BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Koordinasi
2.1.4 Mekanisme dan Proses Koordinasi
Biasanya organisasi menciptakan mekanisme koordinasi tertentu. Menurut Litterer (dalam Reksohadiprodjo, 2000 : 57) ada 3 mekanisme koordinasi, yaitu:
a. Koordinasi hierarki, dimana berbagai kegiatan dihubungkan di bawah satu kekuasaan pusat.
b. Koordinasi administratif, yang berhubungan dengan pekerjaan yang rutin sifatnya.
c. Koordinasi sukarela, dimana individu atau kelompok melihat adanya kebutuhan, menciptakan program dan menerapkannya.
Menurut Sugandha (1991 : 27 - 46), mekanisme koordinasi yaitu antara lain :
1. Adanya kesadaran dan ketersediaan sukarela dari semua anggota organisasi atau pemimpin-pemimpin organisasi (untuk kerjasama antar instansi).
2. Adanya komunikasi yang efektif, tujuan kerjasamanya dan peranan dari tiap pihak yang terlibat, harus dapat menciptakan organisasinya sendiri sedemikian rupa sehingga menjadi suatu organisasi yang mampu memimpin organisasi-organisasi lainnya, meminta ketaatan, kesetiaan dan disiplin kerja setiap pihak yang terlibat.
3. Terciptanya koordinasi di dalam suatu organisasi akan menunjukkan bahwa organisasi tersebut benar-benar bergerak sebagai suatu sistem dan pemimpin akan berhak sebagai fasilitator dan tenaga pendorong.
Siagian (2005 : 74) berpendapat mengenai cara-cara yang dapat dilakukan dalam mengkoordinasi, yaitu dengan melakukan briefing staf untuk memberitahukan kebijaksanaan pimpinan organisasi kepada staf yang dalam waktu sesingkat mungkin harus diketahui dan mendapat perumusan. Setelah itu diadakan rapat staf untuk mengadakan pengecekan terhadap kegiatan yang telah dan sedang dilakukan oleh staf serta mengadakan integrasi daripada pokok-pokok hasil pekerjaan staf. Lalu mengumpulkan laporan-laporan mengenai keputusan pimpinan organisasi. Selanjutnya mengadakan kunjungan serta inspeksi mengenai pelaksanaan keputusan pimpinan organisasi serta memberikan petunjuk-petunjuk sesuai dengan pedoman atau ketentuan yang telah ditetapkan oleh pimpinan organisasi.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa mekanisme dan proses koordinasi bertujuan untuk menjaga keharmonisan komunikasi dan hubungan antara pimpinan dan bawahannya pada kegiatan koordinasi.
2.1.5 Manfaat dan Pentingnya Koordinasi
Apabila dalam organisasi dilakukan koordinasi secara efektif maka ada beberapa manfaat yang didapatkan. Handoko (2012 : 197) berpendapat bahwa manfaat koordinasi antara lain :
1. Dengan koordinasi dapat terhindarkan perasaan terlepas satu sama lain, antara satuan-satuan organisasi atau antara pejabat yang ada dalam organisasi.
2. Menghindari suatu pendapat atau perasaan bahwa suatu organisasi atau pejabat merupakan yang paling penting.
3. Menghindari kemungkinan timbulnya pertentangan antara bagian dalam organisasi.
4. Menghindari terjadinya kekosongan pekerjaaan terhadap suatu aktifitas dalam organisasi.
5. Menimbulkan kesadaraan diantara para pegawai untuk saling membantu.
Sedangkan Hasibuan (2006 : 86) berpendapat bahwa koordinasi penting dalam suatu organisasi, yakni :
