• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gerakan Mahasiswa Dan Kebangkitan Gerakan Sosial

Dalam dokumen Pemikiran Politik Soe Hok Gie (Halaman 28-33)

F. Kerangka Teoritis

F.2. Gerakan Mahasiswa Dan Kebangkitan Gerakan Sosial

Secara teoretis dapat dipertanyakan apa gerangan yang menjadi penyebab lahirnya sebuah gerakan sosial? Literatur ilmu politik menyediakan tiga pandangan teoretis.

Pandangan pertama menjelaskan bahwa gerakan sosial itu dilahirkan oleh kondisi yang memberikan kesempatan (political opportunity) bagi gerakan itu. Pemerintahan yang moderat, misalnya, memberikan kesempatan yang lebih besar bagi timbulnya gerakan sosial ketimbang pemerintahan yang sangat otoriter. Kendala untuk membuat gerakan di negara yang represif lebih besar ketimbang di negara yang demokrat. Sebuah negara yang berubah dari represif menjadi lebih moderat terhadap oposisi, menurut pandangan ini, akan diwarnai oleh lahirnya berbagai gerakan sosial yang selama ini terpendam di bawah permukaan.28

28

Denny JA, Menjelaskan Gerakan Mahasiswa, Kompas, 25 April 1998, hal : 2

Pandangan kedua berpendapat bahwa gerakan sosial timbul karena meluasnya ketidak-puasan atas situasi yang ada. Perubahan dari masyarakat tradi-sional ke masyarakat modern, misalnya, dapat mengakibatkan kesenjangan ekonomi yang makin lebar untuk sementara antara yang kaya dan yang miskin. Perubahan ini dapat pula menyebabkan krisis identitas dan lunturnya nilai-nilai sosial yang selama ini diagungkan. Perubahan ini akan menimbulkan gejolak di kalangan yang dirugikan dan kemudian meluasnya menjadi gerakan sosial.

Pandangan ketiga beranggapan bahwa gerakan sosial adalah semata-mata masalah kemampuan (leadership capability) dari tokoh penggerak. Adalah sang tokoh penggerak yang mampu memberikan inspirasi, membuat jaringan, membangun organisasi, yang menyebabkan sekelompok orang termotivasi terlibat dalam gerakan.29

Ketiga pandangan ini dapat kita gabungkan dengan sedikit modifikasi untuk menjelaskan lahirnya gerakan mahasiswa di Tanah Air saat ini. Jelaslah gerakan ini dilahirkan oleh meluasnya ketidakpuasan di kalangan masyarakat luas. Krisis ekonomi dan ketidakpuasan atas situasi politik melahirkan baik gerakan mahasiswa di tahun 1966 ataupun di tahun 1998.30

Gerakan ini juga disebabkan oleh pemerintah yang lebih moderat terhadap oposisi. Sifat moderat ini tidak harus berupa sikap sebenarnya dari pemerintahan tapi moderat karena dipaksa oleh lingkungan. Di tahun 1966, pemerintah lebih moderat karena terjadinya pelemahan di kalangan pemerintah sendiri. Elite di pemerintahan semakin terbelah dan

Bedanya, krisis ekonomi di tahun 1966 itu bertumpang tindih dengan polarisasi ideologis masyarakat (antara komunis dan antikomunis) di era perang dingin. Saat ini, krisis ekonomi 1998 bertumpang tindih dengan sesuatu yang kurang ideologis, seperti keraguan atas kompetisi birokratis pemerintah (korupsi, kolusi, nepotisme). Krisis di tahun 1966 secara keseluruhan memang lebih sensitif. Namun setelah tahun 1966, krisis 1998 lah yang terbesar.

29

Ibid, hal : 2

30

terpolarisasi antara pendukung dan anti-Soekarno. Perpecahan elite ini memberikan kesempatan politik (political opportunity) yang lebih besar bagi timbulnya gerakan sosial menentang kekuasaan.

Dalam memahami arah perkembangan politik di Indonesia, telah terjadi suatu sakralisasi terhadap ideologi dan politik sebagai sesuatu yang tidak boleh dipersoalkan lagi. Masyarakat berada dalam sebuah tatanan yang bisu karena tidak diperkenankan melakukan diskusi dan pengembangan wacana seputar ideologi dan poltik. Karena itu, dipakailah konsep massa mengambang sebagai pelengkap dari orientasi pembangunan yang bertumpu pada proses modernisasi. Dengan demikian, negara telah memainkan peranannya untuk memonopoli kebenaran (monopoly of truth). Dengan landasan kehidupan negara dan masyarakat yang timpang seperti ini, perkembangan di bidang teknologi clan ekonomi telah mengakibatkan tercabut masyarakat dari akarnya. Pada kondisi seperti ini, umumnya masyarakat akan memiliki empat kecenderungan dalam berpikir, yaitu : a) tumbuhnya reifikasi, b) manipulasi, c) fragmentasi dan d) individual isasi.31

