• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Koordinasi Badan Penanggulangan Bencana

4.2.3 Gerak Kegiatan

Gerak kegiatan merupakan segala daya upaya, segala suatu tindakan yang dikerjakan oleh dinas dan badan terkait dalam

melaksanakan tugas. Gerak kegiatan ini mencakup apa saja yang dilaksanakan masing-masing dinas atau instansi selama menjalankan fungsi koordinasi dan sejauh apa realisasi yang sudah tercapai.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo mempunyai tugas dan fungsi sebagai koordinator dalam penanggulangan bencana erupsi Sinabung. BPBD Kabupaten Karo menyadari penting sekali adanya koordinasi yang harmonis dengan instansi -instansi yang lain. Hal ini disebabkan karena BPBD Kabupaten Karo tidak akan mampu melaksanakan penanggulangan bencana erupsi Gunung Sinabung tanpa bantuan dan kerja sama dari pihak-pihak yang lain. Namun seperti yang disampaikan Dann Sugandha ada 2 tipe koordinasi yaitu koordinasi eksternal dan koordinasi internal. Jadi tidak hanya melihat koordinasi BPBD dengan instansi-instansi lain (eksternal) penting juga melihat koordinasi internal yang dilakukan BPBD Kabupaten Karo yaitu mulai dari pimpinan sampai dengan staf-staf bawahannya.

Mekanisme koordinasi internal BPBD Kabupaten Karo sudah cukup baik dan sudah terarah seperti yang disampaikan Sekretaris BPBD Kabupaten Karo mengatakan :

“Yang pertama pemberitahuan tugas oleh Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Karo kepada bawahannya baik secara langsung diutarakan dalam rapat harian maupun secara tidak langsung melalui surat perintah atau pun lembaran disposisi. Selanjutnya setiap Kepala Bidang akan memberitahukan tugas yang harus dilaksanakan kepada kepala seksi yang dibawahinya agar masing masing pegawai atau staf dalam BPBD Kabupaten Karo mengetahui apa tugas yang harus dilaksanakan dalam hal penanganan bencana Erupsi Gunung Sinabung. dan ada batas waktu yang telah disepakati mengenai pelaksanaan tugasnya masing-masing, kemudian Kepala Pelaksana akan meminta laporan pertanggunggjawaban

dari masing-masing bidang untuk pengecekan hal-hal apa saja yang telah mereka laksanakan di lapangan kemudian menindaklanjuti laporan-laporan tersebut apakah sudah sesuai dengan yang diharapkan” (wawancara, 14 September 2018).

Senada dengan yang disampaikan staff Bidang Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Karo mengatakan :

“Kami diberi tugas melalui rapat langsung juga melalui lembaran disposisi, untuk tugas tersebut diberi batas waktu pengerjaannya setelah selesai kami membuat laporan-laporan tugas kami” (wawancara, 14 September 2018).

Sebagaimana yang diutarakan oleh Siagian (2005:74) mengenai mekanisme dan proses koordinasi yaitu dengan melakukan brifieng staf untuk memberitahukan kebijaksanaan pimpinan organisasi kepada staf, mengadakan rapat staf serta kunjungan mengenai pelaksanaan keputusan pimpinan organisasi.

Berdasarkan hasil wawancara diatas mekanisme koordinasi yang diungkapkan Siagian (2005 :74) sudah terlaksana dalam internal BPBD Kabupaten Karo adalah mulai dari pemberitahuan tugas oleh Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Karo kepada bawahannya baik secara langsung yang diutarakan dalam rapat harian maupun secara tidak langsung yaitu Kepala Pelaksana BPBD menginstruksikan tugas kepada masing-masing bidang melalui surat perintah ataupun lembaran disposisi.

Selanjutnya setiap Kepala Bidang juga akan memberitahukan tugas yang harus dilaksanakan kepada kepala seksi yang dibawahinya. Pemberitahuan tugas ini dianggap sangat penting sehingga masing-masing pegawai atau staf dalam BPBD Kabupaten Karo mengetahui apa tugas yang harus dilaksanakan dalam hal penanganan bencana Erupsi Gunung Sinabung.

Kemudian sesuai batas waktu yang telah disepakati mengenai pelaksanaan tugasnya masing-masing, maka Kepala Pelaksana akan meminta laporan pertanggunggjawaban dari masing-masing bidang untuk pengecekan hal-hal apa saja yang telah mereka laksanakan di lapangan dan kemudian menindaklanjuti laporan-laporan tersebut apakah sudah sesuai dengan yang diharapkan.