1. Untuk mencegah terjadinya kekacauan, percekcokan, kekembaran atau kekosongan pekerjaan.
2. Agar orang-orang dan pekerjaannya diselaraskan serta diarahkan untuk pencapaina tujuan perusahaan.
3. Agar sarana dan prasarana dimanfaatkan untuk mencapai tujuan.
4. Supaya semua unsur manajemen dan pekerjaan masing-masing individu membantu tercapainya tujuan organisasi.
5. Supaya semua tugas, kegiatan dan pekerjaan terintegrasi kepada sasaran yang diinginkan.
Pentingnya koordinasi (Handayaningrat, 2002 : 93) adalah sebagai berikut : 1. Koordinasi yang baik akan mempunyai efek adanya efisiensi terhadap
organisasi itu. Karena itu maka koordinasi adalah memberikan sumbangan (kontribusi) guna tercapainya efesiensi terhadap usaha-usaha yang lebih khusus, sebab kegiatan-kegiatan organisasi itu adalah dilakukan secara spesialisasi (khusus). Bila tidak akan terjadi pemborosan yaitu: pemborosan uang, tenaga dan alat-alat.
2. Koordinasi mempunyai efek terhadap moral daripada organisasi itu, terutama yang berhubungan dengan peranan kepemimpinan (leadership). Kalau kepemimpinan kurang baik, maka ia kurang melakukan koordinasi yang baik.
Oleh karena itu koordinasi menentukan/mempengaruhi terhadap keberhasilan daripada kepemimpinan.
3. Koordinasi mempunyai efek terhadap perkembangan daripada personal di dalam organisasi itu. Artinya bahwa unsur pengendalian personal dalam koordinasi itu harus selalu ada. Orang tidak selalu dibebaskan begitu saja, tetapi harus dikendalikan.
2.1.6 Indikator Koordinasi
Koordinasi membantu dalam memaksimalkan pencapaian sebuah kelompok dengan cara memperoleh keseimbangan dan menyusun komponen aktivitas yang diperlukan, memberikan harapan kepada kelompok yang berpartisipasi pada tahap awal perencanaan dan menghasilkan persetujuan dari kelompok mengenai tujuan bersama dari setiap anggota.
Hasibuan berpendapat bahwa koordinasi dapat diukur dari indikator-indikator dibawah ini, Hasibuan (2006 : 88) :
1. Kesatuan Tindakan
Pada hakekatnya koordinasi memerlukan kesadaran setiap anggota organisasi atau satuan organisasi untuk saling menyesuiakan diri atau tugasnya dengan anggota atau satuan organisasi lainnya agar anggota atau satuan organisasi tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri. Oleh sebab itu konsep kesatuan tindakan adalah inti dari pada koordinasi. Kesatuan dari pada usaha, berarti bahwa pemimpin harus mengatur sedemikian rupa usaha-usaha daripada setiap kegiatan individu sehingga terdapat adanya keserasian didalam mencapai hasil. Kesatuan tindakan ini adalah merupakan suatu kewajiban dari pimpinan untuk memperoleh suatu koordinasi yang baik dengan mengatur jadwal waktu yang dimaksudkan bahwa kesatuan usaha itu dapat berjalan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan.
2. Komunikasi
Komunikasi tidak dapat dipisahkan dari koordinasi, karena koordinasi, sejumlah unit dalam organisasi akan dapat dikoordinasikan berdasarkan rentang dimana sebagian besar ditentukan oleh adanya komunikasi.
Komunikasi merupakan salah satu dari sekian banyak kebutuhan manusia dalam menjalani hidup dan kehidupannya. “Perkataan komunikasi berasal dari perkataan Communicare, yaitu yang dalam bahasa latin mempunyai arti berpartisipasi ataupun memberitahukan”. Dalam organisasi komunikasi sangat penting karena dengan komunikasi partisipasi anggota akan semakin
tinggi dan pimpinan memberitahukan tugas kepada karyawan harus dengan komunikasi.
3. Pembagian Kerja
Secara teoritis tujuan dalam suatu organisasi adalah untuk mencapai tujuan bersama dimana individu tidak dapat mencapainya sendiri. Kelompok dua atau lebih orang yang bekerja bersama secara koopratif dan koordinasi dapat mencapai hasil lebih daripada dilakukan perseorangan. Dalam suatu organisasi, tiang dasarnya adalah prinsip pembagian kerja (Division of labor).