Reifikasi adalah suatu anggapan bahwa segala sesuatu harus bisa diwujudkan dalam bentuk-bentuk lahiriah dan bisa diukur secara kuantitatif. Kepuasan baru muncul apabila orang dihadapkan pada barang secara material, angka, statistik, tingkah laku lahiriah, rupa, suara, ucapan dan lain-lainnya. Gejala reifikasi ini dalam perkembangannya akan melahirkan bentuk-bentuk materialisme (orientasi hanya pada meteri) dan legalisme, formalisme dan

31

ritualisme. Pendeknya, gejala reifikasi ini akan menjadikan sikap-sikap yang sama sekali tidak kritis.

Gejala manipulatif adalah sesuatu yang umum dalam dunia modern. Kemajuan teknologi dan kebutuhan manusia yang semakin bervariasi memunculkan berbagai bentuk manipulasi keinginan manusia yang bertumpu pada pemuasan kebutuhan manusia yang tidak ada batasnya. Pola hidup konsumtif dan hedonis adalah sesuatu yang sangat berhubungan dengan fungsi manipulatif dari media massa dan teknologi.

Fragmentasi terjadi ketika dalam suatu masyarakat terjadi sistem pembagian kerja yang sangat terspesialisasi sehingga manusia menjadi menyatu dengan identitas sempitnya dan meninggalkan identitas sosialnya. Akibatnya, manusia hanya dianggap sebagai kumpulan manusia dengan kotak-kotak jabatan, kedudukan, keahlian, tidak mempribadi atau impersonal. Di balik penghargaan yang terlalu berlebihan terhadap profesi, keahlian dan jabatan, martabat manusia yang seharusnya mendasari penghargaan itu semakin ditinggalkan.

Sementara individualisasi terjadi manakala manusia semakin merenggangkan ikatan dirinya dengan masyarakatnya. Peranan individu menjadi dominan dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti ini mendorong tumbuhnya sikap individualisme dan egoisme yang tidak sehat. Individualisme yang mempunyai kepercayaan terhadap kemampuan dirinya dalam berprestasi dan berinisiatif, menyebabkan hidupnya hanya mementingkan dirinya sendiri,

tidak peka terhadap nilai-nilai kemanusiaan, cenderung bertindak serakah dan destruktif.

Demikianlah kondisi masyarakat yang berada dalam ujung tanduk modernisasi. Masyarakat menjadi memiliki ciri-ciri yang semakin terseret pada perpecahan dan pertentangan yang tajam antara kepentingan individu dan masyarakat. Tidak konkruennya perkembangan ekonomi, sosial dan budaya akan mengakibatkan masyarakat berada dalam tegangan yang rentan terhadap pertarungan kepentingan individualistis.

Untuk menjelaskan perubahan sosial dari perspektif transisi dinamika masyarakat ini tidaklah mudah, karena berkaitan dengan banyak faktor sosial budaya selain faktor politik. Dan dalam kerangka hubungannya dengan model negara otoritarian, sistem politik yang disertai dengan perkembangan idelogi dan organisasi telah gagal melakukan pembaruan untuk mengimbangi perkembangan yang terjadsi pada ranah sosial seperti dalam hal ekonomi, teknologi dan sistem informasi.

Munculnya kesadaran masyarakat sipil akan muncul dalam bentuk kekuatan sosial yang bervariasi bukan saja yang berdimensi politik tetapi juga sosial. Demikian juga dengan agenda yang dibawa oleh kelompok-kelompok dalam masyarakat sipil juga akan sangat bervariasi.

Ciri khas gerakan sosial pada masa ini adalah terfragmentasi dan relatif moderat. Gerakan sosial gaya baru (new social movement) ini ditandai dengan munculnya kelompok-kelompok sosial yang memiliki minat besar di bidang lingkungan, feminisme, konsumen dan hak asasi manusia.

Gerakan mahasiswa yang berhasil menumbangkan rezim Soekarno adalah gerakan mahasiswa yang lahir pada konteks zaman tertentu, yaitu zaman yang diliputi oleh gejolak revolusi akibat krisis ekonomi. Ada banyak hal yang menyebabkan munculnya gerakan mahasiswa di Indonesia. Dan jawabannya selalu berada pada dua areal penting, yaitu penyebab internal dan penyebab eksternal.

G. Metodologi Penelitian

Dalam dokumen Pemikiran Politik Soe Hok Gie (Halaman 28-33)