Meskipun BPBD Kabupaten Karo baru dibentuk tetapi pegawai BPBD Kabupaten Karo memiliki kesatuan prinsip dan tindakan hal ini menjadi pendukung lancarnya koordinasi internal BPBD Kabupaten Karo.

Pegawai berusaha melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya seperti yang disampaikan Sekretaris BPBD Kabupaten Karo mengatakan :

“Dalam melaksanakan tugas pegawai memiliki prinsip dan pegawai melaksanakan tugasnya masing-masing serta dikerjakan sesuai batas waktu yang ditentukan. Dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia BPBD Kabupaten Karo berusaha melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya walau terkadang ada penyelesaian tugas-tugas yang tidak maksimal diakibatkan kurangnya pengalaman BPBD Kabupaten Karo yang memang merupakan masih suatu lembaga daerah yang baru dibentuk” (wawancara, 14 September 2018).

Senada dengan yang disampaikan Staff Bidang Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Karo mengatakan :

“Pegawai belum memiliki pengalaman yang banyak dalam penanggulangan bencana karena BPBD baru dibentuk tahun 2014 lalu tapi meski begitu kita selalu berusaha menyelesaikan tugas sebaik mungkin dalam mananggulangi bencana khususnya bencana Sinabung”(wawancara, 14 September 2018).

Berdasarkan hasil wawancara diatas diketahui bahwa ada terdapat kesatuan prinsip dan tindakan dalam koordinasi internal BPBD sebagaimana yang disampaikan oleh Hasibuan (2006:88) salah satu indikator koordinasi adalah kesatuan tindakan. BPBD juga mengalami

kendala seperti kurangnya pengalaman pegawai dalam penanggulangan bencana karena BPBD Kabupaten Karo baru dibentuk tahun 2014.

Namun, meskipun begitu pegawai BPBD berusaha melaksanakan tugasnya dengan maksimal.

Dalam penanggulangan bencana Sinabung BPBD Kabupaten Karo dibantu oleh Tagana melakukan evakuasi penduduk ke tempat pengungsian supaya terlindungi dari bahaya letusan Sinabung. Seperti yang dikatakan kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Karo mengatakan :

“Kita dibantu oleh Tagana yang dibina oleh Dinas Sosial mengevakuasi masyarakat korban bencana dan membawa mereka ke tempat penampungan atau pengungsian seperti Jambur, Gereja, Masjid dan lapangan futsal agar terhindar dari bahaya letusan Gunung Sinabung”

(wawancara, 10 September 2018).

Senada dengan yang disampaikan Septa Tarigan Warga Desa Mardinding mengatakan :

“Kami dievakuasi ke tempat pengungsian biasanya Jambur yang ada di Kababanjahe maupun Gereja-Gereja yang ada disana. Makanan kami juga disediakan, selimut, masker dan obat-obatan” (wawancara, 25 Juni 2018).

Dari hasil wawancara diatas diketahui bahwa saat tanggap darurat BPBD Kabupaten Karo dan Tagana Kabupaten Karo melakukan evakuasi penduduk ke tempat penampungan sementara atau pengungsian. Sama halnya dengan yang disampaikan Ketua Komisi Penanggulangan Bencana Moderamen GBKP mengatakan :

“Tugas dari relawan salah satunya melakukan evakuasi dari zona merah rawan bencana, ke tempat-tempat pengungsian yang sudah disediakan Moderamen GBKP” (wawancara, 11 Juni 2018).

Tabel 4.2.1 Data Tempat Pengungsian Disediakan Moderamen GBKP

No Jenjang Struktur Nama Gedung

1. Moderamen PPWG GBKP (Zentrum) Kabanjahe Kursus Wanita Kristen (KWK) Berastagi Retreat Center Sukamakmur

YKPC Alpha Omegha 2. Klasis (Wilayah) Kantor Klasis Kabanjahe

Kantor Klasis Berastagi Kantor Klasis Tiganderket Kantor Klasis Tigapanah Kantor Klasis Tigabinanga Kantor Klasis Sinabun

Kantor Klasis Kuala Langkat 3. Runggun (Jemaat) GBKP Kota Kabanjahe

Serbaguna GBKP Kota Kabanjahe GBKP Asrama Kodim Kabanjahe GBKPJalan Kotacane Kabanjahe GBKP Simpang Empat Kabanjahe GBKP Simpang Enam Kabanjahe GBKP Kota Berastagi

GBKP Simpang Katepul Kabanjahe GBKP Tanjung Simbelang

GBKP Sumbul GBKP Perbesi

GBKP Siabang-abang GBKP Kutabuluh GBKP Singamanik GBKP Bintang Meriah Sumber : Moderamen GBKP.