Prinsip pembagian kerja ini adalah maksudnya jika suatu organisasi diharapkan untuk dapat berhasil dengan baik dalam usaha mencapai tujuannya, maka hendaknya lakukan pembagian kerja. Dengan pembagian kerja ini diharapkan dapat berfungsi dalam usaha mewujudkan tujuan suatu organisasi. Pembagian kerja adalah perincian tugas dan pekerjaan agar setiap individu dalam organisasi bertanggung jawab untuk melaksanakan sekumpulan kegiatan yang terbatas.
Jadi pembagian kerja pekerjaan menyebabkan kenaikan efektifitas, karena tidak seorangpun secara fisik mampu melaksanakan keseluruhan aktivitas dalam tugas-tugas yang paling rumit dan tidak seorangpun juga memiliki semua keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan berbagai tugas. Oleh karena itu perlu diadakan pemilihan bagian-bagian tugas dan membagi baginya kepada sejumlah orang. Pembagian pekerjaan yang dispesialisasikan seperti itu memungkinkan orang mempelajari keterampilan dan menjadi ahli pada fungsi pekerjaan tertentu.
4. Disiplin
Pada setiap organisasi yang kompleks, setiap bagian harus bekerja secara terkoordinasi, agar masing-masing dapat menghasilkan hasil yang diharapkan. Koordinasi adalah usaha penyesuaian bagian-bagian yang berbeda-beda agar kegiatan dari pada bagian-bagian itu selesai pada waktunya, sehingga masing-masing dapat memberikan sumbangan usahanya secara maksimal agar diperoleh hasil secara keseluruhan, untuk itu diperlukan disiplin.
Riivai (2005 : 444) menyatakan pengertian disiplin kerja adalah suatu alat yang digunakan pada manajer untuk berkomunikasi dengan karyawan agar mereka bersedia untuk mengubah suatu perilaku serta sebagai suatu upaya untuk meningkatkan kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua semua peraturan organisasi dan norma-norma sosisal yang berlaku.
Jadi jelasnya bahwa disiplin menyangkut pada suatu sikap dan tingkah laku, apakah itu perorangan atau kelompok yang untuk tunduk dan patuh terhadap peraturan suatu organisasi.
Dalam suatu organisasi penerapan peraturan kepada seseorang atau anggota organisasi dikelola oleh pimpinan. Pimpinan diharapkan mampu menerapkan konsep disiplin positif yakni penerapan peraturan melalui kesadaran bawahanya. Sebaliknya bila pimpinan tidak mampu menerapkan konsep disiplin positif pada dirinya sendiri tentu dia juga tidak mungkin mampu menerapkannya pada orang lain termasuk kepada bawahanya.
Dengan demikian disiplin itu sangat penting artinya dalam proses pencapaian tujuan ini merupakan suatu syarat yang sangat menentukan dalam pencapaian tujuan yang dimaksud.
Menurut Dann Sugandha (1991 : 11) koordinasi merupakan penyatupaduan gerak dari seluruh potensi unit-unit atau organisasi-organisasi yang berbeda fungsi agar secara benar-benar mengarah kepada sasaran yang sama, guna memudahkan pencapaiannya yang efisien. Adapun indikator-indikator yang terdapat pada teori ini terbagi menjadi 6 yaitu :
1. Unit-unit atau organisasi, yaitu kelpmpok kerja didalam suatu organisasi yang tentunya memiliki fungsi yang berbeda (spesialisasi). Organisasi ini dapat berupa instansi pemerintah, organisasi swasta, ataupun badan usaha.
2. Sumber-sumber (potensi), yaitu potensi yang ada pada unit-unit suatu organisasi berupa tenaga kerja, keterampilan, dan pengetahuan personil, anggaran serta fasilitas kerja lainnya.
