penelitian ini mampu menunjukan sudut pengukuran dengan ketelitian 1°.

5.2 Saran

Rancang bangun alat ini masih jauh dari sempurna. Untuk menunjang penelitian selanjutnya mengeneai topik ini terdapat beberapa saran sebagai berikut:

a) Detektor ini dapat dikembangkan menjadi salah satu metode pelacakan sinyal dengan menggunakan antena Yagi, yang tentunya akan lebih memiliki kepekaan lebih baik dan akurasi arah yang lebih baik.

b) Detektor ini dapat dikembangkan lagi dengan mengganti sensor atau menambahkan sensor yang lebih baik sehingga keakuratan sudut Azimuthnya lebih tinggi.

c) Detektor ini dapat dikembangkan dengan mengganti radio penerima menggunakan radio yang ada smeter hingga dapat membaca dengan lebih teliti daripada yang digunakan dalam penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Cristian, R. (2011) ‘Teori Aplikasi Op-Amp’, pp. 1–42.

Cover, T. M. and Thomas, J. A. (2005) Elements of Information Theory, Elements of Information Theory. doi: 10.1002/047174882X.

EINSTRONIC (2017) ‘Nodemcu’, Einstronic.

Fadlilah, U. (2003) ‘Simulasi Pola Radiasi Antena Dipole Tunggal’, Teknik Elektro Universitas Diponegoro.

Firman, B. (2016) ‘Implementasi Sensor IMU MPU6050 Berbasis Serial I2C pada Self-Balancing Robot’, Jurnal Teknologi Technoscientia.

G., R. A. and II, C. (1974) ‘Multilingual Dictionary of Technical Terms in Cartography’, The Geographical Journal. doi: 10.2307/1797128.

Jardiknas, P. T. (no date) ‘Antena dan Propagasi Gelombang Radio’.

Kossor, M. (1999) ‘A Doppler Radio-Direction Finder (Part 1)’, Qst, 5289(May), pp. 35–40.

Kraus, J. D. (2001) Antennas. Sixth. Newyork: McGraw-Hill Companies.

Kraus, J. D. and Marhefka, R. J. (2015) ‘Antennas: for all applications, third edition - Solution Manual’.

Kristiyana, S. (2008) ‘Pembuktian Pola Pancaran Gelombang Radio (RF) Menggunakan Metode Pelacakan Sinyal (Tracking) Dan Aplikasi Surfer’, Jurnal Teknologi Technoscientia, 1(1).

Kristiyana, S. (2015) ‘Sistem Detektor Arah Sinyal RF Menggunakan Antena Doppler’, Jurnal Teknologi Technoscientia, 7(2), pp. 192–201.

Lowrie, W. (2007) Fundamentals of Geophysics, second edition, Cambridge University Press. doi: 10.1017/CBO9780511807107.

Nuryadin, R. (2005) ‘Panduan Menggunakan MapServer’, Informatika, Bandung.

ORARI (2007) Buku Pegangan Amatir Radio Pemula & Siaga. 20070809th edn.

Edited by O. W. Purbo. Jakarta.

Rafsanjani, A. (2017) Navigasi Robot Berbasis Path Planning Dengan Pemulihan Jalur Otomatis., Skripsi. Jember: Universitas Jember.

Rahayu, A. T. (2015) Optimasi Antena Pengarah Model Yagi Untuk Meningkatkan

Penguatan Dan Jangkauan Pemancar Radio. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.

Robinson, A. C. (2019) ‘Elements of viral cartography’, Cartography and Geographic Information Science. doi: 10.1080/15230406.2018.1484304.

Schmitt, R. (2008) Explained About Direction Finding. Newyork: Standford University.

Seputar Pengertian (2015) Seputar Pengertian Dan Jenis Gelombang Radio,

Electro. Available at:

http://seputarpengertian.blogspot.com/2015/04/seputar-pengertian-dan-jenis-gelombang-radio.html (Accessed: 4 November 2019).

http://seputarpengertian.blogspot.com/2015/04/seputar-pengertian-dan-jenis-gelombang-radio.html (Accessed: 4 November 2019).

Dokumen terkait