• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Penanggulangan Bencana

Menurut Asian Disaster Reduction Center (Khambali 2017 : 2) bencana adalah

“suatu gangguan serius terhadap masyarakat yang menimbulkan kerugian secara meluas dan dirasakan baik oleh masyarakat, berbagai material dan lingkungan (alam) dimana dampak yang ditimbulkan melebihi kemampuan manusia guna mengatasinya dengan sumber daya yang ada”.

Sedangkan Centre for Research on the Epidemiology of Disaster (CRED) (Kusumasari 2014 : 3) di Belgia juga mendefinisikan bencana sebagai situasi atau kejadian yang melemahkan kapasitas lokal sehingga membutuhkan bantuan eksternal dari level nasional atau internasional

Menurut Parker (Khambali 2017 : 2), bencana adalah sebuah kejadian yang tidak biasa terjadi disebabkan oleh alam maupun ulah manusia, termasuk pula di dalamnya merupakan imbas dari kesalahan teknologi yang memicu respon dari masyarakat, komunitas, individu maupun lingkungan untuk memberikan antusiasme yang bersifat luas. Sedangkan Perry (Kusumasari 2014 : 5) mendefenisikan bencana sebagai kejadian tidak rutin yang terjadi ketika masyarakat atau subsistem masyarakat yang lebih besar (seperti negara atau komunitas) terganggu secara sosial dan mengalami kerugian secara fisik. Lebih lanjut ia menambahkan bahwa karakteristik utama yang menentukan apakah sebuah kejadian bencana atau tidak adalah jarak peringatan, besarnya dampak, lingkup dampak, dan durasi dampak.

Dalam UNISDR dikatakan bencana merupakan sebuah gangguan serius terhadap berfungsinya sebuah komunitas atau masyarakat yang mengakibatkan kerugian dan dampak yang meluas terhadap manusia, materi, ekonomi dan lingkungan, yang melampaui kemampuan komunitas atau masyarakat yang terkena dampak tersebut untuk mengatasinya dengan menggunakan sumber daya mereka sendiri (https://www.unisdr.org/files/7817_isdrindonesia.pdf. terminilogi pengurangan resiko bencana,diakses tanggal 28 Februari 2018).

Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa bencana adalah suatu peristiwa yang terjadi secara sengaja dan tidak sengaja yang pada akhirnya memberikan dampak yang merugikan kehidupan manusia.

2.2.2 Penanggulangan Bencana

Penanggulangan bencana atau manajemen bencana merupakan seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana yang bertujuan untuk mencegah kehilangan jiwa, mengurangi penderitaan manusia, memberi informasi masyarakat dan pihak berwenang mengenai resiko, dan mengurangi kerusakan infrastruktur utama, harta benda dan kehilangan sumber ekonomis ( Nurjanah, dkk 2013 : 25 ).

Sedangkan dalam UNISDR menyatakan bahwa manajemen bencana atau manajemen resiko bencana merupakan suatu proses sistematis dalam mengunakan peraturan administratif, lembaga dan ketrampilan serta kapasitas operasional untuk melaksanakan strategi-strategi, kebijakan-kebijakan dan kapasitas bertahan yang lebih baik untuk mengurangi dampak merugikan yang ditimbulkan ancaman bahaya dan kemungkinan bencana. Manajemen bencana tersebut dilaksanakan

melalui aktivitas-aktivitas dan langkah-langkah untuk pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan (https://www.unisdr.org/files/7817_isdrindonesia.pdf.terminilogi pengurangan resiko bencana.diakses tanggal 28 Februari 2018).

Kegiatan manajemen bencana merupakan kegiatan yang tidak berdiri sendiri, akan tetapi terkait dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat. Berbagai pihak yang terlibat dalam manajemen bencana harus saling bekerjasama dan menyamakan persepsi tentang bencana dan manajemen bencana melalui sebuah sistem atau aturan main yang disepakati yaitu sistem manajemen bencana. Melalui manajemen bencana pula program atau kegiatan dilaksanakan pada tiap kuadran atau siklus atau bidang kerja oleh para pemangku kepentingan secara komprehensif dan terus-menerus. Pelaksanan kegiatan secara periodi atau sebagai reaksi atau respon terhadap kejadian bencana akan menjadi sia-sia karena bencana akan terus terjadi secara berulang ( Nurjanah dkk, 2013 : 28 ).

Manajemen bencana juga didefenisikan sebagai istilah kolektif yang mencakup semua aspek perencanaan untuk merespon bencana, termasuk kegiatan-kegiatan sebelum bencana dan setelah bencana yang mungkin juga merujuk pada manajemen risiko dan konsekuensi bencana. Manajemen bencana meliputi rencana, struktur, serta pengaturan yang dibuat dengan melibatkan usaha dari pemerintah, sukarelawan, dan pihak-pihak swasta dengan cara terkoordinasi dan komprehensif untuk merespon seluruh kebutuhan darurat (Kusumasari, 2014 :19).