3. Gerak Kegiatan, adalah segala daya upaya, segala suatu tindakan yang dikerjakan oleh suatu kelompok kerja dalam melaksanakan tugasnya.
4. Kesatupaduan, yaitu terdapat kaitan atau hubungan di antara sesama unit organisasi sehingga mewujudkan suatu integritas atau suatu kesatuan yang kompak dalam penyelenggaraan program.
5. Keserasian, berarti adanya urutan-urutan pengerjaan sesuatu yang tersusun secara logis, sistematis, atau dilakukan dalam waktu yang bersamaan akan
tetapi tidak menimbulkan duplikasi tugas maupun pertentangan dalam koordinasi.
6. Arah yang sama (sasaran)yaitu pengerahan segala potensi unit organisasi pada satu sasaran yang sama sehingga tidak terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan fungsi organisasi.
Dalam penelitian ini terkait koordinasi BPBD Kabupaten Karo dalam penanggulangan bencana erupsi Gunung Sinabung peneliti menggunakan teori yang disampaikan oleh Dann Sugandha. Dann Sugandha memperkenalkan 6 indikator dalam koordinasi yaitu unit-unit (organisasi), sumber-sumber (potensi), gerak kegiatan, kesatupaduan, keserasian, arah yang sama (sasaran).
2.1.7 Hambatan dalam Koordinasi
Sekalipun pada umumnya telah disadari pentingnya koordinasi dalam proses administrasi/manajemen pemerintahan, tetapi kenyataannya dalam praktek tidak jarang ditemukan berbagai masalah yang menyebabkan kurang efektifnya pelaksanaan koordinasi yang diperlukan, sehingga pencapaian sasaran/tujuan tidak selalu berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Dalam pelaksanaan koordinasi sering mengalami beberapa hambatan.
Handayaningrat (2002 : 129 - 130), adapun berbagai faktor yang dapat menghambat tercapainya koordinasi itu adalah sebagai berikut:
a. Hambatan-hambatan dalam koordinasi vertikal (struktural).
Dalam koordinasi vertikal (struktural) sering terjadi hambatan-hambatan, disebabkan perumusan tugas, wewenang dan tanggung jawab tiap-tiap satuan kerja (unit) yang kurang jelas. Di samping itu adanya hubungan dan tata kerja yang kurang dipahami oleh pihak-pihak yang bersangkutan dan
kadang-kadang timbul keragu-raguan di antara yang mengkoordinasi dan yang dikoordinasi ada hubungan dalam susunan organisasi yang bersifat hierarki.
b. Hambatan-hambatan dalam koordinasi fungsional
Hambatan-hambatan yang timbul pada koordinasi fungsional, baik yang horizontal maupun diagonal, disebabkan karena antara yang mengkoordinasikan keduanya tidak terdapat hubungan hierarki (garis komando).
Menurut Sugandha (1991 : 90) hambatan-hambatan yang terjadi dalam koordinasi akan menimbulkan beberapa kesalahan yang sering dilakukan seseorang dalam melakukan usaha pengkoordinasian, yaitu kesalahan anggapan orang mengenai organisasinya sendiri, kesalahan anggapan orang mengenai instansi induknya, kesalahan pandangan mengenai arti koordinasi sendiri, dan kesalahan pandangan mengenai kedudukan departemennya di pusat.
Berdasarkan hal diatas dapat disimpulkan bahwa hal-hal yang biasanya menjadi hambatan dalam pelaksanaan koordinasi adalah para pejabat sering kurang menyadari bahwa tugas yang dilaksanakannya hanyalah merupakan sebagian saja dari keseluruhan tugas dalam organisasi untuk mencapai tujuan organisasi tersebut dan sering memandang tugasnya sendiri sebagai tugas yang paling penting dibandingkan dengan tugas-tugas lain. Hambatan selanjutnya seperti adanya pembagian kerja atau spesialisasi yang berlebihan dalam organisasi, kurang jelasnya rumusan tugas atau fungsi, wewenang dan tanggung jawab dari masing-masing pejabat atau satuan organisasi, adanya prosedur dan tata kerja yang kurang jelas dan berbelit-belit dan tidak diketahui oleh semua pihak yang bersangkutan dalam usaha kerjasama, kurangnya kemampuan dari pimpinan untuk menjalankan koordinasi yang disebabkan oleh kurangnya kecakapan, wewenang dan kewibawaan, dan kurangnya forum
komunikasi diantara para pejabat yang bersangkutan yang dapat dilakukan dengan saling tukar menukar informasi dan diciptakan adanya saling pengertian guna kelancaran pelaksanaan kerjasama.