Gambar 4.2.1 Suasana di Pengungsian

Sumber: Dokumentasi Peneliti 25 Juni 2018

Setelah dievakuasi ke tempat pengungsian oleh BPBD, Tagana dan relawan Moderamen GBKP maka Dinas Sosial akan melakukan pemetaan kapasitas sumber daya untuk mengetahui ketersediaan logistik, setelah itu akan dilakukan perencanaan melalui identifikasi dan analisis kebutuhan serta pengerahan sumber daya. Identifikasi dan analisis kebutuhan ini berkaitan dengan cakupan wilayah seperti jumlah desa atau kecamatan yang terkena bencana erupsi Gunung Sinabung sehingga dapat ditentukan kebutuhan logistik yang diperlukan. Dinas Sosial Kabupaten Karo juga melakukan pendataan terhadap jumlah pengungsi yang ada di setiap pos pengungsian, termasuk berapa jumlah kelompok yang rentan seperti balita, anak-anak, ibu hamil dan lanjut usia sehingga dapat disesuaikan dengan jenis logistik yang akan diberikan. Pendataan ini diambil dari data-data pengungsi yang ada di Media Center. Seperti yang dikatakan Kepala Bidang Rehabilitasi Pembinaan dan Bantuan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Karo mengatakan :

“ Hal yang kita lakukan adalah melakukan pemetaan kapasitas sumber daya untuk mengetahui ketersediaan logistik, setelah itu akan dilakukan

perencanaan melalui identifikasi dan analisis kebutuhan serta pengerahan sumber daya. Kemudian kita juga melakukan pendataan terhadap jumlah pengungsi yang ada di setiap pos pengungsian, termasuk berapa jumlah kelompok yang rentan seperti balita, anak-anak, ibu hamil dan lanjut usia sehingga dapat disesuaikan dengan jenis logistik yang akan diberikan.

Setelah melakukan pendataan tersebut kemudian akan disesuaikan dengan logistik yang tersedia selanjutnya langsung akan didistribusikan ke setiap pos pengungsian bencana erupsi Gunung Sinabung sesuai dengan kebutuhan masing-masing pos pengungsian karena jumlah pengungsi juga berbeda di setiap pos pengungsian. Kita juga dibantu personil TAGANA Kabupaten Karo, TNI/Polri dan relawan yang ada untuk menyalurkannya ke pos-pos pengungsian sehingga pengungsi dapat dengan segera menerima bantuan logistik tersebut” (wawancara, 12 September 2018).

Staff Seksi Kesejahteraan Anak dan Bimbingan Keluarga Dinas Sosial mengatakan:

“Bantuan yang kita beri seperti logistik pangan berupa beras, mie instan, sayuran, telur, gula, ikan juga ada kita beri selimut agar mereka tidak kedinginan, kain sarung, pembalut wanita dan juga peralatan dapur seperti tempat nasi, piring, gelas dan lainnya. Ada juga kita sediakan tempat pengungsian seperti jambur, dapur umum dan penyediaan air bersih untuk mereka ”(wawancara, 13 September 2018).

Gambar 4.2.2 Dapur Umum di Pengungsian

Sumber : Dokumentasi Peneliti 13 September 2018.

Setelah BPBD, Dinas Sosial dan Moderamen GBKP memenuhi kebutuhan, tempat pengungsian, dapur umum dan air bersih. Dinas Kesehatan kemudian melakukan sanitasi pos pengungsi dengan membasmi populasi lalat, mengukur pencemaran udara, membagikan kantong

sampah, dan memeriksa kebersihan air untuk pengungsi. Seperti yang dikatakan Koordinator Sanitasi Posko Pengungsi Dinas Kesehatan mengatakan :

“ Untuk menjaga kesehatan masyarakat kita melakukan sanitasi di lingkungan posko pengungsian, seperti yang kita tahu di posko pengungsian tentu banyak sumber-sumber penyakit karena yang tinggal disitu rame biasanya kita melakukannya seminggu sekali” (wawancara, 13 September 2018).

Senada dengan yang disampaikan Kepala Bidang Diakonia Moderamen GBKP mengatakan :

“para relawan turut pula ikut membersihkan pos pengungsian, mendistribusikan bantuan baik pangan, selimut, dan bantuan lainnya”

(wawancar, 13 juni 2018).

Dari hasil wawancara diatas diketahui bahwa selain Dinas Kesehatan Kabupaten Karo, Moderamen GBKP juga ikut berperan dalam memperhatikan kerbersihan lingkungan masyarakat di pos pengungsian.