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa, manajemen bencana sebagai seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan bencana, pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana yang dilakukan oleh semua elemen, pemerintah dan non pemerintah (swasta) untuk mencegah

kehilangan jiwa, mengurangi penderitaan manusia, memberi informasi kepada masyarakat dan pihak berwenang mengenai risiko, dan mengurangi kerusakan infrastruktur utama, harta benda dan kehilangan sumber ekonomis.

Indonesia memiliki kebijakan mengenai penanggulanagn bencana yang diatur dalam Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Pada Pasal 3 ayat (1) dalam undang-undang tersebut dijelaskan tentang asas-asas penanggulangan bencana yaitu kemanusiaan, keadilan, kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintah, keseimbangan, keselarasan dan keserasian, keterlibatan dan kepastian hukum, kebersamaan, kelestarian lingkungan hidup, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tujuan dari penanggulangan bencana adalah memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana, menyelaraskan peraturan perundang-undangan yang sudah ada, menjamin terselenggaranya penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi dan menyeluruh, menghargai budaya lokal, membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta, mendorong semangat gotong royong, kesetiakawanan, dan kedermawanan, dan menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Penanggulangan bencana harus memiliki prinsip seperti cepat dan tepat, prioritas, koordinasi dan keterpaduan, berdaya guna dan berhasil guna, transparansi dan akuntabilitas, kemitraan, pemberdayaan, dan nondiskriminatif sehingga tujuan dari penanggulangan bencana dapat tercapai (Undang-Undang No 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana Pasal 4).

Secara umum, penanggulangan bencana (manajemen bencana) bertujuan untuk (Khambali 2017 : 49) :

1. Mencegah dan membatasi jumlah korban manusia serta kerusakan harta benda dan lingkungan hidup.

2. Menghilangkan kesengsaraan dan kesulitan dalam kehidupan dan penghidupan korban.

3. Mengembalikan korban yang terkena bencana tersebut dari daerah penampungan/pengungsian ke daerah asal bila memungkinkan atau merelokasi ke daerah baru yang layak huni dan aman.

4. Mengembalikan fungsi fasilitas umum utama di lingkungan yang terkena bencana, seperti komunikasi/transportasi, listrik, dan telepon, termasuk mengembalikan kehidupan ekonomi dan sosial daerah yang terkena bencana.

5. Mengurangi kerusakan dan kerugian lebih lanjut.

6. Meletakkan dasar-dasar yang diperlukan guna pelaksanaan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi dalam konteks pembangunan.

mempertimbangkan penilaian dampak ekonomi, sosial, struktural, teknologi dan lingkungan.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan penanggulangan bencana adalah untuk mencegah dan membatasi jumlah korban, menghilangakan kesengsaraan dan kesulitan dalam kehidupan dan penghidupan korban sehingga kerusakan dan kerugian berkurang dengan begitu fungsi fasilitas umum utama seperti transportasi, listrik, telepon akan kembali sehingga kehidupan ekonomi dan sosial korban akan berjalan seperti biasa.

2.2.3 Siklus Penanggulangan Bencana

Siklus penanggulangan bencana dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.2.1 Siklus Penanggulangan Bencana KESIAPSIAGAAN

Siklus penanggulangan bencana dibagi menjadi 3 periode yaitu (Khambali : 2017 15) :

1. Prabencana : pencegahan lebih difokuskan , kesiapsiagaan level medium.

2. Bencana : pada saat kejadian/ Krisis, tanggap darurat menjadi kegiatan terpenting.

3. Pasca bencana : pemulihan dan rekonstruksi menjadi proses terpenting setelah bencana.

Berdasarkan ISDR dalam buku Manajemen Penanggulangan Bencana Khambali (2017:15-18) menjelaskan beberapa kegiatan dalam siklus penanggulangan bencana yaitu sebagai berikut :

1. Pencegahan

Pencegahan merupakan upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana (jika mungkin dengan meniadakan bahaya) atau serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana.

2. Mitigasi

Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (Pasal 1 ayat (9) Undang Undang 24 No 2007) atau upaya yang dilakukan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana.

3. Kesiapsiagaan

Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna. Misalnya, penyiapan sarana komunikasi, pos komando, penyiapan lokasi evakuasi, rencana kontijensi, dan sosialisasi peraturan/pedoman penanggulangan bencana.

4. Peringatan dini

Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang, atau upaya untuk memberikan tanda peringatan bahwa bencana kemungkinan akan segera terjadi. Pemberian peringatan dini harus (a) menjangkau masyarakat ; (b) segera ; (c) tegas tidak membingungkan dan (d) bersifat resmi.

5. Tanggap Darurat

Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, pelindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.

6. Bantuan Darurat

Bantuan darurat merupakan upaya untuk memberikan bantuan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, tempat tinggal sementara, dan kesehatan.

7. Rehabilitasi

Rehabilitasi adalah langkah upaya yang diambil setelah kejadian bencana untuk membantu, masyarakat memperbaiki rumahnya, fasilitas umum, dan fasilitas penting dan menghidupkan kembali roda perekonomian.

8. Rekonstruksi

Rekonstruksi merupakan program jangka menengah dan jangka panjangguna perbaikan fisik, sosial dan ekonomi untuk mengembalikan kehidupan masyarakat pada kondisi yang sama atau lebih baik dari sebelumnya.