2. 2 Penanggulangan Bencana 2.2.1 Bencana
Menurut Asian Disaster Reduction Center (Khambali 2017 : 2) bencana adalah
“suatu gangguan serius terhadap masyarakat yang menimbulkan kerugian secara meluas dan dirasakan baik oleh masyarakat, berbagai material dan lingkungan (alam) dimana dampak yang ditimbulkan melebihi kemampuan manusia guna mengatasinya dengan sumber daya yang ada”.
Sedangkan Centre for Research on the Epidemiology of Disaster (CRED) (Kusumasari 2014 : 3) di Belgia juga mendefinisikan bencana sebagai situasi atau kejadian yang melemahkan kapasitas lokal sehingga membutuhkan bantuan eksternal dari level nasional atau internasional
Menurut Parker (Khambali 2017 : 2), bencana adalah sebuah kejadian yang tidak biasa terjadi disebabkan oleh alam maupun ulah manusia, termasuk pula di dalamnya merupakan imbas dari kesalahan teknologi yang memicu respon dari masyarakat, komunitas, individu maupun lingkungan untuk memberikan antusiasme yang bersifat luas. Sedangkan Perry (Kusumasari 2014 : 5) mendefenisikan bencana sebagai kejadian tidak rutin yang terjadi ketika masyarakat atau subsistem masyarakat yang lebih besar (seperti negara atau komunitas) terganggu secara sosial dan mengalami kerugian secara fisik. Lebih lanjut ia menambahkan bahwa karakteristik utama yang menentukan apakah sebuah kejadian bencana atau tidak adalah jarak peringatan, besarnya dampak, lingkup dampak, dan durasi dampak.
Dalam UNISDR dikatakan bencana merupakan sebuah gangguan serius terhadap berfungsinya sebuah komunitas atau masyarakat yang mengakibatkan kerugian dan dampak yang meluas terhadap manusia, materi, ekonomi dan lingkungan, yang melampaui kemampuan komunitas atau masyarakat yang terkena dampak tersebut untuk mengatasinya dengan menggunakan sumber daya mereka sendiri (https://www.unisdr.org/files/7817_isdrindonesia.pdf. terminilogi pengurangan resiko bencana,diakses tanggal 28 Februari 2018).
Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa bencana adalah suatu peristiwa yang terjadi secara sengaja dan tidak sengaja yang pada akhirnya memberikan dampak yang merugikan kehidupan manusia.
2.2.2 Penanggulangan Bencana
Penanggulangan bencana atau manajemen bencana merupakan seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana yang bertujuan untuk mencegah kehilangan jiwa, mengurangi penderitaan manusia, memberi informasi masyarakat dan pihak berwenang mengenai resiko, dan mengurangi kerusakan infrastruktur utama, harta benda dan kehilangan sumber ekonomis ( Nurjanah, dkk 2013 : 25 ).
Sedangkan dalam UNISDR menyatakan bahwa manajemen bencana atau manajemen resiko bencana merupakan suatu proses sistematis dalam mengunakan peraturan administratif, lembaga dan ketrampilan serta kapasitas operasional untuk melaksanakan strategi-strategi, kebijakan-kebijakan dan kapasitas bertahan yang lebih baik untuk mengurangi dampak merugikan yang ditimbulkan ancaman bahaya dan kemungkinan bencana. Manajemen bencana tersebut dilaksanakan
melalui aktivitas-aktivitas dan langkah-langkah untuk pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan (https://www.unisdr.org/files/7817_isdrindonesia.pdf.terminilogi pengurangan resiko bencana.diakses tanggal 28 Februari 2018).