Dinas Kesehatan Kabupaten Karo dalam penanganan bencana erupsi Gunung Sinabung di bidang pelayanan kesehatan juga membentuk pos-pos kesehatan di setiap pos pengungsian yang sudah disediakan oleh BPBD Kabupaten Karo, Dinas Sosial Kabupaten Karo dan Moderamen GBKP.

Artinya jumlah pos pengungsian adalah sama dengan jumlah pos pelayanan kesehatan. Seperti yang dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karo mengatakan :

“Yang kita lakukan adalah membangun pos-pos kesehatan disetiap pos pengungsian yang ada di Kabupaten Karo. Pos kesehatan tersebut dibuka selama 24 jam setiap hari dengan tiga shift jaga dan jumlah tenaga yang bertugas masing-masing shift terdiri dari 1-3 orang. Sebagai penanggung jawab Pos Kesehatan Pengungsi tersebut adalah kepala Puskesmas yang ada di kabupaten Karo” (wawancara 17 September 2018).

Senada dengan yang disampaikan Septa Tarigan warga Mardinding yang mengungsi di Gedung Serbaguna Kabanjahe mengatakan :

“Untuk kesehatan kami disediakan pos-pos kesehatan di setiap pos pengungsian. Ketika membutuhkan obat atau sakit kami dibawa kesana untuk berobat. Mereka juga sering membagikan obat-obatan kepada kami”

(wawancara, 25 Juli 2018).

Gambar 4.2.3 Pos Kesehatan UKA II Kabanjahe

Sumber : Dokumentasi Peneliti 25 Juli 2018.

Dari penjelasan informan diatas diketahui bahwa dalam penanggulangan bencana erupsi Gunung Sinabung Dinas Kesehatan Kabupaten Karo membangun pos-pos kesehatan di tempat pengungsian yang sebelumnya sudah disediakan oleh BPBD Kabupaten Karo dan Dinas Sosial Kabupaten Karo. Data pos kesehatan penanggulangan bencana erupsi Gunung Sinabung dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 4.2.2 Data Pos Kesehatan Pengungsi Sinabung NO Nama Pos Kesehatan Tanggal Dimulai

Pos Kesehatan

Penanggungjawab

1. GBKP Simpang IV 9 November 2013 Kepala Puskesmas Kabanjahe

2. Serbaguna/KNPI Kabanjahe

9 November 2013

3. Masjid Agung Kabanjahe 9 November 2013

9. Zentrum GBKP Kabanjahe 24 November 2013

12. Paroki Gereja Katolik I Kabanjahe

9 November 2013 Kepala Puskesmas Singa 13. GBKP Kota Kabanjahe 9 November 2013 Kepala Puskesmas

Simpang Empat 14. Klasis Kota Kabanjahe 9 November 2013

15. GPDI Simpang IV

17. Masjid Istiqal Berastagi 14 November 2013

Kepala Puskesmas Merdeka 18. GBKP Kota Berastagi 24 November

2013

19. Islamic Center 24 November 2013

Kepala Puskesmas Korpri

20. Ora Et Labora Berastagi 24 November 2013

21. Gereja Advent Sumbul 9 Januari 2014 22. GBKP Runggun Sumbul 9 Januari 2014 23. Jambur Korpri 20 Januari 2014 24. Losd Desa Sempajaya 24 November

2013

Kepala Puskesmas Dolat Rayat 25. Losd Desa Tongkoh 16 Januari 2014

26. KWK Berastagi 24 November 2013

Kepala Puskesmas Berastagi 27. Klasis GBKP Berastagi 24 November

2013

28. Jamburtaras Berastagi 3 Januari 2014 29. UKA Kabanjahe 24 November

2013

Kepala Puskesmas Naman 30. Muka Mehuli 16 Januari 2014

31. Losd Tanjung Pulo 24 November 2014

33. Losd Tanjung Simbelang 24 November 2013

Kepala Puskesmas Kutabuluh 34. Siabang-abang 4 Januari 2014

35. Paroki Gereja Katolik Kabanjahe

24 November 2013

Kepala Puskesmas Barusjahe 36. Lapangan Futsal Lau

Gumba

9 Januari 2014

37. Losd Tigabinanga 24 November 2013

Kepala Puskesmas Tigabinanga 38. Losd Desa Perbesi 8 Januari 2014

39. Pesantren Sirajul Huda 20 Januari 2014

Tigabinanga

40. Jambur Desa Lau Gumba 7 Januari 2014 Kepala Puskesmas Payung 41. Lapangan Futsal Sumbul 13 Januari 2014

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Karo.

Dinas Kesehatan Kabupaten Karo juga melaksanakan dua program kesehatan di pos pengungsian yaitu program kesehatan ibu dan anak kemudian program pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan.

Hal ini disebabkan karena terganggunya pelaksanaan program kesehatan rutin di puskesmas akibat warga yang harus diungsikan sehingga pelaksanaan program kesehatan rutin ini dilaksanakan di pos pengungsian.

Hal ini disampaikan Kepala Bidang Pengendalian dan PSM Dinas Kesehatan mengatakan :

”Kita juga ada melakukan 2 program kesehatan yang pertama program kesehatan ibu dan anak. Dipengungsian banyak ibu-ibu dan anak-anak yang kita utamakan di program ini menjaga agar mereka tidak sakit dan kekurangan gizi. Kemudian yang kedua program pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan kita melakukan pemeriksaan air dan udara, pemberantasan nyamuk juga imunisasi rutin” (wawancara, 12 September 2018).

Senada dengan yang disampaikan salah satu masyarakat Ibu Rehlitna br Sitepu mengatakan :

“Dinas Kesehatan sering mendata jumlah bayi, memberi makanan tambahan seperti susu, melakukan imunisasi rutin, dan imunisasi campak.

Ketika saya hamil dan mau melahirkan saya dirijuk ke rumah sakit untuk bersalin. Menurut saya pelayanan kesehatan sudah baik, mereka juga siaga 24 jam menjaga di pos kesehatan” (wawancara, 21 September 2018).

Dari penjelasan informan diatas diketahui Dinas Kesehatan Kabupaten Karo dalam penanggulangan bencana erupsi Gunung Sinabung juga melaksanakan 2 program kesehatan. Dalam melaksanakan program kesehatan tersebut selain dibantu oleh Tagana Kabupaten Karo, Dinas

Kesehatan juga mendapat bantuan logistik dari Dinas Sosial Kabupaten Karo seperti makanan tambahan, obat-obatan, susu, bahan penunjang sanitasi dan penunjang lainnya. Seperti yang dikatatakan Koordinator Logistik Dinas Kesehatan Kabupaten Karo mengatakan :

“Ia dinas Sosial ada juga membantu untuk logistik misalnya makanan, obat, susu, bahan penunjang sanitasi dan lainnya. Juga melibatkan Tagana dalam melaksanakan program kesehatan tersebut” (wawancara, 14 September 2018).

Senada dengan yang disampaikan Bidang Rehabilitasi Pembinaan dan Bantuan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Karo mengatakan :

“Tentu kita ikut juga berperan meski itu program Dinas Kesehatan, tetapi kan tujuannya sama yaitu untuk menanggulangi bencana Sinabung. Kita arahkan juga Tagana untuk membantu mereka, misalnya saat sanitasi lingkungan, membagikan logistik seperti obat, susu, makanan tambahan ke posko-posko pengungsian” (wawancara, 12 September 2018).

Masyarakat pengungsi juga menilai bahwa pemberian logistik dan pelayanan kesehatan di pos-pos pengungsian sudah cukup memadai. Hal ini disampaikan oleh warga Desa Mardinding yang menjadi pengungsi bencana erupsi Gunung Sinabung. Mereka menanggapi bahwa pemerintahan Kabupaten Karo sudah cukup baik melaksanakan penanganan bencana erupsi Gunung Sinabung khususnya dalam hal pemberian bantuan logistik dan pelayanan kesehatan. Seperti yang dikatakan Ibu Sari Br Sembiring warga Mardinding mengatakan :

“Logistik untuk kami menurut saya sudah mencukupi seperti makanan,ikan, sayuran, selimut, pakaian selalu ada yang memberikan kepada kami di posko pengungsian. Kesehatan kami juga selalu diperhatikan oleh mereka ” (wawancara, 25 Juli 2018).

Senada dengan yang disampaikan Ertina br Sitepu warga desa Mardinding mengatakan :

“Pemberian bantuan logistik makanan, keperluan bayi, dan lainnya tidak pernah terjadi kekurangan, kebutuhan kami selalu di penuhi untuk kebutuhan logistik maupun untuk kebutuhan seperti obat-obatan, masker, selimut dan lainnya.” (wawancara, 25 Juli 2018)

Dari pendapat masyarakat di atas diketahui bahwa ketika berada di pengungsian mereka tidak pernah mengalami kekurangan kebutuhan logistik dan pelayanan kesehatan.