Kegiatan manajemen bencana merupakan kegiatan yang tidak berdiri sendiri, akan tetapi terkait dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat. Berbagai pihak yang terlibat dalam manajemen bencana harus saling bekerjasama dan menyamakan persepsi tentang bencana dan manajemen bencana melalui sebuah sistem atau aturan main yang disepakati yaitu sistem manajemen bencana. Melalui manajemen bencana pula program atau kegiatan dilaksanakan pada tiap kuadran atau siklus atau bidang kerja oleh para pemangku kepentingan secara komprehensif dan terus-menerus. Pelaksanan kegiatan secara periodi atau sebagai reaksi atau respon terhadap kejadian bencana akan menjadi sia-sia karena bencana akan terus terjadi secara berulang ( Nurjanah dkk, 2013 : 28 ).
Manajemen bencana juga didefenisikan sebagai istilah kolektif yang mencakup semua aspek perencanaan untuk merespon bencana, termasuk kegiatan-kegiatan sebelum bencana dan setelah bencana yang mungkin juga merujuk pada manajemen risiko dan konsekuensi bencana. Manajemen bencana meliputi rencana, struktur, serta pengaturan yang dibuat dengan melibatkan usaha dari pemerintah, sukarelawan, dan pihak-pihak swasta dengan cara terkoordinasi dan komprehensif untuk merespon seluruh kebutuhan darurat (Kusumasari, 2014 :19).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa, manajemen bencana sebagai seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan bencana, pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana yang dilakukan oleh semua elemen, pemerintah dan non pemerintah (swasta) untuk mencegah
kehilangan jiwa, mengurangi penderitaan manusia, memberi informasi kepada masyarakat dan pihak berwenang mengenai risiko, dan mengurangi kerusakan infrastruktur utama, harta benda dan kehilangan sumber ekonomis.
Indonesia memiliki kebijakan mengenai penanggulanagn bencana yang diatur dalam Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Pada Pasal 3 ayat (1) dalam undang-undang tersebut dijelaskan tentang asas-asas penanggulangan bencana yaitu kemanusiaan, keadilan, kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintah, keseimbangan, keselarasan dan keserasian, keterlibatan dan kepastian hukum, kebersamaan, kelestarian lingkungan hidup, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tujuan dari penanggulangan bencana adalah memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana, menyelaraskan peraturan perundang-undangan yang sudah ada, menjamin terselenggaranya penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi dan menyeluruh, menghargai budaya lokal, membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta, mendorong semangat gotong royong, kesetiakawanan, dan kedermawanan, dan menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Penanggulangan bencana harus memiliki prinsip seperti cepat dan tepat, prioritas, koordinasi dan keterpaduan, berdaya guna dan berhasil guna, transparansi dan akuntabilitas, kemitraan, pemberdayaan, dan nondiskriminatif sehingga tujuan dari penanggulangan bencana dapat tercapai (Undang-Undang No 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana Pasal 4).
Secara umum, penanggulangan bencana (manajemen bencana) bertujuan untuk (Khambali 2017 : 49) :
1. Mencegah dan membatasi jumlah korban manusia serta kerusakan harta benda dan lingkungan hidup.
2. Menghilangkan kesengsaraan dan kesulitan dalam kehidupan dan penghidupan korban.
3. Mengembalikan korban yang terkena bencana tersebut dari daerah penampungan/pengungsian ke daerah asal bila memungkinkan atau merelokasi ke daerah baru yang layak huni dan aman.
4. Mengembalikan fungsi fasilitas umum utama di lingkungan yang terkena bencana, seperti komunikasi/transportasi, listrik, dan telepon, termasuk mengembalikan kehidupan ekonomi dan sosial daerah yang terkena bencana.
5. Mengurangi kerusakan dan kerugian lebih lanjut.
6. Meletakkan dasar-dasar yang diperlukan guna pelaksanaan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi dalam konteks pembangunan.
mempertimbangkan penilaian dampak ekonomi, sosial, struktural, teknologi dan lingkungan.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan penanggulangan bencana adalah untuk mencegah dan membatasi jumlah korban, menghilangakan kesengsaraan dan kesulitan dalam kehidupan dan penghidupan korban sehingga kerusakan dan kerugian berkurang dengan begitu fungsi fasilitas umum utama seperti transportasi, listrik, telepon akan kembali sehingga kehidupan ekonomi dan sosial korban akan berjalan seperti biasa.
2.2.3 Siklus Penanggulangan Bencana
Siklus penanggulangan bencana dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.2.1 Siklus Penanggulangan Bencana KESIAPSIAGAAN
Siklus penanggulangan bencana dibagi menjadi 3 periode yaitu (Khambali : 2017 15) :
1. Prabencana : pencegahan lebih difokuskan , kesiapsiagaan level medium.
2. Bencana : pada saat kejadian/ Krisis, tanggap darurat menjadi kegiatan terpenting.
3. Pasca bencana : pemulihan dan rekonstruksi menjadi proses terpenting setelah bencana.
Berdasarkan ISDR dalam buku Manajemen Penanggulangan Bencana Khambali (2017:15-18) menjelaskan beberapa kegiatan dalam siklus penanggulangan bencana yaitu sebagai berikut :
1. Pencegahan
Pencegahan merupakan upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana (jika mungkin dengan meniadakan bahaya) atau serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana.
2. Mitigasi
Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (Pasal 1 ayat (9) Undang Undang 24 No 2007) atau upaya yang dilakukan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana.
3. Kesiapsiagaan
Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna. Misalnya, penyiapan sarana komunikasi, pos komando, penyiapan lokasi evakuasi, rencana kontijensi, dan sosialisasi peraturan/pedoman penanggulangan bencana.
4. Peringatan dini
Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang, atau upaya untuk memberikan tanda peringatan bahwa bencana kemungkinan akan segera terjadi. Pemberian peringatan dini harus (a) menjangkau masyarakat ; (b) segera ; (c) tegas tidak membingungkan dan (d) bersifat resmi.
5. Tanggap Darurat
Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, pelindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.
6. Bantuan Darurat
Bantuan darurat merupakan upaya untuk memberikan bantuan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, tempat tinggal sementara, dan kesehatan.
7. Rehabilitasi
Rehabilitasi adalah langkah upaya yang diambil setelah kejadian bencana untuk membantu, masyarakat memperbaiki rumahnya, fasilitas umum, dan fasilitas penting dan menghidupkan kembali roda perekonomian.
8. Rekonstruksi
Rekonstruksi merupakan program jangka menengah dan jangka panjangguna perbaikan fisik, sosial dan ekonomi untuk mengembalikan kehidupan masyarakat pada kondisi yang sama atau lebih baik dari sebelumnya.
2.3 Defenisi Konsep
Konsep adalah istilah dan defenisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, keadaan kelompok, atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial (Sugiyono 2008 : 75).
Oleh karena itu, untuk menetapkan batasan yang jelas dari masing-masing konsep yang diteliti, maka peneliti mengemukakan defenisi konsep dari penelitian yaitu :
1. Koordinasi adalah kerjasama antar sektor yang menciptakan kerjasama yang baik dalam melaksanakan suatu kegiatan dan tugass untuk mencapai suatu tujuan bersama biasanya dalam pelayanan publik dan sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. Indikator yang digunakan peneliti dalam koordinasi ini
1. Koordinasi adalah kerjasama antar sektor yang menciptakan kerjasama yang baik dalam melaksanakan suatu kegiatan dan tugass untuk mencapai suatu tujuan bersama biasanya dalam pelayanan publik dan sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. Indikator yang digunakan peneliti dalam koordinasi ini